You are on page 1of 9

Minggu, 24 Februari 2013 | 13:53 WIB

RSUD Koja Akui Pelayanannya Lamban


TEMPO.CO, Jakarta - Pihak Rumah Sakit Umum Daerah Koja mengakui bahwa mereka masih harus meningkatkan kecepatan pelayanan mereka. Pasalnya, hampir tiap harinya mereka menemukan antrean panjang pasien yang hendak berobat maupun membeli obat. "Kewalahan sebenarnya tidak, tapi kami akui masih banyak ditemukan antrean panjang di rumah sakit," ujar Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Koja, Jakarta Utara, Togi Asman Sinaga. Hal yang sama diakui oleh Wakil Direktur RSUD Koja, Sri Juli. Ia mengatakan kecepatan pelayanan masih harus ditingkatkan. Meski begitu, ia mengaku pihak rumah sakit tengah mencari cara untuk meningkatkan kecepatan pelayanan. Salah satu upaya peningkatan pelayanan yang tengah dipikirkan adalah memangkas tahapantahapan administrasi pelayanan kesehatan. Sri mengatakan, tahapan administrasi selama ini masih terlalu panjang dan memakan banyak waktu karena berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. "Ke depannya, dari proses daftar hingga ambil obat, mungkin akan kami persingkat supaya pasien bisa cepat mendapat pelayanan dan pulang ke rumah," ujar Sri. Terakhir, Sri mengatakan, pihaknya juga berencana hendak menambah jumlah dokter dan perawat. Ia berkata hal itu merupakan jawaban dari terus bertambahnya pasien di RSUD Koja yang terutama akibat KJS. "Akibat KJS, di bulan Desember, kami sampai menerima 15.134 pasien dalam sebulan. Itu KJS saja. Jika ditambah yang umum, bisa 17.000 lebih," ujar Sri Juli. ISTMAN MP
http://www.tempo.co/read/news/2013/02/24/078463387/RSUD-Koja-Akui-Pelayanannya-Lamban

RSJ Tolak Pasien Jamkesmas


Padang Ekspres Rabu, 30/01/2013 11:21 WIB ARDI TONO & HIJRAH ADI SUKRIAL Padang, PadekDua orang pasien penderita gangguan jiwa asal Jorong Bukitmalintang, Nagari Simpang Alahanmati, Kecamatan Simpati, Pasaman ditolak petugas Rumah Sakit Jiwa (RSJ) HB Saanin Padang, Senin (28/1), dengan alasan karena terindikasi penyakit keturunan dan divonis menderita tuberculosis (TBC) tanpa adanya pemeriksaan lebih dahulu. Rispondi, 34, keluarga pasien gangguan jiwa, mengungkapkan, sekitar pukul 17.00 Senin (28/1), dia dan sanak saudara mengantarkan kedua adiknya ke RSJ HB Saanin Padang, yakni PW, 28, dan NW, 24, untuk mendapatkan perawatan dan pemulihan penyakitnya. Namun dokter jaga yang bertugas di Unit Gawat Darurat (UGD) saat itu menolak pasien, dengan alasan mengalami penyakit keturunan, bahkan memvonis adik saya menderita TBC tanpa diperiksa, beber Rispondi di kantor Padang Ekspres. Menurut Rispondi, dokter tersebut tidak hanya menolak, tapi juga membentak dirinya. Mentang-mentang pakai Jamkesmas seenaknya saja berobat, yang jelas adik bapak bukan gila tapi menderita TBC. Jika dirawat di sini nanti menular ke pasien lain, ujar Rispondi menirukan pernyataan dokter jaga saat itu. Karena diperlakukan kasar, Rispondi pun terpaksa membawa pasien pulang. Petugas UGD menyuruh pihak keluarga merawat anaknya di RSUP M Djamil Padang. Tidak bisa dirawat di sini, anak ibu menderita TBC, kata dia lagi, menirukan pernyataan ketus petugas jaga. Menurutnya, PW pernah dirawat di RSJ HB Saanin pada 31 Oktober 2012, dan dipulangkan 23 Januari 2013 lalu, karena dinyatakan telah sembuh 100 persen oleh pihak rumah sakit. Dua hari di rumah, kata Rispondi, penyakitnya kembuh lagi. Nurhayati, 56, ibu pasien mengaku kecewa dengan pelayanan yang diterimanya di RSJ HB Saanin tersebut. Saya kecewa dengan perlakuan kasar ini. Jangankan perawatan yang didapat, kami malah dibentak-bentak, sesalnya. Direktur RSJ Saanin Padang Kurniawan S ketika dikonfirmasi soal itu, mengaku telah menerima laporan layanan terhadap dua pasien tersebut. Dirinya berjanji akan memberikan sanksi kepada dokter jaga. Dia (dokter itu, red) tidak diperbolehkan melayani pasien lagi, tegasnya. Dia menambahkan, RSJ tidak dibenarkan menolak pasien, baik dari umum maupun melalui jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas). Kata Kurniawan, dokter berinisial E dinilainya memang sudah seringkali terjadi. Saya akan menyikapi segera masalah ini dan menempatkan dia pada bagian lain. Tidak lagi pada urusan pelayanan terhadap pasien, jelasnya. Sedangkan Kepala Bidang Keperawatan RSJ HB Saanin Padang, Muharyati mengatakan, sebenarnya niat dokter jaga itu baik, namun cara komunikasinya yang kurang pas. Memang pasien itu pernah dirawat di sini, kata dia.

