You are on page 1of 18

PENDAHULUAN Perkawinan merupakan suatu ikatan lahir batin antara laki-laki dan perempuan yang terinstitusi dalam satu

lembaga yang kokoh, dan diakui baik secara agama maupun secara hukum. Al Quran, secara normatif banyak menganjurkan manusia untuk hidup berpasang-pasangan yang bertujuan untuk mewujudkan keluarga yang bahagia dan tentram. Berkaitan dengan status perkawinan, Al Qur an juga menyebut dalam surat An-Nisa !"# $%, bahwa perkawinan sebagai mitsaqan galidhan, yakni sebuah ikatan yang kokoh. &katan tersebut mulai diakui setelah terucapnya sebuah perjanjian yang tertuang dalam bentuk ijab dan 'abul. (alah satu kerangka awal untuk mendapatkan jaminan hukum dalam sebuah perkawinan adalah dengan mencatatkannya kepada instansi yang berwenang. )al ini tidak hanya berlaku bagi orang yang beragama &slam saja, melainkan juga bagi mereka yang beragama *risten, *atholik, )indu maupun Budha. (ebagaimana tertuang dalam ++ no. $$ tahun %,!- j.o. ++ No .$ %,/! tentang Pencatatan Nikah, 0alak dan 1ujuk penjelasan pasal %" juga dalam ++ No. l 0ahun %,2! tentang Perkawinan pasal $ ayat $, yang diperkuat dengan &npres 1& no. % tahun %,,% tentang *ompilasi )ukum &slam pasal / dan -. 3alam hukum &slam, hukum perkawinan merupakan salah satu aspek yang paling banyak diterapkan oleh kaum muslimin di seluruh dunia dibanding dengan hukum-hukum muamalah yang lain Anderson,%,,! # !-". Perkawinan adalah mitsaqan ghalidan, atau ikatan yang kokoh, yang dianggap sah bila telah memenuhi syarat dan rukun pernikahan. Berdasarkan Al'uran dan hadis, para ulama menyimpulkan bahwa hal-hal yang termasuk rukun pernikahan adalah calon suami, calon isteri, wali nikah, dua orang saksi, ijab dan 'abul. *ewajiban akan adanya saksi ini adalah pendapat (yafii, )anafi dan )anbali 4unus, %,,- # %5". Adapun syarat-sahnya nikah, menurut 6ahbah 7uhaili adalah antara suami isteri tidak ada hubungan nasab, sighat ijab 'abul tidak dibatasi waktu, adanya persaksian, tidak ada paksaan, ada kejelasan calon suami isteri, tidak sedang .

ihram, ada mahar, tidak ada kesepakatan untuk menyembunyikan akad nikah salah satu calon mempelai tidak sedang menderita penyakit kronis, adanya wali 7uhaili, %,5, # -$". 8elihat kriteria rukun maupun persyaratan nikah di atas, tidak ada penyebutan tentang pencatatan. *eberadaan saksi dianggap telah memperkuat keabsahan suatu perkawinan. Pihak-pihak terkait tidak bisa mengadakan pengingkaran akan akad yang sudah terjadi. Bisa jadi ini didasarkan pada pernikahan masa 1asulullah sendiri tidak ada yang dicatatkan. 3alam kitab fikh klasikpun tidak ada pembahasan tentang pencatatan pernikahan. 3i sisi lain, pada dasarnya Al Qur an menganjurkan mencatatkan tentang sesuatu yang berhubungan dengan akad. Namun oleh mayoritas fu'aha hal tersebut hanya dianggap sebagai anjuran, bukan kewajiban. )al itu untuk menjaga agar masing-masing pihak tidak lupa dengan apa yang sudah diakadkan. Pernikahan pada masa 1asul, tidak ada ketentuan pencatatan karena belum banyak kasus yang berkembang seputar problem pernikahan seperti halnya saat ini. Perkembangan 9aman saat ini menuntut suatu penyelesaian yang tegas secara hukum dari berbagai problematika pernikahan. :leh karenanya, keberadaan dua orang saksi dianggap belum cukup. *arena mobilitas manusia yang semakin tinggi dan menuntut adanya bukti autentik. 8eskipun secara hukum &slam tidak termasuk dalam syarat dan rukun nikah, pencatatan pernikahan merupakan bagian yang wajib guna menghindari kesulitan di masa yang akan datang. 3alam Bab && pasal $ ++ No % 0ahun %,2! tentang Perkawinan disebut tentang pencatatan perkawinan dengan berbagai tatacaranya. )al tersebut diperjelas dalam *)& *ompilasi )ukum &slam" pasal / %" yang menyebutkan, Agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam setiap perkawinan harus dicatat. Begitu juga dalam pasal - $" ditegaskan bahwa Perkawinan yang dilakukan di luar pengawasan Pegawai Pencatat Nikah tidak mempunyai kekuatan hukum. 3alam kenyataannya, praktik perkawinan yang terjadi di lingkungan masyarakat tidak sepenuhnya mengacu kepada +ndang-undang. Beberapa proses perkawinan mengacu kepada lembaga keagamaan masing-masing. ;akta ini harus diakui karena pengakuan Negara terhadap pluralisme hukum tidak bisa diabaikan. *onsekuensinya, pilihan hukum dalam bidang keluarga cenderung diserahkan sebagai kewenangan pribadi. (ebagai contoh, kasus nikah siri adalah pilihan hukum yang didasarkan kepada konteks agama, yang penekanan esensinya tidak sekedar hubungan hukum saja, tapi lebih kepada faktor konsekuensi pengamalan ibadah kepada Allah (60. ;enomena yang terjadi, Pencatatan nikah merupakan salah satu yang harus dipenuhi dalam hal anjuran pemerintah, ulil amri, yang dalam hal ini mencakup urusan

