You are on page 1of 8

Perilaku Hygiene Perorangan pada Narapidana Penderita Penyakit Kulit dan Bukan Penderita Penyakit Kulit di Lembaga Pemasyarakatan

Klas IIA Kupang

PERILAKU HYGIENE PERORANGAN PADA NARAPIDANA PENDERITA PENYAKIT KULIT DAN BUKAN PENDERITA PENYAKIT KULIT DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KLAS II A KUPANG TAHUN 2010 Tuti Astriyanti 1, Mariana Dinah Charlota Lerik 2, Mustakim Sahdan 3 Abstract: Personal hygiene is an effort by someone to maintain, improve and enhance the value of their health and prevent disease. Kind of personal hygiene includes digestive hygiene, oral hygiene and dental, eye hygiene, hair hygiene, hand hygiene, cleanliness of the foot, and skin hygiene. Skin hygiene is a major factor that can cause skin disease. The purpose of this study is to investigate the personal hygiene behavior of prisoner with skin disease and prisoner without skin disease in a Institute of Prison Class A II Kupang. The type of research used is descriptive research. The population in this study are all inmates at Institute of Prison Class A II Kupang in September 2010 as many as 380 people. Sampling was done for prisoner with skin disease by using a fixed-disease technique, although for prisoner without skin disease purposive sampling technique. The samples were 28 people prisoner with skin disease and 28 people prisoner without skin disease. The results showed that knowledge of 11 people prisoner with skin disease about personal hygiene is adequate that is 39.28 % and knowledge of 17 people prisoner without skin disease about personal hygiene is adequate that is 60.71 %. The attitude of 27 people people prisoner with skin disease to personal hygiene is positive attitude that is 96.42%, and the attitude of 28 people prisoner without skin disease to personal hygiene is positive attitude that is 100 %. The Practice hygiene oe 16 people prisoner with skin disease is good that is 57.14 % and the practice hygiene of 21 people prisoner without skin disease is good that is 75%. Keywords : personal hygiene, prisoner, skin diseases PENDAHULUAN Penyakit kulit merupakan salah satu penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat Indonesia. Menurut Direktur Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2006 penyakit kulit dan jaringan subkutan berdasarkan prevalensi 10 penyakit terbanyak pada masyarakat Indonesia menduduki peringkat kedua setelah infeksi saluran pernapasan akut dengan jumlah 501.280 kasus atau 3,16% (Bahar, 2009). Data penyakit kulit dan jaringan subkutan di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berada pada posisi kelima dengan jumlah 287.263 kasus atau 7,63% (Dinkes Prov NTT, 2007). Berdasarkan 10 penyakit terbesar dari tiap Puskesmas di Kota Kupang, penyakit kulit di bagi menjadi dua yakni penyakit kulit alergik pada peringkat enam sebanyak 15.788 kasus atau 5,2% dan penyakit kulit infeksi pada peringkat tujuh sebanyak 12.388 kasus atau 4,1% (Dinkes Kota Kupang, 2008). (Harahap, 2000). Faktor yang berperan dalam penularan penyakit kulit adalah sosial ekonomi yang rendah, hygiene perorangan yang jelek, lingkungan yang tidak saniter, dan perilaku yang tidak mendukung kesehatan. Faktor yang paling dominan adalah kemiskinan dan hygiene perorangan yang jelek (Notobroto, 2005).

Hygiene perorangan merupakan usahausaha yang dilakukan seseorang untuk memelihara, memperbaiki dan mempertinggi nilai kesehatannya, serta mencegah timbulnya penyakit (Adam, 1992). Hygiene perorangan yang baik akan meminimalkan pintu masuk mikroorganisme dan mencegah seseorang terkena penyakit. Begitupun sebaliknya, hygiene perorangan yang tidak baik akan mempermudah tubuh terserang berbagai penyakit (Sari, 1997). Hygiene perorangan meliputi hygiene pencernaan, kebersihan mulut dan gigi, hygiene mata, kebersihan rambut, kebersihan tangan, kebersihan kaki, dan kebersihan kulit. Kebersihan kulit merupakan faktor utama Penyakit kulit disebabkan oleh bakteri, virus, yang dapat menimbulkan penyakit kulit jamur, infestasi oleh parasit dan reaksi alergi (Adam, 1992).
1) 2) 3) Alumni Jurusan PKIP FKM Undana Staf pengajar Jurusan PKIP FKM Undana Staf pengajar Jurusan KLKK FKM Undana