Menanggapi itu, Kepala Ombusdman Sumbar, Yunafri berjanji menyikapi pengaduan keluarga yang ditolak RSJ saat membawa saudara yang kena gangguan jiwa, dengan memanggil pimpinan rumah sakit atau mendatangi langsung RSJ guna menanyakan layanan tersebut. Menurut Yunafri, seharusnya pihak rumah sakit memeriksa pasien terlebih dahulu sebelum memvonis menderita penyakit tertentu, agar hak pasien terpenuhi untuk mendapatkan pelayanan. Kalau benar kejadiannya seperti itu, kami sesalkan. Apalagi, RSJ HB Saanin satu -satunya rumah sakit yang dipromosikan Gubernur Sumbar dalam bentuk pelayanan prima dalam indeks pemeriksaan masyarakat. Namun pelayanan yang diharapkan Pemprov itu, sudah terabaikan, jelasnya. Dia menyarankan pimpinan RSJ memberikan pembekalan pengetahuan dan pembinaan terhadap para dokternya dalam melayani pasien dengan baik. Dengan begitu, tidak ada lagi pasien yang ditolak dan dibentak-bentak, tegasnya. Yunafri mengatakan, bila ada pasien merasa diperlakukan kurang baik dalam pelayanan, segera menghubungi Ombudsman sebagai pusat pengaduan pelayanan publik, di Jalan Dr Abdullah Ahmad No 7 Padang. Kami akan segera menanggapi keluhan warga dan menindaklanjutinya ke pimpinan instansi terkait, tegasnya. Anggota Ombudsman Sumbar, Adel Wahidi menambahkan, saat ini memang ada masalah dalam penggunaan kartu Jamkesmas. Yaitu, peralihan dari kartu Jamkesmas biasa ke kartu elektronik, sehingga kartu yang telanjur dibagikan belum bisa dipakai. Kalaupun dokter jaga menolak pasien karena hal itu (TBC), menurutnya harus dikoordinasikan dengan atasan dan cara penyampaiannya tidak melukai perasaan pasien, katanya.
Sumber: http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=39943

