You are on page 1of 10

Hukum Pidana dalam Islam 11 Mei 2009

Posted by moh.zainus subkhan in Artikel Bebas. trackback

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Dalam literatur masyarakat, khusus dalam kehidupan Islam terdapat berbagai permasalahan yang menyangkut tindakan pelanggaran yang dilakukan manusia. Dengan adanya hal itu, maka dibuatlah aturan yang mempunyai kekuatan hukum dengan berbagai macam sangsi. Sangsi yang diberikan sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan. Maka dari itu, dalam hukum Islam diterapkan jarimah (hukuman) dalam hukum Jinayah Islam yang bertindak sebagai preventif (pencegahan) kepada setiap manusia, dan tujuan utamanya adalah supaya jera dan merasa berdosa jika ia melanggar. Maka dari itu adanya Qishash bukan sebagai tindakan yang sadis namun ini sebuah alternatif demi terciptanya hidup dan kehidupan yang sesuai dengan Sunnah dan ketentuan-ketentuan Ilahi. Sebenarnya kalau hukum yang dibuat manusia belum sepenuhnya bisa mengikat, dan hal tersebut bisa direkayasa sekaligus bisa dilanggar, karena pada intinya hanya hukum Islam lah yang sangat cocok bagi kehidupan manusia di dunia. Hal ini terbukti dengan adanya hukum Islam banyak negara yang merasa cocok dengan berlakunya hukum Islam. Tapi ada satu hal yang masih menjadi pertanyaan apakah benar hukum islam itu sulit diterapkan dalam suatu tatanan kemasyarakatan atau itu hanya sebuah alasan dari sgelintir orang yang tidak suka terhadap aturan tersebut. Dalam makalah ini diajukan beberapa hal yang menyangkut pelanggaran dan sangsi sesuai dengan perbuatannya itu. Maka dari itu didalam makalah ini akan dibahas mengenai Qishash/Hudud Hukuman-hukuman. Setelah mengetahu berbagi macam hukuman yang diakibatkan atas pelanggaran seseorang maka diharapkan akan muncul suatu hikmah dan tujuan kenapa hukuman itu ada dan dilaksanakan. B. PEMBATASAN MASALAH Dalam upaya menspesifikan masalah dalam makalah ini perlu adanya batasan masalah yang akan diuraikan. Masalah yang akan dibahas adalah apa hikmah dan tujuan hukuman-hukuman (jarimah) dalam pidana islam (jinayah). BAB II HUKUMAN A. PENGERTIAN DAN DASAR HUKUMAN Dalam perbendaharan bahasa Indonesia kata hukuman merupakan bentuk kata jadian (mashdar) dari kata hukum. Secara bahasa, hukum (al-hukm) sepadan dengan kata al-manu (cegahan) dan al-fashl (pemisah dan keputusan) disamping itu hukum juga sering diartukan dengan al-qadha (ketetapan dan keputusan hakim di pengadilan. Secara istilah, hukum dalam pandangan pakar ushul fiqhnadalah:

