Вы находитесь на странице: 1из 0

ROTAVIRUS

OLEH
Dr. MARIA MAGDALENA SIMATUPANG
NIP. 132 316 963




DEPARTEMEN MIKROBIOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN USU
2009
Dr. Maria Magdalena Simatupang : Rotavirus, 2009
USU Repository 2008
DAFTAR ISI

ABSTRAK.1
PENDAHULUAN..2
KLASIFIKASI & SIFAT-SIFAT ANTIGEN3
SIKLUS REPLIKASI.....5
PERKEMBANGBIAKAN DALAM BIAKAN SEL.6
MASA PENULARAN...................................................................................................6
PATOGENESIS.6
GAMBARAN KLINIS...8
DIAGNOSIS LABORATORIUM.....9
EPIDEMIOLOGI & IMUNITAS ..10
PENATALAKSANAAN.12
PENCEGAHAN 13
DAFTAR PUSTAKA..16















Dr. Maria Magdalena Simatupang : Rotavirus, 2009
USU Repository 2008
ABSTRAK

Rotavirus adalah penyebab utama diare pada bayi. Rotavirus termasuk dalam famili
reoviridae. Rotavirus dibagi menjadi 7 grup, A-G dan hanya grup A, B dan C yang
menginfeksi manusia. Rotavirus memiliki sedikitnya 14 serotipe G dan 20 serotipe P.
Rotavirus memiliki RNA untai ganda dan kapsid ganda tanpa amplod. Rotavirus
ditransmisikan melalui jalur fecal oral dan menginfeksi 2/3 proksimal ileum.
Gejalanya khas meliputi diare, demam, nyeri perut, dan muntah-muntah diikuti
dehidrasi. Diagnosis laboratorium bergantung dari terlihatnya virus pada feses yang
dikumpulkan secara dini dan pada kenaikan titer antibodi.
Penatalaksanaan diare karena rotavirus bersifat suportif, untuk mengkoreksi
kehilangan cairan dan elektrolit karena infeksi rotavirus bersifat self limited. Pada
tahun 1998, vaksin rotavirus yang mengandung 4 macam serotipe yaitu G1-G4 yang
dinamakan vaksin Rotashield telah digunakan pada bayi di Amerika Serikat. Adanya
laporan tentang kejadian intususepsi sesudah vaksinasi, mengakibatkan penundaan
pemberian vaksin ini pada tahun 1999. Dua buah vaksin yang terbaru saat ini sedang
dalam pengembangan tahap akhir dan dari penelitian terlihat aman dan efektif.
Kata kunci : Rotavirus, diare, self limited, vaksin.













Dr. Maria Magdalena Simatupang : Rotavirus, 2009
USU Repository 2008
PENDAHULUAN

Gastroenteritis virus akut disebabkan oleh 4 kategori besar virus yaitu
Rotavirus, Norwalk dan Norwalk-like virus, Calivirus lain dan Astrovirus. Virus yang
menyebabkan gastroenteritis ini ditransmisikan melalui jalur fecal oral. Infeksi paling
sering terjadi pada waktu dimana cuaca lebih dingin, berbeda dengan diare yang
disebabkan infeksi bakteri yang biasanya terjadi pada waktu dimana cuaca lebih
hangat.
Gastroenteritis (diare) merupakan penyebab utama kematian anak (5-10 juta
per tahun) pada negara berkembang dimana kasus malnutrisi masih umum terjadi.
Perkiraan terkini gastroenteritis virus memegang persentase sebanyak 30-40 % infeksi
diare di Amerika Serikat dari kasus kasus diare yang terdokumentasi (diare yang
disebabkan oleh bakteri dan parasit). Di Amerika Serikat, diare yang disebabkan
rotavirus sebanyak 3,5 juta kasus. Persentase angka rawat inap yang disebabkan oleh
rotavirus sebanyak 35% dan angka kematian 75-150 per tahun.
Gastroenteritis virus paling sering terjadi pada bayi usia 1-11 bulan, dimana
virus menyerang sel epitel usus halus bagian atas, yang menyebabkan gangguan
absorbsi, transport sodium dan diare. Manifestasi klinis bervariasi dari asimptomatik,
diare yang ringan dengan sakit kepala dan demam, sampai dengan diare yang berat
yang menyebabkan dehidrasi yang fatal. Gejala muntah hampir selalu ada.
Gastroenteritis virus biasanya akan sembuh sendiri. Penatalaksanaan dilakukan
dengan terapi penggantian cairan dengan cairan yang bersifat isotonis, analgesik dan
obat antiperistaltik.
1
Rotavirus adalah penyebab utama penyakit diare pada bayi manusia dan
binatang muda termasuk anak sapi dan anak babi. Infeksi pada orang dewasa dan
binatang juga sering. Beberapa rotavirus merupakan agen penyebab diare infantil
pada manusia, diare anak sapi di Nebraska, diare yang menyerang bayi tikus dan virus
SA 11 pada kera. Rotavirus menyerupai reovirus dalam batasan morfologi dan strategi
replikasinya.
2
Rotavirus kadang-kadang menyerang para wisatawan dewasa (travelers
diarrhea) dan menyerang orang-orang dengan daya tahan tubuh yang lemah (seperti
pada penderita AIDS), orang tua dengan anak-anak yang menderita diare karena
rotavirus dan manula.
3
Dr. Maria Magdalena Simatupang : Rotavirus, 2009
USU Repository 2008
KLASIFIKASI & SIFAT-SIFAT ANTIGEN

