You are on page 1of 22

BAB I TINJAUAN PUSTAKA

Definisi dan Klasifikasi Cedera kepala (trauma kapitis / head injury) adalah cedera paksa

tumpul/tajam pada kepala atau wajah yang berakibat disfungsi serebral. Cedera kepala merupakan penyebab yang sering menimbulkan morbiditas maupun mortalitas. Sekitar 80% penderita cedera yang datang keruang emergensi selalu disertai dengan cedera kepala. Sebagian besar penderita cedera kepala disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, berupa tabrakan sepeda motor, mobil, sepeda dan penyebrang jalan yang ditabrak. Sisanya disebabkan oleh jatuh dari ketinggian, tertimpa benda (misalnya ranting pohon, kayu, dsb), olahraga, korban kekerasan (misalnya senjata api, golok, parang, batang kayu, palu,dsb), dan lain-lain. Adapun pembagian trauma kapitis adalah: Commotio cerebri Contusion cerebri Laceratio cerebri Basis cranii fracture Epidural Hematoma Subdural Hematoma Berdasarkan beratnya, dapat dibagi menjadi : a) Cedera ringan : penderita sadar dan berorientasi (GCS 14-15). b) Cedera sedang : penderita biasanya tampak kebingungan atau mengantuk, namun masih mampu menuruti perintah (GCS 9-13). c) Cedera berat : penderita tidak mampu melakukan perintah sederhana karena kesadaran yang menurun (GCS 3-8). Commotio cerebri digolongkan sebagai cedera kepala ringan sedangkan yang lainnya digolongkan sebagai cedera kepala berat.

Mekanisme Dan Patologi Cedera kepala dapat terjadi akibat benturan langsung atau tanpa benturan langsung pada kepala. Kelainan dapat berupa cedera otak fokal atau difus dengan atau tanpa fraktur tulang tengkorak. Cedera fokal dapat menyebabkan memar otak, hematom epidural, subdural dan intraserebral. Cedera difus dapat mengakibatkan gangguan fungsi saja, yaitu gegar otak atau cedera struktural yang difus. Dari tempat benturan, gelombang kejut disebar ke seluruh arah. Gelombang ini mengubah tekanan jaringan dan bila tekanan cukup besar, akan terjadi kerusakan jaringan otak di tempat benturan yang disebut coup atau ditempat yang berseberangan dengan benturan (contra coup).

Patofisiologi Gangguan metabolisme jaringan otak akan mengakibatkan oedem yang dapat menyebabkan heniasi jaringan otak melalui foramen magnum, sehingga jaringan otak tersebut dapat mengalami iskhemi, nekrosis, atau perdarahan dan kemudian meninggal. Fungsi otak sangat bergantung pada tersedianya oksigen dan glukosa. Cedera kepala dapat menyebabkan gangguan suplai oksigen dan glukosa, yang terjadi karena berkurangnya oksigenisasi darah akibat kegagalan fungsi paru atau karena aliran darah ke otak yang menurun, misalnya akibat syok. Karena itu, pada cedera kepala harus dijamin bebasnya jalan nafas, gerakan nafas yang adekuat dan hemodinamik tidak terganggu sehingga oksigenisasi cukup.

Pembagian Cedera Kepala 1. Commotio Cerebri Commotio cerebri (geger otak) adalah keadaan pingsan yang berlangsung tidak lebih dari 10 menit akibat trauma kepala, yang tidak disertai kerusakan jaringan otak. Pasien mungkin mengeluh nyeri kepala, vertigo, mungkin muntah dan tampak pucat. Vertigo dan muntah mungkin disebabkan gegar pada labirin atau terangsangnya pusat-pusat dalam batang otak. Pada commotio cerebri mungkin pula terdapat amnesia retrograde, yaitu hilangnya ingatan sepanjang masa yang terbatas sebelum terjadinya kecelakaan. Amnesia ini timbul akibat terhapusnya rekaman kejadian di lobus temporalis. Pemeriksaan tambahan yang selalu dibuat adalah foto tengkorak, EEG, pemeriksaan memori. Terapi simptomatis, perawatan selama 3-5 hari untuk observasi kemungkinan terjadinya komplikasi dan mobilisasi bertahap.