Titah (perintah) Allah swt yang berkaitan dengan perbuatan mukalaf (dewasa dan berakal) melalui iqtida, pilihan, atau wadi . Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sumber hukum adalah berasal dari Allah swt, yang kemudian diwahyukan kepada nabi (sunnah). Dan setelah meninggalnya nabi saw; dengan semakin berubah dan berkembangnya zaman maka ditemukan hal-hal baru yang belum terjadi pada masa kenabian maka ijma dan qias juga dapat dijadikan sumber hukum dalam mengatasi masalah. Maksud pokok hukuman adalah untuk memelihara dan menciptakan kemaslahatan dan mejaga mereka dari hal-hal yang mafsadah (jalbu al-mashalih wa dafu al-mafasid), karena Islam merupakan rahmatan lilalamin, untuk memberi petunjuk dan pelajaran kepada manusia. Hukuman ditetapkan demikian untuk memperbaiki individu menjaga masyarakat dalam interaksi sosial, hukuman harus mempunyai dasar, baik dari al-Quran, sunnah maupun lembaga legislative yang mempunyai wewenang menetapkan hukum untuk kasus tazir. Selain itu hukuman harus bersifat pribadi. Artinya dijatuhkan kepada yang melakukan kejahatan saja, hal ini sesuai dengan prinsip bahwa; seseorang tidak akan menanggung dosanya orang lain. B. TUJUAN DAN MACAM-MACAM HUKUM 1. Tujuan Hukum Hukuman diterapkan demi mencapai kemaslahatan bagi individu dan masyarakat. Dengan demikian, hukuman yang baik adalah: a) Harus mampu mencegah seseorang dari berbuat maksiat. Menurut ibn Hammam dalam Fatul Qadir bahwa hukuman itu untuk mencengah sebelum terjadinya perbuatan (preventif) dan menjerakan setelah terjadinya perbuatan (refresif). b) Batas tertinggi dan terendah suatu hukuman sangat tergantung kepada kebutuhan dan kemaslahatan masyarakat, apabila kemaslahatan menghendaki beratnya hukuman maka maka hukuman di perberat. Demikian juga sebaliknya, bila kebutuhan kemaslahatan masyarakat menghendaki ringanya hukuman, maka hukumnya diperingan. c) Hukuman adalah upaya terakhir dalam menjaga seseorang supaya tidak jatuh kedalam suatu maksiat. d) Memberikan hukuman kepada orang yang melakukan kejahatan itu bukan berarti membalas dendam, melainkan untuk kemaslahatannya. 2. Macam-macam Hukuman Hukuman dibagi menjadi beberapa macam sesuai dengan tindak pidana. a) Hukuman ditinjau dari segi terdapat atau tidak terdapat nashnya dalam al-Quran dan alHadist. Maka hukuman dapat dibagi menjadi dua bagian: Hukuman yang ada nashnya, yaitu hudud, qishash, diyat, dan kafarah. Misalnya, hukuman bagi pezina, pencuri, perampok, pemberontak, pembunuh, dan orang yang mendzihar istrinya. Hukman yang tidak ada nashnya, hukuiman ini disebut dengan hukuman tazir, seperti percobaan melakukan tindak pidana, tidak melaksanakan amanah, bersaksi palsu. b) Ditinjau dari segi hubungan antara suatu hukuman dengan hukuman yang lain, hukuman dapat dibagi menjadi empat yaitu: Hukuman pokok (al-uqubat al-ashliyah), yaitu hukuman yang sal bagi suatu kejahatan , seperti hukuman mati bagi pembunuh dan hukuman jilid seratus kali bagi pezina ghayr muhshan. Hukuman pengganti (al-uqubat al- badaliyah), yaitu hukuman yang menempati empat pokok

apabila hukuman pokok itu tidak dapat dilaksanakan karena suatu alasan hukum diyat bagi pembunuh yang sudah di maafkan qishasnya oleh keluarga korban atau hukuman tazir apabila karena suatu hal hukuman had tidak dapat dilaksnakan. Hukuman tambahan (Al-Uqubah Al-Thabaiyah), yaitu: hukuman yang dijatuhkan pada pelaku atas dasar mengikuti hukuman pokok, seperti terhalangnya seorang pembunuh untuk mendapat waris dari harta terbunuh. Hukuman pelengkap (Al-Uqubat Al-Takmiliyat), yaitu huuman yang dijatuhkan sebagai pelengkap terhadap hukuman yang telah dijatuhkan. c) Ditinjau dari segi kekuasaan hakim yang menjatuhkan hukuman, maka hukuman dapat di bagi dua yaitu: Hukuman yang memiliki batas tertentu, di mana hakim tidak dapat menambah atau menguragi batas itu, seperti hukum had. Hukuman yang memiliki dua batas, yaitu batas tertinggi dan batas terendah, di man hakim dapat memilih hukuman yang paling adil dijatuhkan kepada terdakwa. 3. Pelaksana Hukuman Yang melaksanakan hukuman adalah orang yang ditunjuk oleh imam untuk melaksanakan hukuman itu. Adapun alat untuk melaksanakan hukuman mati menurut Iman Abu Hahifah dan Imam Ahmad harus mengunakan pedang, berdasarkan hadits: ) ) Tidak ada qishash (hukuman mati) kecuali dengan pedang Sedangkan menurut Imam SyafeiI dan Imam Malik dan sebagian ulama Hanabilah alat untuk melaksanakan qishash harus dengan alat yang sama dengan alat yang digunakan untuk membunuh korban. Allah berfirman:













