Вы находитесь на странице: 1из 12

IJZ AL-QURAN

A. Pendahuluan Kita selama ini mungkin sering mendengar istilah mukjizat Al-Quran, namun sejarahnya barangkali kita tidak semuanya tahu. Dalam makalah ini penulis ingin mencoba mengupas sedikit tentang ijz mulai dari definisi, polemik, dan aspek-aspek ijz al-Qurn. Semoga dengan sedikit penjelasan ini, ada hikmah dan manfaat yang bisa kita petik. Mukjizat pada hakikatnya adalah sesuatu yang diturunkan Allah swt. pada nabi-Nya sebagai bukti akan kebenaran dia sebagai utusan Allah. Dan, sesuatu itu dinamakan mukjizat atau melemahkan karena memang manusia lemah atau tidak mampu mendatangkan yang semisalnya.1 Di dalam, kitab Al-Jmi li Ahkm AlQurn disebutkan bahwa ada 5 syarat utama sesuatu itu dinamakan mukjizat: Pertama, sesuatu itu tidak ada yang mampu mewujudkannya kecuali Allah swt. Kedua, sesuatu itu harus yang luar biasa dan bertentangan dengan adat kebiasaan atau akal sehat. Ketiga, sosok yang mengemban mukjizat haruslah mengakui bahwa hal luarbiasa yang ia tunjukkan merupakan anugerah dari Allah swt. Keempat, ada pengakuan dari orang yang melihat kemukjizatan tersebut. Kelima, tidak ada seorang pun yang mampu melawan mukjizat tersebut dalam bentuk apapun.2 Kelima hal di atas merupakan syarat mutlak disebutnya sesuatu itu sebagai mukjizat. Jika satu saja dari kelima syarat di atas berkurang maka tidak memenuhi syarat untuk menyebut sesuatu sebagai mukjizat. B. Definisi Ijz Ijz berasal dari akar kata ajaza, kemudian diberi awalan hamzah qatha menjadi ajaza. Secara etimologi berarti lemah dan tidak mampu melakukan sesuatu. Makanya

Muhammad ibn Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jmi li Ahkm Al-Qurn, (Riyadh: Dar Alam Al-Kutub, 2003) Hal. 69. 2 Muhammad ibn Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jmi li Ahkm Al-Qurn, hal. 70-71.

nenek-nenek dalam Al-Quran disebut al-ajz.3 Dan, ini semakna dengan ungkapan Qabil pada surah Al-Midah, ayat 31 berikut ini:

Qabil berkata, Oh, celaka aku! Mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, sehingga aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini? Maka jadilah dia termasuk orang yang menyesal. (QS. Al-Midah [5]: 31)4 Sedangkan makna ijz atau mujizatyang kemudian diserap ke dalam bahasa Indonesai menjadi mukjizatsecara terminologi adalah,

Sesuatu yang supernormal atau extraordinary disertai dengan tantangan (untuk mendatangkan yang semisal, yang mana tantangan itu) selamat dari tandingan (resistan).5 Intinya, mukjizat adalah kejadian luar biasa yang dapat melemahkan dan mengalahkan lawan untuk membuktikan kebenaran risalah seorang nabi. Jadi, hikmah dibalik mukjizat adalah untuk mengajak suatu kaum atau umat ke jalan kebenaran dan kebahagiaan. Orang yang pertama berbicara mengenai mukjizat Al-Quran adalah AlBaqilani, Ar-Rummani, Abdul Qahir, Al-Khaththabi, dan As-Sakkaki.6 Mukjizat bisa bersifat inderawi (hissiyah) dan rasional (aqliyah). Kebanyakan mukjizat atas Bani Israil itu bersifat inderawi ini karena saat itu mereka adalah kaum terbelakang yang memiliki keterbatasan berpikir.7 Sedangkan, mukjizat atas umat Nabi Muhammad saw. lebih bersifat rasional karena mereka hidup di zaman maju dan memiliki kemampuan berpikir yang kuat. Jadi, karakter mukjizat yang diturunkan selalu disesuaikan dengan kondisi umat sang nabi saat itu. Kesimpulan ini berangkat dari sabda Rasulullah saw.,

