Вы находитесь на странице: 1из 0

Pneumonia Mikoplasma

Helmi M. Lubis

Bagian Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara

Pendahuluan
Mycoplasma pneumoniae merupakan salah satu penyebab infeksi saluran nafas
akut (ISNA) yang sering terjadi pada anak-anak dan dewasa muda.
1-4
Di negara
berkembang termasuk Indonesia penyebab pneumonia yang paling sering ditemui yang
disebabkan oleh bakteri, sedangkan di negara maju seringkali disebabkan oleh
Mycoplasma pneumoniae. Sekitar 30% dan semua pneumonia pada penduduk secara:
umum disebabkan oleh M. pneumoniae.
5
Di negara kita laporan mengenai infeksi
M.pneumonia sebagai salah satu penyebab infeksi saluran nafas akut masih sangat jarang.
Ini mungkin karena kita masih terlalu disibukkan oleh tugas penanggulangan penyakit
infeksi bakterial.
6
Pada akhir tahun 1930 ditemui adanya grup pneumonia yang digambarkan tidak
menyerupai bakteri tipikal dari pneumonia, karena penyebab dari pneumonia ini tidak
diketahui. Gambaran radiologis paru yang tidak spesifik dan angka mortalitas yang
rendah, membedakan kasus ini dari pneumonia bakterial sehingga disebut Pneumonia
Atypical Primer (PAP.)
7

Pada dekade lanjut setelah obat sulfa dan penisilin digunakan sebagai pengobatan.
terhadap pneumonia bakterial, ternyata pneumonia atipikal ini kurang respon terhadap
obat tersebut.
7
Baru pada tahun 1940 terungkaplah penyebab dari pneumonia atipikal ini,
setelah diisolasi oleh Eaton dkk, ditemukannya kesamaan dengan yang menyebabkan
Pneuropneumonia pada ternak. Maka sejak saat itu disebut namanya Eaton Agent atau
Pleuro Pneumonia Like Organisme. Chanock dkk tahun 1969 berhasil mengisolasi
penyebab pneumonia ini yang menunjukkan bahwa mikro organisme ini termasuk famili
Mycoplasmatacea dari Class Mollicutes
5,8
dan sejak saat itu disebut Mycoplasma
Pneumonia.
7,9,10
Ada dua jenis Mycoplasma yang menyebabkan penyakit pada manusia yaitu
Mycoplasma pneumonia yang menyebabkan penyakit pada saluran nafas dan
Mycoplasma urealyticum yang menyebabkan infeksi pada saluran genitalia.
5
Mikro
organisme ini mempunyai struktur yang sangat primitif, yang dapat berobah bentuk dari
bulat yang berdiameter 125-150 nm sampai bentuk filamen kecil dengan panjang antara
beberapa nm sampai 850 nm. Tidak mempunyai dinding sel dan merupakan organisme
yang terkecil yang terkenal hidup di alam bebas.
5,7-9
Mycoplasma ini mempunyai afinitas
selektif untuk sel epitel saluran nafas misalnya bronkus, bronkiolus, alveoli yang akan
menghasilkan hidrogen peroksida (H
2
O
2
). Akibat terbentuknya H
2
O
2
pada
metabolismenya, menyebabkan kerusakan pada lapisan mukosa saluran nafas, misalnya,
terjadi deskuarnasi dan ulserasi lapisan mukosa, edema pada dinding bronkus dan
timbulnya sekret yang memenuhi saluran nafas dan alveoli.
4,7
Kerusakan ini timbul dalam
waktu yang singkat, antara 24-48 jam dan dapat terjadi pada bagian paru yang luas.
4
H
2
O
2

juga dapat menyebabkan kerusakan pada membran eritrosit, secara invitro kerusakan ini
e-USU Repository 2005 Universitas Sumatera Utara 1
menyebabkan hemolisa yang dapat merubah antigen eritrosit sehingga menstimulasi Cold
Aglutinin atau Aglutinin dingin.
7
Insidensnya sering ditemui pada anak-anak dan dewasa muda. Puncak insiden
menurut para ahli tidak banyak berbeda, ada yang mengatakan antara usia 5-20 tahun,
7
usia 5-15 tahun
6,11
dan usia 10-15 tahun.
9,1l
Tulisan ini bertujuan untuk membicarakan Pneumonia mikoplasma mengenal
epidemiologi, patologi, patogenese, manifestasi klinik, komplikasi, diagnosis, pengobatan
dan prognosisnya.

