You are on page 1of 69

Daryono, http://ptkguru.com email: daryono_ku@yahoo.co.

id
winserver

MAHABARATA

[2010]

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id

MAHABARATA
I. SANTANU 1. PERDJAMUAN DI SORGALOKA Ketika di Sorgaloka diadakan perdjamuan besar2an, radja Mahabisa jang dapat naik ke Sorgaloka karena sesadjinja, djuga dating berkundjung. Dewi Gangga pun hadir. Selagi pesta, tiba2 angin besar bertiup menjingkapkan pakaian dewi Gangga. Para dewa semua tunduk, supaja Dewi Gangga tak malu. Hanja radja Mahabisa jang tidak tunduk. Hjang Brahma sangat murka melihat tingkah laku radja Mahabisa, lalu menghukumnja turun kedunia. Demikian pula dewi,Gangga. Tapi didjandjikan kepadanja is akan lepas dari hukuman, djika telahmengeluarkan amarahnja. Turunnja radja Mahabisa kedunia ialah dengan mendjelma djadi putera radja Pratipa. Tjeritanja begini

2. DEWI GANGGA MENEMUI RADJA PRATIPA Suatu hari radja Pratipa pulang dari bertapa, Tiba2 datanglah seorang puteri jang amat tjantik menghadap baginda. la bermohon agar baginda sudimemperisteri dia. Baginda tak dapat mengabulkan permohonan itu, tapi berdjandji, djika kelak punja putera, sang puteri akan diambil djadi menantu. Puteri itu berterimakasih dan bermohon, djika kelak djadi menantunja,

djanganlah ditjegah segala perbuatannja, sekalipun jang sangat buruk. Djika putera radja mentjegah, sang puteri terpaksa meninggalkannja. Baginda berdjandji akan memenuhi permohonan itu. Setelah itu sang puteri menghilang dari pemandangan, Siapakah puteri itu? la Dewi Gangga jang oleh Hjang Brahma dihukum turun kedunia. Setelah radja Pratipa bertemu dengan dewi itu, baginda bertapa pula, memohonkan putera kepada dewa. Achirnja permohonannja dikabulkan. Tak lama antaranja baginda memperoleh seorang putera, dinamakan Santanu, Setelah Santanu dewasa, suatu hari bersabdalah baginda ajahanda, bahwa kelak akan datang seorang bidadari, Ialah yang akan djadi isteri putera radja. Baginda menjampaikan, kepada Santanu permohonan dewi Gangga. Santanu menerima segala titah. Kemudian is dinobatkan mendjadi radja menggantikan baginda ajahanda. Setelah beberapa lamanja djadi radja, suatu hari baginda bermain2 ketepi sungai Gangga. Tiba2,m.untjul seorang puteri jang tjantik parasnja. Hatil baginda tertarik, lalu puteri dihampiri. Baginda menanjakan, maukab kiranja djadi permaisuri baginda. Sang puteri bersedia, tapi dengan sjarat seperti jang diadjukan kepada baginda ajahanda dahulu.. Mendengar itu, teringatlah baginda akan sabda sang ajahanda. Baginda pun bersedia menerima sjarat itu dan mendjadikan sang, dewi permaisuri. Setelah beberapa lamanja djadi permaisuri, maka sang puteri beroleh seorang putera, Tapi baru sadja lahir, baji itu, dibuangnja kesungai seraja berkata : Terimalah balasan atas perbuatanmu

2
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


Peristiwa demikian berulang hingga tudjuh kali dan tak ditjegah oleh baginda. Akan tetapi pada kedelapan kalinja, ketika dilihat baginda baji itu didukung permaisuri, terpaksalah baginda menghampiri. Sangkanja baji itu akan dibuang pula. Maka bersabdalah baginda dengan hati berdebar2 ,Ja adinda, Djanganlah dibunuh baji itu. Katakanlah, siapa kamu sebenarnja dan dari manakah asalmu? Apa sebabnja sampai hati membunuh putera2 sendiri? Hai pembunuh putera2ku, Kamu tentu berdosa besar kepada dewa. Sang permaisuri berdatang sembah : Ja kakanda, Djanganlah takut, Putera kakanda ini takkan hamba bunuh. Tapi, kenapa menanjakan hal itu? Lupakah kakanda sjarat

perkawinan kita? Karena kakanda tidak menepati djandji, hamba terpaksa meninggalkan kakanda, Tapi sebelum pergi, lebih dulu akan hamba mentjeritakan sebab2nja hamba sampai hati membunuh putera2 sendiri. Begini : Pada zaman dahulukala delapan orang wasu (golongan dewa) mentjuri sapi kehormatan bernama Nandini, kepunjaan seorang Maharesi. Diantara mereka hanja seorang, jaitu Dyahu, yang benar2 mentjuri, Sang Maharesi tahu perbuatan mereka, lalu berkata :Hai para wasu, Aku mohonkan kepada dewa moga2 kamu semua mendjelma djadi baji manusia. Mendengar itu, mereka mohon ampun dan berdjandji takkan berbuat demikian lagi. Permohonan itu dikabulkan oleh dewa, jaitu berat hukuman dikurangi. Mereka akan bebas dalam tahun kelahiran masing2. Hanja Dyahu, jang harus tinggal lama didunia, karena .dosanja besar. Mereka menernui hamba dan minta mendjelma djadi anak hamba, djika hamba telah djadi puteri manusia. Dan minta pula, djika anak hamba lahir, supaja segera dibuang kesungai. Karena itu setelah putera jang tudjuh orang itu lahir, hamba buang kedalam sungai, Mereka itu pendjelmaan tudjuh wasu jang ketjil dosnja. Putera kakanda jang kedelapan ini pendjelmaan Dyahu.. Karena itu tak hamba bunuh. la harus hidup lama didunia. ya kakanda, Hamba ini dewi Gangga, puteri, batara Djanu. Setelah berkata demikian, dewi itupun pulang kekajangan karena hukumannja telah habis. Baji itupun dibawanja serta. Tapi setelah besar, diserahkannja kepada Santanu dan diberi nama : Dewabrata atau Bisma. Sedjak ketjil Bisma telah kelihatan mempunjai dasar watak pemberani, adi1, pandai hukum dan pandai pula menggunakan segala sendjata perang. Suatu hari radja Santanu bertamasja ditepi sungai Djamuna, anak sungai Gangga: Baginda bertemu dengan dewi Durgandini, puteri Basuparitjara, radja negeri Tjediwisaja. Riwajat dewi Durgandini begini :

3. LAHIRNJA MATSYAPATI DAN DURGANDINI Seorang radja jang bernama Basuparitjara, suatu hari pergi berburu. Tiba2 teringatlah baginda kepada permaisuri dewi Girika jang amat tjantik, hingga timbul berahinja. Karena sangat berahi, baginda mengeluarkan mani. Mani ini ditangkapnja dengan daun, dibuangnja kesungaii Djamuna, lalu ditelan oleh seekor ikan besar Achirnja ikan itu hamil. Suatu hari Dasabala, abdi baginda jang djadi nelajan dan tukang perahu dikali Djamuna, mendapat ikan jang hamil itu. Tapi tak dibunuhnja. Achirnja ikan itu melahirkan dua orang baji, laki2 dan perempuan, kemudian menghilang. Sebenarmja ikan itu bidadari jang lagi mendjalani hukuman. Melihat keadaan jang adjaib itu, Dasabala segera menghadap baginda dan

3
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


mempersembahkan kedua baji itu, sambil mentjeritakan asal mula mereka. Seketika itu djuga baginda ingat peristiwa ketika baginda berburu. Baginda jakin baji2 itu putera-puteri

baginda, jang terdjadi karena ikan itu menelan mani baginda. Baji laki2 diberi nama : Matsyapati (Mangsahpati). Achirnja is djadi radja dinegeri Wirata. Jang perempuan dinamakan : Durgandini. Karena seluruh badannja berbau amis, lalu disuruh asuh oleh Dasabala. Setelah Durgandini besar, pekerdjaannja setiap hari mendjalankan perahu dikali Djamuna.

4. LAHIRNJA KRESNA DWIPAJANA WYASA. Dewi Durgandini memang sangat tjantik, tak kalah oleh bidadari. Hati Santanu tertarik melihatnja. Setelah baginda mendapat keterangan tentang. dewi itu, baginda segera pulang ke istana. Ketika Durgandini bertemu dengar radja Santanu, penjakitnja sudah sembuh. Jang mengobati ialah resi Parasara. Tidak sadja penjakitnja jang sembuh, badannja bahkan djadi harum baunja. Karena itu ia diberi nama : Sajodjanagandi. Karena sabda sang resi perahu itu mendjadi pulau disungai Djamuna. Parasara lama tinggal dipulau itu bersama Sajodjana gandi hingga mendapat putera, Kresna Dwipajana Wyasa *) namanja. Menurut hikajat, Wyasalah pengarang kitab Weda dan Mahabarata. *) Seterusnja hanja ditulis Wyasa. Setelah berputera, resi Parasara meninggalkan pulau itu. Tapi Sajodjanagandi menetap disitu bersama puteranja. Setelah Wyasa besar, ia pergi bertapa. la berpesan, djika ibunja rindu akan dia, hendaklah mengheningkan tjipta. la tentu segera datang. Demikian riwajat dewi Durgandini (Sajodjanagandi) sebelum bertemu dengan radja Santanu

5. PADJA SANTANU KAWIN DENGAN DEWI DURGANDINI Suatu hari radja Santanu itu mendapatkan diterima. Dasabala untuk meminang Durgandini kelak

(Sajodjanagandi),

Pinangan

Dasabala,

hanja

bermohon,

apabila

Sajodjanagandi mempunjai putera, hendaklah kelak dapat menggantikan djadi radja. Berat hati baginda akan mengabulkan permohonan itu, Baginda telah punja putera, ialah Bisma. Dengan hati ketjewa baginda pulang keistana. Mendengar hal itu Bisma segera menemui Dasabala, mengatakan tak suka djadi radja la ingin djadi berahmana tjari jaitu berahmana jang tak suka kepada perempuan. Dan is akan berdjandji akan mendesak baginda ajahanda, supaja mengabulkanpermohonan Dasabala itu. Karena keterangan Bisma, ditjapailah persetudjuan. Dewi Sajodjanagandi segera dibawa oleh Bisma keistana, akan dipersembahkan kepada baginda ajahanda. Oleh karena tindakan Bisma itu, baginda amat terharu, lalu bersabda: Hai puteraku jang sangat kutjintai, Kamu telah mengurbankan kepentingan sendiri untuk ajahmu: Betul2 kamu tjinta kepada orangtua. Karena itu aku mohon kepada dewa, supaja kamu tak mati semasih menghendaki hidup. Seketika itu terdengar bunji menggelegar. diudara, tanda permahonan baginda terkabul. Radja Santanu mendapat putera dua orang derngan dewi Sajodjanagandi ialah Tjitragada dan Witjitrawirja. Setelah baginda wafat, diangkatlah Tjitragada djadi radja. Permiaisuri baginda bernama dewi Ambika, puteri Kasindra, radja negeri Waranawati.

4
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


Sebelum mempunjai putera, Tjitragada telah wafat dimedan pertempuran. Karena itu baginda digantikan oleh Witjitrawirja. Permaisuri baginda dewi Ambalika. Bagindapun wafat sebelum mempunjai putera. Riwajat kedua putera radja Santanu beristerikan dewi Ambika dan dewi Ambalika ialah begini:

6. RADJA KASINDRA MENGADAKAN SAJEMBARA Prabu Kasindra mempunjai 3 orang puteri ,dan 2 orang putera : Dewi Amba, Dewi Ambika, Dewi Ambalika, Wahmuka dan Harimuka. Wahmuka dan Harimuka berwudjud raksasa. Karena ketiga puteri telah dewasa dan belum bersuami, untuk menetapkan djodohnja, radja Kasindra mengadakan sajembara, jang bunjinja begini : Barangsiapa dapat mengalahkan Wahmuka dan Harimuka dalam perang tanding, akan mendjadi djodoh ketiga dewi. Banjak radja-radja dan sateria yang ikut sajembara itu. Bisma djuga, tapi untuk Tjitragada dan Witjitrawirja. Achirnja Bisma jang menang. Ketiga puteri segera dibawa ke Hastinapura. Setelah mereka sampai di Hastinapura, dewi Sajodjanagandi menitahkan supaja dewi Ambika djadi isteri Tjitragada dan dewi Ambalika djadi isteri Witjitrawirja. Dewi Amba akan diberikan kepada salah seorang dari kedua putera itu. Tapi dewi itu menolak. la akan turut Bisma, karena dialah pemenang sajembara. Bisma mendjawab, ia takkan beristeri, akan meneruskan tjita2 djadi berahmanatjari. Suatu hari Bisma pergi kepertapaan begawan Rama Parasu. Dewi Amba turut, tak mau ditinggalkan. Setelah Bisma beberapa lamanja dipertapaan, lalu pulang ke Hastinapura. Dewi Amba djuga turut, Karena tak dibolehkan turut Bisma, ia mengikuti dari djauh. Setelah Bisma agak djauh berdjalan, baru diketahuinja sang dewi, mengikuti. Disuruh pulang kepertapaanya tidak mau la akan turut kemana Bisma pergi. Bisma segera meng-amang2inja, dengan panah. Maksudnja supaja dewi Amba takut dan mau pulang kepertapaan. Dengan tak sengadja anak panah terlepas dari busur, mengenai dada sang dewi. Seketika itu djuga iapun rebah. Melihat dewi Amba terkena panah dan djatuh ketanah, Bisma segera menangis tersedu2, karena tak sengadja telah mernbunuhnja. Tak lama terdengar suara sang dewi ,Hai Bisma, Kamu memburuh orang jang tak berdosa, jang tjinta kepadamu. Tjintaku benar2 keluar dari hati sutji. Walaupun kamu tak suka beristeri, karena ber-tjita2 djadi berahmanatjari,anggaplah aku sebagai saudaramu atau pengiringmu. Dan izinkanlah aku mengikuti kemana kamu pergi. Tapi tjintaku jang sutji kamu balas dengan pembunuhan, Karena itu aku peringatkan, bahwa kelak aku mendjelma djadi puteri maharadja Drupada jang bernama Sikandi (Srikandi). Djika petjah perang besar antara darah Barata, disitulah aku akan membalas. Setelah berkata demikian, dewi Amba menghembuskan nafas jang penghabisan. Setelah djenazah dikerdjakan semestinja, Bisma segera

meneruskan perdjalannja ke Hastinapura.

7. BEGAWAN WYASA MENERUSKAN KETURUNAN DARAH KURU Dewi Sajodjanagandi (djuga disebut dewi Gandawati) amat berdukatjita

memikirkan darah Kuru akan terputus, karena putera2 nja seorangpun tak berputera. Suatu hari sang dewi memanggil Bisma untuk mentjari akal supaja darah Kuru tidak terputus. Achirnja mereka putuskan memanggil begawan Wyasa untuk

5
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


mengadakan turunan. Suatu hari dewi Sajodjanagandi mengheningkan tjipta memanggil begawan

Wyasa. Setelah Begawan itu datang, sang dewi segera mentjeritakan rnaksudnja. Begawan Wyasa berdjandji akan memenuhi permintaan bundanja. Tapi is minta tempo satu tahun, karena akan bertapa dahulu, agar kelak mempunjai putera jang betul2 utama. Setelah itu Wyasa pulang ke pertapaannja digunung Retawu. Dewi Ambika dan dewi Ambalika amat sedih mendengar hasil pertemuan itu. Tapi mereka tak berani menjangkal. Setelah setahun berlalu, datanglah begawan Wyasa, untuk memenuhi djandji. Pertama2 ia menghendaki turunan dengan dewi Ambika. Ketika akan bertukar asmara dengan begawan Wyasa, dewi itu merasa takut, karena rupa begawan itu sangat djelek. Sebab itu la memedjamkan mata. Kedjelekan muka sang begawan ialah karena lama bertapa. Setelah dewi Ambika hamil dan sampai waktunja melahirkan anak, anak itu

buta, dinamakan Drestaratya (Destarata). Kemudian sang begawan menghendaki turunan dengan dewi Ambalika. Ketika bertukar asmara, muka sang dewi putjat karena takut. Ketika ia mempunjai putera, putera itu bulai, dinamakan Pandu. Dewi Sajodjanangandi menjuruh Ambalika sekali lagi bertukar asmara dengan begawan Wyasa. Dewi Ambalika takut menolak titah. Tapi untung ia mendapat akal. Begini : Dewi Ambalika punja pelajan bernama Datri. Datri disuruh berpakaian seperti

dia, sehingga benar2 menjerupai dewi Ambalika. Dengan demikian begawan Wyasa telah bertukar asmara pelajan sang dewi. Achirnja Datri melahirkan putera jang pintjang, dinamakan Widura. Sekarang tjita2 Sajodjanagandi telah tertjapai. Turunan Kuru tidak terputus. Begawan Wyasa tetap dipertapaannja. Djika turunannja mendapat kesusahan, ia segera datang memberi nasehat.

II. PANDU DAN DRESTARATYA

8. PANDU DJADI RADJA DINEGERI HASTINAPURA Ketiga putera itulah jang meneruskan darah Kuru. jang mendidik mereka ialah sang Bisma. Masing2 mempunjai kesenangan sendiri. Drestaratya menjenangi kekuatan. Pandu gemar beladjar memanah. Widura gemar main anggar. Pandulah jang memegang tali pemerintahan negeri Hastinapura. Jang seharusnja djadi radja ialah Drestaratya, karena putera sulung. Tapi karena ia buta, maka adiknja sang Pandu

didjadikan radja, Sang Drestaratya kawin dengan dewi Gendari, puteri radja Basubala di negeri Gandara. Radja Basubala mempunjai (seorang putera dan seorang puteri, Sakuni dan dewi Gendari, Sang Pandu beristeri dua orang : dewi Kunti (dewi Patra) puteri radja Kuntibodja, radja negeri Kuntiwisaja, dan dewi Madrim, puteri radja Madrapati, radja negeri, Madrawisaja. Radja Madrapati itu mempunjai seorang putera dan seorang puteri : sang Salja, putera sulung dan dewi Madrim.

6
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


Widura kawin dengan: dewi Parasari, putera maharadja Dewaka dan memperoleh putera, dinamakan : Winajasampana. Sebelum dewi Kunti djadi permaisuri sang Pandu, ia telah mempunjai seorang putera, dinamakan : Karna.

9. LAHIRNJA KRESNA DAN KARNA Disini perlu ditjeritakan lahirnja Kresna dengan singkat, sekedar untuk mengetahui silsilahnja. Demikian tjeritanja : Radja Kangsa di Matura, ialah seorang jang amat kedjam; tak mempunjai betas kasihan terhadap sesama manusia. Suatu hari baginda dikundjungi oleh Hjang Natrada, wiku dari sorgaloka, jang memberi tahu baginda kelak akan dibunuh oleh anak Dewaki jang nomor 8. Setelah itu Hjang Narada segera pulang ke Sorgaloka. Dewaki bibi radja Kangsa dan isteri Wasudewa (Basindewa).Setelah radja Kangsa menerima pemberitahuan Hjang Narada, tirnbuhlah niatnja jang djahat. Djika kelak Dewaki melahirkan anak, akan dibunuh, supaja sabda Hjang. Narada tak djadi. Pada waktu itu Dewaki belum mempunjai anak. Lama kelamaan ia mengandung. Ketika baji lahir, dengan segera dibunuh oleh radja Kangsa. Kedjadian demikian berulangulang hingga Dewaki melahirkan anak jang keenam. Ketika Dewaki mengandung ketudjuh kalinja, baji jang masih dalam kandungan itu dipindahkan oleh dewi Nidra (dewi tidur) dengan djalan. gaib ke Rohini, isteri Wasudewa jang kedua. Setelah sampai waktunja, baji lahir dengan selamat, dinamakan: Baladewa atau Balarama. Dewaki mengandungg lagi jang kedelapan kalinja. Wasudewa mendapat akal djuga untuk menjelamatkan baji jang akan dilahirkan itu. Djika kelak lahir, akan diganti dengan baji, lain. Kebetulan ketika itu Jasoda, isteri Nanda, seorang gembala, djuga sedang bunting. Ketika Dewaki melahirkan anak, Jasoda pun melahirkan, waktunja bersamaan. Dengan segera baji2 itu dipertukarkan, Ketika radja Kangsa mendengar, bahwa Dewaki melahirkan, anak jang kedelapan, iapun segera pergi kerumah Dewaki karena tidak mengerti, bahwa baji itu telah tukar dengan anak Jasoda, maka anak jang disangkanja putra Dewaki itupun segera dibunuhnja setjara kedjam. Sementara itu anak Dewaki jang sebenarnja selamat, dipelihara oleh Jasoda dan dinamakan : Kresna. Setelah Kresna besar, ia mempunjai kekuatan gaib. Keberaniannja makin tersiar kemanamana, sehingga radja Kangsa mendengarnja pula. Kresna lalu dipanggil menghadap ke Matura, akan diadu dengan orang jang tersohor kuat dan berani. Nanda amat bersusah hati ditinggalkan Kresna. la tahu radja Kangsa amat kedjam, tak punja belas kasihan kepada sesame manusia Karena itu siang dan malam ia memohon kepada dewa, mudah2an Kresna berbahagia. Selama Kresna di Matura, ia disuruh mengerdjakan segala pekerdjaan jang tak dapat dilakukan oleh orang biasa. Maksudnja, djika Kresna tak sanggup, akan dihukum seberat2nja. Tapi semua itu dapat dikerdjakannja dengan mudah. Ia disuruh menarik busur

jang amat berat. Djangankan,manusia, dewapun tak kuat menariknja. Tapi Kresna menariknja dengan mudah, sehingga busur itu patah dua. Kresna lalu diadu dengan gadjah. Gadjahpun dikalahkannja. Lalu ia diadu dengan dua orang jang kesohor kuat, seorangpun tak dapat mengalahkannja. Kresna djuga jang menang. Melihat kekuatan dan keperwiraan Kresna luarbiasa baginda bukannja bersenang hati, bahkan sebaliknja. Beliau sangat murka, karena merasa kalah kuat dan berani.

7
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


Kemurkaan itu tidak hanja kepada Kresna, akan tetapi kepada seluruh gembala. Mereka dititahkan meninggalkan Matura dengan segera, dengan antjaman, djika tidak

mengatjuhkan titah, akan dibunuh. Mendengar itu, Kresna sangat marah, Terdjadilah perkelahian sengit antara baginda dengan Kresna. Achirnja baginda mati terbunuh. Sekarang sabda Hjang Narada telah terbukti. Radja Kangsa mati terbunuh oleh anak Dewaki jang kedelapan. Setelah radja Kangsa meninggal dunia, Kresna segera meninggalkan Matura. Achirnja beliau kawin dengan dewi Rukmini, puteri radja Bismaka dinegeri Widarba. Perkawinan, itu disertai dengan perang besar, karena diam2 dewi Rukmini dilarikan oleh Kresna. Sehabis perang, Kresna tinggal di Dwaraka(Dwarawati) dengan dewi Rukmini dan djadi radja negeri itu, bergelar batara. Kresna sangat sakti, mempunjai kekuatan gaib jang sungguh mengherankan. Kepada dewapun beliau tidak takut. Sudah pernah beliau

bermusuhan dengan dewa, Demikian tjeritanja :Suatu hari didatangi Hjang Narada jang memberi bunga Paridjata dari Suralaja kepada dewi Rukinini. Dewi Setyaboma, pernaaisuri jang kedua, mengiri. Kresna, menjanggupi pergi ke Suralaja menemu, Hjang Indra untuk memohon bunga tersebut., Hjang Indra tak, mengizinkan. Achirnja terdjadilah, perkelahian hebat, masing2 mengeluarkan, kesaktian. Sebelum ada jang kalah, datanglah dewi Aditi, ibu para dewa memisah, Achirnja Kresna diperkenankan mengambil bunga Paridjata sesuka hati Demikianlah riwajat lahirnja Kresna.

9a. LAHIRNJA KARNA Suatu hari radja Kuntibodja dapat kundjungan, Druwasa, seorang brahmana jang minta tinggal diistana beberapa hari. Druwasa itu minta dengan sangat supaja segala pekerdjaannja djanganlah ada jang mengganggu atau merintangi, Djuga baginda sendiri hendaknja djangan mengganggu. Baginda berkenan meluluskan permintaan itu dan puteri baginda bernama Kunti dititahkan melajani sang berahmana. Dewi Kunti sebenarnja seorang puteri angkat, puteri radja Suraradja, bangsa Jadawa. Djadi masih mempunjai darah Wresni. Oleh karena sang dewi amat baik melajani berahmana itu, maka ia dianugerahi mantera jang dapat mendatangkan salah seorang dewa jang dikehendakinja, Setelah Druwasa meninggalkan istana, sang dewi hendak mentjoba mantera itu. Ia mendatangkan Hjang Surja, jang memberkahinja sehingga djadi bunting. Sang dewi merasa malu karena ia seorang perawan dan kini bunting. la memohon kepada dewa agar baji jang dikandungnja djangan lahir melalui djalan biasa. Benar2 baji itu lahir tidak melalalui djalan biasa, tapi keluar dari telinga, Karena itu dinamakan Karna, artinja telinga. Sedjak lahir, Karna sudah pakai anting2 dan badju kotang. Karena itu is amat sakti dan kebal, Baru sadja Karna lahir, ia segera dimasukkan kedalam peti (kendaga) dan dibuang kesungai Aswanadi, kemudian hanjut sampai ditanah Angga. Disana ia ditemukan oleh seorang kusir kereta bernama Adirata, dan dianggap sebagai anak sendiri. III. PANDAWA DAN KURAWA

10. LAHIRNJA PANDAWA Suatu hari sang Pandu berburu dihutan Himawanpada. Tiba2 dilihatnja seekor kidjang

8
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


djantan bertjintaan dengan seekor kidjang betina. Kidjang itu segera dipanahnja. Panah mengenai kidjang betina jang seketika itu djuga mati. Kidjang djantan menjumpahi sang Pandu, katanja :Hai Pandu, Kamu bunuh isteriku jang tak berdosa selagi ia bertjinta2an dengan aku. Awas , Kamu kelak akan mati sewaktu bertjinta2an dengan permaisurimu. Kidjang itu sebenarnja resi Kindama jang menjamar. Radja Pandu amat menjesali perbuatannja setelah mendengar sumpah itu karena beliau belum berputera.Djadi tak ada jang menggantikannja kelak. Kemudian segera beliau pulang keistana untuk mengabarkan sumpah itu kepada saudaranja. Setelah sang Pandu sampai di Hastinapura dan mengabarkan hal itu kepada saudara2nja, beliau memutuskan hendak bertapa menebus dosa. Sang Drestaratya ditundjuk untuk mewakili baginda memegang pemerintahan. Suatu hari berangkatlah radja Pandu dengan dewi Kunti dan dewi Madrim meninggalkan Hastinapura. Mereka berpakaian kulit kaju setjara berahmana. Achirnja mereka sampai di Satasrengga dan tinggal disitu. Setelah mereka bertapa beberapa lamanja, timbulah keinginan sang Pandu mempunjai putera. Beliau menjampaikan keinginannja itu kepada dewi Kunti dan dewi Madrim. Dewi Kunti berdatang sembah, menerangkan ia mempunjai mantera jang dapat mendatangkan dewa jang

dikehendaki. Djika sang Pandu setudju, sang dewi akan mendatangkan dewa dan mohon supaja dianugerahi putera Sang Pandu setudju. Suatu hari dewi Kunti mengeheningkan tjipta mendatangkan Hjang Darma, jang menganugerahi putera dinamakan Judistira. Sudah itu dewi Kunti mendatangkan batara Baju. Ia dianugerahi putera, dinamakan: Bimasena. Achirnja didatangkannja Hjang Indra, jang menganugerahi putera dinamakan Ardjuna. Dewi Madrim jang turut menggunakan mantera itu men datangkandewa Aswin. Hjang Aswin kembar dua, rupanja sama. Dewi Madrim da nugerahi putera kembar dinamakan Nakula dan Sahadewa.

11. LAHIRNJA KURAWA Bersama lahirnja Pandawa, dewi Gendaripun melahirkan putera 100 orang. Demikiari riwajatnja Setelah dewi Gendari mengandung selama 2 tahun, ia 1alu mengeluarkan darah kental. Menurut, petundjuk begawan Wyasa, darah itu harus disimpan dalam, bujung. Setelah petundjuk itu diturut, bersabdalah sang begawan, bahwa kelak darah itu Akan djadi 100 orang baji. Benar sadja, 10 hari kemudian, keluarlah dari bujung 100 orang anak berturut2. Jang keluar pertama, bersamaan lahirnja Bima. Anak itu dinamakan Durjudana. Ketika Durjudana keluar dari bujung banjak alamat tidak baik. Banjak rumah roboh ditiup badai, banjak jang terbakar, binatang2 di hutan berlaga dan serigala ramai me ngaum. Putera Drestaratya 100, orang itu disebut Kurawa, artinja keturunan radja Kuru, ialah radja Hastinapura jang dahulu, Djadi leluhur Kurawa dan Pandawa

12. SANG PANDU MENINGGAL DUNIA Suatu hari sang Pandu amat berahi kepada permaisuri baginda, sehingga lupa kepada sumpah resi Kindama jang menjamar djadi kidjang itu. Beliau lalu memeluk dewi Madrim Waktu itulah sumpah sang resi terbukti. Sang Pandu ketika itu djuga wafat. Karena wafatnja

9
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


disebabkan memeluk dewi Madrim, maka dewi itu harus turut membakar diri, dan dewi Kunti diwadjibkan mengasuh para puteranja, karena waktu itu kelima putera masih ketjil. Sepeninggal sang Pandu, dewi Kunti beserta lima orang puteranja pulang ke Hastinapura, Disitulah Pandawa dididik oleh sang Drestaratya bersama2 dengan Kurawa.

13. BIMA MENDAPAT BAHAJA MAUI Sekarang Hastinapura tak beradja lagi. Putera Pandu jang sulung`.belum dewasa, Karena itu, sementara waktu pemerintah dipegang oleh sang Drestaratya. Setelah Pandawa dan Kurawa djedjaka, mengertilah Kurawa, bahwa tak ada jang menjamai kekuatan Bima. Pernah sepuluh orang Kurawa dipegang oleh Bima dan terns dimasukkan kedalam air. Ada lagi kedjadian jang membuktikan kekuatannja. Ketika para Kurawa memandjat sebatang pohon, pohon itu ditjabut oleh Bima, Tentu sadja semua orang jang ada dipohon itu djatuh. Durjudana jang pengiri, demi mengerti kekuatan Bima luarbiasa, djadi sangat bentji. Bima akan dibunuh setjara diam2. Suatu hari, ketika Kurawa mengadakan selamatan ditepi sungai Gangga, Bima diberi makanan beratjun Bima sedikitpun tak tjuriga, Makanan itu seqera dimakannja. Sehabis makan ia djatuh pingsan. Durjudana segera mengikat badan Bima dengan akar2, terus ditjeburkan kesungai. Dalam keadaan terapung2, sampailah ia dikeraton naga jang bernama Radjanaga. Ketika Radjanaga melihat Bima, terus digigitnja. Bisa jang masuk ketubuh, bukan membahajakan, malah djadi obat. Seketika itu djuga Bima sadar kembali, badannja digerak2an, sehingga akar2 jang mengikat tubuhnja semua putus. Maka terdjadilah perkelahian hebat antara Bima dan Radjanaga Achirnja Radjanaga tak kuat melawan. Ia minta tolong kepada radjanja, Hjang Wasuki. Oleh Hjanq Wasuki perkelahian itu dapat dihentikan. Bima lalu diberi minuman jang dapat menambah kekuatan dan kesaktiannja. Setelah Bima delapan hari tinggal disitu, pulanglah ia ke Hastinapura mendapatkan saudara2nja. Judistira dan Widura tahu perbuatan djahat Durjudana itu. Tapi mereka tak mau mantjeritakan kepada sang Drestaratya. Rahasia ditutup rapat2, karena takut pembalasan jang lebih hebat. Tak di-sangka2 Bima, telah kembali dengan selamat. Dur judana makin panas hatinja. la tak senang selama Bima masih hidup. Karena itu ia selalu mentjari akal untuk

membinasakannja. Bisma jang bertugas mendidik Pandawa dan Kurawa berpendapat, mereka telah mentjapai dewasa, sudah sepantasnja dididik oleh seorang guru. Mereka dititahkan berguru kepada Krepa. Siapakah Krepa? Ia anak sang Saradwan dan dilahirkan oleh sebuah busur. Tjeritanja demikian :

14. LAHIRNJA KREPA DAN KREPI Suatu hari sang Saradwan, putera begawan Gotama, pergi berburu membawa busur. Demi sampai ditepi telaga, dilihatnja seorang puteri sedang mandi. Puteri itu sebenarnja bidadari. Saradwan djatuh tjinta kepada puteri jang tjantik itu. Karena ia seorang wiku jang sakti, dapatlah ia memasukkan sang puteri tadi kedalam busurnja. Tak lama busur itupun mengandung. Saradwan lalu pergi bertapa. Panah dan busurnja ditinggalkan disitu. Setelah

10
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


sampai waktunja, busur itu melahirkan dua orang anak. Suatu hari Maharadja Santanu pergi berburu. Ketika baginda sampai ditempat busur itu, beliau lihat dua anak sedang duduk. Mereka dibawanja keistana. Jang laki2 dinamakan Krepa dan jang perempuan Krepi, Demikianlah riwajat lahirnja Krepa dan Krepi.

