You are on page 1of 16

KONSEP LABORATORIUM SISTEM PERNAFASAN

D3 Keperawatan 2A Kelompok 4

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

Sobri P Dian K Susanti A.Mukhlis Hadi S Ami Fega Elviana L Alfian W Marsela R Cicih R Tri E

(106112033) (106112034) (106112035) (106112036) (106112037) (106112038) (106112039) (106112040) (106112041) (106112042) (106112043)

STIKES AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH CILACAP 2013/2014

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Umumnya laboratorium diartikan sebagai suatu tempat berupa ruangan yang dilengkapi dengan berbagai peralatan. Dalam arti luas diluar ruangan juga dapat berfungsi sebagai laboratorium. Dengan adanya objek yang akan diamati dan adanya fasilitas laboratorium merupakan tempat mengadakan percobaan dan penelitian. Dalam pengertian secara umum laboratorium adalah suatu fasilitas kerja dan sarana pendidikan untuk melakukan kegiatan praktek percobaan atau eksperimen serta menguji konsep-konsep ilmu pengetahuan secara terkontrol. Di dalam laboratorium biologi siswa mengadakan kontak dengan objek permasalahan, menghayati sendiri, berhadapan dengan objek dan gejala yang timbul serta belajar memecahkan persoalan-persoalan yang dikemukakan. Dengan demikian, siswa akan melakukan proses belajar secara aktif dan akan memperoleh pengalaman langsung atau yang disebut pengalaman pertama. Siswa diharapkan memperoleh kesempatan mengembangkan berbagai keterampilan baik motorik maupun intelektual, menghayati prosedur ilmiah, mengembangkan sikap jujur dan bertanggung jawab, dan menyadari bahwa ilmu sebenarnya tidak bersifat statis dan otoriter, melainkan dinamis. Peranan guru dalam kegiatan laboratorium adalah kapan guru mengambil bagian dan kapan siswa diberi kesempatan melibatkan diri. Mengenai bentuk kegiatan apapun yang dilaksanakan dalam laboratorium yang diutamakan adalah pengembangan kemampuan siswa. Sistem pernapasan pada manusia adalah sistem menghirup oksigen dari udara serta mengeluarkan karbon dioksida dan uap air. Dalam proses pernapasan, oksigen merupakan zat kebutuhan utama. Oksigen untuk pernapasan diperoleh dari udara di lingkungan sekitar. Alat-alat pernapasan berfungsi memasukkan udara yang mengandung oksigen dan mengeluarkan udara yang mengandung karbon dioksida dan uap air. Tujuan proses pernapasan yaitu untuk memperoleh energi. Pada peristiwa bernapas terjadi pelepasan energi. Sistem pernapasan pada manusia mencakup dua hal, yakni saluran pernapasan dan mekanisme pernapasan. B. Rumusan Masalah 1. Apa saja yang termasuk dalam konsep laboratorium sistem pernafasan ? C. Tujuan Penulisan 1. Untuk mengetahui apa saja yang termasuk dalam konsep laboratorium pada system pernafasan

BAB II PEMBAHASAN 1.A Pemeriksaan Bakteriologi


Untuk menemukan menegakkan diagnosa. kuman tuberkulosis mempunyai arti yang sangat penting dalam

Bahan - Bahan atau spesimen untuk pemeriksaan bacteriologi : Untuk mendapatkan hasil yang diharapkan perlu diperhatikan waktu pengambilan, tempat penampungan, waktu penyimpanan dan cara pengiriman bahan pemeriksaan. Pada pemeriksaan laboratorium tuberkulosis ada beberapa macam bahan pemeriksaan yaitu: 1.Dahak Memeriksa dahak secara mikroskopis pada 3 spesimen yang di kenal dengan istilah SPS (sewaktu-pagi-sewaktu). Dahak yang baik untuk di periksa adalah dahak yang mukopurulen ( nanah berwarna hijau kekuning- kuningan) bukan ingus juga bukan ludah, jumlahnya 3-5ml tiap pengambilan. Pada orang dewasa harus diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari berturutturut. -sewaktu : Dahak di kumpulkan pada saat suspek TBC datang berkunjung pertama kali datang pelayanan kesehatan. Pada saat pulang suspek membawa sebuah pot untuk mengumpulkan dahak hari kedua. - pagi : Dahak di kumpulkan di rumah pada pagi hari kedua, segera setelah bangun tidur. Pot tersebut diantar sendiri ke laboratorium pelayanan kesehatan.