Epidemiologi
Infeksi M.pneumonia dapat dijumpai di seluruh dunia dan bersifat endemik.
Prevalensi kasus yang paling banyak dijumpai biasanya pada musim panas sampai ke
awal musim gugur yang dapat berlangsung satu sampai dua tahun.
4,7,9,12
Infeksi tersebar
luas dan satu orang ke orang lain dengan percikan air liur (droplet) sewaktu batuk.
4,7

itulah sebabnya infeksi kelihatan menyebar lebih mudah antara populasi yang padat
manusianya misalnya di sekolah, asrama, pemukiman yang padat dan kemp militer.
Laporan kasus Singer dkk menemukan dalam satu keluarga 3 anak berturut-turut
masuk ke Rumah Sakit dengan keluhan gejala respiratorik yang mana sebelum masuk RS
telah mendapat pengobatan Ampisilin tapi tidak menunjukkan adanya perbaikan. Setelah
pemeriksaan serologik ditemui kenaikan 4 kali atau lebih titer antibodi fiksasi
komplemen untuk Mycoplasma Pneumoniae pada ketiga anak tersebut.
13
Masa
inkubasi penyakit ini relatif lama kira-kira 2-3 minggu.
7,11,14
itulah sebabnya biasanya
dalam beberapa anggota keluarga tidak terjadi sakit dalam waktu yang bersamaan.
Biasanya penyakit ini akan memakan waktu beberapa lama Untuk menyebar dalam
rumah tangga tersebut.
7
M.pneumonia yang sudah lama berada pada host yang telah terinfeksi ini
mungkin merupakan suatu faktor penting juga dalam penyakit epidemik yang disebabkan
oleh organisme ini.
9

Patologi
Baru sedikit informasi yang diperoleh mengenai gambaran histopatologi infeksi
M.pneumonia ini pada manusia, penyakit ini jarang menyebabkan kematian.
9
Pada
beberapa kematian yang telah pernah dilaporkan ditemui gambaran interstitial pneumonia
dan bronkiolitis yaitu penebalan dinding bronkus karena edema, penyempitan pembuluh
darah dan infiltrat dari sel mononuklear.
9,15,16

Adanya hiperemis pada cabang trakeobronkial dan paru pada umumnya
7
dan pada
trakea terlihat penurunan yang jelas dari aksi cilia dan diikuti dengan hilangnya cilia dan
kemudian terkelupasnya sel epitelnya.
7

Patogenese
Peranan imunitas (kekebalan) tubuh manusia pada patogenese Pneumonia
mikoplasma masih banyak yang belum jelas.
4
Beberapa penelitian te1ah mernperlihatkan
bahwa anak yang kecil mungkin telah pernah terinfeksi M.pneumoniae, tapi
menunjukkan gejala klinis.
9
Ini oleh karena antigen antibodi yang menimbulkan infiltrat
kurang intensitasnya, sehingga kalau reaksi yang sangat lemah ini tidak menimbulkan
e-USU Repository 2005 Universitas Sumatera Utara 2
gejala klinik.
4
Tetapi apabila terjadi infeksi yang berulang akan menyebabkan akumulasi
imunitas yang sehingga gejala klinis akan nampak jelas.
4,9

Perawatan di Chapel Hill membuktikan bahwa Anak yang lebih kecil dari 5 tahun
Apabila terinfeksi M.pneumoniae jarang menimbulkan gejala klinis walaupun
mempunyai antibodi yang beredar, tapi limfosit yang beredar itu tidak dapat distimulir
oleh antigen M.pneumoniae, sebaliknya anak umur 5 lebih selain mempunyai beredar,
juga mempunyai limfosit yang respon terhadap antigen M.pneumoniae spesifik.
9
Respon imun yang khas ditimbulkan yakni respon imun yang spesifik dan non
spesifik.
4,9
Respon imun yang non spesifik yaitu Antibodi Aglutinin dingin, antibodi
fiksasi komplemen, dan respon imun yang spesifik yaitu pembentukan respon imun
humoral dan respon imun selular. Teknik diagnostik secara serologik pada umumnya
terjadinya respon imun non spesifik.
9