15. PANDAWA DAN KURAWA BERGURU KEPADA DRiUNA Setelah Pandawa dan Kurawa berguru kepada Krepa, lalu berguru kepada Druna, ipar Krepa, suami Krepi. Druna itu putera resi Baradwadja. la mempunjai teman bernama Drupada, putera radja Pantjala. Ketika masilh muda Drupada mendjadi siswa resi Baradwadja, Djadi satu guru dengan Druna. Sekarang Drupada telah djadi radja di Pantjala. Resi Druna dengan Krepi mendapat seorang putera, dinamakan Aswatama (Aswa = kuda). Sebabnja dinamakan demikian, karena ketika baji itu lahir, terdengar suara kuda. Suatu hari Druna pergi ke Pantjala dengan puteranja Aswatama menemui Drupada teman seperguruan, jang djadi radja disana. Setelah sampai, mereka terus menglhadap baginda, tapi tak diterima dengan baik. Malah Drupada bersabda, bahwa tak pastas radja berteman dengan seorang minta2. Mendengar itu, Druna amat sakit hatinja, dan bersama puteranja segera pergi ke Gadjahoja akan menemui iparnja, ialah Krepa. Setelah mereka tinggal beberapa lamanja di Gadjahoja, suatu hari Druna pergi berdjalan2. la bertemu dengan Pan dawa dan Kurawa jang sedang main ,djor.Gembung (Gembung dibuat dari kain, rupanja bulat, digunakan dalam permainan anak2 jang dinamakan ,djor ) jang digunakan dalam permainan itu masuk kedalam sumur kering. Tak seorangpun diantara para sateria dapat mengambilnja. Karena itu mereka minta tolong kepada resi Druna. Druna menjanggupi. Gembung segera dipanahnja dengan lalang, sehingga dapat dikeluarkan dari dalam sumur. Para sateria amat heran melihat kesaktian dan kepintaran resi Druna. Mereka segera pulang, mengabarkan segala jang telah terdjadi kepada Bisma. Druna memang pandai benar menggunakan sendjata dan mengerti segala rahasianja. Sang Bisma amat suka tjita mendengar sembah para sateria, karena beliau sedang mentjari seorang guru jang benar2 pandai mempergunakan sendjata, Karena itu Druna dipanggil masuk istana untuk mendidik para sateria. Resi Druna sanggup memberi peladjaran, tapi dengan sjarat, bahwa mereka djika telah pandai, tidaklah boleh menolak djika sewaktu2 sang resi membutuhkan pertolongan. Para sateria diam, tak seorangpun mendjawab. Hanja Ardjuna jang menjanggupi permintaan resi itu. Setelah beberapa lamanja beladjar pada resi Druna, pandailah mereka mempergunakan. segala sendjata dan mengerti pula rahasianja. Bima dan Durjudana sangat, pandai

menggunakan gada, Nakula dan Sahadewa pandai menggunakan pedang judistira pandai berperang sambil naik kereta, Aswatama pandai ilmu tenung dan sihir, sedang Ardjuna sangat pandai memanah. Apapun jang dipanahnja tak pernah luput. Pada.suatu malam ketika Ardjuna sedang makan, padamlah pelitanja ditiup angin. la terus makan ditengah gelap. Ketika itu ia berpikir, apa sebabnja makanan jang disuapnja tidak salah masuk? Pertanjaan itu dapat didjawab sendiri, ialah karena kebiasaan. Sedjak itu

11
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


ia melatilh diri memanah waktu malarn.Achirnja latihan itu berhasil baik. Walaupun dalam gelap gulita, djika Ardjuna memanah, selalu mengenai sasarannja. Selain Ardjuna, masih ada lagi murid resi Druna jang pandai memanah, ialah Karna. Demi para sateria selesai dengan peladjarannja, lalu diadakan udjian, disaksikan oleh para radja. Bima diadu dengan Durjudana dengan menggunakan gada. Walaupun tidak sungguh2, tapi keduanja ternjata saling rnengeluarkan kepandaian, sehingga tampaknja benar2 berkelahi hebat. Semua penonton merasa ngeri. Karena itu mereka dipisah. Ardjuna kemudian mendapat giliran untuk udjian memanah. Seblum ia melepaskan anak panahnja, Druna bertanja: Apakah jang kamu lihat selama membidik ? Ardjuna mendjawab : jang Kelihatan hanja sasaran jang hendak kuparah. Maka anak panah itu segera disuruh lepaskan, Benar2 tepat mengenai sasaran, ialah burung2 ketjil jang digantung dan dapat digerak2an. Ardjuna sekaligus melepaskan anak panahnja jang lima buah itu. Semua mengenai sasaran. Karna sangat panas hatinja melihat kepintaran Ardjuna memanah. la segera turut memanah meniru tjara Ardjuna. Dan anak panahpun lima mengenai sasarannja. Setelah itu ia mengadjak Ardjuna perang tanding. Tiba2 Krepa tampil ke muka, bertanja kepada 'Karna, apakah ia putera radja atau radja. Karna putjat mukanja mendengar pertanjaan itu, karena merasa ia bukan putera radja atru radja. Durjudana lalu berdiri dan berkata : Djika jang dibolehkan berlawanan dengan Ardjuna hanja putera radja atau radja, baiklah, Sekarang djuga Karna saja angkat djadi radja di Angga. Karna sangat girang dan, berdjandji akan bersahabat dengan Durjudana. Sedang mereka ramai bertengkar, tiba2 datanglah seorang tua, Adirata namanja, memeluk Karna sebagai ajah memeluk anak sendiri. Demi Bima melihat, bahwa jang memeluk Karna itu Kusir kereta, jaitu Adirata, iapun,madju kemuka dan berkata, tak selajaknja Karna menghadapi Ardjuna, karena Ardjuna keturunan radja dan Karna hanja anak seorang kusir kereta. Tapi Durjudana membela Karna. Selagi mereka ramai berselisih, para penonton bubar, karena hari mulai gelap. Para sateriapun kemudian turut bubar. Suatu hari Druna berkehendak membalas dendam kepada radja Drupada. Para sateria pun lalu dikumpulkan, disuruh menangkap radja itu, sebagai tanda bakti siawa kepada guru. Hari itu djuga para sateria berangkat jang mula2 menjerang ialah Kurawa. Tapi dapat dipukul mundur. Lalu diganti oleh Pandawa. Mereka menjerang dengan dahsjat, Achirnja Drupada tertangkap hidup oleh Ardjuna, lalu diserahkan kepada Druna. Oleh karena,Drupada kalah, maka separoh negeri Pantjala diminta oleh Druna. Batasnja ialah sungai Gangga. Sebelah utara sungai djadi kepunjaan Druna dan jang sebelah Selatan tetap diperintah oleh Drupada. Setelah perang selesai, para sateria pulang ke Hastinapura. Tak lama antaranja Pandawa mengembara setahun lamanja untuk mengerdjakan suatu pekerdjaan utama.

Sepulangnja dari mengembara, radja Drestaratya makin bertambah tjinta kepada Judistira jang berwatak pemberani, adil dan. utama. Karena itu ia akan diangkat naik tachta menggantikan sang Pandu, ajahandanja. 16. PARA PANDAWA PINDAH KE WANAMARTA

12
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


Pandawa merasa bahagia, bahwa Judistira akan didjundjung naik tachta keradjaan. Tapi Durjudana sebaliknja makin iri Djika didengarnja rakjat Hastinapura memudji2 Judistira, makin sakitlah hatinja. la lalu berunding dengan Sakuni dan Karna. Merekapun tidak setudju Judistira djadi radja, Karena itu Durjudana segera menghadap baginda ajahanda, memohon dengan sangat djanganlah Judistira diangkat djadi radja Hastinapura, melainkan dia sendiri. Untuk menghindarkan kesulitan, Pandawa hendaknja dipindahkan ke Wanamarta. Djika ia telah djadi radja, baru Pandawa dipanggiil kembali Mula2 sang Drestaratya menolak permohonan itu, karena Durjudana tidak berhak djadi radja Hastinapura. Jang berhak ialah Judistira. la dinasehati supaja bersatu dengan Pandawa. Ibunja, dewi Gendari, djuga memberi nasehat. Tapi semua itu tidak didengarkan. Bersabdalah dewi Gendari : Hai putera-ku, Djika kamu tidak mau bersatu dengan Pandawa, kelak turunan Kuru tumpas karena perang saudara. Durjudana sedikitpun tak mengindahkan nasehat dan mendesak supaja dinobatkan.Djika tidak ia akan bunuh diri. Oleh karena sang Drestaratya lemah hatinja, achirnja permohonan itu dikabulkan djuga. Durjudanapun, dinobatkam djadi radja di Hastinapura. Pandawa tetap tenang dan sabar, Tapi Kurawa chawatir, kalau2 Pandawa kelak menuntut haknja. Karena itu Panda wa tetap akan dibinasakan. Suatu hari radja Durjudana menitahkan Puratjaja, seorang jang boleh dipertjaja membuat pasanggerahan di Wanamarta untuk Pandawa. Bangunan itu dibuat dari bahan2 jang mudah terbakar. Setelah pasanggerahan djadi, sebagai tipu muslihat, sang Drestaratya menitahkan Pandawa turut serta dalm perdjamuan agama Siwa jang akan diadakan di Wanamarta. Pandawa sebenarnja maklum, bahwa titah sang Drestaratya itu hanja suatu tipu muslihat untuk membinasakannja.Tapi mereka pura2 tidak mengerti. Mereka berpendapat djika Pandawa tidak menurut titah, sang Durjudana tentu mentjari akal jang lain lebih kedjam. Karena itu mereka djalani titah dengan,hati gembira dan selalu waspada. Pada hari jang, ditetapkan, berangkatlah Pandawa ke Wanamarta. Disana mereka

tinggal dipasanggerahan jang telah disediakan oleh Durjudana. Selama di Wanamarta, tiap hari mereka ke hutan untuk mengetahui keadaan disitu. Suatu hari datanglah Kanana, utusan Arja Widura menghadap Judistira. la mengaku disuruh oleh Widura supaja membuat terowongan di dalam tanah mulai itu. dari

pasanggrahan sampai ditengah hutan, serta diterangkannja djuga gu na lobang Para

Pandawa mendengar sembah Kanana demikian amat setuju. Kanana lalu terowongan

mulai bekerdja. Setelah beberapa hari, selesailah terowongan itu. Mulut

jang dalam pasanggerahan ditutup rapi, sehingga siapapun takkan menjangka dalam pasanggrahan ada terowongan,

17. PASANGGERAHAN DIBAKAR OLEH KURAWA Pada suatu malam pasanggerahan dibakar oleh Kurawa. Sekedjap mata api

menjala2 dengan hebatnja. Pandawa be serta ibunda, dewi Kunti, menghindarkan diri dengan djalan masuk terowongan dan keluar didalam hutan. Ketika rumah dibakar, Pandawa sedang kedatangan te tamu enam orang, lima laki2 dan seorang perempuan. Mereka semua mat i terbakar, karena Pandawa tak sempat

membangunkannja. Kurawa demi mendengar pasanggerahan telah terbakar, amat girang dan

13
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


jakin bahwa Pandawa semua mati terbakar. Segera mereka pergi ke Wanamarta dengan hati sangat gembira. Setelah sampai, dilihatnja ada majat 5 laki2 dan seorang perempuan. Mereka memastikan bahwa itulah majat Pandawa. Mereka puas, karena maksudnja tertjapai. Oleh karena jang dianggap musuh itu disangkanja telah binasa, mereka mengadakan pesta besar. Para Pandawa dan ibunja, dewi Kunti, setelah keluar dari lobong, lalu berada ditengah2 hutan disebelah selatan sungai Gangga. Disitu telah disediakan perahu oleh Widura untuk menjeberang. Mereka terus mengembara dengan menderita lapar dan sengsara. Kerapkali mereka terantjam oleh bahaja. Tapi berkat kekuatan, ketabahan dan keberanian Bima, segala bahaja dapat dihindarkan. Djika ada angin besar, ibunja. dipanggul. Djika ibunja dan saudara2nja sedang tidur, Bimalah jang mendjaga, supaja tidak diganggu oleh segala sesuatu. la sangat tjinta kepada saudara2nja dan sangat hormat kepada ibunja. Betapa sedih Pandawa melihat ibu jang sangat ditjintai dan dihormati itu tidur terhantar ditanah, tanpa alas, djika ada angina keanginan, djika hudjan kehudjanan.

18. BIMA KAWIN DENGAN HIDIMBI Pandawa melihat sang ibu sengsara itu, hati mereka bagai diiris2, sehingga tak terasa air mata mereka bertjutjuran. Setelah sampai dibawah pohon beringin jang sangat rindang, berhentilah mereka disitu untuk menghilangkan lelah. Bima terus mentjari air minum untuk ibunja dan saudara2nja jang sangat haus itu. Tak lama kemudian sampailah ia disebuah telaga jang ditumbuthi bunga tandjung. Dengan segera Bima mandi disitu. Selama mandi, ia selalu ingat kepada ibu dan saudara2nja jang ditinggalkan, chawatir kalau2 saudara2 nja mendapat bahaja. Selesai mandi, ia segera pulang membawa air. Demi sampai ditempat semula, didapatinja ibunja dan saudara2nja tidur njenjak la terus berdiri didekat, mendjaga, djangan sampai ada jang mengganggu mereka. Alkisah radja Hidimba jang tinggal dekat tempat Pandawa berhenti, mengetahui ada orang dekat tempatnja itu, lalu menjuruh adiknja perempuan jang bernama Hidimbi untuk membunuh. Hidimbi herangkat. Setelah sampai ditempat Pandawa, dilihatnja Bima sedang berdiri. Melihat pemuda jang perkasa itu, seketika itu djuga ia djatuh tjinta. Supaja dapat bertjakap2 dengan Bima, ia segera berganti rupa djadi puteri manusia jang tjantik molek, Segera dihampirinja Bima dan mentjeritakan kehendak Hidimba akan membunuh mereka. Karena itu ia nasehati Bima supaja membangunkan saudara2nja. Dan ia sanggup imenolong, asal Bima suka memperisteri dia. Bima mendjawab, ia tak mau membangunkan ibu dan saudara2 nja. Keselamatan mereka, ia sendiri jang akan menanggung, takkan diserahkan kepada orang lain. Pendek kata Bima menolak maksud Hidimbi. Selagi mereka bertjakap2, datanglah Hidimba, la amat

marah melihat segala tingkah laku adiknja. Hidimbi beserta Pandawa akan dibunuh. Ia segera mendekati Bima. Terdjadilah pertengkaran mulut jang diachiri dengan perkelahian hebat. Supaja perkelahian itu tidak membangunkan ibu, dan saudara2nja, Hidimba ditangkapnja, kemudian dilemparkan djauh2. Perkelahian makin sengit. Banjak pohon jang roboh. Karena itu dewi Kunti dan putera2nja semua terbangun. Achirnja Hidirnba terbunuh djuga. Hidimbi demi melihat kakaknja telah.mati segera lari mendapatkan dewi Kunti, karena iapun akan dibunuh oleh Bima. Dengan ratap tangis ia mentjeritakan segala ha1 jang terdjadi dan mohon

14
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


perlindungan. Djika tidak dilindungi oleh dewi Kunti, ia tentu akan dibunuh oleh Bima. Dan ia mohon pula supaja dapat djadi isteri Bima, Dewi Kunti melihat wadjah Hid'm'bi jang tjantik molek, merasa kasihan. Beliau berdjandji akan menasehati Bima supaja suka

memperisterinja. Tak lama antaranja sampailah Bima dihadapan ibunja akan membunuh Hidimbi. Tapi kehendak Bima dapat ditjegah oleh dewi Kunti. lbu jang sangat dihormati dan ditjintai itu membudjuk Bima supaja suka memper isteri Hidimbi. Achirnja Bima menurut. Maka terdjadilah perkawinan antara Bima dengan Hidimbi.

19. LAHIRNJA GATOTKATJA Para (Pandawa tinggal beberapa lamanja disitu, sampai Bima memperoleh seorang putera berupa raksasa jang amat gagah berani, dinamakan Gatotkatja. Baji itu sedjak lahir sudah besar dan kekuatannja melebihi kekuatan raksasa2 lainnja. Suatu hari Pandawa akan meneruskan perdjalanan. Tapi Hidimbi dan Gatotkatja tidak turut. Mereka tetap tinggal dinegeri Hidimbi di Pringgadani, ditengah hutan. Sebelum Pandawa berangkat, Gatotkatja berpesan kepada ajahnja, djika ada keperluan, hendaklah ia dipanggil dengan djalan mengheningkan tjipta. Ia akan segera datang. Setelah itu Pandawa meneruskan perdjalanan mengembara dihutan dan menderita sengsara tak terhingga. Setelah Pandawa beberapa lamanja berkelana dirimba2, datanglah begawan Wyasa. Mereka lalu mentjeritakan sebab2nja mereka menderita sengsara, mengembara dalam hutan2. Dewi Kunti mentjeritakan kesedihan hatinja karena perbuatan Kurawa jang dengki. Maka bersabdalah Begawan Wyasa : Hai Kunti dan tjutjuku semua, Djanganlah bersedih hati. Didunia ini tak ada orang jang luput dari sengsara. Bagi Manusia, girang dan susah memang silih berganti. Karena itu djanganlah kamu hiraukan. Dan kunasehatkan supaja sekalian meneruskan perdjalanan kenegeri Ekatjakra. Setelah itu beliau menghilang, pulang kepertapaannja. Pandawa segeram meneruskan perdjalanan menurut petundjuk begawan Wyasa.

20. PARA PANDAWA TINGGAL DI NEGERI EKATJAKRA Setelah sampai di Ekatjakra, mereka menumpang pada seorang berahmana, Selama disitu, tiap hari Bima pergi minta2 seperti para berahmana. Pendapatannja dibagi dua. Jang sebagian untuk diri sendiri dan jang sebagian lagi untuk ibu dan saudaranja. Suatu hari Bima tinggal dirumah dengan ibunja. Waktu itu berahmana jang ditumpangi Pandawa mendapat giliran untuk memberi upeti kepada Baka, radja di negeri itu. Upeti itu beru pa orang seorang dan nasi segerobak. Berkatalah isteri berahmana itu dengan ratapnja. Ja suamiku, Aku telah menetaptan tekad djadi kurban makanan rak sasa demi keselamatan suami dan anak2ku. Kemudian didjawa oleh anaknja jang perempuan : Tidak, ibu, aku telah menetapkan tekad mendjadi kurban raksasa djahanam itu. Aku seorang anak perempuan jang sudah besar.

Sekarang tiba waktunja membalas budi orangtua dengan mengurbankan djiwa raga. Djika ibu atau ajah jang djadi kurban, siapakah jang akan memelihara adikku jang masih ketjil itu? Tetapi kalau saja jang mendjadi kurban, adikku akan terpelihara baik. Itulah sebabnja aku menetap kan

15
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


tekadku mendjadi kurban. Adiknja laki2 jang masih ketjil itupun turut menjatakan bentjinja terhadap raksasa djahat itu. Ketika mereka sedang ramai,membitjarakan hal itu, dewi Kunti mendengar suartangis isteri sang berahmana tadi. Segera beliau masuk dan bertanja, mengapa ia menangis. Setelah mendengar djawban dan sebab2nja berkatalah dewi Kunti dengan lemah lembut : Djanganlah adik bersedih hati. Seorang diantara anak2 aku, pasti dapat menolong. Kemudian Dewi Kunti keluar, dan mendapatkan putranja, sang Bima. Segala hal ichwal jang terdjadi dengan keluarga sang berahmana ditjeritakan, kepada Bima jang dititahkan menolong. Bimasangat girang. Ia berdjandji akan. menghantjurkan raksasa jang kedjam itu. Esoknja berangkatlah Bima menudju kediaman raksasa Baka, sambil_mendorong gerobak berisi nasi, Sesampainja didepan raksasa itu, nasi tadi bukan diberikannja melainkan dimakannja sendiri. Tentu sadja radja Baka sangat marah, sehingga terdjadilah perkelahian jang amat seru. Achirnja radja itu mati terbunuh. Bima segera pulang kerumah berahmana mendapatkan ibunja.dan saudara2nja, mentjeritakan segala jang telah terdjadi.

21. PARA PANDAWA MENEMPUH SAJEMBARA Setelah Pandawa. beberapa lamanja di Ekatjakra suatu hari datanglah seorang berahmana, Berahmana itu mentjeritakan tentang radja Drupada jang separoh negerinja direbut oleh resi Druna. Begini tjeritera itu Radja Drupada ( ingin sekali mempunjai putera jang sakti, jang dapat mengalahkan resi Druna. Karena itu baginda membuat sesadji untuk para dewa. Sewaktu upatjara sesadji, datanglah seorang berahmana memberi nasehat kepada permaisuri baginda supaja makan mentega sesadji, Sang permaisuri mendjawab, bahwa beliau belum

menjediakan mentega. Sang berahmana segera menuangkan menteganja dalam api. Tak lama, keluarlah dari api itu seorang anak. laki2 jang sudab dewasa, pakai mahkota dan memegang sendjata. Lalu terdengar suara bahwa anak itulah kelak jang dapat membunuh resi Druna. Anak itu dinamakan Drestadyumna. Orang2 jang hadir semua heran melihat keadjaiban_itu. Tak lama antaranja keluar pula dari tempat sesadji itu seorang gadis ketjil jang tjantik. Lalu terdengar pula bahwa anak itu kelak akan djadi wanita utarna jang tak ada bandingannja dan akan menjebabkan matinja sedjumlah sateria. Karena kulitnja hitam manis, gadis itu dinamakan dewi Kresna (dewi Drupadi). Dan ditjeritakan pula, bahwa dewi Drupadi sekarang telah dewasa, Untuk menentukan djodohnja, radja Drupada mengadakan sajembara. Sehabis bertjerita sang berahmana segera minta diri pulang kepertapaannja. Tak lama kemudian datanglah begawan Wyasa. Beliau menasehatkan supaja Pandawa pergi ke Pantjala untuk turut sayembara. Diterangkannja, bahwa dewi Drupadi pada masa2 hidupnja jang lalu, memohon kepada dewa supaja dianugerahi djodoh sateria utama Permohonan demikian diulangi hingga hidupnja Tana kelima kali, Karena itu Drupadi kelak akan mempunjai djodoh lima orang sateria utama. Setelah itu Wyasa segera pulang kepertapaannja, esok harinja Pandawa berangkat ke Pantjala. Siang malam mereka berdjalan supaja tidak terlambat datang. Pada malaim hari bertemulah para Pandawa denaan seorang gandarwa (sebangsa dewa ) ditengah djalan, namanja Tjitrarata. la menasehatkan supaja Pandawa mendapatkan begawan Domya dipertapaan Utkatjakatirta untuk memohon supaja sang begawan mau mengantarkan mereka ke Pantjala dan mengakui Pandawa sebagai siswa. Dengan senang hati para Pandawa menurut petundjuk itu. Setelah sampai di Utkatjakatirta mereka segera menemui sang begawan dan

16
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


mentjeritakan maksudnja. Begawan Domya mengabulkan permintaan itu. Mereka lalu berangkat ke Pantjala. Sjahdan radja Drupada sedang mengadakan sajembara. Baginda mempunjai busur pusaka jang amat Sakti. Tak seorangpun dapat menarik. Busur itulah digunakan untuk sajembara memanah. Barangsiapa jang dapat menariknja dan djadi djodoh dewi Drupadi Tapi walaupun ia telah menang melepaskan anak panah hingga tepat mengenai sasaran, akan dalam sajembara masih akan dipilih lagi oleh sang dewi. Banjak radja2 dan sateria turut sajembara itu. Diantaranja Kurawa dan Karna. Pandawa menjamar sebagai berahmana dan berkumpul dengan para penonton. Setelah dekat waktunja

sajembara dimulai, berkumpullah para radja dan sateria disalah satu ruangan untuk didjamu. Dewi Drupadi datang berserta karangan bunga jang akan dikalungkan kepada pemenang. Setelah perdjamuan selesai, para radja dan sateria segera diadjak ketempat sajembara. Masing2 mentjoba menarik busur itu. Tapi tak seorangpun jang berhasil. Ketika sampai giilirannja adipati Karna segera madju kedepan. Waktu ia mengangkat busur, berteriaklah Dewi Drupadi : Anak kusir kereta, aku tak mau. Dengan kemalu2an Karna mengundurkan diri. Para radja dan sateria semua telah mendapat giliran. Tapi tak seorangpun jang berhasil. Sekarana giliran para berahmana janq madju lebih dahulu ialah Ardjuna. Para radia dan sateria tak senang melihat seorang berahmana ikut serta. Ardjuna tanmpil kemuka dengan tidak gentar. Busur segera diambil ditariknja dengan mudah lalu dibidikan ke sasaran. Tak lama antaranja terdengarlah sorak gemuruh, tanda anak panah mangenai sasaran. Drupadi amat girang setelah tahu sajembara dimenangkan oleh seorang berahmana jang muda teruna dan tampan la segera mendapatkan Ardjuna untuk mengalungkan karangan bunga dilehernja dan kemudian keluar bersama2 dari tempat sajembara itu. Para radja dan sateria demikian pula para penocnton semua heran melihat kesaktian dan kepandaian Ardjuna memanah. Radja Drupada tahu sajembara dimenangkan seorang berahmana jang muda dan tampan, lenjaplah kehendaknja menolak seorang berahmana sebagai menantu. Oleh karena baginda berkenan mempunjai menantu seorang berahmana tadi, maka para radja dan sateria sangat marah. Mereka mengamuk, sehingga terdjadilah perang besar. Achirnja musuh dikalahkan oleh Pandawa. Dewi Drupadi segera dibawa oleh Ardjuna menghadap dewi Kunti. Setelah Pandawa berkumpul dihadapan ibunja, Judistira berdatang sembah : Ja ibuku , Karena doa ibu, sajembara telah dimenangkan oleh adikku Ardjuna, Dan sekarana,djuga dewi Drupadi menghadap ibu. Menurut sabda sang Wyasa, dewi itu akan bersuamikan lima orang sebagai, anugerah dewa. Sedjak hidupnja jang pertama kali, sehingga jang kelima kali ini ia memohon kepada dewa supaja dianugerahi djodoh jang utarna dan sakti.. Maka sekarang inilah datangnja anugerah dewa. Dewi -Kunti sangat airang dan setudju apa jang dikatakan .oleh puteranja. Walaupun is baru sadja melihat wadjah Drupadi tapi senangnja tak ubah dengan tjinta terhadap putera sendiri. Sedjak itu Drupadi djadi isteri Pandawa. Sang Kresna radja bangsa Jadawa dan sang Baladewa, kakaknja djuga turut sajembara. Setelah mengerti, bahwa jana menang dalam sajembara itu Ardjuna jang menjamar djadi

17
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


berahmana maka segera menemui Pandawa Kresna menerangkan beliau itu masih saudara keturunan dengan Pandawa. Sedjak itu mengertilah Pandawa bahwa sang Kresna masih saudara mereka. Sang Drestadymna pun datang ditempat Pandawa dan mengintip dari luar untuk menjelidiki siapa sebenarnja berahmana pemenang sajembara itu. Karena tjerdiknja, dapat djuga ia keterangan, bahwa berahmana itu sebenarnja Ardjuna. Buru2 ia pulang menghadap ajahanda baginda. Setelah radja Drupada mendengar keterangan, Drestadyumna, bahwa brahmana jang menang sajembara itu sebenarnja sang Ardjuna, baginda sangat bersukatjita, Memang Ardjunalah jang diharap2nja djadi menantu. Esok harinja Pandawa dipanggi1 oleh baginda. Setelah mereka menghadap, baginda lalu bersabda, melahirkan kegirangannja, bahwa jang mendapat sajembara itu Ardjuna. Ardjuna berdatang sembah, menerangkan bahwa dewi Drupadi itu sebenarija djadi isteri Pandawa lima. Baginda sangat terkedjut mendengar keterangan Ardjuna demikian, karena tak disangka2nja puterinja akan djadi Isteri kelima sateria itu. Dan belum pernah terdjadi seorang wanita mempuinjai suami 5 orang. Umumnja:laki2lah jang mempunjai isteri lebih dari seorang. Karena itu baginda tak setudju. Ketika mereka membitjarakan hal itu, tiba2 datanglah begawan Wyasa. Beliau menerangkan sebab2nja dewi Drupadi harus bersuami lima orang. Ketika mendengar keterangan begawan Wyasa barulah radja Drupada setudju puteranja diperisteri Pandawa lima ( Dalam pedalangan, dewi Drupadi itu hanja djadi isteri radja Judistira sendiri dan memperoleh putera 1aki2 seorang,

dinamakan Pantjawala. Sebabnja demikian, karena dipandang kurang baik, seorang wanita bersuamikan lima orang, melanggar kesusilaan ). Tak lama antaranja datang pula Hjang Narada. Beliau djuga memberi keterangan.jang serupa. Sekarang tjita2 baginda bermenantukan Ardjuna telah tertjapai. Beliau lalu mengadakan pesta besar2an. Setelah dewi Drupadi diperisteri Pandawa lima, mereka lalu mengadakan perdjandjian supaja tidak terdjadi hal jang tak diinginkan. Perdjandjian itu menetapkan, bahwa mereka harus berganti2 mendekati dewi Drupadi itu. Mula2 Judistira, lalu Bima, Ardjuna, Nakula dan, jang palling achir Sahadewa. Dan jang melihat dewi Drupadi sedang duduk2 dengan salah seorang saudaranja, harus membuang diri dalam hutan 10 tahun lamanja. Perdjandjian itu disaksikan oleh Hjang Narada dan begawan: Wyasa. 22, PARA PANDAWA MEMBUKA HUTAN KANDAWAPRASTA Setelah Pandawa beberapa lamanja dinegeri Pantjala, tersiar kabar, bahwa mereka masih hidup. Durjudana makin panas hatinja. Lebih2 mendengar Ardjuna menang sajembara di Pantjala. Telah terpikir olehnja, setelah Pandawa djadi menantu radja Drupada, tentu akan terwudjud persatuan jang kokoh antara Pantjala dan bangsa Jadawa, dan ini achirnja dapat memperkokoh kedudukan Pandawa. Karena itu Durjudana makin giat berdaja upaja membinasakan Pandawa, sebelum persatuan berdjalan sebaik2nja. Adipati Karna mengusulkan berperang. Tapi Bisma, Widura dan Druna tak setudju. Mereka menasehatkan supaja separoh Hastinapura diberikan kepada Pandawa. Sang Drestaratya setudju. Karena itu Pandawa lalu dipanggil ke Hastinapura dan diberi padang Kandawaprasta. Achirnja padang itu dibuka mendjadi negeri oleh Pandawa dan dinamakan Indraprasta. Makin lama negeri itu makin besar, makin makmur, Disitulah Pandawa hidup tenteram. Karena desakan saudara2nja dan disokong oleh segenap rakjat, Judistira diangkat djadi radja. Sebenarnja

18
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


Judistira tidak mau, tapi karena dipaksa, achirnja bersedia. Dewi Drupadi dengan Pandawa mendapat lima putera, jakni 1. Dengan Judistira :Srutakarma. 2. Dengan Bima : Srutasena. 3. Dengan Ardjuna: Pratiwindya, 4. Dengan Nakula : Satanika. 5. Dengan Sahadewa : Prasani,

IV PARA PANDAWA DI INDRAPRASTA

23. ARDJUNA MENGHUKUM DIRI Pandawa sekarang tinggal di Indraprasta dengan tenteram. Perdjandjian tentangg memiliki dewi Drupadi, mereka pegang teguh. Walaupun amat berat, tapi mereka djalakan sebaik2nja. Suatu hari seorang berahmana datang menghadap Ardjuna. Beliau melaporkan semua ternaknja ditjuri orang. Ia merasa kurang.senang, bahwa, ditempat kediamannja tidak terdjamin keamanan. Ardjuna merasa malu mendengar laporan itu. la ingin segera mengedjar pentjuri itu. Akan tetapi debih dulu ia hendak mengambil sendjatanja jang disimpan dikamar sendjata. Ketika ia masuk kekamar itu, dewi Drupadi sedang duduk2 disitu dengan radja Judistira, Pikirannja djadi bingung. Apakah ia harus menetapi kewadjibannja sebagai sateria atau tidak. Djika diitepatinja, terpaksa ia harus mengganggu saudaranja jang sedang duduk dengan dewi Drupadi. Tetap setelah itu is harus menjiksa diri dihutan 10 tahun lamanja. Sebagai seorang sateria is merasa malu tak dapat mendjamin keselamatan negerinja. Agak lama djuga ja berpikir. Achirnja ia memutuskan akan menepati kewadjibannja sebagai sateria dengan tak segan menjiksa diri sebagai hukumannja. la segera masuk kamar mengambil sendjatanja, kemudian keluar mengedjar pentjuri hewan itu. Tak lama antaranja pentjuri itu tertangkap. Hewannja dikembalikan kepada sang berahmana. Ardjuna segera menghadap Judistira, menerangkan bahwa ia telah melanggar perdjandjian, jakni menganggu kakaknja jang sedang duduk bersama Drupadi. Dan ia mentjeriterakan semua hal ichwalnja. Walaupun demikian ia merasa berdosa, Karena itu is mohon izin menjiksa diri selama 10 tahun. Wa1aupun radja Judistira telah memberi ampun karena perbuatan itu terpaksa oleh keadaan, tapi Ardjuna memegang teguh djandjinja. Iapun berangkat masuk hutan.