duniawi. (ementara beberapa kalangan masyarakat muslim, lebih memandang bahwa keabsahan dari sisi agama, lebih penting karena mengandung unsur ukhrawi yang lebih menentramkan, sementara sisi duniawi tadi adalah unsur pelengkap yang bisa dilakukan setelah unsur utama terpenuhi. 3alam hal ini unsur duniawi, yaitu nikah dengan dicatatkan adalah langkah kedua setelah ketenangan batin didapatkan. 3ari sinilah kemudian kasus nikah siri atau nikah dibawah tangan merebak menjadi fenomena tersendiri. Nikah sirri adalah suatu pernikahan, meski telah memenuhi syarat rukun nikah, tetapi karena alasan tertentu, tidak dicatatkan di *antor +rusan Agama. (ecara hukum &slam, pernikahan tersebut dianggap sah oleh beberapa kalangan karena telah memenuhi kriteria keabsahan pernikahan yaitu adanya ijab, 'abul, dua orang mempelai, wali dan dua orang saksi. Nikah sirri masih sering dijadikan sebagai alternatif mengantisipasi pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan non muhrim yang secara psikologis, moril maupun materiil belum mempunyai kesiapan untuk menikah secara formal. Banyaknya kalangan yang menganggapnya sah, memunculkan imej bagi masyarakat bahwa pernikahan merupakan sesuatu yang mudah untuk dilaksanakan, akibatnya, perjalanan mengarungi bahtera rumah tanggapun dijalani dengan tanpa mempertimbangkan aspek hukum formal yang berlaku. Pada kenyataannya justru menimbulkan berbagai permasalahan dan konflik rumah tangga yang berimbas kepada persoalan hukum yang sangat merugikan kaum perempuan.. Pernikahan adalah suatu proses hukum, sehingga hal-hal atau tindakan yang muncul akibat pernikahan adalah tindakan hukum yang mendapat perlindungan secara hukum. Bila perkawinan tidak dicatatkan secara hukum, maka hal- hal yang berhubungan dengan akibat pernikahan tidak bisa diselesaikan secara hukum. (ebagai contoh, hak isteri untuk mendapatkan nafkah lahir dan batin, akte kelahiran anak tidak bisa diurus, hak pengasuhan anak, hak pendidikan anak, hak waris isteri, hak perwalian bagi anak perempuan yang akan menikah dan masih banyak problem-problem lain. Problemproblem tersebut hanya akan membawa dampak negatif bagi kaum perempuan sebagai pihak yang dinikahi, sementara pihak laki-laki tidak terbebani tanggungjawab formal. Bahkan bila pihak laki-laki melakukan pengingkaran telah terjadinya pernikahan, dia tidak akan mendapat sanksi apapun secara hukum, karena memang tidak ada bukti autentik bahwa pernikahan telah terjadi. )al ini tentu akan membuka ruang yang lebar terjadinya kekerasan terhadap isteri. *ekerasan terhadap isteri berasal dari banyak faktor yang pada dasarnya mengarah kepada dominasi konsep partriarkhi dalam masyarakat. *onsep tersebut diterjemahkan sebagai sebuah sistem dominasi laki-laki