Manifestasi Klinik
Manifestasi klinis infeksi M.pneumonia sangat bervariasi dari yang ringan sampai
berat bahkan ada yang dapat menimbulkan kematian
4,9,14
tapi hal ini sangat jarang
terjadi.
Infeksi M.pneumonia yang sangat ringan atau sub klinis biasannya manifestasi
klinik apapun. Sedangkan infeksi yang berat dapat menimbulkan bermacam manifestasi
atau komplikasi baik respiratorik maupun non respiratorik. Diantara yang terkena infeksi
M. pneumonia hanya kira-kira 5-10% yang perlu rawat mondok.
5
paru adalah merupakan
tempat infeksi yang terutama.
9
Penyakit ini termasuk Self limited, tapi pada keadaan tertentu atau adanya
immunodefisiensi dapat mengalami komplikasi yang berat
5,7,14
tanpa adanya pengobatan,
ISNA berakhir (sembuh) 1-3 minggu dan Pneumonia dapat menetap sampai 4-6 minggu.
Tapi dengan pengobatan yang cepat dan tepat dapat memperpendek manifestasi klinik,
kira- kira setengah kali lebih cepat
7,12
gejala yang umum pada infeksi M. Pneumonia
dan yang kepala, malaise.
2,7,12,16

Demam merupakan manifestasi 100%.
4
Penderita mengalami demam, tapi
biasanya jarang lebih dari 39,5
2,7,16
batuk juga diyemu hampir 100% pada penderita M.
pnemonia
4,5
yang bersifat paroxismal dan non produktif dan biasanya menjadi prominen
2 atau 3 hari setelah demam. Keadaan ini sering memerlukan obat batuk untuk menekan
batuknya. Batuk ini dapat mengeluarkan sputum yang encer berwarna putih, tapi jarang
terjadi sputum yang purulent
2,7,13,16
Malaise kira-kira 75% dari penderita dan sakit kepala sering terjadi mengawali
dari gejala. Beberapa pasien juga ada yang mengeluh sakit dada, pilek, serak, gemetar.
4,7
Infeksi saluran nafas atas juga dapat menyertai infeksi M.Pneumonia yaitu Faringitis
hampir 50% dari penderita.
4,5
infeksi telinga kira-kira 20% terdiri dari otitis media, otitis
externa dan bullous myringitis, semua keadaan ini telah pernah dijumpai berhubungan
dengan infeksi M.pneumonia.
9,13,14
Atau kira-kira
1
/
4

1
/
2
dari pasien yang menderita
M.pneumonia akan selalu mcnderita demam ditambah infeksi saluran nafas atas disertai
myringitis, faringitis, bronkitis atau kombinasi ketiganya.
5,6
Pada pemeriksaan fisik (auskultasi) ditemui ronki basah hampir pada 75% dari
kasus yang biasanya di sebelah bawah paru kanan.
12.13
Har dkk menemui ronki 66% dari
kasus.
12
e-USU Repository 2005 Universitas Sumatera Utara 3
Laporan beberapa kasus dengan gejala yang tidak spesifik yang diduga
mempunyai latar belakang infeksi M.pneutnonia yaitu penyakit paru destruktif yang
kronik (COPD) dan bronkitis,
4,5
dimana gambaran radiologik paru tidak sesuai dengan
gambaran klinik yang ada, dan ditemuinya peninggian titer Antibodi terhadap M.
pneumonia.
Insidens asma yang meningkat pada infeksi M.pneumonia diduga bahwa
M.pneumonia berpengaruh terhadap tonus bronkus yang menyebabkan
bronkokonstriksi.
4,5
jadi dengan seringnya infeksi yang berulang dari M.pneumonia ada
kemungkinan bahwa organisme ini dapat berperan dalam menimbulkan problem baru
yang kronis.
9