Artinya: Katakanlah: Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian (mu), jika kamu memang benar. (QS. Al- Baqarah :194). C. HAL-HAL YANG DAPAT MEMPENGARUHI HUKUMAN Pada dasarnya hukuman itu mesti dilaksanakan karena perbuatan sesorang yang telah melanggar aturan, namun dengan sebab tertentu hukuman tersebut dapat diutangguhkan bahkan hukuman tersebut bisa menjadi gugur. Hukuman menjadi gugur apabila: 1. Pelaku meninggal dunia, kecuali untuk hukuman yang berupa diyat, denda, dan rampasan harta. 2. Hilang anggota badan yang harus dikenai hukuman 3. Tobat dalam kasus jarimah hirabah, meskipun Ulil Amri dapat menjatukan hukuman tazir bila kemaslahatan umum menghendakinya 4. Perdamaian dalam kasus qishash dan diyat. Dalam hal ini Ulil Amri juga dapat menjatuhkan hukuman apabila kemaslahatan umm menghendakinya. 5. Kadaluwasa menurut Imam Malik, SyafeiI dan Ahmad didalam hudud tidak ada kadaluwarsa. Sedangkan dalam jarimah tazir mereka membolehkan adanya kadaluwarsa bila Ulil Amri menganggap pada kemaslahatan umum, sedangkan menurut Hanafi dalam kasus jarimah tazir bias diterima adanya kadaluwarsa. Adapun dalam jarimah qishash, diyat, dan jarimah qadzaf tidak diterima adanya kadaluwarsa.

BAB III KUALIFIKASI JARIMAH DAN HUKUMANNYA DALAM JINAYAH A. Jarimah Qishash (Hudud) 1. Pengertian Qishash Kata qishash berasal dari bahasa Arab qashasha yang merupakan bentuk masdar dari kata kerja , ,. Ditinjau dari segi bahasa, kata itu berarti memotong, mengerat dan mengikuti jejak . Sedangkan ditinjau dari istilah fiqh adalah: Qishash adalah pelaksanaan hukuman bagi pelaku pelanggaran sesuai dengan jenis pelanggaran yang dilakukannya, baik menyangkut jiwa manusia atau anggota-anggota badan lainnya. Jadi, qishash dapat dibatasi sebagai akibat hukum karena seseorang melakukan kejahatan berupa penghilangan nyawa atau melukai anggota tubuh orang lain, hingga padanya diancam hukuman yang semisal dengan kejahatan yang dilakukannya. Adapun dalam makalah ini penyebutan qishash denga hudud disamakan karena pada dasarnya antara keduanya adalah sama, baik bentuk maupun hukumannya telah ditentukan oleh Allah dan rasul-Nya. Ibnu Nujaym berkata: al-qishashu kalhudud artinya qishash itu seperti halnya hudud. 2. Dasar Hukum Qishash Al-Jaziri menerangkan bahwa hukum qishash ditetapkan oleh kitabullah, hadits rasul dan ijma. Pertama dasar hukuman qishash dari Al-Quran yaitu: 1. Al-Baqaroh ayat 178-179 sebagai berikut: Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, Maka baginya siksa yang sangat pedih. Dan dalam qishaash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, Hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa. (QS. Al- Baqarah :178-179). 2. Al- Maidah ayat 45 sebagai berikut: Artinya: Dan kami Telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya. barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, Maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. Kedua dasar hukuman qishash dari al-hadits yaitu: Darah seorang muslim yang telah bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Aku adalah rasul-Nya tidaklah halal, kecuali disebabkan oleh salah satu dari tiga hal; yaitu: Orang yang telah kawin kemudian berzina, membunuh seseorangdan orang yang meninggalkan agamanya serta memisahkan diri dari jamaahnya Ketiga dasar hukuman qishash dari ijma yaitu: sesungguhnya harta tidak layak dipakai sebagai pembayaran untuk pembunuhan sengaja karena tidak sepadan. Hal ini didasarkan pada kenyataan

