You are on page 1of 2

AKU MENANGIS AKU TERTAWA

Suatu hari ketika aku berjalan aku bertemu Bulan dan aku menceritakan
padanya mengenai Matahari. Namun Bulan menertawaiku katanya “Ah..! kamu suka
membesar-besarkan saja” Eh…! Maksud saya, kamu hiperbola juga ya?

Keesokan harinya aku bertemu Matahari akupun menceritakan Bulan padanya.


Namun Mataharipun menertawaiku. Dia menganggap aku seorang pencela dan suka
mengecil-ngecilkan.

Aku bingung? apakah aku harus tertawa seperti mereka atau aku harus
menangis karena mereka tidak percaya dengan kenyataan.
Jiwaku pun berkata hai… kenapa harus bingung?
Bukankah kamu juga pernah melakukan hal yang sama?
Kamu menertawakan apa yang tidak perlu untuk ditertawakan.
Dan kamu menangisi apa yang seharusnya kamu syukuri dalam hidupmu.
Bukankah tangis dan tawa seperti sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan?

Aku mulai mengerti dan mulai bercakap-cakap dengan jiwaku.


Yah… begitulah dunia ini kadang saat kita melakukan kebajikan kita mendapatkan
bencana. Sementara saat kita melakukan kejahatan, malah mendatangkan keuntungan,
kata jiwaku.
Akupun bertanya apa perbedaan kebajikan dan kejahatan dalam hidup ini? Berarti…!
Mereka tak lebih hanya sebuah nama?
Bukan begitu… jiwakupun melanjutkan penjelasannya.

Kadang saat kita melakukan kebajikan kita merasa kita telah berbuat sesuatu
yang dapat mengubah dunia ini. Kitapun tertawa dan membusungkan dada yang
menurutku tidak lebih besar dari dada katak yang bersuara saat mencari pasangannya
dengan teriakan yang membanggakan seraya berkata “Hai… Kekasihku lihatlah aku,
aku telah melakukan hal yang baik bagi yang lain. Aku telah ikut kegiatan sosial,
amal, dan masih bayak lagi pokoknya akulah yang terbaik dan lagi, dadaku lebih
busung dari yang lain”
Pikiranku pun mengembara kesuatu tempat yang sangat indah.
Sementara jiwaku terus berceloteh mengajarkan aku norma-norma hidup dan arti
hidup. Tiba-tiba aku tersentak kaget dari lamunanku saat jiwaku bertanya.

Sebenarnya kamu tahu tidak misteri hidup ini?


Mukaku pucat seperti seperti tanaman yang tidak terkena langsung sinar matahari.
Ups… aku gagap lidahku seperti ada yang mengatupnya.

Namun rasa penasaranku memaksa aku berkata, walupun serak namun masih jelas
terdengar. “tolong jelaskan padaku”.
Jiwaku tertawa terbahak-bahak, akupun ikut tertawa.
Jiwaku bertanya lagi, kenapa kamu tertawa?
Jawabku sekenanya namanya juga toleransi.
Apa…? Toleransi…!
Kamu tahu tidak. Hal ini sangat sering kamu lakukan berlagak tahu padahal tidak
tahu? Air mukaku berubah, dan aku mengakui hal itu.
Misteri hidup ini sebenarnya sederhana sekali. Lanjut jiwaku menjelaskan.
Yaitu K E M A T I A N (sambil mengeja) atau jelasnya Kematian. Karena banyak
yang tidak mengerti apa yang akan terjadi setelah kematian. Sehingga mereka tertawa
dalan dunia ini tapi sebenarnya jiwa mereka menangis.

Namun saat kamu mengerti Misteri hidup ini maka kamu akan mencapai
kepuasan batin, apa saja yang kamu lihat akan terlihat indah bahkan saat menangispun
akan ada sukacita dan tawa, sekalipun mata dalam keadaan tertutup kamu akan
merasakan betapa berartinya dirimu.
Aku menjadi lega dan gembira, karena jiwaku telah menuntunku ke suatu fase
hidup yang lebih sempurna. Jiwaku yang tak lain adalah Kekasih, sahabat bahkan
Bapa bagiku dan lebih banyak orang mengenalnya dengan sebutan YESUS
KRISTUS

Dalam tubuh ada Roh.


Dalam cinta ada kepercayaan.
Dan didalam tangis ada tawa.
Tuhan Memberkati. Amin.