You are on page 1of 10

PANDANGAN HIDUP ETNIK MADURA DALAM KUMPULAN PUISI NEMOR KARA Royyan Julian Pembimbing: (1) Prof. Dr.

Imam Suyitno, M.Pd., (2) Dr. Roekhan, M.Pd. E-mail: royyanjulian@yahoo.co.id ABSTRACT: This research is based on the importance of introducing Maduranese worldview which becomes nations wealthy. This research aims to describe Maduranese worldview. This research is conducted by interpreting Nemor Kara poetry collection to find Maduranese worldview which is included. In Nemor Kara poetry collection, there are four Maduranese worldviews; divine views, social views, personal views, and world views. Key word: worldview, Maduranese ABSTRAK: Penelitian ini didasari oleh pentingnya mengenalkan pandangan hidup etnik Madura yang merupakan kekayaan bangsa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pandangan hidup etnik Madura. Penelitian ini dilakukan dengan menafsirkan kumpulan puisi Nemor Kara untuk menemukan pandangan hidup etnik Madura yang terkandung di dalamnya. Dalam kumpulan puisi Nemor Kara ditemukan empat pandangan hidup etnik Madura, yaitu pandangan ketuhanan, kemasyarakatan, pribadi, dan kealaman. Kata kunci: pandangan hidup, etnik Madura Menurut Dwiwahyuni (2011), pandangan hidup adalah pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan, dan petunjuk hidup di dunia. Koentjaraningrat (2002:194) menyebut pandangan hidup dengan istilah ideologi. Ideologi merupakan suatu sistem pedoman hidup atau cita-cita yang ingin sekali dicapai oleh banyak individu dalam masyarakat. Suatu ideologi dapat menyangkut sebagian besar dari warga masyarakat, tetapi dapat juga menyangkut golongan-golongan tertentu dalam masyarakat. Istilah ideologi biasanya dipakai bukan untuk individu, tetapi lebih pada sebuah golongan: masyarakat, negara. Puisi sebagai karya sastra juga dapat menggambarkan kondisi budaya masyarakat. Menurut Aminuddin (2004:188), corak kehidupan sosial masyarakat yang diangkat menjadi bahan penciptaan puisi dapat beranekaragam. Mungkin berupa adat kebiasaan, pandangan hidup, maupun perilaku suatu masyarakat yang tidak ada hubungannya dengan masalah politik, tetapi berhubungan dengan masalah kehidupan sosial. Dalam kumpulan puisi Nemor Kara, falsafah hidup etnik Madura merupakan landasan pandangan hidup yang diyakini. Pandangan hidup tersebut

Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang

diwujudkan dan menjadi pedoman masyarakat etnik Madura dalam menjalani hidup di dunia untuk mencapai kehidupan yang baik. Pandangan hidup ini bermacam-macam, antara lain pandangan ketuhanan, kemasyarakatan, pribadi, dan kealaman. Nemor Kara menggambarkan pandangan ketuhanan etnik Madura. Secara spiritual, masyarakat etnik Madura mayoritas beragama Islam. Menurut Rozaki (2004:3), masyarakat Madura selalu dicitrakan sebagai masyarakat yang memperhatikan nilai-nilai keagamaan. Dalam puisi-puisi yang terangkum dalam antologi tersebut ditemukan bagaimana masyarakat etnik Madura memandang Tuhan. Pandangan mereka tentang Tuhan yang paling utama adalah dipengaruhi oleh sikap religius yang bersumber dari agama yang mereka anut, yaitu Islam. Nemor Kara juga menggambarkan pandangan kemasyarakatan etnik Madura. Dalam hal ini, pandangan kemasyarakatan yang dimaksud adalah hubungan individu dengan individu sebagai makhluk sosial dalam sebuah komunitas. Pandangan hidup kemasyarakatan tersebut terbentuk dari pola hidup mereka dalam menjalin hubungan antara yang satu dengan yang lain, misalanya budaya tolong-menolong sebagaimana falsafah rampa naong beringin