bahwa anak adam itu pemilik penguasa, sementara harta itu adalah sesuatu yang dimiliki dan dikuasai. Bagaimana mungkin jiwa digantikan dengan harta. Karena itu seyogyanga pembalasan adalah sesuatu yang seimbang. Hal ini menganduing hikmah terjaganya kemaslahatan hidup dan kehidupan dan sebagai peringatan bagi orang lain agar tidak melakukannya. 3. Pembagian Qishash Menurut Ibn Rusyd (1990:528) menyatakan bahwa pembagian qishas di bagi menjadi dua yaitu: (1) Qishash Jiwa (2) Qishash selain jiwa atau qishash anggota badan (termasuk pelukaan). a. Qishash Jiwa Tidak setiap tindakan kekejaman terhadap jiwa membawa konsekuensi qishash. Karena tindak kekejaman itu ada yang disengaja, menyerupai sengaja dan adakalanya kesalahan. Qishash jiwa hanya dikenakan pada kasus pembunuhan yang disengaja. Pembunuhan disengaja adalah: Artinya: Membunuh secara sengaja adalah pembunuhan oleh seorang mukallaf terhadap sesorang yang darahnya dilindungi, dengan memakai alat yang pada umumnya alat tersebut dapatmenyebabkan orang mati Syarat-syarat pembunuhan disengaja yang akan mendapat hukuaman qishash dengan dibunuh kembali bagi sipelaku adalah sebagai berikut: 1. Orang yang terbunuh terlindungi darahnya 2. Pelaku pembunuhan sudah baligh dan berakal 3. Pembunuh dalam kondisi bebas memilih 4. Pembunuh bukan orang tua dari yang terbunuh 5. Ketika terjadi pembunuhan pembunuh dan yang terbunuh sederajat (dalam hal agama dan kemerdekaan) 6. Tanpa orang lain yang ikut membantu diantara orang-orang yang tidak wajib hukum qishash atasnya. b. Qishash Selain Jiwa Qishash selain niwa mempunyai syarat sebagai berikut: pertama, pelaku berakal; kedua. Pelaku Sudah mencapai umur baligh; ketiga, motivasi kejahatan disengaja; keempat,hendaknya darah orang yang dilukai sederajat dengan darah orang yang melukainya. Qishash selain jiwa ada dua macam, yaitu: qishash terhadap anggota tubuh dan qishash terhadap luka-luka. Qishash pada anggota tubuh yang wajib diqishash adalah setiap anggota badan yang mempunyai ruas (persendian) yang jelas seperti siku dan pergelangan tangan.adapun anggota tubuh yang tak bersendi tidak dikenakan qishash. Qishash anggota tubuh disyaratkan tiga hal yaitu: pertama, tidak belebihan; kedua, adanya kesamaan dalam nama dan kondisi; ketiga adanya kesamaan antara kedua belah pihak pelaku kejahatan dan korban dalam segi kesehatan dan kesmpurnaan. Sedangkan qishash pada pelukaan, ada dua macam yaitu (1) pelukaan yang dikenakan qishash, atau diyat,dan atau pemafaan. (2) pelukaan yang dikenakan diat dan atau pemafaan. Adapun sayarat pelaku dan korban sama halnya dengan syarat qisahash jiwa. Yang menjadi perbedaan adalah batas pelukaan yang terjadi hal ini berdasar firman allah swt surat al-Maidah ayat 45 sebagai berikut: 9# |% Artinyadan luka luka (pun) ada qishashnya.

Perbuatan-perbuatan yang bisa dikenai qishash dan pada anggota-anggota badan yang bisa diqishash, seta tidak dikhawatirkan akan menyebabkan kematian. Seperti memecahkan tulang leher, tulang punggung, dada, paha dan sebagainya. B. Jarimah Diyat 1. Pengertian Diyat Kata diyat berasal dari bahasa arab diyyatun yang merupakan bentuk masdar dari kata kerja , , dalam bahasa arab dikatakan yang mempunyai makna yakni baku telah menunaikan diyat si korban. Sedangkan menurut istilah fiqh menurut ulama malikiyah, hanbaliyah, dan syafiiyah adalah: Diyat adalah harta benda yang wajib diserahkan pemiliknya karena telah melakukan kejahatan terhadap orang merdeka, baik jiwa ataupun anggota badannya. 2. Dasar Hukum Diyat Al-Jaziri (1989:336) dan Abdul Qodir Audah (1984:176) menerangkan bahwa hukum qishash ditetapkan oleh kitabullah, dan hadits rasul. Pertama dasar hukuman diyat dari Al-Quran surat an-Nisa ayat 92 yaitu: Artinya: Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali Karena tersalah (Tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mukmin Karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, Maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. barangsiapa yang tidak memperolehnya, Maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan Taubat dari pada Allah. dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. Sedangkan dasar berdasarkan hadits yaitu hadits yang didasarkan kepada Amr Bin Hazm sebagai berikut: Bahwasanya pada pembunuhan jiwa itu dikenakan diyat seratus ekor unta 3. Pembagian Diyat c. Ditinjau Dari Kadarnya Menurut Imam Taqiyyudin Abi Bakar Bin Muhammad Al-Husaini diyat dilihat dari kadarnya terbagi menjadi dua bagian yaitu (1) diyat yang berat (2) diyat yang ringan. d. Ditinjau Dari Jenis Kejahatanya 1). Diyat pembunuahn o Pembunuhan Sengaja (qotlu al-amd) Diyat pembunuhan sengaja menurut imam SyafiI adalah seratus ekor unta di bagi tiga yaitu: tiga puluh ekorunta hiqqah (unta yang memasuki tahun keempat), tiga puluh ekor unta jadah (unta yang memasuki tahun kelima), dan empat puluh ekor unta khalifah (unta yang sedang mengandung). Hal ini didasarkan atas hadits rasulullah saw yang diriwayatkan oleh umar bin syuaib dari bapaknya, bahwa rasulullah saw bersabda: Barang siapa membunuh dengan sengaja, maka diserahkna pada wali-wali terbunuh untuk memilih untuk membunuh kembali (qishash) atau diyat, yakni tiga puluh unta hiqqah,tiga puluh

