You are on page 1of 2

Akuisisi partai politik dinilai fenomena negatif

Koran SINDO
Kamis, 9 Agustus 2012 05:22 WIB dok.Okezone

Sindonews.com - Akuisisi partai yang dilakukan sejumlah partai agar bisa ikut pemilu dinilai sebagai fenomena pragmatis dan tidak bagus untuk mendukung terbangunnya sistem politik di Tanah Air. Pengamat Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Mochtar Pabotinggi menyatakan, sebuah partai mestinya berdiri dengan dasar dan misi perjuangan yang melandasinya, bukan mengambil partai lain yang sudah ada untuk ditunggangi. "Akuisisi ataupun ambilalih lisensi dari satu partai ke partai lainnya adalah fenomena negatif. Ini sangat tidak bagus karena sebuah partai semestinya dibangun dengan dasar idiologi, bukan main ambil lisensi atau akuisisi, jelasnya, kepada SINDO, kemarin. Mochtar bahkan menyebut akuisisi partai politik lebih tepat disebut sebagai politik bunglon ataupun partai bajing loncat. Sebab partai tersebut dapat dipastikan tidak memiliki prinsip apa-apa dalam berpolitik. Partai semacam ini tidak punya idiologi untuk diperjuangkan. Mereka hanya pandai beretorika. Yang semacam ini adalah gejala bajing loncat dalamkancahpolitik. Ini jelas fenomena negatif. Berbeda dengan penggabungan partai yang memiliki kedekatan idiologi, sehingga modelnya adalah upaya berjuang bersama, ungkapnya. Sekjen DPP Partai Bulan Bintang BM Wibowo mengaku model akuisisi badan hukum partai kecil dapat disebut negatif karena tidak membawa perubahan apa-apa bagi pembenahan sistem. Namun hal tersebut berbeda dengan model penggabungan beberapa partai-partai kecil menjadi satu, sehingga bisa mendukung adanya sistem penyederhanaan partai. Kalau misalnya ada lima partai bergabung jadi satu, ini sangat positif dalam penyederhanaan sistem kepartaian. Hanya saja persoalannya apakah peraturan memungkinkan penggabungan ini setelah pendaftaran peserta pemilu ataukan hanya boleh sebelum pendaftaran peserta pemilu. Ini yang belum ada jawabannya dalam UU, ungkap Wibowo. PBB sendiri, tutur Wibowo, akan tetap mendaftarkan diri sebagai peserta pemilu ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). PBB pun siap mengikuti verifikasi KPU apabila memang itu menjadi kewajiban dalam UU. Namun untuk tahap sekarang, ujar dia, PBB berharap Mahkamah Konstitusi mengeluarkan putusan yang adil terhadap judicial revue UU Pemilu, sehingga partai yang sudah menjadi peserta pemilu 2009 bisa otomatis menjadi peserta pemilu 2014. Kita hanya minta keadilan saja. Kenapa partai yang ada di Senayan otomatis ikut pemilu, sementara kita tidak. Tapi soal kesiapan kita selalu siap. Bahkan begitu KPU buka jadwal pendaftaran kita akan langsung daftar, terangnya. Model akuisisi partai sendiri tidak hanya menjadi isu partai-partai kecil. Buktinya partai Demokrat pun ikut menampung adanya peleburan partai-partai kecil yang masuk ke partai berlambang mercy tersebut. Ketua DPP Partai Demokrat Sutan Bhatoegana mengatakan, setidaknya ada dua partai gurem yang sudah melebur ke partai tersebut, yakni Partai Barnas dan Partai Pakar Pangan. Partai Pakar Pangan dan partai Barnas sudah melebur dan akan kita wadahi dalam sebuah organisasi sayap. Kita sekarang juga menjalin komunikasi dengan beberapa partai lainnya, ungkapnya.

Sebelumnya Partai Amanat Nasional (PAN) juga melakukan langkah akuisisi terhadap partai bintang reformasi (PBR) pimpinan Bursah Zarnubi. Partai tersebut kemudian mendapat wadah khusus dalam sayap Petani Buruh Reformasi (PBR) yang bergerak di kalangan akar rumput. Kita berpartai untuk menyalurkan hasarat pengabdian pada bangsa. Dengan melih at fakta politik yang ada, dan didasari kecocokan visi misi perjuangan, maka PBR yakin untuk berjuang dalam paying PAN, ungkap Burzah.

http://nasional.sindonews.com/read/2012/08/09/12/664173/akuisisi-partai-politik-dinilaifenomena-negatif diunduh 5 september 2013 pkl 15:47