Komplikasi
Penyebaran dari infeksi di dalam paru-paru adalah Pleural effusi ringan
merupakan komplikasi pulmonaI yang paling sering.
7
Komplikasi yang berat dapat terjadi
pada keadaan tertentu tapi jarang, misalnya SwyerJames Syndrom atau Mc Leod
Syndrom,
4,5
massive pleural effusi, Pulmonari fibrosis,
Bronkiolitis obliterans dan Respiratori distress syndrom pada dewasa
5
yang dapat
menyebabkan kematian.
Komplikasi extra pulmonal biasanya terjadi sebagai komplikasi dan penyakit
pulmonal, tapi pada beberapa kasus tidak ditemui gejala pneumonia. Di Sini diagnosa
ditegakkan hanya dengan pemeriksaan kultur yang positif dari M.pneumonia
7
atau
adanya kenaikan empat kali atau lebih dari titer antibodi komplemen fiksasi terhadap
M.pneumonia.
1,7,17

Gastrointestinal
Komplikasi gastrointestinal jarang, gejala yang ringan dapat berupa diare, mual,
muntah dan anoreksia.
4,7
Mansel dkk pernah menemui kasus dengan hepatomegali dan
hepatosplenomegali pada penelitiannya.
5

Kulit
Komplikasi pada kulit jarang,
10
dan biasanya bersifat sementara,
5
terlihat rash
yang bervariasi dari makular, vesikular sampai eritema multiforme mayor (Stevens
Johnson Syndrom).
Beberapa pasien dengan M.pneumonia mendapat lesi yang melepuh pada mulut,
mata, kulit,
7
laporan kasus adanya dijumpai lest bullous pada seluruh muka, telapak
tangan dan kaki, bibir yang edema dan pecah-pecah yang berdiameter antara 3 mm.-4
cm.
l,l7
Umumnya, lesi ini akan sembuh sempurna tanpa meninggalkan cacat apabila
diobati dengan baik, 1,7 tapi apabila lesi sudah mengenai cornea dapat menyebabkan
kebutaan.
7
Stevens-Johnson Syndrom sering disebabkan oleh reaksi allergi obat, akan
tetapi apabila hal ini terjadi pada anak-anak dan dewasa muda yang manifestasi kliniknya
mermnjukkan pneumonia, maka hal ini dapat menolong mengkonfirmasi diagnosa klinis
M.pneumonia.
7
Raynold phenomenon dapat terjadi pada penderita M.pneumonia.
hipotesa yang mengatakan bahwa titer, yang tinggi dari Aglutinin dingin dapat
menyebabkan trombus pada mikro sirkulasi dari ujung jari ketika terkena dengan udara
dingin, sehingga menimbulkan warna pucat dan terasa sakit pada ujung jari tersebut
7


e-USU Repository 2005 Universitas Sumatera Utara 4
Darah
Hemolitik anemi dapat terjadi pada pasien yang mempunyai titer Aglutinin dingin
yang sangat tinggi, yang menyebabkan hemolisa yang cepat dan berat,
2,7,16
Penurunan angka hematokrit sampai 50%, keadaan ini dapat terjadi pada minggu ke 2-3
dari perjalanan penyakitnya.
7
Chusid dkk menemui S.C.Haemoglobinopathy pada pasien
M. pneumonia yang berat bersamaan dengan erupsi vesicula.
1

Neurologi
Aseptik meningitis, meningoencephalitis, Guillen Barre Syndrom
7,9
tapi
komplikasi ini jarang ditemui. Warren melaporkan kasus Poliomyelitis dengan adanya
peninggian titer Aglutinin dingin dan Antibodi komplemen fiksasi terhadap
M.pneumonia.
14
Ataksia cerebellar yang berat pernah dijumpai pada M.pneumonia.
5,12

Kardiovaskular
Komplikasi kardiovaskular jarang dijumpai, tapi perikarditis, miokarditis,
rheumatic fever-like syndrom pernah dijumpai
.9,11,16
tapi biasanya dapat sembuh tanpa
menimbulkan sequele.
7

