You are on page 1of 5

MODUL 01 DASAR PENGUKURAN ALAT-ALAT ELEKTRONIKA

Nama NIM E-mail Shift/Minggu Asisten : Widya Hastuti : 10212068 : widyahastuti1@gmail.com : Senin (10.00-14.00)/1 : Heldi Alfiadi Solehhudin Al Ayubi Dian Ahmad Hapidin Nur Adhi Nugroho Tanggal Praktikum : 24 September 2013 Tanggal Pengumpulan : 30 September 2013 Abstrak Pada percobaan modul 1 yang berjudul dasar pengukuran alat-alat elektronika, percobaan yang dilakukan adalah mengukur arus dan tegangan dengan rangkaian seri dan parallel baik AC ataupun DC dengan menggunakan multimeter dan osiloskop untuk memahami perbedaan pengukuran menggunakan osiloskop dan multimeter, dan menentukan beda fasa dua gelombang dari signal generator melalui gambar pola Lissajous..

(10210004) (10211104) (10210104) (10210017)

Kata Kunci : Multimeter Osiloskop Thevenin Lissajous VRMS 1. Tujuan a. mampu menggunakan alat ukur elektronika dan signal generator b. mampu menyederhanakan rangkaian dengan menggunakan rangkaian setara thevenin c. mengukur tegangan AC dan DC dengan menggunakan osiloskop dan multimeter d. memahami pemasangan multimeter dalam pengukuran arus dan tegangan (voltmeter), hambatan (ohm-meter), maupun arus (amperemeter) [1] Pengukuran tegangan (voltmeter) pemasangan voltmeter ketika mengukur rangkaian adalah parallel. Nilai tegangan pada rangkaian parallel sama disetiap bagian. Jika voltmeter dipasang seri maka tegangan yang terukur adalah tegangan yang ada dalam alat ukur tersebut.

2. Teori Dasar a. Multimeter Multimeter atau multitester adalah alat pengukur listrik yang sering dikenal dengan VOM (volt-Ohm meter) yang dapat megukur tegangan
Gambar 1 : Rangkaian pararel dengan nilai V1= V2= V3

Pengukuran Arus (amperemeter) pemasangan amperemeter ketika mengukur rangkaian adalah seri, nilai arus pada rangakain seri adalah sama di setiap bagian. Jika amperemeter dipasang parallel akan mengakibatkan kerusakan alat ukur karena hambatan dalam pada alat ukur kecil dibandingkan hambatan pada rangkaian sehingga arus akan lebih besar mengalir pada alat ukur, jika melewati ambang batas alat ukur akan mengakibatkan kerusakan pada alat ukur

Perhitungan hambatan pengganti pada rangkaian paralel adalah ..............(4) Perhitungan hambatan pengganti pada rangkaian seri adalah ..............(5) d. Rangkaian Setara Ada dua bentuk rangkaian setara yaitu rangkaian Thevenin dan rangkaian Norton Rangkaian Thevenin Rangkaian yang terdiri dari sebuah sumber tegangan dan sebuah tahanan yang terhubung secara seri. Rangkaian Norton Rangkaian yang terdiri dari sebuah sumber arus dan sebuah tahanan yang terhubung secara paralel.

Pada praktikum ini hanya dibahas mengenai rangkaian setara Thevenin

Gambar 2 Rangkaian seri dengan nilai I1=I2=I3

Tegangan adalah hambatannya: V=I R

arus

dikalikan

..............(1)
Gambar 4 : Rangkaian serara thevenin

Pada rangkaian paralel berlaku: V= V1= V2= V3 ..............(2) Pada rangkaian seri berlaku: I= I1= I2= I3 ..............(3) b. Osiloskop Analog Osiloskop adalah alat untuk mrngamati bentuk tegangan listrik yang tetap atau berubah terhadap waktu dalam bentuk gelombang.

Cara menghitung hambatan thevenin (gambar 4): Untuk menghitung hambatan thevenin : RTh= ..............(6) (i) Cara menghitung tegangan thevenin (gambar 4):: Karena rangkaian terbuka, maka arus tidak mengalir pada R2 dan pada R2 tidak terdapat tegangan. Sehingga tegangan thevenin dapat di tentukan dengan : ETh = VTh = ......(7) e. VRMS Tegangan Root Mean Square = A/

Gambar 3 : Osiloskop Analog

c.

Hambatan Pengganti

VRMS = 0,5 VPP/

..............(8)

A : Amplitudo VPP : Tegangan peak to peak VRMS : Tegangan Efektif f. Signal Generator(SG) SG merupakan alat yang menghasilkan sinyal/gelombang dapat berupa sinus, segi empat, dan segitiga dengan frekuensi dan amplitudonya dapat diubah. Pola Lissajous Pola ini digunakan untuk menghitung beda fasa antara dua gelombang.

g.

3. Data Multimeter (percobaan 1 dan 2) Osiloskop (percobaan 3 dan 4) 1. Percobaan Menghitung tegangan dan arus pada rangkaian dengan Multimeter, dengan hambatan yaitu Seri : R1=500 ; R2=300 ; R3=800 Pararel : R1=500 ; R2=300 ; R3=800 Diberikan Vsumber = 3,27 V Isumber = 1,875 mA
Gambar 1(a)rangkaian pararel V1 3,27 V V2 3,27V V3 3,27V I1 0,15m A I2 0,15m A I3 0,15m A

3.

Percobaan Mengukur tegangan arus bolak-balik dengan Osiloskop dan Multimeter


Osiloskop (Volt) Bentuk Gelombang (pada layar Osiloskop)

Multimeter (Volt)

2,76

4,22

12

Gambar 2(a)rangkaian seri V1 1,028V V2 0,6V V3 1,65 V I1 0,54 mA I2 0,32 mA I3 0,88 mA

2.