2. Contusio Cerebri Pada contusio cerebri (memar otak) terjadi perdarahan-perdarahan di dalam jaringan otak tanpa adanya robekan jaringanyang kasat mata, meskipun neuron-neuron mengalami kerusakan atau terputus. Yang penting untuk terjadinya lesi contusion ialah adanya akselerasi kepala yang seketika itu juga menimbulkan pergeseran otak serta pengembangan gaya kompresi yang destruktif. Akselerasi yang kuat berarti pula hiperekstensi kepala. Oleh karena itu, otak membentang batang otak terlalu kuat, sehingga menimbulkan blockade reversible terhadap lintasan asendens retikularis difus. Akibat blockade itu, otak tidak mendapat input aferen dan karena itu, kesadaran hilang selama blockade reversible berlangsung. Timbulnya lesi contusio di daerah coup , contrecoup, dan intermediatemenimbulkan gejala deficit neurologik yang bisa berupa refleks babinsky yang positif dan kelumpuhan UMN. Akibat gaya yang dikembangkan oleh mekanisme-mekanisme yang beroperasi pada trauma kapitis tersebut di atas, autoregulasi pembuluh darah cerebral terganggu, sehingga terjadi vasoparalitis. Tekanan darah menjadi rendah dan nadi menjadi lambat, atau menjadi cepat dan

lemah.

Juga karena pusat vegetatif terlibat, maka rasa mual, muntah dan

gangguan pernafasan bisa timbul. Pemeriksaan penunjang seperti CT-Scan berguna untuk melihat letak lesi dan adanya kemungkinan komplikasi jangka pendek. Terapi dengan antiserebral edem, anti perdarahan, simptomatik, neurotropik dan perawatan 7-10 hari.

3. Laceratio Cerebri Dikatakan laceratio cerebri jika kerusakan tersebut disertai dengan robekan piamater. Laceratio biasanya berkaitan dengan adanya perdarahan Laceratio dapat

subaraknoid traumatika, subdural akut dan intercerebral.

dibedakan atas laceratio langsung dan tidak langsung. Laceratio langsung disebabkan oleh luka tembus kepala yang disebabkan oleh benda asing atau penetrasi fragmen fraktur terutama pada fraktur depressed terbuka. Sedangkan laceratio tidak langsung disebabkan oleh deformitas jaringan yang hebat akibat kekuatan mekanis.

4. Fracture Basis Cranii Fractur basis cranii bisa mengenai fossa anterior, fossa media dan fossa posterior. terkena. Fraktur pada fossa anterior menimbulkan gejala: Hematom kacamata tanpa disertai subkonjungtival bleeding Epistaksis Rhinorrhoe Fraktur pada fossa media menimbulkan gejala: Hematom retroaurikuler / ecchimosis pada mastoid (battles sign) Ottorhoe Hemotympanum (bila membran tympaninya robek) Kelumpuhan N.VII dan N. VIII Fraktur pada fossa posterior sering tidak disertai gejala dan tanda yang jelas, tetapi dapat segera menyebabkan kematian karena penekanan terhadap batang otak. Kadang-kadang terdapat battles sign. Gejala yang timbul tergantung pada letak atau fossa mana yang

Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala klinik dan X-foto basis kranii. Komplikasi : Gangguan pendengaran Parese N.VII perifer Meningitis purulenta akibat robeknya duramater

Fraktur basis kranii bisa disertai commotio ataupun contusio, jadi terapinya harus disesuaikan. Pemberian antibiotik dosis tinggi untuk mencegah infeksi. Tindakan operatif bila adanya liquorrhoe yang berlangsung lebih dari 6 hari.