korong (Ashadi dan Al-Farouk, 1992:83). Nemor Kara juga menggambarkan pandangan pribadi etnik Madura. Dalam hal ini pandangan pribadi adalah pandangan hidup tiap individu terhadap diri mereka sebagai makhluk individu, misalnya tentang etos kerja, masyarakat etnik Madura memiliki cita-cita, ketangguhan, dan sikap pantang menyerah betapa pun kerasnya gelombang menggebu (Imron, 2011). Dalam Nemor Kara juga menggambarkan pandangan kealaman etnik Madura. Puisi-puisi tersebut memotret bagaimana masyarakat etnik Madura memandang alam. Menurut Imron (dalam Piliang, 2011:135), masyarakat Madura pada zaman dahulu kerap berbicara dengan ombak, berbisik-bisik dengan angin, berdialog dengan ilalang. Mereka berjalan dan mematut-matut segala sesuatu. Mata mereka terlatih melihat sudut-sudut sebuah tempat. Sejalan dengan itu, penelitian ini mengaji pandangan hidup etnik Madura yang meliputi: (1) pandangan ketuhanan, (2) pandangan kemasyarakatan, (3) pandanganpribadi, dan (4) pandangan kealaman. Berdasarkan masalah yang dikaji, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pandangan hidup etnik Madura, antara lain: (1) pandangan ketuhanan, (2) pandangan kemasyarakatan, (3) pandangan pribadi, dan (4) pandangan kealaman. METODE Data penelitian ini adalah teks puisi yang mengandung pandangan hidup etnik Madura, yaitu pandangan ketuhanan, kemasyarakatan, pribadi, dan kealaman. Sementara itu, sumber data penelitian ini berupa buku kumpulan puisi yang berjudul Nemor Kara yang diterbitkan oleh Balai Bahasa Surabaya pada tahun 2006. Kumpulan puisi ini ditulis oleh para peserta Lomba Penulisan Puisi Berbahasa Madura 2006. Tidak semua puisi di dalam buku ini menjadi data karena ada beberapa puisi yang tidak mengandung pandangan hidup yang menjadi fokus penelitian. Dari 25 puisi, yang dijadikan data hanya 23 puisi. Sementara itu, puisi yang tidak menjadi data, yaitu Kejung e Asar Maba karya Sanhaji dan Sssstt....!!!! karya Wike Widya Arista. Kesulitan yang dialami peneliti dalam menafsirkan data

adalah penulisan puisi yang tidak menggunakan tata cara penulisan bahasa Madura yang standar (baku). Pengambilan sumber data didasarkan pada tujuan penelitian, yaitu memaparkan pandangan hidup etnik Madura dalam Nemor Kara. Caranya yaitu dengan membaca dengan intensif sumber data tersebut untuk menemukan data yang diinginkan. Adapun prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini antara lain: (1) Membaca secara intensif puisi-puisi dalam Nemor Kara; (2) Menerjemahkan puisi-puisi dalam Nemor Kara ke dalam bahasa Indonesia, (3) Melakukan interpretasi dan analisis puisi-puisi dalam Nemor Kara untuk menemukan pandangan hidup etnik Madura yang ada di dalamnya; (4) Melakukan identifikasi, klasifikasi, dan pencatatan pandangan hidup etnik Madura berdasarkan interpretasi dan analisis yang telah dilakukan. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode hermeneutik, karena penelitian ini menafsirkan fenomena di dalam teks. Teks puisi dalam kumpulan puisi Nemor Kara mengandung makna eksplisit dan implisit. Oleh karena itu, penelitian ini akan menginterpretasikan teks dan konteks dengan tujuan melihat fenomena pandangan etnik Madura di dalam data. Langkah-langkah penelitian hermeneutik menurut Endraswara (2003:45) antara lain: (1) menentukan arti langsung yang primer, (2) bila perlu menjelaskan arti-arti implisit, (3) menentukan tema, dan (4) memperjelas arti-arti simbolik dalam teks. Dari empat langkah tersebut, masih bisa berkembang ke penafsiranpenafsiran yang lain. Penafsiran akan