unta jadaah, dan empat puluh unta khalifah, mana yang dianggap lebih maslahat baginya maka itu lebih baik baginya. o Pembunuhan Mirip Sengaja (qotl al-khoto al-amd) Imam ahmad dan imam hanafi berpendapat bahwa diat bagi kasus pembunhan mirip sengaja dibagi empat bagian yaitu: 25 unta bintu makhad; 25 unta bintu labun; 25 unta hiqqah; dan 25 unta jadah. Sedangkan imam syafii menyamkan diyatnya denga pembunuhan sengaja.(Sabiq, 1973:552) o Pembunuhan Tersalah (qotl al-khoto) Imam syafii berpendapat bahwa diyat pembunuhan tersalah dibagi liam yaitu: 20 unta binti makhad; 20 bintu labun; 20 unta hiqqah; 20 unta jadah; 20 unta ibni labun. Pendapat ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh al- Bukhary dan Turmudzi dari ibnu masud bahwa rasulullah saw bersabda: Pada diyat pembunuhan tersalah adalah 20 unta betina binti makhad; 20 unta jantan ibni makhad; 20 unta betina ibni labun; 20 unta jadah; 20 unta hiqqah. 2). Diyat selain pembunuhan o Pelukaan Perkara yang mewajibkan diyat adalah pelukaan dan pemotongan anggota badan. Tentang pelukaan baik secara bahasa maupun secara hukum ada sepuluh yaitu: 1. Al-Dhamiyah, yakni pelukaan mengeluarkan pada kulit 2. Al-Harisah, yakni pelukaan yang merobek kulit 3. Al-Badhiah, yakni pelukaan membelah daging 4. Al-Mutalahimah, yakni pelukaan yang masuk dalam daging 5. Al-Simhaq, yakni pelukaan yang kulit tipis antara daging dan tulang 6. Al-Mudhihah, yakni pelukaan menampakkan tulang atau membukanya. 7. Al-Hasyimah, yakni pelukaan yang sampai memecah tau mematahkan 8. Al-Munaqilah, yakni pelukaan yang sampai mengeluarkan tulang 9. Al-Mamumah, yakni pelukaan yang sampai pangkal otak 10. Al-Jaifah pelukaan yang sampai kebagian dalam Kesepuluh pelukaan ini dinamakan al-syijaj, yang pelukaannya berpusat pada mika dan kepala. Sedangkan pelukaan yang mengenai badan disebit al-jurh. Jenis pelukaan yang telah disebutkan diatas akan mendapatkan diyat yang berbeda-beda karena tingkat luka yang terjadi bertingkattingkat.(Sabiq, 1973:562-563) o Pemotongan Anggota Badan Manusia mempunyai anggota tubuh diantaranya ada yang merupakan organ tunggal, seperti hidung, lidah dan penis. Disamping itu ada pula organ-organ yang berpasangan, seperti kedua mata, telinga, bibir, janggut, kaki, tangan, pelir, buah dada, pantat dan kedua bibir kemaluan wanita. Apabila sesorang merusak anggota tunggal atau yang berpasangan milik orang lain, maka wajib ia membayar diyat sepenuhnya (diyat penuh). Jka merusak salah satu dari anggota yang berpasangan maka wajib membayar vsetengah diyat. Hal ini didasrkan pada hadits nabi saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Masud sebagai berikut: Artinya: pada tiap-tiap sepasang angota badan dari manusia dikenakan diyat)