Muskuloskeletal
Artralgia merupakan komplikasi yang sering pada Muskulosketal, sedangkan
artritis adalah kompIikasi yang paling jarang terjadi. Apabila keadaan ini terjadi maka
artritis. akan berlanjut lebih lama, sedangkan manifestasi klinik yang lain sudah
menghilang.
7

Diagnosa
Secara umum kita akan curiga adanya infeksi M.pneumonia apabila ditemui :
Pneumonia pada anak usia sekolah dan dewasa muda terutama dengan batuk paroximal
sebagai gejala awal.
7,9,11
- Penderita dengan gejala kIinik sesuai dengan Pneumonia tapi tidak memberi
respon terhadap pemberian Antibiotika golongan Penicillin.
4,12

- Pneumonia interstisial yang terjadi pada dewasa muda.
4

-
Gejala klinis sesuai dengan gejala Pneumonia, tapi pemeriksaan darah hitung
leukosit normal
12

Gambaran radiologik paru tidak dapat dibuat sebagai patokan diagnosa, oleh
karena tidak adanya kelainan yang patognomonik tapi apabila dijumpai infiltrat pada
lobus bawah paru kita dapat curiga suatu infeksi M.Pneumonia.
6,7,9
Mansel dkk
menjumpai adanya infiltrat pada lobus bawah paru sekitar 66%,5 Bertentangan dengan
gejala klinik yang tidak begitu menonjol dibandingkan dengan gambaran radiologisnya,
tapi gambaran radiologis ini akan cepat membaik dalam waktu yang relatif singkat
kurang dari seminggu.
4

Pemeriksaan laboratorium, hitung leukosit biasanya dalam batas normal atau
sedikit meninggi.
9,12

Kultur dari sputum atau hapusan tenggorokan, dengan menemukan M.pneumonia
adalah merupakan diagnosa pasti, tapi hal ini tidak dapat dilakukan secara rutin oleh
karena memakan waktu yang lama, 2-3 minggu baru ada pertumbuhan kuman, sehingga
e-USU Repository 2005 Universitas Sumatera Utara 5
tidak dapat dipakai sebagai diagnosa untuk membenkan terapi inisial.
7,9
Beberapa peneliti
mengatakan bahwa pemeriksaan serologik lebih unggul dibandingkan dengan
pemeriksaan isolasi atau kultur.
Jadi, untuk menegakkan diagnosa M, pneumonia dibuat berdasarkan kombinasi
gejala klinis dikonfirmasi radiologi ditambah dengan pemeriksaan serologik.
4
Pemeriksaan serologik dengan cara mengukur titer antibodi spesifik terhadap
M.pneumonia dalam serum penderita merupakan diagnostik yang cukup sensitif dan
spesifik.
7,5,18

Pemeriksaan serologik yang umum dipakai saat ini adalah pemeriksaan terhadap
antibodi IgM spesifik. Antibodi Ig G spesifik, Antibodi f1uoresense, Inhibisi
pertumbuhan, fiksasi komplemen dan Aglutinin dingin,
7,9,18
Metode yang dipakai untuk
pemeriksaan serologik ialah Efisa (Enzym linked immunosorbent assay) atau EIA
(Enzym immuno assay).
4,18

Kriteria diagnosa serologik adalah :
1. Peningkatan empat kali lipat atau lebih dari titer antibodi fikasasi komplemen
terhadap M.pneumnioa.
5,12,18
2. Titer tunggal sama atau lebih besar dari 1: 160.
12
3. Pemeriksaan titer serum biasa digunakan sepasang serum, dimana serum pertama
diambil pada fase akut dan serum kedua pada fase konvalesent.
2,4
diagnosa
ditegakkan jika titer serum kedua sedikitnya naik dua kali lipat titer serum pertama.
Beberapa peneliti mendapatkan kenaikan titer serum kedua 4 kali lipat dan titer serum
pertama.
1,5
Mansel dkk menjumpai Antibodi IgM spesifik terhadap M.Pneumonia
positif pada 93% infeksi yang aktif.
5