24. ARDJUNA KAWIN DENGAN DEWI SUBADRA Selama Ardjuna dalam hutan, ia pernalh mengundjungi Batara Kresna di Dwaraka. Ia diterima dengan penuh kegembiraan. Kebetulan ketika itu digunung Raiwataka sedang diadakan keramaian besar. Banjak pembesar datang berkundjung Begitu pula Baladewa, Kresna dan Subadra, adiknja Kresna naik kereta bersama Ardjuna. Waktu itulah Ardjuna pertama kali bertemu dengan Subadra jang tjantik. Ardjuna tertarik kepadanja. Kresna mengerti jang tersimpan dalam hati Ardjuna. Beliau lalu menerangkan, bahwa untuk menentukan djodoh Subadra, akan dipilih seorang sateria jang sakti dan gagah berani. Ardjuna amat sukatjita mendengar sabda Batara Kresna. la lalu melahirkan rasja hatinja. Dengan persetudjuan Kresna, Subudra akan dilarikan, Maka peristiwa itu

19
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


terdjadi ketika Subadra pulang dari Raiwataka dengan naik kereta. Ketika kereta ditengah perdjanan, tiba2 naiklah Ardjuna dan kereta terus ia larikan sekentjang2nja. Demi bangsa Jadawa mendengar Subadra dilarikan Ardjuina, merekapun sangat marah. Terutama Baladewa. Ardjuna pasti akan dikedjarnja. Kresna jang mengenal watak Baladewa, Ialu berkata Ja kakakku jang sangat hamba hormati Bangsa Jadu memang tak membiarkan anak atau saudaranja perernpuan diperlakukan seperti binatang atau budak belian. Idam2nja ialah djodoh jang berwatak sateria. Idaman kitapun demikian, ialah dengan djalan mengadakan sajembara. Tapi sajembara itu selalu ditunda sadja. Baru sekaranglah dibukt kan oleh Ardjuna jika Ardjuna bukan sateria utama, tak mungkin ia berani melarikan adikku Subadra Karena itu baiklah Ardjuna dipanggil kembali, dan dikawinkan dengan Subadra. Mendengar itu, Baladewa djadi lemah lalu mernuruti kehendak Kresna. Ardjuna segera dipanggil kembali. Sehabis kawin Ardjuna pulang kehutan, melandjutkan penjiksaan diri. Setelah genap 10 tahun dihutan iapun pulang ke Indraprasta beserta isterinja diantar oleh Baladewa, Kresna dan lain2nja. Setelah beberapa hari di Indraprasta, Baladewa lalu minta diri pulang. Hanja Kresna jang masih tinggal di Indraprasta. Ardjuna merdapat putera dengan dewi Subadra dinamakan Abimanju. Oleh karena Ardjuna kawin dengan Subadra, makin eratlah hubungan darah Jadu dan Pandawa.

25. HJANG AGNI MINTA TOLONG KEPADA ARDJUNA DAN UNTUK MEMBAKAR HUTAN KANDAWA

KRESNA

Suatu hari pergilah Kresna dan Ardjuna bertamasja kesurngai Dja muna. Selagi mereka duduk2, datanglah Hjang Agni (dewa api), menjamar sebagai berahmana, minta tolong membakar hutan Kandawa, jang dilindungi oleh Hjang Indra, karena is hendak mengambil latamausadi (Bangsa tumbuh2an. ) jang tumbuh disitu ia menerangkan telah mendapat titah Hjang Brahma untuk minta tolong kepada sang Nara (Sang Nara = Ardjuna, karena Ardjuna itu pendjelma Sang Nara. Sang - Narajana = Kresna, karena pendjelmaan Sang Narajana ) dan sang Narajana Ardjuna mendjawab, ia tak punja sendjata sakti dan kereta jang tjepat. Kresnapun tak punja sendjata sakti, Mereka sanggup mebakar hutan itu, djika punja sendjata tersebut. Hjang Agini sanggup memberi sendjata sakti. Seketika itu djuga beliau

mengheningkan tjipta memanggi1 Hjang Waruna (Baruna), dewa air. Tak lama antaranja datanglah Hjang Agni minta jang dengan sangat Ardjuna supaja dan Hjang Waruna Hjang suka

menganugerahi

sendjata

dibutuhkan

Kresna.

Waruna

menjanggupi. Ardjuna dianugerahi busur jang bernama Gandewa dan berkas anak panah jang tak habis2 dan sekawan kuda putih beserta keretanja, sangat indah. pakai umbul2 berlukiskan, kera sebagai simbul. Kresna dianugerahi sendjata Tjakra dan Gada jang amat Sakti. Setelah menerima sendjata, mereka segera berangkat ke hutan Kandawa, diiringkan oleh Hjang Agni. Setelah sampai mulailah Hjang Agni membakar hutan itu, Kresna dan Ardjunana siap dengan sendjata saktinja membunuh binatang2 jang akan memadamkan api. Maka terdjadilah perang hebat antara binatang2 dengan Kresna dan Ardjuna. Sebenarnja binatang2 itu utusan Hjang Indra, karena hutan itu dilindungi oleh

20
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


beiiau. Sebab itu oanjak dewa membantu binatang 2 itu.

26. MAJA MEMBUAT KERATON DI INDRAPRASTA Ada seorang raksasa bernama Maja, serimala jang amat tersohor kepintr:raninja, telah ditolong oleh Ardjuna la diampuni dan tidak dibunuh. Sebagai terima kasih, ia berdjandji akan membuatkan keraton jang amat indah untuk radja Judistra, Dalam 15 hari hutan itu telah habis terbakar. Tak sebatang pohonpun jang masih tum,buh. Walaupun api sa,agat hebatr.ja, tapi hanja enam ekor binatang jang mati lter'bakar. Selesai pekerdjaan itu, datanglah Hjang Indra. Beliau sangat girang melihat ketjakapan dar.; keberaniaii Ardjuna dan Kresna. Ardjuna berdatang sembah, mohon dianugerahi sendjata. Hjang Indra mendjawab : Hai Ardjuna , Djika kamu telah dapat bersua dengan Hjang Maha Dewa, kamu akan dianugerahi sendjata. Kresna mohon Ardjuna seterusnja sebagai saudara. Hjang Indra mengabulkan permohonan itu. Setelah Hjang Indra pulang kekejangan. Kresna dan Ardjuna pulang ke Indraprasta, Djandji Maja untuk membuat keraton terindah, telah ditepati. Tak ada jang menjamai keindahan keraton Indraprasta. Suatu hari Judistira berunding dengan Kresna tentang mengadakan selamatan untuk kemuliaan keraton. Kresna setudju, tetapi negeri2 tetangga jang sering merampas negeri lain harus ditaklukkan lebih dahulu. Bila negeri-negeri itu teIah takluk, barulah diadakan selamatan. Nasehat Kresa diterima baik oleh Pandawa. Mereka menaklukkan negeri2 sekeliling. Ardjuna menaklukkan negeri sebelah Utara, Bima sebelah timur, Sahadewa sebelah selatan dan Nakula sebelah barat. Setelah, takluk semua, lalu diadakan selamatan untuk kemuliaan keraton.Banjak radja2 jang datang. Pun para Kurawa. Setelath perdjamuan selesai, para radja pulang kenegeri masing2 hanja Durjudana dan pamannja Sakuni jang masih tinggal di Indraprasta, ingin melihat2 keindahan keratin. Durjudana terheran2. Keindahan keraton Hastinapura tak sampai separoh keindahan keraton Indraprasta. Karena itu is sangat iri hati. Selama tinggal di Indraprasta, Durjudana sering mendapat malu. Lantai jang berkilau2an, disangkanja kolam. Ketika akan mandi, barulah beliau mengerti bahwa jang disangka kolam sebenarnja lantai. Sebaliknja, kolam jang sebenarnja disangkanja lantai jang berkilau2an. Tentu sadja tatkala berdjalan, jang disangkanja lantai itu, beliau djatuh kedalam kolam sampai basah kujup. Bima dan Ardjuna melihat kedjadian demikian lalu menghiburnja supaja djangan merasa malu. Dengan rasa malu Durjudana dan Sakuni achirnja minta diri pulang ke Hastinapura, 27. RADJA JUDISTIRA KALAH MAIN DADU Durjudana selalu ingat ketika mendapat malu di keraton Indraprasta dan merasa iri karena radja Judistira mempunjai istana jang demikian indah. Keindahan keraton itu menambah bentji Kurawa kepada Pandawa. Walaupuin segala tipu muslihat telah didjalankan untuk membinasakan Pandawa selalu gagal, beliau terus akan berusaha hingga tjita2nja tertjapai. Waktu itu beliau belum mendapat akal lagi. Karena itu beliau berunding dengan Sakuni, Beliau menjatakan akan bunuh diri, djika tak dapat melenjapkan Pandawa dari muka bumi Sakuni mentjoba menghibur Durjudana. Ia menerangkan bahwa Pandawa tak dapat dimusnakan dengan djalan perang. Karena itu harus ditempuh djalan tipu muslihat. Ia tahu para putera dewi Kunti gemar berdjudi. Dan is merasa lebih pandai dari pada para Pandawa,

21
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


dalam hal main dadu. Diusulkannja kepada Durjudana, supaja mengundang Pandawa untuk berdjudi dengan taruhan. Durjudana setudju usul Sakuni itu. Beliau lalu menghadap ajahanda sang Drestaratya untuk mohon izin mengundang Judistira berdjudi dengan taruhan. Mula2 sang Drestaratya tak rnengizinkan. Durjudana dititahkan berunding dengan Widura. Tapi ia menolak karena tahu Widura tentu akan memihak Pandawa. Karena itu ia mendesak supaja permohonannja dikabulkan. Achirnja dikabulkan djuga. Sang Drestaratya seorang jang tak mempunjai pendirian tetap. Beliau memanggil Widura jang datang menghadap. Sang Drestaratya la1u menguraikan maksud Durjudana dan menitahkan mengundang Judistira. Widura berdatang sembah, menerangkan bahwa permainan dadu itu akan mendatangkan malapetaka jang tak terhingga. Karena itu ia sangat tidak setudju. Sang Drestaratya bersabda bahwa beliau tak dapat menolak permohonan Durjudana. Tentang apa jang terdjadi dikemudian hari terserah kepada dewa, Widura terpaksa ke Indraprasta untuk memanggil Judistira. Judistira mendapat undaingan demikian seberiarnja tidak setudju.Tapi karena ditantang, achirnja ia berangkat djuga. Dewi Drupadi dan semua adiknja turut ke Hastinapura.

Setelah sampai mereka diterima dengan gembira. Esok harinja permainan dadu dimulai. Paandawa memasuki sebuah ruangan jang telah disediakan. Disitu Kurawa telah menanti. Permainanpun dimulai dipimpin oleh Sakuni. judistira kalah. Segala kekajaannja berupa : kereta, gadjah, kuda dan semua budak beliau laki2 dan Perempuan, telah habis dipertaruhkan. Arja dihentikan, Widura karena berdatang akan sembah kepada sang Durjudana, mohon permainan marah

mendatangkan

kesengsaraan.

Durjudana

sangat

mendengar sembah Arja Widura, jang didakwa memihak Pandawa. Permainan berdjalan terus. Arja sakuni bertanja kepada Judistira dengan edjekan apakah jang akan

dipertaruhkan lagi. Terdorong oleh hawa nafsu, Judistira telah mempertaruhkan segala kekajaannja : kerbau, sapi dan negerinja. Maiah diri sendira Judistra kalah pula. Aria Sakuni mengerti Judistira sudah tak punja sesuatu lagi untuk dipertaruhkan. Kemudiaan timbul maksudnja hendak menghina radja itu. ia berkata, Judistira masih punja seorang wanita jang sangat ditjintai, ialah dewi Drupadi. Dan di mintanja dewi itu dipertaruhkan djuga. Dewi Drupadi lalu dipertaruhkan, sehingga orang2 jang berada disitu semua terkedjut, karena tak disangka2nja sampai demikian. Judistira sudah habis2an, tak punja barang sesuatu. Sed-ng saudara2nja, dewi Drupadi dan badannja sen diri sudah mendjadi hak Kurawa, Radja Durjudana sangat girang melihat keadaan demikian, karena tjita2nja akan tertjapai. Sambil tertawa2 disuruhnja Arja Widuara memanggil dewi Drupadi jang hendak didjadikan, budakk beliau dan akan disuruh menjapu kamar dan lain. dan adiknja djuga. Kali ini

28. DEWI DRUPADI DIHELA SEBAGAI BINATANG

22
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


Arya Widura menasehati, djika maksud buruk itu diteruskan, pasti bangsa Kuru akan terdjerumus kedalam djurang kehinaan. Lalu bertanja kepada semua jang hadir: Apakah sudah semestinja dewi Drupadi didjadikan budak belian? Ka rena sebelum sang dewi dipertaruhkan, Judistira djadi milik Kurawa. Djadi mulai waktu itu Judistira_sudah tidak punja hak lagi atas diri dewi Drupadi. Karena itu tidak sah Judistira mempertaruhkan dewi itu. Tapi Durjudana tidak memperdulikan perkataan Arja. Widura tadi. Beliau menjuruh orang lain memanggil dewi Drupadi. Tapi dewi itu tak mau datang. Durjudana menjuruh Dussasana (Dursasana). Dan dipesan, djika dewi Drupadi tidak menurut, harus didjalankan kekerasan. Dursasana segera berangkat. Tetapi dewi Drupadi tetap menolak, tidak mau datang. Dussasana lalu mmempergunakan kekerasan. Dewi Drupadi direnggut rambutnja,

ditariknja, kemudian dihela seperti binatang, masuk ruangan djudi. Setelah dewi Drupadi sampai, Judistira memperingatkan Kurawa supaja djangan sewenang2 terhadap seorang wanita. Banjak nasehat Judistira kepada Kurawa. Ka rena beliau sedang bingung, nasehat itu kurang djelas, se hingga tak dapat menarik hati Kurawa. Mereka terus berbuat sewenang2 terhadap dewi Drupadi. Demi Bima melihat keadaan demikian, ia sangat marah kepada Judistira. Menurut anggapannja, sebab2nja dewi Drupadi diperlakukan sewenang2 ialah salah Judistira, jang telah mempertaruhkan seorang wanita dalam perdjudian. Karena sangat marahnja, tangan kakaknja hendak dibakarnja. Ardjuna memperingatkan Bima, bahwa tidak selajaknja marah kepada kakak, jang wadjib dihormati. Achirnja Bima reda marahnja. Adipati Karna berkata, bahwa jang telah dipertaruhkan

sudah djadi milik Kurawa, karena mereka jang Pandawa djadi hak milik Kurawa.

menang. Pakaian jang sedang dipakai

Para Pandawa mendengar utjapan demikian segera menanggalkan pakaian tinggallah penutup kemaluan sadja. Dussasana menarik kain dewi Drupadi. Dengan pertolongan Hjang Wisnu, dewi itu tak sampai telandjang Tiap kali pakaiannja ditarik, ia telah berpakaian baru pula. Kekedjaman ituberulang2 sehingga sang dewi tak dapat ditelandjangi. Melihat kedjadian itu, Bima lalu berkata : Aku tak mau berkumpul dengan leluhurku, sebelum dapat merobek2 dada Dussasana dan minum darahnja. Dewi Drupadi pun bersumpah takkan berkumpul dengan turunan Kuru sebelum berkeramas dengan darah Dussasana. Orang2 jang mendengar semua takut dan ngeri. Arja Widura tak dapat berbuat apa2 Sedang Bisma tak dapat memberi putusan jang adil,

karena Kurawa tak mau diadili, mereka berbuat sekehendaknja, tak mengindahkan putusan pengadilan. Durjudana bersikap tjongkak sekali. ia menjingkap kain dan paha kirinja

disinggungkan kepunggung dewi Drupadi sambil mengedjek, Melihatat tingkah laku Durjudana jang sombong iu, Bima sangat marah dan berkata pula : Aku takkan berkumpul dengan leluhurku sebelum dapat menghantjurkan paha kiri Durjudana dengan gada. Sehabis ia berkata demikian, terdengarlah suara serigala mengaum, serta banjak lagi alamat tak baik. Dewi Drupadi selalu berdaja upaja supaja sang Drestaratya menaruh kasihan

23
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


kepadanja. Usaha itu tertjapai djuga. Buktinja sang Drestaratya memperkenankan dewi itu mengadjukan dua permohonan, jang segera akan dikabulkan. Kesempatan ini digunakan sebaik2nja oleh sang dewi. Ia segera mengadjukan dua permohonan 1. Mohon supaja Judstira dibebaskan. 2. Mohon supaja Pandawa jang lainpun dibebaskan djuga. Kedua permohonan itu dikabulkan. Dewi Drupadi diperkenankan mengadjukan sebuah permohonan lagi, tetapi tak ada jang dimintanja lagi, karena Pandawa telah dibebaskan. Hal lain dianggapnja tidak penting, Adipati Karna berkata seraja mengedjek, bahwa dewi Drupadi boleh diumpamakan sebuah perahu jang dapat membawa Pandawa ketempat jang dikehendaki. Bima sangat marah, hendak mengamuk negeri Hastina pura hendak diobrak-abrik, tapi dapat ditjegah oleh Judistira dan Ardjuna. Atas kebidjaksanaan sang Drestaratya, Indraprasta dan segala kekajaan jang dipertaruhkan dikembalikan, kepada Pandawa. Setelah mengutjapkan terima kasih, para Pandawa lalu mohon pulang ke Indraprasta. Sekarang tahulah Kurawa, permainan dadu itu muslihat paling djitu untuk mendjatuhkan. nama baik Pandawa dan mungkin djuga untuk mernbinasakannja. Karena itu mereka barmaksud sekali iagi mengadakan permainan djudi dengan Pandawa.

29. PERMAINAN DADU JANG KEDUA KALINJA Sjahdan selang beberapa lamanja, suatu hari Durjudana, Dussasara dan Sakuni menghadap sang Drestaratya, mohon izin sekali lagi mengadakan permainan dadu dengan Pandawa. Sekali ini tanpa taruhan harta benda. Taruhanja hanja berupa hukuman. Jang kalah harus membuang diri dihutan 12 tahun lamanja. Pada tahun ketigabelas, harus bersembunji disalah sebuah negeri dengan menjamar. Pada tahun keempatbelas, baru boleh pulang kenegeri sendiri. Tapi djika selama bersembunji itu dapat ditemukan oleh jang menang, mereka harus mengulangi hutkuman buang diri dihutan seperti jang sudah. Permohonan itu dikabulkan oleh Drestaratya. Dewi Gendari, isteri Drestaratya, berusaha sekeras2nja supaja permohonan itu tidak dikabulkan. Akan tetapi sia - sia belaka. Sang Drestaratya tetap mengizinkan. Suatu hari Durjudana mengirim utusan ke Indraprasta, mengundang Judistira untuk main dadu tanpa taruhan harta Benda. Radja Judistira menerima, walaupun mengerti benar bagaimana akibatnja. Tapi ia tak dapat menampik , karena malu menolak suatu tantangan. Baginda dan para saudaranja, begitu pula dewi Drupadi, segera berangkat ke Hastinapura Setelah mereka sampai dinegeri Hastinapura, esok harinja mulailah permainan dadu. Sebelum permainan dimulai, Durjudana mengadakan perdjandjiaan seperti tersebut diatas.

24
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


Setelah perdjandjian disetudjui oleh Judistira, permainan lalu dimulai. Kali ini Judistira kalah pula. Beliau dan saudara2 nja beserta dewi Drupadi, harus membuang diri dalam hutan selama 12 tahun dan pada tahun ketigabelas hrus bersembunji dalam sebuah negeri. Para Kurawa girang, karena jakin tjita2nja akan tertjapai lalu tak segan2 mengeluarkan kata2, jang tidak patut. Terutama Durjudana dan Dussasana. Mereka selalu mengedjek. Bima sangat marah mendengar edjekan itu. Terhamburlah kata2nja jang mengandung dendam, serta dikutuknja perbuatan2 busuk Kurawa. Pandawa jang lain pun demikian. Ardjuna mengantjam akan membunuh Karna dalam peperangan. Sahadewa akan membunuh Sakuni. Nakula akan membunuh sisa putera sang Drestaratya jang masih hidup. Para Pandawa lalu bermohon diri kepada sang Drestaratya, Bisma dan djuga kepada Kurawa dengan perkataan lemah lcmbut dan muka berseri2, dengan hormatnja. Lebih2 kepada Aria Widura jang tjinta kepada Pandawa. Dewi Kunti dititipkan kepada Widura, Tapi dewi itu tak mau berpisah dengan Pandawa ia akan turut sehidup semati dengan mereka.

V. MENDJALANI HUKUMAN SELAMA 12 TAHUN 30. PARA PANDAWA MASUK HUTAN Ketika Pandawa berangkat mereka hanja berpakaian kulit kaju sekedar penutup kemaluan Banjak rakjat Hastinapura jang turut, sehingga susah bagi Judistira untuk menasehati mereka supaja mau pulang ke Hastinapura. Berkat nasehat Judistira, achirnja orang2 itu mau djuga pulang, walaupun dengan hati jang amat sedih. Jang terus ikut hanja tinggal para berahmana sadja jang djumlahnja tidak sedikit. Judistira bingung, bagaimana akal menanggung penghidupan para berahmana itu. Salah seorang mereka menasehatkan supaja Judistira memohon kepada dewa matahari agar dikaruniai redjeki untuk memberi makan para berahmana. Nasehat itu diturut oleh Judistira dan ternjata permohonannja terkabul. Beliau dianugerahi periuk jang dapat tiada putus2nja memberi makan kepada berahmana. Tiap waktu makan, berahmana disuruh makan lebih dahulu. Kemudian para Pandawa jang paling achir dewi Drupadi. Perdjalanan Pandawa dan para berahmana tadi terus menudju kearah utara. Setelah Pandawa meninggalkan Hastinapura, sang Destaratya suatu hari berunding dengan Arja Widura tentang tjara menghentikan maksud Kurawa hendak rnerusak Pandawa. Arja Widura berdatang sembah, mohon Kurawa dan Pandawa didamaikan, dipersatukan. Tapi perdamaian dan persatuan hanja dapat terlaksana bila Durjudana diasingkan. Adapun Durjudanalah biang keladi pertjeraian dan permusuhan. Mendengar sembah Arja Widura, sang Drestaratya sangat murka. Widura dianggapnja berat sebelah, memihak Pandawa dan bentji kepada Kurawa, djadi bentji kepada beliau. Karena itu Arja Widura tidak diperdulikan lagi. la boleh tinggal terus di Hastinapura dan boleh pula enjah dari situ.

25
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


Setelah bersabda demikian sang Drestaratya lalu masuk kekeraton. Mendengar sabda demikian, Arja Widura merasa diusir. la segera meninggalkan keraton, menjusul Pandawa kehutan. Ketika itu Pandawa telah meninggalkan sungai Gangga menudju Tegalkuruksetra. Setelah mereka sesadji disungai Saraswati, Drisadwati dan Djamuna, lalu meraeruskan perdjalanan kehutan Kamyaka. Maka bertemulah Arja Widura dengan mereka disitu. la mentjeritakan segala hal jang menimpa dirinja. Setelah ditinggalkan Arja Widura, Drestaratya menjesali penbuatannja mengusir dia. Beliau menjuruh Sandjaja, seorang kusir, memaniggil Arja Widura pulang ke Hastinapura.

31. RADJA DURJUDANA DIKUTUKI OLEH MAHARESI METREJA Para Kurawa demi mendengar Arja Widura dipanggil kembali, lalu mengerti sang Drestaratya sebenarnja tjinta kepadanja. Tjinta kepada Arja Widura berarti tjinta kepada Pandawa. Ketika Kurawa merundingkan hal itu dan mentjari akal. untuk membinasakan para Pandawa, tiba2 datanglah Begawan Wyasa. Beliau mengerti apa jang sedang dirundingkan oleh Kurawa itu. Karena itu beliau menasehati mereka supaja mengurungkan niat djahat itu. Pun beliau nasehatkan supaja mereka bersatu dengan Pandawa. Akan tetapi Kurawa tak peduli. Setelah itu begawan Wyasa segera pergi kekeraton mendapatkan Drestaratya. Radja Durjudana pun turut. Kepada sang Drestaratya sang begawan memberi nasehat supaja Kurawa dan Pandawa didamaikan, dipersatukan. Djika mereka selalu bertjerai-berai, negeri Hastinapura achirnja rusak dan bangsa Kuru binasa dalam perang saudara. Dan beliau mengabarkan tak lama lagi maharesi Metreja akan datang. Sehabis bersabda sang begawan menghilang pulang kepertapaannja. Tak lama antaranja datanglah maharesi Metreja. Beliau djuga memperingatkan Drestaratya supaja Kurawa dan Pandawa didamaikan, dipersatukan. Banjak pula

nasehatnja berkenaan dengan hal2 mempersatukan dan mendamaikan itu. Setelah itu sang maharesi memandang kepada Durjudana dan menasehatinja supaja bersatu dengan Pandawa. Durjadana bukannja berterimakasih atas nasehat itu. la bahkan sangat marah, seraja menepuk2 paha kirinja. Melihat laku Durjudana, merasa dihina sang maharesi. Sambil menjauk air dari bokor, didepannja beliau lalu bersabda : Hai Durjudana, Karena menghina seorang maharesi jang gemar bertapa dan tak miengindahkan nasehat baik, kamu akan memetik buah tingkah lakumu jang tidak senonoh. Kelak dalam perang besar, bahumu sebe1ah kiri akan dihantjurkan oleh Bima hingga menjebabkan adjalmu. Mendengar sabda itu Drestaratya merasa ngeri. Beliau mohon sangat supaja sang resi mentjabut sabdanja kembali. Sang maharesi mendjawab : Aku mau mentjabut utjapanku itu, djika Durjudana mau berdamai dan bersatu dengan Pandawa. Setelah itu, beliau pun lenjap dari pemandangan.

32. DITENGAH HUTAN PARA PANDAWA KEDATANGAN SAHABAT KARIBNJA

26
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


Para sahabat karib Pandawa telah mendengar kabar bahwa para Pandawa sedang mendjalani hukuman membuang diri dihutan. Mereka lalu mengundjungi Pandawa. Begitu pula Batara Kresna, dewi Subadra dengan puteranja bernama Abimanju, Drestadyumna, para putera dewi Drupadi jang lima orang dan Drestaketu, radja negeri Tjedi. Setelah Kresna dan tetamu jang lain2 duduk dan telah kabar mengabarkan keselamatan masing2, bersabdalah Kresna dengan murkanja : Bumi akan menghisap darah Durjudana, Karna, Dussasana dan Sakuni. Setelah para Kurawa dan sekutunja hantjur lebur, saja akan menobatkan Judistira djadi radja Hastinapura, Orang djahat sudah sepantasnja dibasmi dari muka bumi. Seketika itu djuga Kresna hendak ke Hastinapura akan menghantjur-leburkan para Kurawa. Kemarahan Kresna jang meluap2 itu achirnja dapat direda oleh Ardjuna. Setelah Kresna tenang kembali, beliau lalu bertjerita, bahwa ketika radja Judistira main dadu beliau sedang berperang. Djika tidak nistjaja para Pandawa tak akan mendapat kesengsaraan hanja disebabkan oleh permainan djudi. Dewi Drupadi bertjeritera sambil menangis, bahwa ia, telah dihina dan dipermalu oleh Kurawa, Kresna mendidih lagi darahnja mendengar tjerita dewi Drupadi. Tapi dapat djuga diredakan oleh Judi stira. Setelah Batara Kresna tenteram kembali, beliau lalu bersabda : ja adikku sang dewi, Djanganlah dikenang2 kembali kedjadian2 jang lalu karena hanja akan merusakan pikiran. Manusia takkan luput dari segala akibat perbuatannja. Demikian pula Durjudana, jang menjakiti hatirnu Isterinja kelak akan menangis seperti adikku sekarang ini, karena melihat majat suaminja rnenggeletak ditanah dengan berlumuran darah. Perkataanku ini akan berbukti. Hentikanlah tangismu. Saja jakin, adikku kelak akan djadi permaisuri radja gung binatara lagi. Ja adikku , Semua perkataanku akan terdjadi. Pertjajalah. Dewi Subadra melihat suaminja dalam keadaan sengsara badamnja kurus kering, hatinja remuk redam, air matanja mengalir membasahi dada. Ardjun memangku puteranja, Abimanju jang masih ketjil, diusap2 kepalanja, ditjiuminja, diketjup2 ubun2nja, lalu berkata kepada Subadra : Ja adinda, djanganlah menangis. Ketahuilah tangismu itu dapat menambah sedih hatiku. Walaupun aku sengsara, namun djiwaku tetap sehat. Sengsara djadi tapabrataku dan dapat mempertebal semangatku untuk memperdjuangkan keadilan dan hak. Mudah2an aku kelak dapat berkumpul lagi dengan adinda dan puteraku dalam ke adaan sehat dan gembira. Selama sengsara, aku selalu memohon kepada dewa, agar puteraku kelak mendapat kemuliaan. Hanja aku berpesan: Pimpinlah puteraku baik2, agar kelak djadi sateria utama. Setelah para tamu beberapa lamanja bertemu: dengan Pandawa, Kresna dan dewi Subadra lalu mohon pulang ke Dwaraka. Demikian djuga Drestadyumna dengan putera2 dewi Drupadi serta Drestaketu minta diri pulang kenegeri ma sing2. Hanja para berahmana jang mash mengikuti perdjalanan Pandawa . Mereka tak mau berpisah.

33. PARA PANDAWA PINDAH TEMPAT DITEPI TELAGA DWETAWANA Pandawa lalu meneruskan perdjalanan. Setelah sampai di tepi telaga Dwetawana, mereka berhenti, dan bermaksud akan tinggal Disitu beberapa lamanja.