yang menindas perempuan melalui institusi sosial, politik dan ekonomi. *enyataannya adalah bahwa budaya patriarkhi mengejawantah dalam bentuk-bentuk historis jenis apapun. Apakah itu dalam sistem feodal, kapitalis maupun sosialis Ari<ia,$==. # %-". 8eski sudah banyak diketahui bahwa pada prinsipnya nikah sirri merugikan kaum perempuan, namun sampai saat ini fenomena tersebut masih sering dijumpai. Praktik nikah siri tersebut tidak hanya terjadi di lingkungan masyarakat yang awam hukum, berpendidikan rendah, atau golongan ekonomi menengah ke bawah saja, tetapi juga banyak terjadi di lingkungan nasyarakat terpelajar yang memahami hukum, ataupun di lingkungan masyarakat golongan menengah ke atas yang secara ekonomi bisa dikatakan sangat mapan. 0idak jarang ditemui di kalangan masyarakat umum, mahasiswa, artis, ulama bahkan para pejabat. 8uncul beberapa dugaan tentang alasan mengapa nikah siri dengan segala resikonya masih juga dijadikan sebagai alternatif. 3i kalangan masyarakat yang awam hukum dan masyarakat ekonomi lemah, bisa dimungkinkan karena keterbatasan dana sehingga dengan prosedur yang praktis tanpa dipungut biaya, pernikahan bisa dilaksanakan. Bila dilihat dari aspek agama, ada kemungkinan karena khawatir melakukan dosa dan terjebak dalam perbuatan maksiat, maka pernikahan dengan prosedur yang cepat dan dianggap sah telah memberikan ketenangan batin tersendiri. Adanya kontro<ersi tentang >Pernikahan (irri? di kalangan umat baik @umara maupun 9uama serta di dunia pesantren dan selebritis akhir-akhir ini tentang kriminalisasi bagi pelaku dan bagi yang terlibat dalam pernikahan tersebut berkenaan akan diundangkannya 1++" Peradilan Agama baca# masuk program leglisasi tahun $=%=" adalah karena belum adanya kesamaan persepsi dalam mengidentifikasikan dan mengklirkan apa yang dimaksud dengan nikah sirri dan nikah di bawah tangan. +ntuk menyamakan persepsi dari kedua istlah perkawinan tersebut dan sekaligus untuk menghindari kerancuan istilah agar tidak terjadi kesalahfahaman, mengingat di kalangan masyarakat ada yang menganggap kedua istilah tersebut sama artinya. 3an sesuai dengan judul tulisan ini pembahasan difokuskan pada status nikah sirri dan nikah di baah tangan dan implikasinya terhadap anak yang dilahirkannya. *arena itu , sistimatika pembahasan tulisan ini adalah mencakup # pendahuluan, pengertian dan status nikah sirri dan nikah di bawah tangan menurut hukum &slam dan )ukum positif , implikasi terhadap anak yang dilahirkan, kesimpulan serta saran.

PENGERTIAN DAN STATUS NIKAH SIRRI *ata >(irri? dari segi etimologi berasal dari bahasa Arab, yang arti harfiyahnya, >rahasia? secret marriage". 8enurut 0erminologi ;i'h 8aliki, Nikah sirri, ialah# >Nikah yang atas pesan suami, para saksi merahasiakannya untuk isterinya atau jamaahnya, sekalipun keluarga setempat? 8ad9hab 8aliki tidak membolehkan nikah sirri. Nikahnya dapat dibatalkan, dan kedua pelakunya bisa dikenakan hukuman had dera atau rajam", jika telah terjadi hubungan seksual antara keduanya dan diakuinya atau dengan kesaksian empat orang saksi. 3emikian juga 8ad9hab (yafi& dan )anafi tidak membolehkan nikah sirri. 8enurut mad9hab )ambali, nikah yang telah dilangsungkan menurut ketentuan syari at &slam adalah sah, meskipun dirahasiakan oleh kedua mempelai, wali dan para saksinya. )anya saja hukumnya makruh. 8enurut suatu riwayat, *halifah +mar bin al-*hatthab pernah mengancam pelaku nikah sirri dengan hukuman had. 8enurut hemat penulis, nikah sirri menurut terminologi fi'h tersebut adalah tidak sah. (ebab, nikah sirri itu selain bisa mengundang fitnah, tuhmah dan buruk sangka, juga bertentangan dengan hadis-hadis Nabi, antara lain # %. Artinya# >Adakanlah pesta perkawinan, sekalipun hanya dengan hidangan kambing?. )1.Bukahri 8uslim dll dari Anas". $. Artinya# >+mumkanlah nikah ini, dan laksanakanlah di masjid, serta ramaikanlah dengan menabuh terbang.? )1. al-0irmid9i dari >Aisyah". 8enurut hukum positif, nikah sirri sebagaimana dirumuskan dalam fi'h mad9hab tersebut di atas, juga tidak sah, karena tidak memenuhi ketentuan syari at &slam sebagaimana diatur dalam pasal $ ayat %" ++ No.%A%,2! tentang perkawinan. 8enurut pengertian penulis, ada perkembangan pengertian dan praktek nikah sirri di kalangan masyarakat &slam &ndonesia. Ada . tiga" tife# Pertama, nikah sirri diartikan sebagai nikah yang dilangsungkan menurut ketentuan syariat &slam telah memenuhi rukun dan syaratnya", tetapi masih bersifat intern keluarga, belum dilakukan pencatatan oleh PPN, dan belum diadakan upacara menurut &slam dan adat walimatulurusyAresepsi perkawinan dengan segala bunga rampainya. Pada tife pertama ini, suami isteri belum tinggal dan hidup bersama sebagai suami isteri, karena si isteri belum tinggal dan hidup dewasa. Biasanya si suami sementara menunggu kedewasaan si isteri, ia belajar di pondok pesantren atau tinggal bersama

