You are on page 1of 7

Diversifikasi Pangan Untuk Mengatasi Krisis Pangan Di Indonesia

Adi Purnama Nuraripin Mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama Bogor Agricultural University http://www.ipb.ac.id Citra Masyarakat Terhadap Pangan Nasi adalah primadona bagi sebagian masyarakat Indonesia. Jika belum makan dengan nasi serasa belum makan. Hal ini yang terjadi pada sebagian masyarakat Indonesia. Memang tidak ada yang di rugikan namun upaya pemerintah dalam penganekaragaman pangan atau diversifikasi pangan terhambat. Diversifikasi pangan yang di artikan makan tidak terpusat pada nasi sudah lama di dengungkan namun efeknya tidak banyak. Nasi tetap saja menjadi atau dijadikan unggulan. Masih untung banyak ditemui produk mie instan yang bisa sementara menggantikan nasi. Artinya rakyat sudah mulai mendeversifikasi perutnya. Namun, itu bagi yang masih mempunyai daya beli. Bagi strata golongan menengah, perubahan food habit demikian sudah lazim, namun makan nasinya juga masih dominan. Mantan Menteri Pertanian Anton Apriantono mengatakan perlu adanya perbaikan pola pikir (mindset) masyarakat Indonesia, tentang pangan yang dikonsumsi. Menurut dia, selama ini orang selalu menganggap bahwa yang namanya makan itu harus nasi. Hal itu dilontarkan Pak Anton, saat ditanya tanggapannya tentang pernyataan Anggota Komisi VI DPR Hasto Kristianto yang mengatakan Indonesia tengah menghadapi krisis pangan (Himagizi, 2009). Image atau citra bahwa pangan hanya disimbolkan dengan beras semata adalah meruapakan inti permasalahannya. Semua orang seperti didorong makan nasi alias beras. Padahal masih banyak sumber pangan lain yang dapat kita manfaatkan untuk mengganti ataupun melengkapi konsumsi beras ini. Ada singkong, ubi jalar, sagu, jagung, suweg, gembili, kentang, ganyong, dan masih banyak bahan alternatif lainnya yang nilai gizinya tidak kalah, bahkan memiliki kelebihan dibandingkan beras. Misal pada biji jagung yang memiliki kandungan vitamin A paling tinggi diantara biji-bijian lainnya (Agustina F., 2008 ). Juga pada ubi kayu yamg kaya akan kalori dan dan bias dibuat menjadi berbagai aneka

ragam makanan (Utami R., 2006 ). Tabel 1. Komposisi kimia dan zat gizi berbagai jenis jagung per 100 gram bahan. Komponen Energi (Kal) Protein (g) Lemak (g) Karbohidrat (g) Kalsium (mg) Fosfor (mg) Zat besi (mg) Vitamin A (SI) Vitamin B1 (mg) Vitamin C (mg) Air (g) Bagian yang dapat dimakan (%) Sumber : Rukmana (1997) dalam (Agustina, Fenny. 2008) Jagung Jagung Jagung Tepung kuning Kuning kuning jagung Maizena segarPipilan giling kuning 140.0 307.0 361.0 335.0 343.0 4.7 7.9 8.7 9.2 0.3 1.3 3.4 4.5 3.9 0.0 33.1 63.6 72.4 73.7 85.0 6.0 9.0 9.0 10.0 20.0 118.0 14 8.0 380.0 256.0 30.0 0.7 2.1 4.6 2.4 1.5 4 35.0 440.0 350.0 510.0 0.0 0.24 0.33 0.27 0.38 0.00 8.0 0.0 0.0 0.0 0.0 60.0 24.0 13.1 12.0 14.0 90.0 90.0 100.0 100.0 100.0

Kondisi di atas adalah salah satu penyebab Indonesia mengalami krisis pangan. Sebenarnya ada banyak negara yang mengalami krisis pangan bahkan kondisinya lebih parah dibandingkan dengan negara Indonesia. Negara-negara yang terkena krisis pangan di dunia, ada 36 negara yakni: Lesotho, Somalia, Swaziland, Zimbabwe, Eritrea, Liberia, Mauritania, Sierra Leone, Burundi, Republik Afrika Tengah, Chad, Congo, Cte dIvoire, Kongo, Ethiopia, Ghana, Guinea, Guinea, Bissau, Kenya, Sudan, Uganda, Irak, Afghanistan, Korea Utara, Bangladesh, Indonesia, Nepal, Pakistan, Sri Lanka, dan TimorLeste, Bolivia, Haiti, Nikaragua, Republik Dominika , Republik Moldova dan Federasi Rusia (Global Information and Early Warning System FAO, 2008). Diversifikasi pangan menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan ketahanan pangan. Diversifikasi konsumsi pangan tidak hanya sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada beras tetapi juga upaya peningkatan perbaikan gizi untuk mendapatkan manusia yang berkualitas dan mampu berdaya saing dalam percaturan globalisasi (Himagizi, 2009).