27
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


Suatu hari berkumpullah Pandawa. Mereka asjik mengenangkan kedjadian2 jang lalu. Tiba2 dewi Drupadi berdatang sembah : Ja kakanda, Djika hamba melihat tempat kakanda tidur dan pakaian kakanda dan saudara2 semua, hati hamba bagai diiris2 sembilu. Kakanda seorang radja gung binatara. Dahulu kakanda dan saudara2, tidur ditempat jang enak dan aman, menikmati makanan lezat2, berpakaian serba bagus dan bersih. Tapi sekarang kakanda dan saudara tidur terhantar ditanah dengan tidak pakai alas badan penuh dengan debu. Dahulu kakanda duduk disinggasana, disembah para radja. Ja kakanda, Djika hamba mengenangkan keadaan dahulu, hati djadi sedih, badan djadi lemah. Dahulu kakanda dapat memberi makanan jang lezat2 kepada para pertapa dan dapat menggirangkan mereka. Tapi sekarang kakanda sengsara, keluar masuk hutan dengan tak karuan tudjuan. Apakah kakanda tidak kasihan kepada hamba, seorang wanita jang ditakdirkan berbadan lemah? Hamba mengikuti perdjalanan kakanda, karena telah

kewadjiban hamba sebagai isteri sehidup semati dengan kakanda. Ja kakanda, Apakah belum waktunja kakanda memperlihatkan keperwiraan dan keberanian untuk membela keadilan jang merupakan kewadjiban setiap orang? Kakanda mengerti kekuatan Bima melebihi sesama manusia, sanggup menghantjur leburkan musuh. Apakah kakanda lupa kepada ketjakapan dan kesaktian adinda Ardjuna? Walaupun is hanja punja dua belahtangan, tapi djika memanah musuh, anak panahnja berhamburan seperti dilepaskan seribu tangan. Apakah kepandaian Ardjuna itu belum dapat membangunkan,semangat kakanda untuk berhadapan dengan mush Ardjuna pahlawan dunia, dihormati oleh sekalian penghuni sorga, sekarang terpaksa menahan amarah karena mengikuti kehendak kakanda, Apakah kakanda tidak merasa kasihan kepada adinda Nakula dan Sahadewa jang masih muda teruna, tetapi sudah pandai mempergunakan pedang, sekarang menderita sengsara dalam hutan, hanja karena perbuatan musuh jang berwatak djahil dan angkara murka. Ja kakanda, Tak seorangpun jang tak punja amarah. Tetapi ini tidak terdapat pada kakanda. Sateria jang pada waktunja tak suka memperlihatkan amarah, nistjaja akan mendapa tjelaan, Karena itu sudah sewadjibnja kakanda tak boleh memberi ampun kepada musuh jang selalu ingir membinasakan kita semua, Sebenarnja musuh kita dapat dihantjurkan oleh keperwiraan kakanda. Betul ada perkataan jang demikian, bunjinja : Orang jang tak mau mengampuni musuh jang pantas diampuni, ditjela oleh dunia dan akan terkutuk diachirat. Tapi musuh kita tidak pantas mendapat ampun. Sekarang telah waktunja kakanda memperlihatkan kesaterian kakanda melawan musuh siangkara murka, jang selalu berdaja upaja menumpas kita semua. Orang jang selalu mengampuni musuh, takkan mendapat kehormatan. Orang jang sentosa budinja, akan dapat mendjalankan keadilan. Judistira mendjawab :Ketahuilah, hai adinda amarah itu merusak dan djadi sumber kesengsaraan. Oranq marah tak dapat membedakan perkataan jang pantas dan tidak pantas diutjapkan ia tak segan melakukan kekedjaman ataupun mengutjapkan perkatan buruk2. Akibat marah, orang tak segan memfitnah orang lain. Amarah dapat menjebabkan sengsara. Karena itu para bidjaksana selalu ,menahan amarah. Ja adinda jang setia kepada suami, Bagaimanakah aku dapat didorong amarahku, karena aku tahu amarah itu perusak. Orang jang sentosa budinja, selalu berdaja upaja menghilangkan amarah. Orang jang tak dapat memerangi amarah orang lain, dapat menolong diri sendiri dari kesengsaraan. Orang jang tak sentosa budinja, djika mengerti

28
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


difitnah orang lain, seketika itu djuga keluarlah amarahnja. Oleh karena amarah itu keluar, segala jang dikerdjakan kurang tepat. Djika terdjadi demikian, orang itu sama dengan merusak diri sendiri. Ja adinda, Ketahuilah, orang jang lemah harus dapat menahan amarah. Orang jang punja belas kasihan, lebih baik dari pada orang jang berwatak djahil. Oleh karena itu aku tak dapat mengikuti amarah jang djadi sumber kesengsaraan. Orang jang baik, marahnja tidak meresap dihati. Jang waskita dan jang sentosa budinja, ialah orang jang dapat menahan amarah meskipun aku akan bermusuhan dengan Durjudana, djanganlah hendaknja terdorong oleh amarah. Karena orang jang marah, tidak dapat memilih dengan tepat. Orang demikian umumnja tak suka menghormati orang lain. Malah djika didorong oleh amarah, ia suka membunuh orang, jang sebenar nja tak pantas dibunuh. Orang jang terlibat dalam amarah, tidak mudah mendapat kemuliaan, keutamaan dan sebagainja, jang djadi watak utama. Orang jang dapat menahan nafsu, dapat mempergunakan kekuatannja dengan tepat. Karena itu aku tak mau diperalat oleh amarah. Djika didunia tak ada jang suka memberi ampun, dunia takkan tenteram selalu ada keributan disebabkan oleh hawa nafsu. Djika orang difitnah balas memfitnah, anak disebat orang tua balas menjebat, balas membalas, maka dunia akan rusak. Hai Drupaadi, Walaupun aku akan membalas perbuatan Durjudana, tapi tak mau kalau terdorong oleh arnarah semata. Aku Akan berusaha berlaku sedjudjur2nja. Drupadi mendjawab : Ja kakanda,Menurut pikiran hamba, dunia ini kurang adil. Bahagia tak dapat ditjapai dengan mendjalankan keutamaan, dengan kebaikan budi pekerti, dengan suka memberi ampun, sutji hati dan tidak melanggar larangan, Buktinja kakanda sendiri. jang selalu mendjalankan keutamaan tak djuga mendapat kebahagiaan. Begitu pula saudara2 kakanda. Sedjak dahulu hingga sekarang kakanda anggap keutamaan lebih berharga dari pada deradjat duniawi. Kakanda djadi radja gung binatara dengan maksud melindungi keutamaan, jang buahnja akan melindungi kakanda. Namun buktinja tidak demikian. Kakanda dan saudara2 kakanda sekarang menderita sengsara. Padahal kakanda selalu berusaha mendjalankan keutamaan. Ja kakanda terdorong oleh hawa nafsu, kakanda me ngerdjakan suatu pekerdjaan dengan tidak dipikir masak2 lebih dahulu, jakni ketika kakanda bermain dadu. Akibatnja (merugikan kita'semua serta menghilangkan kemuliaan. Ketika itu hati hamba remuk redam dan hampir2 sadja hamba djatuh pingsan. Rupa2nja didunia ini tak ada keadilan, Buktinja orang jang tinggi budi pekertinja, sutji bersih hatinja, rnendapat hukuman, Tapi orang jang djahat, malah mendapat kebahagiaan. Durjudana jang berwatak djahat mendapat kebahagiaan jang tak terhingga. Sebaliknja kakanda jang selalu mendjalankan keutamaan, mendapat kesengsaraan jang tiada terperi. Djika memikirkan itu, hamba tak dapat mengatakan Hjang Widi adil. Radja Judistira mendjawab : Hai Drupadi, Rupanja kamu tidak pertjaja kepada Hjang Widi. Ketahuilah Aku tak mengharap hasil djerih pajahku. Aku menderma karena berkewadjiban berderma. Aku mengadakan sesadji, karena berkewadjiban sesadji. Ja adinda Saja sangat gemar mendjalankan keutamaan. Akan tetapi, barangsiapa mengharapkan buah keutamaan, berarti ia meninggalkan keutamaan. Orang jang kurang tinggi budinja, selalu bimbang mendjalankan kebadjikan. karena itu ia tak akan memetik hasil kebadjikannja, karena kurang pertjaja. Apa jang saja katakan ini terdapat dalam adjaran Weda. karena itu, djanganlah bimbang djika berbuat kebadjikan. Siapa jang tidak pertjaja kepada

29
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


agama, Kepada keutamaan dan kepada sabda sang maharesi, tak dapat tempat dalam kemuliaan jang tetap sang Wyasa, sang Wasista, sang Narada dan raib2 bisa mentjapai kemuliaan djiwa, tak lain karena mendjalankan keutamaan. Orang jang pitjik pengetahuan mengira bahwa hanja barang jang dapat dilihat jang dapat mendatangkan kesenangan. Oleh karena itu, djika ia memgerdjakan keutamaan, selalu bimbang hatinja. Orang demikian tak dapat diampuni dosanja. Akan selama hidup akan terlibat dalam kesusahan, dan kelak takkan mendapat tempat jang menjenangkan dialam baka. Orang jang tak berlindung kepada keutamaan, akan mendjelma kembali djadi binatang. Adinda Drupadi Djika keutamaan tak ada huahnja, dunia akan diliputi kedjahatan. Djika demikian, tak ada jang ingin berusaha mengedjar keutamaan atau pengetahuan, Djadi hidupnja seperti binatang. Adapun memetik hasil keutamaan tidak hanja didunia, djuga diachirat. Karena, itu hilangkanlah kebimbangan, ganti dengan kepertjajaan penuh dan djanganlah mentjela Hjang Widi. Dewi Drupadi : ja kakanda, Hamba sama sekali tidak mentjela dan menjalahkan Hjang Widi. Akan tetapi, oleh karena menderita sengsara jang tak terhingga ini, hati hamba djadi gelap. Ja kakanda Segala machluk jang dapat bergerak semua bekerdja. Manusia berlainan dengan machluk lainnja dan berkehendak mengatur hidupnja dengan bekerdja. Orang jang tidak mau bekerdja, takkan mendapat kemadjuan. Djadi semua orang harus bekerdja. Begitu pula kakanda, supaja tidak mendapat tjelaan karena tidak mau bekerdja. Karena itu hendaklah kakanda bekerdja sebagai sateria, membela nusa dan bangsa dengan djalan mengangkat sendjata, menggempur musuh jang angkara murka. Djika tiada jang. mau bekerdja segala jang telah ada didunia, akan habis atau musna. Dan djika pekerdjaan itu tidak ada buahnja, keadaan dunia takkan berkembang. Salahlah orang jang hanja pertjaja kepada takdir. Sebaliknja, orang jang pertjaja bahwa tiap pekerdjaan ada buahnja, ia pantas mendapat pudjian. ja kakanda Sekarang kakanda menderita kerusakan dan kesengsaraan, tapi djika kakanda mau bekerdja sebagai sateria, kerusakan dan kesengsaraan itu akan lenyap jika telah bekerdja sungguh2 dan tak ada djuga buahnja, barulah kita menjerah kepada takdir. Karena itu marilah kita bekerdja merebut k.mbali negeri kita dari tangan musuh. Sjahdan Bima, selama ia mendengarkan sembah dewi Drupadi kepada kakaknja judistira, tampaknja sudah tidak sabar lagi, ingin pula mengeluarkan jang terkandung dalam hatinja. Demi dewi, Drupadi selesai berkata, Bima segera berdatang sembah : ja kakakku, Hendaklah kakak menempuh djalan jang biasa ditempuh para sateria, Apakah gunanja kita menempuh hutan belukar ini? Djika terus begini, kita akan kehilangan kebahagiaan, kehormatan dan kemuiiaan), Negeri kita telah direbut Durjudana dengan djalan bermain dadu. Apakah gunanja kakanda berpegang teguh pada keutamaan jang achirnja membawa kita kedjurang sengsara seperti jang kita alami sekarang. Karena kakakku lalai, keraton dapat di rebut musuh dengan djalan tipu muslihat, walaupun keratin didjaga oleh Para sateria jang hersendjata, Djika merebutnja dengan djalan perang, mustahil keraton dapat direbut, sekalipun jang merebut Hjang Indra. Oleh karena aku dan adik2 selalu mengikuti kakakku mendjalankan keutamaan, kita semua kehilangan kebahagiaan dan kehormatan, sehingga dewi Drupadi dan adik2 semua menderita sengsara jang tak terhingga ini. Ja kakakku, orang jang mau hidup mengembara dalam hutan seperti binatang, ialah orang jang tak punja keberanian. Orang jang berani tentu akan merebut kembali hak miliknja jang direbut oleh musuh. Apakah kakakku bingung, maka djadi lemah tak punja tenaga, serta lenjap watak saterianja? Oleh karena jang dipikirkan hanja keutamaan, kakakku lupa memikirkan nasib saudara2 sendiri. Drestaratya tentu mengira, kita tidak berani melawan Durjudana karena selalu mengampuni kesalahannja. Kakakku barangkali mengira, soal demikian itu lebih berat dari pada

30
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


soal mati dimedan pertempuran. Djika aku mati dalam peperangan dengan tiada luka dipunggungku, adjalku berarti adjal utama? Ja, kakakku, Sekarang negeri telah direbut oleh musuh. Djika Pandawa berani mengurbankan djiwa raga, berperang merebut kembali negeri kita, nistjaja seluruh dunia akan menghargai tindakan itu, dan tiada jang akan mentjela. Kakakku, Keutamaan jang menajerumuskan diri dan teman2 kedjurang

kesengsaraan, bukan keutamaan sedjati. Banjak jang gemar mengejar keutamaan, tetapi achirnia pikirannja djadi beku. Perbuatan demikian tak ada gunanja, karena tak dapat dirasakan girang dan susahnja. Ja kakakku, Keduniawian tak dapat ditjapai hanja dengan minta2, akan tetapi harus dengan budi pekerti jang, berazas keutamaan. bagi kakakku pekerdjaan minta2 tidak selajaknja, walaupun pekerdjaan itu baik bagi para berahmana. bagi seorang sateria keutamaan terdapat dalam kekuasaan dan keberanian. Karena itu baiklah kakakku mendjalankan keutamaan sateria membinasakan rnusuh dengan djalan berperang. Menurut para bidjaksana, kemuliaan itu ialah keutamaan, Oleh karena itu, marilah berusaha mentjapainja. Tidak sepantasnja kakakku hidup sehina ini. Bangunlah kakakku memenuhi kewadjiban sateria, mendjalankan tugas djantan. Kemauan djika tidak disertai kekerasan hati, akan sia2. Orang kaja jang akan menambah kekajaannja, harus mengeluarkan kekajaannnja. Hasil jang dipungut seseorang itu tentu lebih banjak dari pada bidji jang telah ditanamnja. Oleh karena itu, ja kakakku, djanganlah berketjil hati bahwa pekerdjaan kita hendak merebut kembali hak kita itu akan sia2 belaka. Ingatlah kepada leluhur kita jang selalu melindungi negeri dan rakjat. Perbuatan demikian djuga masuk perbuatan utama. Ja, kakakku, Kemuliaan seorang sateria takkan dapat ditjapai dengan hanja bertapa, tapi djuga dengan berperang jang berpedoman keutamaan. Karena itu segeralah naiki kereta jang lengkap dengan sendjata perang dan minta berkah kepada para berahmana supaja tjita2 bisa tertjapai. Saja harap hari ini djuga kakakku suka kembali ke Hastinapura untuk menggempur musuh. Dengan gembira aku akan mengikuti dengan memanggul gada. Djika kakakku suka merebut kembali hak jang telah dirampas oleh musuh itu, tentu akan mendapat bantuan tenaga jang besar. Karena itu djanganlah kakakku bimbang, marilah segera berangkat menghantjurkan musuh. Judistira mendjawab : Bima, perkataanmu semua itu benar. Saudara2 menderita karena kelalaianku. Orang jang setianja seperti aku achirnja sengsara. Ja adikku Bima, Saja tak dapat memungkiri djandji, apalagi djandji jang disaksikan oleh orang baik2. Apa jang telah didjandjikan, sedapat2nja saja tepati. Bagiku lebih baik mati daripada mendapat kemuliaan dunia dengan djalan memungkiri djandji. Adikku, Ketika aku main djudi, kamu sangat marah, sehingga hendak membakar tanganku, tapi ditjegah oleh Ardjuna. Achirnja kamu memeras2 tanganmu sendiri. Djika betul2 pertjaja pada kekuatan sendiri, mengapa tak karnu tjegah aku mengadakan perdjandjian? Sekarang Pandawa telah terlandjur menderita. Apa gunanja mengata2i aku? 0, adikku Bima, Rusak binasa hatiku, ketika melihat Drupadi diberi malu oleh Kurawa, hatiku seperti dibakar Akan tetapi karena aku telah berdjandji didepan Kurawa, tak dapat aku melanggar djandji itu. Hai Bi'ma, Menunggu saat kita mendapat kembali kebahagiaan dan kehormatan, tak ubah dengan orang bertanam menunggu saat bisa memetik buah, Bagiku, keutamaan lebih berharga dari djiwaku dan kehormatan didunia.

31
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


Bima mendjawab : Ja kakakku, Mengapakah kakak tak punja kekerasan hati, hanja menjerahkan nasib kepada waktu? Adakah sengsara jang lebih besar dari pada jang kita derita ini ? Kakakku takut melanggar djandji tapi lupa, bahwa djandji dipantjing musuh setjara litjik. Djika demikian kakak tidak punjai keteguhan hati, Apakah telah lupa, bahwa kakak dilahirkan untuk membimbing saudara2nja jang berwatak sateria? Manusia itu diwadjibkan mengeluarkan amarahnja, diika perlu. Kakakku mempunjai pikiran, mempunjai kekuatan, mempunjai pergetahuan, lagi pula turunan sateria. Apakah sebabnja tak mau berbuat seperti seorang turunan sateria, jakni membinasakan musuh angkara murka? Bagaimana kita dapat menjembunjikan diri dalam sebuah negeri jang ramai? Kakak telah tersohor dimana2. Tak urung tentu akan ketahuan oleh musuh. Banjak negeri2 jang kita taklukkan, Sudah tentu para radjanja bentji kepada kita. Merekalah jang akan menundjukkan tempat kita bersembunji. Djika selama bersembunji itu ketahuan oleb musuh, kita harus mengulangi hukuman. Bagaimanakah djika hal tersebut terdjadi berulang2? Karena itu mulai hari ini hendaklah kakak memperteguh tjita2 membasmi seteru angkara murka. Bagi seorang sateria pekerdjaan paling utama ialah membela hak dan keadilan. Judistira mendjawab : Adikku Bima, Segala sesuatu jang dikerdjakan dengan amarah, dan tak dipikir lebih dulu, akan djadi sumber kerusakan, seperti jang terdjadi pada diriku ini, Akan tetapi, djika lebih dulu dipikirkan masak2, tjaja hasilnja memuaskan. Sekalipun para dewa, djika hendak mengerdjakan sesuatu, lebih dulu dipikirkannja masak2. Ketahullah, Bima, Oleh karena hatimu penuh amarah, kamu hendak beramgkat sekarang djuga menggempur musuh. Kamu telah mengerti, bahwa para radja jang kita taklukkan semua bentji kepada kita. Mereka tentu akan memihak Kurawa, membalas dendam kepada Pandawa. Dan ingatlah kesaktian (Dussasana, Salja, Djalasainda, Karna dan Aswatama. Durjudana. dan jang lain2pun tak mudah dikalahkan. Belum lagi para panglima dan keluarganja. Lebih2 Bisma, Druna dan Krepa. Mereka tentu akan memihak Kurawa, karena mengharap hidupnja terdjamin, meskipun mereka mengerti makna keadilan, Mereka itu sakti. Sekalipun dewa, rasamja tak kuat melawannja. Djika ingat demikian, saja tak dapat tidur. Demi Bima mendengar sabda kakaknja itu, pikirannja djadi gelap sehingga tak dapat berkata sepatahpun djuga. Sehabis Judistira bersabda, tiba2 datang begawan Wyasa. mengatakan bahwa mereka tak usah takut kepada Bisma, Druna. Karnaa, Aswatama; Durjudana dan Dussasana. Beliau berdoa supaja kesaktian mereka berkurang. Sang begawan menitahkan Ardjuna menghadap Hiang Indra dan Hjang Rudra untuk memohon sendjata. Pandawa dinasehatkan supaja pindah kelain tempat. 34. ARDJUNA BERTAPA DIGUNUNG INDRAKILA Setelah sang Wyasa memberi nasehat demikian, beliau lalu pulang kepertapaannja. Tak lama antaranja Pandawa meninggalkan hutan Dwetawana pindah kehutan Kamyaka dan menetap ditepi sungai Saraswati. Setelah Pandawa tenteram tiniggal disitu, Ardjunapun berangkat ke Kajangan dan dengan membawa panah menudju ke gunung Himalaja. Ketika ia sampai di Indrakilaa, terdengar suara : Berhenti Ardjuna lalu berhenti, melihat kekanan dan kekiri. Tak djauh dari ia berhenti, ada seorang resi berdiri dibawah pohon, kulitnja kuning tua, rambutrrja dikepang. Dihampirinja resi itu, jang berkata : Hai sateria. Mengapa kesini membawa panah? Buat apa sendjatamu, karena disini tempat bertapa para berahmana jang telah meninggalkan amarahnja. Djadi tempat ini tenteram, tak ada perselisihan. Karena itu buanglah panahmu. Kamu telah sampai ditempat ini, berarti telah dapat mentjapai kesutjian hidup. Hai sateria jang melebihi sesamanja. Dalam dunia tak seorangpun jang menjamai kesentosaan dan keberanianmu. Sang resi berkata2 dengan, ramah-tamah dan muka berseri2.

32
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


Ardjuna tak mengindahkan perkataan sang resi niatnja takkan membuang panahnja. Sang resi mengerti sikap Ardjuna jang menantang itu, tapi ia tak marah, bahkan bergirang. Lalu ia berkata pula Ja, sateria utama, Semoga kamu selalu mendapat bahagia dan selamat. Ketahuilah, aku sebenarnja Hjang Indra. Aku akan menganugerahi kamu,

mengabulkan semua permohonan mu. Ketika Ardjuna mengerti, bahwa sang resi sebenarnja Hjang Indra, ia segera menjembah telapak kaki beliau dan menerangkan bahwa ia sangat ingin mempurijai sendjata dewa. Hjang Indra sangat girang? lalu bersabda: Hai Ardjuna Sekarang kamu telah sampai disini. Apa gunanja memohon sendjata, kamu telah mentjapai kemuliaan hidup. Apa tidak baiknja berusaha mentjapai ketentreman sedjati ? Ardjuna berdatang sembah : Ja, daulat Tuanku, Ketenteraman jang djadi harapan hamba, ialah ketenteraman dunia, bukan hanja ketenteraman diri sendiri. Hamba tak harap kemuliaan seperti dewa, dengan meninggalkan saudara2 hamba jang sedang menderita ditengah hutan karena perbuatan musuh. Djika hamba berusaha mentjapai ketenteraman untuk diri sendiri, apakah tidak berarti hamba sengadja membusukkan nama hamba sekeluarga untuk se-lama2nja? Mendengar sembah Ardjuna demikian, Hjang Indra lalu bersabda : Djika kamu telah dapat melihat Hjang Siwah, jang bersendjatakan trisula (tombak bertjabang tiga), aku akan menganugerahi sendjata dari sorga. Karena itu bertapalah, supaja dapat melihat Hjang Siwah. Sehabis bersabda Hjang Indra lenjap dari pemandangan, pulang kekajangan. Ardjuna kemudian bertapa ditempat jang ditundjukkan Hjang Indra tadi, ialah digunung Indrakila. Setelah Ardjuna beberapa lamanja bertapa, datanglah seorang pemburu denqan membawa panah. Tatkala ia hampir sampai ditempat Ardjuna, tiba2 datang seekor babi hutan jang amat besar hendak menjerang Ardjuna jang sedang bertapa.

35. ARDJUNA MEMBUNUH BABI HUTAN Ketika Ardjuna melihat babi hutan hendak menjerang, ia segera rnengambil panah. Demi pemburu melihat Ardjuna hendak memanah, iapun berkata : Hai Ardjuna, Babi itu djangan engkau panah, karena telah lama aku mengedjarnja. Aku jang akan memanah . Tapi Ardjuna tak menghiraukan perkataan pemburu itu. Dengan segera babi hutan dipanahnja. Pemburupun melepaskan panah. Baru sadja babi itu terpanah mati, seketika itu djuga binatang itu berganti rupa djadi raksasa besar jang sangat menakutkan. Dengan segera Ardjuna menghampirinja. Begitu pula sipemburu, Babi itu sebenarnja raksasa Mamangmurka, utusan Niwatakawatja, radja raksasa dinegeri Imantaka. Mamangmurka disuruh membunuh Ardjuna jang sedang bertapa. Radja

Niwatakawatja itu amat Sakti dan kaja raja, sehingga negeri2 lain takut kepadanja. Djangankan manusia, dewapun tak berani melawan. Oleh karena kesaktiannja banjak negeri2 lain takluk kepadanja. Ia bermaksud menaklukkan para dewa dan menjerang Suralaja. la telah mengerti para dewa akan minta bantuan Ardjuna, jang sedang bertapa di Indrakila. Ia berpendapat, djika Ardjuna dapat meneruskan tapanja, tentu akan makin sakti. Mungkin ia akan kalah berlawanan dengan Ardjuna. Karena itu ia menjuruh Mamangrnurka membunuh. Ardjuna sebelum tapanja selesai. Mamangmuka lalu beganti rupa djadi babi hutan, supaja Ardjuna tak menjangka bahwa ia seorang raksasa jang akan membunuhnja. Tetapi achirnja Mamangmurka terbunuh oleh Ardjuna. Ardjuralah jang dapat menolong para dewa mengalahkan para raksasa dari

33
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


negeri Imantaka hingga radja Niwatakawatja mati terbunuh. Demikian tjeritanja Mamangmurka, utusan radja Niwatakawatja dengan singkat. Setelah Ardjuna berhadapan dengan pemburu itu, iapun bertanja : Kamu siapa? Apakah sebabnja berada dalam hutan belukar jang sunji senjap ini dengan diiringkan perempuan sebanjak itu? Rupanja kamu tak takut berdjalan dalam hutan jang sangat berbahaja ini. Apakah sebabnja kamu berani memanah babi jang telah aku bidik? Raksasa ini bermaksud membunuh aku. Karena itu aku mendahului membunuhnja. Ketika pamburu jang dapat memanah dengan tangan kiri itu mendengar perkataan Ardjuna, ia mendjawab dengan berseri2 : Hai peradjurit utama, Ketahuilah hutan ini daerah dan kediamanku untuk selama2nja, Aku sangat heran melihat keberanianmu. Djawablah pertanjaanku. Kenapa kamu berani tinggal dalam hutan jang penuh bahaja ini? Ardjuna mendjawab: Adapun aku pertjaja pada sendjataku panah jang amat sakti, jang menjala sebagai api ini. Kamu telah melihat sendiri, bahwa raksasa jang menjamar sebagai babi hutan tadi, mati terbunuh oleh panahku. Pemburn berkata: Raksasa ini aku jang memanah. Djadi aku jang membunuh, bukan

kamu. Kamu sangat sombong dengan sendjatamu jang tiada seberapa saktinja itu. Lihat lah, hai sateria, Ini hari djuga kamu akan mati karena panahku. Ardjuna, sangat marah mendengar utjapan sang.pemburu mukanja berapi2. Maka terdjadilah perkelahian sengit, masing2 mengeluarkan kesaktian, Ardjuna segera menarik busurnja jang mengeluarkan anak panah beribu2 djumlah, laksana air hudjan turun dari langit. Tapi semua panah tadi tak dapat melukai tubuh sang pemburu. Ardjuna achirnja dilemparkan djauh2 sehingga pingsan. Setelah siuman, ia lalu. mengambil tanah liat dibuatnja orang2an berupa Hjang Siwah, jang dikalunginja karangan bunga kemudian disembahnja, tak ubah dengan menjembah Hjang Siwah jang sebenarnja, dan memohon supaja beliau suka melindungi. Demi Ardjuna mengangkat kepala, tampaklah kalung bunga jang dileher orang2an itu telah pindah menghias leher musuhnja, jaitu sang pemburu. la sangat heran melihat keadjaiban itu dan menduga itu bukan benar2 pemburu, tetapi Hjang Siwah jang salin rupa djadi pemburu. Karena itu ia rnendapatkan musuhnja disembahnja dengan penuh chidmat dan kejakinan, bahwa musuh itu Hjarg Siwah. Dugaan Ardjuna tidak salah. Pemburu itu memang Hjang Siwah. Oleh karena Ardjuna telah mengerti pemburu itu Hjang Siwah, beliau pun achirnja mengaku djuga, Beliau menerangkan sebab2nja mendjadi pemburu, ialah untuk mengudji kesaktian Ardjuna. Beliau menganugerahkan sendjata panah jang amat sakti bernama Pasopati. Dan berpesan bahwa sendjata itu tak boleh digunakan djika tidak menghadapi musuh jang sangat berbahaja. Kalau digunakan terhadap musuh biasa, semua machluk akan hantjur lebur. Setelah berpesan demikian, Hjang Siwah lalu mengilang. Sepeninggal beliau Ardjuna sangat girang karena dianugerahi sendjata jang amat sakti dan tak ada bandingannja Selagi is bergirang2 itu, tiba2 datang Hjang Baruna, batara Kurewa, batara Jama dan batara Surja. Pendek kata semua pemimpin dewa datang. Demikian djuga Hjang Indra malah dengan permaisurinja. Semua memudji kesaktian Ardjuna dan berdjandji akan menganugerahi sendjata2 lain jang sakti djuga. Hjang Indramenitahkan Ardjuna naik kekajangan,

34
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


36. ARDJUNA DISUMPAHI OLEH DEWI ORUWASI Setelah Hjang Indra bersabda demikian, para dewa lalu pulang kekajaagan. Tak lama antaranja datanglah kereta Hjang Indra dikusiri oleh Matali. Ardjuna lalu naik kereta. Setelah sampai dikajangan ia dianugerahi sendjata2 sakti oleh para dewa. Selama dikajangan ia beladjar tari, gending dan kidung. Suatu hari Hjang Indra melihat Ardjuna selalu memandangi dewi Oruwasi. Beliau memanggil Tjitrasena, radja gandarwa. Setelah jang dipanggil datang, bersabdalah Hjang Indra : Hai Tjitrasena, Pergilah ketempat dewi Oruwasi dan katakan bahwa dia kutitahkan menemui Ardjuna untuk bertukar asmara, supaja Ardjuna dapat merasakan kenikmatan sorga, karena Ardjuna djatuh tjinta kepadanja. Setelah mendengar sabda itu. T'jitrasena segera menemui dewi Oruwasi menjampaikan titah Hjang Indra, didahului dengan pudji2an tentang kebagusan dan keutamaan Ardjuna. Dewi Oruwasi mendengar titah Hjang India dan pudji2an sang Tjitrasena, seketika itu djuga tertarik hatinja. Karena itu ia menjanggupi mengerdjakan titah itu. Setelah Tjitrasena pergi dewi Oruwasi lalu menemui Ardjuna. Kedatangan dewi Oruwasi itu diterima Ardjuna dengan hormat, tak ubahnja dengan menghormati leluhurnja. Maka sembah Ardjuna : Ja sang dewi, Hamba sangat terkedjut melihat kedatangan sang dewi, karena hari telah malam. Karena itu hamba mohon sangat sudilah kiranja menguraikan kepentingan sang dewi, supaja hamba lekas dapat mengerdjakan segala titah. Mendengar kata Ardjuna itu dewi Oruwasi djadi terkedjut karera tak disangka2nja akan diterima demikian la lalu menjampaikan segala titah Hjang Indra dan sebab2nja beliau menitahkan jang demikian, Sang Ardjuna djadi bingung mendengar kata dewi Oruwasi karena ia sedikitpun tak berkehendak jang demikian. la lalu mendjawab : ja sang dewi jang sangat hamba hormati , Mendengar uraian sang dewi itu hamba sangat terkedjut, karena hamba menganggap sang dewi leluhur, tak ubah dengan ibunda dewi Kunti, atau dewi Satji, permasuri Hjang Indra. Itulah sebabnja hamba selalu memandang kepada sang dewi, djadi bukan karena djatuh tjinta, Hamba mengira sang dewi jang menurunkan leluhur hamba. Dewi Oruwasi mendjawab : Para bidadari tidak mempunjai suami. Karena itu djanganlah menganggap saja jang menurunkan leluhur tuan. Dalam surga ini dibolehkan bertukar asmara dengam tidak mendapat dosa. Karena itu saja minta sangat supaja tuan sutra mengabulkan permintaan saja, supaja djadi obat penawar tjinta. Sang Ardjuna : ja sang dewi, Dengarkanlah sembah hamba. Orang jang hamba anggap sama dengan ibu Kunti, ialah : dewi Madrim, dewi Sati dan sang dewi Perkataan hamba ini sesungguh2nja, disaksikan oleh pendjuru empat dan para dewa. Karena mohon sangat supaja dewi suka menganggap hamba sebagai putera sendiri. Sang dewi sangat marah mendengar kata Ardjuna itu, mukanja berapi2, lalu menjumpahi : Hai Ardjuna, Karena kamu menolak tjintaku jang keluar dari hati sutji dan didorong titah Hjang Indra, karnu kelak dianggap bantji dan mengerdjakan pekerdjaan perempuan, ialah djadi guru tari. Setelah mengutjapkan sumpahnja, sang dewi lalu pulang. Setelah dewi Oruwasi pulang, Ardjuna lalu menemui Tjitrasena perlu mentjeritakan sumpah sang dewi. Tjiitrasena mempersembahkan itu kepada Hjarg Indra. Ardjuna lalu dipanggil. Setelah Ardjuna menghadap Hjang Indra bersabda: Hai anakku, Ardjuna. Saja sangat girang ibumu mempunjai putera seperti kamu jang keadaannja melebihi para resi. ja anakku, Ardjuna hamba

