You are on page 1of 4

Kejang demam adalah kejang yang timbul pada saat bayi atau anak mengalami demam akibat proses

di luar intrakranial tanpa infeksi sistem saraf pusat. Kejang perlu diwaspadai karena dapat terjadi berulang dan dapat menyebabkan kerusakan sel-sel otak. Kejang demam dapat dibedakan atas: Kejang Demam Sederhana, yaitu kejang menyeluruh yang berlangsung kurang dari 10 menit dan tidak berulang dalam 24 jam Kejang Demam Kompleks, yaitu kejang pada salah satu lengan/tungkai saja (kejang fokal) yang berlangsung 10 menit, dan berulang dalam 1 hari atau selama demam berlangsung. Kejang demam dapat terjadi pada 2 5 persen populasi anak, yaitu pada semua anak yang berusia 6 bulan sampai 6 tahun, terutama mereka yang orangtuanya mempunyai riwayat pernah mengalami kejang demam. Kejang demam banyak dialami anak-anak hingga terkadang membuat orangtua panik. Mengapa kejang demam bisa terjadi dan bagaimana menghadapinya? Simak penjelasan dr. Jeanne-Roos Tikoalu, Sp.A. Apa beda nya? Bagaimana membedakan anak yang sedang mengalami kejang atau tidak? Caranya, apabila kita menduga anak kejang dengan posisi lengan tertekuk pada siku, coba perlahan-lahan meluruskan lengan tersebut. Bila lengan dengan mudah dapat diluruskan, maka anak tidak sedang mengalami kejang. Demikian pula apabila kita menduga anak kejang dengan posisi lengan lurus kaku, coba untuk menekuk lengan tersebut pada siku. Bila lengan dengan mudah dapat ditekuk maka anak tidak sedang mengalami kejang. Tapi jika terjadi sebaliknya, siku sulit ditekuk atau diluruskan, bisa dipastikan anak tersebut sedang mengalami kejang.

Kejang Demam pada Anak


Kejang demam, atau sering kita sebut step (mungkin berasal dari bahasa Inggris: stiff), adalah kejang yang biasa terjadi pada anak usia 6 bulan sampai 5 tahun. Walaupun demikian, tidak menutup kemungkinan anak di luar rentang usia ini juga terkena. Kejang demam timbul akibat naiknya suhu tubuh secara tiba-tiba. Biasanya akibat demam di atas 38 derajat Celsius. Ada berbagai macam penyebab kenaikan suhu tubuh yang tiba-tiba. Paling sering karena infeksi, baik infeksi bakteri maupun virus. Misalnya radang amandel (tonsilitis) atau radang tenggorok (faringits). Kejang demam biasanya berlangsung beberapa detik atau menit. Kadang-kadang sampai 15 menit. Tetapi kebanyakan hanya berlangsung hanya dua atau tiga menit. Saat kejang, anak akan mengalami berbagai macam gejala seperti : 1. Anak hilang kesadaran 2. Tangan dan kaki kaku atau tersentak-sentak 3. Sulit bernapas 4. Busa di mulut 5. Wajah dan kulit menjadi pucat atau kebiruan 6. Mata berputar-putar, sehingga hanya putih mata yang terlihat. Setelah kejang, anak akan mulai berangsur sadar. Biasanya, kesadaran pulih sepenuhnya setelah 10 sampai 15 menit. Dalam masa ini, anak agak sensitif (irritable) dan mungkin tidak mengenali orang di sekitarnya. Saat terjadi kejang demam, orang tua tidak perlu panik. Beberapa hal yang perlu diingat atau tindakan yang perlu diambil adalah : 1. Letakkan anak ditempat yang aman, misalnya di lantai atau kasur. Pindahkan dari sekitar anak, semua benda yang mungkin berbahaya atau dapat menimbulkan luka. 2. Jangan memasukkan apapun ke dalam mulut anak, misalnya jari tangan, sendok, atau kayu. 3. Jangan mengguncang-guncang atau berusaha membangunkan anak. 4. Jangan menahan tubuh anak yang kejang. Biarkan gerakan kejang berlangsung apa adanya. 5. Jika anak sudah berhenti kejang, miringkan anak. 6. Catat lamanya kejang dan apa yang dialami anak selama kejang. Catatan ini penting bagi dokter atau praktisi medis untuk menilai kejang demam anak.

