You are on page 1of 10

1

PENDAHULUAN Latar Belakang Dijelaskan dalam fenomena gunung es (iceberg phenomenon) bahwa hanya 10 % penyakit yang baru dapat terdiagnosis dengan baik sehingga dapat ditangani dengan tepat. Sedangkan, sekitar 90% sisanya belum dapat terdiagnosis dengan baik sehingga tidak dapat ditangani dengan tepat. Hal ini disebabkan karena tingkat kesadaran masyarakat untuk melaporkannya serta pengetahuan masyarakat masih kurang akan penyakit tersebut. GPPH (gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif) dan autis merupakan salah satu gangguan perilaku pada anak-anak yang belum banyak diketahui oleh masyarakat[1]. Anak autis menunjukan gejala sering menyendiri serta sulit dalam berkomunikasi dengan orang lain. Sedangkan, GPPH ditandai dengan ketidakmampuan untuk berkonsentrasi dan kecenderungan hiperaktif[2]. Kita menemukan banyak anak-anak dengan gambaran di atas seringkali dipandang sebagai anak yang nakal, sulit diatur, serta bodoh oleh masyarakat. Sayangnya, kebanyakan orang tua merespon masalah ini dengan cara memarahi, menghukum dan melakukan tindakan kekerasan pada anak. Telah dilaporkan sebelumnya bahwa insidensi GPPH di Amerika Serikat bervariasi dari 2-20% pada usia anak sekolah. Pasien autis dilaporkan memiliki prevalensi rata-rata 8 kasus setiap 10.000 anak (0.08%) di Amerika. Berdasarkan Autism Research Institute di San Diego, jumlah individu autis pada 1987 diperkirakan 1:5000 anak. Jumlah ini meningkat dengan sangat pesat dan pada tahun 2005 sudah menjadi 1:160 anak[3]. Di Indonesia belum ada data yang akurat karena belum ada pusat registrasi untuk anak GPPH dan autis. Namun, diperkirakan angka di Indonesia pun mendekati angka di atas. Data tersebut menunjukan angka prevalensi dan insidensi yang cukup tinggi. Sesuai dengan fenomena gunung es, data ini baru menggambarkan kurang lebih 10% kasus dan 90% kasus sisanya belum terdeteksi. Di sisi lain, dengan penanganan sejak dini yang tepat, penderita GPPH dan autis dapat meningkatkan kualitas hidupnya, sehingga penting untuk dilakukan diagnosis terhadap penyakit ini. Kurangnya kesadaran masyarakat akan adanya kelainan prilaku pada anak dan pengetahuan masyarakat terhadapat penyakit GPPH dan autis semakin mempersulit proses penegakan diagnosis. Kebanyakan orang tua kurang memperhatikan gejala kelainan ini sebagai suatu penyakit yang perlu dikonsultasikan pada dokter. Selain itu, untuk memastikan bahwa seseorang mengalami GPPH atau autis, kita harus melalui proses diagnosis sesuai standar internasional. Untuk membantu proses diagnosis ini, kami menggagas sebuah ide mengenai alat deteksi dini (screening) anak dengan gejala GPPH dan autis pada anak-anak usia sekolah dasar dan taman kanak-kanak. Harapannya, dengan adanya deteksi ini, masalah perilaku yang dialami dapat ditangani dengan tepat. Dengan penanganan yang tepat, anak GPPH dan autis dapat meningkatkan kualitas hidupnya, baik dari segi kemandirian, pendidikan, ataupun interaksi sosial. Selain itu, anak GPPH dan autis juga dapat mengembangkan potensi yang dia miliki dibalik keterbatasan yang ada dalam dirinya.

Tujuan Membuat suatu sistem screening guna mempermudah deteksi dini gejala GPPH dan autis pada siswa-siswi taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam mengidentifikasi penyakit GPPH dan autis sejak dini.

Manfaat Memfasilitasi anak-anak yang mengalami GPPH dan autis guna mendapatkan penanganan tepat. Meningkatkan kualitas hidup dan pengembangan potensi anak-anak Indonesia Menginisiasi data prevalensi/insidensi anak autis dan GPPH.