35
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


, Djanganlah menjusahkan sumpah dewi Oruwasi. Hai itu akan besar faedahnja bagi dirimu. Kelak djika telah sampai waktunja kamu bersembunji dalam sebuah negeri, disitulah akan terbukti sumpah dewi Oruwasi, ia1ah kamu dianggap bantji. Setelah djadi guru tari setahun lamanja, rupamu kembali seperti sediakala, kembali serupa laki2. Sumpah itu akan mendatangkan keselamatan bagi dirimu. Mendengar sabda Hjang Indra demikian, hilanglah susah Ardjuna. la masih tetap tinggal dikajangan. Suatu hari ketika Ardjuna menghadap Hjang Indra, datanglah Maharesi Lomasa hendak bertemu dengan Hjang Indra. Ketika melihat Ardjuna duduk ditempat duduk Hjang Indra beliau amat heran dan tertjengang. Hjang Indra mengerti sebabnja sang Maharesi tertjengang. Setelah sang Maharesi duduk, Hjang Indra lalu menerangkan bahwa Ardjuna sebenarnja puteranja jang diperoleh dengan dewi Kunti. Dan diterangkan djuga bahwa Ardjuna pendjelmaan resi Nara jang amat sakti. Adapun resi Narajana mendjelma sebagai Batara Kresna. Sebabnja kedua resi diturunkan kedunia lagi, jaitu untuk mengurangkan kesengsaraan dunia. Dan diterangkan pula, bahwa Ardjunalah jang dapat membunuh radja Niwatakawatja, jang hendak merusak binasakang para dewa, Hjang Indra menitahkan supaja sang Maharesi menemui Pandawa untuk mengabarkan keadaan Ardjuna dikajangan. Pesan lainnja supaja Pandawa meninggalkan Kamyaka, mengundjungi tjandi2 dan mandi di pemandian sutji, supaja terhindar dari dosa. Sang Maharesi menjanggupi lalu turun ke Artjapada (dunia), Sepeninggal Ardjuna, Pandawa jang tinggal dihutan Kamyaka, selalu berdukatjita. Terkenang kepada Ardjuna. Judistira mentjutjurkan airmata. Suatu hari Pandawa berkumpul untuk membitjarakan apa2 jang harus dikerdiakan. Bima mengadjak menggempur Kurawa walaupun Bima selalu membudjuk2, tapi Judistira tetap tidak setudju. BeIiau tetap akan menepati djandji. Kelak djika telah habis hukumannja, baru beliau rnau menggempur musuh. Sedang mereka bertjakap-tjakap, tiba2 datang Maharesi Lomasa. Beliau mentjeritakan telah bertemu dengan Ardjuna dikajangan dan djuga menjampaikan pesan Hjang Indra. Mendengar pesan itu, Pandawa lalu meninggalkan Kamyaka, diiringkan para berahmana dan Maharesi Lomasa. . 37. DEWI DRUPADI MINTA BUNGA TUNDJUNG Selarna dalam perdjalanan, suatu hari mereka kedatangan radja Baladewa dan Batara Kresna (turunan Wresni) dengan mernbawa peradjurit bersendjata lengkap, Ketika turunan Wresni melihat keadaan Pandawa, badannja kurus kering, tinggal kulit dan tulang hatinja tak tahan, sehingga mengeluarkan airmata. Lebih2 melihat dewi Drupadi. Pandawa sudah tentu girang kedatangan Baladewa, Kresna, Setyaki, Samba (putera Batara Kresna) dan turunan Wresni jang lain2. Setelah turunan Wresni reda dukatjitanja. Baladewa mengadjak Pandawa hari itu djuga berangkat ke Hastinapura untuk menggempur Kurawa. Beliau berdjandji akan membantu sekuat2nja. Adjakan itu tak disetudiui oleh Kresna dan Judistira. Judistira lalu mentjeritakan segala kedjaadian selama mereka dihutan. Setelah turunan Wresni dapat. beberapa hari berkumpul dengan Pandawa, mereka lalu pulang. Pandawa meneruskan perdjalanan kegunung Gandamadana. Setelah mereka hampir sampai dipuntjak gunung Kelasa, datanglah hudjan dan angin jang amat kentjang. Djalan tak mudah ditempuh, sangat litjin. Lebih2 bagi dewi Drupadi. Mereka berdjalan dengan tangan di

36
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


atas kepala untuk menahan djatuhnja hudjan, seperti es. Djalan sangat mendaki dan makin litjin, banjak pohon tumbang karena angin. Mereka berlindung direlung atau dibawah pohon besar, jang kira2 tak roboh ditempuh angin hesar. Setelah hudjan berherti, mereka meneruskan perdjalanan. Oleh karena djalan sangat mendaki dan litjin. lagi pula mereka telah lelah, djatuhlah dewi Drupadi hingga tak sadarkan diri. Bima segera mengheningkan tjipta memanggil puteranja Gatotkatja. Tak lama datanglah Gatotkatja diikuti oleh beberapa raksasa. Bima menitahkan Gatotkatja mendukung dewi Drupadi dan raksasa jang lain mendukung Pandawa dan para berahmana, Sekedjap mata mereka telah sampai ditempat jang ditudju. Adapun Maharesi Lomasa karena saktinja, sekedjap mata sadja telah sampai ditempat Pandawa. Pandawa telah lima hari tinggal digunung Kelasa. Pada hari keenam datanglah angin besar jang bertiup dari timur 1aut menjerang Pandawa. Setelah angin agak berkurang, terlihat oleh dewi Drupadi sehelai bunga Tundjung terletak didekatnja. Walaupun bunga itu telah laju, akan tetapi baunja masih tetap harum dan rupanja sangat indah. Dewi Drupadi segera mengambilnja ditjiumnja berkali2 dan diamatinja la sangat tertarik dan ingin

mempunjai bunga seperti itu, jang masih segar. la lalu berkata kepada Bima, minta ditjarikan bunga itu. Bima sangat sajang kepada dewi Drupadi. Mendengar permintaan itu, dengan tidak berkata sepatah djuga ia segera berangkat mentjari. Djalanja menudju ketimur laut menempuh angin besar. Wa1aupun djalan itu sangat sukar, akan tetapi ia sedikitpun tak enggan hatinja tetap akan memenuhi permintaan dewi jang sangat ditjintai itu dan harapannja besar akan memperoleh bunga jang ditjari la pertjaja kepada kekuatan sendiri dan pertjaja pula, djika ia sungguh2 mentjari tentu akan berhasil. Karena ia selalu gembira dan penuh harapan akan mentjapai jang dikehendakinja. Maka sampai lah ia disalah suatu telaga jang banjak bunganja. Bima segera terdjun kedalam mentjari hunga Tundjung. Tapi sia2 belaka. meneruskan perdjalanan. 38. BIMA MENDAPAT PERTOLONGAN HANUMAN Sjahdan Hanuman, radja kera jang tinggal digunung itu, demi mendengar suara dahsjat, mengertilah ia itulah suara Bima. Hanuman berdjalan tjepat2 menudju suara itu, la

hendak melindungi Bima supaja selamat dalam perdjalanaan dan dapat mentjapai jang dikehendakinja. la lalu merebahkan diri ditengan djalan jang akan dilalui Bima, ialah djalan jang menudju kesorga. Djalan itu sempit dan puaka (litjin dan susah) tak boleh dilalui orang jang punjai dosa, karena itulah djalan para dewa. Demi sampai ditempat Hanuman rebah itu, Bima terpaksa. berhenti karena djalan dirintangi badan Hanuman, Bima menjuruh radja Kera itu menjingkir, tapi ia tak mau, dengan alasan ia sedang sakit keras, sehingga tak dapat mengangkat badan, Bima

disuruh,melompat sadja, tapi tak mau. Hanuman memperingatkan, bahwa djalan itu tak boleh diIalui oleh orang jang masih bisa mati atau orang jang punja dosa. Bima diperingatkan demikian, tak djuga menurut. la akan meneruskan djuga perdjalanannja. Hanuman berkata, djika Bima hendak terus djuga melalui djalan itu dan tak mau melompatinja, hendaklah memindahkan ekornja sadja kesisi djalan, supaja tak usah melompatinja. Bima segera memegang ekor kera itu dengan tangan kiri, karena sangkanja, dengan

37
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


begitu sadja ia akan dapat mengangkatnja, walaupun ekor itu amat besar. la bermaksud djika ekor itu telah terangkat, akan membantingkan kera itu supaja mati. Akan tetapi djanganpun terangkat, tergerakpun tidak. Bima amat heran. Ekor lalu diangkatnja dengan dua tangan. tapi sia2, meskipun ia mengeluarkan semua kekuatannja. Achirnja Bima merasa kalah dan minta djadi siswanja. Hanuman berkata : Hai sateria , Kamu belum tahu siapa aku. Tapi aku tahu siapa kamu. Akulah Hanuman, putera batara Baju jang diperoleh dengan dewi Kesari, ditakdirkan berupa kera. Kamupun putera batara Baju jang diperoleh dengan dewi Kunti. Djadi aku kakakmu satu ajah lain ibu. Hari ini aku merasa beruntung dapat bertemu dengan kamu. Aku tahu maksudmu kemari. Aku sebagai kakakmu wadjib memberi petundjuk supaja perdjalananmu selamat dan tertjapai apa jang kamu maksud. Karena itu aku tiduran disini, dengan maksud memberi petundjuk kepadamu. Ketahuilah hai adikku, Inilah djalan jang menudju kesorga, djalan para dewa. Manusia jang menempuhnja tentu mendapat tjelaka. Tentang bunga Tundjung jang engkau tjari, adanja ditelaga. Djalan inipun sampai ditelaga itu. Bima mendjawab ja kakakku. Sajapun merasa sangat beruntung dapat bertemu hari ini dengan kakakku. Peringatan kakak djadi bukti bahwa kakak tjinta kepadaku, Saja lalu ingat tjerita perang besar di Lanka (Ngalengka) antara Seri Batara Rama dengan radja raksasa. Dalam tjeritera itu djuga disebut2 nama Hanuman. Karena itu saja sangat ingin melihat rupa kakak ketika melompat laut dari pesisir daerah Pandya nampai dipesisir Lanka. Ja kakakku Sebelum peranintaanku dipenuhi, aku takkan pergi. Hanuman dengan senang hati mengabulkan permintaan Bima. Ia segera triwikrama, Seketika itu djuga badannja djadi sangat besar, boleh dikatakan sebesar gunung dan rupanja sangat menakutkan. Bima sangat heran melihat keadaan demikian. la lalu minta supaja Hanuman kembali iketjil seper'.i biasa. Seketika itu djuga badan Hanuman kembali seperti sediakala. la lalu berkata : Ja adikku Bima , Kamu telah melihat keadaan tubuhku ketika aku melompat laut akan pergi ke Lanka. Besar tubuhku menurut kehendakku. Aku masih dapat membesarkannja dari jang tadi. Hai adikku jang tjinta kepada saudara dan orang tua, Supaja bisa memperoleh bunga Tundjung, kamu harus menempuh djalan ini, jang menudju ketaman Sugandika. Taman ini penuh bunga Tundjung. Jang punja ialah batara Kuwera dan pendjaganja raksasa. Djanganlah kamu petik bunga itu sebelum dapat izin dari jang berhak. Hai adikku Bima, Kamu sebagai sateria harus selalu menempuh djalan jang menudju kebahagiaan dan keselamatan. Mudah2an pertemuan kita ini membawa hasil jang baik. Aku sebagai saudara tuamu, jang berkewadjiban menolong kamu jang sedang sengsara karena perbuatan musuh, berharap adikku suka minta kepadaku, supaja aku menggempur musuhmu Kurawa itu. Hari ini djuga kusanggupi seorang diri menghantjur-leburkan Kurawa. Tapi djika kamu tak meminta kepadaku, tak baik rasanja menghantjur-leburkan musuhmu hanja atas kehendakku sendiri. Bima mendjawab: Ja kakakku, Kuutjapkan banjak2 terima kasih atas kemurahan hati kakak akan menolong aku menggempur Kurawa. Tapi kini aku belum butuh pertolongan. Hanja djika kelak terdjadi perang besar antara Pandawa dan Kurawa, djika kubutuhkan pertolongan kakak, harap suka menolong. Hanuman mendjawab : Ja adikku,Kelak djika terdjadi perang itu,Baja ikut pandji2 Ardjuna, Djika kamu meng geram2, aku segera datang untuk menolong. Dan pesanku,

38
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


djanganlah kabarkan kepada orang lain bahwa aku tingga1 disini. Ja adikku, Sekarang sudah waktunja para dewa dan bidadari datang ketempatku, aku terpaksa meninggalkan kamu. Setelah berkata demikian Hanumanpun lenjap dari

pemandangan Bima segera meneruskan perdjalanan menurut pe tundjuk Hanuman. Setelah sampai ditengah pegunungan Kelasa, Bimapun melihat telaga jang indah, penuh bunga Tundjung jang dikehendaki dewi Drupadi. Telaga itu bernama Sugandika kepunjaan batara Kuwera, dewa kekajaan. Demi Bima akan turun kedalam telaga, ia ditjegah oleh para raksasa jang mendjaga. Karena Bima tak mengindahkan kata jang mendjaga terdjadilah perkelahian jang amat seru. Achirnja para pendjaga kalah lalu lari untuk memberitahu batara Kuwera. Setelah batara Kuwera tahu bahwa ada manusia jang akan merusak taman akan mengambil bunga Tundjung, beliaupun segera berangkat naik kereta. Setelah sampai tahulah beliau bahwa jang ada disitu Bima. Beliau tidak djadi marah, malah Bima dititahkan mengambil bunga sebanjak2nja. Setelah Judistira beberapa lama tak melihat Bima, beliau lalu menanjakan kepada dewi Drupadi. Sang dewi menerangkan, Bima sedang mentjari bunga Tundjung. Mendengar djawaban itu Pandawa segera menjusul, didukung oleh Gatotkatja dengan para raksasa terbang keangkasa. Setelah sampai, bertemulah mereka dengan Bima. Pandawa lalu mandi dan terus tinggal ditepi telaga. Setelah Pandawa dapat beberapa hari tinggal disitu, ia melanjutkan ke gunung Gandamadana, Judistirapun ingin melihat kajangan batara Kuwera. Tiba2 terdengar suara Hai Pandawa, Djanganlah mengundjungi kajangan batara Kuwera. Lebih baik pergi kebekas pertapaan resi Narajana dan resi Nara Widari.

Resi lomosa jang djuga mendengar suara itu, menasehati supaja Pandawa menurut petundjuk itu. Pandawa lalu pergi ke Widari dan tinggal disitu. 39. RADJA JUDISTIRA DITIPU OLEH SEORANG RAKSASA Suatu hari Judistira, Nakula, Sahadewa dan Drupadi ditipu oleh raksasa jang bernama Djatasura. dilarikan dengan segala sendjatanja, Raksasa itu ganti rupa seperti berahmana. Para Pandawa sedikitpun tidak mengira bahwa berahmana itu sebenarnja raksasa. Karena itu, kemana diadjak berahmana tiruan itu, mereka ikut. Ketiku itu Bima, Gatotkatja dan para pengikut Gatotkatja sedang berburu. Para berahmana lagi mendjalankan kewadjiban sesadji. Ketika Bima dan Gatotkatja pulang dari berburu, saudara2nja seorangpun tak kelihatan. Mereka segera mentjari. Tak lama antaranja bertemulah mereka dengan Djatasura jang melarikan Judistira. Maka terdjadilah perkelahian seru. Djatasura mati terbunuh, dan Pandawa pulang ke Widari. Setelah mengaso beberapa hari, mereka lalu meneruskan perdjalanan sampai dipertapaan Arstisena di Himawat. Maka tinggalah Pandawa disitu. Suatu hari berkatalah dewi Drupadi kepada Bima, ia ingin mengetahui puntjak gunung Gandamadana jang banjak raksasanja. Bima mendjawab, bahwa ia akan berusaha memenuhi keinginan itu. Tapi lebih dulu ia akan berangkat seorang diri akan membunuh para raksasa dipuntjak gunung, Djika itempat itu telah aman, ia akan kembali mendjemput Drupadi dan saudara2nja. Setelah itu iapun segera berangkat. Ketika sampai dipuntjak Gandamadana, terdjadilah perkelahian seru dengan para raksasa. Para raksasa kalah, banjak jang mati, jang masih hidup

39
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


melarikan diri memberi tahu batara Kuwera. Batara Kuwera sangat murka mendengar sembah raksasa, bahwa Ada manusia jang berani membuat rusuh didaerah kajangannja. Beliau segera pergi ketempat perkelahian dengan naik kereta. Ketika Pandawa mendengar suara menderu dari puntjak gunung dan Bima tidak kelihatan, merekapun segera berangkat menudju tempat suara itu. Mereka telah menjangka itulah suara raksasa jang sedang berkelahi dengan Bima. Dewi Drupadi tidak diadjak, dikirimkan kepada resi Arstisena. Ketika mereka sampai dipuntjak Gandamadana, terlihat bangkai raksasa bertimbun dan Bima tegak ditengah bangkai itu, Tak lama antaranja datanglah batara Kuwera. Setelah beliau melihat, bahwa Pandawa jang berada disitu, hilanglah murkanja, mukanja djadi berseri2 tanda kegirangan. Beliau segera mendapatkan Pandawa dan memudji2 keberanian dan keteguhan hati Bima untuk memenuhi keinginan Drupadi jang setia kepada suami. Beliau menasehatkan supaja Pandawa kembali kepertapaan resi Arstisena. Setelah memberi nasehat, batara Kuwera lalu hilang dari pemandangan. Para Pandawa pun pulang kepertapaan resi Arstisena.

40. ARDJUNA KEMBALI DARI KAJANGAN Suatu hari terkenanglah Pandawa kepada Ardjuna, sehingga wadjahnja tergambar dalam pikiran mereka. Tiba2 mereka lihat tjahaja gilang-gemilang datang mendekat. Makin lama makin njata, bahwa itulah tjahaja Ardjuna menaiki kereta Hjang Indra. Waktu kereta sampai ditempat Pandawa Ardjuna segera turun terus menjembah kakaknja, Judistira dan Bima, lalu menghormat para berahmana dengan takzimnja. Ia lalu mentjeritakan kala 4 tahun dikajangan, telah dapat membunuh radja Niwatakawatja jang djadi musuh para dewa dan membinasakan Kalakandja, radja raksasa dinegeri Hiranjapura. Sebagai oleh2 dewi Drupadi dikasih pakaian keradjaan buatan surga. Waktu itu Pandawa telah mendjalani hukuman 10 tahun. Setelah Ardjuna mengaso beberapa hari, Pandawapun mengundjungi tempat2 sutji hingga sampai dikanan-kiri sungai Djamuna. Gatotkatja dan pengikutnja diperbolehkan pulang kenegerinja. Maka sampailah Pandawa dihutan Wisajajuka jang amat indah. Disitu mereka tinggal agak lama dan tiap hari pergi berburu. Suatu hari ketika Pandawa berburu, Bima dibelit ular besar. Dengan pertolongan. Judistira Bima bisa lepas dari belitan ular itu. Para Pandawa lalu kembali lagi kehutan Kamyaka. Waktu itu tahun kesebelas Pandawa mendjalani hukuman. Suatu hari datang Batara Kresna dengan perrnaisuri dewi Setyaboma dan resi Markandeja. Seteiah beberapa hari berkumpul dengan Pandawa, mereka lalu minta diri pulang. Pandawa lalu pindah lagi ke Dwetawana tinggal ditepi telaga.

41. KURAWA HENDAK MENGUNDJUNGI PARA PANDAWA Radja Drestaratya mendengar kabar dari salah seorang berahmana jang habis mengundjungi Pandawa bahwa keadaan Pandawa sangat sengsara. Lebih2 dewi Drupadi. Beliau sangat menjesali perbuatannja, tak punja pendirian teguh, selalu menuruti permohonan puteranja jang djahil. Tapi Durjudana sebaliknja sangat girang. Timbullah kehendaknja akan melihat

40
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


keadaan Pandawa, akan rnenjaksikan sendiri dan akan memperlihatkan kebesarannja djadi radja. Beliau akan berusaha supaja Pandawa lebih sengsara lagi dari pada sekarang. la berpikir, djika mohon izin kepada ajahanda dengan mengatakan jang sebenarnja, permohonan itu tentu akan ditolak, Karena itu ia akan berbohong, akan mohon izin melihat ternaknja jang dipelihara dekat Dwetawanna. Karena radja Drestaratya tak mengerti maksud jang sebenarnja, permohonan itu dikabulkan djuga Kurawa segera herangkat dengan, membawa peradjurit banjak jang lengkap sendjatanja. Ketika Kurawa sampai didekat Dwetawana, bertemulah mereka dengan tentara gandarwa. Maka terdjadilah perselisihan sehingga timbul peperangan jang amat seru. Achirnja Kurawa kalah. Durjudana ditawan. Kurawa lalu berkumpul merundingkan hal itu, Diputuskan untuk minta tolong kepada Pandawa. Mereka berangkat ke Dwetawana menemui Pandawa. Judistira merasa kasihan dengan Kurawa jang minta tolong itu. Beliau titahkan adik2nja menolong dan membebaskan Durjudana dari tawanan musuh. Bima berkata :Hai

Kurawa, Menurut pendapatku, sudah sepantasnja Durjudana ditawan gandarwa. Kamu tentu mengerti, Bahwa orang jang suka memusuhi orang jang tidak

mempunjai kekuatan, tentu akan dibalas oleh orang lain. Rupa2nja didunia ini penuh dengan kebahagiaan. Buktinja, walaupun Pandawa sekarang sedang sengsara, masih ada orang jang tjinta kepada kami, suka mengerdjakan suatu pekerdjaan jang djadi beban Pandawa, ialah para gandarwa. Durjudana datang di wejtawata sini tentu dengan maksud djahat, akan mengedjek dan mentertawakan Pandawa jang sedang sengsara. Jang suka memperhatikan kelakuan Durjudana tentu akan mengtakan bahwa kelakuannja tidak baik, tidak pantas djadi kelakuan seorang radja Pandawa belum pernah berbuat djahat kepada Kurawa. Tapi Kurawa selalu berbuat djahat kepada Pandawa, selalu berusaha

menumpasnja. Orang2 demikian tentu mendapat dosa besar. Apakah kamu tidak malu minta tolong kepada orang jang hendak kamu bunuh? Mendengar perkataan Bima itu, Kurawa sepatahpun tak mendjawab Mereka diam, bergerakpun tidak, rupanja sangat malu. Judistira jang berwatak belas kasihan, tak tega membiarkan kesusahan Kurawa, membiarkan radja Durjudana ditawan musuh Beliau membudjuk2 Bima supaja suka menolong. Oleh karena Bima segan kepada kakaknja, achirnja mau djuga is menolong Kurawa. Pandawa segera berangkat menjera ng tentara gandarwa. Maka terdjadilah pertempuran jang sangat hebat. Masing2 mengeluarkan kesaktian, sehingga tertjenganglah Kurawa melihatnja. Achirnja para gandarwa kalah, Sebabnja gandarwa mentjegat Kurawa, ialah karena titah Hjang Indra kepada Tjitrasena, radja gandarwa, untuk menghalangi niat Kurawa jang djahat terhadap Pandawa. Karena itu kala Tjitrasena jang bersalin rupa mendjadi gandarwa.berhapan dengan Ardjuna iapun berganti rupa kembali. Beliau menerangkan sebab2nja, mentjegat para Kurawa sehingga menawan Durjudana, ialah supaja kehendaknja jang djahat tak dapat dilangsungkan. Karena usaha telah tertjapai, beliau segera pulang kekajangan.

42. RADJA DURJUDANA HENDAK BUNUH DIRI Setelah keluar dari tawanan karena pertolongan para Pandawa, Durjudana segera pulang ke Hastiriapura. Beliau merasa malu, karena maksudnja akan memberi

41
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


malu Pandawa, tapi achirnja ia sendiri jang dapat malu. Karena sangat malu, belilau akan bunuh diri. Kurawa selalu membudjuk2 supaja niat beliau dibatalkan. Adipati Karna menjanggupi menaklukkan negeri2 lain supaja Durjudana bisa djadi radja gung binatara (Radja jang mempunjai banjak radja2 taklukan ) jang tak ada bandingannja.

Alkisah para raksasa jang menjembunjikan diri karena kalah perang dengan para dewa pada masa jang lalu, demi mengerti Durjadana akan bunuh diri, amat kuwatir. Karena djika radja itu mati, tentu tjita2 mereka akan membuat onar di dunia tidak akan

tertjapai. Mereka lalu menjalakan api sesadji. Para berahmana raksasa, menumpahkan mentega masuk api itu sambil mengutjapkan mantera. Tak lama antaranja keluar dari api itu seorang perempuan, menanjakan pekerdjaan apakah jang harus dikerdjakan. Para berahmana raksasa, menjuruh mengambil sukma radja Durjudana. Perempuan itu segera berangkat. Tapi lama antaranja kembalilah ia membawa sukma Durjudana, Para raksasa membudjuk2 sukma radja itu supaja kehendaknja membunuh diri diurungkan. Para raksasa menjanggupi kelak dalam perang besar, perang Baratajuda, akan membantu membinasakan musuhnja. Mereka memastikan kelak musuhnja akan hantjur lebur dan Durjudana akan djadi radja Gung binatara. Ketika mendengar kata raksasa itu, sukma Durjudana sangat pertjaja, sehingga mengurungkan kehendak akan bunuh diri. Para raksasa demi mengerti bahwa radja itu telah mengurungkan kehendaknja itu sangatlah girang, karena akan dapat meneruskan

pekerdjaannja membuat dunia tidak tenteram, Dengan segera sukma radja itupun dikembalikan. Radja Durjudana jang sedang pingsan, segera bangun kala sukmnja telah kembali, wadjahnja berseri2 tanda girang. Beliau pertjaja kelak dapat

mengalahkan Pandawa dengan bantuan para raksasa. Adappun usaha Adipati Karna menaklukkan negeri2 lain djuga telah tertjpai.

Karena itu Durjudana bermaksud mengadakan sesadji Radjasuja Beliau lalu minta pertimbangan para berahmana. Tapi para berahmana tidak setudju, karena Judistira telah mengadakannja.

43. BEGAWAN WYASA MENEMUI PARA PANDAWA Mengadakan sesadji Radjasuja itu hanja satu kali bagi satu turunan. Djika radja Drestaratya dan radja Judistirn telah meninggal dunia, baru radja Durjudana dibolehkan mengadakanrja. Karena itu beliau hanja mengadakan sesadji Wisnawa, dengan dikundjungi oleh para radja. Radja Judistirapun diundang tapi tak dapat datang. Kemudian para Pandawa pindah lagi kehutan Kamyaka. Ketika itu telah genap sebelas tahun mereka mendjalani hukuman. Pada suatu hari datanglah begawan Wyasa berkundjung. Djatuh hati beliau melihat Pandawa badannja sangat rusak tinggal kulit dan tulang, sehingga sedjurus lamanja tak dapat berkata sepatahpun djuga. Kemudian bersabdalah beliau Didunia ini tidak ada keadaan jang tetap, selalu berubah2. Tak ada seorangpun jang selama hidupnja merasa bahagia. Dan djuga tak seorangpun jang, selalu menderita sengsara. Karena itu Para bijaksana selalu teguh hatinja djika mendapat kebahagiaan atau menderita kesusahan. Tak ada pekerdjaan jang lebih baik dari pada tapa brata. Dengan tapa brata orang dapat mentjapai kemuliaan dunia. Ja tjutju2ku, Barangsiapa

42
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


jang berhati bersih, tidak bermandjakan diri dari kesenangan dan kenikmatan untuk mentjapai suatu tudjuan. djusta, akan dapat menaklukkan amarahnja adil bisa mendjauhi segala pekerdjaan buruk tidak dengki akan mendapat bahagia. Tapi orang jang suka mengerdjakan pekerdjaan buruk, melepaskan angkara murkanja, selama2nja tak akan merasa bahagia. Buah pekerdjaan bukan akan diperoleh didunia sadja, tapi djuga diachirat. Hai tjutju2ku para Pandawa, Orang jang sutji hatinja tidak kenal chawatir. Orang jang dapat menaklukkan hawanafsunja, hatinja selalu tenteram. Orang jang tak mengerdjakan kedjahatan dan keburukan, akan mendapat kesenangan. Orang jang dapat membimbing kemauannja kedjalan jang benar, jang sutji, tak mempunjai hati susah dan tak iri kepada orang lain jang mendapat bahagia. Siapa jang memberi dengan tidak mengharapkan apa2, orang itu merasa bahagia. Siapa jang tidak punja hati loba, hidupnja akan tenteram. Siapa jang selalu berdaja upaja mendjalankan kebaikan, akan mentjapai budi utama. Karena itu djanganlah berketjil hati kehilangan negerimu jang sangat makmur. Disebabkan tapa brata jang sedang kamu djalankan, negerimu akan kembali djadi hak milikmu dan kamu sekalian akan djadi orang terhormat, akan dapat kemuliaan tanpa bandingan. Karena itu hilangkan sedih hatimu. Dewa akan menghukum orang jang bersalah. Setelah memberi nasehat demikian, begawan Wyasa pulang kepertapaannja. Dan Pandawa masih tetap tinggal disitu.

44. DEWI DRUPADI DILARIKAN DJAJADRATA Sjahdan Djajadrata, radja negeri Sindu, putera radja Wredaksatra, suatu hari pergi kenegeri Mandraka (Mandaraka) akan meminang puteri radja Salja. Ketika sampai ditempat Pandawa, beliau lihat seorang puteri jang tjantik parasnja, tapi sangat kurus badannja. Ketika itu Pandawa sedang berburu. Dewi Drupadi ditinggalkan seorang diri. Djajadrata tertarik hatinja melihat dewi Drupadi, lalu dihampirinja masuk kedalam kubu. Setelah mereka tanja menanja, Djajadrata lalu membudjuk2 supaja dewi Drupadi terpikat hatinja, suka djadi permaisuri baginda. Katanja : Sekarang aku telah menjaksikan sendiri keutamaanmu. Sebenarnja kamu tak pantas menderita sengsara begini. Karena itu naiklah segera kekeretaku, supaja kamu dapat mengenjam kenikmatan dunia. Kamu tidak pantas djadi permaisuri Judistira radja tjelaka, jang hidup didalam hutan negerinja telah hilang, kebahagiaannja hilang, Djika sang dewi betul2 orang jang mengerti, sudah tentu tak mau mengikiuti swami jang sangat miskin. Wanita tak mendapat dosa meninggalkan suaminja jang lagi miskin, djika kemiskinan itu karena perbuatan sendiri, disengadja. Pandawa jang djatuh miskin, tak akan dapat merebut kembali negerinja. Sebaik2nja djanganlah sang dewi mau menderita sengsara jang disebabkan oleh perbuatan suami sendiri. Terimalah kebahagiaan dan kehormatan jang kuberikan. Djanganlah menolak, kamu akan kudjadikan permaisuri, supaja turut mempunjai negeri Sindu dengan djadjahannja. Dewi Drupadi mendengar perkataan Djajadrata demikan lalu mendjawab dengan kata2 jang pedas. Tapi Djajadrata tak mau mendengarkan. Ketika dewi itu melihat pengikut DJajadrata telah siap sedia untuk menangkapnja, ia lari sekentjang2nja ketempat resi Domea. Setelah sampai dihadapan resi Domea is merebahkan diri dipangkuan sang resi. Akan tetapi dapat djuga direbut oleh radja Djajadrata, terus dinaikkan dikereta. Resi Domea mengedjar dan berkata : Hai radja Djajadrata, Djanganlah melanggar kesusilaan. Laki2 tak boleh melarikan isteri orang lain, djika suaminja belum dikalahkan. Apakah

43
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


baginda ingin memetik buah pekerdjaan jang buruk itu? Saja peringatkan, Baginda akan dikalahkan oleh Pandawa. Resi Domea terus mengedjar. Sekembalinja dari berburu, Pandawa amat terkedjut, karena dewi Drupadi tidak kelihatan. Begitu pula Resi Domea. Mereka segera mentjari disekeliling kubu. Tetapi sia2 belaka. Jang tampak hanja bekas roda kereta. Mengertilah mereka, bahwa Drupadi dilarikan orang. Dengan segera Pandawa mengerdjar. Tak lama antaranja tersusullah Djajadrata. Maka terdjadilah pertempuran hebat. Achirnja Djajadrata kalah. Kekalahannja diampuni oleh Judistira dan ia diperkenankan pulang kenegerinja. Walaupun Drupadi dapat direbut kembali dari tangan Djajadrata. Judistira masih bersedih hati. Tiap beliau memandang dewi itu, teringatlah pula kedjadian2 jang lalu, jang menjebabkan sang dewi menderita tak terhingga. Beliau ingat ketika bermain dadu, ia diberi malu, dihinakan oleh Kurawa. Ia puteri radja, jang hidup selalu mewah dan dihormati. Sekarang menderita tak terhingga. Walaupun demikian ia tak mau pulang kenegerinja dan tetap mengikuti suami. Bagaimana sengsara selalu diterima dengan hati sabar dan tawakal. Kedjadian2 jang menimpa dewi itulah jang menjedihkan hati Judistira. Kesedihan Judistira bukan hanja karena mengingat kesengsaraan Drupadi, tapi djuga mengingat kesaktian Adipati Karna. Resi Markandea jang telah lama mengikuti Pandawa selalu menghibur hati Judistira. la mentjeritakan pesan Hjang Indra, bahwa Pandawa tak usah chawatir tentang kesaktian Karna, karena beliau sanggup menghilangkan

kesaktiannja. Mendengar kata resi itu, lenjaplah pikiran Pandawa jang bukan2. Mereka menetap kedua kalinja di Kamyaka dengan hati tenteram.