bergantung pada sisi yang ingin diungkap. HASIL Dalam kumpulan puisi Nemor Kara, ditemukan data tentang pandangan ketuhanan etnik Madura. Pandangan ketuhanan tersebut antara lain, Tuhan penguasa nasib manusia dan Tuhan penuntun ke jalan yang lurus. Pandangan Tuhan penguasa nasib manusia terdapat dalam puisi Pello Koneng karya Kadarisman. Pada puisi Pello Koneng tersebut berisi tentang sebuah pertanyaan doa kepada Tuhan. Doa tersebut mengandung makna tersirat bahwa Tuhan adalah penguasa nasib manusia. Pandangan ini terdapat dalam puisi Ngerrap Aba karya Rozakki. Dalam kumpulan puisi Nemor Kara juga ditemukan data tentang pandangan kemasyarakatan etnik Madura. Pandangan kemasyarakatan tersebut meliputi: bangga akan identitas, tolong-menolong, serta kebersatuan dan kebersamaan. Pandangan bangga akan identitas terdapat dalam puisi Maduraku, Budayaku dan Tumpah Darahku karya Abdul Jalal, Ghending Madura karya Lukman Hakim Ag, Madura karya Lukman Hakim Ag, dan Blibis Mole Karabana karya Yayan K.S. Pada puisi-puisi tersebut, kebanggaan akan identitas bangsa ditunjukkan dengan cara mencintai tanah kelahiran, melestarikan kesenian daerah, bahasa daerah, mengenalkan objek wisata, dan mempertahankan identitas budaya dari ancaman budaya asing. Pandangan tolong-menolong terdapat dalam puisi Madura karya Lukman Hakim Ag dan Kampong Rokon karya M. Helmi Prasetya. Kedua puisi tersebut menunjukkan adanya budaya gotong-royong dalam masyarakat etnik Madura dan budaya tolong-menolong yang bisa dilakukan oleh siapa pun (tidak

memang jenis kelami, usia, status sosial, agama, dan lain-lain) tanpa pandang bulu. Pandangan kebersamaan dan persatuan terdapat dalam puisi Blibis Mole Karabana karya Yayan K.S., Kampong Rokon karya M. Helmy Prasetya, dan Ghending Madura karya Lukman Hakim Ag. Puisi-puisi tersebut menunjukkan adanya keinginan untuk bersama dengan keluarga setelah sekian lama merantau dan kebersamaan untuk menciptakan kerukunan dalam komunitas. Dalam kumpulan puisi Nemor Kara juga ditemukan data tentang pandangan pribadi etnik Madura. Pandangan pribadi tersebut meliputi: etos kerja, penjagaan diri dari perilaku buruk, dan penjunjungtinggian martabat. Pandangan etos kerja terdapat dalam puisi Pello Koneng karya Kadarisman, Maduraku, Budayaku dan Tumpah Darahku karya Abdul Jalal, Landuk karya Kurliyadi, dan Ngerrap Aba karya Kurliyadi. Puisi-puisi tersebut menunjukkan adanya etos kerja yang tinggi untuk menyambung hidup meskipun banyak cobaan yang dialami. Manusia juga harus bekerja yang halal sesuai ajaran agama. Pandangan penjagaan diri dari perilaku buruk terdapat dalam puisi Na Kana Ni Keni Ko Nongko Ta Akato karya Meta Mega Silvia, Peggel karya Salamet Wahedi, Acethak bato karya Mahendra, dan Sonar se Elang karya Achmad Faesol. Puisi-puisi tersebut mengisyaratkan bahwa perbuatan buruk dapat membuat manusia rugi, misalnya perilaku amarah dan carok dapat membuat diri dan keluarga menanggung akibat. Carok dapat menimbulkan dendam yang tidak kunjung usai. Perilaku amarah juga dapat membuat hati manusia menjadi sekeras batu. Selain itu, manusia harus menghindari sifat sombong karena manusia hanya makhluk ciptaan yang serbaterbatas. Pandangan penjunjungtinggian martabat terdapat dalam puisi Kotta Bababaran karya Nanik V. Ningsih, Kampong Rokon karya M. Helmy Prasetya, Nemor Kara karya Hesbullah, Taresna Ragapadmi-Bangsacara karya M. Ridwan, Palabbhuwan karya M. Tauhed Supratman, Se Akembhang Duri karya Suhartatik, dan Dhika Nyare Are karya Ra Mamber. Penjunjungtinggian martabat dalam