Upaya diversifikasi pangan sebetulnya sudah dilakukan oleh pemerintah sejak awal tahun 50-an. Namun sampai sekarang upaya tersebut masih sulit terwujud. Belajar dari pengalaman, Kebijakan diversifikasi pangan kedepan harus mengacu pada aturan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 68 tentang Ketahanan Pangan, yaitu dengan memperhatikan sumberdaya, kelembagaan dan budaya lokal serta ditetapkan oleh Menteri atau Kepala Lembaga Pemerintah Non Departemen yang bertanggung jawab sesuai dengan tugas dan kewenangannya masing-masing. Ini berarti keberhasilan diversifikasi pangan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah (Republik Indonesia, 2002) Negara kita sangat subur bahkan ada yang mengibaratkannya sebagai surga, tongkat kayu pun bisa menjadi tanaman. Biji mangga yang dilemparkan begitu saja pun terkadang mampu tumbuh menjadi pohon besar dan menghasilkan mangga baru. Rumput tumbuh begitu saja dimana-mana tanpa dipupuk, dipelihara, bahkan ditanam pun tidak. Lantas mengapa bisa terjadi krisis pangan? Pertama, beras mempunyai citra superior sehingga preferensi atas beras mengungguli jagung, singkong, sagu, dan lainnya. Kedua, ketersediaan beras sepanjang waktu di berbagai wilayah, lebih baik dibanding ketersediaan komoditas pangan lainnya. Ketiga, teknologi pengolahan beras menjadi nasi amat simpel, menghasilkan citarasa netral yang tidak membosankan (Himagizi, 2009). Diversifikasi pangan saat ini adalah kunci keberhasilan kita dalam mempertahankan ketahanan pangan. Mungkin tak perlu langsung berganti secara total dalam pola konsumsi kita. Berikan pemahaman kepada anak cucu kita bahwa Indonesia ini kaya dengan bahan baku pangan. Bila perlu campur 3 bagian beras dengan 1 bagian jagung atau singkong. Rasanya justru jadi luar biasa, eksotis dan nikmat (Himagizi, 2009). Pentingnya Diversifikasi pangan Hipocrates, seorang filosof Yunani menyatakan bahwa makanan mempunyai manfaat penting untuk pemeliharaan kesehatan dan penyembuhan penyakit. Dalam pernyartaannya tersirat bahwa ada zat-zat tertentu dalam makanan yang apabila dikonsumsi akan membantu membangun kesehatan

seseorang. Sebaliknya, apabila zat tersebut tidak diperoleh dari makanan yang dikonsumsi, maka dapat menimbulkan penyakit. Kemudian hasil analisis kandungan gizi pada berbagai jenis pangan menunjukan tidak ada satu jenis pangan pun yang mengandung zat gizi yang lengkap yang mampu memenuhi semua zat gizi yang di butuhkan oleh manusia, kecuali ASI. Itupun hanya untuk bayi yang berusia 4-6 bulan lebih dari usia itu memerlukan makanan tambahanm (Forum Kerja Penganekaragaman pangan, 2003). Oleh karena itu penting sekali upaya diversifikasikan pangan di dunia terutama di negara Indonesia yang memiliki masalah yamg sangat kompeks di bidang pangan ini. Bila orang sadar bahwa makanan beragam itu penting untuk kesehatan, maka semestinya setiap orang akan makan makanan beragam setiap harinya. Kenyataan tidaklah demikian. Meskipun mengerti banyak orang yang tidak dapat melakukannya. Keterbatasan daya beli umumnya merupakan alasan utama mengapa orang tidak bisa makan makanan secara beragam. Karena tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama dalam mengakses pangan secara beragam, maka diperlukan upaya-upaya yang mendorong dan memfasilitasi agar setiap orang memperoleh pangan dalam jumlah dan keragaman yang cukup (Forum Kerja Penganekaragaman Pangan, 2003). Beberapa Contoh Makanan Hasil Diversifikasi Pangan 1. Jagung Instan Nixtamalisasi Cara pembuatannya yaitu jagung pipil direbus dengan air mendidih dengan perbandingan 1:3 selama 105 menit dengan tambahan kapur 3% berat jagung. jagung dicuci dengan air panas 60 drajat Celcius sebanyak 3 kali lipat berat jagung awal, ditiriskan, dipipihkan, dikeringkan, digiling, diayak lolos 60 mesh. Penyajiannya untuk membuat bubur, didihkan air sebanyak 3 kali atau lebih berat tepung jagung. Tepung jagung dimasukan pelan-pelan sambil diaduk kuat hingga matang dalam 5 menit. Penyedapnya dapat ditambahkan menurut keperluan (Pusat Studi Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor, 2004).