Abu Al-Husain Ahmad ibn Faris, Mujam al-Maqyis f al-Lughah, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th) Hal. 738. Lihat juga, Al-Imam Al-Jauhari, Ash-Shihah f Ulm Al-Lughah wa Funnuha, (Beirut: Dar alHadharah al-Arabiyyah, t.th), Jil. I. Hal. 81. 4 Lihat juga, QS. At-Taubah, ayat 2. QS. Al-Ankabt, ayat 22 dan QS. Al-Hajj, ayat 51. 5 Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Itqn f Ulm al-Qurn, (Mesir: Maktabah Mushtafa al-Halabi, 1370 H), Jil. II, Hal. 311. 6 Muhammad Thahir ibn Asyur, At-Tahrir wa At-Tanwir, (Tunisia: Dar Sahnun, 1997) Jil. I. Hal. 101. 7 Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Itqn f Ulm al-Qurn, Jil. II, Hal. 311.

Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw. bersabda, Tidak ada seorang pun nabi dari nabi-nabi yang ada kecuali dia diberi sesuatu yang sama (mukjizat), yang diimani manusia. Adapun mukjizat yang secara khusus diberikan padaku adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah dan aku berharap menjadi nabi yang paling banyak pengikutnya pada Hari Kiamat. (HR. Al-Bukhari) Dalam konteks ini, Imam Az-Zarkasyi berkata,

Sesungguhnya Allah menjadikan mujizat para nabi sesuai dengan bidang yang dikenal sebagai sesuatu yang paling bagus pada zaman nabi yang ingin Dia munculnkan, maka sihir pada masa Musa telah mencapai pncaknya, demikian pula kedokteran pada masa Isa, dan keindahan berbahasa pada masa Nabi Muhammad.8 Tapi, pemikir-pemikir baru seperti Hassan Hanafi punya pandangan dan pemahaman yang berbeda. Menurutnya, ijz mengalami evolusi (tathawwur alwahyi). Menurut Hassan Hanafi pengertian ijz al-qurn sebagai sesuatu kejadian luar biasa untuk menunjukkan kebenaran risalah Rasulullah saw. dan tidak seorang manusia pun yang mampu menandinginya, adalah pemahaman klasik. Menurutnya, Al-Quran adalah fakta empirik berupa susunan kalimat yang dikenal semua orang, baik yang buta huruf (ummi), yang terpelajar, ataupun yang menggunakan akal, indera dan perasaannya untuk memperoleh kepuasaan spiritual, pandangan dan kebenaran.9 Intinya, Hasan Hanafi ingin mengatakan bahwa fungsi ijz Al-Quran sudah tidak lagi dominan sebagai tantangan untuk mendatangkan yang semisal. Sebab, yang ditantang pun saat ini sudah tidak ada lagi yang mampu sehingga kemukjizatan AlQuran dikembangkan pada aspek lain. Seperti, baru-baru ini muncul buku yang mengupas tentang kemukjizatan ilmiah Al-Quran, kemukjizatan angka, kemukjizatan bahasa, kemukjizatan alam semesta dan lain-lain. Artinya anggapan orang terhadap Al-Quran sudah berubah tidak sejumud bangsa Arab di masa Nabi Muhammad saw. Seperti yang dijelaskan dalam surah Saba, ayat 43 berikut:
8

Badr al-Din Muhammad bin Abdillah Al-Zarkasyi, Al-Burhn f Ulm al-Qurn, (Libanon: Dar AlIhya Al-Kutub, 1957) Jil. II, Hal. 98. 9 Hasan Hanafi, Min al-Aqidah ila ats-Tsaurah, (Kairo: Maktabah Madbuli, t.th), Jil. IV. Hal. 182183.