45. HJANG INDRA TURUN KE ARTJAPADA Dalam tahun keduabelas Pandawa mendjalani hukuman, Hjang Indra turun ke Artjapada akan minta kotang dan anting2 Adipati Karna, jang menjebabkan ia sakti dan kebal. Sebelum Hjang Indra turun menemui Adipati Karna, batara Surja telah mendahului dalam impian batara itu menitahkan, djika ada berahmana datang meminta, anting2 dan kotang, djanganlah dikabulkan, karena djika kedua benda itu dikasikan, sang Adipati akan mati dalam perang besar jang akan datang. Selama masih memakai kedua benda itu is akan terluput dari bahaja mati. Dan diterangkan pula berahmana itu sebenarnja Hjang Indra. Adipati Karna berdatang sembah, menerangkan bahwa ia akan menuruti

perkataannja, akan mengabulkan segala permintaan para berahmana. Sembahnja : Ja duli Sesembahanku, Djika Hjang Indra menemui patik dengan ganti rupa seperti bermana, apapun pintanja akan patik penuhi, menepati jang te1ah patik katakan. Pendapat patik tak selajaknja sateria melanggar djandji hanja karena menghendaki keduniawian. Satereia lebih baik mati dalam menepati djandji dari pada hidup terhina karena melanggar djandji. Mati sebagai sateria dimedan pertempuran akan meninggalkan nama jang harum. Demikian tekad patik. Karera itu djika Hjang Indra mendapatkan patik seperti berahmana, segala permintaannja akan patik kabulkan. Batara Surja mendengar djawaban Adipati Karna itu, menasehatkn mohon ganti sendjata jang sakti. Setelah dinasehati demikian. Adipati Karna terbangun dari tidurnja. Esok harinja pagi2 benar, setelah Adipati Karna memudja para dewa, datanglah keinginannja mempunjai panah Sakti. Karena itu ia mengharap2 kedatangan Hjang Indra. Suatu waktu datanglah Hjang Indra berganti rupa seperti berahmana menemui

44
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


Adipati Karna untuk minta anting2 dan kotang. Adipati Karna telah mengerti berahmana itu sebenarnja Hjang Indra Ketika berahmana itu minta kedua benda itu. Adipati Karna mendjawab bahwa is suka mengasihnja tapi minta ganti panah jang sakti. Hjang Indra menjanggupi, Adipati Karna segera menarik kotang jang lekat pada dadanja dan mentjopot anting2 lalu diberikannja kepada berahmana (Hjang Indra). Pada waktu itu djuga Adipati Karna mendapat ganti panah jang sakti. Sang berahmana menerangkan bahwa panah itu hanja boleh dipakai sekali, djika betul2 berhadapan degan musuh jang sangat berbahaja. Setelah bersabda demikian sang berahmana menghilang dari pandangan. Adipat Karna menarik kotang jang lekat pada dadanja itu karena dapat sabdanja Hjang Indra, sedikitpun tak ada lukanja dan tak ada bekasnja. 46. SEORANG BERAHMANA MINTA TOLONG KEPADA PARA PANDAWA Alkisah tak lama sehabis perang dengan radja Sindu Pandawa lalu pindah pula ke Dwetawana. Suatu hari Pandawa menerima tamu seorang berahmana. la mentjeritakan bahwa pertapaannja didatangi seekor rusa. Ketika rusa itu pergi, tanduknja menggait alat penghidupkan api dan pengaduk mentega sehingga kedua benda itu terbawa. Dengan sedih ia minta tolong kepada Pandawa untuk mentjarinja. Djika itu hilang, ia tak dapat mengadakan sesadji Agnihotra. Pandawa menjanggupi. Dengan segera mereka berangkat mengikuti djedjak rusa itu. Ketika rusa itu kelihatan, mereka panah, tapi tidak kena. Rusa menghilang. Mereka terus mentjari. Karena sangat lelah dan dahaga, mereka lalu berhenti. Judistira rnenitahkan

Nakula mentjari air. la segera berangkat, kemudian sampailah ditepi telaga jang sangat djernih airnja. Karena sangat dahaga, is segera hendak minum. Tapi sebelum ia menjauk air, terdengar suara berkata : Air ini kepunjaanku. Djika kamu hendak minum, balaslah lebih dahulu pertanjaanku. Nakula tak mau mendengarkan perkataan itu. Ketika menjauk air, ia djatuh lantas pingsan. Judistira menunggu beberapa lamanja tapi Nakula tak djuga datang. Lalu Sahadewa dititahkan menjusul. Pun Sahadewa, walau dinanti2kan, tak pula kembali. Lalu Ardjuna menjusul, kemudian Bima. Tapi merekapun tidak kembali. Semua mengalami nasib seperti Nakula. Judistira sangat heran, mengapa saudara2nja seorangpun tak ada jang pulang. Beliau lalu menjusul. Ketika sampai didekat telaga tersebut, beliau sangat terkedjut melihat para saudaranja menggeletak di tanah. Beliau segera menghampiri. Oleh karena sangat haus, Judistira segera akan menjauk air. Tiba2 terdengar suara tersebut tadi. Itulah suara raksasa siluman. Radja Judistira sanggup mendjawab segala

pertanjaannja. Raksasa siluman berkata : Musuh jang tak mudah dikalahkan itu siapa? Penjakit apakah jang tak ada hingganja Jang dikatakan orang baik atau orang buruk itu orang bagaimana? Radja Judistira mendjawab : Musuh jang sukar dikalahkan ialah amarah. Kikir itu penjakit jang tak ada hingganja. Siapa jang menudju kebaikan, ialah orang baik. Orang jang tak punja hati kasihan, ialah seorang buruk. Raksasa siluman bertanja pula : Bagaimanakah keadaan berahmana sedjati, asalnja dan hidupnja? Dan bagaimanakah kepandaian nja tentang Weda? Radja judistira rendjawab : Bukan keturunan, bukan kepintaran membatja surat Weda dan djuga bukan pengetahuan jang mendjadi dasar berahmana sedjati, tapi sempurnanja ia mendjalankan

45
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


hidup, baik dan sutji Berahmana harus teliti dan hati2 dalam semua pekerdjaannja. Tingkah lakunja harus sopan santun. melebihi orang biasa. Selama ia masih mendjalankan kewadjibannja, mendjalankan kebenaran dan kesutjian, orang itu tetap berahmana. Tapi djika hatinja menjimpang dari kebenaran dan keadilan, ia sudah tidak berahmana lagi. Orang jang menurutkan hawa nafsunja, ialah seorang angkara murka. Orang jang buruk budi pekertinja,walaupun mengetahui isi Weda, deradjatnja tidak Iebih tinggi dari

pada Sudra. Orang jang dapat menutup pantjaindranja, rneskipun hanja mendjalankan sedekah api, ia boleh disebut berahmana. Raksasa siluman merasa puas dan girang mendengar djawaban Judistira. Judistira dibolehkan memilih salah seorang diantara saudaranja untuk dihidupkan kembali. Sang radja memilih Nakula. Raksasa siluman bertanja pula : Apakah sebabnja Nakula jang harus dihidupkan kembali? Radja Judistira mendjawab : Sebenarnja ibu kami dua orang dewi Kunti dan dewi Madrim. Putera dewi Kunti 3 orang dan dewi Madrim 2 orang, ialah Nakula dan Sahadewa. Djika bukan salah seorang dari putera dewi Madrim jang raja mintakan hidup kembali, maka berarti saja berat sebelah tidak adil, hanja memihak kepada saudaraku seibu. Oleh karena saja adalah dari pihak ibu Kunti jang masih hidup, dengan sendirinja salah seorang dari putera ibu Madrim jang saja mintakan supaja dihidupkan. Karena Nakula putera tertua dari ibu Madrim, dialah jang saja mintakan supaja dihidupkan kembali, Dan sajapun anak tertua dari ibu Kunti. Djadi kedua ibu masing2 punja seorang putera jang masih hidup. ltulah sebabnja Nakula jang saja pilih, jakni menurut keadilan saja , Raksasa siluman djadi amat girang dan memudji2 kebidjaksanaan dan keadilan Judistria. Oleh karena ia sangat puas, semua Pandawa dihidupkan kembali. Kemudian raksasa itu, menerangkan ia sebenarnja Hjang Darma, ialah ajah radja Judistira. Beliau berdjandji kelak akan melindungi Pandawa supaja djangan sampai ketahuan oleh Kurawa selama mereka menjembunjikan diri dalam sebuah negeri. Hari itu genaplah 12 tahun Pandawa mendjalankan hu kuman, membuang diri dalam hutan. Sekarang tiba waktunja menjembunjikan diri dalam salah sebuah negeri. Karena itu para berahmana mohon pulang ketempat masing2.

47. PARA PANDAWA MENGABDI KEPADA RADJA WIRATA Kini tuntutan terhadap Pandawa tinggal lagi Menjembunjikan diri setahun lamanja dalam salah sebuah negeri. Mereka memutuskan akan bersembunji dalam negeri Wirata dan mengabdi kepada radja Matsya. Pandawa latu berangkat. Ketika mereka sampai dekat negeri jang ditudju, semua sendjata disembunjikan dalam rongga pohon jang besar. Setelah itu mereka rundingkan apa2 jang perlu dikerdjakan. Masing2 akan menjamar dan ganti nama. Mereka berangkat tidak serempak, ada jang dahulu dan ada jang kemudian. Jang berangkat lebih dahulu ialah Judistira, lalu Bima, Ardjuna, dewi Drupadi, Nakula, Sahadewa jang paling Belakang. Judistira menjamar djadi berahmana dan ganti nama: Kangka. Bima menjamar djadi tukang masak, membawa pengeduk nasi dan ganti nama : Balawa. Ardjuna menjamar djadi bantji supaja bisa bergaul dengan para puteri dikeraton dengan maksud menjiarkan kepandaiannja : tari dan gending. Nama samarannja : Wrahatnala. Dewi Drupadi ganti nama Sairindri, dan akan mohon pekerdjaan djadi tukang mendandani para puteri. Nakula akan mohon pekerdjaan tukang kuda dengan ganti mana : Grantika, Sahadewa akan mohon

46
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


pekerdjaan gembala dengan ganti nama : Tantipala. Mereka semua diterima djadi abdi, Radja Wirata dan dipekerdjakan sebagai jang diminta masing. Mereka radjin dan giat karena itu sangat dipertjajai oleh Baginda. Lebih2 setelah Balawa (Bima) dapat membunuh radja Mallodjina, musuh baginda jang

kekuatannja tak terhingga. Walaupun Pandawa bekerdja sungguh2 dengan hati sutji, tapi hampir sadja dapat bahaja. Sebabnja begini : Kintjaka, ipar Baginda jang djadi panglima perang, djatuh tjinta kepada Sairindri (dewi :Drupadi). Lalu dibudjuk2 nja supaja suka djadi isterinja. Walaupum Sairindri menerangkan bahwa ia telah bersuamikan gandarwa Jim jang amat tjinta kepadanja, Kintjaka tak mau mendengarkan. la terus berusaha supaja bisa memperisteri Sairindri. Suatu hari Kintjaka mengadjak Sairindri mengadakan pertemuan dalam diruang

peladjaran tari. Kali ini Sairindri menurutkan adjakan itu, dan kemudian memberi tahu Balawa. Ketika Kintjaka pada waktu jang didjandjikan sampai ditempat pertemuan, terdjadilah perkelahian hebat dengan Balawa. Achirnja Kintjaka mati terbunuh. Sairindri segera memberita u pendjaga, bahwa Kintjaka dibunuh oleh gandarwa ketika berdjalan

dibelakangnja akan.pergi keruangan tari. Sairindri mentjeritakan djuga bahwa Kintjaka mempunjai maksud tidak pantas terhadapnja. Para pendjaga sangat marah kepada Balawa. Maka terdjadilah perkelahian seru, Achirnja mereka jang berdjumlah 100 prang mati terbunuh. Waktu majat Kintjaka akan dibakar, dengan tekad jang bulat, para keluarganja akan turut membakar diri. Sairindripun hampir tak luput dari bahaja itu, karena Kintjaka mati lantaran dia. Sebab itu is harus turut membakar diri. Tapi Balawa tidak setudju. Banjak orang jang bermohon kepada Baginda Matsya supaja Sairindri diusir sadja dari Wirata. Seri Baginda setudju. Ketika itu hampir 1 tahun Pandawa bersembunji dalam negeri, hanja kurang 12 hari lagi. Karena itu Sairindri bermo hon supaja diperkenankan tinggal 13 hari lagi dikeraton. Permohonan itu dikabulkan,

48. KURAWA MERAMPAS TERNAK RADJA MATSYA Alkisah radja Durjudana selalu berusaha segiat2nja untuk mengetahui tempat sembunji Pandawa. Banjak mata2 disebarnja dinegeri2 lain. Negeri Wiratapun tidak ketinggalan. Tapi sia2 belaka. Jang didapatnja hanja kabar tentanq Kintjaka jang sakti mati dibunuh oleh seorang gandarwa. Mendengar itu timbul niat djahat dihati Durjudana. la akan merampas semua ternak kepunjaan radja Matsya jang ditempatkan di Trigata. Niat djahat itu disetudjui oleh seluruh Kurawa. Suatu hari berangkatlah para Kurawa. Sebagian ke Trigata dan selebihnja kesuatu tempat dekat negeri Wirata, Di Trigata terdjadilah pertempuran hebat, sehingga radja Matsya tertawan. Pandawa datang membantunja hanja Ardjuna jang tidak turut, karena dianggap seorang bantji. Pertemrpuran makin,hebat. Achirnja Kurawa melarkan dari dan radja Matsya dapat dibebaskan. Para Kurawa jang merampas ternak dekat kota Wirata sangat leluasa, karena tak ada perlawanan, Para gembala melarikan diri masuk kota untuk memberitahukan kedjadian itu kepada Mahkota Utara, putera jang menunggu kota. Setelah Utara mendengar sembah Para gembala, ia ingin segera mengedjar musuh. Tapi is tak punja kusir kereta. Karena itu tak dapat mengedjar. Sairindri demi mengetahui keadaan

47
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


itu, lalu memberi tahu Wrahatnala (Ardjuna), jang segera mendapatkan Utara, untuk menjatakan ia sanggup mendjadi kusirnja. Tak lama berangkatlah mereka mengedjar Kurawa. Ketika sampai ditempat jang diduduki Kurawa, Utara ingin kembali karena gentar melihat musuh amat banjak, Kehendaknja . dapat ditjegahWrahnaa jang mengaku bahwa ia sebenarnja Ardjuna. Mendengar itu Utara dengan gembira menjanggupi melawan musuh jang sangat banjak itu dengan hanja berdua sadja. la telah mendengar tentang kesaktian Ardjuna. Kereta segera dilarikan ke tempat Ardjuna menjimpan sendjata. Setelah mengambil sendjata, mereka tjepat kembali ketempat musuh. Maka terdjadilah

pertempuran hebat. Kurawa sedikitpun tak menjangka bahwa jang dikira bantji itu adalah Ardjuna. Achirnja mereka lari pontang-panting meninggalkan medan pertempuran. Sehabis pertempuran, pulanglah Utara dan Ardjuna kekota Wirata. Ada seorang hamba jang menghadap Baginda Matsya, mempersembhkan bahwa Utara dapat mengundurkan musuh. Mendengar itu Seri Baginda lalu menitahkan mendjemput puteranja dengan upatjara kebesaran. Setelah datang menghadap, Utara mempersembahkan djalan pertempuran, jaitu bahwa jang mengundurkan musuh sebenarnja bukan dia, tapi dewa jang ganti rupa pemuda jang tampan, bernama Wrahatnala. Seri Baginda sangat bersukatjita mendengar sembah Utara itu. waktu itu tinggal 3 hari lagi dan Pandawa akan bebas dari hukuman. Setelah Pandawa genap 13 tahun mendjalani hukumandengan selamat, mereka lalu menghadap Seri Baginda, menerangkan sebenarnja Pandawa. Mereka tjeritakan sebab2nja sampai mengabdi kepada Baginda. Radja Matsya sangat terkedjut, karena sedikitpun tak menjangka bahwa jang djadi berahmana, djuru masak, guru tari dan lainja itu sebenarnja Pandawa. Baginda sangat berbesar hati kedatangan mereka jang tak disangka2 itu. Ke girangan itu menumbuhkan tjinta kasih kepada Pandawa sehingga

Ardjuna akan didjadikan menantu, hendak dikawin kan dengan puterinja jang bernama dewi Utari. Akan tetapi Ardjuna menolak. Ia mohon sangat supaja dewi Utari diperkenankan djadi isteri Abimanju, putera Ardjuna dengan dewi Subadra. Seri Baginda sangat setudju, dan tak lama antaranja diadakan peralatan besar2an, untuk merajakan perkawinan Abimanju dengan dewi Utari.

VI. BARATAJUDA 49. RUNDINGAN TENTANG PERDAMAIAN Dalam peralatan itu berkumpul para radja dan sateria. Batara Kresna, sang Baladewa dan sang Setyaki djuga hadir. Setelah perdjamuan selesai, para radja dan sateria berkumpul diruangan jang sering digunakan untuk berunding, Rapat diketuai oleh Drupada, radja negeri Pantjala. Beliau menerangkan maksud perundingan, ialah untuk mentjari daja upaja supaja negeri Hastinapura jang separoh dikembalikan kepada Pandawa dengan djalan damai. Mendengar uraian itu tak seorangpun diantara radja2 dan sateria jang bitjara, sehingga ruangan diadi sunji senjap. Semua memandang kepada Batara Kresna. Mereka mengerti bahwa hanja beliau jang dapat memetjahkan soal jang sulit itu. Batara

48
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


Kresnapun minta pertimbangan para radja dan sateria bagaimana baiknja supaja kedua belah pihak sama2 puas. Baginda berpendapat, oleh karena belum mengerti benar pendirian Durjudana, lebih baik mengirimkan utusan dulu untuk menasehati supaja negeri Hastinapura jang separoh dikembalikan kepada Pandawa. Baladewapun setudju dengan pendapat Kresna. Dan sebagai utusan harus dipilih orang jang dapat memikat hati Durjudana. Beliau mengerti benar adat dan watak radja tersebut. Djika utusan tidak dapat memikat hati Durjudana, rasanja negeri Hastinapura jang separoh itu tak akan dikembalikan kepada Pandawa. Sang Setyaki jang tidak sabar berpendapat, djika Durjudana tak mau mengembalikan negeri Hastinapura jang separoh kepada Pandawa, permintaan harus disertai kekerasan. Ia menjanggupi memintanja. Radja Drupada setudju mengirimkan utusan dulu, dan terus terang minta negeri Hastinapura jang separoh dikembalikan. Selesai perundingan, para radja dan sateria, serta Batara Kresna pulang kenegieri masing2. Radja Drupadalalu mengirimkan utusan jang dipertjaja, seorang (pendeta istana) ke Hastinapura, Tapi utusan itu kembali tanpa djawaban apa2. Sepulangnja utusan itu, para radja lalu memilih pihak, Ada jang bergabung dengan Pandawa Han ada pula dengan Kurawa.

50. RADJA DURJUDANA DAN ARDJUNA PERGI KE DWARAKA Ardjuna sangat mengharap bantuan Kresna. Begitu pula Durjudana. Karena itu mereka pergi ke dwaraka menghadap sang Batara. Radja Durjudana datang 1ebih dahulu, tapi Batara Kresna sedang tidur. Ditunggunja sampai bangun, sambil duduk disamping kepala Baginda. Tak lama datanglah Ardjuna. Karena Batara Kresna masih tidur lalu duduk kesebelah kaki. Ketika Batara Kresna tersentak, Baginda lantas melihat Ardjuna menghadap. Demi menoleh kesamping nampak pula Durjudanapun menghadap. Batara Kresa lalu bangum dan duduk ditempat itu djuga beliau men jakan apa perlunja mereka menghadap diwaktu sepenting Radja Durjudana mengatakan, akan terdjadi perang besar, perang Baratajuda. la mothon batara Kresna suka memihak Kepadanja, dan menegaskan ia datang iebih dulu dari Ardjuna. Batara Kresna mendjawab, jang terlihat dulu ialah Ardjuna. Walaupun Durjudana datang lebih dulu, tapi kedua2 nja akan dibantu. Durjudana dibolehkah memilih lebih dulu, matjam bantuan jang is kehendaki. Bantuan 10000 peradjurit bersendjata lengkap, atau bantuan diri beliau jang. tak akan turut berperang. Durjudana memilih bantuan peradjurit. Karena ia berpendapat, djika mendapat bantuan peradjurit terpilih sekian banjaknja, tentu akan dapat membinasaka musuhnja. Pilihan Durjudana rnenggirangkan Ardjuna. la tak butuh bantuan peradjurit. jang sangat, dibutukan ialah diri Batara Kresna untuk memberi nasehat tentang muslihat perang. la pertjaya, djika kelak dapat petundjuk dari Baginda) akan menang perangnja. la tahu Batara Kresna pendjelmaan Hjang Wisnu. Sang Baladewa tidak memilih pihak. Setelah itu Durjudana pulang dengan hati gembira. Setelah Durjudana pergi, Batara Kresna bertanja kepada Ardjuna, mengapa is bergirang mendapat bantuan diri beliau jang tak akan turut berperang. Ardjuna menerangkan is sangat membutuhkan nasehat2 dan petundjuk beliau. Dan pula is sangat ingin, kelak dalam pertempuran menaiki kereta jang beliau kusiri, la tak mengharapkan bantuan peradjurit, walaupun peradjurit Pandawa tidak sebanjak peradjurit Hastinapura. Batara Kresna sangat sukatjita mendengar keterangan Ardjuna dan berdjandji kelak akan mengusiri keretanja dimedan pertempuran. Setelah itu Ardjuna minta diri dan mengadjak Batara Kresna ikut ke Wirata.

51.

TIPU MUSLIHAT RADJA DURJUDANA

49
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


Sepulangnja dari Dwaraka, radja Durjudana mendengar kabar bahwa radja Salja dari Mandraka akan memihak ke pada Pandawa. Oleh karena sangat membutuhkan bantuan negeri lain, terutama dari radja Salja, Durjudana menjusun tipu muslihat supaja radja itu suka memihak kepadanja. Sepandjang djalan ke Wirata jang akan dilalui oleh radja Salja dengan tentaranja didirikannja rumah. Disitu disediakan ma kanan, jang lezat2 untuk mendjamu radja Salja dan tentaranja. Ketika radja Salja dengan tentaranja liwat didepan rumah2 itu, mereka dipersilahkan berhenti sebentar untuk didjamu. Radja Salja sedikitpun tak menjangka bahwa jang menjediakan makanan itu ialah Kurawa, dikiranja Pandawa djua. Karena itu Baginda dengan tentaranja bersantap dengan hati gembira. Selesai mereka bersantap, datanglah Durjudana

mendapatkan Baginda, memohon dengan hormat dan sangat supaja suka memihak kepadanja. Radja Salja sangat terkedjut mendengar permohonan itu. Beliau djadi bingung. Sedang Baginda bingung itu, radja Durjudana membudjuk2 dengan perkataan manis2. Achirnja radja Salja

menjanggupi membantu Kurawa. Setelah selesai bertjakap2, Baginda meneruskan perdjalanan ke Wirata. Radja Salja mentjeritakan kedjadian itu kepada Pandawa. Baginda kemudian menjanggupi akan membantu Pandawa setjara rahasia. Bagaimana tjaranja ini membingungkan Baginda. Mendengar sabda radja itu, mengertilah Judistira kehendak Baginda. la lalu memohon, kelak dalam perang Baratajuda djika Baginda mengusiri kereta Karna, djanganlah hendaknja didjalankan jang semestinja. Radja setudju. Esok harinja beliau minta diri akan pergi ke Hastinapura.

52. SANG DRESTARATYA MENGIRIMKAN UTUSAN KEPADA PANDAWA Suatu hari datanglah Sandjaja, utusan radja Drestaratya menghadap Pandawa. la hanja menjampaikan salasi dan pudji2an mengharap perang Baratajuda tidak djadi. Sedikitpun tak disinggung2nja tentang negeri Hastinapura. Judistira mendjawab : Pandawa tak suka perang, suka damai. Sang,Drestaratya sendiri dan puteranja jang menghela Pandawa kekantjah peperangan. Supaja perang tak djadi, kembalikanlah negeriku. Saja tidak minta negeri Hastinapura seluruhinja dikembalikan, tidak, hanja sebagian jaitu, Wrekas tala, Kusastala, termasuk djuga Kanjakundja, Makandi dan Waranawata. Sandjaja membudjuk2 Pandawa supaja mengurungkan kehendaknja minta pengembalian negeri2 itu.Walau Pandawa dibudjuk2 demikian, tekadnja tetap akan minta kembali haknja, Batara Kresna berkata bahwa perang Baratajuda tak dapat dielakkan, mesti terdjadi, Tapi beliau menjanggupi untuk mentjoba mendamaikan hal. itu sekali lagi dengan Kurawa. Sandjaja lalu minta diri pulang ke Hastinapura. Judistira berpesan, agar tidak terdjadi penumpahan da rah, jang mungkin menjebabkan binasanja suatu turunan negeri Htinapura jang separoh harus dikembalikan. Sesampainja di Hastinapura Sandjaja terus menghadap Durjudana mempersembahkan hasil rundingan dengan Pandawa. Ketika at itu radja Salja di Hastinapura dan menasehatkan supaja hak Pandawa dikembalikan. Resi Druna pun sangat setudju dan sangat menghargai

nasehat itu. Tapi radja Durjudana menolak. Hatinja tetap tak mau mengembalikan negeri Hastinapura jang separoh kepada Pandawa. Djangankan separoh, setapak djaripun ia tak mau mengembalikan. la pertjaja Kurawa dan bala bantuannja akan dapat membinasakan musuh, karena panglima perangnja banjak dan sakti2, dan peradjuritnjapun lebih banjak dari

50
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


peradjurit Pandawa. Radja Drestaratyapun membudjuk puteranja supaja mengembalikan hak Pandawa, Tapi TDurjudana telah bulat tekadnja,

53. BATARA KRESNA DJADI UTUSAN PANDAWA Kurawa sibuk merundingkan permintaan Pandawa. Pandawapun merundingkan soal itu djuga, Dalam perundingan itu Kresna menganggap perlu mengirimkan utusan sekali lagi. Beliau sanggup mendjadi utusan. Pandawa dan radja2 sangat girang mendengar uraian Kresna. Suatu hari berangkatlah sang Batara ke Hastinapura dengan kereta jang dikusiri oleh sang Setyaki Ketika sampai di Tegal kurusetra, tilba2 datanglah empat resi, ialah resi Parasu, Kanwa, Djanaka dan Narada Mereka turun dari angkasa terus naik kereta Kresna. Empat resi itu akan menjaksikan. perudingan antara Pandawa dan Kurawa. Semeratara itu Durjudana telah mendengar kabar bahwa Kresna akan datang sebagai duta Pandawa. Beliau menitahkan Kurawa untuk mengadakan barisan bersembunji jang bersendjata lengkap dan mengumpulkan para tetua, ialah resi Druna, krepa, Bisma dan radja Salja

untuk menjambut duta Pandawa itu. Djalan2 jang menudju keistana, dihampari babut jang indah permai, ditaburi bunga2 jang harum dan dihiasi dengan, bunga2 dan daun, sehingga kelihatan sangat indah. Penghormatan luarbiasa itu bertudjuan menarik hati Kresna supaja berpihak kepada Kurawa. (Pikirannja ialah djika Kresna dihormati luar biasa, didjamu dengan makanan lezat2 dan dibudiuk dengan kata2 jang manis, jang enak didengar. ia tentu akan berbalik haluan. Ketika sampai di Hastipura, Kresna didjemput oleh Sakuni dan nara tetua. Beliau dipersilakan terus masuk keistana untuk didjamu dan dipersenang2 sebagai penghormatan. Tapi Kresna menolak. Beliau bersabda : Sateria jang sedang mendjalankan kewadjiban, tak boleh bersuka2 sebelum pekerdjaanaja selesai dengan sempurna. Durjudana sangat ketjewa

mendengar djawaban demikian. Gagallah usahanja menarik hati sang Batara. Mereka lalu mengadakan pertemuan dipasewakan. Batara Kresna menerangkan, beliau hendak minta keterangan tentang hak Pandawa atas negeri Hastinapura jang separuh. Durjudana mendjawab, bahwa is setudju Hastinapura dibagi dua. Para dewa dan tetua sangat girang mendengar djawaban Durjudaria itu. Mereka memudji2 ketulusan hati dan keutamaannja. Setelah perundingan itu selesai dan mendapat persetudjuan, para dewa lebih dulu mengundurkan diri, pulang ke Kajangan Batara Kresna masih di situ. Maksud beliau sebentar lagi djuga akan minta diri pulang ke Wirata. Setelah para dewa pulang, tiba2

Durjudana menarik kembali perkataannja. la berkata dengan sombong, bahwa ia takkan mengembalikan negeri Hastinapura jang separoh ke pada Pandawa. Djanganpun separoh, setapak djaripun tak kan diberikan, akan dibelanja sampai titik darah jang penghabisan. Para tetua sangat terkedjut mendengar sabda Durjudana demikian. Mereka menasehatkan supaja menepati jandji sebagai sateria. Dan diperingatkan Pula, djika terdjadi perang Baratajuda, perang saudara, rakjat Hastinapura akan rusak binasa. Tapi Durjudana tak mendengarkan nasehat Niatnja tetap akan memungkiri djandji. Malah beliau meninggalkan perundingan dengan murka. Sakuni demi tahu Durjudana meninggalkan perundingan dengan murka, segera memberi isjarat

51
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


kepada Kura wa jang bersembunji untuk segera menjerang Batara Kresna Batara Kresna jang mengerti Kurawa akan menjerang dengan segera triwikrama.Seketika itu djuga beliau berubah djadi raksasa jang amat besar dan sangat menakutkan rupanja, tak ubah dengan Hjang Kala akan melebur dunia. Melihat raksasa sebesar bukit dan sangat menakutkan itu, Kurawa lari pontang panting. Achirnja Batara Kresna reda murkanja. Rupanja kembali seperti biasa. Beliau meninggalkan pasewakan akan pulang ke Wirata. Sebelum meninggalkan Hastinara beliau akan singgah dulu ditempat dewi Kunti. Ditengah djalan beliau bertemu dengan Adipati Karna. la djuga hendak menengundjungi dewi Kunti. Mereka lalu berdjalan bersama Batara Kresna menasehati Karna supaja memihak kepada Pandawa karena Karna sebenarnja saudara Pandawa jang paling tua. Tentang Durjudana tak mau mengembalikan negeri Hastina pura jang separoh, itu salah, karena hak Pandawa. diterangkan djuga bahwa kehendak Durjudana jang demikian berarti mengadakan pertumpahan darah jang sangat hebat. Karna diperingatkan supaja membela Pandawa, karena dipihak Pandawalah jang benar, Sudah sewadjibnja sateria membela kebenaran. 54. PERTEMUAN ANTARA DEWI KUNTI BATARA KRESNA DAN ADIPATI KARNA Setelah mereka sampai ditempat dewi Kunti, beliaupun menasehati Karna supaja memihak kepada Pandawa. Tapi Karna tak mau mendengarkan nasehat ibunja jang baik itu. Ia tetap akan membela Durjudana. Begini sembahnja: Ja ibuku dan kakakku jang santgat hamba hormati. dan tjintai Bagaimakah hamba dapat menurut petundjuk dan nasehat ibu dan kakakku jang Akan menghela hamba kedjurang ke hinaan. Meskipun kehendak Durjudana menjimpang dari kebenaran dan keadilan dan hambapun telah mengerti pekerdjaan itu menjebabkan binasanja turunan Kuru, tapi hamba seorang sateria jang telah mendapat kehormatan dan kemuliaan dari radja itu, dan telah berdjandji akan membelanja, djadi sudah semestinja tak dapat meninggalkan beliau dalam waktu jang sangat genting. Dengan apa hamba dapat membalas kebadjikan beliau, selain dengan kesetiaan membela beliau sampai titik darah jang penghabisam. Ja kakakku, Hambapun mengerti bahwa pihak Kurawa jang bersalah. Dan achirnja takkan menang dalam peparangan tentu akan hantjur lebur. Tapi hamba, lehih baik mati dimedan pertempuran dari pada hidup memungkiri djandji, ia lah djandji kepada orang jang telah menolong hamba, sehingga mendapat kemuliaan. Para dewa telah berkata, bahwa jang mati dimedan perang Baratajuda, tentu akam naik sorga. Lagi pula nama hamba akan tinggal harum djika dapat memenuhi kewadjiban sebagai sateria, menepati watak peradjurit. Sebaliknja djika hamba menuruti kehendak ibu dan kakakku, dan berbalik meninggalkan radja Durjudana, memihak pada Pandawa tentu akan mendapat nama jang seburuk2nja,

akan mendapat hinaan dan ditertawakan oleh setiap manusia. Dari turunan hamba takkan berharga lagi. Itulah sebabnja hamba tak mau memihak kepada Pandawa, pihak jang benar. Hamba tetap memihak pada Kurawa, pihak jang salah. Ja kakakku, Baru sekarang hamba mengerti, bahwa hamba putera sulung ibu Kunti, Tapi sajang benar tali hubungan dengan adik2ku para Pandawa telah diputuskan oleh ibu sendiri. Apakah sebabnja hamba dibuang? Pembuangan inilah jang memutuskan hubungan hamba dengan adik2. Karena itu hamba mohon dengan sangat supaja hal ini djangan diketahui adik2. Djika mereka, sampai tahu, tentu tak mau berperang dengan hamba, Mendengar utjapan puteranja itu, Dewi Kunti sepatahpun tak berkata. la duduk terdiam. Hanja pikirannja jang melajang kemana2 memikirkan kedjadian jang akan datang. la merasa iba kepada puteranja, sang Karna jang tak mau mendengarkan kata itu, sehingga tak terasa air