GAGASAN Kondisi saat ini, kebanyakan anak dengan GPPH dan autis yang telah terdeteksi, terdiagnosis, dan tertangani dengan tepat berasal dari kelompok masyarakat yang memiliki pengetahuan luas dan kalangan menengah ke atas. Hal ini dikarenakan kesadaran mereka akan kelainan prilaku pada anak serta tersedianya biaya untuk proses diagnosis hingga akhirnya anak-anak tersebut mampu mendapatkan terapi yang cukup baik sehingga kualitas hidup serta potensi anak tersebut dapat diarahkan dengan baik sejak dini. Proses diagnosis dan penanganan kasus GPPH dan autis masih sulit diakses oleh masyarakat, khususnya golongan menengah ke bawah, walaupun jumlah klinik untuk anak berkebutuhan khusus seperti ini sudah banyak ditemukan. Disamping karena masalah biaya, belum meratanya penyebaran klinik bagi anak berkebutuhan khusus, proses diagnosis juga terhambat karena kesadaran masyarakat untuk memeriksakannya. Selain proses diagnosis yang masih terhambat dengan berbagai kendala, sampai saat ini belum ada sistem deteksi dini yang mampu membantu proses diagnosis tersebut. Untuk membantu memecahkan masalah ini, kami merancang suatu standar deteksi dini (screening) anak dengan gejala GPPH dan autis pada anak-anak usia sekolah dasar dan taman kanak-kanak yang dilandaskan pada kriteria diagnosis dengan sistem DSM IV TR. DSM IV TR ini telah diakui secara internasional sebagai acuan diagnosis berbagai gangguan psikologis dan perilaku, termasuk GPPH dan autis. Berdasarkan DSM IV TR, seorang anak dikatakan mengalami autis apabila memiliki gangguan kualitatif dalam berinteraksi sosial dan komunikasi juga kecenderungan untuk melakukan tindakan meniru dan berulang-ulang. Seorang anak dikatakan mengalami GPPH apabila memiliki gejala sulit konsentrasi dan hiperaktif-impulsif. Gejala tersebut muncul sebelum 7 tahun dan bertahan selama 6 bulan[3].

Untuk memudahkan deteksi dini ini, kami mengelompokan kriteria diagnosis pada DSM IV TR tersebut menjadi sebuah daftar gejala kelainan perilaku yang dibagi menjadi 3 aspek, yaitu gangguan interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku. Berdasarkan hasil pengelompokan ini, kami menerjemahkan gejala tersebut dengan hal-hal yang biasa ditemukan pada anak dalam kehidupan sehari-hari, terutama di sekolah. Hasilnya terlampir dalam Lembar SCREENING Autis dan GPPH pada halaman lampiran. Sasaran dari sistem deteksi dini ini adalah siswa-siswi taman kanak-kanak dan sekolah dasar kelas satu. Pada usia ini, anak-anak yang mengalami gangguan perilaku akan menunjukan gejala spesifik, sesuai dengan gambaran gejala pada DSM IV TR. Untuk menjalankan program ini dibutuhkan peran guru sebagai kelompok masyarakat yang berhubungan secara langsung dengan anak-anak dan dapat mengamati proses perkembangan anak secara formal sehingga hasil pengamatannya lebih mudah dipertanggungjawabkan. Sebelum terlibat, guru perlu diperkenalkan dengan penyakit perilaku di kalangan anak dalam bentuk teori yang lebih sederhana, sehingga proses pengamatan yang dilakukan untuk mendeteksi kelainan tersebut dapat dilakukan dengan mudah. Pendeteksian ini dilakukan sejalan dengan proses pendidikan selama kurang lebih 6 bulan (selama satu semester pendidikan) tanpa menambah, mengurangi, atau mengubah kurikulum pendidikan yang telah ada. Lama waktu ini dipertimbangkan berdasarkan kriteria DSM IV TR. Proses pengamatan sebaiknya tidak hanya dilakukan di saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, tapi juga di saat kegiatan ekstrakurikuler. Guru sebaiknya menyampaikan program ini pada orang tua murid juga. Langkah ini perlu dilakukan karena gejala GPPH ataupun autis bisa muncul secara jelas di lingkungan tertentu saja, seperti rumah dan sekolah. Dengan adanya kerjasama dengan orang tua, deteksi anak dengan gejala GPPH dan autis akan lebih mudah dilakukan. Langkah strategis ini dilakukan dengan cara pelaporan hasil pengamatan ini secara bertahap dengan melaporkannya pada puskesmas yang memiliki wilayah kerja di lingkungan tersebut yang kemudian dilaporkan ke dinas kesehatan kota, kemudian ke dinas kesehatan provinsi, dan pada akhirnya dilaporkan ke dinas kesehatan pusat. Selain itu, rujukan untuk diagnosis GPPH dan autis bisa disampaikan kepada dokter umum di klinik yang siap untuk bekerja sama dalam menyelesaikan masalah ini. Data dari semua siswa akan tetap diserahkan kepada pihak puskesmas. Akan tetapi, guru terlebih dahulu akan memisahkan data anak dengan nilai yang memenuhi kriteria sesuai lembar screening yang telah dibuat. Data anak-anak tersebut menjadi acuan bagi dokter untuk mendiagnosis secara lengkap dan akurat. Sedangkan, data sisa yang tetap dilaporkan tetap harus diperiksa ulang oleh pihak puskesmas untuk melihat kemungkinan lain yang belum terdeteksi. Dengan adanya deteksi dini ini, semakin banyak anak yang memiliki gangguan perilaku yang akan terdeteksi sehingga dapat ditangani secara tepat sesuai kebutuhan fisik dan psikologisnya. Penanganan ini meliputi peningkatan kemampuan sensorik dan motorik, komunikasi, penggunaan bahasa, dan interaksi sosial.

