You are on page 1of 5

Nabila Az-Zalikhah Ilham/115100600111004

ARTIKEL TARIF BEA MASUK PRODUK INDUSTRI atau PERTANIAN dari CHINA
Tarif bea masuk (TBM) merupakan sejumlah nilai yang di bebankan terhadap adanya importisasi suatu barang atau komoditi kedalam suatu Negara. Setiap Negara berhak menentukan besaran TBM yang dikehendaki terhadap suatu produk atau komodit, namun WTO (World Trade Organization) membatasi besaran tersdebut tidak lebih dari nilai tertinggi yang di sepakati (binding rate). Untuk produk pertanian yang masuk, TBMnya telah di sepakati oleh instansiinstansi yang terkait serta pelaku usaha di bidang pertanian. WTO atau World Trade Organization adalah organisasi perdagangan dunia yang merupakan satu-satunya badan internasional yang secara keseluruhan mengatur masalah perdagangan antar Negara. WTO secara resmi berdiri pada tanggal 1 Januari 1995. Sistem perdagangan multilateral WTO diatur melalui persetujuan yang berisi aturan-aturan dasar perdagangan internasional yang hasilnya telah di sepakati dan di tandatangani oleh negara anggota. GATT (General Agreement on Tariff and Trade) adalah persetujuan umum mengenai tarif dan perdagangan yang telah membuat aturan-aturan untuk sistem ini. GATT juga sebagai suatu persetujuan internasional, yaitu suatu dokumen yang memuat ketentuan untuk mengatur perdagangan internasional serta sebagai organisasi internasional yang di ciptakan lebih lanjut untuk mendukung persetujuan tersebut. Kebijakan tarif bea masuk untuk produk pertanian menerapkan nilai serendah mungkin apabila produk atau komoditi yang bersangkutan tidak dapat di produksi secara optimal di dalam negeri, sebaliknya untuk produk pertanian yang perlu diperkuat daya saingnya di dalam negeri dikenakan tariff bea masuk yang tinggi sesuai aturan WTO. Persetujuan tarif bea masuk bidang pertania berlaku sejak tanggal 1 Januari 1995 yang bertujuan untuk melakukan reformasi kebijakan perdagangan di bidang pertanian dalam rangka

menciptakan suatu sistem perdagangan pertanian yang adil dan berorientasi pasar. Persetujuan tersebut juga meliputi isu-isu diluar perdagangan seperti isu ketahanan pangan, perlindungan lingkungan dan lain-lain. Dalam persetujuan bidang pertanian yang mengacu pada sistem klasifikasi HS (Harmonized System of Product Classification), produk-produk pertanian didefinisikan sebagai komoditi dasar pertanian (mis: beras, gandum, dll.) dan produk-produk olahannya (mis: roti, mentega, dll.). Persetujuan ini juga menetapkan sejumlah peraturan pelaksanaan tindakan-tindakan perdagangan di bidang pertanian, terutama yang menyangkut akses pasar, subsidi domestik dan subsidi ekspor. Saat ini, Indonesia bukan merupakan pengekspor tertinggi melainkan lebih ke impornya yang lebih tinggi, Indonesia sering mengimpor sayuran dari luar negeri seperti dari China, sehingga sayuran produksi petani dalam negeri merosot seperti yang terjadi pada kentang. Seperti yang di lansir KOMPAS.com tanggal 06 Oktober 2011 maraknya kentang impor dari China dan Bangladesh di pasar menekan harga kentang di tingkat petani dalam negeri. Sejak awal September 2011, harga kentang dalam negeri terus merosot sampai pada level Rp 4.000 per kilogram. Dan menurut ketua Departemen Kajian Startegis Nasional Serikat Petani Indonesia, bahwa di berlakukannya perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA) per 1 Januari 2010 mengakibatkan lebih dari 6.600 komoditas dari China akan masuk Indonesia tanpa di kenai tarif bea masuk (KOMPAS.com, 06 Oktober 2011) sehingga dari pernyataan tersebut, bisa di simpulkan bahwa komoditas sayur impor akan di jual sangat murah dan di pastikan ludes di pasaran. Sehingga, harga sayuran yang di produksi petani akan merosot tajam. Menurut siwalima.com, menyebut jika dengan populasi penduduk Indonesia yang mencapai 237 juta jiwa dan kelas menengah yang meningkat, Indonesia tentu saja menjadi pasar seksi bagi Negara lain. Siwalima.com juga menyebut, jika Bank Dunia menyebut 56,5% dari 237 juta populasi Indonesia masuk kategori kelas menengah. Pemerintah membuka pintu impor secara liberal dan agresif. Barang-barang yang di impor masuk ke Indonesia buhan hanya barang modal dan bahan baku yang dibutuhkan industry, tetapi pemerintah juga membuka pintu impor untuk kebutuhan hidup sehri-hari, misalnya sayur, buah dll. Keinginan untuk mengurangi pengimporan sayur dan buah terkesan setengah hati, dengan ditambahnya tarif bea masuk yang terbilang murah ketimbang Negara lain, sehingga tidak mengherankan jika produk impor membanjiri Indonesia. Tarif rata-rata bea masuk