- Sewaktu : Dahak di kumpulkan pada hari pada saat menyerahkan dahak pagi kepada pihak pelayanan kesehatan 2. Cairan Pleura Pemeriksaan ini dilakukan pada pasien efusi pleura untuk menegakkan diagnosis 3.Liquor cerebrospinal 4.Bilasan bronkus 5.Bilasan lambung Air kuras lambung, Umumnya anak-anak atau penderita yang tidak dapat mengeluarkan dahak. Tujuan dari kuras lambung untuk mendapatkan dahak yang tertelan. Dilakukan pagi hari sebelum makan dan harus cepat dikerjakan 6.Urin Air Kemih, Urin pagi hari, pertama kali keluar, merupakan urin pancaran tengah. Sebaiknya urin kateter. 7.jaringan biopsi Pemeriksaan ini dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis tuberkulosis. Bahan jaringan dapat diperoleh melalui biopsi atau otopsi 8.kurasan bronkoalveolar

Pemeriksaan bakteriologi dapat dilakukan dengan cara pemeriksaan mikroskopis dan biakan a.Pemeriksaan Mikroskopis

Pemeriksaan ini adalah pemeriksaan hapusan dahak mikroskopis langsung yang merupakan metode diagnosis standar dengan pewarnaan Ziehl-Neelsen. Pemeriksaan ini untuk mengidentifikasi BTA yang memegang peranan utama dalam diagnosis TB Paru. Selain tidak memerlukan biaya mahal, cepat, mudah dilakukan, akurat, pemeriksaan mikroskopis merupakan teknologi diagnostik yang paling sesuai karena mengindikasikan derajat penularan, risiko kematian serta prioritas pengobatan. Pemeriksaan dahak dilakukan selama 3 x yaitu 2 bulan setelah pengobatan, 5 bulan setelah pengobatan dan 6 bulan setelah pengobatan. Pemeriksaan BTA dahak penderita dilakukan oleh petugas laboratorium Puskesmas. b.Pemeriksaan biakan kuman

Kultur (biakan), Media yang biasa dipakai adalah media padat Lowenstein Jesen. Dapat pula Middlebrook JH11, juga sutu media padat. Untuk perbenihan kaldu dapat dipakai Middlebrook JH9 dan JH 12. Melakukan pemeriksaan biakan dimaksudkan untuk mendapatkan diagnosis pasti dan dapat mendeteksi mikobakterium tuberkulosis dan juga Mycobacterium Other Than Tuberculosis (MOTT)

c.Uji kepekaan kuman terhadap obat-obatan anti tuberculosis tujuan dari pemeriksaan ini, mencari obat-obatan yang poten untuk terapi penyakit tuberkulosis. 1.B Pemeriksaan Darah Hasil pemeriksaan darah rutin kurang menunjukan indikator yang spesifik untuk tubercolosis. Laju Endap Darah ( LED ) jam pertama dan jam kedua dibutuhkan. Data ini dapat di pakai sebagai indikator tingkat kestabilan keadaan nilai keseimbangan penderita, sehingga dapat

digunakan untuk salah satu respon terhadap pengobatan penderita serta kemungkinan sebagai predeteksi tingkat penyembuhan penderita. Demikian pula kadar limfosit dapat menggambarkan daya tahan tubuh penderita. LED sering meningkat pada proses aktif, tetapi LED yang normal juga tidak menyingkirkan diagnosa TBC. 1.C Uji Tuberculin

Pada anak, uji tuberkulin merupakan pemeriksaan paling bermanfaat untuk menunjukkan sedang/pernah terinfeksi Mikobakterium tuberkulosa dan sering digunakan dalam "Screening TBC". Efektifitas dalam menemukan infeksi TBC dengan uji tuberkulin adalah lebih dari 90%. Penderita anak umur kurang dari 1 tahun yang menderita TBC aktif uji tuberkulin positif 100%, umur 12 tahun 92%, 24 tahun 78%, 46 tahun 75%, dan umur 612 tahun 51%. Dari persentase tersebut dapat dilihat bahwa semakin besar usia anak maka hasil uji tuberkulin semakin kurang spesifik. Ada beberapa cara melakukan uji tuberkulin, namun sampai sekarang cara mantoux lebih sering digunakan. Lokasi penyuntikan uji mantoux umumnya pada bagian atas lengan bawah kiri bagian depan, disuntikkan intrakutan(ke dalam kulit). Penilaian uji tuberkulin dilakukan 4872 jam setelah penyuntikan dan diukur diameter dari pembengkakan (indurasi) yang terjadi. Uji tuberkulin hanya berguna untuk menentukan adanya infeksi TB, sedangkan penentuan sakit TB perlu ditinjau dari klinisnya dan ditunjang foto torak. Pasien dengan hasil uji tuberkulin positif belum tentu menderita TB. Adapun jika hasil uji tuberkulin negatif, maka ada tiga kemungkinan, yaitu tidak ada infeksi TB, pasien sedang mengalami masa inkubasi infeksi TB, atau terjadi alergi. Penilaian hasil uji tuberculin test : 1. Pembengkakan (Indurasi) : 04 mm,uji mantoux negatif. Arti klinis : tidak ada infeksi Mikobakterium tuberkulosa 2. Pembengkakan (Indurasi) : 39 mm,uji mantoux meragukan. Hal ini bisa karena kesalahan teknik, reaksi atau silang dengan Mikobakterium atipik setelah vaksinasi BCG. 3. Pembengkakan (Indurasi) : = 10 mm,uji mantoux positif. Arti klinis : sedang atau pernah terinfeksi Mikobakterium tuberkulosa

