You are on page 1of 2

Dari Mata Turun Ke Hati, Dari Kata Turun Ke Aksi Dari mata turun ke hati, dari kata turun

ke aksi, sebuah kalimat motivasi bagi saya yang diperoleh dari seorang teman dan ternyata itu salah satu tagline dari calon Walikota Bandung yang saat ini sudah menjadi Walikota Bandung. Sebuah ajakan untuk kita melakukan kebaikan dari apa yang kita lihat, kita dengar, dan kita rasakan sehari-hari. Tapi bagi saya selain sebuah ajakan ternyata ada makna lain dari kalimat ajakan tersebut yang justru berbanding terbalik dari ajakan kebaikan. Dan saya hubungkan dengan budaya korupsi yang biasa terjadi di kampus. Mahasiswa merupakan bagian dari struktur masyarakat yang terdidik. Idealnya kegiatan mahasiswa adalah membaca, berdiskusi, menulis, riset, dan lain-lain. Kini ketika angin globalisasi semakin sejuk, maka mahasiswapun mulai

pragmatis. Bukan hanya sekedar pragmatis mereka juga melupakaan nilai nilai yang harusnya sebagai agent of change mereka miliki yaitu kejujuran. Namun faktanya semakin banyak mahasiswa yang membudayakan

ketidakjujuran ini. Budaya budaya ketidakjujuran di kalangan mahasiswa misalnya, mencontek, plagiat, titip absen,

memanipulasi laporan keuangan kegiatan, dan lain-lain. Lalu apa hubungannya dengan kalimat tagline ajakan tersebut? Jika kita perhatikan dan tinjau secara sosiologis dan psikologis apa

yang dilihat

dan yang terdapat disekitar manusia akan

mempengaruhi gerakan manusia itu sendiri. Kalau contoh dikalangan mahasiswa seperti ini, kita lihat teman kita mencontek saat ujian lalu hati kita bilang tidak, tapi pasti ada perasaan yang mengajak kita untuk mencobanya karena kepepet tidak tahu jawaban, dan sekali kita bilang aah sekali saja, lagi pula tidak ada yang tahu, besok-besok tidak lagi, naah ini mengindikasikan kalau besok-besok justru dia akan mencontek lagi. Dan akhirnya tindakan atau aksi mencontek dia menjadi sikap atau tabiat pada dirinya. Sama halnya dengan aksi ketidakjujuran lainnya, saat kita melihat maka hati akan berkomentar, jika hati kita terlalu banyak ditutupi dengan hal buruk, maka kitapun akan ikut melakukan ketidakjujuran tersebut. Itulah mengapa kita perlu menjaga pandangan dan hati kita. Teruslah berada dilingkungan yang selalu memberikan dan memotivasi kita untuk berbuat baik. Jika kita mau menyelamatkan orang lain yang sudah bertabiat tidak jujur ini maka mulai secara perlahan karena tidaklah mudah. Apapun istilahnya, mau suap, mencontek,

pembobolan, mark up, atau catut tetap saja namanya korupsi alias tidak jujur. Ayo kita lakukan perubahan dimulai dari diri sendiri, kita lakukan perubahan dari apa yang kita lihat, kita dengar, dan kita rasakan di sekitar kita. Dari mata turun ke hati, dari kata turun ke aksi !