2. Beras Jagung Instan Berdasarkan data pada tahun 2002 dilaporkan bahwa produksi beras nasional adalah 30 juta ton, sementara kebutuhannya adalah 33 juta ton. Oleh karena itu komiditi sumber karbohidrat non beras perlu dikembangkan sebagai makanan pokok (Pusat Studi Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor , 2004). Salah satu produk yang dapat dikembangkan adalah beras jagung instan. Beras jagung instan adalah beras jagung yang siap dimasak menjadi nasi jagung instan. Produk yang memiliki rasa sama dengan nasi jagung yang diolah secara tradisional ini siap dimasak dalam waktu 5 menit dan telah dikembangkan oleh peneliti PSPG IPB. Nasi jagung yang dihasilkan dapat dikonsumsi bersama dengan lauk pauk dan sayur, dibuat nasi jagung goreng, nasi jagung uduk dan "risotto" nasi jagung (Pusat Studi Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor 2004) Kandungan Nilai Gizi Beras Jagung Instan Presentasi Zat Gizi Jagung (gram/100gram) Putih 10.58 0.66 78.59 6.20 0.75 9.41 Beras Instan Kuning 11.01 0.52 81.37 13.42 0.55 6.14

Protein Lemak Karbohidrat Serat Abu Air

(Pusat Studi Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor, 2004)

3. Bassang Bassang adalah makanan tradisional khas Sulawesi Selatan yang terbuat dari jagung. Bassang dari hasil penelitian ini diperoleh dari jagung instan, yaitu jagung yang telah diproses sehingga di dalam pemasakan selanjutnya dibutuhkan waktu yang lebih singkat. Dengan perbaikan proses yang dihasilkan oleh penelitian ini, pembuatan bassang yang selama ini membutuhkan waktu 10-18 jam dapat dipersingkat menjadi 20-30 menit. Bahan yang digunakan jagung instan 1 liter, santan 1,5 liter, tepung terigu 70 gram, air 2 liter, gula dan garam secukupnya (sesuai selera). Cara Pembuatan Bassang yaitu mula-mula jagung instan dimasak selama 20-30 menit sambil diaduk. Tepung terigu dan santan dicampur sampai rata lalu dimasukkan ke jagung instan, diaduk agar tercampur rata. Tambahkan garam secukupnya, aduk dan masak selama 5-10 menit sampai agak kental. Bisa juga ditambahkan daun pandan agar memberi aroma dan citra rasa yang enak (Pusat Studi Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor, 2004). .

Daftar Putaka Agustina, Fenny. 2008. Kajian Formuasi dan Isotermik Sorpsi Air Bubur Jagung Instan. http://iirc.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/9227/2/2008fag1.pdf Forum Kerja Penganekaragaman Pangan. 2003. Penganekaragaman Pangan Prakarsa Swasta dan Pemerintah Daerah. Jakarta : 664.7 HAR Global Information and Early Warning System FAO. 2008. NegaraNegara Yang Terkena Krisis Pangan. http://www.detikfinance.com/read/2008/03/02/122419/902557/4/36negara-terkena-krisis-pangan-termasuk-indonesia Himagizi. 2009. Diversifikasi Pangan. http://gizi.fema.ipb.ac.id/himagizi/? p=83 Republik Indonesia. 2002. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 2000 Tentang Ketahanan Pangan. Jakarta: Sekretaris Negara RI. Utami, Rahayu. 2006. Simulasi Dinamika Sistem Ketersediaan Ubi Kayu. http://iirc.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/3771/4/F06rut.pdf Pusat Studi Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor. 2004. Bassang. http://seafast.ipb.ac.id/pspg/kegiatan/diversifikasi/produk/bassang/a paitubassang.html Pusat Studi Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor. 2004. Beras Jagung Instan. http://seafast.ipb.ac.id/pspg/kegiatan/diversifikasi/produk/berasjagun g/apakah.html Pusat Studi Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor. 2004. Jagung Instan Nixtamalisasi. http://seafast.ipb.ac.id/pspg/kegiatan/diversifikasi/produk/jagunginst an/latarbelakang.html