1.D PEMERIKSAAN AGD/GDA A. Pengertian Pemeriksaan gas darah dan PH digunakan sebagai pegangan dalam penanganan pasien-pasien penyakit berat yang akut dan menahun. Pemeriksaan gas darah dipakai untuk menilai keseimbangan asam basa dalam tubuh, kadar oksigenasi dalam darah, kadar karbondioksida dalam darah. Pemeriksaan analisa gas darah dikenal juga dengan nama pemeriksaan ASTRUP, yaitu suatu pemeriksaan gas darah yang dilakukan melalui darah arteri. Lokasi pengambilan darah yaitu: Arteri radialis, A. brachialis, A. Femoralis. Pemeriksaan GDA biasanya dilakukan untuk mengkaji gangguan keseimbangan asam-basa, yang disebabkan oleh gangguan respiratorik atau gangguan metabolic atau keduanya. pH yang kurang dari 7,35 menunjukkan asidosis, dan pH yang lebih besar 7,45 menunjukkan alkalosis. Untuk menentukan terjadinya ketidakseimbangan asam-basa akibat respiratorik (pernafasan), maka dilakukan pemeriksaan terhadap PC02, penurunan pH (<7,35) dan peningkatan PaCO2 (>45mm Hg) menunjukkan alkalosis respiratorik. Untuk menentukan terjadinya ketidakseimbangan asam-basa oleh karena metabolic, dilakukan pemeriksaan terhadap bikarbonat (Hco3) dan basse excess (BE). Penurunan Ph(>35) dan penurunan Hco3 (<24 mEq/L) menunjukkan asidosis metabolic. Peningkatan Ph (>7,45) dan peningkatan Hco3 (>28mEq/L) menunjukkan alkalosis metabolic. Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis. Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH. Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang di atas 15.000/mm3 dimana menandakan terdapatnya suatu infeksi. Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi terjadi peningkatan dari Ig E pada waktu serangan dan menurun pada waktu bebas dari serangan. A. Ukuran-ukuran dalam analisis gas darah Analisa Gas Darah Normal PH 7,35-7,45 Pa CO2 35-45 mmhg Pa O2 80-100 mmhg Total CO2 dalam plasma 24-31 mEq/1 HCO3 21-30 mEq/1 Base ekses -2,4 sampai +2,3 Saturasi O2(SaO2) >90% B. Prosedur pengambilan gas darah Alat 1. Spuit gelas atau plastik 5 atau 10 ml 2. Botol heparin 10 ml,1000 unit/ml (dosisi-multi) 3. Jarum nomor 22 atau 25 4. Penutup udara dari karet Kapas alcohol 5. Wadah berisi es (baskom atau kantong plastik 6. Label untuk menulis status identitas plastik a. Nama,tanggal dan waktu

Apakah menerima O2 dan bila ya berapa banyak dan dengan rute apa Suhu Teknik dan cara pengambilan darah arteri Arteri radialis umumnya dipakai meskipun brakialis juga dapat digunakan. Bila mengguanakan pendekatan arteri radialis lakukan tes Allens. Secara terus menerut bendung arteri radialis dan ulnaris. Tangan akan putih kemudian pucat. Lepaskan aliran rteri ulnaris. Tes allens positif bila tangan kembali menjadi berwarna merah muda. Ini meyakinkan aliran arteri bila aliran arteri radialis tidak paten. Pergelangan tangan dihiperekstensikan dantangan dirotasi keluar 1ml heparin diasspirasi kedalam spuit,sehingga dasar spuit basah dengan heparis dan kemudian kelebihan heparin dibuang melalui jarum,dilakukan perlahan sehingga pangkal jarum penuh dengan heparin dan tak ada gelembung udara. Ateri bakialis atau radialis dilokalisasi dengan palpasi dengan jari tengah dan jari telunjuk, dan titik maksimum denyut ditemukan. Berihkan tempat tersebut dengan kapas alcohol. Jarum dimasukkan dengan perlahan kedalam area yang mempunyai palpasi penuh,ini akan paling mudah dengan memasukkan jarum dan spuit kurang lebih 45-90 derajat terhadap kulit,tepatnya jarum dan spuit pada posisi 90 derajat. Seringkali jarum masuk menembus pembuluh arteri dan hanya dengan jarum ditarik perlahan darah akan masuk ke spuit. Indikasi satu-satunya bahwa darah tersebut darah arteri adalah adanya pemompaan darah kedalam spuit dengan kekuatannya sendiri. Setelah darah 5 nl diambil,jarum dilepaskan dan petugas yang lain menekan area yang dipungsi selama sedikitnay 5 menit (10 menit untuk pasien yang mendapat antikoagulan). Gelembung udara harus dibuang keluar spuit, lepaskan jarum ddan tempatkan penutup udara pada spuit. Putar spuit diantara telapak tangan untuk mencampurkan heparin. Spuit diberi label dan segera tempatkan dalam es atau air es,kemudian dibawa kelaboratorium. Oksimetri nadi Oksimetri nadi adalah medote pemantauan non-invasif secara kontinu terhadapsaturasi oksigen hemoglobin (SaO2). Oksimetri nadi merupakan suatu cara efektif untuk memantau pasien terhadap perubahan asaturasi oksigen yang kecil ayau mendadak. Sensor atau probe sekali pakai diletakkan pada ujung jari,dahi, daun telingan atau batang hidung, sensor mendikteksi tingkat saturasi oksigen dengan memantau signal cahaya yang dibangkitkan oleh oksimetri dan dahi direfleksikan oleh darah yang berdenyut melalui jaringan pada probe. Nilai saturassi oksigenasi hemoblobin tidak dapat diandalkan dalam keadaan henti jantung,syok, pengguanaan medikasi vasokontriktor, pemberian zat warna per IV (y.i.,biru metilen) yang mewarnai darah,kadar karbondioksida tinggi. Kadar hemoglobin,gas darah arter, dan pemeriksaan laboratorium lain diperlukkan untuk memvalidassi hasil oksimetri nadi dalam kejadian seperti ini. Analisa Jenis Gangguan PH Total Co2 PCO2 Asam Basa Asidosis Respiratorik Rendah Tinggi Tinggi Tidak terkonpensasi Tinggi Rendah Rendah Alkalosis Respiratorik Rendah Rendah Normal Tidak terkonfensasi Tinggi Tinggi Rendah Asidosis metabolik Normal Tinggi Normal Tidak terkonfensasi Normal Rendah Normal Alkalosis metabolik Normal Rendah Rendah Tidak terkonfensasi Normal Tinggi Tinggi Asidosis Respiratorik