Indonesia 6.8%. Negara dengan perekonomian lebih maju seperti China menerapkan tarif lebih tinggi, rata-rata 12%. Mulai 2010 indonesia resmi melaksanakan ASEAN China-Free Trade Area. Perjanjian pasar bebas ini memiliki konsekuensi tariff bea masuk 0% untuk produk China termasuk produk pertanian di dalamnya. Sejak saat itu, Indonesia kebanjiran produk pertanian dari China, yang paling kentara adalah buah jeruk dan bawang putih. Dua komoditas yang menghidupi lebih dari 100.000 rumah tangga petani Indonesia ini terancam mati. Karena murahnya jeruk dan bawang putih sehingga petani enggan untuk menanam., dan lebih memilih berpindah ke jenis tanaman lain, seperti umbi-umbian (kompasiana.com, 15 April 2011). Menurut kompasiana.com juga bahwa kentang impor asal China dijual dengan harga 3000 perkilogramnya. Hingga akhir 2010, tercatat neraca perdagangan Indonesia-China berada dalam posisi 49,2 milliar dolar AS dan 52 miliar dollar AS. Berarti barang Indonesia yang diekspor adalah 49,2 milliar dolar AS sedangkan barang China yang diekspor ke Indonesia nilainya 52 milliar dollar AS (Kompas.com, 2 Februari 2011). Hasil survey yang dilakukan oleh kemenperin terhadap 228 pos tarif termasuk kategori industry sensitif yakni besi, baja, tekstil dan produk tekstil(TPT) dll. Survey tersebut memperlihatkan bahwa sejak implementasi perjanjian perdagangan bebas ACFT pada awal tahun 2010, berdampak besar terhadap penurunan produksi industry dalam negeri, terutama di sektor TPT dan elektronika, sedangkan sector industry yang ssama sekali tidak terkena imbas hanya logam (infopublik.kominfo.go.id, 24 Mei 2012). Banjirnya produk China telah menguntungkan pihak penjual, keuntungan yang di peroleh penjual dari produk China rata-rata mengalami kenaikan 20,1%, apalagi produk China jauh lebih murah seperti yang di lansir Infopublik.kominfo.go.id edisi 24 Mei 2012. Infopublik.kominfo.go.id juga menyatakan bahwa survey menemukan indikasi awal adanya praktek perdagangan yang tidak adil, dari 190 jenis barang impor China, sebanyak 38 jenis dijual lebih murah di Indonesia dibanding di Guangzhou dan Shanghai, China. Ditjen Bea Cukai Kemenkeu mencatat, impor produk industry dari China selama 2010 mencapai 18,5% dari total impor atau naik 33% dibandingka tahun sebelumnya. Impor dari China didominasi oleh produk mainan anak yanag mencapi 73% apabila dibandingkan dengan total impor produk mainan dari seluruh dunia. Porsi produk furniture sebesar 54% dan elektronika mencapai 36%.

Kerugian di tetapkanya Tarif Bea Masuk: Harga jual produk impor di pasar Indonesia sangat murah dan mudah didapatkan, Hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk impor membanjiri Indonesia. Kerugian tidak hanya itu saja, kerugian mendatangkan barang import membuat produsen barang dalam negeri berhenti bekerja dan akhirnya menjadi pailit. Kerugian juga dapat di temui pada UU no 10 tahun 1995 hal 2 BAB IV bagian pertama pasal 18 yang menyebutkan bahwa, a. harga dari ekspor dari barang tersebut lebih rendah dari harga normalnya, dan b. impor barang tersebut : 1. Menyebabkan kerugian terhadap industri dalam negeri yang memproduksi barang sejenis dengan barang tersebut, 2. Mengancam terjadinya kerugian terhadap industri dalam negeri yang memproduksi barang sejenis dengan barang tersebut, atau 3. Menghalangi pengembangan industri barang sejenis di dalam negeri. Keuntungan: 1. Produk Impor Terbukanya pasar internasional, Lebih mengenal produk-produk Negara lain, Memperoleh barang dan jasa yang tidak dihasilkan, Memperoleh teknologi modern, dan Memperoleh bahan baku.

2. Produk Ekspor Mengenalkan produk dalam negeri di kancah internasional, Memperluas pasar bagi produk Indonesia, Menambah devisa Negara, dan Memperluas lapangan pekerjaan.

Kerugian : 1. Produk Impor Masyarakat Indonesia lebih memilih produk impor daripada produksi dalam negeri Produsen dalam negeri mengalami kerugian dan bangkrut,

Menurunkan devisa Negara, Menghalangi pengembangan industri barang sejenis dalam negeri, dan Penurunan penjualan dalam negeri.

2. Produk Ekspor Jika produk yang dihasilkan dalam negeri di ekspor dan tidak laku maka akan menghambat bertambahnya devisa Negara. Dalam hal ini, tugas pemerintah adalah : a. Menekan jumlah impor barang, b. Mempertinggi bea masuk barang impor, c. Membuka peluang kerja untuk masyarakat Indonesia, d. Memperbaiki kualitas kerja masyarakat Indonesia, dan e. Memperbaiki kualitas suatu produk yang akan di ekspor. Sinkronisasi dengan Negara lain dalam hal perdagangan dunia, indonesia seharusnya menyamakan produk luar negeri yang akan masuk ke indonesia, dengan meningkatkan tariff bea masuk. Mencari jalan tengah dalam industry perdagangan dunia seperti perundingan kesepakatan tariff yang akan di keluarkan untuk tariff ekspor dan impor antar Negara. Perlu menimbang kebijaksanaan dari Negara lain sehingga didapatkan kesamaan suara antar Negara, sehingga tidak menimbulkan kesalah pahaman antar Negara. Jika ingin mensinkronisasi dengan Negara lain, maka pemerintah juga harus ikut andil dalam proses produksi dan penjualan. Sehingga kedua belah pihak sama-sama diuntungkan, kemudian pemerintah juga turut ikut campur dalam perbaikan infrastruktur dan perbaikan rantai pasok. Dikarenakan, hingga kini belum ada rantai pasok yang stabil dan bisa menjamin kepastian ketersediaan barang atau bahan baku. Dengan demikian produk Indonesia mampu bersaing dengan produk-produk dari Negara lain.