Jika dijumpai peningkatan titer Aglutinin dingin sama atau lebih besar dari 1 : 64
dapat menyokong diagnosa, lebih kurang 50% dari pasien M.Pneumonia akan mengalami
kenaikan titer Aglutinin dingin.
3,6,15
Har dkk menjumpai kenaikan titer Aglutinin sampai
78%.
12
Tapi Aglutinin dingin ini tidak spesifik untuk M.Pneumonia karena dapat positif
juga. pada penyakit lain, misalnya pada penyakit hemolitik anemi, penyakit liver dan
virus lainnya.
3,14
Diagnosa cepat untuk M.Pneumonia saat sekarang ini yaitu dengan
DNA probe test Hata dkk menemui nilai khusus untuk mendeteki infeksi M.Pneumonia.
DNA probe test mempunyai sensitivitas 76% dan sensitivitas 91,7% dibandingkan
dengan kultur.
10

Pengobatan
1. Antibiotika
Ampisilin tidak sensitif terhadap infeksi M.Pneumonia ini, karena
mikroorganisme ini tidak mempunyai dinding Sel.
9,11,8
M.Pneumoni secara invitro
memperlihatkan sensitivitas terhadap Eritromisin dan Tetrasiklin,
7
obat ini merupakan
drug of choice untuk M.Pneumonia.16 Pada anak yang lebih kecil dari 10 tahun obat
pilihan adalah eritromisin, sedangkan Tetrasiklin dianjurkan oleh karena adanya efek
samping terhadap anak.
7,9
obat ini diberi dengan dosis penuh yaitu 250-500 mg 4 kali
sehari selama 7-10 hari.
7,2
Knight memperinci dosis:

e-USU Repository 2005 Universitas Sumatera Utara 6
Dewasa dengan BB 26 kg : Tetrasiklin 1000 mg/hari dibagi 4 dosis
Eritromisin 1500 mg/hari dibagi 4 dosis

Anak-anak BB 25 kg : Tetrasiklin 25 mg/kg BB/hari dalam 4 dosis
Eritromisin 30-50 mg/kg BB/hari
Diberi selama 2 - 3 minggu.
15

Dengan pemberian obat ini dalam jangka waktu pendek menunjukkan hasil yang
baik dengan menghilangnya manifestasi klinik secara cepat, tapi mikrorganisme ini bisa
tidak segera hilang dari sputum atau hapusan tenggorokan,
9
sehingga dapat
mempengaruhi fungsi paru dikemudian hari .
6,9

Obat baru saat sekarang ini yang banyak dipakai adalah Roxytromycin yaitu
Antibiotik dari golongan Makrolide ternyata cukup efektif terhadap M.pneumonia dengan
efek samping yang sedikit dengan pemberian yang sederhana dengan dosis 5-10 mg/kg
BB/hari dibagi dalam 2 dosis diberi per ora1, diberikan selama 7-14 hari.
6
Steroid dapat
diberi bila ditemui komplikasi Stevens-Johnson Syndrom.
17

II. Simptomatik, yaitu :
- istirahat-
- analgetik/antipiretik
- Antitussive
- Asupan cairan

Prognosa
Infeksi M.pneumonia pada umunya baik. Tetapi beberapa laporan kasus ada yang
fatal dengan adanya immunodefisiensi.

Kesimpulan :
1. Telah dibicarakan mengenai infeksi M.pneumonia meliputi Epidemiologi, patologi,
patogenese, manifestasi klinik, diagnosa, pengobatan serta prognosa.
2. M.pneumonia merupakan salah satu penyebab infeksi saluran nafas akut dan
penyebab pneumoni yang paling sering dijumpai pada usia sekolah dan dewasa muda.
3. Diagnosa ditegakkan dengan kombinasi manifestasi klinik, radiologik dan
pemeriksaan serologik.
4. Pengobatan memberi hasil yang cukup baik dengan Eritromisin, Tetrasiklin dan
Roxitromycin.
5. Merupakan penyakit yang Self limited, tetapi pada keadaan tertentu dapat
menyebabkan komplikasi yang berat.
6. Prognosa pada umumnya baik.