5. Epidural Hematoma Relatif jarang ( 0,5 %) dari semua cedera otak dan 9 % dari penderita yang mengalami koma. EDH terletak di luar dura tetapi di dalam rongga tengkorak dan cirinya berbentuk bikonveks atau menyerupai lensa cembung. Sering terletak di area temporal atau temporoparietal yang dan biasanya disebabkan oleh robeknya a. Meningea media akibat fraktur tulang tengkorak. A. Meningea media ini masuk dalam tengkorak melalui foramen spinosum dan jalan antara duramater dan tulang di permukaan dalam os temporale. Pada fase awal biasanya penderita tidak menunjukkan gejala dan tanda. Baru setelah hematom bertambah besar akan terlihat tanda pendesakan dan peningkatan tekanan intrakranial. Penderita akan mengalami sakit kepala, mual dan muntah diikuti dengan penurunan kesadaran. Gejala neurologik yang terpenting adalah pupil anisokor, bahkan pelebaran pupil unilateral akan mencapai maksimal dan reaksi cahaya akan menjadi negatif. Pada tahap akhir, kesadaran akan menurun sampai koma dalam, pupil kontralateral juga mengalami pelebaran sampai akhirnya kedua pupil tidak menunjkkan reaksi cahaya lagi yang merupakan tanda kematian. Ciri khas hematom epidural murni adalah adanya lucid interval. Tapi jika disertai cedera pada otak, lucid interval tidak akan terlihat. Lucid interval adalah hilangya kesadaran pada awal trauma, kemudian pasien sadar lagi (tenang) dan disusul dgn koma. EDH ini merupakan emergensi bedah saraf. Terapinya hanya dengan operasi.

6. Subdural Hematoma Hematom ini disebabkan oleh trauma otak yang menyebabkan robeknya vena didalam ruang arachnoid (vena-vena kecil di permukaan korteks serebri). Pembesaran hematom akibat robeknya vena memerlukan waktu yang lama. Lebih sering terjadi (30 % cedera kepala berat) akibat robeknya. Biasanya perdarahan menutupi seluruh permukaan hemisfer otak. Hemtom subdural dibagi menjadi hematom subdural akut bila gejala timbul pada hari pertama sampai hari ketiga, subakut bila timbul antara hari ketiga hingga minggu ketiga, dan kronik bila timbul sesudah minggu ketiga. Hematom subdural akut dan kronik memberikan gambaran klinis suatu proses desak ruang (space occupying lession) yang progresif sehingga tidak jarang dianggap sebagai neoplasma atau demensia. Penanggulangannya daengan evekuasi hematom. Biasanya kerusakan otak di bawahnya lebih berat dan prognosisnya jauh lebih buruk dari EDH.

DIAGNOSA a) Anamnesa b) Pemeriksaan Fisik (1) Tingkat Kesadaran Tingkat kesadaran dinilai dengan Glasgow Coma Scale (GCS). Penilaian ini harus dilakukan secara periodik untuk menilai perbaikan atau perburukan keadaan pasien. Tingkat kesadaran tidak akan terganggu jika cedera hanya terbatas pada satu hemisfer otak, tetapi menjadi progresif memburuk jika kedua hemisfer mulai terlibat, atau jika ada proses patologis akibat penekanan atau cedera pada batang otak. Respon Mata 4 3 2 1 Respon Motorik 6 5 4 3 2 1 Respon Verbal 5 tahun Orientasi baik 5 dan mampu berkomunikasi 4 Disorientasi tapi mampu 1 tahun 0-1 tahun

Membuka Mata Spontan Membuka Mata dengan perintah Membuka Mata karena Nyeri Tidak membuka mata 1 tahun Mengikuti Perintah 0-1 tahun Belum dapat Dinilai

Melokalisasi Nyeri Menghindari Nyeri Fleksi Abnormal (Dekortikasi) Ekstensi Abnormal (Deserebrasi) Tidak Ada Respon 2-5 tahun Meyebutkan kata-kata yang sesuai Menyebutkan kata-kata yang Menangis lemah Menangis kuat 0-2 tahun

berkomunikasi Menyebutkan 3 kata-kata yang tidak sesuai (kasar, jorok) 2 Mengeluarkan suara Tidak ada respon

tidak sesuai KadangMenangis dan menjerit kadang menangis atau menjerit Mengeluarkan suara lemah Tidak ada respon Mengeluarkan suara lemah Tidak ada respon