Rotavirus termasuk dalam famili reoviridae dan merupakan patogen yang
paling penting pada manusia dalam kelompok reoviridae. Golongan virus reoviridae
meliputi tiga genus yang dapat menginfeksi manusia yaitu (1) reovirus yang terdiri
dari 3 serotipe (2) rotavirus dengan 2 serotipe (3) orbivirus yang terdiri dari beberapa
serotipe.

Tabel. Ciri penting rotavirus
2
Virion Ikosahedral, diameter 60-80 nm, kulit kapsid dobel
Komposisi RNA (15%), protein (85%)
Genom RNA untai ganda, linear, bersegmen (10-12 segmen), total ukuran genom
16-17 kbp
Protein Sembilan protein struktural, core berisi beberapa enzim
Amplop Tidak ada (amplop semu transient, transient pseudoenvelope terdapat
selama terjadi morfogenesis partikel rotavirus)
Replikasi Sitoplasma, virion tidak beramplop secara komplit
Ciri khas lain Penyusunan genetik terjadi secara mudah
Rotavirus merupakan penyebab utama diare pada bayi




Gambar rotavirus pada feses bayi yang sedang diare.
Terlihat kapsid sebanyak dua buah. Kapsid terluar memiliki
diameter 70nm, kapsid dalam memiliki diameter 40nm.
Memiliki genom RNA dengan 11 subunit.
4


Rotavirus memiliki RNA untai ganda. Virion rotavirus yang tidak berselubung
terdiri dari 3 kapsids konsentrik yang mengelilingi genom RNA. Genom ini terbagi
menjadi 11 segmen yang mengkode 6 protein struktural dan 6 protein non struktural.
5
Rotavirus dibagi menjadi 7 grup, A-G, berdasar pada epitop antigen pada protein
Dr. Maria Magdalena Simatupang : Rotavirus, 2009
USU Repository 2008
struktural internal VP6. Antigen ini dapat dideteksi dengan teknik imunofluoresen,
ELISA dan IEM (immune electron microscopy). Hanya grup A, B dan C yang
menginfeksi manusia. Grup A penyebab yang paling utama infeksi manusia dan
merupakan fokus dari usaha vaksinasi.
2,4
Virion rotavirus mengandung RNA
dependent RNA polymerase yang dibutuhkan karena sel manusia tidak memiliki RNA
polymerase yang dapat mensintesis mRNA dari cetakan RNA untai ganda.
6

Rotavirus belum dapat dikembangbiakkan dengan pembentukan efek sitopatik
dalam sistem biakan sel apapun yang sesuai, tetapi adanya replikasi virus tersebut
dalam sel epitel intestinal telah dapat dibuktikan dengan teknik imunofluoresensi.
Virion rotavirus mempunyai diameter keseluruhan sebesar 60-66 nm dan mempunyai
lapisan kapsomer rangkap yang mengelilingi pusatnya dan memberikan gambaran
sebuah roda.
7

Protein kapsid luar VP4 dan VP7 membawa epitope penting dalam aktivasi
netralisasi, walaupun glikoprotein VP7 tampaknya merupakan antigen dominan. Dua
buah protein kapsid luar tersebut digunakan untuk klasifikasi serotipe, yakni P dan G,
dinamakan P karena VP4 dipotong oleh protease dan dinamakan G karena VP7
mengalami glikosilasi. Sedikitnya ada 14 serotipe G dan 20 serotipe P dan karena gen
yang mengkode VP4 dan VP7 terpisah secara tersendiri, beberapa lusin kombinasi PG
yang berbeda dapat muncul secara teori. Namun secara klinis hanya sedikit serotipe
PG yang dominan. Tabel di bawah meringkas klasifikasi serotipe rotavirus yang
utama.
2,5