52
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


matanja derderai. Batara Kresna mendjawab : ja adikku sang Karna Djanganlah hendaknja salah paham, mendakwa aku menghela adik kedjurang kenistaan. Saja hanja memberi peringatan dan petundjuk supaja kamu berbahagia, bisa hidup damai dengan semua keluarga, ialah adik2mu para Pandawa. Tentang tekadmu akan menepati djandji sebagai sateria utama, itu memang pada tempatnja. Saja takkan mentjela dan menjalahkan. Malah saja pudji. Hanja tjara memilih jang harus dibela jang tidak benar. Adikku bukan turunan Kurawa. Djadi tidak berkewadjiban membela Durjudana dengan mengurbankan djiwa. Adikku mendapat kehormatan djadi Adipati dinegeri Angga, tetapi itu sebenarnja tipu muslihat supaja adikku sungguh2 membela Durjudana. Adikku merasa girang mendapat kemuliaan dan kehormatan, Tapi kehormatan dan kemuliaan itu belum, boleh dikatakan, kehormatan dan kemuliaan jang sedjati, karena adikku terikat oleh suatu perdjandjian sehingga adikku menjanggupi bermusuhan dengan saudara sendiri. Adapun hubungan adik dengan Kurawa itu hanja karena sama2 djadi menantu radja Mandraka. Karena itu, djika adikku tetap akan membela Durjudana, membela Kurawa, itu tidak pada tempatnja, tidak boleh dikatakan sateria perwira jang mendjalankan keutamaan. Sateria utama menudju kebenaran dan keadilan untuk keamanan dunia. Jang pantas dibela ialah orang jang mendjalankan kebenaran dan keadilan. Adikku telah mengerti, tekad Durjudana djauh dari benar, jaitu merampas hak orang lain. Karena adikku telah mengerti pekerdjaan itu tidak benar, mengapa adikku tetap hendak membela? Membela orang jang bersalah berarti membuat salah. Pekerdjaan demikian bukan pekerdjaan sateria. Djika adikku tetap akan membela Durjudana, orang jang bersalah dimanakah letak watak sateriamu jang berkewadjiban membela keadilan? Adipati Karna mendengar sabda Batara Kresna demikian, sangat marah dalam hatinja, tapi dapat ditahannja, karena sabda itu benar belaka. la lalu berkata : ja kakakku. Sabda kakakku benar belaka. Tapi bagiamanakah dapat memungkiri djandji jang terhambur dari mulut, jaitu akan membela Durjudana dan sanggup djadi panglima perang djika terdjadi perang Baratajuda. Karena itu hamba tetap akan menepati djandji. Untuk menebus dosa, karena hamba membela orang jang bersalah, biar hamba mati dalam medan pertempuran. Batara Kresna mendjawab : ja adikku, Petundjukku jang keluar dari hati sutji dan hasrat menepati kewadjibanku sebagai saudara tua terhadap saudara muda, Menurut atau tidak terserah kepada kebidjaksanaan adikku sendiri. Tapi saja telah bebas dari kewadjiban memberi nasehat kepada adikku. Djangankan saja manusia biasa, bahkan dewapun takkan dapat membelokkan hati adinda jang telah tetap ini. Segala pekerdjaan baik atau buruk, tentu akan memetik buahnja. Ja adinda, Karena pekerdjaan saja sebagai duta telah selesai, saja akan, segera pulang ke Wirata. Setelah itu Kresna memohon diri kepada dewi Kunti. Sebelum Kresna berangkat, dewi Kunti berpesan : ja anakku Kresna Sampaikan pesanku kepada Pandawa Djanganlah putera2ku bimbang hatinja. Tetapkan niat akan menggempur musuh dan merebut hak kembali. Saja lebih senang melihat anak2ku mati dimedan pertempuran sebagai kusuma bangsa, pembela kebenaran dan keadilan, dari pada mendapat kehormatan dan kemuliaan dengan djalan jang sangat hina, Tundjukkanlah watak kesateriaannja supaja dunia mengetahui. Djanganlah putera2ku berketjil hati. Saja hanja dapat membantu dengan doa, memohonkan kepada ewa, semoga apa jang ditjita2kan anak2ku semua bisa tertjapai, jaitu mendapat kemuliaan dan kehormatan jang setimbang dengan djasa. Sekian pesanku kepada putera-puteraku. Setelah dewi Kunti berpesan demikian, Kresna segera pulang ke Wirata. Adipati Karna djuga minta diri pulang kenegerinja. Selama masih didaerah Hastinapura. Kresna tahu bahwa para peradjurit Hastinapura jang tak

53
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


terhitung banjak nja itu telah bersiap2 untuk bertempur, dikepalai oleh resi Bisma dan para radja dari negeri lain. Ketika Kresna sampai di Wirata, didapatinja para radja dan Pandawa telah berkumpul, mengharap2 kedatangan beliau. 55. PIHAK PANDAWA Setelah melepaskan lelah, Batara Kresna mentjeritakan tentang gagalnja perundingan. Para radja dan sateria demi mendengar keterangan Batara Kresna, bahwa perundingan gagal, tampak pada wadjah mereka perasaan tak sabar segera bertempur. Mereka ingin, memperlihatkan kepada dunia kesateriaannja membela keadilan dan kebenaran. Maka bersabdalah radja Matsya jang djadi ketua perundingan Djika demikian, djanganlah hendaknja kita terlambat, Hai Judistira dan tjutjuku semua Gerakkanlah peradjuritmu. Batara Kresna saja serahi mengatur siapa jang djadi panglima perang. Semua kekajaan negeri Wirata boleh digunakan untuk keperluan perang ini. Semua peradjurit Wirata boleh madju kemedan pertempuran. Djika peradjurit jang masih ada sekarang masih kurang, pemuda semua boleh didjadikan peradjurit. Dalam rapat itupun dibitjarakan djuga siapa jang djadi panglima perang. Para radja menjerahkan hal itu kepada Bataia Kresna.Untuk pertama kale Kresna memilih sangi Drestadyumna djadi panglima perang. Menurut pendapat beliau, dialah jang dapat membunuh resi Druna. Setelah perundingan selesai, para radja segera menjiapkan peradjurit masing2. Sebelum mereka berangkat, Batara Kresna memberi petuah untuk mempertebal semangat. Hai anak2ku para sateria. Kamu sekarang akan berangkat kemedan pertempuran untuk merebut negara pusakamu, negeri tumpah darahmu, jang telah direbut oleh musuh. Hal ini telah mendjadi darmamu sebagai sateria. Kewadjiban sateria ialah mendjaga kedaulatan negeri tumpah darahmu, memberantas watak angkara murka, menghilangkan segala penghalang bagi kemadjuan nusa dan bangsa, berusaha menerangkan segala sesuatu jang gelap, tjinta nusa bangsa, tjinta kepada sesama, tunduk kepada kebenaran dan keadilan. Djika kamu benar2 mengaku berdarah sateria, tirulah leluhurmu,

djangan segan dan sajang mengurbankan djiwa raga untuk membela nusa dan bangsa dan agamamu. Karena itu madjulah sekalian kemedan pertempuran dengan hati gembira, bertekad satu menepati kewadjiban sebagai sateria. Mati dalam medan pertempuran membela nusa dan bangsa dan agama jang akan dirusak oleh musuh, pasti akan digandjari surga dan akan meninggalkan nama jang harum jang akan dipudji oleh turunanmu semua. Karena itu djangan berketjil hati untuk menepati darmamu. Hai para sateria, Saja pertjaja kamu akan menepati darmamu. Selama berhadapan dengan musuh, djanganlah memikirkan mati. Hidup dan mati dalam kekuasaan maha kuasa. Segala jang bernjawa, tak ada jang tetap hidup selama2nja. Karena itu djanganlah takut mati. Segala jang bernjawa tentu akan mati. Walaupun demikian, djanganlah kurang- berhati2, harus selalu waspada. Ketahuilah, hai para sateria, Ada itu asalnja mulanja tidak ada dan achirnja akan kembali tidak ada lagi. Kamu sekalian tadinja tidak ada, lalu ada. Kelak tentu akan kembali tidak ada, akan mati. O1eh karena itu, djanganlah hiraukan tentang mati. Ingat, djika kamu meninggalkan medan pertempuran atau menjerah kepada musuh, berarti kamu berani kepada malu dan takut mati. Jang demikian itu bukan watak sateria. Sateria tak mau mendapat malu dan mati dianggapnja remeh. Djika kamu berani kepada malu, tentu akan mondapat

54
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


dosa besar.karena kamu merusak atau membusukkan nama leluhurmu jang baik dan harum Sekian peringatan kepada kamu sekalian dan tjamkanlah benar2 agar kamu dapat menggempur musuh. Mendengar petuah Batara Kresna itu, para sateria semakin menjala2 semangatnja akan membela kebenaran dan keadilan. Pada wadjahnja kelihatan mereka ingin segera bertempur dengan musuh. Mereka bersurnpah takkan meninggalkan medan pertempuran. Tak lama antaranja, berangkatlah mereka dengan hati gembira. menudjuke Tegalkuruksetra. Radja2 jang memihak Pandawa dalah : a. Sang Drestaketu, radja negeri Tjedi. b. Sang Djarasanda dengan puteranja jang bernama Djajatsena, radja negeri Magada. c. Sang Hiranjawarma, radja negeri Dasarna, mertua Sri kandi putera radja Drupada d. Radja Kunti'bodja (bangsa Bodja), bapak angkat dewi Kunti. e. f. Radja negeri Kasi, mertua sang Bima. Sang Setyaki (Jujudana) dengan peradjurit bangsa Sat waka.

g. Sang Pandya, radja negeri Matura Selatan. Menurut tjerita Hindu, Srikandi itu laki2, putera radja Drupada, Ketika

lahir perempuan. Akan tetapi achirnja djadi laki2 karena keperempuanja ditukarkan kepada seorang raksasa laki2 bernama Stunakarna. Menurut tjerita Djawa, Srikandi itu perempuan, djadi isteri Ardjuma

56. PIHAK KURAWA Jang memihak Kurawa ialah : a. Radja Rukmi, ipar Batara Kresna. Tadinja akan memihak kepada Pandawa, akan tetapi ditolak karena mempunjai anggapan bahwa dirinja lebih tinggi dari jang lain2. b. Bisma. c. Druna dan Aswatama.

d. Radja Bagadeta Srawatipura. e. f. Sakuni dan saudara2nja. Radja Salja --- Mandraka.

g. Adipati Karna - Angga. h. Djajadrata i. j. Gardapati Sindu. radja neg,eri Trigarta.

Radja Malawa.

k. Radja Tjedaka. l. Radja Pratipeja.

m. Radja Kambodja. n. Radja Wresaja -- Lokapura, o. Ular jang bernama Hardawalika, p. Bebera,pa raksasa.

57. ARJA SETA GUGUR

55
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


Tak ditjeritakan perdjalanan para radja dan sateria dengan peradjuritnja menudju ke Tegalkuruksetra. Ketika Pandawa sampai disana, mereka segera disambut oleh Kurawa jang telah siap sedia. Maka terdjadilah pertempuran jang makin hebat Dari hari kehari, lima hari lamanja. Tapi seorangpun belum ada panglima perang jang tewas, jang tewas hanj peradjurit biasa. Pada hari keenam resi Bisma dapat berhadapan dengan sang Seta Maka terdjadilah perang tanding. Masing2 mengeluarkan kesaktian. Tetapi Bisma selalu terdesak. la merasa sangat malu, karena seorang putera bidadari, putera dewi. Gangga, tak dapat melawan Arja Seta. Beliu mengheningkan tjipta, memohon kepada dewa supaja dapat mengalahkan musuhnja. Permohonan itu terkabul. Ketika mendapat petundjuk dari ibunja, dewi Gangga, beliau madju lagi kemedan pertempuran dengan hati gembira. Setelah dekat pada musuhnja, beliau segera melepaskan panahnja sambil mengutjapkan mantera. Demikianlah sang Seta, jang sedang mengamuk naik kereta, demi kena panah resi Bisma, seketika itu djuga iapun rebah dalam kereta, gugur sebagai sateria utama. Saat itu djuga terdengarlah suara gemuruh dari pihak Kurawa. Sebaliknja radja Matsya sangat berduka tjita karena kematian puteranja 58. ARDJUNA HILANG SEMANGAT BERTEMPURNJA Ketika Batara Kresna melihat sang Seta gugur, beliaupun sangat marah dan segera menitahkan Ardjuna madju kemedan perang dan dengan bersendjatakan panah naik kereta jang di kusiri oleh beliau sendiri. Ketika Ardjuna sampai didekat medan pertempuran, h atinja djadi lemah, hilang semangatnja bertempur, sehingga tak dapat berdiri, djatuh terduduk dalam kereta. Melihat keadaan Ardjuna itu, Kresna lalu bersabda : Hai adikku Ardjuna Mengapa kamu bersedih hati sehingga tak berdaja? Sedang kamu sekarang berada dimedan pertempuran. Angkatlah busurmu dan lepaskan anak panah kepada musuh. Sajangilaih peradjuritmu, jang sudah banjak tewas. Belalah panglima kita sang Seta dan jang lain2. Djika adikku tak segera membalas mungkin akan mengetjilkan hati peradjurit kita dan akan menggirangkan Kurawa. Karena itu segeralah membalas. Sang. Ardjuna mendjawab : Ja kakakku, jang sangat hamba hormati. Hamba tak dapat meneruskan perang Baratajuda ini. Djika hamba teruskan djuga, apa nanti kata dunia dan siksa apa jang akan hamba dapat, karena hamba seorang sateria berperang melawani sauddara2 sendiri hanja merebut keduniawian, berebut negeri. Hamba tak dapat berperang dengan saudara seturunan. Hamba tak dapat berperang dengan golongan resi Druna, ialah guru hamba, jang wadjib hamba hormati. Hamba tak dapat berhadapan dengan resi Bisma. Karena beliaulah jang

mendidik kami semua dari ketjil sehingga dewasa. Karena itu hamba mohon dengan sangat, supaja kakakku menghentikan. peperangan ini. Hati hamba telah memutuskan, hamba tak akan mempunjai negeri, djika negeri itu dibeli dengan penumpahan darah saudara2 hamba. Hamba tak akan mukti, djika kemuktian itu dibeli dengan membunuh saudara2 hamba. Hamba bertjita2 akan bersatu dengan saudara2 hamba satu turunan. Bagaimanakah sorak dunia djika hamba berperang dengan saudara hanja berebut kemuktian, berebut keduniawian? Siksa apakah jang akan hamba dapat, djika hamba mengganggu kemuktian dan kehormatan guru hamba, jang sewadjiibnja hamba hormati dan hamba muliakan? Siksa apakah jang akan hamba dapat, djika hamba membunuh ejang hamba, jang mendidik hamba mulai ketjil hingga dewasa? Ja kakakku, jang sangat hamba muliakan Hamba merasa sangat malu djika hamba meneruskan peperangan ini. Batara Kresna mendengar djawaban sang Ardjuna demikian, mengertilah apa jang terkandung dalam hatinja. Beliau lulu bersabda : Ja adikku Ardjuna, Segala perkataan adikku, bagi yang. biasa,

56
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


memang baik dan benar. Dunia takkan menjalahkan bahkan akan memudji. Orang jang menolak kebaikan, berarti sengadja mengerdjakan kedjahatan. Tapi bagi sateria tak hanja sampai sedemikian sadja. Masih banjak lagi jang harus dikerdjakan, djadi beban hidupnja. Segala sesuatu itu harus ditimbang benar2, dan dipikir masak dengan bidjaksana dan adil. Karena banjak hal djika dilihat sepintas lalu, kelihatan baik, tapi djika diselidiki benar-benar, perbuatan itu menjimpang dari kebenaran dan keadilan. Djika hendak mengerdjakan segala sesuatu harus dipikir masak2 dengan hati tenang dan bidjaksana. Karena itu heningkanlah tjipta. Hal adikku Ardjuna, Dengarlah perkataanku ini, Terdjadinja perang Baratajuda ini, dikatakan orang2 tidak baik, karena perang saudara. Demikian Pula adikku, djuga mengatakan tidak baik, sehingga adikku tak suka melaksanakannja.Tapi perang itu ada baiknja djuga dan mesti ada. Terdjadinja perang disebabkan tudjuan jang bertentangan. Orang jang berwatak angkara murka, djahil dan lain sebagainja selalu berusaha akan merugikan orang lain, untuk kepentingan sendiri. Tapi orang jang berwadjib adil, selalu berusaha mengerdjakan kebenaran dan keutamaan. Karena bertentangan tudjuan itu, maka terdjadilah peperangan. Orang jang berwatak angkara murka termasuk golongan raksasa, walaupun rupanja seperti manusia biasa, karena sudah lazim, raksasa berwatak angkara murka dan djahil, selalu berusaha merugikan orang lain, hanja mementingkan diri sendiri, sehingga

dunia gempar karenanja. Dimana terdapat tudjuan jang bertentangan, disitulah terdjadi peperangan, karena kedua belah pihak selalu berusaha supaja masing2 tjita2nja tertjapai. Didunia ini terdapat beberapa golongan : Berahmana, Sateria, Wesja, Sudra dan, mereka jang berwatak angkara murka dan djahil, ialah para raksasa. Masing2 mempunjai tjita2 sendiri2 dan selalu berusaha supaja tjita2nja itu bias tertjapai. Karena itu sateria jang tak mau berperang membinasakan watak angkara murka supaja negerinja aman dan damai, dinamakan sateria jang tak mau memenuhi kewadjiban atau sateria jang menjimpang dari kodrat jang tersebut dalam kitab Weda. Sateria demikian tak boleh mengaku dirinja sateria, harus mengaku orang Sudra. Adikku, Sekarang kita telah dimedan pertempuran. Sateria jang telah dimedan pertempuran, hanja mempunjai tekad satu, ialah memibinasakan musuh, tidak memandang saudara atau teman. Dalam hatinja, bukannja akan membunuh saudara atau teman, tetapi membunuh watak angkara murka jang menggemparkan dunia itu. Walaupun saudara sepupu atau gurunja, jang seharusnja dihormati dan didjundjung tinggi, djika memihak kepada musuh, mereka itu djadi musuh. Sateria jang mendjalankan kewadjibannja tak perlu memandang siapa musuhnja itu. Walaupun adikku harus berterima kasih kepada resi Bisma, dan resi Druna (guru2mu), tetapi bukan disini tempatnja Karena memihak kepada musuh, mereka itu tetap djadi musuhmu, Adikku telah mengerti dan selalu mengerdjakan, bahwa orang baik harus kita baiki, akan tetapi orang djahat, harus kita berantas. Walaupun Kurawa masih saudara sendiri, saudara satu turunan, tapi wataknja djahil dan angkara murka. Karena itu, mereka tetap djadi musuh sateria. Durjudana memungkiri djandjinja, tak mau mengembalikan negeri Hastinapura jang separuh kepada Pandawa, akan dibelanja dengan mengurbankan djiwa raga. Perbuatan itu tak ubah dengan negeri jang berperang akan meluaskan djadjahan. Djika perbuatan itu tidak segera diberantas, negeri itu makin lama makin kuat dan makin besar angkara murkanja, sehingga tak segan2 merampas hak orang lain. Adikku madju kemedan, perang ini, ketjuali membela negeri tumpah darahmu, djuga memberantas watak angkara murka, jang dual telah djadi beban para sateria. Ja adikku, Tempo hari kakanda pergi ke Hastinapura sebagai duta Pandawa. Kepergian itu

57
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


bukannja kehendak adikku Judistira, tetapi kehendak sendiri, memenuhi kewadjiban. Demikian pula ketika Para sateria hendak berangkat dari Wirata, kakanda memberi nasehat, karena kakanda merasa berkewadjiban memberi nasehat. Sekarang telah ternjata Durjudana akan mengikuti wataknja angkara murka, tak mau menepati djandji, Karena itu hal ini saja serahkan kepada adik2ku para Pandawa. Ja adikku, Orang jang sentosa budinja, menganggap bahagia dan tjelaka itu sama. Karena itu, madjulah adikku kemedan pertempuran untuk menepati darmamu sebagai sateria. Setelah mendengar sabda Kresna, sangArdjuna bangunlah hatinja, semangatnja kembali lagi dan ingatlah bahwa ia seorang sateria harus memenuhi kewadjibannja. la segera mengangkat busur terus madju kemedan pertempuran dan tak putus melepaskan anak panah. Begitu pula resi Bisma, tak putusnja melepaskan anak panah, bagaikan air turun dari angkasa. Banjak peradjurit kedua belah, pihak mati karenanja. Pertempuran makin lama makin sengit, sehingga tak terbedakan lawan dengan kawan, Resi Bisma amat Sakti. Tak ada sendjata jang dapat melukainja. Beliau selalu melepaskan anak panah, tak terhitung banjaknja peradjurit Pandawa jang tewas. Kresna jang mengusir kereta Ardjuna, demi melihat kerusakan peradjurit Pandawa karena perbuatan Bisma, dengan segera mematju keretanja sambil memutar2kan tjambuknja beliau menerobos barisan musuh, sehingga banjak peradjurit hastinapura tewas karenanja. Setelah Kresna berhadapan dengan Bisma, beliau segera mengangkat sendjata tjakra jang sangat sakti itu dan turun dari kereta dengan murkanja. Beliau lalu bersabda : Hai resi Bisma. Teruskanlah perbuatanmu jang tidak lajak ini, Akulah jang sanggup membinasakan kamu, Tidak pantas seorang sateria membabi buta melepaskan panah jang tak terhitung banjaknja kepada peradjurit biasa. Resi Bisma rnelihat Batara Kresna turun dari kereta sambil mengatjungkan

sendjatanja jang amat sakti itu. Beliaupun turun Pula dari kereta dan tergopoh2 mendapatkan Batara Kresna. Beliau lalu bersabda : Ja Tuanku Hjang Kesawa pelindung dunia: Hamba merasa akan mendapat anugerah jang tak ternilai harganja, karena tuanku sebagai pelindung dunia jang diwadjiibkan membagi2 anugerah kepada segala machluk, akan djadi perantaraan mati, hamba. Ja TuankuHiang Wisumurti ( Sebutan Biatara Kresna, karena beliau dapat mewudjudkan dirinja sebagai raksasa jang amat besar.Karena beliau djelmaan Hjang Wisnu.*) jang terhindar dari segala dosa, Segera'lah j'epaskan' sendjata tuainku kepada hamba, ialah sendjata pembuka sorga, supaja hamba dapat memasuki tempat hamba.jang abadi. Demi Ardjuna mengerti bahwa Kresna sangat murka, ia segera merangkul dan mohon beliau menepati djandji, ialah tak Mau turut berperang. Dan ia berdjandji akan memperhebat Perangnja. Mendengar kata Ardjuna demikian, Batara Kresna lalu ingat kepada djandjinja. Beliau lalu berkata kepada resi Bisma : ja sang resi berdarah sateria jang, amat sakti, Apakah sebabnja dalam pertempuran ini bertindak jang tidak lajak bagi sateria utama, melepaskan panah tak putus2nja kepada peradjurit biasa, jang mestinja bukan lawan sang resi? Perbuatan, demikiain menjimpang dari keutamaan.

Membunuh orang jang mestinja tidak perlu dibunuh, itu suatu perbuatan sangat rendah, Apakah sang resi tidak malu kepada dunia suka melakukan suatu pekerdjaan jang sangat rendah itu ? Peradjurit :biasa bukan lawan sang resi. Bisma mendjawab : Ja Baginda jang bidjaksana, Tuanku telah mengerti jang

58
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


tersimpan dalam hati hamba. Bagaimana berat hati hamba, setua ini terpaksa berperang melawan tjutju2 sendiri, jang betul2 berhati sutji dan bersih. Hamba terpaksa djadi panglima perang, mengepalai beribu-ribu peradjurit dan sateria, jang semua memihak kepada jang bersalah. Hamba madju berperang bukan karena benar2 membela tjutju hamba Durjudana jang berwatak angkara murka itu, tapi karena terpaksa. Ketika berhadapan dengan Arja Seta putera Wirata, hamba-masih gembira, karena telah berdjandji, djika kelak terdjadi perang Batarajuda, akan berlawanan. Tapi demi hamba berlawanan dengan Pandu, remuk redam hati rasanja, ingat ketika masih muda remadja, selalu disia2 oleh Kurawa. Sudah tentu hamba tak dapat memanah Ardjuna karena merasa sajang djika ia sampai luka atau hati. Panah hamba takkan dapat mengenai sasarannja, karena hamba merasa menjesal berlawanan dengan pihak jang benar, Akan memungkiri djandji kepada, Kurawa, tak dapat. Karena itu hamba terpaksa memihak orang jang bersalah, djika hamba meninggalkan medan

pertempuran, tentu akan ditertawakan dunia dan para dewa. Ja tuanku, pembimbing para sateria. Kerusakan peradjurit Pandawa dimedan pertempuran ini, tak dapat dielakkan lagi. Karena itu djanganlah tuanku marah. Sajang djika kemarahan tuanku disebabkan oleh kedjadian jang tak dapat dielakkan, Hamba merasa sangat menjesal karena terlandjur, menjanggupi membantu Kurawa. Karena itu hamba selalu mengharap mati dalam medan pertempuran. Tapi sajang sekali hingga kini belum ada sendjata jang dapat membunuh hamba. Djangankanmembunuh, melukai sadja belum ada. Bukan hamba mengelakkan sendjata itu, tapi karena kesaktian hamba anugerah dewa. Adapun asal mulanja, hamba mendapat kesaktian itu, ialah demikian : Karena sangat berbakti kepada ajah hamba, sehingga mengurbankan kemuliaan dan kepentingan diri, tak mau menggantikan djadi radja, beliau lalu bersabda : Hai puteraku , Aku mohonkan kepada Dewa supaja kamu takkan mati selama masih menghendaki hidup. Hamba berniat djadi berahmanatjari. Karena perbuatan demikian tak lama kemudian dewa memberi anugerah seperti jang dimohonkan oleh ajah hamba, ditambah Pula dengan djandji. Selama hamba berperang, sebelum hamba meletakkan busur, takkan ada sendjata jang dapat melukai. Kresna mendjawab :Ja sang resi jang sangat berbakti kepada orangtua, Dalam zaman apakah ada seorang peradjurit jang sedang, bertempur suka meletakkan busurnja. Dan tak ada pula orang jang menghendaki mati. Bisma mendjawab :,Djika paduka tetap memimpin Pandawa, tak lama lagi tentu terdjadi. Karena Pandawa tidak hanja mempunjai panglima laki2, tapi djuga punja panglima jang asal mulanja perempuan. Mendengar sabda demikian, mengertilah,Kresna jang dimaksudkan Bisma. Beliau ingat bahwa Pandawa mempunjai panglima jang dimaksudkan sang resi, ialah Srikandi, Beliau lalu bersabda: Ja sang resi, Saja mengutjapkan banjak

terima kasih atas peringatan tadi sehingga hati hamba terbuka, tak diliputi oleh gelap. Marilah kembali melakukan pekerdjaan masing2 untuk memenuhi kewadjiban. Kresna dan Ardjuna segera naik kereta dan terus mengamuk, sehingga Kurawa terpaksa mundur. Waktu itu matahari telah terbenam. Kedua belah pihak lalu mundur. 59. RESI BISMA REBAH DALAM MEDAN PERTEMPURAN

59
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


Setelah Kresna dan Ardjuna sampai dipasanggerahan, Kresna lalu memanggil Srikandi jang segera menghadap. Beliau menerangkan, bahwa Srikandi esoknja akan didjadikan panglima perang melawan Bisma. Srikandi sangat girang mendengar sabda Batara Kresna itu, karena akan dapat memperlihatkan watak keperadjuritannja kepada dunia dalam membela keadilan. Esok harinja Srikandi telah siap sedia madju kemedan pertempuran melawan resi Bisma jang sangat sakti. Tak lama beranglkatlah Pandawa kemedan pertempuran. Dan seketika itu djuga terdjadilah pertempuran jang sangat hebat. Resi Bisma jang tak putus2nja menghudjani panah kepada Pandawa dari atas kereta, demi melihat Srikandi madju, dengan segera meletakkan busurnja dan turun dari kereta. Srikandi terus menghudjani resi Bisma, dengan panah disusul oleh panah Ardjuna jang bagai air hudjan turun dari langit mengenai badan resi Bisma, tembus dari dada terus kebelakang, sehingga badan sang resi bagai dihias dengan anak panah. Walaupun demikian beliau sedikitpun tak kelihatan gentar. Roman mukanja

memperlihatkan ketabahan hati dan rasia ichlas mengurbankan djiwa untuk menetapi watak saterianja. Sebelum matahari terbenam, bersabdalah sang resi dalam hatinja : Saja takkan mati sebelum menghendaki mati. Oleh karena banjak anak panah jang mengenai tubuhnja, beliau pun tak tahan lagi, lalu rebah, disangga oleh anak panah jang menembus tubuhnja, sehingga kepalanja tergantung. Waktu itu ialah hari kesepuluh. Ketika beliau rebah, matahari sedang berdjalan ke Selatan. Tak lama antaranja terdengarlah suara dewa : ,Hai putera dewi Gangga , Mengapa kamu memberikan hidupmu, matahari sedang berdjalan ke Selatan ? Sang Bisma mendjawab : Hamba belum mati. Pikiran hamba masih tetap. Selama matahari masih ada di Setatan, hamba tak akan meninggalkan dunia ini. Hamba pulang, ketempat jang abadi, djika matahari, beradadi Utara, Ketika melihat resi Bisma mendapat luka berat, sehingga merebahkan diri, Pandawa dan Kurawa seketika itu djuga menghentikan peperangan. Mereka berlari2 mendapatkan sang resi untuk memberi hormat, ketjuali Bima. la berdiri tegak didekatnja dengan memegang gada. Melihat tingkah laku Bima, Batara Kresna lalu bersabda : ,,Adikku Bima , Kamu harus menjembah sang resi sebagai penghormatan terachir. Bima mendjawab : Apakah sebabnja kakakku menjuruh aku menghormati dan menjembah sang Bisma ? Batara Kresna mendjawab : Sebabnja ialah karena beliau leluhurmu. Djadi wadjib kamu sembah sebagai penghormatan terachir dan wadjib kamu minta maaf kepadanja. Walaupun beliau tadinja musuhmu, tapi sekarang sudah bukan musuh lagi, karena sudah tidak berdaja. sudah waktunja pulang kezaman jang abadi,. Bima mendjawa:,Apa jang kakak katakan semua benar. Tapi kebenaran itu hanja bagi kakak atau bagi orang lain jang tekadnja selaras dengan kakak. Tapi bagi diriku, tak demikian halnja. Aku, tak mau menjembah atau menghormat musuh. Betul sang Bisma leluhurku. Tapi beliau membela musuhku, jang selalu berusaha