(2) Pupil dan Pergerakan Bola Mata, Termasuk Saraf Kranial Penilaian pupil menunjukkan fungsi mesensefalon dan sangat penting pada cedera kepala, karena : Bagian kepala yang mengendaikan kesadaran secara antomis terletak berdekatan dengan pusat yang mengatur reaksi pupil. Saraf yang mengendalikan reaksi pupil relatif resisten terhadap gangguan metabolik, sehingga bisa membedakan koma-metabolik atau koma struktural. Reaksi okulosefalik (Dolls head eye phenomenon) dan reaksi terhadap tes kalori (okulovestibuler) menunjukkan fungsi medla oblongata dan pons. Jangan melakukan pemeriksaan okulosefalik jika cedera servikal beum dapat disingkirkan. okulosefalik. (3) Reaksi Motorik Berbagai Rangsang Dari Luar Kekuatan rangsangan yang dibutuhkan untuk memicu reaksi dari penderita (spontan, rangsangan suara, nyeri, atau tanpa respon) berbanding lurus dengan dalamnya penurunan kesadaran. (4) Reaksi Motorik Terbaik Terbagi atas : Gerakan bertujuan jelas Kekuatan gerakan harus dinilai menjadi : +5 : kekuatan gerakan normal Reaksi okulovestibuler lebih superior daripada reaksi

+4 : kekuatan gerakan mendekati normal +3 : mampu melawan gravitasi +2 : dapat bergeser, tidak dapat melawan gravitasi +1 : tampak gerakan otot, tapi belum bergeser Gerakan bertujuan tidak adekuat Postur fleksor Postur ekstensor Diffise muscle flacciditty

(5) Pola Pernapasan Pernapasan merupakan suatu kegiatan sensorimotor terintegrasi dari keterlibatan berbagai saraf yang terletak pada hampir semua tingkat otak dan bagian atas spinal cord. Kerusakan pada berbagai tingkat pada SSP akan memberikan gambaran pola pernapasan yang berbeda.

c) Pemeriksaan Penunjang (1) Foto Polos Kepala Foto polos kepala dibuat dalam 2 posisi, AP dan lateral. Untuk foto lateral, posisi film ditempatkan pada sisi dengan jejas yang dicurigai ada fraktur. Jika terdapat kecurigaan fraktur pada kedua sisi, foto lateral sebaiknya dibuat pada kedua sisi. Foto polos kepala sudah sangat jarang digunakan, cukup berguna untuk cedera kepala yang disertai luka tembus atau fraktur tulang tengkorak. (2) Foto Servikal Foto servikal dibuat terutama posisi lateral, kadang-kadang diperlukan posisi frontal. Indikasi : Penderita tidak sadar atau dengan penurunan kesadaran. Penderita yang sadar dan mengeluh nyeri. Ada jejas di atas klavikula, sehubungan dengan mekanisme cedera. Setiap penderita dengan kecurigaan trauma servikal.

(3) CT-Scan Pemeriksaan ini meliputi foramen magnum hingga verteks, dan setiap pemotongan akan sejajar dengan orbitomeatal line untuk menghindari radiasi terhadap lensa mata. Sebaiknya tebal pemotongan gambar adalah 5 mm, terutama pada fosa posterior untuk menghindari adanya lesi kecil yang terlewatkan. Indikasi : GCS < 15 Cedera kepala ringan yang disertai fraktur tulang tengkorak. Ada tanda klinis fraktur basis kranii. Disertai kejang. Ada tanda neurologis fokal. Sakit kepala yang menetap.

Penatalaksanaan
GCS 8 Ya Tidak P / M unekual Ya Kelola Gadar CT Cito Tidak C-Kepala terbuka Ya Tidak Neurologi Normal Tidak Ya TS - / 5 / Risiko

(Skema Triase)

Ya Pulang + Pesan Tidak Kelola Gadar CT Elektif

10

Resiko Cedera Kepala RENDAH MODERAT Perubahan kesadaran Asimptomatis Dizziness Laserasi skalp Abrasi skalp Sakit kepala progresif Intoksikasi alkohol/obat Riwayat tidak sesuai perforasi tengkorak / fraktur depress cedera wajah serius TINGGI Kesadaran rendah Gejala fokal Penurunan kesadaran Cedera penetrasi Fraktura depress