Konpensasi Alkalosis Metabolic Asidosis Respiratorik Kopensasi Asidosis Respiratorik Alkalosis Metabolik Kompensasi Asidosis Respiratorik 1.E Pemeriksaan Sputum 1.1 Pengertian Sputum Sputum (dahak) adalah bahan yang dikeluarkan dari paru dan trakea melalui mulut Biasanya juga disebut dengan ecpectoratorian (Dorland, 1992). Sputum, dahak, atau riak adalah sekret yang dibatukkan dan berasal dari tenggorokan, hidung atau mulut. Perbedaan ini hendaknya dijelaskan kepada pasien yang dahaknya akan diperiksa. Sputum yang dikeluarkan oleh seorang pasien hendaknya dapat dievaluasi sumber, warna, volume, dan konsistennya karena kondisi sputum biasanya memperlihatkan secara spesifik proses kejadian patologik pada pembentukan sputum itu sendiri. Pemeriksaan sputum diperlukan jika diduga terdapat penyakit paru-paru. Membran mukosa saluran pernafasan berespons terhadap inflamasi dengan meningkatkan keluaran sekresi yang sering mengandung mikroorganisme penyebab penyakit. Sputum berbeda dengan sputum yang bercampur dengan air liur. Cairan sputum lebih kental dan tidak terdapat gelembung busa di atasnya, sedangkan cairan sputum yang bercampur air liur encer dan terdapat gelembung busa di atasnya. Sputum diambil dari saluran nafas bagian bawah sedangkan sputum yang bercampur air liur diambil dari tenggorokan. 1.2 Jenis Pemeriksaan Sputum 1) Pewarna gram : Pemeriksaaan dengan pewarnaan gram dapat memberikan mikroorganisme untuk menegakkan diagnosis presumatif. 2) Kultur Sputum : Pemeriksaan kultur sputum dilakukan untuk mengidentifikasi organisme spesifik guna menegakkan diagnosis definitif. 3) Sensitivitas : Pemeriksaan sensitivitas berfungsi sebagai pedoman terapi antibiotik dengan mengidentifikasi antibiotik yang mencegah pertumbuhan organisme yang terdapat dalam sputum. 4) Basil tahan asam (BTA) : Pemeriksaan BTA dilakukan untuk menentukan adanya Mycobacterium tuberculosa, yang setelah dilakukan pewarnaan bakteri ini tidak mengalami perubahan warna oleh alkohol asam 5) Sitologi : informasi tentang jenis