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang, mereka berkata, Orang ini tidak lain hanya ingin menghalang-halangi kamu dari apa yang disembah oleh nenek moyangmu, dan mereka berkata, (Al-Qur'an) ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan saja. Dan orang-orang kafir berkata terhadap kebenaran ketika kebenaran (Al-Qur'an) itu datang kepada mereka, Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata. (QS. Saba [34]: 43) Jadi, seperti itulah pandangan orang-orang musyrik Mekkah terhadap AlQuran ketika itu. Mengejeknya seolah ucapan para dukun. Dalam kondisi seperti ini, maka Al-Quran sebagai mukjizat ia menantang orang-orang kafir Quraisy, Kalau memang itu ucapannya para dukun, apakah bisa kalian mendatangkan yang semisal Al-Quran, satu surah saja atau satu ayat saja? Di ayat yang lain, orang-orang kafir Quraisy menganggap Al-Quran sebagai ungkapan puitik dari seorang penyair. Berikut ini ayatnya,

Bahkan mereka mengatakan, (Al-Qur'an itu buah) mimpi-mimpi yang kacau, atau hasil rekayasanya (Muhammad), atau bahkan dia hanya seorang penyair, cobalah dia datangkan kepada kita suatu tanda (bukti), seperti halnya rasul-rasul yang diutus terdahulu. (QS. Al-Anbiy [21]: 5) Secara garis besar, bisa dikatakan bahwa pandangan orang-orang kafir Quraisy terhadap Al-Quran ketika itu masih sangat klasik dan sederhana. Inilah yang kemudian mendasari pemikir-pemikir baru dari kalangan Muslim Seperti Hasan Hanafi dan Nashr Hamid Abu Zaid untuk meyakini bahwa makna mukjizat harus dikontekskan dengan kekinian sesuai dengan masyarakat yang menerimanya. Pada dasarnya kata ijz ( ) sendiri tidak dikenal pada masa Rasulullah

saw., Sahabat dan Tabiin. Kata ini baru populer di akhir abad ke-3 Hijriah dari kalangan Mutakallimin dalam sebuah kitab karya Muhammad ibn Yazid Al-Wasithi (w. 306 H) dalam kitabnya yang tinggal nama Ijz Al-Qurn fi Nazhmihi wa Talifihi.10 Namun demikian, secara maknawi ijz sudah ada sejak malaikat Jibril menyampaikan wahyu surah Al-Alaq, ayat 1-5 pada Rasulullah saw. Kala itu, tidak
10

Al-Baqilani, Ijz Al-Qurn, (Kairo: Dar Al-Marifah, t.th.) Hal. 10.

hanya Rasulullah saw. dan para sahabat saja yang mengimani kemukjizatan AlQuran, tetapi juga orang-orang kafir. Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,

Dan orang-orang yang kafir berkata, Janganlah kamu mendengarkan (bacaan) AlQur'an ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya, agar kamu dapat mengalahkan (mereka). (QS. Fushshilat [41]: 26) Hanya saja, posisi orang-orang kafir tidak mengimani secara hakiki hanya sebatas percaya bahwa Al-Quran mempunyai nilai-nilai ijz. Sehingga, mereka tetap berusaha menandingi atau mebuat tandingan untuk Al-Quran. seperti yang dijelaskan pada ayat di atas. Al-Quran sendiri sudah membuat tantangan secara terbuka kepada mereka seperti yang dijelaskan 2 ayat berikut ini,

Dan jika kamu meragukan (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolongpenolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (QS. Al-Baqarah [2]: 23)

Katakanlah, Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) Al-Qur'an ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain. (QS. Al-Isr [17]: 88) Dan, tantangan ini benar-benar berhasil membuat mereka tidak berdaya. Inilah hakikat ijz pada masa itu. Bahkan, saking tidak mampunya orang-orang kafir itu mendatangkan yang semisal dan kemudian takut beriman mereka saling berpesan untuk meninggalkan Al-Quran. Sebagaimana yang dijelaskan pada surah Fushshilat ayat 26 di atas. Serta ayat berikut ini,