Terapi Medikamentosa Cedera Otak Tujuan utamanya adalah mencegah terjadinya kerusakan sekunder terhadap otak yang telah mengalami cedera. i) Cairan Intravena Diberikan secukupnya untuk resusitasi agar penderita tetap dalam keadaan normovolemia. Jangan memberikan cairan hipotonik. Penggunaan cairan yang mengandung glukosa dapat menyebabkan hiperglikemia yang berakibat buruk pada otak yang cedera. Karena itu, cairan yang dianjurkan adalah larutan garam fisiologis atau Ringers Lactate. ii) Hiperventilasi Dilakukan dengan menurunkan PCO2 dan akan menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah otak. Sebaiknya dilakukan secara selektif dan hanya pada waktu tertentu. Umumnya, PCO2

dipertahankan pada 35 mmHg atau lebih, karena PCO2 < 30 mmHg akan menyebabkan vasokonstriksi serebri berat dan akhirnya iskemia otak. Hiperventilasi dalam waktu singkat (25-30 mmHg) dapat diterima pada keadaan deteriorasi neurologis akut. iii) Manitol Merupakan diuretik osmotik yang poten, digunakan untuk menurunkan TIK yang meningkat. Sediaan yang tersedia adalah cairan dengan konsentrasi 20%. Dosis yang diberikan adalah 1 g/kg BB

11

intravena. Jangan diberikan pada pasien yang hipotensi. Indikasinya adalah deteriorasi neurologis yang akut seperti terjadinya dilatasi pupil, hemiparesis atau kehilangan kesadaran saat pasien observasi. Pada keadaan ini, berikan bolus manitol dengan cepat (dalam 5 menit) dan penderita langsung dibawa ke CT-Scan atau kamar operasi (bila sebab telah diketahui dengan CT-Scan). iv) Furosemid Diberikan bersama manitol, dosis yang biasa diberikan adalah 0,3-0,5 mg/kgBB diberikan secara intravena, tapi jangan diberikan pada pasien hipovolemik. v) Barbiturat Bermanfaat menurunkan TIK yang refrakter terhadap obatobatan lain. Tapi jangan diberikan pada keadaan hipotensi dan hipovolemi vi) Antikonvulsan Epilepsi pascatrauma kadang terjadi, diduga berkaitan dengan kejang awal yang terjadi pada minggu pertama, perdarahan intrakranial, atau fraktur depresi. Fenitoin adalah obat yang biasa diberikan pada fase akut. Dosis dewasa awalnya adalah 1 g intravena dengan kecepatan pemberian < 50 mg/menit dan dosis

pemeliharaannya adalah 100 mg/8 jam, dengan titrasi untuk mencapai kadar terapeutik serum. Pada pasien dengan kejang lama, diazepam atau lorazepam digunakan digunakan sebagai tambahan sampai kejang berhenti.

Tatalaksana Bedah (Tidak berlaku bila mati batang otak) Dilakukan bila ada : Interval lucid (bila CT tak tersedia segera) Herniasi unkal (pupil/motor tidak ekual) Fraktura depress terbuka Fraktura depress tertutup > 1 tabula/1 cm Massa intrakranial dengan pergeseran garis tengah 5 mm

12

Massa ekstra aksial 5 mm, uni / bilateral #5 & #6 (<5 mm), tapi mengalami perburukan/sisterna basal terkompres Massa lobus temporal 30 ml

13

BAB II ILUSTRASI KASUS

Seorang pasien laki-laki, 54 tahun, masuk bangsal Neurologi RS Ahmad Moechtar Bukittinggi pada tanggal 3 April 2013 dengan: Keluhan Utama: Nyeri kepala sejak 1 jam sebelum masuk Rumah sakit.

Riwayat Penyakit Sekarang: Nyeri kepala sejak 1 jam sebelum masuk rumah sakit Awalnya pasien mengalami kecelakaan lalu lintas, pasien dibonceng dengan sepeda motor lalu terjatuh dengan kepala terbentur ke jalan. Pasien tidak sadarkan diri dan langsung dibawa ke RSAM, di perjalanan pasien sadar dan tidak bisa mengingat kejadian sebelumnya. Mual muntah ada setelah kejadian, muntah tidak menyemprot frekwensi 4x berisi apa yang dimakan, darah tidak ada. Dari telinga kiri keluar darah. Lemah anggota gerak tidak ada dan tidak ada rasa kesemutan dan baal pada anggota gerak Riwayat BAB dan BAK lancar

Riwayat Penyakit Dahulu: Tidak pernah menderita sakit yang menyebabkan pasien dirawat sebelumnya.