Tabel. Serotipe Rotavirus.
5
Gen VP7 VP4
Serotipe G P
J umlah serotype 14 20
Tipe yang paling umum G1, G2, G3, G4 P4, P8
Yang muncul kemudian G9 P6
Serotipe G1, G2, G3 dan G4 dominan di Amerika Serikat, hampir 90%,
diperkirakan 80% P8 dan 11% P4. Diseluruh dunia 88,5% diare yang diakibatkan
rotavirus disebabkan oleh 4 serotipe yaitu P8G1, P4G2, P8G3 dan P8G4.
Distribusi serotipe dapat bervariasi secara dramatis diantara beberapa wilayah.
Contohnya serotipe yang tadi disebut di atas tersebar diseluruh dunia, menyebabkan
Dr. Maria Magdalena Simatupang : Rotavirus, 2009
USU Repository 2008
90% infeksi d Amerika Utara, Eropa dan Australia, berdasarkan pemeriksaan yang
luas dari strain rotavirus yang dilakukan sejak tahun 1973-2003 dan review dari 124
studi yang diterbitkan antara tahun 1989 dan 2004. Sedangkan di Amerika Selatan
dan Asia, 4 serotipe di atas hanya mewakili 68% infeksi, di Afrika hanya 50%. Pada
daerah tertentu serotipe P6, G8 dan G9 semakin meningkat, dengan implikasi yang
penting untuk pengembangan vaksin. Contohnya data dari Afrika, strain G8 mewakili
genotipe keempat yang paling sering dengan persentase 12,8%.
5

Antigen spesifik tipe ini membedakan antara rotavirus-rotavirus dan dapat
ditunjukkan dengan tes Nt. Sedikitnya 9 serotipe telah teridentifikasi diantara
rotavirus manusia, dan sedikitnya 5 serotipe lagi berada diantara isolate binatang.
Beberapa rotavirus binatang dan rotavirus manusia berbagi spesifisitas serotipe.
Misalnya virus SA 11 kera secara antigen sangat mirip dengan serotipe 3 manusia.
Virus yang sering menimbulkan gastroenteritis pada manusia ini digolongkan sebagai
rotavirus grup A, tetapi rotavirus yang berbeda secara antigenik juga menyebabkan
wabah diare, terutama pada orang dewasa. Studi epidemiologi molekuler telah
menganalisis isolat berdasarkan perbedaan dalam migrasi segmen genom 11
mengikuti elektroforesis RNA dalam gel polyacrilamide. Keberagaman genom yang
luas telah ditunjukkan dalam banyak penelitian. Perbedaan dalam elektroforesis ini
tidak dapat dipakai untuk meramalkan serotipe tetapi elektroforesis dapat menjadi alat
epidemiologi untuk memantau penularan virus.
2

SIKLUS REPLIKASI

Reovirus melekat pada permukaan sel pada reseptor B adrenergik. Sesudah
virion masuk ke dalam sel, RNA polymerase mensintesis mRNA dari tiap 10 atau 11
segmen di dalam sitoplasma. Sepuluh atau sebelas mRNA di translasikan menjadi
protein struktural dan non structural. Salahsatu dari ini RNA polymerase, mensintesis
untai negatif yang akan menjadi bagian dari genom virus. Protein kapsid membentuk
kapsid yang tidak lengkap disekeliling untai negatif dan kemudian untai positif dari
segmen genom disintesis. Virus dilepas dari sitoplasma dengan lisis sel.
6



Dr. Maria Magdalena Simatupang : Rotavirus, 2009
USU Repository 2008
PERKEMBANGBIAKAN DALAM BIAKAN SEL

Rotavirus adalah agen yang bersifat pemilih dalam hal kultur. Kebanyakan
rotavirus grup A manusia dapat dibiakkan jika sebelumnya diberikan enzim
proteolitik tripsin dan jika terdapat tripsin dalam level yang rendah dalam medium
kultur jaringan. Ini bisa memecahkan protein kapsid luar dan memudahkan pelepasan
selubung. Sangat sedikit strain rotavirus nongrup A yang telah dibiakkan.
2


MASA PENULARAN

Penularan dapat terjadi selama fase akut dan selanjutnya penularan terus dapat
berlangsung selama didalam tubuh orang itu masih ditemukan ada virus. Rotavirus
biasanya tidak ditemukan sesudah hari ke-8 sejak infeksi, walaupun virus masih
ditemukan selama 30 hari atau lebih pada penderita dengan gangguan sistem
kekebalan (immunocompromised). Gejala klinis akan hilang rata-rata setelah 4 6
hari.
3