Sistem ini akan dilakukan terlebih dahulu pada beberapa kota yang dinilai cukup maju dan sudah memiliki guru yang dinilai cukup memiliki tingkat pendidikan dan keterampilan yang terstandardisasi, antara lain kota Bandung, serta wilayah JABODETABEK. Melalui sistem ini, diprediksikan akan diperoleh jumlah anak yang mengalami GPPH dan autis di kota tersebut lebih banyak dibandingkan dengan jumlah anak yang terdaftar sebelumnya di rumah sakit dan pusat kesehatan lainnya. Hal ini juga berarti mampu mengurangi jumlah kasus yang masih tersembunyi berdasarkan fenomena gunung es.

KESIMPULAN Proses diagnosis pada setiap penyakit merupakan hal yang penting dilakukan guna penanganan tepat selanjutnya. Begitu pula dengan kelainan pada perilaku anak seperti pada GPPH serta autis yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang serta kualitas hidup anak tersebut. Mengingat fenomena gunung es yang menyatakan bahwa masih banyak penyakit yang belum dapat terdiagnosis, dibutuhkan sebuah sistem deteksi dini yang membantu proses diagnosis. Sistem ini sebaiknya mampu menyentuh seluruh lapisan masyarakat dan dilaksanakan oleh lingkungan yang dekat dengan penderita. Oleh karena itu, kami menggagas sebuah sistem deteksi dini gejala autis dan GPPH guna mempermudah proses diagnosis kelainan ini. Implementasi deteksi dini ini membutuhkan peran guru serta orang tua sebagai kelompok masyarakat yang dekat dan mampu melihat perkembangan anak di sekolah serta di rumah dengan cukup baik dari berbagai aspek, baik komunikasi, interaksi sosial, atapun perilaku anak. Sistem deteksi ini kami susun menggunakan kriteria diagnosis internasional DSM IV TR yang diterjemahkan dalam bahasan yang lebih sederhana sehingga lebih mudah dimengerti. Guru di sekolah akan mengisi lembar screening dan dihitung jumlah hasilnya kemudian hasilnya akan diinterpretasikan dengan klasifikasi tertentu. Semua hasil dari anakanak akan dilaporkan ke puskesmas untuk pemeriksaan lebih lanjut. Akan tetapi, apabila terdapat anak yang memenuhi kriteria tersebut dan dicurigai memiliki kemungkinan GPPH atau autis, anak-anak tersebut akan menjadi prioritas untuk pemeriksaan lebih lanjut. Sistem ini akan dilakukan terlebih dahulu pada beberapa kota yang dinilai cukup maju dan sudah memiliki guru yang dinilai cukup memiliki tingkat pendidikan dan keterampilan yang terstandardisasi, antara lain kota Bandung, serta wilayah JABODETABEK. Melalui sistem ini, diprediksikan akan diperoleh jumlah anak yang mengalami GPPH dan autis di kota tersebut lebih banyak dibandingkan dengan jumlah anak yang terdaftar sebelumnya di rumah sakit dan pusat kesehatan lainnya.