puisi-puisi tersebut ditunjukkan dengan cara menghormati orang tua, memuliakan tamu sebagai bentuk menjaga harga diri dan rasa malu, serta memiliki rasa kesetiaan. Akibat dari sikap khianat (tidak setia) adalah rasa penyesalan yang dalam. Selain itu, dalam kumpulan puisi Nemor Kara juga ditemukan data tentang pandangan kealaman etnik Madura. Pandangan kealaman tersebut meliputi: alam sebagai hiburan, alam sumber nafkah, dan alam berperilaku seperti manusia. Pandangan alam sebagai hiburan terdapat dalam puisi Pello Koneng karya Kadarisman, Sapasang Sape Kerrabhan Atandhu karya M. Tauhed Supratman, dan Lombang karya Ra Mamber. Puisi-puisi tersebut menunjukkan bahwa alam dapat menjadi sarana hiburan bagi manusia, yaitu penghilang stres, memberikan rasa lapang, penyegar pikiran, pemberi semangat, dan lain-lain. Pandangan alam sumber nafkah terdapat pada puisi Madhura Dhika Sokmana Bula karya Yayan K.S. dan Pello Koneng karya Kadarisman. Dalam kedua puisi tersebut, alam menyediakan kebutuhan manusia seperti garam dan alam juga menjadi tempat bercocok tanam untuk mencari nafkah.

Pandangan alam berperilaku seperti manusia terdapat dalam puisi Fita karya Salamet Wahedi, Sapasang Sape Kerraban Atandhu karya M. Tauhed Supratman, dan Rebba Adikker karya Kurliyadi. Dalam puisi-puisi tersebut, alam dapat berperilaku seperti manusia, misalnya berbisik, menangis, tertawa, menghamba kepada Tuhan, bahkan murka bila manusia memperlakukan alam dengan tidak baik. PEMBAHASAN Dalam kumpulan puisi Nemor Kara, pandangan hidup etnik Madura yang terkandung di dalamnya, yaitu pandangan ketuhanan, kemasyarakatan, pribadi, dan kealaman. Berikut adalah paparannya. Pandangan Ketuhanan Dalam kumpulan puisi Nemor Kara, terdapat dua pandangan ketuhanan etnik Madura. Pandangan pertama menyiratkan bahwa Tuhan adalah penguasa dan yang menguasai nasib manusia, sedangkan pandangan kedua menggambarkan bahwa Tuhan adalah penuntun ke jalan yang lurus. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nasib adalah sesuatu yang sudah ditentukan oleh Tuhan atas diri seseorang; takdir. Dalam kumpulan puisi Nemor Kara, Tuhan digambarkan sebagai dzat yang menguasai nasib manusia. Puisi Pello Koneng karya Kadarisman secara tidak langsung mengandung harapan kepada Tuhan untuk mengubah nasibnya, karena Tuhan memiliki kuasa untuk mengubah nasib tesebut. Balina dhadhar pada puisi tersebut berasal dari sebuah ungkapan Madura mandar badhaa li-balina dhadhar(semoga ada balina dhadhar). Hal itu berarti kutipan tersebut secara tidak langsung mengakui bahwa Tuhan merupakan penguasa/pengubah nasib manusia. Sebagai umat Islam dan menjadikan kitab suci (Al-Quran) sebagai pedoman hidup, masyarakat etnik Madura percaya pada Al-Quran surat Ar-Rad ayat 11 yang berbicara tentang Tuhan dan hubungannnya dengan nasib manusia. Ayat tersebut secara tegas menyatakan bahwa Tuhan adalah penguasa keadaan/nasib manusia. Manusia tidak akan dapat menghindar dari apa yang telah dikehendaki Tuhan. Namun, ayat tersebut juga menyatakan bahwa sebenarnya kuasa Tuhan juga bergantung dari usaha manusia itu sendiri. Penyair adalah individu yang memiliki keinginan untuk senantiasa hidup di jalan yang lurus. Mereka percaya bahwa dengan memegang teguh ajaran agama, mereka akan berada pada jalan yang benar, karena Tuhan akan menuntun mereka ke jalan itu. Kutipan puisi Ngerrap Aba karya Rozakki menyiratkan bahwa manusia memiliki potensi yang besar untuk berbuat dosa. Oleh karena itu, mereka memohon kepada Tuhan agar ketika mereka bekerja, mereka senantiasa bekerja dengan jalan yang halal, bukan jalan yang haram. Pandangan Tuhan sebagai penuntun ke jalan yang lurus adalah perwujudan dari doa yang setiap hari lima kali mereka lafazkan ketika salat. Doa tersebut terdapat dalam ayat yang berbunyi, Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Al-Fatihah [1]:67, terjemahan Lajnah Pentashih Mushaf Al-Quran Departemen Agama RI, 2004). Bagi orang yang tidak menjalankan perintah