Komnas PA: Rumah Sakit Lecehkan Keluarga Miskin


Selasa, 19 Februari 2013, 05:50 WIB Antara/ Ujang Zaelani

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kasus Dera Nur Anggraeni, bayi yang meninggal dunia setelah ditolak oleh 10 rumah sakit menuai kecaman. Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait menyatakan, peristiwa itu mempermalukan Kementerian Kesehatan dan Indonesia. Masa RS menolak pasien, kata dia kepada Republika Senin (18/2). Peristiwa itu, ujar dia, melecehkan keluarga miskin. Seolah-olah seperti hendak mengatakan orang miskin tidak pantas sakit. Kalau sakit ya mati, kata dia. Menurut Arist, walaupun RS ruang perawatannya sudah penuh tetap wajib memberikan solusi untuk pasiennya. Apalagi pasien tersebut dalam kondisi darurat. Hal ini, kata dia, menyalahi aturan yang berlaku. Seperti di antaranya Pasal 34 UU no 23 Tahun 2009 tentang kesehatan yaitu, keluarga miskin yang membutuhkan pertolongan darurat tidak boleh ditolak malah harus diberi pertolongan khusus. Kemudian, Pasal 46 UU Perlindungan Anak pun menjelaskan, anak harus mendapatkan pelayan yang maksimal dari pemerintah. Dan terakhir UUD yang mengatakan pemerintah menjamin kesehatan masyarakatnya. Arist akan berkunjung ke Balai Kota menemui Gubernur DKI Joko Widodo dan kepala dinas terkait, Selasa (19/2) ini. Dia akan menyarankan Jokowi untuk melakukan restrukturisasi. Yang tidak becus diganti, ujar dia.

Selasa, 25 Desember 2012 , 14:35:00

Pelayanan Rumah Sakit Dikeluhkan Saat Libur


JAKARTA--Tidak adanya dokter ahli di beberapa rumah sakit terutama milik pemerintah saat liburan panjang ini sangat disesalkan masyarakat. Mereka terpaksa harus bolak-balik ke rumah sakit karena yang melayani hanya dokter jaga. "Penyakit ayah saya komplikasi diabetes dan ginjal. Sudah dua kali saya bolak balik ke rumah sakit, tapi dokter spesialisnya tidak ada," keluh Firdaus, karyawan salah satu bank swasta di Jakarta, Selasa (25/12). Saat datang ke rumah sakit, dia mengatakan, ayahnya hanya dilayani dokter jaga. Padahal, sakit ayahnya sudah parah dan butuh penanganan cepat."Cuma dapat penanganan medis seadanya saja, karena dokter jaga tidak berani mengeluarkan resep. Kami hanya disuruh balik Rabu besok," keluhnya. Hal serupa dialami Sunarni. Ibunya terpaksa belum bisa dioperasi karena harus menunggu dokter spesialis yang ternyata ambil cuti liburan Natal. Untung saja, ibunya dirawat inap sehingga masih tetap mendapatkan layanan kesehatan. "Ibu saya harusnya akan dioperasi pengangkatan tumor di rahim pada Senin (24/12). Tapi belum bisa karena menunggu dokternya," terangnya. Terhadap masalah ini Sekretaris Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Tasdik Kinanto mengatakan, kejadian tersebut semestinya tidak terjadi. Rumah sakit sebagai salah satu pusat layanan publik harus tetap melayani 1x24 jam. "Pemerintah hanya menetapkan jadwal cuti bersama maupun jumlah cuti yang menjadi hak setiap pegawai. Pimpinan rumah sakit yang harusnya mengatur jadwal kerja bawahannya. Jangan sampai semua serentak mengambil hak cutinya sehingga rumah sakit kosong," tutur Tasdik. Dia juga ikut menyesalkan sampai ada rumah sakit yang kekurangan tenaga dokter. Tidak adanya dokter ahli ini, dinilai karena kelalaian dari pimpinan yang tidak bisa memanage jadwal libur dan cuti pegawainya. "Libur dan cuti memang hak setiap pegawai, tapi harusnya diatur jadwalnya. Memang sudah risikonya bekerja di instansi layanan publik yang harus tetap masuk meski tanggal merah atau cuti bersama," tandasnya. Ditambahkannya, pemerintah telah melayangkan surat edaran kepada seluruh instansi terutama yang melayani publik agar mengatur jadwal kerja pegawainya. Ini agar tidak terjadi kekosongan saat liburan dan cuti bersama Natal-Tahun Baru. (Esy/jpnn)