Daftar Pustaka 1. Semple, David, et al. Oxford Handbook of Psychiatry, 1st edition. Oxford University Press; 2005. Hlm 566 621 2. Kay, Jerald, Tasman, Allan. Essential of Psychiatry. John Wiley & sons. Ltd; 2006. Hlm 308 330 3. Sadock, Benjamin J., Sadock, Virgina Alcott. Kaplan & Sadocks Synopsis of Psychiatry : Behavioural Sciences / Clinical Psychiatry, 10th edition. Lippincott Williams & Wilkins; 2007. Chap. 42-43 4. Ospina, Maria B., et al. Behavioural and Developmental Interventions for Autism Spectrum Disorder: A Clinical Systematic Review. Alberta Research Centre for Health Evidence, University of Alberta, Edmonton, Alberta, Canada; 2008. 5. Gadow, Kenneth D., et al. Anxiety Symptoms in Boys with Autism Spectrum Disorder, Attention-Deficit Hyperactivity Disorder, or Chronic Multiple Tic Disorder and Community Controls. Department of Psychiatry and Behavioral Science, Putnam Hall-South Campus, Stony Brook University; 2010. 6. Anholt, Gideon E., et al. Autism and ADHD Symptoms in Patients with OCD: Are They Associated with Specific OC Symptom Dimensions or OC Symptom Severity?. Department of Psychiatry and Institute for Extramural Medicine, VU-University Medical Centre, Amsterdam, The Netherlands; 2009. 7. Nadig, Aparna, et al. Adaptation of object descriptions to a partner under increasing communicative demands: a comparison of children with and without autism. McGill University, School of Communication, Sciences and Disorders, Montreal, QC, Canada; 2009.

Daftar Riwayat Hidup Dosen pembimbing Nama Lengkap Tempat, Tanggal Lahir Alamat Rumah Telepon

: Mas Rizky Anggun A. S. dr., M. Kes : Jambi, 1 Desember 1982 : Komp. Bumi Panyileukan Blok Citra AB 10 No. 4 : 081321644359

Karya ilmiah yang pernah dihasilkan : - The effect of glycine maximal extra of diets on change in NR2B gene expression sign : cognitive, vitality, and neurotoxicity in high concentratiom consumption (2010) - Ekspresi gen cyclin D1, D2, dan D3 pada plasenta normal dan mola hidatidosa (2009) - The role of summer camp; poster presentation AMEA conference (2009) Penghargaan ilmiah yang pernah diraih : (-)

(Mas Rizky Anggun A. S. dr., M. Kes) Tim PKM Ketua Nama Lengkap : Rizki Amalia Rahmah NPM : 130110070132 Tempat, Tanggal Lahir : Bandung, 9 September 1989 Alamat Rumah : Jl. Kawaluyaan Indah VI/15 Bandung Telepon : 022-72521440 Karya ilmiah yang pernah dihasilkan : - Penanganan gizi buruk di Indonesia melalui pembudidayaan tanaman jagung secara mandiri Penghargaan ilmiah yang pernah diraih : (-)

(Rizki Amalia Rahmah) Anggota 1 Nama Lengkap Tempat, Tanggal Lahir

: Fitria Mahrunnisa : Bandung, 4 Mei 1989

Alamat Rumah : Jln.Riung Lestari 29 Blok IIID RBP 40295 Telepon : (022) 7564013/ 08997816329 Karya ilmiah yang pernah dihasilkan : - Perbandingan Efektifitas dan biaya pemasangan air purifier system UV dan non-UV dalam membunuh mikroba bawaan udara di bangunan pelayanan kesehatan - Asupan tryptophan dari bahan makanan alami sebagai terapi tambahan bagi penderita depresi - Asupan tryptophan dari bahan makanan alami dalam pencegahan pasien depresi - Penggunaan obat herbal sebagai terapi formal dalam bidang kesehatan Penghargaan ilmiah yang pernah diraih : - Juara II lomba karya tulis olymphiart tingkat fakultas 2009 - Perwakilan dari Universitas Padjadjaran dalam program PKM-P DIKTI 2010