agama, masyarakat Madura menyebutnya edina pangeranna (ditinggal tuhannya) (Zubairi, 2011). Pandangan Kemasyarakatan Dalam kumpulan puisi Nemor Kara, etnik Madura memiliki pandangan kemasyarakatan. Pandangan kemasyarakatan tersebut antara lain: bangga akan identitas; tolong-menolong; dan kebersamaan dan persatuan. Berikut adalah paparannya. Puisi Maduraku, Budayaku dan Tumpah Darahku karya Abdul Jalal menyiratkan masyarakat Madura untuk senantiasa bangga akan tanah kelahiran kekayaan seni budaya dan budaya sopan santun, tanah kelahiran merupakan tanah tumpah darah yang mesti diakui karena kemuliaannya serta merupakan tempat para pahlawan,orang yang berbudi pekerti luhur dan dekat dengan yang spiritual dan ilahiah. Hal ini sesuai dengan ungkapan Madura, yaitu basa nantowagi bangsa(bahasa menentukan bangsa) yang bermakna keharusan untuk selalu mengakui dan bangga akan identitas yang melekat pada diri. Sebagai masyarakat yang komunal, etnik Madura tidak akan pernah absen dari budaya tolong-menolong antarsesama. Filsafat etnik Madura yang tertuang dalam peribahasarampa naong baringin korong ditunjukkan kepada orang kaya yang gemar menolong yang lemah (Ashadi dan Al-Farouk, 1992:83). Bila Indonesia memiliki istilah gotong-royong dalam tolong-menolong untuk sebuah masyarakat, Madura sebagai salah satu etnik di Indonesia juga memiliki istilah song-osong lombung, jung-rojung, pak-opak eling se ekapajung untuk menolong antarsesama. Pak-opak eling memiliki makna tolong-menolong untuk mengingatkan mereka yang lupa (berbuat salah atau berperilaku tidak baik). Dengan demikian, bila budaya saling mengingatkan terjalin, akan tercipta masyarakat yang hidup sesuai dengan tuntunan hukum dan agama. Ungkapan Madura yang menunjukkan budaya tolong-menolong masyarakat etnik Madura antara lain berbunyi, mon bagus pabagas (kalau tampan harus gagah) yang bermakna seseorang yang rupawan harus memiliki semangat keperwiraan dengan berkorban untuk kepentingan masyarakat (Imron, 2001). Dalam pandangan kebersaaan dan persatuan, etnik Madura percaya bahwa kebersamaan merupakan hal yang dapat membuat komunitas mereka bersatu. Kutipan puisi Blibis Mole Karabana karya Yayan K.S tersebut bercerita tentang seorang anak laki-laki yang pulang ke kampung halamannya (di Madura) setelah sekian lama merantau ke daerah lain. Hal ini menyiratkan pentingnya berkumpul bersama sanak keluarga di kampung halaman, karena kebersatuan dapat terwujud bila semua bagian dari komunitas berkumpul bersama. Kebersaaman antaranggota keluarga yang harus selalu dijaga tidaklah mengherankan bila melihat sistem kekerabatan di dalam etnik Madura. Menurut Wiyata (2006:55), ikatan kekerabatan dalam masyarakat Madura terbentuk melalui keturunan-keturunan, baik dari keluarga berdasarkan garis ayah maupun garis ibu (paternal and maternal relatives). Dalam konsep kekerabatan tersebut, hubungan persaudaraan mencakup sampai empat generasi ke atas (ascending generations) dan ke bawah (descending generations) (Wiyata, 2006:56). Oleh karena itu keutuhan keluarga besar merupakan sebuah keharusan dalam masyarakat etnik Madura.