Pemeriksaan sitologi ditujukan untuk mengidentifikasi adanya keganasan (karsinoma) pada paru-paru. Sputum mengandung runtuhan sel dari percabangan trakheobronkhial; sehingga mungkin saja terdapat sel-sel malignan. Sel-sel malignan menunjukkan adanya karsinoma, tidak terdapatnya sel ini bukan berarti tidak adanya tumor atau tumor yang terdapat tidak meruntuhkan sel. 6) Tes Kuantitatif : Pengumpulan sputum selama 24 sampai 72 jam. Pemeriksaan kualitatif harus sering dilakukan untuk menentukan apakah sekresi merupakan saliva, lendir, pus, atau bukan. Jika bahan yang diekspektorat berwarna kuning-hijau biasanya menandakan infeksi parenkim paru (pneumonia). Untuk pemeriksaan kualitatif, klien diberikan wadah khusus untuk mengeluarkan sekret. Wadah ini ditimbang pada akhir 24 jam. Jumlah serta karakter isinya dicatat dan diuraikan. 1.3 Manfaat Pemeriksaan Sputum Pemeriksaan sputum bersifat mikroskopik dan penting untuk diagnosis etiologi berbagai penyakit pernapasan. Pemeriksaan mikroskopik dapat menjelaskan organism penyebab penyakit pada berbagai pneumonia bacterial, tuberkulosa, serta berbagai jenis infeksi jamur. Pemeriksaan sitologi eksfoliatif pada sputum dapat membantu diagnosis karsinoma paru-paru. Sputum dikumpulkan untuk pemeriksaan dalam mengidentifikasi organisme patogenik dan menentukan apakah terdapat sel-sel malignan atau tidak. Aktifitas ini juga digunakan untuk menkaji sensitivitas (di mana terdapat peningkatan eosinofil). Pemeriksaan sputum secara periodik mungkin diperlukan untuk klien yang mendapat antibiotik, kortikosteroid, dan medikasi imunosupresif dalam jangka panjang, karena preparat ini dapat menimbulkan infeksi oportunistik. Secara umum, kultur sputum digunakan dalam mendiagnosis untuk pemeriksaan sensitivitas obat dan sebagai pedoman pengobatan. Jika sputum tidak dapat keluar secara spontan, klien sering dirangsang untuk batuk dalam dengan menghirupkan aerosol salin yang sangat jenuh, glikol propilen yang mengiritasi, atau agen lainnya yang diberikan dengan nebulizer ultrasonic. 1.4 Cara Pemeriksaan Sputum 1) Perlengkapan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Wadah specimen steril dengan penutup, Sarung tangan disposable (bila membantu klien), Disinfektan dan alat pengusap, atau sabun cair dan air, Handuk kertas, Label yang berisi lengkap, Slip permintaan laboratorium yang terisi lengkap, Obat kumur.

2) Persiapan Tentukan metode pengumpulan dan kumpulkan peralatan yang sesuai. 3) Pelaksanaan 1. Jelaskan kepada klien apa yang akan Anda lakukan, mengapa hal tersebut perlu dilakukan dan bagaimana klien dapat bekerja sama. Diskusikan bagaimana hasilnya akan digunakan untuk perawatan atau terapi selanjutnya. Berikan informasi dan instruksi berikut pada klien:

a)

Tujuan pemeriksaan, perbedaan mendapatkan spesimen sputum,

antara

sputum

dan

saliva,

dan

cara

b) Jangan menyentuh bagaian dalam wadah specimen, c) Untuk mengeluarkan sputumlangsung ke dalam wadah sputum, d) Untuk menjaga bagian luar wadah tidak terkena sputum, bila memungkinkan, e) Cara memeluk bantal secara kuat pada insisi abdomen bila klien merasa nyeri saat batuk, f) Jumlah sputum yang diperlukan (biasanya 1-2 sendok the (5-10 ml) sputum cukup analisis), g) Cuci tangan dan observasi prosedur pengendalian infeksi lain yang sesuai. 2. Berikan privasi klien. 3. Berikan bantuan yang diperlukan untuk mengumpulkan specimen. a) Bantu klien mengambil posisi berdiri atau duduk (mis., posisi Fowler-tinggi atau- semi atau pada tepi tempat tidur atau kursi). Posisi ini memungkinkan ventilasi dan ekspansi paru yang maksimum. b) Minta klien untuk memegang bagian luar wadah sputum, atau, untuk klien yang tidak dapat melakukannya, pasang sarung tangan dan pegang bagian luar wadah tersebut untuk klien. c) Minta klien untuk bernapas dalam dan kemudian membatukan sekresi. Inhalasi yang dalam memberikan udara yang cukup untuk mendorong sekresi keluar dari jalan udara ke dalam faring. d) Pegang wadah sputum sehingga klien dapat mengeluarkan sputum ke dalamnya, pastikan sputum tidak kontak dengan bagian luar wadah. Memasukan sputum ke dalam wadah akan mencegah penyebaran mikroorganisme ke tempat lain. e) Bantu klien untuk mengulang batuksampai terkumpul jumlah sputum yang cukup. f) Tutup wadah segera setelah sputum berada di dalam wadah. Menutup wadah akan mencegah penyebaran mikroorganisme secara tidak sengaja ke tempat lain. g) Bila sputum mengenai bagian luar wadah, bersihkan bagian luar dengan disinfektan. Beberapa institusi menganjurkan untuk membersihkan seluruh bagian luar wadah dengan sabun cair dan air dan kemudian mengeringkannya dengan handuk kertas. h) Lepas dan buang sraung tangan. 4. Pastikan klien merasa nyaman. a) Bantu klien untuk membersihkan mulutnya dengan obat kumur, bila dibutuhkan. b) Bantu klien mengambil posisi nyaman yang memungkinkan ekspansi paru secara maksimal, bila diperlukan. 5. Beri label dan bawa spesimen ke laboratorium. a) Patikan informasi yang benar tertulis pada label dan slip permintaan laboratorium. Tempelkan label dan lampirkan perimintaan laboratorium pada wadah spesimen.