mertua untuk membantu pekerjaan mertua. 8otif nikahnya adalah untuk ketenangan, persiapan, dan kehalalan bahkan mungkin juga sebagai >kebanggaan? orang tua si gadis kecil?. Kedua, nikah sirri diartikan sebagai nikah yang telah memenuhi ketentuan syariat &slam, dan juga sudah dilangsungkan di hadapan PPN dan telah pula diberikan salinan akta nikah kepada kedua mempelai karena calon suami isteri sudah memenuhi syarat-syarat sahnya nikah menurut hukum positif, termasuk telah mencapai minimal usia kawin <ide Pasal 2 ++ %A%,2!". Namun, nikahnya masih dilangsungkan dalam lingkungan intern keluarga dan handai tolan yang sangat terbatas, belum diadakan resepsi pekawinan. Pada tife kedua ini kedua insan yang berlainan jenis kelaminnya itu belum tinggal dan hidup bersama sebagai suami isteri, karena mungkin salah satu atau keduanya masih sedang menyelesaikan studinya atau training kepegawaian atau perusahaan, atau belum mendapatkan pekerjaan tetap sekalipun sudah sarjana.8otif nikahnya itu terutama untuk mendapatkan ketenangan, persiapan dan kehalalan. Ketiga, nikah sirri diartikan sebagai nikah yang hanya dilangsungkan menurut ketentuan syariat &slam, karena terbentur pada PP Nomor %=A%,5. jo PP !/A%,,= tentang i9in perkawinan dan perceraian bagi PN(. Pada tipe ketiga ini calon suami mengawini calon isteri secara diam-diam dan dirahasiakan hubungannya sebagai suami isteri untuk menghindari hukuman disiplin berupa pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai PN( <ide# PP No.%=A%,5. pasal ! ayat %" dan %.". 8otif nikhanya itu terutama untuk pemenuhan kebutuhan biologis yang halal terhindar dari perbuatan 9ina menurut hukum &slam". (ayang, nikahnya tanpa persetujuan isteri yang terdahulu, atasannya, dan pejabat yang berwenang serta tanpa i9in Pengadilan Agama.

8enurut hemat penulis, nikah tipe pertama sebenarnya bukan nikah sirri, karena tidak ada unsur >sirri?. 4ang terjadi adalah kawin anak-anak, yang menurut fi'h sunni tidak dilarang sah", berdasarkan sunnah Nabi (A6 yang menikahi @Aisyah ra yang belum balighB sedangkan menurut &bnu (yubrumah al-39ahiri, nikah anak-anak tidak boleh dan tidak sah/", karena banyak mudlaratnya. 3an berhubung keadaan masyarakat kini telah jauh berubah ketimbang masyarakat di 9aman 1asulullah (A6 sebagai akibat kemajuan &P0C*, data statistik menunjukkan kawin anak-anak banyak membawa broken home, maka negara-negara &slam termasuk &ndonesia melarang kawin anakanak, dan menetapkan batas minimal usia perkawian karena alasan maslahah murslah".Pasal 2 ayat %" dan ayat $" ++ No..%A%,2! tentang perkawinan menetapkan minimal usia kawin untuk pria %, tahun dan untuk wanita %- tahun. 0etapi Pengadilan bisa diminta memberi dispensasi , jika ada alasan yang cukup. Nikah tipe kedua, tampaknya juga tidak tepat disebut nikah sirri, karena tidak ada unsur >sirri? dan motifAniat nikahnya baik. 8aka sahlah nikahnya menurut hukum &slam dan juga menurut hukum positif, karena nikahnya telah dilangsungkan menurut syariat &slam da juga sudah dicatat oleh PPN, sekalipun belum Atidak diramaikan dengan walimatul @urusy dan tabuhan terbangAgamelan dan sebagainya karena bukan rukun dan bukan syaat nikah, melainkan perintah sunnah recomanded". Adapun nikah tipe ketiga itulah yang benar-benar bisa disebut >nikah sirri?, yang dilarang oleh &slam, karena niat nikahnya dan prakteknya jelek, sebab bisa merusak rumah tangga orang dan bisa merusak moral suami, serta dapat mendorong suami berbuat kolusi dan korupsi, karena punya isteri simpanan alias 6&D yang bermasalah itu. 3emikian pula , hukum positif melarang nikah tipe ketiga, karena melanggar PP Nomor %=A%,5. jo.PP !/A%,,= tentang i9in perkawinan dan perceraian bagi PN(. PENGERTIAN DAN STATUS NIKAH DI BAWAH TANGAN &stilah >nikah di bawah tangan? muncul setelah ++ Nomor %A%,2! tentang perkawinan berlaku secara efektif tanggal % :ktober %,2/. Nikah di bawah tangan pada dasarnya adalah kebalikan dari nikah yang dilakukan menurut hukum. 3an nikah menurut hukum adalah yang diatur dalam ++ perkawinan. 3engan demikian,dapat dirumuskan, bahwa nikah di bawah

