You are on page 1of 2

Konvensional Contoh kasus 1: Bank Islam membeli sebuah rumah seharga Rp 200,000,000.

00, kemudian menjual kepada si pembeli seharga Rp 360,000,000.00 yang bias dicicil selama 30 tahun. Ini berarti setiap bulannya si pembeli mencicil sebesar Rp 1,000,000.00 kepada si Bank Islam sebagai pihak yang menjual. Contoh kasus 2: Bank konvensional memberikan pinjaman pembelian rumah sebesar Rp 200,000,000.00 kepada si peminjam dan memberikan kesempatan kepada si peminjam untuk mencicil selama 30 tahun. Berapakah yang si peminjam harus bayar setelah 30 tahun? Moratoir Contoh : Diperjanjikan antara X dan Y, bahwa Y akan menyerahkan sapi tanggal 1 Mei, sebab pada waktu itu (X mengira) harga sapi akan menguntungkan. Tapi sapi tak diserahkan pada tanggal 1 Mei melainkan tanggal 1 Agustus. Pada saat itu harga sapi sudah turun. Karena terlambat, X menderita rugi. X mengajukan tuntutan ke Pengadilan tanggal 8 Juli. Karena dalam hal ini Bunga Moratoir dapat diberlakukan, maka Bunga Moratoir dapat diberlakukan dan dihitung tanggal 8 Juli tersebut. Jika bukan karena terlambat, maka Wan-Prestasi yang diberlakukan adalah Pasal 1247 dan 1248 KUHPerdata. Berdasarkan hal itu dapat dibedakan 2 (dua) sanksi, yakni sanksi berdasar Pasal 1247 dan 1248, dan sanksi berdasar Pasal 1250 KUHPerdata.

Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomis yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi, sedang terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu. Bunga adalah sejumlah uang yang dibayar atau untuk penggunaan modal. Jumlah tersebut misalnya dinyatakan dengan satu tingkat atau prosentase modal yang bersangkut paut dengan itu yang dinamakan suku bunga modal. Rugi adalah loss yaitu (KERUGIAN), jumlah pengeluaran atau biaya yang lebih besar dibandingkan dengan pendapatan yang diterima Bunga adalah interest yaitu imbalan yang dibayarkan oleh peminjam atas dana yang diterima; bunga dinyatakan dalam persentase Konstan adalah tetap tidak berubah-ubah Walaupun konteks kerugian menurut Hukum Perdata ini berbeda, namun ada titik-titik singgung dengan Hukum Administrasi Negara dan Undang-Undang tentang Pemberantasan Tipikor. Ungkapan Penggantian Biaya, Kerugian dan Bunga mengandung makna Kerugian yang diungkapkan dalam tiga istilah, yaitu Biaya, Kerugian, dan Bunga. Dalam bahasa aslinya (Belanda), konsep ini dikenal sebagai kosten, schaden en interessen. Ini adalah konsep yang sudah sangat tua, sudah lama dikenal di Negara asalnya. Buku-buku hukum perdata dalam bahasa Indonesia umumnya mengutip tulisan-tulisan Subekti yang menjelaskan makna kosten, schaden en interessen. Diantaranya: Yang dimaksudkan kerugian yang dapat dimintakan penggantian itu, tidak hanya yang berupa biaya-biaya yang sungguh-sungguh telah dikeluarkan (kosten), atau kerugian yang sungguh-sungguh menimpa harta benda si berpiutang (schaden), tetapi juga yang berupa kehilangan keuntungan (interessen), yaitu keuntungan yang akan didapat seandainya si berutang tidak lalai (winstderving).

Penjelasan istilah kosten, schaden en interessen secara terpisah-pisah (dalam tiga unsur), dimaksudkan untuk memudahkan pemahaman. Sebagai istilah hukum, kata tersebut merupakan satu kesatuan, dengan makna kerugian. Bunga Konvensional Sistem bunga: Penentuan suku bunga dibuat pada waktu akad dengan pedoman harus selalu untung untuk pihak Bank Besarnya prosentase berdasarkan pada jumlah uang (modal) yang dipinjamkan Penentuan suku bunga dibuat pada waktu akad dengan pedoman harus selalu untung untuk pihak Bank Jumlah pembayaran bunga tidak mengikat meskipun jumlah keuntungan berlipat ganda saat keadaan ekonomi sedang baik Eksistensi bunga diragukan kehalalannya oleh semua agama termasuk agama Islam Eksistensi bunga diragukan kehalalannya oleh semua agama termasuk agama Islam Pembayaran bunga tetap seperti yang dijanjikan tanpa pertimbangan proyek yang dijalankan oleh pihak nasabah untung atau rugi D. BUNGA MORATOIR Pada hakekatnya bunga moratoir adalah ganti rugi karena terjadinya Wan-Prestasi. Menurut Pasal 1250 KUHPerdata ini, sebagai ganti rugi bunga moratoir hanya wajib dibayar jika dipenuhi syarat-syarat berikut: 1. Perikatan dimana terjadinya Wan-Prestasi adalah Perikatan untuk menyerahkan sejumlah uang; 2. Wan-Prestasi yang berupa terlambatnya menyerahkan Prestasi. Bila kedua syarat itu terpenuhi, bunga moratoir wajib dibayarkan. Jika salah satu syarat tidak dipenuhi, maka bunga moratoir tidak dapat diperlakukan. Bunga Moratoir diberlakukan dalam jumlah yang tetap, yakni 6% per tahun. Akan tetapi para pihak dapat menentukan lain (menyimpang) dengan mempertinggi / memperendah suku bunga. Bunga Moratoir diperhitungkan sejak saat tuntutan diajukan di muka pengadilan (jadi tidak pada saat kerugian terjadi). Contoh : Diperjanjikan antara X dan Y, bahwa Y akan menyerahkan sapi tanggal 1 Mei, sebab pada waktu itu (X mengira) harga sapi akan menguntungkan. Tapi sapi tak diserahkan pada tanggal 1 Mei melainkan tanggal 1 Agustus. Pada saat itu harga sapi sudah turun. Karena terlambat, X menderita rugi. X mengajukan tuntutan ke Pengadilan tanggal 8 Juli. Karena dalam hal ini Bunga Moratoir dapat diberlakukan, maka Bunga Moratoir dapat diberlakukan dan dihitung tanggal 8 Juli tersebut. Jika bukan karena terlambat, maka Wan-Prestasi yang diberlakukan adalah Pasal 1247 dan 1248 KUHPerdata. Berdasarkan hal itu dapat dibedakan 2 (dua) sanksi, yakni sanksi berdasar Pasal 1247 dan 1248, dan sanksi berdasar Pasal 1250 KUHPerdata.