(Fitria Mahrunnisa) Anggota 2 Nama : Rima Destya Triatin NPM : 130110080073 Tempat, tanggal lahir : Tasik, 27 Desember 1990 Alamat Rumah : Komplek Bumi Panyileukan Blok C 12 No. 23 Telepon : 085722104970 Karya ilmiah yang pernah dihasilkan : (-) Penghargaan ilmiah yang pernah diraih : (-)

(Rima Destya Triatin)

LAMPIRAN Lembar Deteksi Autis dan GPPH

1. Daftar Pengamatan Kelainan Prilaku Anak [1], [3], [4], [5], [6], [7]
Nama: TTL/Umur: Tempat Tinggal: Nama Orang Tua: Anak ke dari

saudara: Contoh Gejala yang Muncul Sehari-hari a. tidak mau menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru Ada tidak Keterangan

Kriteria Deteksi Dini 1. Interaksi sosial a. Tidak mengikuti instruksi yang diberikan dan gagal dalam menyelesaikan tugas sekolah, aktivitas sehari-hari, dan tugas di tempat kerja (bukan karena sifat menentang atau tidak memahami instruksinya) b. Seringkali menghindari, membenci, atau enggan untuk terlibat dalam tugas yang perlu mempertahankan emosi (seperti tugas sekolah atau rumah) c. Sulit menunggu giliran d. Sering menginterupsi atau mengganggu orang lain

b.

c. d.

e.

f.

Gangguan pada penggunaan sikap non verbal, seperti kontak mata, ekspresi wajah, postur tubuh, dan gerak tubuh dalam berinteraksi sosial Gagal untuk membangun hubungan dengan teman sebaya tidak tertarik untuk menunjukan kesenangan, ketertarikan, atau kemampuannya pada orang sekitar tidak ada hubungan sosial dan emosional yang timbal-balik Perilaku Kesulitan mempertahankan konsentrasi dalam mengerjakan tugas atau bermain Kesulitan dalam memperhatikan secara detil atau ceroboh saat mengerjakan tugas sekolah, bekerja, dan aktivitas lain. Sering lupa dengan aktivitas sehari-hari Mudah terbagi konsentrasi oleh rangsangan luar

e.

f.

g.

g.

Tidak bisa mengikuti kegiatan upacara dengan tenang atau tidak tahan mengerjakan prakarya sekolah (bukan karena malas). Suka mendahului teman saat mengantri. Mengganggu teman saat belajar (dengan frekuensi yang sering dan sulit untuk dinasehati) atau memotong pembicaraan guru yang sedang mengajar Menunjukan postur dan gerak tubuh yang aneh dan menolak atau menghindar untuk bertatap muka, kontak mata Jarang bermain dengan teman sebaya, sulit menjalin hubungan dengan teman. Tidak suka berkumpul dengan orang lain Merasa tidak senang dan menolak ketika diajak bersalaman Sulit bertahan dalam menggambar, Kesulitan dalam memperhatikan secara detil atau ceroboh saat mengerjakan tugas sekolah, bekerja, dan aktivitas lain. Lupa mengerjakan tugas sekolah berkali-kali Mudah terbagi konsentrasi saat belajar atau melakukan sesuatu karena adanya gangguan dari luar, seperti teman yang mengajak ngobrol atau bermain. Mengeluhkan kehilangan alat tulis di kelas.

h. 2. a. b.

h.

a. b.

c. d.

c. d.

e.

f. g.

Sering kehilangan hal-hal yang diperlukan untuk tugas-tugas atau kegiatan (misalnya, mainan, tugas sekolah, pensil, buku, atau alat) Sering mengalami kesulitan mengatur tugas dan kegiatan Sering gelisah atau membuat gerakangerakan kecil dengan tangan atau kaki atau menggeliat di kursi Sering meninggalkan tempat duduknya

e.

f. g.

h.

h.

Sering mengalami kesulitan mengatur tugas dan kegiatan. Sering memainkan jari, alat tulis, atau menggerak-gerakan meja dan kursi sepanjang kegiatan belajar berlangsung. Sering meninggalkan tempat

i. j. k.

l.

di kelas Seringkali bertindak seakan-akan mengendarai motor Sulit bermain atau terlibat dalam aktivitas yang tenang Seringkali berjalan sekitar atau memanjat secara berlebihan dalam situasi yang tidak sepantasnya (pada remaja atau orang dewasa, mungkin terbatas pada perasaan subjektif kegelisahan) Senang dengan pola yang meniru-niru yang abnormal.

i. j. k.

duduknya di kelas. Seringkali bertindak seakan-akan mengendarai motor. tidak suka menggambar, mewarnai, atau menyusun puzzle suka memannjat dan berlari-lari.

l.

m.

n.

o.