tangan, ialah nikah yang dilakukan tidak menurut hukum. 3an nikah yang dilakukan tidak menurut hukum dianggap nikah liar, sehingga tidak mempunyai akibat hukum, berupa pengakuan dan perlindungan hukum. ++ Perkawinan pasal $ ayat %" menegaskan, >perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.? 3alam penjelasan pasal $ ayat %" ini, disebutkan bahwa tidak ada perkawinan di luar hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. &ni berarti bahwa dalam bidang perkawinan, hukum agama, termasuk hukum &slam telah mendapat kekuatan yuridis dan materiil. )al tersebut sesuai dengan maksud pasal $, ayat $" ++3 %,!/ dimana digariskan bahwa# >Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu. 3an bahwa yang dimaksud dengan hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu termasuk ketentuan perundang-undangan yang berlaku bagi golongan agamanya dan kepercayaannya itu sepanjang tidak bertentangan atau tidak ditentukan lain dalam undang-undang ini. *emudian pasal $ ayat $" menegaskan, >0iap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.? 3an PP Nomor ,A%,2/ pasal $ ayat %" menerangkan, >pencatatan dari mereka yang melangsungkan perkawinan nenurut agama &slam, dilakukan oleh Pegawai Pencatat sebagaimana dimaksud dalam +ndang-+ndang Nomor .$ tahun %,/! tentang pencatatan Nikah ,0alak dan 1ujuk?. (ehubungan dengan Pasal $ ayat %" dan ayat $" dari ++ %A%,2! tersebut, hingga kini kalangan teoritisi dan praktisi hukum masih bersilang pendapat tentang pengertian yuridis sahnya suatu perkawinan. Ada dua pendapat para pakar hukum mengenai masalah ini# Pertama, bahwa sahnya suatu perkawinan semata-mata hanya harus memenuhi pasal $ ayat %" ++ perkawinan tersebut, yakni perkawinannya telah dilaksanakan menurut ketentuan syariat &slam secara sempurna memenuhi rukun-rukun dan syarat-syarat nikah yan mumnya dianggap standar oleh dunia &slam. 8engenai pencatatan nikah oleh PPN, tidaklah merupakan syarat sahnya nikah, tetapi hanyan kewajiban adminstratif saja. *edua, bahwa sahnya suatu akad nikah harus memenuhi ketentuan ++ Perkawinan pasal $ ayat %" mengenai tatacara agama dan ayat $" mengenai pencatatan nikahnya oleh PPN

secara simultan. 3engan demikian, ketentuan ayat %" dan ayat $" tersebut merupakan syarat kumulatif , bukan alternatif. *arena itu, perkawinan yang dilakukan menurut ketentuan syariat &slam tanpa pencatatan oleh PPN, belumlah dianggap sebagai perkawinan yang sah. 3an perkawinan inilah yang kemudian setelah berlakunya ++ Perkawinan secara efektif tanggal % :ktober %,2/ terkenal dengan sebutan >nikah di bawah tangan?. 8enurut hemat penulis, pendapat yang lebih kuat dan mendasar dalam masalah ini , baik dari segi hukum &slam maupun dari segi hukum positif, ialah bahwa sahnya suatu akad nikah itu apabila, telah dilangsungkan menurut ketentuan syari at &slam, di hadapan PPN dan dicatat oleh PPN. Adapun dalil syarinya yang dapat memperkuat pendapat penulis tersebut,ialah # %. 8entaati perintah agama dan mentatati perintah negara Apemerintah, adalah wajib sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran (urat Al Nisa ayat /5# Perintah Al-Quran ini sangat positif , karena mendidik manusia untuk menciptakan masyarakat yang sadar dan taat hukum agama dan hukum negara, demi terwujudnya kesejahteraan dan kebahagiaan hidupnya di dunia dan di akhirat. $. Akta nikah sebagai bukti otentik sahnya perkawinan seseorang, adalah sangat bermanfaat dan masalahah bagi dirinya dan keluarganya isteri dan anaknya" untuk menolak kemungkinan di kemudian hari adanya pengingkaran atas perkawinannya dan akibat hukum dari perkawinannya itu harta bersama dalam perkawinan dan hak kewarisannya", dan juga untuk melindunginya dari firtnah, tuhmahA'ad9af 9ina tuduhan 9ina". 8aka jelaslah, pencatatan nikah untuk mendapatkan akta nikah itu sangat penting untuk saddud dariah pre<enti<e action" dan juga maslahah mursalah good interest"?. Adapun alasan yuridis dari segi hukum positif yang memperkuat pendapat penulis ialah# %. 8aksud pasal $ ayat $" ++ Perkawinan itu telah dirumuskan secara organik oleh pasal $ ayat %" PP Nomor ,A%,2/ tentang pelaksanaan ++ Perkawinan. 3an tatacara pencatatan perkawinannya lebih lanjut dijabarkan dalam pasal . sampai dengan pasal , PP tersebut. *emudian disusul dengan tatacara perkawinannya sampai mendapat akta nikah, disebut dalam pasal %= sampai dengan pasal %. PP tersebut.