60
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


membinasakan aku dan saudara2ku semua. Tak ada orang baik2 jang bersekutu dengan pendjahat. Menjembah beliau waktu ini, sebenarnja tidak pada tempatnja, karena beliau telah pulang kezaman jang abadi. Batara Kresna :Ja Bima, tjoba terangkan, maksudmu Bima, Ja kakakku Walaupun Bisma orang jang wadjib aku sembah, tapi bagi diriku tak demikian tjaranja menjembah. Ketahuilah, bahwa djika kakekku sang Bisma itu sebenarnja telah meninggalkan djasmaninja. Meskipun beliau masih bitjara, itu semua perbuatan pantjaindranja, Bagiku menjembah orang jang telah ditinggalkan djiwanja, hanja dengan mengheningkan tjipta, memohon kepada Dewa supaja beliau mendapat kemuliaan achirat, Itulah sebabnja aku tak mau menjembah beliau. Aku takkan menjembah sesuatu jang tak semestinja disembah. Mendengar perkataan Bima Batara Kresna tak dapat membantah, hanja mengangguk2an kepala, tanda membenarkan. Resi Bismapun mendengar djuga dan membenarkan segala perkataan Bima. Beliau lalu bersabda :Ja tjutjuku Bima Saja amat girang mendengarkan segala perkataanmu itu, jang membuktikan

kebidjaksanaanmu. Ja tjutjuku semua , Oleh karena kepalaku tergantung tolonglah tjarikan penjangga kepala. Mendengar sabda resi Bisma, Durjudana segera mengambil bantal jang sangat indah dipasanggerahan. Tapi ketika bantal itu dipiersembahkan resi Bisma menolak, Beliau bersabda : Ja tjutjuku jang gemar kepada kemuliaan. Pengasihmu bantal jang sangat indah ini tidak pantas djadi penjangga kepalaku sebagai sateria, jang akan meninggal dunia dimedan pertempuran, Djika bantal jang indah itu saja terima, tentu akan menghalang2i perdjalanan djiwaku kezaman abadi, Karena itu saja tak dapat menerima bantal itu. Batara Kresna lalu memberi isjarat kepada Ardjuna. Ardjuna mengerti maksud Batara Kresna, Ia segera mengambil dua buah anak panah dari endong, (tempat anak panah jang digendong) untuk menjangga kepala sang resi. Perbuatan Ardjuna memuaskan hati. sang resi, sehingga beliau mengutjapkan terima kasih dan

mendoakan. Durjudana merasa menjesal melihat perbuatan Ardjuna diterima dengan utjapan terima kasih. Ketika itu resi Bisma kelihatan makin lelah. Tak lama antaranja datanglah Adipati Karna mendekati sang resi. Ketika sang resi mendengar suara Karna, beliau membukakan matanja dan bersabda : Ja tjutjuku sang Karna Rupa2nja aku tak lama lagi akan meninggalkan kamu semua. Sebelum aku meninggal dunia, pesanku, supaja kamu bersatu dengan saudaramu para Pandawa. Nasehat itu tak masuk kehati Karna. la tetap bertekad akan membela Kurawa. Sang resi djuga memberi nasehat kepada Kurawa supaja bersatu tapi djuga tak diindahkan. Esoknja ialah hari kesebelas, sang resi sangat dahaga karena luka2nja. Badannja merasa panas. Beliau lalu minta minum. Mendengar permintaan sang Bisma Durjudana segera mengambil minuman jang lezat2, jang digemari oleh radja2. Tapi ditampik oleh Bisma. Sabdanja.:Ja tjutjuku, Durjudana Minuman ini bukan minuman sateria, jang akan mati dimedan pertempuran, tapi minuman mewah biasa disadjikan dalam pesta besar. Djika ini saja minum, tentu akan mengganggu perdjalananku

61
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


kezaman abadi. Sang resi lalu memanggil Ardjuna, sabdanja Ja tjutjuku Ardjuna Badanku hantjur karena panahmu, Saja merasa sangat panas dan dahaga. Berilah aku air barang seteguk. Saja pertjaja kamu akan dapat memberi air jang berguna bagiku, sehingga hatiku puas. Ardjuna segera menarik busurnja. Terlepaslah anak panahnja, bagaikan kilat djatuh disalah satu tempat. Ditempat itu keluarlah air jang sangat djernih. Air itulah jang dipersembahkan kepada sang resi. Sang resi menerima air itu, segera

diminumnja. Seketika itu djuga badannja berasa segar.Sementara itu Bima berdiri tegak dengan gada ditangan kanan, Karena lelah, gada di pindahkannja ketangan kiri. Melihat tingkah laku Bima Kurawa menjangka, ia akan mengamuk. Mereka segera lari pontang-panting meninggalkan tempat itu. Melihat itu Pandawa sangat heran, tak mengerti apa sebabnja. Kemudian mereka meninggalkan Bisma. Maka pertempuran terdjadi lagi. Hari itu Kurawa banjak jang tewas. 60. ABIMANJU DAN DJAJADRATA GUGUR Mulai hari keduabelas jang djadi panglima dipihak Kurawa ialah resi Druna. Hari ketigabelas Pandawa menderita kerusakan besar. Abimanju putera Ardjuna, jang umurnja baru 16 tahun, terpisah perangnja dari Pandawa, Walaupun demikian ia dapat menerobos barisan musuh jang kuat. Lalu berlawanan dengan resi Durna, Aswatama, Krepa, Karna dan lain2nja dan dapat membunuh putera radja Durjudana. Adipati Karna dapat diundurkan. Dussasana dapat luka. Djajadrata, radja negeri Sindu dating menolong. Walaupun Abimanju amat sakti, achirnja roboh djuga oleh Djajadrata dan putera Dussasana, Setelah Ardjuna mengerti bahwa puteranja gugur dalam

pertempuran melawan Djajadrata, ia lalu bersumpah, esok hari ia akan membunuh Djajadrata. Djika hal jang telah didjandjikan sebelum matahari terbenam Djajadrata belum djuga terbunuh, Ardjuna hendak membakar diri. Demi mendengar kabar demikian Djajadrata amat takut, ingin meninggalkan medan pertempuram. Tapi kehendaknja dapat ditjegah oleh para radja dan sateria. Mereka berdjandji akan melindungi sehingga sumpah Ardjuna takkan terdjadi. Djajadrata lalu ditempatkan ditengah2 barisan jang sangat kuat, jang tak dapat ditembus oleh musuh. Batara Kresna sangat terkedjut mendengar sumpah sang Ardjuna, karena tak disangka2 akan mengeluarkan sumpah demikian. Karena telah menjanggupi djadi pelindung Pandawa, beliau lalu mentjari akal supaja dapat melinduginja dari bahaja besar. Karena djika Ardjuna tak dapat menepati sumpahnja, ia tentu akan membakar diri. Djika terdjadi demikian, saudara2nja jang empat tentu turut membakar diri, sehingga perang Baratajuda terhenti, jang berarti kemenangan bagi Kurawa. Beliau tahu bahwa tidak mudah membunuh radja Djajadrata, Achirnja Ardjuna lalu menghadap Hjang Maha dewa dengan djalan meragasukma . Setelah; sukma Ardjuna dan sukma Batara Kresna menghadap Hjang Maha Dewa, Ardjuna dianugerahi sendjata jang amat sakti lebih sakti dari pada sendjata jang telah ada padanja. Dan dititahkan supaja sendjata itu dipergunakan pada esok harinja. Setelah Ardjuna dianugerahi sendjata jang sakti itu, mereka lalu pulang dan masuk djasmani masing2, Esoknja pada hari jang ke empatbelas, pagi2 benar pertempuran telah mulai dengan hebatnja. Ardjuna

mengamuk. Dapat menerobos barisan musuh jang terdepan, sehingga banjak musuh jang tewas. Achirnja ia dapat berhadapan dengan resi Druna, ialah gurunja. Masing2

62
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


mengeluarkan kesaktian, Tapi Ardjuna tak dapat mengalahkan lawannja. Karena itu ditempuhnja barisan jang lain. Batara Kresna selalu mengikuti dan melindungi Ardjuna supaja selamat dalam medan pertempuran, Dalam pertempuran itu Ardjuna terpaksa turun dari keretanja, karena kudanja mendapat luka. Batara Kresna segera memandikan dan mengobati luka itu. Semua itu dikerdjakan dengan tenang, seperti tidak dalam keadaan bahaja. Sebentar sadja luka itu baik, sang Ardjuna lalu naik kereta ia terus mengamuk. Ketika Ardjuna mengamuk, Druna dapat menangkap Judistira. Tapi dapat ditolong oleh Setyaki. ialah Setyaki dapat menerobos barisan Druna. Bima pun mengamuk sehingga kurawa merasa takut. Perang berdjalan dengan seru, lebih hebat dari jang sudah2. Ardjuna menjerang dengan perkasa karena mengingat sumpahnja dan pada waktu matahari hampir terbenam. Ardjuna belum djuga dapat membunuh

Djajadrata, karena Kurawa mempertahankan dengan sekuat-kuat tenaganja. Batara Kresna sebagai pendjelmaan Hjang Wisnu, dapat menutup matahari dengan sendjata Tjakra sehingga seketika itu djuga djadi gelap, tak ubahnja dengan malam. Karena sudah gelap, Djajadrata merasa dirinja telah terhindar dari bahaja maut, Karena itu ia keluar dari tempat sembunji dari tengah2 barisan. Ketika itu Ardjuna menjerang barisan itu, sehingga enam sateria jang mendjaganja lari pontang-panting. Ardjuna lalu mempergunakan panah jang, sakti jang baru2 ini didapat, ditudjukan kepada tempat Djajadrata bersembunji dan disusul oleh sendjata jang lain. Sendjata itu tepat mengenai leher Djajadrata, Ajah sehingga radja kepalanja terpental demi djauh, djatuh

dipangkuan

ajahnja.

Djajadrata,

Wredaksatra:,

pangkuannja

kedjatuhan kepala puteranja, sangat terkedjut, lontjat, dari tempat duduk. Karena terkedjut, seketika itu djuga ia menghembuskan nafas jang penghabisan. Setelah Djajadrata mati, matahari memantjarkan sinarnja pula, karena Batara Kresna menarik sendjatanja Tjakra jang digunakan untuk menutup matahari. Perang berdjalan terus. Tak lama antaranja matahari terbenam. Perang masih berdjalan terus dan makin hebat, lebih hebat dari siangnja. Oleh karena gelap, mereka

mempergunakan obor. 61. GATOTKATJA GUGUR Batara Kresna menitahkan Gatotkatja madju kemedan pertempuran melawan Adipati Karna. Dengan hati gembira Gatotkatja madju sambil terbang diudara. Tak lama terdjadilah pertempuran jang sangat seru Gatotkatja melawan Adipati Karna. Karena selalu terdesak, Karnapun mempergunakan sendjata Kunta jang amat sakti anugerah Hjang lndra. Walaupun Gatotkatja djuga sakti dan gagah perkasa, tak dapat ia menahan sendjata itu. Djangankan manusia, dewapun tak dapat menahannja. Sebenarnja mempunjai Gatotkatja sendjata telah jang mengerti sakti bahwa itu. Karna bukan lawannja, karena tak

amat

Tapi

sendjata

itu

sedikitpun

mengurangkan semangatnja ia selalu gembira. Malam itu Gatotkatja tewas sebagai kesuma bangsa, memenuhi kewadjiban sateria utama. Pandawa sangat berduka tjita melihat Gatotkatja tewas, Hanja Kresna sendiri jang kelihatan girang, Pandawa melihat kegirangan Kresna sangat heran. Ardjuna lalu menanjakan beliau bergirang itu. Kresna mendjawab : Ja adik2ku semua, Saja telah

63
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


menjangka adik2ku akan menanjakan tentang kegirangan saja, jang mestinja harus turut berduka tjita. Sebabnja begini : Saja jang menjuruh Gatotkatja melawan Adipati Karna, walaupun tahu Gatotkatja bukan tandingannja. Pertandingan itu saja sengadja supaja Adipati Karna mempergunakan sendjata Kunta jang hanja boleh dipakai satu kali sadja jaitu djika melawan musuh jang sangat berbahaja. Sekarang sendjata itu telah dipakai melawan Gatotkatja, meskipun sebenarnja akan dipakai melawan Ardjuna. Karena sendjata Kunta telah dipakai melawain Gatotkatja, adik2ku semua, tak usah chawatir melawan Karna, karena ia sekarang tak mempunjai sendjata jang sakti. Pandawa hilanglah dukatjitanja mendengar keterangan Kresna, lalu meneruskan perangnja dengan sengit. Oleh karena para peradjurit telah merasa lelah, sang Ardjuna lalu menghentikan peperangan dan Kurawapun mundur.

62. RESI DRUNA GUGUR Pada hari kelima belas, pagi2 benar. Setelah mereka memudja para dewa, lalu berangkat kemedan pertempuran. Radja Drupada tewas karna diraba oleh resi Druna. Resi itu lalu bertanding dengan Ardjuna. Walaupun Ardjuna mengeluarkan segala kesaktiannja tapi tak dapat mengalahkan resi Druna. Kresna mendapat akal. Beliau menitahkan membuat kabar palsu, jang mengatakan Aswatama telah gugur. Ardjuna tak mau menjiarkan kabar bohong. Bima mendapat akal ia membunuh gadjah jang bernama Aswatama, lalu menjiarkan tenang matinja Aswatama. Druna mula2 mempertjajai kabar itu. Tapi. kepertjajaan itu makin berkuraing Ketika bertemu dengan Judistira, ia menanjakan tentang kabar itu. Judistira mendjawab : Betul Aswatama mati, Aswatama gadjah Perkataan Aswatama gadjah diutjapkan dengan berbisik sehingga tak kedengaran oleh Druna, Maksud Judi'stira ialah supaja djangan mendapat dosa karena berbohong. Druna jang telah 85 tahun umurnja, demi mendengar Judistira membenarkan kabar itu, ia segera pertjaja, karena Judistira tak pernah bohong, Seketika itu djuga Druna meletakkan djabatannja, lalu berdiri tegak mengheningkan tjipta. Drestadyumna segera mendjambak rambut sang resi jang telah putih itu dan memenggal lehernja sehingga terpisah dari badan. Walaupun Ardjuna menghalaingi2 perbuatan kedjam itu, tetapi sia2 belaka. Seketika itu djuga resi Druna seorang guru besar, menghembuskan nafas jang penghabisan. Setelah resi Druna gugur, Kurawa segera lari pontang-panting meninggalkan medan pertempuran. Ketika Aswatama mendengar ayahnja telah gugur karena perbuatan Drestadyumna, iapun sangat marah dan berdjandji akan membalas. Dengan susah pajah ia dapat djuga mengumpulkan para peradjurit jang telah lari, lalu dipimpinnja madju ke medan pertempuran lagi. Maka terdjadilah pertempuran hebat. la mempergunakan sendjatanja jang bernama Brahmastra jang sakti, anugerah dewa, untuk membakar Pandawa. Djika dilepaskan dari sendjata Brahmastra itu keluar api menjala-njala

mengedjar musuh, Demi melihat api itu para peradjurit Pandawa amat takut. Sebelum

64
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


mereka lari meninggalkan medan pertempuran, datanglah titah dari Batara Kresna, supaja semua meletakkan sendjata dan berdiri tegak, tak boleh bergerak. Oleh karenja titah itu didjalankan dengan sebenar2nja selamatlah para Pandawa., . Aswatama demi melihat bahwa sendjatanja tak dapat memusnakan musuh, hilanglah harapannja akan membalas dendam kepada Pandawa, karena sendjata itu hanja boleh dipaka satu kali. Dan karena matahari telah terbenam, kedua belah pilhak lalu mundur. 63. DUSSASANA GUGUR Hari keenambelas jang djadi panglima pihak (Kurawa ialah Adipati Karna. Perang tak kurang hebatnja dari jang sudah2. Hari itu Ardjuna mendapat kemenangan besar, Pada malam hari ketudjuhbelas, Karna menetapkan akan berlawanan dengan Ardjuna dan bersumpah supaja hari esoknja (hari ketudjuhbelas) dapat ketentuan siapa jang menang dan siapa jang kalah. Jang kalah tentu tewas. Esok harinja Karna menemui radja Salja, mohon supaja beliau suka mengusiri keretanja, karena hari itu ia akan menepati sumpahnja akan berlawanan dengan Ardjuna. Radja Salja sangat murka mendengar prmintaan Adipati Karna, dianggap merendahkan deradjatnja. Maka terdjadilah pertengkaran. Adipati Karna ditjatjimaki babis2an. Tiba2 datang radja Durjudana memisah dan mohon sangat supaja radja Salja suka mengabulkan permohonan Karna, agar seimbang dengan Ardjuna. Karena itu,mau djuga, radja Salja mengusiri kereta Adipati Karna. Akan tetapi gelagat sudah tidak baik, kusir dan jang naik telah berselisih. Mula2 Karna berlawanan dengan Judistira. Kereta Judistira dapat dihantjurkan. Bima dapat membalas memukul Karna dengan gada sehingga pingsan. Ia lalu dibawa mundur.Tetapi tak lama ia dapat madju lagi kemedan pertempuran, berhadapan dengan Judistira, Nakula dan Sahadewa. Ketiga2nja dipukul mundur. Durjudana datang membantu Karna, tapi dipukul, mundur oleh Bima. Setelah Ardjuna dapat mengundurkan Aswatama, ia segera mentjari kakaknja, radja Judistira. ia sangat chawatir kalau-kalau kakaknja dikerubuti oleh para sateria. Tak lama bertemulah ia dengan Judistira jang sedang mengenangkan kekalahan. Ardjuna merasa girang kakaknja masih selamat. Judistira mengira Ardjuna telah dapat membunuh. Karna Karena itu beliau memudji2 kesaktian Ardjuna. Tetapi mendengar sembah Ardjuna, bahwa Karna masih hidup, beliaupun sangat murka, lalu bersabda ,,Lebih baik sendjatamu Gandewa dikasihkan kepada orang lain. Ardjuna djadi naik darah mendengar sabda Judistira itu. la segera menarik pedang untuk membunuh Judistira. Tapi perbuatan itu dapat ditjegah oleh Kresna, Beliau lalu menerangkan maksud utjapan Judistira, Sabdanja ; Hai adikku Ardjuna. Utjapan adikku Judistira bukan menghina kamu. Maksudnja : oleh karena kamu telah bersumpah akan membunuh Karna dan sampai sekarang ia belum terbunuh, supaja sumpahmu lekas diwudjudkan, adikku Judistira jang akan mewakili kamu dengan sendjatamu Gandewa. Selandjutnja beliau mentjela perbuatan Ardjuna dan menasehatkan supaja minta maaf dan segera madju lagi kemedan pertempuran untuk menepati sumpahnja. Ardjuna sangat menjesal karena perbuatannja jang menjimpang dari kesusilaan itu.Ia lalu menjembah telapak kaki kakaknja untuk mohon ampun. Radja Judistira

65
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


merasa menjesal djuga karena perkataan jang tidak lajak itu kepada adiknja. Karena itu beliau akan mengundurkan diri sebagai radja. Tetapi kehendak itu dapat ditjegah oleh Batara Kresna jang menitahkan Ardjuna supaja merangkul kakaknja. Ardjuna segera merangkul Judistira djuga merangkul adiknja. Setelah itu radja Judistira menitahkan Ardjuna madju lagi ke medan pertempuran. Sebelum berangkat ia mengulangi sumpahnja, bahwa ia takkan pulang sebelum dapat membunuh Adipati Karna. Setelah itu ia madju kemedan pertempuran. Ia berusaha sekuat-kuatnja supaja hari itu djuga dapat berhadapan dengan Adipati Karna. Pertempuran makin sengit. Kurawa banjak jang tewas, Bima dapat berhadapan dengan Dussasana. Perangnja sangat ramai. Tak lama Bima dapat memukul Dussasana dengan gada, sehingga seketika itu djuga rebah. Bima ingat sumpahnja ketika dewi Drupadi dihina oleh Dussasana dihadapan orang banjak. Karena itu Bima segera menusuk dada Dussasana, minum darahnja dan menggal lehernja, Pada waktu itulah sumpah dewi Drupadi terwudjud, la berkeramas dengan darah Dussasana. 64. ADIPATI KARNA GUGUR Ardjuna telah dapat berhadapan dengan Adipati Karna dan dapat membunuh puteranja. Setelah Karna tahu puteranja mati terbunuh oleh. Ardjuna, iapun segera menjerang. Maka terdjadilah perang tanding jang sangat mengagumkan. Masing2 mengeluarkan kesaktiannja. Ardjuna mempergunakan sendjata anugerah dari Hjang Brahma. Tapi sendjata itu tak dapat membinasakan Karna ia dilindungi, oleh ular naga. Ular itu akan membalas dendamkepada Ardjuna, karena ibunja telah mati terbakar ketika hutan Kandawa dibakar oleh Ardjuna. Naga itu salin rupa djadi anak panah, dipergunakan oleh Karna melawan Ardjuna. Demi radja Salja mengerti bahwa panah jang dipergunakan Karna itu

sebenarnja ular naga jang sakti. la segera menggerakkan keretanja. Ketika anak panah itu dilepaskan, sehingga anak panah kurang tepat mengenai sasarannja. Karena itu Ardjuna terlepas dari bahaja maut. Jang kena hanja djamangnja jang adalah anugerah Hjang Indra. Djamang itu hantjur. Ular naga jang djadi anak panah itu kembali lagi kepada Karna minta dipanahkan sekali lagi. Tapi Karna menolak, karena telah ternjata ular naga itu tak dapat membunuh Ardjuna. Ular naga Jalu melawan Ardjuna tanpa salin rupa. Achirnja is mati dibunuh oleh Ardjuna. Walaupun Ardjuna telah berhadapan dengan Karna, tetapi ia tak mau berbuat apa2, karena lawannja sedang tidak bersendjata. la merasa malu menjerang orang jang tidak bersendjata. Setelah Karna mengambil sendjatanja dan akan menjerang Ardjuna, tiba2 roda keretanja jang sebelah kiri terbenam dalam tanah, sehingga keretanja tak dapat madju. Kedjadian ini disebabkan karena Karna terkena sumpah dari seorarng berahmana jang anak sapinja dibunuh. Adipati Karna hendak turun dari kereta akan mengangkat rodanja jang terbenam, tetapi tidak djadi karena Ardjuna terus

menghudjaninja panah, atas titah Batara Kresna. Adipati Karna berseru supaja ia djangan diserang sebelum roda keretanja terangkat, jaitu sesuai dengan watak sateria. Batara Kresna mendjawab : Kamu dapat menjebut2 tentang keutamaan, tapi tak dapat mengerdjakannja. Utjapan jang demikian tak ada gunanja. Adipati Karna menjerang Ardjuna dengan panah dari atas kereta dengan hebatnja sehingga Ardjuna mundur, Waktu Ardjuna telah mundur, Karna lalu turun dari kereta. Sedang ia

66
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


mengangkat roda keretanja jang terbenam, Ardjuna menjerang pula dengan hebatnja, Ketika itulah Adipati Karna sampai pada adjalnja, mati sebagai sateria utama. Waktu itu matahari hampir silam. Pertempuran berhenti. 65. SALJA GUGUR Esok harinja, pada hari kedelapanbelas, radja Salja dipilih djadi panglima perang, dipihak Kurawa. Pihak Pandawa memilih radja Judistira. Pertempuran makin hebat. Dikedua belah pihak banjak peradjurit jang tewas. Judistira beberapa kali diserang, akan tetapi ia selalu dapat mengundurkan musuhnja. Achirnja radja Judistira mempergunakan panah 'lajang djamus kalimusada dan mengenai dada radja Salja, jang seketika itu djuga rebah. Pertempuran berdjalan terus, sehingga putera radja Drestaratya tinggal dua orang, ialaih Durjudana dan Sudarsa. Akan tetapi tak lama Sudarsa pun mati pula. Sekarang putera Drestaratya tinggal radja Durjudana sendiri. Karena tak ada jang membantu lagi, radja Durjudanapun turun dari kereta jang kusirnja telah mati, lalu lari meninggalkan medan pertempuran dan bersembunji dalam sebuah telaga. Dengan kekuatan gaib beliau dapat bersembunji dalarn air seperti didaratan. Peradjurit Kurawa jang terpilih hanja tinggal 3 orang, ialah : Krepa, Aswatama dan Kartamarrna. Tapi Durjudana sedikitpun tak menjangka mereka itu m asih hidup. Makanja beliau meninggalkan medan pertempuran. 66. RADJA DURJUDANA GUGUR Setelah Krepa, Aswatama dan Kartamarma mengerti bahwa Durjudana

meninggalkan medan pertempuran dan bersembunji dalam telaga, mereka segera rnendapatkan beliau, diikuti oleh Sandjaja. Mereka bermohon supaja beliau suka madju lagi kemedan pertempuran. Tapi permohonan itu ditolak, karena Durjudana merasa sangat lelah dan sudah tak punja upatjara perang, Sedang mereka ber-tjakap2, ada beberapa orang pemburu djalan dipinggir telaga itu. Mereka mendengar segala jang dirundingkan dan mengerti bahwa radja Durjudana bersembunji dalam telaga. Mereka lalu memberi tahu Pandawa. Para Pandawa segera pergi ketelaga itu, Setelah mereka sampai Judistira mengadjak Durjudana berperang lagi merebut negeri Hastinapura. Durjudana

mendjawab, ia mau berperang lagi djika telah mengaso

beberapa hari lamanja.

Judistira mendesak supaja beliau hari itu djuga suka berperang lagi. Durjudana mengatakan bahwa segala jang ditjintai telah rusak binasa. Karena itu beliau akan tinggal dihutan sadja dan rela Judistira djadi radja dinegeri Hastinapura jang telah rusak binasa itu, Radja Judistira mengemukakan bahwa negeri Hastinapura sedjak semula telah djadi rebutan sehingga memakan korban beribu2 manusia beliau tak suka menerima pengasih jang terdorong karena terpaksa. Beliau menghendaki perang diteruskan untuk menetapkan siapa jang kalah dan siapa jang menang, Beliau berpendapat, djika Pandawa jang menang berarti Hastinapura bukan pengasih Durjudana, akan tetapi negeri haknja jang didapat dengan djalan perang. Karena itu beliau terus mendesak supaja Durjudana suka berperang lagi. Durjudana mendjawab : Bagaimanakah saja dapat nelawan beribu2 musuh jang lengkap sendjatanja? Saja sendiri sudah tak punja teman lagi, Pun tak punja sendjata. Tapi djika Pandawa suka madju satu demi satu, tak akan saja mundur. Tjita2ku tetap

67
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


akan membela ketjintaanku, ialah negeri Hastinapura. Judistira menjanggupi memberi sendjata dan berdjandji, djika Durjudana dapat mengalahkan salah seorang dari Pandawa, negeri Hastinapura tetap djadi hak milik Durjudana. Mendengar itu Durjudana segera keluar dari telaga. judistira lalu memberinja gada dan menitahkan Bima melawannja. Ketika itu radja Baladewapun turut djuga mengundjungi Durjudana. Selama perang Baratajuda beliau tak hadir karena tak mau rnemilih salah satu pihak. Karena itu beliau lalu bepergian. sepulangnja dari bepergian, perang Baratajuda hampir selesai. Dan beliau dapat mengundjungi Durjudana jang sedang menjembunjikan diri itu. Beliau menasehatkan supaja perang tanding diadakan di Tegalkuruksetra. Mereka semua setudju dan segera berangkat. Setelah sampai, segera dimulai perang tandiing jang hebat dahsjat, karena Bima dan Durjudana sama besar, sama kuat dan sama pintar mempergunakan gada. Kedua2nja telah mandi keringat, mandi darah, tetapi belum djuga ada jang kalah. Batara Kresna menitahkan Ardjuna menepuk2 pahanja sendiri jang sebelah kiri dengan maksud supaja Bima ingat kepada sumpahnja akan memukul paha kiri Durjudana dengan gada. Ketika Bima melihat Ardjuna menepuk2 pahanja sendiri, ia lalu ingat kepada sumpahnja. Setjepat kilat Bima dapat memukul paha kiri radja Durjudana dengan gada sehingga remuk, Seketika itu djuga Durjudana rebah. Bima lalu mendekati dan mengingatkan ketika radja Durjudana memberi malu dewi Drupadi, Karena Bima sangat marah teringat kedjadian jang lalu, ia lalu mengindjak kepala Durjudana dengan kaki kiri. Para radja melihat perbuatan Bima itu merasa kurang senang. Begitu pula Judistira. Beliau lalu bersabda : Hai Bima, Perbuatanmu tidak lajak, Durjudana itu saudara tua dan seorang radja. Walaupun beliau musuh kita akan tetapi tidak patut diperlakukan demikian. Radja Baladewa sangat marah, karena Bima perangnja tjurang. Dalam perang memakai gada tidak boleh memukul sebelah bawah pusat. Terbawa oleh sangat marah, radja Baladewa akan memukul Bima dengan gada. Untung dapat ditjegah oleh Batara Kresna. Beliau lalu menerangkan sebab2nja Bima menjimpang dari aturan, ialah karena menepati sumpahnja ketika dewi Drupadi diberi malu dan dihina oleh radja Durjudana didepan orang banjak. la telah bersumpah kelak dalam perang Batarajuda, akan memukul paha kiri Durjudana. Mendengar keterangan itu radja Baladewa reda marahnja, lalu naik kereta meninggalkan tempat itu dengan hati sedih. Batara Kresna lalu mendekati radja Durjudana. Walaupun telah rebah, Durjudana belum djuga meninggal dunia. Batara Kresna menjalahkan radja itu, jang tak mau bersatu dengan saudara, tak mau mendjalankan keadilan, hanja mementingkan diri sendiri. Radja Durjudana jang sudah tak dapat bergerak lagi mendjawab ; ja kakakku, Batara Kresna dan adik2ku para Pandawa Ketahuilah, bahwa segala tjita2ku telah tertjapai ialah djadi radja di negeri Hastinapura jang makmur. Aku telah dapat menaklukkan para radja. Tjita2ku djadi radja gungbinatara telah tertjapai, Aku telah mendapat kehormatan jang tak ada bandingannja. Siapakah jang dapat menjamai kemuliaan kenugerah dari dewa? Tak ada radja jang menjamai aku. Aku sangat dihormati oleh radja2 bawahanku. Sekarang orang2 jang kutjintai telah binasa semua. Mereka semua akan naik sorga bersama2

68
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968

Daryono, http://ptkguru.com , email: daryono_ku@yahoo.co.id


dengan aku. Begitu pula negeri Hastinapura jang sangat makmur, jang sangat aku tjintai, telah rusak bersama2 dengan rusaknja tubuhku. Walaupun Pandawa menang perang dan akan djadi radja di Hastinapura, akan tetapi mereka djadi radja dinegeri jang telah rusak dan miskin. Hai para Pandawa jang belum pernah mendapat kemuliaan dan kehormatan seperti aku. Walaupun kamu menang perang, akan tetapi kamu akan hidup dinegeri jang tjelaka, jang telah rusak. Demikian djawab Durjudana. Walaupun baginda berwatak djahil dan angkara murka, akan tetapi ada baiknja juga ialah mempunjai dasar watak pemberani dan sentosa natnja. Buktinja beliau dapat menundjukkan keberanian dihadapan musuh jang mengalahkannja. Sekaranq perang Baratajuda telah selesai dan Pandawa jang mendapat

kemenangan. Putera radja Drestaratya tak seorangpun jang masih hidup. Waktu itu radja Durjudana masih hidup, walaupun tak dapat bergerak. Beliau masih, tergeletak di Tegalkuruksetra jang djadi tempat pertempuran antara Pandawa dan Kurawa. Para Pandawa lalu pergi kepesanggerahan. Setelah mereka sampai, Batara Kresna

menitahkan Ardjuna turun dari kereta dengan semua sendjatanja, Setelah Ardjuna turun, Batara Kresnapun turun. Seketika itu djuga keretanja hantjur djadi abu. Begitu pula bendera Ardjuna jang memakai tanda kera putih pun hilang seketika itu djuga. Ardjuna tahu keadaan jang adjaib itu lulu menanjakan kepada Batara Kresna, Batara Kresna mendjawab :Kereta ini sebetulnja telah lama mendjadi abu, karena kena panah musuh jang sakti2 anugerah dari dewa. Akan tetapi selama kereta itu masih, saja dinaiki atau masih saja pergunakan untuk peperangan ini, tidaklah akan rusak. walaupun sebenarnja telah djadi abu. Demikian kesaktian, Batara Kresna jang mendjadi pemimpin dan pelindung Pandawa.

69
Sumber :MAHABARATA, M. SALEH, P. N. BALAI PUSTAKA Djakarta 1968