Dan mereka berkata, (Itu hanya) dongeng-dongeng orang-orang terdahulu, yang diminta agar dituliskan, lalu dibacakanlah dongeng itu kepadanya setiap pagi dan petang. (QS. Al-Furqn [25]: 5) Ketakutan mereka atas pengaruh Al-Quran tersebut selanjutnya membuat mereka bernegosiasi dengan Rasulullah saw. untuk mendatang Al-Quran yang lain,

Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami dengan jelas, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata, Datangkanlah kitab selain Al-Qur'an ini atau gantilah. Katakanlah (Muhammad), Tidaklah pantas bagiku menggantinya atas kemauanku sendiri. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku. Aku benar-benar takut akan azab hari yang besar (Kiamat) jika mendurhakai Tuhanku. (QS. Ynus [10]: 15) Kirannya, rangkaian dari ayat-ayat di atas telah membuktikan bahwa secara maknawi ijz sudah ada sejak masa Rasululla saw. Pada perkembangan selanjutnya, ijz al-Qurn ini polemik besar setelah kafir Quraisy benar-benar tidak dapat menahan laju pengaruh Al-Quran. Namun, mereka tetap saja tidak berusaha menghentikan pengaruh Al-Quran terhadap kaumnya. Mereka lantas melakukan agitasi politik dan pencemaran nama baik terhadap Rasulullah saw. dengan menganggapnya orang gila agar kaumnya terprovokasi menolak Al-Quran. Mereka juga menyebut bahwa Al-Quran tidak lain hanyalah buku dongeng dan cerita-cerita fiktif. Seperti yang dijelaskan Al-Quran berikut ini,

Dan apabila ayat-ayat Kami dibacakan kepada mereka, mereka berkata, Sesungguhnya kami telah mendengar (ayat-ayat seperti ini), jika kami menghendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini. (Al-Qur'an) ini tidak lain hanyalah dongeng orang-orang terdahulu. (QS. Al-Anfl [8]: 31) Kalau dilihat dari sejarahnya yang dipaparkan dalam ayat-ayat di atas, dapat disimpulkan bahwa tantangan Al-Quran itu muncul lebih karena keangkuhan dan kesombongan orang-orang kafir Quraisy untuk menerima wahyu Al-Quran. Inilah yang kemudian memunculkan lahirnya ayat-ayat tantangan atau ayat-ayat tahaddi.

Menurut M. Nur Kholis Setiawan, ada 47 surah yang memuat ayat-ayat tahaddi. Semuanya dalam kategori surah Makiyah kecuali 8 surah.11 C. Polemik tentang Ijz Al-Quran Polemik Ijz Al-Quran ini berlangsung di kalangan ulama bahkan hingga sekarang. Al-Baqilani menyebutkan bahwa banyak ulama dari berbagai disiplin ilmu melakukan kajian tentang aspek-aspek kemukjizatan Al-Quran.12 Menurut Ibn Qutaibah (w. 276 H) polemik itu mengemuka karena istilah ijz sendiri muncul belakangan. Dan, semua polemik itu pada akhirnya berkutat di seputar dua aspek yakni definisi lafzhi dan manawi.13 Polemik ini terjadi sekitar abad ke-3 Hijriah, yang mana ulama satu dengan yang lain saling mempertahankan ideologi dan keyakinan mereka. Sebab, permasalahan ini menyangkut persoalan kenabian dan lain-laintidak sekadar ijz. Di antara ulama yang membahas secara serius mengenai ijaz adalah Ibn Qutaibah dengna karyanya Tawil Musykil al-Quran, Abu al-Hasan al-Asyari dengan karyanya, Maqalat al-Islamiyin, Al-Jahidz dengan karyanya Hujj AnNubuwwah, dan Abu Al-Hasan Al-Khayath dengan karyanya Al-Intishr. Ulama tafsir banyak juga yang mengkaji ijz, seperti Ath-Thabari dalam Jmi Al-Bayn, dan Abu Ubaidah dalam Majz al-Qurn. Sedangkan dari kalangan ahli bahasa seperti Al-Farra (w.207 H), Abu Ubaidah (w. 210 H), Al-Ahfasy (w.215 H), AzZujaj (w. 311H), Abu Jafar An-Nuhhas (w. 338), dan lainnya. Polemik tentang ijz al-Qurn ini paling keras terjadi di kalangan Mutakallimin. Terutama, dari kalangan Mutazilah. Seperti, Al-Jad bin Dirham yang sangat keras melakukan provokasi terhadap pendapatnya. Bahkan, secara terbuka alJad bi Dirham mengingkari Al-Quran dan menolak beberapa kandungannya.14 Menurutnya, keindahan sastrawi dalam Al-Quran sesungguhnya bukanlah ijz karena sebenarnya manusia mampu membuat yang semisal itu, bahkan lebih indah
11