$. *ompilasi )ukum &slam &npres Nomor % A%,,% dan *eputusan 8enteri Agama Nomor %/! A%,,%, Pasal /,- dan 2 ayat %" menguatkan bahwa unsur pencatatan nikah oleh PPN menjadi syarat sahnya suatu akad nikah. .. 4urisprudensi 8ahkamah Agung 1& Putusan Nomor %,!5A*APidA%,,% tanggal %5 3esember %,,%, dalam pertimbangan hukumnya menyatakan bahwa yang dimaksud dengan >Perkawinan? menurut +ndang-undang No.%A%,2!, PP No.,A%,2/, adalah perkawinan yang dilangsungkan di hadapan *+A oleh petugas *+A yang berwenang serta perkawinan tersebut didaftarkan menurut tatacara perundang-undangan yang berlakuB karena itu perkawinan yang tidak memenuhi persyaratan tersebut dianggap tidak ada perkawinan, sehingga tidak dapat dipidanakan sebagaimana dimaksud Pasal $2, *+)Pidana kurungan penjara / tahun". !. (urat Cdaran *epala BA*N Nomor !5A(CA%,,= tentang petunjuk Pelaksanaan PP Nomor !/A%,,= tentang perubahan atas PP Nomor %=A%,5. tentang i9in perkawinan dan perceraian bagi pegawai negeri sipil, butir &E menegaskan , bahwa isteri pertamaAkeduaAketigaAkeempat dari pegawai negeri sipil yang dinikahi sah, yaitu yang dilakukan sesuai dengan pasal $ ayat %" dan ayat $" ++ Perkawinan Nomor %A%,2! diberikan *artu &steri. 3engan demikain, jelaslah bahwa menurut hukum positif, perkawinan adalah sah , jika dilaksankan menurt hukum syariat &slam di hadapan PPN dan dicatata oleh PPN. IMPLIKASI TERHADAP ANAK YANG DILAHIRKAN Akad nikah dan implikasinya akibat hukumnya". 8enurut Fumhur ulama , akad nikah ada $ dua" macam, masing-masing adalah# %. Akad yang sah sempurna &alah akad yang telah memenuhi semua rukun dan semua syarat sahnya nikah. Akad nikah sempurna ini membawa akibat hukum yang luas, antara lain suami wajib memberi mahar, nafkah lahir makan, pakaian dan tempat tinggal" dan nafkah batin , isteri wajib taat dan setia kepada suami, adanya hak saling mewarisi antara suami isteri dan adanya hubungan nasab anaknya dengan bapaknya. $. Akad yang rusak atau batalAfasid &alah akad yang salah satu rukun atau syarat sahnya nikah tidak terpenuhi, misalnya antara suami isteri ternyata masih ada hubungan mahram, atau wanitanya masih terikat perkawinannya dengan orang lain, atau kawin tanpa wali atau saksi. )ukumnya wajib

memisahkan diri atau dipisahkan atas putusan hakim segera setelah diketahui cacat rukun atau syarat sah nikahnya. 3an nikahnya tidak membawa akibat hukum apa pun, jika belum terjadi hubungan seksual anatara keduanya. 3engan demikian, tidak ada mahar , nafkah dan iddah dan tidak ada pula hak mewarisi antara keduanya. 0etapi jika telah terjadi hubungan seksual antara keduanya, maka wajib difasakh nikahnya, sekalipun telah cukup lama hidup sebagai suami isteri . 3an dalam hal ini , >isteri berhak mendapat mahar dan ada iddahnya, serta si anak punya hubungan nasab dengan bapaknya. 8engenai status anak yang lahir dari nikah sirri, maka apabila nikah sirri itu diartikan menurut terminologi fi'h nikah yang dirahasiakan atas permintaan suami", maka menurut hukum &slam, anak mempunyai hubungan nasab dengan bapaknya. (ebab, anak yang lahir dari hubungan syibhah saja ditetapkan nasabnya kepada bapak, apalagi nikah sirri yang termasuk nikah yang diperselisihkan?boleh dan sahnya?oleh para ulama. *arena itu, nikah sirri itu dianggap cacat Afasad yang ringan. (edangkan menurut pandangan hukum posiistif, anaknya hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya. Adapun status anak yang lahir dari nikah di bawah tangan nikah yang hanya memenuhi pasal $ ayat %" saja dari ++ Perkawinan", maka menurut hukum &slam, anaknya sah dan mempunyai hubungan nasab dengan bapaknya. (edangkan menurut hukum posiitf, anaknya tidak sah, karena nikahnya tidak sah, sebab tidak memenuhi pasal $ ayat %" dan ayat $" ++ Perkawinan. *arena itu, si anak hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya <ide ++ Perkawinan Pasal !. dan *ompialsi )ukum &slam pasal %==".