Dugaan Malpraktik Rumah Sakit

Keluarga Laporkan RSB Kartini ke Polisi


indosiar.com, Jakarta - (Selasa, 26.02.2013) Ali Zuar datang ke Mapolda Metro Jaya ditemani kuasa hukumnya Ramdan Alamsyah, untuk melaporkan dugaan tindakan malpraktik yang dilakukan pihak Rumah Sakit Bersalin Kartini, Jakarta Selatan. Dalam laporannya, orangtua bayi Upik ini membawa sejumlah barang bukti, diantaranya dua lampiran surat kematian bayinya yang dikeluarkan pihak rumah sakit serta sejumlah dokumen pendukung lainnya. Pihak rumah sakit diduga telah melakukan kesalahan dalam melakukan diagnosa. Hingga berdampak salah menvonis kematian karena bayi Upik ternyata masih hidup sesampainya dirumah dikawasan Petukangan, Jakarta Selatan. Selain melaporkan tindak kelalaian, keluarga bayi Upik juga melaporkan buruknya pelayanan pihak rumah sakit. Pihak kepolisian sendiri masih mendalami laporan keluarga bayi Upik, guna menentukan siapa dari pihak rumah sakit yang menjadi terlapor dalam kasus ini. Dalam kasus ini pihak kepolisian akan menggunakan pasal berlapis terhadap pihak Rumah Sakit Bersalin Kartini, yakni pasal dalam Undang - Undang Kesehatan dan Pasal dalam KUHP. (Dedy Iriawan/Sup)

Sabtu, 10 November 2012 | 04:29 WIB

Khawatir Merugi, RSUD Brebes Tolak Pasien Miskin


TEMPO.CO , Brebes: Rumah Sakit Umum Daerah Brebes menolak semua pasien yang menggunakan surat keterangan tidak mampu (SKTM). Kebijakan yang berlaku sejak 1 November ini terkait defisit anggaran rumah sakit hingga Rp 2,8 miliar. Sementara pemda belum membayar klaim yang kami ajukan, kami hentikan pelayanan warga miskin dengan SKTM dengan pertimbangan menghindari kerugian lebih tinggi, ujar Khaerudin, Kepala Seksi Pelayanan RSUD Brebes, Jumat, 9 November 2102. Khaerudin mengatakan anggaran untuk warga miskin yang dialokasikan pemerintah daerah tak cukup. Bahkan anggaran itu minus hingga Rp 2,8 miliar dari biaya perawatan medis pasien miskin non jaminan kesehatan masyarakat yang mencapai 6.500 pasien sejak Januari lalu. Khaerudin berharap pemda membayar klaim yang diajukan RSUD sebagai tanggung jawab program yang telah ditetapkan sebelumnya. Munculnya tunggakan yang belum dibayarkan dari anggaran daerah ini berdampak pada sikap pengelola rumah sakit daerah yang belum berani melayani pasien miskin hingga waktu yang belum diketahui. "Hanya warga miskin yang punya kartu jamkesmas saja yang dapat pelayanan gratis," kata Khaerudin. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes, Gunadi membenarkan kondisi itu. Ia mengaku sedang mengurai akar persoalan pembengkakan jumlah warga miskin yang tak terdaftar di Jamkesmas. "Sementara hasil penelitian Undip menunjukkan pemberian SKTM di Brebes 100 persen salah sasaran," ujar Gunadi. Ia menilai hasil penelitian Universitas Diponegoro terhadap pengguna SKTM di Brebes ini benar. Gunadi menyebut itu sebagai penyebab tingginya biaya pelayanan kesehatan warga miskin di Kabupaten Brebes. "Banyak kelompok mampu di kampung-kampung gunakan kartu ini. Padahal ia mampu bayar," ujar Gunadi. Berdasarkan catatannya, pengguna jaminan kesehatan di Brebes pada hitungan 2011 naik hingga lebih dari 900 ribu sedangkan tahun 2006 lebih dari 860 warga. Ia berencana mempertegas kriteria pengguna SKTM dengan berkoordinasi dengan kepala desa. Langkah ini sebagai upaya menekan warga mampu yang ingin memanfaatkan fasilitas. "Lurah yang hendak memberikan SKTM harus diimbangi kemampuan analisis terhadap warga yang mengajukan, kalau mampu tak usah dikasih," katanya.