M. Nur Kholis Setiawan, Al-Quran Kitab Sastra Terbesar, (Yogyakarta: eLSAQ Press, 2005) hal. 99 12 Al-Baqilani, Ijz Al-Qurn, (Kairo: Dar Al-Marifah, t.th.) Hal. 4-5. 13 Ibn Qutaibah, Tawl Musykil al-Qurn, (Kairo: t.p. 1326 H) Hal. 10. 14 Tercatat ada beberapa bagian dari al-Quran yang ditolak al-Jad bin Dirham, seperti ayat tentang percakapan antara Allah dengan Nabi Musa. Beberapa pengikutnya bahkan menolak secara berlebihan, seperti pengikut Abd al-Karim bin Ajrad pada akhir tahun 100 H an, mengatakan bahwa surat Yusuf bukan lah termasuk al-Quran, karena itu hanyalah cerita (qishshah) belaka. Bahkan pengikut al Rafidhah beranggapan bahwa al-Quran sudah tidak orisinil lagi, karena al -Quran sudah terjadi perubahan dengan penambahan dan pengurangan di sana sini. Demikian pula yang terjadi dengan sunah telah terjadi perubahan-perubahan. Semua pemahaman tersebut bersumber dari tokoh Mutazilah, Hisyam bin al-Hakam. Lihat catatan kaki Mushtafa Shadiq al-Rafii, Ijaz al-Quran wa alBalaghah al-Nabawiyyah, (Kairo: al-Maktabah al-Taufiqiyyah, tt), hal. 143

dari Al-Quran sendiri. Menurut Abu Ishaq Ibrahim An-Nazhzham, seorang pengikut paham Mutazilah, ijz al-Qurn sebenarnya bukan faktor internal Al-Quran, melainkan faktor eksternal Al-Quran. Artinya, kehendak Allah swt. untuk membuat orang-orang kafir lemah dan tidak berdaya membuat yang semisal Al-Quran, itulah yang sesungguhnya mukjizat. Ini yang kemudian diistilahkan ulama dengan ashsharfah yakni Allah swt. menghilangkan dan mencabut pengetahuan manusia sehingga tidak mampu membuat yang semisal Al-Quran. Meskipun mereka itu ahli bahasa dan sastra, tetap tidak akan bisa.15 Konsep ash-sharfah, seperti yang dipahami pengikut Mutazilah, sesungguhnya sangat tidak berdasar dan tidak rasional. Sebab, dalam ijz ada unsur tantangan (tahaddi) yang tentunya menuntut adanya kemampuan manusia (al-qudrah al-basyariyyah) untuk melakukan perlawanan (al-muradhah). Logikanya, ketika Al-Quran menantang manusia untuk membuat yang semisalnya, ia benar-benar menuntut manusia untuk melakukan itu. Hanya saja, mereka tidak mampu melakukan perlawanan dengan membuat semisal Al-Quran. Berikut ini ayat-ayat yang menjelaskan hal tersebut:

Katakanlah, Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) Al-Qur'an ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain. (QS. Al-Isr [17]: 88)

Apakah pantas mereka mengatakan dia (Muhammad) yang telah membuatbuatnya? Katakanlah, Buatlah sebuah surah yang semisal dengan surah (AlQur'an), dan ajaklah siapa saja di antara kamu orang yang mampu (membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (QS. Ynus [10]: 38)

Bahkan mereka mengatakan, Dia (Muhammad) telah membuat-buat Al-Qur'an itu. Katakanlah, (Kalau demikian), datangkanlah sepuluh surah semisal dengannya (Al-Qur'an) yang dibuat-buat, dan ajaklah siapa saja di antara kamu yang sanggup selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. (QS. Hd [11]: 13)

15

Mushtafa Shadiq al-Rafii, Ijaz al-Quran wa al-Balaghah al-Nabawiyyah, (Kairo: Al-Maktabah At-Taufiqiyyah, t.th.) hal. 144.

Maka cobalah mereka membuat yang semisal dengannya (Al-Qur'an) jika mereka orang-orang yang benar. (QS. Ath-Thr [52]: 34)

Jika kamu tidak mampu membuatnya, dan (pasti) tidak akan mampu, maka takutlah kamu akan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. (QS. Al-Baqarah [2]: 24) Ayat-ayat di atas, semuanya berisi tentang tantangan Allah swt. pada orangorang kafir untuk mendatangkan yang semisal Al-Quran jika mereka menganggapnya ucapan manusia. Dan, ketidakmampuan manusia untuk membuat semisal Al-Quran menunjukkan kebenaran bahwa Al-Quran adalah kalmullh, bukan karya Rasulullah saw. Jika benar merupakan hasil karyanya, tentu dengan kemampuan bahasa dan sastra yang dimilikinya, orang Arab bisa membuat bahkan bisa jadi lebih indah dengan karya Rasulullah saw. sendiri. Tetapi, kenyataannya mereka tidak mampu. Dengan demikian, sangat tidak rasional jika manusia tidak mampu membuat semisal Al-Quran karena pengetahuan dan keterampilannya dicabut dan dihilangkan oleh Allah (ash-sharfah).16 Sejak munculnya paham Mutazilah tentang Al-Quran pada awal abad ke-3 hijriah, diskursus ijz Al-Quran tersebut pada gilirannya melahirkan karya-karya tulis yang secara spesifik membicarakan ijz al-Qurn. Al-Jahizh (w. 255 H) menulis kitab Nazh Al-Quran, Abu Abdillah Muhammad ibn Yazid Al-Wasithi (w. 306 H) dengan kitabnya ijz al-Qurn, yang kemudian oleh Al-Jurjani kitab tersebut disyarahi dengan nama Al-Mutadhad. Selanjutnya, Abu Isa Ar-Rummani (w. 382 H), disusul Al-Qadhi Abu Bakar Al-Baqilani (w. 403 H) menulis kitab Ijz AlQurn, sebuah kitab yang mengulas tentang ijz al-Qurn secara panjang lebar, dan Abu Bakr Abdulqahir bin Abdurrahman Al-Jurjani (w. 471 H) dengan kitabnya Dalil Al-Ijz. Tokoh lain yang juga menulis tentang ijz al-Qurn adalah Abu Sulaiman Hamd ibn Muhammad ibn Ibrahim Al-Khaththabi (w. 388 H), Fakhruddin Ar-Razi (w. 606 H), Ibn Abi Al-Ishbi (w. 654 H) dan Az-Zamlakani (w. 727 H). Sedangkan, karya tulis tentang ijz al-Qurn di masa modern, di antaranya Mushtafa Shadiq Ar-Rafii dengan bukunya Ijz Al-Qurn wa Al-Balghah AnNabawiyyah, Muhammad Abu Zahrah menulis Al-Quran Al-Mujizt Al-Kubr,
16