Riwayat Penyakit Keluarga dan Kebiasaan: Tidak ada berhubungan dengan penyakit yang diderita pasien saat ini Riwayat konsumsi alkohol tidak ada. Merokok ada, olahraga kurang

Pemeriksaan Fisik: Keadaan Umum : sakit sedang

14

Kesadaran Kooperatif Tekanan darah Frekuensi Nadi Frekuensi nafas Suhu Berat Badan Tinggi Badan

: komposmentis : baik : 110/70 mmHg : 66 x/menit : 26 x/menit : 36,9 oC : 51 kg : 160 cm

Status Internus : Kepala Rambut Mata : Tidak ada kelainan : tidak ada kelainan : Konjungtiva tidak anemis, Sklera tidak ikterik Kornea jernih, pupil isokor 3mm, RC + / + THT KGB Thorak Paru : telinga : otorhea : Tidak membesar : : Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Jantung : Inspeksi Palpasi Perkusi : simetris kiri=kanan : fremitus kiri=kanan : Sonor : Vesikuler, Rhonki -/-, Wheezing -/: Iktus tidak terlihat : Iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V : Batas jantung dalam batas normal

Auskultasi : Irama murni regular, bising jantung (-) Abdomen : Inspeksi Palpasi Perkusi : perut tidak membuncit : Hepar dan Lien tidak teraba : Timpani

Auskultasi : Bising usus (+) Normal Korpus vertebrae : Tidak ditemukan kelainan

Alat kelamin dan Anus : Tidak diperiksa

15

Status Neurologis

1. GCS 14 (E3M6V5) 2. Tanda rangsangan meningeal : Kaku kuduk (-), Brudzynsky 1 (-), Brudzynsky II (-), Kernig (-). 3. Gejala Peningkatan Tekanan Intra kranial : Nyeri kepala progresif (-) Muntah proyektil (-) 4. Nn. Kranialis : NI N II N III,IV,VI : anosmia (-) : Visus normal, lapangan pandang normal, : Refleks cahaya langsung dan tidak langsung +/+,bulat, sentral, isokor, diameter3 mm, dapat digerakkan kesegala arah NV N VII : Refleks kornea (+ ) pada kedua mata : Plica nasolabialis sama kiri-kanan, mengerutkan dahi (+), menutup mata (+), mencibir/bersiul (+), memperlihatkan gigi (+) N VIII N IX dan X N XI N XII : Vertigo (-), nistagmus (-) : Gangguan menelan (-), reflek muntah (+) : menoleh ke kanan dan kiri (+), mengangkat bahu kanan dan kiri (+) : deviasi lidah (-), tremor (-)

5.

Motorik : Ektremitas Suprior Kanan Gerakan Kekuatan Tropi Tonus Aktif 555 Eutropi Eutonus Kiri aktif 555 eutropi eutonus Kanan aktif 555 eutropi eutonus Inferior Kiri aktif 555 eutropi eutonus

16

6.

Sensorik Eksteroseptif : Baik Propioseptif : Baik

7.

Sistem refleks : Kanan Fisiologis Kornea Biseps Trisep KPR APR Patologis Babisky Chaddock Oppenheim Gordon Scheifer + ++ ++ ++ ++ Kiri + ++ ++ ++ ++

8.

Fungsi Luhur : Reaksi emosi Tanda demensia Fungsi bicara : normal : tidak ada : normal

9.

Fungsi Otonom : Miksi Defekasi : (+) N, neurogenic bladder (-) : (+) N

Sekresi keringat : baik

Laboratorium : Darah : Hb Leukosit : 13,5 g/dl : 10.600 /uL

17

Ht Trombosit GDS

: 39 % : 191.000/mm3 : 79

Diagnosis klinis

: nyeri kepala ec cedera kepala ringan GCS 14 + amnesia retrogard

Diagnosis topik

: Cortek cerebri

Diagnosis etiologi : Concusio cerebri

Pemeriksaan anjuran: Pemeriksaan darah lengkap Kimia klinik darah Rontgen foto cranial Brain CT-scan

Penatalaksanaan : 1. Umum Bedrest Observasi O2 3L/menit IVFD Nacl 0,9 % 12 jam / kolf