Ditolak RSJ, Pasien Dipasung


Ombudsman Minta Pihak HB Saanin Jemput Pasien Padang Ekspres Kamis, 31/01/2013 11:02 WIB 284 klik Padang, PadekDua orang calon pasien penderita gangguan jiwa yang ditolak seorang dokter Rumah Sakit Jiwa (RSJ) HB Saanin Padang, Senin (28/1), yakni PN dan NW, terpaksa dipasung keluarganya di rumah. Pihak keluarga memasung dua kakak beradik itu untuk memberikan rasa aman pada warga lainnya. Agar PN dan NW tidak lari dari rumah atau mengganggu orang lain, kami terpaksa me masungnya di kamar dengan rantai, ujar Rispondi, kakak PN dan NW kepada Padang Ekspres, kemarin (30/1). Menurut Rispondi, pihak keluarga hanya pasrah dengan kondisi PN dan NW. Kini, kedua adiknya itu dipasung di rumahnya di Jorong VI Koto Selatan, Kecamatan Kinali, Pasaman Barat. Saya berharap pemerintah daerah memberikan solusi. Kami hanya bisa mengobatinya dengan kartu Jamkesmas (jaminan kesehatan masyarakat), ulas Rispondi. Seperti diberitakan kemarin (30/1), salah seorang petugas RSJ HB Saanin yang menuding PN dan NW terindikasi penyakit keturunan serta divonis menderita tubercolosis (TBC) tanpa dilakukan pemeriksaan terhadap pasien, serta menolak keduanya untuk dirawat. Kepala Ombudsman Pusat Pelayanan Publik Sumbar, Yunafri mengatakan akan meminta keterangan pada pimpinan RSJ HB Saanin terkait pelayanan di institusi yang dipimpinnya. Ombudsman juga akan menagih janji pimpinan rumah sakit terhadap sanksi kepada dokter jaga tersebut. Kami akan memastikan pemberian sanksi terhadap petugas, dan memverifikasi standar pelayanan di IGD, katanya. Sesuai UU 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, kata dia, malaadministrasi pelayanan harus diberi sanksi. Karena penempatan petugas harus sesuai kemampuan, tidak hanya dari sisi medis, tapi lebih pada perilaku. Padahal RSJ HB Saanin baru dipromosikan gubernur penerima penghargaan citra pelayanan prima Kemen PAN -Reformasi Birokrasi. Sekarang layanan itu tidak lagi sesuai harapan Pemprov, akibat penolakan dan layanan yang kurang baik, kata Yu nafri didampingi asistennya, Adel Wahidi. Yunafri menekankan, sebagai tanggung jawab moral, pihak rumah sakit harus menjemput pasien ke Pasaman Barat, agar pemasungan tidak dilakukan keluarga. Direktur RSJ HB Saanin Padang Kurniawan S saat dikonfirmasi Padang Ekspres kemarin, berjanji menyelesaikannya. Kurniawan berjanji akan menerima kedua pasien itu bila diantarkan kembali oleh pihak keluarga. Yang namanya penolakan tidak ada, hanya komunikasi pihak petugas dengan keluarga pasien yang kurang pas, ujarnya.

Selama ini, kata dia, pihak rumah sakit belum pernah menolak pasien, baik dari umum maupun dengan Jamkesmas. Bila hal seperti ini terjadi, rumah sakit akan terpojok dengan isu pelayanan. Saya harap pihak keluarga segera antarkan pasien, agar tidak terjadi kesalahpahaman soal miskomunikasi tersebut, sebutnya.