Percobaan Mengukur tegangan arus searah (DC) dengan Osiloskop dan Multimeter
Osiloskop (V) Bentuk Gelombang (pada layar Osiloskop)

1,36

Multimeter (V)

4.

Menggambar pola Lissajous dilihat pada Osiloskop


Channel 2 (Hz) Bentuk pola Lissajous (pada layar Osiloskop)

Channel 1 (Hz)

100

100

150

150

1. = 2,04 mA d. Rumus (3) I=I1+I2+I3= 2,04 mA e. Rumus (1) V1= 2,04 (0,5) 1. = 1,2 V ii. V2=2,04 (0,3) 1. = 0,612 V iii. V3=2,04(0,8) 1. = 1,632 V 3. Hasil perhitungan data bagian c Menggunakan rumus (8) didapat: a. Pada VPP = 8 VRMS = 0,5 8/ = 5,65 V b. Pada VPP = 12 VRMS = 0,5 12/ c. Pada VPP = 4 VRMS = 0,5 4 5. Analisis = 8,48 V = 2,282 V

200

200

4. Pengolahan Data 1. Hasil perhitungan data bagian Pada rangkaian paralel a. 1/RP = (1/500)+(1/300)+ (1/800) b. RP = 75 c. Rumus (2) V=V1= V2= V3= 3,27 V d. Rumus (1) I1= V1/ R1= 0,0065 A 1. I2= V2/ R2= 0,0011 A 2. I3= V3/ R3= 0,00408 A 2. Pada rangkaian seri a. RS = 500+300+800 b. RS = 1600 c. Rumus (1) I = 3,27 / 1600

Pada percobaan pengukuran tegangan menggunakan osiloskop didapatkan hasil untuk tegangan arus searah (DC) adalah sebuah garis lurus dikarenakan frekuensi nya adalah nol, dan Karena tegangan bernilai konstan, arus yang digerakkannya juga konstan, maka terbentuk lah garis lurus pada layar osiloskop. Dalam praktikum ini didapatkan bahwa data yang terukur dari osiloskop dan multimeter berbeda, ini dikarenakan osiloskop mengukur dapat kita lihat sebagai peak to peak (VPP) sedangkan pada multimeter yang terukur adalah tegangan efektif (VRMS) dengan perhitungan VRMS = 0,5 VPP/ yang telah dihitung pada bagian pengolahan data, dan di dapatkan bahwa setelah diolah data hasil pengukuran osiloskop dan multimeter saling mendekati. Penguat Y (Vertikal) adalah penguat untuk sinyal yang datang untuk memperoleh ukuran vertical display yang sesuai, biasanya berbentuk scalar penguat

ukuran untuk berbagi posisi dala satuan volt persentimeter juga dapat digunakan sebagai pengatur posisi awal saat kalibrasi (0) , dan penguat X (Horizontal) adalah untuk memperkuat simpangan X dapat berupa sebuah variable dan atau PULL x 5 atau x 10, juga mempunyai 2 input, input 1 seperti Y memberikan sinyal. Yang ke 2 switch generator untuk menghilangkan trace juga berfungsi untuk menggerakan seluruh kurva kearah horizontal. Generator time base atau biasa disebut triggered sweep, Osiloskop memiliki beberapa mode sync: sinkronisasi internal, eksternal sync, sync line dan sinkronisasi tertunda. Pemilihan salah satu sumber sync mengirimkan sinyal ke "detektor sinkron." Sebagai contoh: jika sync internal dipilih, ia akan mengirimkan sinyal input, mengambil-off dari masukan penguat vertikal, untuk sync detektor yang merupakan analog comparator cepat yang mendapat masukan perbandingannya lainnya dari panel depan terpasang kontrol, disebut level kontrol. Hal ini memungkinkan pengguna untuk preset tingkat tegangan yang tepat dan polaritas, di mana ruang lingkup "trigged" generator untuk menyapu balok di layar sekali. Setiap kali sinyal berjalan di atas tegangan ini ditetapkan (kecuali selama waktu sweep aktif) Pola lissajous yang terbentuk adalah akibatt perbedaan Beda Fase, Frekuensi & Amplitudo dari 2 gelombang inputan pada probe osiloskop. Pola lissajous berfungsi untuk menghitung beda fasa natra 2 gelombang Osiloskop analog sebagai delayed sweep juga berfungsi

6. Kesimpulan Pada multimeter, arus dan tegangan yang terukur adalah arus tegangan dengan nilai efektif, berbeda dengan osiloskop yang memberikan data dengan menampilkan nilai peak to peak sebagai nilai voltase terukur, yang dapat kita convert ke dalam nilai voltase efektif dengan rumus seperti pada teori dasar rumus (8). Apabila yang diukur adalah tegangan DC, jika menggunakan osiloskop besaran DC akan tampil berupa garis lurus pada ketinggian div tertentu sesuai skala,ini dikarenakan frekuensinya nol namun untuk gelombang AC akan terlihat sebuah gelombang dengan bukit dan lembah, biasanya yang dihitung besaran peak to peak, bisa juga amplitudonya yaitu setengah besaran peak to peak. Menggambar pola lissajous untuk menemukan beda fasa antara 2 gelombang. Dalam praktikum kali, kami hanya menggunkan satu sunyal gelombang, .

7. Referensi [1] Multimeter, [online], dari: http://id.wikipedia.org/wiki/Multimet er , (diakses tanggal 28 September 2013)