2. Khusus Injeksi Piracetam 3 x 1 Injeksi Ranitidin 2 x 1 Injeksi Kalnex 2 x 1 Injeksi Vit K 2 x 1 Kaltrofen 2 x 1 (PO)

Prognosis Ad Vitam Ad Sanationam : ad bonam : ad bonam 18

Ad Fungsionam

: ad bonam

Follow up 6 April 2013 A/ : Nyeri kepala + Mual dan muntah (-) Demam(-). Pendarahan telinga (-) PF : KU sdg Kes CMC TD 120/70 Nadi 82x/1' Nafas 20x/1' T 36,5C

SI : dalam batas normal SN : Kesadaran : CMC GCS (E4 M6 V5 ) TRM TIK : kaku kuduk (-), Kernig (-) : (-) Pupil isokor 3mm/3mm RC +/+ , Nn. Cranialis : tidak ada kelainan Motorik : 555 555 555 555 Sensorik RF : ++/++ Th/ Kaltrofen 2 x 1 Piracetam 2 x 1200mg Ranitidin 2 x 1 Kalnex 2 x 1 Vit K 2 x 1 : Baik RP : -/-

19

BAB III DISKUSI KASUS

Telah dirawat seorang pasien laki-laki, 54 tahun, dirawat di bangsal Neurologi RS Ahmad Moechtar Bukittinggi tanggal 3 April 2013 dengan diagnosis nyeri kepala ec cedera kepala ringan GCS 14 Berdasarkan anamnesis diketahui terjadi penurunan kesadaran sementara dan setelah kejadian pasien tidak dapat mengingat kejadian sebelumnya (amnesia retrograde) yang bisa terjadi pada commotio cerebri. Pasien mengeluhkan nyeri kepala akibat kepala terbentur ke jalan, akan tetapi nyeri tidak progresif, dan mengalami muntah yang tidak proyektil, ini menunjukan dimana pada pasien tidak ditemukan peningkatan tekanan intra kranial setelah mengalami benturan. Pada pemeriksaan fisik didapatkan GCS 14 sesuai dengan kriteria

concusio cerebri, tidak ditemukannya defisit neurologis, pada status internus tidak ditemukan adanya kelainan, kornea jernih, pupil isokor 3mm, RC + / +. Penatalaksanaan pada pasien ini perawatan selama 3-5 hari, observasi tanda vital mencegah terjadinya komplikasi dari cedera kepala yaitu Oedema serebri pada keadaan ini otak membengkak. Gejala-gejalanya seperti commotio cerebri, hanya lebih berat. Terapi simptomatis dengan pemberian analgetik dan neurotropik dan dapat juga diberikan neuroprotektor untuk memperbaiki sel saraf otak, dan mobilisasi bertahap dimana mungkin pasien mengeluh nyeri kepala, vertigo, mungkin muntah dan tampak pucat. Vertigo dan muntah mungkin disebabkan gegar pada labirin atau terangsangnya pusat-pusat dalam batang otak.

20

Pemeriksaan yang dilakukan pada pasien dengan trauma kapitis, Roentgen foto kepala untuk melihat ada tidaknya fraktur pada tulang tengkorak pada pasien ini tidak tampak fraktur dari tulang Craniumnya .CT-Scan untuk melihat letak lesi dan adanya kemungkinan komplikasi jangka pendek, pada pasien ini tidak dilakukan.

21

DAFTAR PUSTAKA

Chusid, Neuroanatomi Korelatif dan Neurology Fungsional, bagian dua. Gajah Mada University Press, 1991

Harsono, Kapita Selekta Neurologi, edisi kedua. Gajah Mada University Press, 2003

Iskandar Japardi, Penatalaksanaan Cedera Kepala Secara Operatif Bagian Bedah Fakultas Kedokteran .USU.Medan.2004

Indri Sietyaningsih, Samekto Wibowo, Bambang Suryatmojo. Terapi Cedera Kepala dengan obat-obat neuroprotektif. Bagian llmu Penyakit Saraf FK UGM Smf Penyaki Saraf Rs. Dr. Sardjito Yogyakarta. 2003

Iskandar J, Cedera Kepala, PT Dhiana Populer. Kelompok Gramedia, Jakarta, 1981

Sidharta P, Mardjono M, Neurologi Klinis Dasar, Dian Rakyat, Jakarta, 1981

22