Kebersatuan untuk menghindari perpecahan yang disebabkan oleh kekuatan asing tersebut bisa dilihat dari simbol pola pemukiman tradisional masyarakat Madura. Pola pemukiman tradisional masyarakat Madura dikenal dengan sebutan kampong meji. Menurut Wiyata (2006:44), konsekuensi sosial kampong meji yaitu solidaritas internal antarmasing-masing anggota atau penghuninya menjadi sangat kuat. Pagar rumpun bambun yang mengelilingi kampong meji bisa menjadi simbol tameng yang dapat menjaga persatuan dari perpecahan yang disebabkan oleh kekuatan-kekuatan asing. Pandangan Pribadi Dalam kehidupan sehari-hari, etnik Madura memiliki pandangan terhadap pribadi. Pandangan hidup etnik Madura terhadap pribadi dalam kupulan puisi Nemor Kara antara lain: etos kerja; penjagaan diri dari perilaku buruk; dan penjunjungtinggian martabat. Dalam kumpulan puisi Nemor Kara, etnik Madura memiliki keyakinan bahwa untuk mencapai kesuksesan di dunia, setiap orang mesti bekerja keras. Puisi Pello Koneng karya Kadarisman memiliki makna bahwa manusia mesti bekerja keras untuk menyambung hidup yang serba tidak pasti. Hal itu sekaligus menunjukkan bahwa ketidakpastian hidup di dunia ini merupakan ujian bagi manusia. Ungkapan Madura abantal omba sapoangin (berbantal ombak berselimut angin berasal dari ungkapan Madura yang menunjukkan kerja keras yang tinggi demi mendapatkan apa yang dicapai. Menurut Imron (2011) ungkapan ini memiliki makna menggambarkan cita-cita, ketangguhan, dan sikap pantang menyerah kepada laut betapa pun kerasnya gelombang menggebu. Hal ini sesuai dengan apa yang ditengarai oleh Zubairi (2011), yaitu salah satu hal yang menggambarkan sifat kerja keras etnik Madura adalah mereka dapat bekerja apa pun (asal halal) hingga merantau ke daerah lain. Dalam hidup ini manusia akan berhadapan dengan berbagai masalah. Oleh karena itu, manusia harus bersabar menghadapi masalah. Jika tidak, manusia akan terjebak pada perilaku buruk. Masyarakat etnik Madura percaya bahwa setiap perilaku buruk dapat berdampak buruk. Amarah dapat menimbulkan perkelahian, sedangkan perkelahian akan berdampak pada keluarga, misalnya orang tua akan bersedih karena perkelahian tersebut. Puisi Na Kana Ni Keni Ko Nongko Ta Akato karya Meta Mega Silvia tersebut menyiratkan bahwa akan banyak kesedihan yang ditimbulkan oleh amarah. Kutipan Reng towa/ Asandadut e penggir labang/Tampah cangkem!!! menunjukkan bahwa orang lain (orang tua) akan rugi (bersedih) karena carok (perilaku buruk). Puisi Peggel karya Salamet Wahedi menunjukkan bahwa amarah dan carok dapat meninggalkan bekas yang buruk. Biasanya, akibat carok (sebagaimana kasus-kasus carok yang dipaparkan dalam buku Carok: Konflik Kekerasan dan Harga Diri Orang Madura karya Wiyata, 2006) menimbulkan dendam yang tak berkesudahan (lingkaran setan). Untuk mencapai kehidupan yang sempurna, masyarakat etnik Madura percaya bahwa manusia harus menjunjung tinggi martabat. Menjunjung tinggi martabat bisa dilakukan bila manusia juga melakukan hal-hal yang baik dan berperilaku yang baik.