e. Ditinjaui Dari Perbedaan Jenis dan Kafaah Diyat itu berbeda-beda menurut perbedaan jenis dan kekufuan. Mengnai faktor-faktor yang mempengharuhi pengurangan diyat adalah kewanitaan, kerkafiran, kehambaan (Ibnu Rusyd, 1990:570) C. Jarimah Tazir 1. Pengertian Tazir Kata tazir berasal dari bahasa Arab yang merupakan bentuk masdar dari kata , ditinjau dari segi bahasa, kata itu bisa berarti yakni mengagungkan dan membantu. Kata tazir dalam bahsa Arab diartikan sebagai penghinaan. Sedangkan menurut istilah fiqh, Sayid Sabiq mendefinisikan tazir adalah: Tazir adalah tindakan edukatif terhadap pelaku perbuatan dosa yang tidak ada sangsi hadd dan kifaratnya Ahmad hanafi menyatakan bahwa hukuman tazir adalah hukuman yang dijatuhkan atas jarimahjarimah yang tidak dijatuhi hukuman yang ditetapkan oleh syariat yaitu jarimah-jarimah hudud dan qishash-diyat. Jarimah tazir juga dapat diartikan sebagai berikut: Jarimah diyat, qishash/hudud yang masih syubhat atau masih dalam masa percobaabn, rukunnya tidak terpenuhi. Larangan yang berasal dari syara namun tidak disertai sangsi, yang beerkenaan dengan larangan tersebut seperti: judi, menimbun barang agar dijual dikemuduan hari dengan harga yang jauh lebih mahal, mengurangi timbangan. Merupakan kewenangan penuh negara atau pengasa terhadap kasus yang berkaitan dengan pelanggaran baik ada atau tidaknya sangsi seperti: illegal logging. Maka negara yang menentukan aturan dan sangsinya. 2. Macam-macam Tazir Ahmad hanafi menyatakan bahwa hukuman-hukuman tersebut banyak jumlahnyadari mulai yang paling ringan hingga yang paling berat, yaitu hukuman yang dilihat dari keadan jarimah serta diri pelaku hukuman-hukuman tazir yaitu: 1. Hukuman Mati Kebolehan menjatuhkan hukuman mati pada tazir terhadap pelaku kejahatan jika kepentingan umum menghendaki demikian, atau pemebrantasan tidak dapat dilakukan kecuali dengan jalan membunhnya. Hukman mati ini hanya diberlakuakn pada jarimah zina, murtad, pemberontakan, pembunuhan sengaja dan ganguan kemanan masyarakat luas (teroris) 2. Hukuman jilid Jilid merupakan hukuman pokok dalam syariat islam. Bedanya dengan jarimah hudud sudah tertentu jumlahnya edangkan jarimah tazir tidak tertentu jmlahnya. 3. Hukuman penjara Hukuman penjara dimulai batas terendah yaitu satu hari sampai batas hukuman seumur hidup. Syafiiyah mengatakan bahwa batas tertinggi adalah satu tahun, dan ulama lainnya menyerahkan kepada penguasa sampai batas mana lama kurungannya. 4. Hukuman pengasingan Untuk hukuman pengasingan imam ahmad dan syafiI berpendapat bahwa masa pengasingan tidak lebih dari satu tahun, sedangkan imam hanafi berpendapat bahwa hukuman pengasingan boleh melebihi satu tahun, hukuman ini untuk pelau kejahtan yang merugukan masyarakat dan