Baca Hasan Hanafi, Min al-Aqidah ila al-Tsaurah, jil. IV. Hal. 184-189.

kemudian Muhammad Karim Al-Kawwaz dengan Al-Uslub fi Al-Ijz Al-Balghi li Al-Qurn Al-Karm, lalu Aisyah Abdurrahman Bintu Syathi dengan Al-Ijz AlBayni li Al-Qurn al-Karm, selanjutnya Ahmad Izzuddin Abdullah Khalafallah dengan bukunya Al-Qurn Yatahadda, dan Zaglul An-Najjr dengan bukunya Qdhiyyah Al-Ijz Al-Ilmi, dan masih banyak karya tulis lainnya. D. Aspek-aspek Ijz Al-Qurn Al-Quran adalah mukjizat terbesar (al-mujizah al-kubr) bagi Nabi Muhammad saw., sebagai bukti kebenaran risalahnya dan menunjukkan bahwa Al-Quran datang dari Allah swt. Dalam koteks ini, aspek-aspek ijz al-Qurn merupakan alat bukti terhadap kemukjizatan Al-Quran tersebut, sebab aspek-aspek ijz Al-Qurn adalah semua yang terkandung dalam Al-Quran yang membuktikan kebenaran bahwa AlQuran itu datang dari Allah.17 Oleh karena itu, tidak ada kajian yang begitu intensif hingga menyibukkan banyak ulama dari satu generasi ke genarasi berikutnya seperti kajiannya tentang aspek-aspek Ijaz Al-Quran tersebut.18 Namun para ulama berbeda pendapat tentang aspek-aspek Ijaz Al-Quran. Al-Qadhi Iyadh (w. 544 H), misalnya, berpendapat bahwa aspek Ijaz Al-Quran ada empat, (1). Keindahan susunan, , (2) Bentuk susunan dan gaya bahasa yang indah yang berbeda dengan lazimnya, (3) Memuat informasi prediktif yang belum terjadi, (4) Memuat informasi yang jauh telah lalu terjadi. Sementara Al-Qurthubi (w. 684), menyebutkan ada sepuluh aspek-aspek Ijaz Al-Quran dengan menambahkan aspek: (1) terpenuhinya janji-janji yang disebutkan Al-Quran, (2) memuat informasi ilmu pengetahuan syariah dan lainya. (3) memuat hikmah-hikmah yang agung, (4) adanya kesesuaian (tanasub) kandungan isi AlQuran, baik secara eksplisit maupun implisit, (5) memuat informasi hal-hal yang bersifat metafisik. Sementara itu, aspek Ijaz Al-Quran dalam pandangan sarjana modern dikatagorikan dalam enam, yaitu: (1) Al-Quran adalah teks sastra yang tinggi, (2) Ijaz dalam aspek nagham Al-Quran, (3) kitab yang tak terkalahkan dan tidak tertandingi oleh siapa pun, (4). Al-Quran memiliki nilai spiritual yang dapat

17

Ahmad Izzuddin Abdullah Khalafallah, Al-Quran Yatahadda, (Bairut: Dar ash-Shadir, 2001). Hal. 126. 18 Muhammad al-Thahir bin Asyur, Muqaddimah Tafsir al-Tahrr wa at-Tanwr, (Tunis: Dar Sahnun, 1956) Hal. 78.