KESIMPULAN %. Ada perbedaan antara nikah sirri dan nikah di bawah tangan dari segi terminologi, historis dan yuridis, $. Nikah sirri yang diartikan menurut terminologi fi'h, dilarang dan tidak sah menurut hukum &slam, kaena ada unsur sirri dirahasiakan nikahnya", yang bertentangan dengan ajaran &slam dan bisa mengundang fitnah dan tuhmah, serta dapat mendatangkan madaratAresiko berat bagi pelakunya dan keluarganya. Naikah sirri juga tidak sah menurut hukum positif , karena tidak melaksanakan ketentuan hukum munakahat yang baku dan benar, dan tidak pula diadakan pencatatan nikahnya oleh PPN. .. &stilah nikah di bawah tangan timbul setelah berlakunya ++ Perkawinan secara efektif tahun %,2/. )ukumnya sah menurut hukum &slam sepanjang tidak motif< >sirri?, karena telah memenuhi ketentuan syariah yang benar. Nikah di bawah tangan ini juga tidak sah menurut hukum positif, karena tidak memenuhi peraturan perundangundangan yang berlaku dalam bidang hukum perkawinan !. (tatus anak yang lahir dari nikah sirri menurut hukum &slam, adalah anaknya mempunyai hubungan nasab dengan bapaknya, karena cacat hukumnya ringan. (edangkan menurut hukum positif, anaknya tidak sah karena nikahnya tidak sah, sebab tidak memnuhi pasal $ ayat %" ayat $" ++ Perkawinan. /. (tatus anak yang lahir dari nikah di bawah tangan menurut hukum &slam, adalah sah dan dengan sendirinya mempunyai hubungan nasab dengan bapaknya. (edangkan menurut hukum positif,anaknya tidak sah karena nikahnya tidak sah, sebab tidak memenuhi pasal $ ayat %" dan ayat $" ++ Perkawinan. -. Pelanggaran terhadap perkawinan yang tidak memenuhi persyaratan secara kumuilatif Pasal $ ayat %" dan ayat $" tidak mempunyai alasan menurut hukum sebagai delict aduan untuk dapat dikriminalisasikanAdipidanakan sebagaimana dimaksudkan pasal $2, *+)Pidana.

SARAN-SARAN %. (esuai dengan kaidah hukum &slam # >Al-*huruj minal khilaf mustahabbun?, yakni >8enghindari perbedaan pendapat itu dianjurkan?, maka ummat &slam &ndonesia hendaknya dalam melakukan perkawinan, mematuhi ketentuan hukum munakahat yang baku dan benar serta melaksanakan peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam bidang hukum perkawinan. $. Agar terealisasinya tujuan hukum, yakni adanya kepastian, ketertiban dan manfaat di dalam masyarakat, hendaknya lembaga legislatif tidak ragu lagi untuk mensahkan 1ancaangan +ndang-+ndang yang 8engkriminalisaikanA8empidanakan bagi pelaku dan siapa saja yang terlibat di dalam perkawinan (irri tersebut, karena perkawinan yang tidak memenuhi persyaratan secara kumuilatif Pasal $ ayat %" dan ayat $" ++ Perkawinan tidak dianggap ada perkawinan menurut hukum, sehingga tidak dapat dijadikan delict aduan untuk dipidanakan sebagaimana dimaksudkan pasal $2, *+)Pidana.

DAFTAR PUSTAKA %. 3rs. Bakri A. 1ahman, 3rs. Ahmad (ukardja, (.)., Hukum Perkawinan Agung, %,5%. $. 3rs. 3amsyi )anan, Pengertian &uridis 'ahnya 'uatu Perkawinan (catatan terhadap )ua Putusan Kasasi &ang $ertentangan*, 8imbar )ukum No.$. 0hn. G& %,,/. .. )artono 8arjono, (.)., 'yarat 8imbar )ukum No.$. 0hn. G& %,,/. !. Proyek Peningkatan Pelayanan Aparatur )ukum Pusat, Himpunan Peraturan Perundang"!ndangan dalam +ingkungan Peradilan Agama, Fuli $==!. anakah yang enentukan 'ahnya Perkawinan, enurut

Islam, !ndang"!ndang Perkawinan dan Hukum Perdata#$%, Penerbit P0.)idakarya

PROBLEMATIK NIKAH SIRRI, NIKAH DI BAWAH TANGAN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP DAN ANAK YANG DILAHIRKAN

ARTIKEL
Disusun untuk m m nu!i tu"#s m#t# ku$i#! P n%i%ik#n A"#m# Is$#m Y#n" %i&in# '$ ! D(s. N#)*#n

Disusun O$ ! + H#$im#tus S,#*%i,#!