PATOGENESIS

Rotavirus menginfeksi 2/3 proksimal ileum dengan terikat pada enterosit
matur pada ujung-ujung villi. Sel-sel nonproliperatif dari ileum ini terdiferensiasi
untuk melaksanakan fungsi pencernaan dan penyerapan, mereka mengekspresikan
beberapa disakaridase, peptidase dan beberapa enzim lain yang berperan pada
pencernaan pada permukaan apikal. Dan sebagai tambahan sel-sel ini membolehkan
absorpsi melintasi barier enterosit, melalui difusi pasif dan transport aktif. Sel-sel
kripta yang berlokasi di lembah-lembah antara villi berperan dalam fungsi sekresi,
secara aktif mensekresikan ion klorida ke dalam lumen usus halus. J adi enterosit
melaksanakan fungsi absorpsi sedangkan sel kripta melaksanakan fungsi sekresi. Sel-
sel yang rusak terkelupas masuk ke dalam lumen usus dan melepaskan virus dalam
jumlah yang besar yang dapat tampak di feses (lebih dari 10
10
partikel per gram
feses). Ekskresi virus biasanya berlangsung 2-12 hari pada individu yang sehat tetapi
dapat memanjang pada individu dengan nutrisi yang buruk.
Dr. Maria Magdalena Simatupang : Rotavirus, 2009
USU Repository 2008
Studi pada hewan menunjukkan rotavirus menginfeksi enterosit matur epitel
villi di usus halus. Namun ada kisaran yang luas dari jenis-jenis sel permukaan yang
rentan terhadap infeksi rotavirus pada kultur jaringan, termasuk sel tulang, sel
payudara, sel lambung dan sel paru. Nyatanya dengan menginduksi infeksi melalui
lipofeksi, semua sel permukaan yang dicoba dapat mendukung replikasi rotavirus.
Reseptor sel yang memungkinkan rotavirus terikat masih belum didefenisikan.
Integrin sel mungkin mempunyai peran sebagai koreseptor, berdasarkan penemuan
protein kapsid luar VP4 dan VP7 mengandung sekuens ligan terhadap alpha2beta1,
alpha4beta1, dan alphaXbeta2 integrin. Namun beberapa studi menyarankan
masuknya rotavirus secara efektif mungkin memerlukan beberapa reseptor permukaan
sel yang mungkin berbeda untuk rotavirus yang bervariasi. Mekanisme untuk
masuknya rotavirus masih tetap dalam diskusi dan mungkin saja dengan cara
penetrasi langsung melalui membran sel atau endositosis melalui reseptor.
Meskipun infeksi rotavirus dapat muncul disetiap umur, gejala yang berat
muncul hampir secara eksklusif pada anak berusia 3-24 bulan, dengan infeksi yang
mengarah kepada diare akut yang akan sembuh sendiri (self limited). Diare terjadi
karena absorpsi natrium dan glukosa rusak karena sel pada villi digantikan sel kripta
imatur yang tidak melaksanakan fungsi absorbsi. Butuh waktu 3-8 minggu agar fungsi
normal dapat kembali. Kematian akibat rotavirus karena dehidrasi dan
ketidakseimbangan elektrolit. Perubahan patologi yang paling utama terbatas pada
usus halus dan diare terjadi dari beberapa mekanisme yang mengganggu fungsi epitel
usus halus. Virus menginduksi kematian sel yang mengakibatkan semakin landainya
epitel villi dan proliferasi sel kripta sebagai respon nya. Kapasitas absorbsi usus
menurun, sementara cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus. Sementara
enterosit juga terinfeksi, enzim-enzim pencernaan seperti sukrase dan isomaltase juga
menurun. Ketika gula terakumulasi, gradien osmotik lebih semakin meningkatkan
sekresi cairan ke dalam lumen. Diare juga terjadi dari aktivitas enterotoksin virus,
nonstruktural protein 4 (NSP4). Pada tikus NSP4 menginduksi diare yang tergantung
dosis dan usia dengan cara memicu sinyal sel dan mobilisasi calcium yang akhirnya
mengakibatkan diare sekretori. Pada model binatang, NSP4 menginisiasi diare
sekretori selama tahap awal infeksi, jadi mendahului terjadinya inflamasi atau
kerusakan selular. Akhirnya sistem saraf enterik berkontribusi dalam
mempertahankan keadaan diare, menstimulasi sekresi cairan dan zat-zat.
2,5

Dr. Maria Magdalena Simatupang : Rotavirus, 2009
USU Repository 2008
GAMBARAN KLINIS