memberikan sentuhan jiwa kepada manusia, (5) Ijaz Al-Quran dari sisi jumlah kalimat dalam Al-Quran.19 Jika dianalisis pendapat tentang aspek-aspek Ijaz Al-Quran maka dapat disimpulkan dalam dua hal: 20 1. Ijaz Al-Quran yang berkaitan dengan manhaj bayani, yakni ijaz yang berkaitan dengan keindahan bahasa dan sastra, serta makna dan kandungan Al-Quran. 2. Ijaz Al-Quran yang berkaitan dengan informasi tentang sejarah dan informasi yang bersifat prediktif, maupun ilmu pengetahuan yang bersifat saintifik maupun lainnya. Berbeda halnya dengan Imam Al-Qurthubi yang menyebutkan bahwa aspek kemukjizatan Al-Quran ada 10 yaitu: 1. Nazhm Al-Bad atau susunan bahasa yang indah dan berbeda dengan susunan umum yang digunakan masyarakat Arab ketika itu. 2. Al-Uslb atau diksi yang digunakan berbeda dengan diksi-diksi dalam bahasa Arab. 3. Al-Jazlah atau al-fashhah. 4. At-Tasharruf fi lisn al-arab. 5. Kabar tentang penciptaan dunia. 6. Al-waf bi al-wadi. 7. Mengabarkan perihal gaib. 8. Memuat berbagai ilmu yang dibutuhkan makhluk. 9. Hukum-hukum yang detail dan komprehensif yang tidak mungkin bisa dibuat oleh manusia. 10. At-Tansub.21

E. Penutup Jika ada kesalahan dalam makalah ini mohon dimaklumi dan semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Jika ada kelebihannya, itu semua tidak lain datangnya dari Allah swt. Terakhir, semoga guru kita dan keluarganya yang mengajarkan ilmu

19 20

Ahmad Izzuddin Abdullah Khalafallah, Al-Quran Yatahadda, hal. 166-170. Ahmad Izzuddin Abdullah Khalafallah, Al-Quran Yatahadda, hal. 126-128. 21 Muhammad ibn Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jmi li Ahkm Al-Qurn, hal. 75.

ini (Dr. Ahmad Fathoni) mendapatkan barakah dalam hidupnya, di dunia dan akhirat serta mendapat ridha dari Allah swt. Amin.

F. Daftar Pustaka Muhammad ibn Ahmad Al-Qurthubi, Al-Jmi li Ahkm Al-Qurn, (Riyadh: Dar Alam Al-Kutub, 2003) Abu Al-Husain Ahmad ibn Faris, Mujam al-Maqyis f al-Lughah, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th) Al-Imam Al-Jauhari, Ash-Shihah f Ulm Al-Lughah wa Funnuha, (Beirut: Dar al-Hadharah al-Arabiyyah, t.th) Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Itqn f Ulm al-Qurn, (Mesir: Maktabah Mushtafa al-Halabi, 1370 H) Muhammad Thahir ibn Asyur, At-Tahrir wa At-Tanwir, (Tunisia: Dar Sahnun, 1997) Badr al-Din Muhammad bin Abdillah Al-Zarkasyi, Al-Burhn f Ulm al-Qurn, (Libanon: Dar Al-Ihya Al-Kutub, 1957) Hasan Hanafi, Min al-Aqidah ila ats-Tsaurah, (Kairo: Maktabah Madbuli, t.th) Al-Baqilani, Ijz Al-Qurn, (Kairo: Dar Al-Marifah, t.th.) M. Nur Kholis Setiawan, Al-Quran Kitab Sastra Terbesar, (Yogyakarta: eLSAQ Press, 2005) Ibn Qutaibah, Tawl Musykil al-Qurn, (Kairo: t.p. 1326 H) Mushtafa Shadiq al-Rafii, Ijaz al-Quran wa al-Balaghah al-Nabawiyyah, (Kairo: al-Maktabah al-Taufiqiyyah, tt) Ahmad Izzuddin Abdullah Khalafallah, Al-Quran Yatahadda, (Bairut: Dar ashShadir, 2001) Muhammad al-Thahir bin Asyur, Muqaddimah Tafsir al-Tahrr wa at-Tanwr, (Tunis: Dar Sahnun, 1956)