e-USU Repository 2005 Universitas Sumatera Utara 7
Kepustakaan :
1. Chusid, MJ, Lachman BS, Lazerson,J : Severe mycoplasma pneumonia and
vesicular eruption, in SC hemoglobinopathy. J. Pediatrics 93 : pp 449-451,
1973
2. Murray JF. : Atypical pneumonia syndrome, in Murray J.F, Madel J.A. Text Book
of Respiratory medicine. WB.Saunders Company, Philadelphia pp :837-
839, 1988
3. Witjodiarjo, M.; Ghazali M.V., Said M, ; Boediman,I, ; Rahajoe, N.N.:
Pengalaman tentang pemakaian Roxitromycin untuk ISNA bagian bawah
pada anak. Simposium Infeksi Saluran nafas Akut, Beberapa segi kIinis
praktis penanggulangannya, Jakarta 18 February 1989. Bagian Ilmu
Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
4. Wirjodiarjo M.; Sigarlaki JM., Boediman L, Rahajoe,N.N.; Mycoplasma sebagai
penyebab infeksi saluran nafas akut (ISNA) pada anak . MKI 38, hal 518-
522, 1988
5. Mansel JK., Rosenow E.C., Smith F.T. and Martin, .J.W. : Mycoplasma
pneumoniac, Chest 95 :pp 639-646, 1989
6. Williams, H.E. : Mycoplasma pneumoniae pneumonia, in Phelan, P.D., Court D,
Respiratory illness in children. Blackwell scientific Publications Oxford,
pp :53-54,1982
7. Baum,S.G.: Mycoplasmal infections in, Wyngarden JB.Smith L.H. Cecil Text
Book of Medicine 17
th
Ed. WB. Saunders Company, Philadelphia, pp:
1505-1509, 1985
8. Kenny ,G.B. : Mycoplasma in Sonnenwirth a.c, Jarret L, Gradwohl's clinical
laboratory methods and diagnosis, 8
th
Ed. The CV. Mosby Company, pp:
1870-1877,1980
9. Denny,F.W. : Infections of the respiratory tract due to mycoplasma pnemnonia, in
Kendig JR EL, Chernick V, Disorder of respository tract in children 4
th

Ed.WB.Saunders Company, PhiJadelphia pp.338-345, 1984
10. Hata D, Kuze.F. , Mochizuki Y., Mikawa It : Evaluation of DNA probe test for
rapid diagnosis of mycoplasma pneumoniae infection. J.Pediatrics 116, pp
:273-276, 1990.
11. Denny,F.W.: Mycoplasmal infection in Behrman RE, Vaughan,V.C.,
Neison,W.E.: Nelson Text Book of Pediatrics, 13
rd
Ed. W.B.Saunders
Company, Philadelphia, pp : 654-655, 1987.
12. Har,M.Y.,Ma,C.H., Har M.H, Fan S.Y.: Mycoplasma pneumonia. The Hongkong
J.Pediatrics 2, pp 8-13, 1985.
13. Singer,J.I., DeVoe W.M.: Severe mycoplasma pneumoniae infection in otherwise
healthy siblings. J.Pediatrics 95, pp 999-1001, 1987.
14. Warren P., Fischbein C., Mascoli,N., Rudolph J, Hodder ,D.H.: Poliomyelitis..like
syndrome caused by mycoplasma pneumoniae. J.Pediatrics 93, pp 451-
452, 1978.
15. Knight V.: Mycoplasma pneumoniae infection, in Fishman AP.: Pulmonary
diseases and disorders. Mc Graw-Hill Book Company, New York, pp
1118-1120,1980.
e-USU Repository 2005 Universitas Sumatera Utara 8
16. Netter, F.H.: Mycoplasmal pneumonia, in Divertie M.B., Brass A. The Ciba
collection of medical illustration, Respiratory system, 7 pp 186-187, 1979.
17. Stutman,AR.: Stevens-Johnson Syndrome and Mycoplasma Pneumonine.
Evidence for cutaneous infection. J.Pediatrics III, pp 845-847, 1987.
18. Kenny G.E.: Serologic test for diagnosi of mycoplasmic infections, in
Sonnenwirth A.C., Jarett L, Gradwohl's clinical laboratory methods; and
diagnosis. 8
th
Ed. The C.V.Mosby Company, pp 2327-2331,1980.
e-USU Repository 2005 Universitas Sumatera Utara 9