Rotavirus merupakan penyebab sebagian besar penyakit diare pada bayi dan
anak-anak tetapi tidak pada orang dewasa. Masa inkubasinya 1-3 hari. Gejala yang
khas meliputi diare, demam, nyeri perut, dan muntah-muntah diikuti dehidrasi.
Pada bayi dan anak-anak, kehilangan banyak elektrolit dan cairan bisa fatal
jika tidak diobati. Penderita dengan kasus yang lebih ringan mempunyai gejala selama
3-8 hari dan kemudian sembuh sempurna. Dapat terjadi infeksi asimtomatik dengan
serokonversi. Pada anak-anak dengan imunodefisiensi, rotavirus dapat mengakibatkan
penyakit yang lebih berat dan lebih panjang. Orang dewasa yang berkontak dapat
terinfeksi, seperti yang ditunjukkan oleh serokonversi, tetapi mereka jarang
menunjukkan simtom, dan virus jarang terdeteksi dalam feses mereka. Sumber infeksi
yang sering ditemukan adalah kontak dengan kasus pediatrik. Tetapi epidemi penyakit
yang berat telah terjadi pada orang dewasa, terutama dalam populasi yang tertutup,
misalnya dalam bangsal geriatrik. Rotavirus golongan B terlibat dalam penjangkitan
yang luas penyakit gastroenteritis berat pada orang dewasa di Cina.
2
Dalam studi kohort pada bayi yang diikuti dari sejak lahir hingga 2 tahun
pertama, sebanyak 50% infeksi rotavirus bersifat asimtomatik. Infeksi primer lebih
berat daripada infeksi berulang. Durasi sakit dari 3-9 hari. Pada infeksi dengan gejala,
penyakit rotavirus dikategorikan ringan pada 62% anak-anak, 35% sedang dan 3%
kasus berat; 7% anak-anak membutuhkan rawat inap.
Pada sebuah studi pada anak-anak dengan diare rotavirus, 64% mengalami
muntah, 64% mengalami demam, 14% mengalami dehidrasi, dan 18% di rawat inap.
Pada anak-anak yang mengalami gejala, onset sering tiba-tiba, dengan demam dan
muntah yang diikuti dengan diare yang bersifat berair dan eksplosif dengan frekuensi
10x per hari. Feses tidak berdarah dan biasanya sangat sedikit mengandung leukosit,
tetapi pada 20% dapat ditemui mukus.
Karena kesulitan menilai dehidrasi pada anak-anak, data yang ada terbatas
untuk menilai kejadian dehidrasi pada diare rotavirus. Dibandingkan dengan diare
pada anak karena patogen lain, diare pada rotavirus lebih cenderung mengandung
banyak air, mual, muntah, kehilangan selera makan, nyeri perut dan dehidrasi. Pada
anak-anak yang dirawat inap dengan infeksi rotavirus, kebanyakan anak-anak
mengalami kombinasi demam, muntah dan diare. Namun dapat juga muncul 2 gejala
Dr. Maria Magdalena Simatupang : Rotavirus, 2009
USU Repository 2008
atau hanya satu gejala. Sebuah studi lain juga menyatakan anak-anak dengan diare
rotavirus lebih cenderung mengalami muntah daripada anak-anak dengan non
rotavirus diare.
5

DIAGNOSIS LABORATORIUM

Rotavirus tidak dapat di diagnosis secara akurat berdasarkan presentasi klinis
karena gejala dan tanda infeksi rotavirus secara klinis tidak dapat dibedakan dari
etiologi yang lain. Namun sering juga akhirnya diagnosis rotavirus dibuat
berdasarkan klinis dan epidemiologi. Pemeriksaan laboratorium jarang dikerjakan
dalam praktek. Membuat diagnosis spesifik dari gastroenteritis rotavirus tidak akan
mengubah manajemen nya karena tidak ada terapi spesifik yang tersedia untuk
rotavirus. Maka tes tambahan untuk anak-anak dengan diare akut biasanya tidak
diperlukan.
5