7. Setelah kejang berhenti, segera bawa anak ke dokter, puskesmas, atau rumah sakit terdekat. 8. Jika kejang berlangsung lebih dari lima menit, penanganan gawat darurat harus dilakukan segera untuk menghentikan kejang. Jika memungkinkan, panggil segera petugas medis untuk memberikan penanganan tersebut. Penting diketahui orang tua bahwa : 1. Anak tidak merasakan nyeri atau tidak nyaman selama kejang. 2. Kejang demam bukanlah epilepsi atau ayan, sehingga tidak perlu minum obat secara teratur seperti halnya pada epilepsi. 3. Kejang yang berlangsung singkat tidak menyebabkan kerusakan otak. Bahkan kejang yang berlangsung agak lama hampir tidak pernah membahayakan. 4. Anak yang pernah menderita kejang demam tumbuh sehat seperti halnya anak lainnya. 5. Kadang-kadang, jika anak pernah mengalami kejang yang lama, perlu orang tua perlu menyediakan diazepam rektal (diberikan lewat anus) di rumah untuk mengantisipasi kejadian serupa di waktu mendatang. Diskusikan dengan dokter atau praktisi medis lainnya mengenai hal ini.

Kejang demam masih sering terjadi di masyarakat. Sebelum kejang biasanya anak akan menderita demam tinggi, yaitu 38C - 40C. Kejang demam dapat berjalan singkat dan tidak berbahaya. Tetapi bila kejang mencapai 15 menit dapat membahayakan karena bisa menyebabkan kerusakan otak sehingga terjadi komplikasi misalnya epilepsi, kelumpuhan bahkan retardasi mental. Orang tua akan merasa gelisah ketika sang anak demam. Keyakinan untuk segera menurunkan panas sudah melekat erat dalam benak orang tua. Kegelisahan timbul karena kurangnya pengetahuan pada orang tua tentang penyakit. Dari uraian tersebut diatas Peneliti ingin mengidentifikasi pengetahuan orang tua tentang kejang demam pada balita di ruang Empu Tantular., dimana bisa dirumuskan suatu masalah yaitu bagaimanakah pengetahuan orang tua tentang kejang demam pada balita di ruang Empu Tantular? Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi pengetahuan dalam ranah C1 (Tahu), C2 (Paham) dan C3 (Aplikasi). Metodologi yang digunakan deskriptif, dengan menggunakan kriteria populasi yaitu orang tua yang memiliki anak balita dengan purposive sampling dan jumlah sampel sebanyak 14 responden. Pengambilan data menggunakan kuesioner. Hasil dari penelitian didapatkan bahwa pengetahuan orang tua dalam ranah C1 (Tahu) 57,14% baik sekali dan 42,96% cukup baik. Dalam ranah C2 (Paham) 42,86% cukup baik; 35,71% kurang baik dan 21,43% baik sekali. Dalam ranah C3 (Aplikasi) 50% cukup baik; 28,57% baik sekali dan 21,43% kurang

baik. Kesimpulan: Tingkat pengetahuan orang tua tentang kejang demam baik dalam ranah C1, C2 dan C3 adalah cukup baik.

Kejang Demam merupakan salah satu kelainan neurologis yang paling sering dijumpai pada bayi dan anak. Dari penelitian oleh berbagai pakar didapatkan bahwa sekitar 2,2%-5% anak pernah mengalami kejang demam sebelum mencapai usia 5 tahun. Untuk dapat mengantisipasi terjadinya kejang demam, salah satu faktor yang mempengaruhi adalah perilaku ibu pada saat anak mengalami kejang demam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan ibu mengenai kejang demam pada anak di Kelurahan Tembung Kecamatan Medan Tembung tahun 2010. Metode penelitian ini bersifat deskriptif dengan besar sampel sebanyak 90 orang. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai November 2010 dan data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan mayoritas responden mempunyai tingkat pengetahuan baik (90%) dengan sebagian besar berpendidikan SMA (54,4%). Didapatkan sikap yang paling banyak dari responden termasuk kategori baik (72,2%) dan tindakan responden terbanyak termasuk dalam kategori baik (46,7%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan keluarga baik. Diharapkan dari hasil penelitian ini, puskesmas setempat dapat terus meningkatkan perilaku masyarakat melalui penyuluhan dengan metode yang lebih efektif.