khawatir akan menjalar luas. Untuk tempat pengasingan tidak ditentukan dimananya asalkan ada pengawasan dari pengauasa 5. Hukuman salib Hukuman salib dalam jarimah tazir tidak dibarengiatau disertai dengan kematian, melainkan si tersalib disalib hidup-hidup dan tidak dilarang makan dan minum, tidak dilarang melakukan wudhu, tetapi dalam melakukan shalat cukup dengan menggunakan isyarat. Para fuqaha menyebutkan masa penyaliban tidak lebih dari tiga hari. 6. Hukuman denda Hukuman denda antara lain dikenakan pada pelaku pencurian buah yang masih belum masak, maka dikenakan denda dua kali lipat dari harga buah tersebut. Hukuman denda juga dikenkan untuk orang yang menyembunyikan barang yang hilang 7. hukuman pengucilan Pada masa rasulullah pernah rasul menjatuhkan hukuman pengucilan terhadap tiga orang yang tidak mengikuti perang tabuk selam 50 hari tanpa diajak bicara. Mereka adalah: Kaab Bin Malik, Miroroh Bin Rubaiah, dan Hilal Bin Umayyah. 8. Hukuman ancaman (tahdid), teguran (tanbih), dan peringatan (al-Wadhu) Ancaman merupakan hukuman yang diharaokan akan membawa hasil dan bukan hanua ancaman kosong. Teguran pernah dilakukan oleh rasulullah kepada Abu Dzar yang yang memaki-maki orang lain, dengan menghinakan ibunya. Peringatan juga merupakan bentuk hukman yang diharapkan orang tidak menjalankan kejahatan atau paling tidak mengulanginya lagi. 3. Orang Yang Berhak Mentazir Dilihat dari haknya hukuman tazir sepenuhnya berada ditangan hakim, sebab hakimlah yang memegang tampuk pemerintahan kaum muslimin. Dalam kitab subulu salam ditemukan bahwa orang yang berhak melakukan hukman tazir adalah pengausa atau imam namun diperkenankan pula untuk: 1. Ayah; seorang ayah boleh menjatuhkan hukuman tazir kepada anaknya yang masih kecil dengan tujuan edukatif. Apabila sudah baligh maka ayah tidak berhak untuk memberi hukuman kepada anaknya meskipun anaknya idiot. 2. Majikan; seorang majikan boleh mentazir hambanya baik yang berkaitan dengan hak dirinya maupun hak Allah. 3. Suami; seorang suami diperbolehkan melakukan tazir kepada istrinya. Apbila istrinya melakukan nusyuz. BAB IV KESIMPULAN Dari paparan diatas maka dapat ditarik kesimpulan akan hikmah dan tujuan hukuman dalam tindak pidana dalam hal ini kaitanya jarimah baik itu qishas/hudud, diyat, maupun tazir yang diterapkan dalam jinayah Islam. Yaitu sebagai berikut: 1. Memelihara jiwa 2. Melindungi keutuhan keluarga yang merupakan unsur utama masyrakat 3. Menjaga reputasi dan kehormatan manusia 4. Memelihara kemaslahatan umum dan menegakkan akhlakuk al-karimah 5. Membentuk masyarakat yang baik dan yang dikuasai oleh rasa saling menghormati dan mencintai antara sesama manusia dengan mengetahui batas-batas hak dan kewajiban masingmasing

6. Mencegah terjadinya pelanggaran, sehingga kedamaian akan dirasakan oleh segenap masyarakat. 7. Tindakan edukatif terhadap orang-orang yang berbuat maksiat atau orang-orang yang keluar dari tatanan peraturan DAFTAR PUSTAKA O Abdurrahman Al-Jaziri Al- Fiqh Ala Al-Madzahib Al-Arbaah Jilid V, 1989, Beirut: Dar Al-Fikr Al-Arabi o Bakri M.K, Hukum Pidana Islam, 1989, Solo:Ramadhani o Ceramah Materi Kuliah Fiqh Jinayah, Oleh: Enceng Arif Faizal, S.Ag Uin SGD Bandung, Smstr III, 2007 O Drs. H. A. Hasan Gaos Dan Andewi Suhartini, M.Ag, Dasar-Dasar Fiqh Jinayah, 2004, Bandung: Tarbiyah Press o Dr. Jaih Mubarok, M.Ag, Hukum Islam, 2006, Bandung:Benang Merah. o Dr. Jaih Mubarok Dan Enceng Arif Faizal,S.Ag, Kaidah Fiqh Jinayah, 2004, Bandung:Pustaka Bani Quraisy O Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, 1990, Semarang:Al-Syifa. o Imam Taqiyyudin Abi Bakar Bin Muhammad Al-Husaini, Kifayatul Akhyar, T.T, Surabaya:Nuramalyah. o Muhammad Abu Zahra, Ushul Fiqh, 1958, Beirut:Dar Al-Fikr Al-Arabi. O Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah Jilid I Dan IV, T.T, Beirut: Dar Al-Qalam Al- Araby o Prof. Drs. H. A. Djazuli, M. A Fiqh Jinayah, 2000, Bandung:Rajawali Press