Namun sejumlah metode laboratorium dapat digunakan untuk mengkonfirmasi
diagnosis rotavirus. Diagnosis laboratorium bergantung dari demonstrasi virus pada
feses yang dikumpulkan secara dini dan pada kenaikan titer antibodi. Virus yang
terdapat pada feses dapat terlihat dengan teknik IEM, tes aglutinasi lateks atau
ELISA. Deteksi asam nukleat rotavirus dari spesimen feses dengan reaksi PCR
merupakan metode deteksi yang paling sensitif. Tes serologi dapat digunakan untuk
mendeteksi kenaikan titer antibodi.
2
Tes cepat menggunakan immunoassay enzim dan
aglutinasi lateks tersedia secara luas, relatif tidak mahal dan memiliki sensitivitas dan
spesifisitas yang baik. Metode-metode ini ditujukan untuk mengidentifikasi satu grup
antigen yang umum untuk semua grup A rotavirus, VP6. Secara umum, immunoassay
enzim memperlihatkan sensitivitas dan spesifisitas yang lebih besar yaitu 95% dan
99% sementara tes aglutinasi lateks memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang lebih
rendah. Mikroskop elektron dapat digunakan untuk mengidentifikasi rotavirus pada
spesimen feses dan bahkan memungkinkan inisial identifikasi rotavirus. Mikroskop
elektron tidak tersedia secara siap dan meskipun sangat spesifik kurang sensitif dari
metode lain.
5
Meskipun rotavirus dapat dikultur, kultur rutin tidak akan mendeteksi
rotavirus, jadi membatasi kultur virus untuk laboratorium riset tertentu. Sementara tes
cepat PCR sensitif untuk mendeteksi rotavirus namun mahal sehingga tidak
Dr. Maria Magdalena Simatupang : Rotavirus, 2009
USU Repository 2008
dikerjakan juga secara rutin. Serotipe rotavirus dapat ditentukan dengan menggunakan
tes cepat PCR atau antibodi monoklonal. Dapat juga diidentifikasi dengan teknik
elektroforesis dari ekstrak RNA menjadi 11 band. Teknik ini telah digunakan pada
studi epidemiologik pada kejadian wabah. Tes serologi juga telah digunakan pada
studi epidemiologi dan trial vaksin untuk mendeteksi infeksi rotavirus, tetapi tidak
berguna pada terapan klinis.
5


EPIDEMIOLOGI & IMUNITAS

Rotavirus adalah satu-satunya penyebab gastroenteritis yang terpenting di
seluruh dunia pada anak-anak. Angka perkiraan berkisar antara 3 sampai 5 milyar per
tahun episode diare pada anak-anak di bawah usia 5 tahun di Afrika, Asia dan
Amerika Latin dan menyebabkan sebanyak 1 juta kematian. Negara-negara maju
mempunyai angka kesakitan yang tinggi tetapi angka kematiannya rendah.
2
Di
Amerika Serikat ada 3 juta kasus per tahun dengan angka kematian kurang dari 100.
3
Khususnya 50% kasus gastroenteritis akut pada anak-anak yang dirawat di rumah
sakit di seluruh dunia disebabkan oleh rotavirus.
2
Lebih dari 90% anak-anak di USA
telah terinfeksi pada umur 3 tahun. Imunitas yang diperoleh menyebabkan infeksi
rotavirus kurang sering pada orang dewasa, kecuali beberapa strain tertentu rotavirus.
Perkiraan berkisar antara 500 juta sampai 1 milyar selama episode tahunan diare, pada
anak-anak di bawah 5 tahun di Afrika, Asia dan Amerika Latin, mengakibatkan 5 juta
kematian. Biasanya 50-60% dari kasus gastroenteritis akut pada anak-anak yang
dirawat di seluruh dunia disebabkan oleh rotavirus.
Infeksi rotavirus biasanya banyak terdapat selama musim dingin. Infeksi
simtomatik adalah yang paling sering terjadi pada anak-anak antara umur 6 bulan
sampai 2 tahun, dan penularan tampaknya melalui jalur tinja-mulut. Infeksi
nosokomial sering terjadi.
Rotavirus ada dimana-mana. Menjelang umur 3 tahun, 90% anak-anak
mempunyai antibodi serum terhadap satu tipe rotavirus atau lebih. Manusia dan
hewan dapat terinfeksi sekalipun terdapat antibodi. Reinfeksi rotavirus umum terjadi,
dapat terjadi anak kecil mengalami 5x reinfeksi sampai umur 2 tahun.. Faktor-faktor
imun lokal, misalnya Ig A sekretorik atau interferon, penting dalam perlindungan
Dr. Maria Magdalena Simatupang : Rotavirus, 2009
USU Repository 2008
terhadap infeksi rotavirus. Selain itu reinfeksi bila ada antibodi yang beredar dapat
menggambarkan adanya serotipe ganda virus. Infeksi asimtomatik sering terjadi pada
bayi sebelum berumur 6 bulan, di saat antibodi protektif ibu didapat secara pasif oleh
bayi yang baru lahir. Infeksi neonatal semacam itu tidak mencegah reinfeksi, tetapi
dapat melindungi terhadap munculnya penyakit yang berat selama reinfeksi. Antibodi
rotavirus telah dideteksi dalam susu ibu sampai 9 bulan setelah melahirkan. Imunitas
yang didapat sewaktu anak-anak ini menyebabkan infeksi rotavirus relatif jarang pada
orang dewasa.
2


Tabel. Virus yang menyebabkan gastroenteritis akut pada manusia.
2
Virus Ukuran(nm)