Ritual atau kebiasaan yang tidak fungsional, spesifik, terhadap sesuatu yang kaku. Kelakuan yang berulang-ulang dan meniru (tepuk tangan atau jari, atau menggerakan badan seluruhnya. Menikmati sesuatu dalam waktu lama.

m.

n.

o.

p.

Cara bermain kurang variatif, kurang imajinatif, dan kurang dapat meniru

p.

sering meniru suara-suara aneh dan berulang-ulang, sering meniru tingkah laku tokoh kartun atau teman yang aneh. Bila sudah senang dengan satu mainan, tidak mau mainan yang lain dan cara bermainnya juga aneh. Sering memperhatikan jari-jarinya sendiri, kipas angin yang berputar, air yang bergerak. Lekat dengan benda yang terus dipegang dan dibawa kemana-mana, seperti sepotong tali, kartu, kertas, gambar Tidak pernah bermain sandiwara boneka, entah itu pura-pura menyuapi boneka atau bicara ditelepon (u/anak perempuan) atau berpura-pura menjadi tokoh pahlawan (u/laki-laki) Terlihat sulit untuk mendengarkan ketika diajak bicara, mudah teralihkan saat sedang membicarakan suatu topic. Sering berbicara berlebihan Sering menjawab spontan sebelum pertanyaan selesai ditanyakan Tidak bisa berbicara dengan baik

3. a.

komunikasi Sering terlihat tidak mendengarkan ketika berbicara secara langsung.

a.

b. c. d.

e.

f.

Sering berbicara berlebihan Sering menjawab spontan sebelum pertanyaan selesai ditanyakan Tertunda atau tidak sama sekali mengalami perkembangan dalam kemampuan berbicara (tidak disertai usaha untuk berkomunikasi dengan cara lain, seperti gesture tubuh atau mimic muka. Meskipun memiliki kemampuan berbicara yang cukup, ada gangguan dalam kemampuan untuk mengawali atau mempertahankan percakapan dengan orang lain. Menggunakan bahasa yang berulang dan meniru-niru atau bahasa idiosyncratic.

b. c. d.

e.

Tidak pernah memulai percakapan dengan orang lain

f.

Mengulang-ulang kata yang baru didengar

Keterangan: setiap poin yang menunjukkan gejala, diberi tanda centang pada poin ya. Setiap poin yang tidak menunjukkan gejala, diberi tanda silang pada poin tidak. Setiap terdapat prilaku aneh pada anak yang meragukan, dapat menuliskan prilaku tersebut pada kolom keterangan. ya = 1 Tidak = 0

10

2. Akumulasi Nilai dan Interpretasi Hasil:


No. Total jumlah Ya Total jumlah Tidak Syarat Kriteria

Jumlah Ya

1.

Anak dengan gejala GPPH yang wajib dilaporkan ketika memenuhi syarat berikut :
- Nilai 6 atau lebih dari 9 poin gangguan konsentrasi (1.a, 1.b, 2.a, 2.b, 2.c, 2.d, 2.e, 2.f, 3. a) - Nilai 6 atau lebih dari 9 poin hiperaktif dan impulsive (1.c, 1.d, 2.g, 2.h, 2.i, 2.j, 2.k 3.b, 3.c)

2.

Anak dengan gejala autis yang wajib dilaporkan ketika memenuhi syarat berikut :
- Nilai 2 atau lebih dari 3 poin gangguan interaksi sosial (1.e, 1.f, 1.g) - Nilai 1 atau lebih dari 3 poin gangguan perilaku repetitive-stereotype (2.m, 2.n, 2,o) - Nilai 1 atau lebih dari 4 poin gangguan komunikasi (2.p, 3.d, 3.e, 3.f)

Alur Kerja Implementasi Program Deteksi Dini

Dinas Kesehatan Kota Provinsi Puskesmas

pusat Tenaga medis professional di klinik swasta

Sosialisasi program dan penyuluhan Pelaporan dan Umpan Balik Pengawasan sosialisasi GURU Pelaporan Orang Tua