Identifikasi dan/atau informasi yang tidak akurat pada wadah spesimen dapat membuat kesalahan diagnosis atau terapi. b) Atur agar specimen dikirim segera ke laboratorium atau di dinginkan. Kultur bakteri harus segera dimulai sebelum organisme yang mengkontaminasi tumbuh dan berkembang baik sehingga memberikan hasil positif palsu. 6. Dokumentasikan semua informasi yang relevan. a. Dokumentasikan pengumpulan spesimen sputum pada catatan klien. Pendokumentasian meliputi jumlah, warna, konsistensi (kental, lengket, atau encer), adanya hemoptisis (darah pada sputum), bau sputum, tibdakan yang perlu dilakukan untuk mendapatkan sputum (mis., drainase postural), jumlah sputum yang dihasilkan secara umum, adanya ketidaknyamanan yang dialami klien.

1.5 Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Pemeriksaan Sputum Pengambilan sputum sebaiknya dilakukan pada pagi hari, dimana kemungkinan untuk mendapat sputum bagian dalam lebih besar. Atau juga bisa diambil sputum sewaktu. Waktu yang diperlukan untuk pengambilan sputum adalah 3 kali pengambilan sputum dalam 2 kali kunjungan, yaitu Sputum sewaktu (S), yaitu ketika penderita pertama kali datang; Sputum pagi (P) , keesokan harinya ketika penderita datang lagi dengan membawa sputum pagi ( sputum pertama setelah bangun tidur), Sputum sewaktu (S), yaitu saat penderita tiba di laboratorium, penderita diminta mengeluarkan sputumnya lagi. Pengambilan sputum pada pasien tidak boleh menyikat gigi. Agar sputum mudah dikeluarkan, dianjurkan pasien mengonsumsi air yang banyak pada malam sebelum pengambilan sputum. Sebelum mengeluarkan sputum, pasien disuruh untuk berkumur-kumur dengan air dan pasien harus melepas gigi palsu (bila ada). Sputum diambil dari batukkan pertama (first cough). Cara membatukkan sputum dengan Tarik nafas dalam dan kuat (dengan pernafasan dada) batukkan kuat sputum dari bronkus trakea mulut wadah penampung. Wadah penampung berupa pot steril bermulut besar dan berpenutup (Screw Cap Medium). Periksa sputum yang dibatukkan, bila ternyata yang dibatukkan adalah air liur/saliva, maka pasien harus mengulangi membatukkan sputum. Sebaiknya, pilih sputum yang mengandung unsur-unsur khusus seperti : darah dan unsur-unsur lain. Bila sputum susah keluarkan lakukan perawatan mulut Perawatan mulut dilakukan dengan obat glyseril guayakolat (expectorant) 200 mg atau dengan mengonsumsi air teh manis saat malam sebelum pengambilan sputum. Tehnik Lain Untuk Mengeluarkan Sputum : Bila sputum juga tidak bisa didahakkan, sputum dapat diambil secara: a. Aspirasi transtracheal (transtracheal aspirasi atau cuci transtracheal). Teknik untuk mengumpulkan sampel dari eksudat bronkial untuk pemeriksaan histologis dan mikrobiologi. Sebuah jarum dimasukkan melalui kulit di atasnya trakea dan melalui ligamentum krikotiroid. Sebuah kateter dimasukkan ke dalam trakea dan diteruskan ke tingkat bifurkasi trakea. Indikasi : Injeksi Transtracheal dilakukan untuk memblokir saraf laring berulang untuk laringoskopi terjaga, serat optik dan atau intubasi retrograd. Penghapusan tanggapan gag refleks