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH MASKUMAMBANG -STITMAS. PRODI S/-PGSD GRESIK 01/0
KATA PENGANTAR

Puji syukur alhamdulillah penyusun mengucapkan kehadirat Allah (60 yang telah melimpahkan rahmat, karunia dan hidayah-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan Artikel yang berjudul >*ajian *ebahasaan?. Penyusunan Artikel ini digunakan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Agama &slam yang dibimbing oleh dr. (yaiful *hafid, (). 8.Pd. 88. Pada kesempatan ini perkenankan saya mengucapkan terima kasih kepada# %. Bapak dr. (yaiful *hafid, (). 8.Pd. 88. selaku dosen pembimbing mata kuliah Pendidikan Agama &slam. $. 0eman H teman (% PI(3 angkatan $=%$ yang telah memberikan segala dukungan, saran dan bantuannya dalam proses penyusunan tugas ini. .. (emua pihak yang telah membantu penyelesaian tugas ini, (ehingga tugas ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Pepatah mengatakan tidak ada gading yang tak retak. :leh karena itu kami sadar dalam Artikel ini masih terdapat kekurangan dan kesalahan, kami mohon maaf dan meminta kepada bapak dosen, kiranya sudi memberikan kritik dan saran untuk perbaikan selanjutnya. (ekian dari kami semoga tugas ini sesuai dengan apa yang diharapkan dan dapat bermanfaat bagi yang membacanya.

Iresik, 3esember $=%$ Penyusun

DAFTAR ISI

)alaman FudulJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJ *ata PengantarJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJ i 3aftar &siJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJ. &i BAB & PCN3A)+D+AN A. Datar BelakangJJJJJJJJJJJJJJJJJJJ. % B. 1umusan 8asalahJJJJJJJJJJJJJJJJJJ $ K. 0ujuan PenulisanJJJJJJJJJJJJJJJJJJ.. $ BAB && PC8BA)A(AN A. Pengertian PendidikanJJJJJJJJJJJJJJJJ.. . B. Pengertian Perubahan (osialJJJJJJJJJJJJJJ %! K. 8acam-macam *onsep Perubahan (osialJJJJJJJJJ %/ 3. Pendidikan 3alam Perspektif Perubahan (osialJJJJJJ.. $% BAB &&& PCN+0+P A. *esimpulanJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJ $/ B. (aranJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJ.. $3A;0A1 P+(0A*AJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJ. $2

ABSTRAK Artikel, (yaLdiyah )alimatus, $=%$. 2('&$ m#tik nik#! si((i, nik#! %i &#3#! t#n"#n %#n im2$ik#sin,# t (!#%#2 %#n #n#k ,#n" %i$#!i(k#n
Pernikahan sirri, yang secara agama dianggap sah, pada kenyataannya justru memunculkan banyak sekali permasalahan yang berimbas pada kerugian di pihak perempuan. Nikah siri sering diambil sebagai jalan pintas pasangan untuk bisa melegalkan hubungannya, meski tindakan tersebut pada dasarnya adalah pelanggaran terhadap ++ No. % 0ahun %,2! tentang pencatatan perkawinan. (ecara umum pernikahan siri dilakukan karena alasan ingin memperoleh keabsahan secara agama, sehingga tercipta ketenangan batin, minimal terhindar dari perbuatan maksiat.. 3engan menggunakan wawancara mendalam, peneliti berhasil mengungkap problem-problem yang dialami para responden dalam pernikahan sirinya. Problem mendasar yang dirasakan oleh para perempuan pelaku nikah siri justru problem psihis dan tekanan batin sebagai akibat dari ketidakpastian hukum tentang status pernikahannya. Beban psikhis tersebut juga terjadi karena stereotipe masyarakat terhadap perempuan pelaku nikah siri yang dianggap sebagai isteri simpanan, hamil di luar nikah, selingkuhan dan sebagainya. 8elihat lebih banyak kelemahan dan ancaman yang terjadi dalam pernikahan siri, maka kelebihan yang ada tidak akan bisa mengatasi problem yang dihadapi kecuali memanfaatkan peluang yang ada yaitu itsbat nikah. Berbagai kemadlaratan yang muncul dalam pernikahan sirri, nampaknya juga perlu dikaji lebih serius lagi tentang keabsahan nikah sirri yang selama ini dijadikan jalan pintas untuk menghalalkan hubungan suami isteri.