Puisi Kotta Bababaran karya Nanik V. Ningsih menunjukkan bahwa manusia harus menuruti nasihat orang tuanya, karena nasihat orang tua tersebut banyak benarnya. Etnik Madura sebagaimana menurut Sadik (2004:34) percaya bahwa orang yang pertama harus dihormati adalah orang tua. Hal ini sesuai dengan ungkapan,buppa babu guru rato. Ungkapan tersebut bermakna bahwa yang pertama harus dihormati adalah ibu bapak. Selain itu, untuk menjunjung tinggi martabat, manusia harus menghormati orang lain. Cara untuk menjunjung tinggi martabat yaitu dengan menjaga rasa malu dan harga diri melalui menjamu (menghormati) tamusebagaimana dalam puisi Kampong Rokon karya M. Helmy Prasetya. Memuliakan tamu yang merupakan perwujudan dari menghargai orang lain merupakan kebiasaan orang Madura dan telah menjadi falsafah hidup dan adat mereka. Dalam hal ini adat (tradisi) adalah salah satu hal yang mesti dijaga sesuai dengan kerangka moral yang tertera di dalam buku Baburugan Becce (dalam Imron, 2011). Pandangan Kealaman Dalam kumpulan puisi Nemor Kara, etnik Madura memiliki beberapa pandangan tentang alam, antara lain: alam sebagai hiburan; alam sumber nafkah; dan alam berperilaku seperti manusia. Puisi Pello Koneng karya Kadarisman menunjukkan bahwa malam yang dihiasi bulan purnama dapat membuat manusia lapang dan sejuk. Kutipan ate rassa tasengkap dan oreng-oreng acora jembar dalam puisi tersebut menunjukkan bahwa alam dapat membuat hati manusia menjadi lapang. Malam hari merupakan waktu ketika seseorang selesai bekerja. Dengan segala penat dan letih setelah bekerja, orang-orang yang digambarkan dalam puisi tersebut merasa lapang saat disuguhi bulan purnama yang baru saja terbit. Dengan kondisi alam Madura yang panas, orang-orang Madura yang digambarkan dalam puisi tersebut menikmati udara malam hari yang dingin di luar rumahnya sambil tidur-tiduran, sedangkan anak-anak bermain petak umpet. Kebiasaan ini kerap dilakukan oleh masyarakat Madura pedesaan pada malam hari, duduk-duduk di atas balai-balai, bercengkerama dengan keluarga sambil menikmati camilan, kopi, dan rokok pada musim kemarau, yaitu ketika malam hari udara menjadi dingin dan bulan purnama menjadi sempurna. Dalam kumpulan puisi Nemor Kara, alam juga dipercaya sebagai objek yang menjadi sumber nafkah bagi manusia. Di alamlah mereka bekerja untuk menyambung hidup. Puisi Madhura Dhika Sokmana Bula karya Yayan K.S. menyiratkan bahwa garam yang berasal dari tanah pesisir menjadi sumber makanan bagi manusia. Menurut Kuntowijoyo (2002:396), secara ekologis produksi garam adalah salah satu alternatif dari pertanian. Ketika keadaan cuaca tidak menguntungkan untuk pertanian, justru untuk produksi garam menguntungkan, begitu sebaliknya. Bahkan, saat ini pertanian garam menjadi mata pencaharian utama beberapa masyarakat di Madura. Alam sebagai sumber nafkah juga terdapat pada kutipan mebacca tana kerreng (membasahi tanah basah) dalam puisi Pello Koneng karya Kadarisman yang menunjukkan bahwa manusia membutuhkan tanah untuk bertani. Menurut De Jonge (dalam Wiyata, 2006:39), 70% sampai 80% dari keseluruhan penduduk masih bergantung pada kegiatan-kegiatan agraris. Aktivitas-aktivitas bidang

pertanian tersebut tidak dapat berlangsung sepanjang tahun. Aktivitas menanam padi hanya dapat dilakukan pada musim hujan, sedangkan pada musim kemarau lahan-lahan pertanian biasanya ditanami ketela pohon, kacang-kacangan, kedelai, umbi-umbian, dan tembakau. (Wiyata, 2006:39). Hal ini menunjukkan, seberapa pun kerasnya alam, orang-orang Madura masih membutuhkan alam sebagai sumber rejeki. Dalam kumpulan puisi Nemor Kara, masyarakat etnik Madura menggambarkan alam sebagai objek yang memiliki perilaku yang mirip dengan manusia. Pada kutipan Langngi agelle dan ombe terros ngejhungdalam puisi Fita karya Salamet Wahedi tersebut menunjukkan bahwa alam bisa berperilaku seperti manusia (tertawa dan menyanyi). Menurut Imron (dalam Piliang, 2011:135), masyarakat Madura pada zaman dahulu kerap berbicara dengan ombak, berbisik-bisik dengan angin, berdialog dengan ilalang. Mereka berjalan dan mematut-matut segala sesuatu. Mata mereka terlatih melihat sudut-sudut sebuah tempat. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat etnik Madura memperlakukan alam sebagaimana manusia dan percaya bahwa alam hidup seperti manusia. PENUTUP Dalam kumpulan puisi Nemor Kara, pandangan ketuhanan etnik Madura meliputi Tuhan sebagai penguasa nasib manusia dan Tuhan sebagai penuntun ke jalan yang lurus. Pandangan kemasyarakatan etnik Madura meliputi: bangga akan identitas, tolong-menolong, serta kebersamaan dan persatuan. Pandangan pribadi etnik Madura meliputi: etos kerja, penjagaan diri dari perilaku buruk, dan penjunjungtinggian martabat. Sementara itu, pandangan kealaman etnik Madura meliputi: alam sebagai hiburan, alam sumber nafkah, dan alam berperilaku seperti manusia. Panitia penyelenggara lomba menulis puisi berbahasa Madura bila hendak mengadakan lomba menulis puisi berbahasa Madura lagi sebaiknya menentukan tema puisi yang lebih jelas. Pakar budaya Madura dapat menjadikan penelitian ini sebagai acuan untuk membuat program dan kebijakan mengenai pelestarian pandangan hidup. Para pendidik dan tenaga kependidikan dapat menjadikan penelitian ini sebagai referensi untuk menyusun rencana pemuatan pandangan hidup etnik Madura (sebagai bagian dari karakter bangsa) dalam kurikulum pendidikan. Temuan penelitian ini juga dapat menjadi bahan dalam proses kreatif untuk para penyair Madura. Pemerintah dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai dokumen tertulis tentang kekayaan budaya etnik Madura. Selain itu, hasil penelitian ini dapat menjadi acuan untuk menentukan program kebijakan-kebijakan yang menyangkut khalayak. Peneliti berikutnya dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai rujukan dalam mengembangkan atau menemukan gagasan baru pada objek yang sama. DAFTAR RUJUKAN Alwi, Hasan (Pemred). 2011. Kamus Besar Bahasa Indonesia: Edisi Ketiga. Balai Pustaka: Jakarta. Aminuddin. 2004. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

10

Ashadi, Moh. Mahfud & Al-Farouk, Ghazi. 1992. Kosa Kata Basa Madura. Surabaya: Sarana Ilmu. Departemen agama RI. Al-Jumanatul Ali: Al-Quran dan Terjemahnya. Terjemahan Lajnah Pentashih Mushaf Al-Quran. 2004. Bandung: J-Art. Dwiwahyuni, Ida. 2011. Macam-macam Pandangan Hidup dan Pengertian Ideologi, (Online), (www.idadwiw.wordpress.com), diakses 26 Januari 2011. Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra: Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi. Yogyakarta: Pustaka Widyatama. Imron, D. Zawawi. 2011. Mengenal Padangan Hidup Orang Madura, (Online), (www.mediamadura.wordpress.com), diakases 4 Maret 2012. Koentjaraningrat. 2002. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta. Kuntowijoyo. 2002. Perubahan Sosial dalam Masyarakat Agraris: Madura 18501940. Yogyakarta: Matabangsa. Piliang, Yasraf Amir. 2011. Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batasbatas Kebudayaan. Bandung: Matahari. Rozaki, Abdur. 2004. Menabur Kharisma Menuai Kuasa: Kiprah Kiai dan Blater sebagai Rezim Kembar di Madura. Yogyakarta: Pustaka Marwa. Sadik, A. Sulaiman. 2004. Busana, Salam & Nama Tempat Khas Pamekasan. Makalah disajikan pada Sarasehan Pembakuan Busana dan Salam Khas Pemekasan, Pamekasan, 6 November. Wiyata, A. Latief. 2006. Carok: Konflik Kekerasan dan Harga Diri Orang Madura. Yogyakarta: LKiS. Zubairi, A. Dardiri. 2011. Hidup Seimbang ala Orang Madura, (Online), (www.sosbud.kompasiana.com), diakses 4 Maret 2012.