atau hemodinamik untuk laringoskopi atau bronkoskopi. Digunakan untuk membantu menghindari Valsava seperti tegang yang dapat mengikuti yang lain "terjaga" intubasi (pasien dibius dan ventilasi spontan). b. Bronchial lavage (Bronchoalveolar lavage) Bronchoalveolar lavage (BAL) merupakan prosedur medis dimana bronkoskop dilewatkan melalui mulut atau hidung ke paru-paru dan cairan yang disemprotkan ke bagian kecil dari paru-paru. Biasanya dilakukan untuk mendiagnosa penyakit paru- paru. Secara khusus, umumnya digunakan untuk mendiagnosa infeksi pada orang dengan masalah sistem kekebalan tubuh, pneumonia pada orang pada ventilator, beberapa jenis kanker paru-paru, dan jaringan parut pada paru-paru (penyakit paru interstitial). cara paling umum untuk sampel komponen cairan lapisan epitel (ELF) dan untuk menentukan komposisi protein saluran udara paru, dan sering digunakan dalam penelitian imunologi sebagai sarana sel sampling atau tingkat patogen di paruparu. Contoh ini termasuk sel T dan tingkat populasi virus influenza. c. Lung biopsy Biopsi paru adalah prosedur untuk mendapatkan sampel kecil jaringan paru-paru untuk pemeriksaan. Jaringan biasanya diperiksa di bawah mikroskop, dan dapat dikirim ke laboratorium mikrobiologi untuk kultur. Pemeriksaan mikroskopis dilakukan oleh ahli patologi. Biopsi adalah pengambilan jaringan tubuh untuk pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan jaringan tersebut bertujuan untuk mendeteksi adanya penyakit atau mencocokkan jaringan organ sebelum melakukan transplantasi organ. Resiko yang dapat ditimpulkan oleh kesalahan proses biopsi adalah infeksi dan pendarahan. Jaringan yang akan diambil untuk biopsi dapat berasal dari bagian tubuh manapun, di antaranya kulit, perut, ginjal, hati , dan paru- paru. 1.6 Interpretasi Pemeriksaan Sputum Sputum yang dikeluarkan oleh seorang pasien hendaknya dapat dievaluasi sumber, warna, volume, dan konsistensinya karena kondisi sputum biasanya memperlihatkan secara spesifik proses kejadian patologik pada pembentukan sputum itu sendiri. Klasifikasi bentukan sputum dan kemungkinan penyebabnya : 1) Sputum yang dihasilkan sewaktu membersihkan tenggorokan, kemungkinan berasal dari sinus, atau saluran hidung, bukan berasal dari saluran napas bagian bawah. 2) Sputum banyak sekali&purulen proses supuratif (eg. Abses paru) 3) Sputum yg terbentuk perlahan&terus meningkat tanda bronkhitis/ bronkhiektasis 4) Sputum kekuning-kuningan proses infeksi. 5) Sputum hijau proses penimbunan nanah. Warna hijau ini dikarenakan adanya verdoperoksidase yg dihasikan oleh PMN dalam sputum. Sputum hijau ini sering ditemukan pada penderita bronkhiektasis karena penimbunan sputum dalam bronkus yang melebar dan terinfeksi. 6) Sputum merah muda&berbusa tanda edema paru akut. 7) Sputum berlendir, lekat, abu-abu/putih tanda bronkitis kronik. 8) Sputum berbau busuk tanda abses paru/ bronkhiektasis. Sedangkan bagi interpretasi untuk penyakit TBC, berdasar hasil pemeriksaan dahak (BTA), TB paru dibagi atas:

a. Tuberkulosis paru BTA (+) adalah: a) Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil BTA positif b) Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan kelainan radiologik menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif c) Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan biakan positif b. Tuberkulosis paru BTA (-) a) Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif, gambaran klinik dan kelainan radiologik menunjukkan tuberkulosis aktif b) Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif dan biakan M. tuberculosis positif 1.7 Peran Perawat dalam Pemeriksaan Sputum Perawat mempunyai kontribusi dalam pengkajian status kesehatan klien dengan mengumpulkan specimen cairan tubuh. Semua klien rawat inap menjalani paling sedikit satu kali pengumpulan spesimen laboratorium selama dirawat di fasilitas pelayanan kesehatan. Pemeriksaan laboraorium pada spesimen seperti urine, darah, feses, sputum, dan drainase luka memberikan informasi tambahan yang penting untuk mendiagnosis masalah kesehatan dan mengukur respons terhadap terapi. Perawat sering diberikan tanggung jawab untuk mengumpulkan specimen. Bergantung pada jenis specimen dan ketrampilan yang diperlukan, perawat dapat mendelegasikan tugas ini kepada UAP dibawah pengawasan perawat professional. Tanggung jawab perawat dalam pengumpulan spesimen meliputi hal-hal dibawah ini: 1) Berikan kenyamanan, privasi, dan keamanan bagi klien. Klien mungkin merasa malu atau tidak nyaman saat pengambilan spesimen. Perawat harus menjaga privasi klien semaksimal mungkin dan menangani specimen secara terpisah. Perawat tidak boleh menghakimi dan sensitive terhadap kemungkinan kepercayaan social dan budaya yang dapat memengaruhi keinginan klien untuk berpartisipasi dalam pengumpulan spesimen. 2) Jelaskan tujuan pengumpulan spesimen dan prosedur pengambilan specimen. Klien mungkin cemas terhadap prosedur, terutama bila dirasakan oleh klien sebagai gangguan atau klien takut terhadap hasil pemeriksaan yang belum diketahuinya. Keterangan yang jelas akan membuat klien mau bekerja sama dalam pengumpulan specimen. Dengan intruksi yang tepat, banyak klien yang mampu mengumpulkan spesimen mereka sendiri, yang meningkatkan kemandirian dan mengurangi atau menghindari rasa malu. 3) Gunakan prosedur yang benar untuk mendapatkan specimen atau pastikan klien atau staf mengikuti prosedur yang benar. Teknik aseptik digunakan dalam mengumpulkan specimen untuk mencegah kontaminasi, yang dapat menyebabkan hasil tes tidak akurat. Prosedur keperawatan atau petunjuk laboratorium sering tersedia bila perawat tidak terbiasa dengan prosedur tersebut. Bila ada pertanyaan tentang prosedur, perawat dapat menghubungi petugas laboratorium untuk mendapatkan pengarahan sebelum mengumpulkan specimen. 4) Perhatian informasi yang relevan pada slip permintaan laboratorium, contohnya, pengobatan yang sedang digunakan klien yang dapat memengaruhi hasil pemeriksaan. 5) Bawa spesimen ke laboratorium dengan segera. Spesimen yang segar memberikan hasil yang lebih akurat