Epidemiologi Penyebab opname
Rotavirus
Grup A
60-80 Penyebab terpenting penyakit diare
endemis berat pada bayi dan anak
kecil di seluruh dunia (pada bulan-
bualn dingin di iklim sedang)
Ya
Rotavirus
Grup B
60-80 Wabah penyakit diare pada anak dan
dewasa di Cina
Tidak
Rotavirus
Grup C
60-80 Kasus sporadis dan kadang-kadang
wabah pada penyakit diare pada
anak-anak
Tidak
Adenovirus
enterik
70-90 Agen virus terpenting kedua
penyakit diare endemis pada bayi
dan anak kecil di seluruh dunia
Ya
Virus
Norwalk
dan virus
mirip
Norwalk
27-40 Penyebab penting wabah muntah
dan penyakit diare pada anak yang
lebih besar dan dewasa di keluarga,
komunitas dan perkantoran,
seringkali disebabkan oleh
pengolahan makanan.
Tidak
Calicivirus 27-40 Kasus sporadis dan kadang-kadang Tidak
Dr. Maria Magdalena Simatupang : Rotavirus, 2009
USU Repository 2008

wabah penyakit diare pada bayi,
anak kecil dan lanjut usia.
Astrovirus 28-30 Kasus sporadis dan kadang-kadang
wabah penyakit diare pada bayi,
anak kecil dan lanjut usia.
Tidak
PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan diare karena rotavirus bersifat suportif, untuk mengkoreksi
kehilangan cairan dan elektrolit yang dapat menuju pada keadaan dehidrasi, asidosis,
syok dan kematian. Ini dapat dicapai dengan penggantian cairan dan perbaikan
keseimbangan elektrolit baik secara oral atau melalui cairan intravena. Angka
kematian pada anak karena diare yang jarang pada negara maju karena penggunaan
yang rutin terapi pengganti cairan secara efektif.
2
Ketika mendiskusikan situasi
seorang anak dengan orangtuanya atau penjaganya, sejumlah faktor penting untuk
dipertimbangkan apakah seorang anak perlu dibawa untuk dievaluasi oleh profesional
kesehatan. Pertimbangan nya meliputi :
Usia muda (<6 bulan atau berat <8 kg)
Riwayat lahir premature, kondisi medis kronis
Demam >38c untuk bayi <3 bulan atau >39 c untuk usia 3-36 bulan.
Terlihat darah dalam feses
J umlah frekuensi dan volume yang tinggi dari diare
Muntah terus menerus
Tanda dehidrasi : mata yang redup, airmata yang berkurang, keringnya
mukosa atau output urin yang menurun
Perubahan status mental (iritabel, apatis atau letargi)
Respon yang tidak optimal dengan terapi rehidrasi oral
5