6) Laporkan hasil pemeriksaan laboratorium yang abnormal kepada tenaga kesehatan pada waktunya sesuai dengan tingkat kelaparan hasil abnormal 1.F Praktikum Mikrobiologi : Pewarnaan Ziehl Neelsen Pewarnaan Ziehl Neelsen termasuk pewarnaan tahan asam. Biasanya dipakai untuk mewarnai golongan Mycobacterium (M. tuberculosis dan M. leprae) dan Actinomyces. Bakteri genus Mycobacterium dan beberapa spesies nocardia pada dinding selnya mengandung banyak zat lipid (lemak) sehingga bersifat permeable dengan pewarnaan biasa. Bakteri tersebut bersifat tahan asam (+) terhadap pewarnaan tahan asam. Pewarnaan tahan asam dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnose tuberculosis. Pewarnaan ini merupakan prosedur untuk membedakan bakteri menjadi 2 kelompok tahan asam dan tidak tahan asam. Bila zat warna yang telah terpenetrasi tidak dapat dilarutkan dengan alcohol asam, maka bakteri tersebut disebut tahan asam sedangkan sebaliknya disebut tidak tahan asam. Bahan pemeriksaan TB biasanya berupa sputum yang diambil dari pasien tersangka KP (Koch pulmonum), tetapi dapat pula diambil dari lokasi lain seperti cairan otak (Liquor Cerebro Spinalis ), getah lambung, urine, ulkus, dll. A. Prinsip Pewarnaan Bakteri tahan asam (BTA) akan memberikan warna merah, sedangkan yang tidak tahan asam akan bewarna biru. B. Cara Pewarnaan Ziehl Neelsen - Alat dan Bahan : 1. Object glass 2. Carbol fuchsin 0,3% 3. Alkohol asam 3% (Alkohol+konsentrasi HCL 3%) 4. Methylen-blue 0,3% 5. Air 6. Ose 7. Lampu Bunsen/spiritus - Cara Membuat Sediaan : 1. Bersihkan objek gelas, beri label 2. Sterilkan ose, dinginkan 3. Ambil 1 ose sputum yang kental (hijau kuning) letakkan diatas objek gelas, ratakan. 4. Sediakan biarkan kering pada suhu kamar 5. Setelah kering fiksasi dengan melewatkan diatas nyala api sebanyak 3 x, sediaan siap untuk diwarnai -Cara Pewarnaan Ziehl Neelsen 1. Sediaan dituangi Carbol Fuchsin sampai penuh

2. Panaskan selama 3-5 menit, jangan sampai mendidih 3. Biarkan dingin selama 5 menit, cuci dengan air 4. Dekolorisasi dengan alcohol asam 10-30 detik, cuci dengan air 5. Tuangi dengan methylen blue selama 20-30 detik, cuci dengan air Tambahan : Cara pemeriksaan BTA dari sputum dengan oil imersi 1. Teteskan oil imersi pada sediaan sputum lihat pada pembesaran lensa objektif 100x carilah BTA yang berbentuk batang warna merah. 2. Periksa dengan cara menggeser dan membentuk zig zag dari atas kebawah kemudian ulangi dengan berlawanan arah. Pembacaan BTA sputum menggunakan skala IUATLD (International Union Against Tuberculosis and Lung Diseases) 1. Tidak ditemukan BTA dalam 100 lp, disebut negative 2. Ditemukan 1-9 BTA dalam 100 lp, ditulis jumlah kuman yang ditemukan 3. Ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lp, disebut = atau (1+) 4. Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 lp, disebut ++ atau (2+) 5. Ditemukan >10 BTA dalam 1 lp, disebut +++ atau (3+) Pembiakan M. tuberculosis 1. Inkubasi 6-8 minggu 2. Pembiakan M. tuberculosis dengan media Lowenstein-Jenses atau Ogawa, lebih sering Ogawa. 3.Tes sensitivitas dengan obat rifampisin, insoniazida, pira zinamida, etambutol, streptomisin, dll. 4. Bisa juga dilakukan tes biokimiawi

DAFTAR PUSTAKA Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Keperawatan: Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta: Salemba Medika

Brunner & suddarth(2001).Biku ajar keperawatan medical bedah Edisi 5.Jakarta.EGC

http://atanesiahuman.blogspot.com/2011/02/pemeriksaan-diagnostik-sistem.html

http://bedah46.blogspot.com/2008/03/asma-bronkial-tbc.html

Kozier, Barbara, & Glenora Erb.2003. Buku Ajar Praktik Keperawatan Klinis Edisi 5. Jakarta: Buku Kedokteran EGC

Somantri,Irman.2007. Keperawatan Medikal Bedah Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.

W,Sartono.1997.Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik.Yogyakarta.EGC

www.wikipedia indonesia.com