PENCEGAHAN

Rotavirus sapi hidup dan rotavirus resus dilaporkan dapat berfungsi sebagai
vaksin yang dilemahkan pada manusia. Masih belum diketahui bagaimana imunitas
heterotipik efektif dapat ditimbulkan pada manusia oleh rotavirus hewan. Pendekatan
Dr. Maria Magdalena Simatupang : Rotavirus, 2009
USU Repository 2008
lain untuk pengembangan vaksin mencakup penggunaan mutan rotavirus manusia
yang dilemahkan dan teradaptasi dingin dan penggunaan rotavirus reasortan
antarspesies. Secara pasti vaksin rotavirus yang efektif akan menimbulkan antibodi
protektif pada semua bayi yang sangat muda terhadap semua serotipe rotavirus yang
penting.
2
Pada bulan Agustus 1998, vaksin rotavirus hidup, oral, dinamakan vaksin
Rotashield, mengandung 4 macam serotipe yaitu G1-G4. Tetravalent Rhesus based
rotavirus vaccine (RRV-TV) telah diijinkan digunakan untuk bayi di Amerika Serikat.
Vaksin ini sebaiknya diberikan kepada bayi pada usia 6 minggu 1 tahun. J adwal
yang disarankan adalah 3 dosis yang diberikan secara berurutan pada usia 2, 4 dan 6
bulan. Dosis pertama bisa diberikan pada usia 6 minggu 6 bulan dosis berikutnya
diberikan dengan interval waktu 3 minggu. Dosis pertama sebaiknya tidak diberikan
kepada anak usia 7 tahun keatas karena akan meningkatkan kemungkinan terjadi
reaksi demam. Dosis kedua dan ketiga sebaiknya diberikan sebelum ulang tahun yang
pertama. Pemberian imunisasi rutin dengan vaksin tersebut akan menurunkan jumlah
pasien gastroenteritis yang dirawat akibat rotavirus secara bermakna, yaitu dapat
mencegah paling sedikit 2/3 dari anak-anak yang dirawat di rumah sakit dan yang
meninggal karena rotavirus. Pada suatu studi klinis, ditemukan vaksin 75%-100%
efektif terhadap penyakit rotavirus berat dan 48%-66% efektif terhadap rotavirus dari
derajat apapun.
Intususepsi (gangguan pada usus yang menyebabkan salah satu bagian usus masuk
kebagian lain) ditemukan pada satu trial sebelum vaksin RRV-TV diizinkan beredar
sebagai satu masalah yang potensial yang dapat terjadi pada pemberian RRV-TV.
Oleh karena laporan tentang terjadinya intussescepsi ini terus menerus datang, maka
CDC pada bulan J uli 1999, menunda beberapa penelitian yang akan dilakukan dan
merekomendasikan agar menunda pemberian RRV-TV pada anak-anak yang telah
dijadwalkan untuk mendapatkan imunisasi sebelum bulan Nopember 1999.
Rekomendasi ini termasuk ditujukan kepada mereka yang sudah mulai mendapat
dosis awal RRV-TV. Semua kasus intususepsi yang terjadi setelah pemberian RRV-
TV sebaiknya dilaporkan kepada Sistem Pelaporan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi
(KIPI).
Dua buah vaksin rotavirus yang baru yaitu Rota Teq dan Rotarix sedang dalam
pengembangan tahap akhir. Vaksin ini telah dicoba pada clinical trials yang besar di
seluruh dunia dan terlihat aman dan efektif. Vaksin yang aman dan efektif tetap
Dr. Maria Magdalena Simatupang : Rotavirus, 2009
USU Repository 2008
menjadi harapan terbesar untuk mengurangi beban penyakit rotavirus di seluruh
dunia.
2,3,5
Efektifitas upaya-upaya pencegahan lain tidak diketahui dengan jelas. Dalam
hal jalur penularan tinja mulut, upaya pengendaliannya yang penting adalah
penanganan air limbah dan kebersihan. Meskipun begitu perilaku hidup bersih dan
sehat untuk mencegah penularan penyakit melalui jalan fekal-oral mungkin tidak
efektif dalam mencegah penularan virus ini, oleh karena virus dapat hidup untuk
jangka waktu lama pada permukaan yang keras, pada air yang terkontaminasi dan di
tangan. Rotavirus relatif kebal terhadap disinfektan yang umum digunakan tetapi
dapat diinaktifvasi dengan klorin.
Di tempat-tempat penitipan anak, mengenakan baju yang dapat menutup seluruh
bagian tubuh bayi termasuk menutupi popok bayi, diketahui dapat menurunkan angka
penularan infeksi.
Mencegah terjadinya pemajanan dari bayi dan anak kecil dengan orang yang
menderita gastroenteritis akut di dalam lingkungan keluarga dan institusi (seperti di
tempat-tempat penitipan anak/orang tua dan rumah sakit).
Pencegahan dilakukan dengan standar sanitasi yang baik, sedangkan melarang
anak-anak untuk dititipkan tempat penitipan anak tidak diperlukan.
Pemberian imunisasi pasif dengan imunoglobulin per oral terbukti
memberikan perlindungan kepada bayi berat lahir rendah dan anak dengan daya tahan
tubuh rendah. Menyusui tidak menurunkan angka penularan, namun dapat
mengurangi keparahan gastroenteritis.
3










Dr. Maria Magdalena Simatupang : Rotavirus, 2009
USU Repository 2008
Dr. Maria Magdalena Simatupang : Rotavirus, 2009
USU Repository 2008
DAFTAR PUSTAKA

1. Lansing M. Prescott, Harley J ohn P., Klein Donald A. Microbiology. Sixth
Edition.. McGraw Hill Higher Education, 2005 :3824.
2. Brooks G.F., Carrol K.C., Butel J .S., & Morse S.A. Medical Microbiology. 24
th
ed,
Mc Graw Hill, 2007 : 501-6.
3. Ditjen Pengendalian Penyakit & Penyehatan Lingkungan - Departemen Kesehatan
R.I. Manual Pemberantasan Penyakit Menular. 2005.
4. Kayser, F.H., Bienz, K.A., Eckert J ., & Zinkernagel, R.M. Fungi as Human
Pathogens : Medical Microbiology. New York, Thieme Stuttgart, 2005 :362-4.
5. Staat Mary A. Rotavirus : Identification, Treatment, and Prevention. Available
from URL : http://www.medscape.com/viewprogram/4007_pnt. 15 April 2005 : 3-15.
6. Levinson W. , J awetz E. Medical Microbiology & Immunology. Seventh Edition,
McGraw Hill, 2003 : 255
7. Karsinah. Reoviridae. Dalam : Staf Pengajar FK UI. Buku Ajar Mikrobiologi
Kedokteran. Edisi Revisi, Binarupa Aksara, 1994 : hal 343.