MKM Vol. 05 No. 01 Des 2010

Hasil studi Fernawan (2008) penyakit kulit sering menyebar dalam anggota keluarga, satu asrama, kelompok anak sekolah, pasangan seksual bahkan satu kampung atau desa. Tempat-tempat yang padat penduduknya seperti asrama serta tempattempat yang lembab dan kurang mendapat sinar matahari menjadi faktor utama dalam penyebaran penyakit kulit. Zulfah (2008) menemukan bahwa Lembaga Pemasyarakatan juga merupakan tempat yang rentan dalam penyebaran penyakit. Hasil studinya menunjukkan bahwa narapidana menderita penyakit kulit, berkaitan dengan perilaku yang mereka lakukan sebelum masuk atau selama mendekam di Lembaga Pemasyarakatan sehingga proses penularan penyakit sangat mudah terjadi. Barus (2007) menemukan penyakit yang dapat menular di Lembaga Pemasyarakatan yakni tuberkulosis, infeksi saluran pernapasan dan pencernaan, serta penyakit kulit. Penularan penyakit kulit terjadi karena sanitasi yang kurang baik, air bersih sulit diperoleh, pakaian jarang diganti, dan kerap pula sehelai handuk dipakai beramai-ramai. Sel yang kotor dan pengap juga turut berperan. Berdasarkan hasil rekapan di Klinik Kesehatan Lembaga Pemasyarakatan klas II A Kupang, diketahui pada tahun 2008 urutan teratas penyakit yang sering diderita adalah penyakit kulit yakni sebanyak 1903 kasus atau 30,11 % dan pada tahun 2009 masih yang tertinggi yakni sebanyak 1729 kasus atau 17,55 %.

ditumpuk dalam kamar, dan tidak mengganti sprei tempat tidur secara berkala. Tujuan umum dari penelitian ini adalah mengetahui perilaku hygiene perorangan pada narapidana penderita penyakit kulit dan bukan penderita penyakit kulit di Lembaga Pemasyarakatan klas II A Kupang. Tujuan Khusus yaitu mengetahui pengetahuan narapidana penderita penyakit kulit dan bukan penderita penyakit kulit mengenai hygiene perorangan, mengetahui sikap narapidana penderita penyakit kulit dan bukan penderita penyakit kulit terhadap hygiene perorangan, dan mengetahui praktek hygiene perorangan narapidana penderita penyakit kulit dan bukan penderita penyakit kulit. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif (Notoatmodjo, 2005), untuk memperoleh gambaran mengenai penerapan hygiene perorangan oleh narapidana penderita penyakit kulit dan bukan penderita penyakit kulit. Penelitian dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Kupang. Penelitian ini direncanakan pada bulan bulan Desember 2009 sampai November 2010.

Populasi merupakan keseluruhan objek penelitian (Notoadmodjo,2005). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Kupang pada bulan September Berdasarkan observasi awal yang dilakukan 2010 sebanyak 380 orang. oleh penulis selama tiga hari di Lembaga Pemasyarakatan, menunjukkan bahwa Sampel merupakan sebuah subset yang narapidana tetap memakai pakaian yang dicuplik dari populasi yang akan diamati atau dikenakan kemarin, selesai bekerja tidak diukur oleh peneliti (Murti,2006). mencuci kaki dan tangan dengan baik dan Pengambilan sampel pada Narapidana benar, serta tidak mencuci tangan dengan penderita penyakit kulit dilakukan dengan bersih sebelum makan. Berdasarkan hasil menggunakan teknik fixed-disease sampling, wawancara penulis pada dua orang artinya pencuplikan berdasarkan status narapidana dan seorang pegawai Lembaga penyakit subyek yang akan diteliti, yakni Pemasyarakatan menunjukkan bahwa narapidana penderita penyakit kulit sebanyak narapidana tidur bersama dalam satu kamar 28 orang. Untuk penentuan sampel dengan ukuran 5 x 2 m terdiri dari 7 sampai narapidana bukan penderita penyakit kulit, 9 narapidana, pakaian kotor digantung atau pengambilan sampel dilakukan dengan
34

Perilaku Hygiene Perorangan pada Narapidana Penderita Penyakit Kulit dan Bukan Penderita Penyakit Kulit di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Kupang

menggunakan teknik purposive sampling, artinya pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan tertentu yang dibuat oleh peneliti sendiri, jadi sampel yang digunakan sebanyak 28 orang. Sehingga total sampel dalam penelitian ini adalah 56 orang Narapidana. CARA, BAHAN PENGUMPULAN DATA DAN

Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui bahwa distribusi narapidana berdasarkan jenis kelamin di Lembaga Pemasyarakatan klas II A Kupang bulan September 2010 yang tertinggi adalah laki-laki yaitu sebanyak 368 orang (96. 84%). Sedangkan usia narapidana dapat dilihat pada tabel 2.
Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Kupang Jumlah

ALAT Tabel 2 Distribusi Narapidana Berdasarkan Umur di


Persentase (%) 20-24 93 24.47 25-29 80 21.05 30-34 49 12.89 35-39 50 13.16 40-44 31 8.16 45-49 28 7.38 50-54 19 5.00 55+ 30 7.89 Total 380 100 Sumber: Data Narapidana Bulan September 2010 di LP Klas IIA Kupang Umur

Data primer dari penelitian ini adalah data yang didapat oleh peneliti dari kuesioner ditempat penelitian. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari instansi terkait yaitu data penyakit kulit di klinik kesehatan dan data narapidana di bagian registrasi Lembaga Pemasyarakatan klas II A Kupang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup dan kamera sebagai alat dokumentasi. Data yang telah dikumpulkan dari kuesioner dan wawancara akan dikelola secara manual dengan cara tabulasi. Selain itu juga menggunakan alat elektronik yaitu komputer. Data-data ini disajikan dalam bentuk tabel yang kemudian dinarasikan. HASIL DAN BAHASAN Gambaran Umum Hasil Penelitian Lembaga Pemasyarakatan klas II A Kupang dibangun pada tahun 1978, dengan luas tanah 40 Ha dan luas bangunan 264.340 m. Lembaga Pemasyarakatan ini mulai aktif beroperasional pada tahun 1980 hingga sekarang. Jumlah narapidana yang tercatat pada bulan September 2010 sebanyak 380 orang, yang terdiri dari 368 orang laki-laki dan 12 orang perempuan. Secara rinci dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1 Distribusi Narapidana Berdasarkan Jenis Kelamin di Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Kupang Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Jumlah 368 12 Persentase (%) 96.84 3.16

Berdasarkan tabel 2 dapat diketahui bahwa distribusi narapidana berdasarkan umur yang terbanyak adalah responden yang berusia 20-24 tahun yaitu sebanyak 93 orang (24.47%). Tingkat pendidikan narapidana yang ada di Lembaga Pemasyarakatan klas II A Kupang dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3 Distribusi Narapidana Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Kupang Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase (%) Sarjana 6 1.58 SMA 30 7.89 SMP 100 26.32 SD 134 35.26 Tidak Tamat SD 60 15.79 Tidak Sekolah 50 13.16 Total 380 100 Sumber: Data Narapidana Bulan September 2010 di LP Klas IIA Kupang

Berdasarkan tabel 3 dapat diketahui bahwa distribusi narapidana berdasarkan tingkat pendidikan di Lembaga Pemasyarakatan klas II A Kupang bulan September 2010 yang paling banyak adalah SD yaitu sebanyak 134 orang (35.26%).

Total 380 100 Sumber: Data Narapidana Bulan September 2010 di LP Klas IIA Kupang 35

MKM Vol. 05 No. 01 Des 2010

Tingkat Pengetahuan Responden


Tabel 4. Distribusi Responden Narapidana Penderita dan Bukan Penderita Penyakit Kulit Berdasarkan tingkat pengetahuan hygiene perorangan dan penyakit kulit di Lembaga Pemasyarakatan klas II A Kupang Tingkat Penderita Bukan Penderita Pengetahu Jumlah Persenta Jumlah Persent Total an se (%) ase (%) Baik 9 32.14 11 39.29 Cukup 11 39.28 17 60.71 Kurang 8 28.58 0 0 Total 28 100 28 100 56

Tabel 6 Distribusi Responden Narapidana Penderita dan Bukan Penderita Penyakit Kulit Berdasarkan Praktek Hygiene Perorangan di Lembaga Pemasyarakatan klas II A Kupang Bukan Praktek Penderita Penderita Tot Hygiene Perorang Jum Persent Jum Persent al an lah ase(%) lah ase(%) Baik 16 57.14 21 75 Sedang Buruk Total 8 4 28 28.57 14.29 100 7 0 28 25 0 100 56

Berdasarkan tabel 4 dapat diketahui bahwa narapidana penderita penyakit kulit yang memiliki pengetahuan cukup sebanyak 11 orang (39.28%), sedangkan narapidana bukan penderita penyakit kulit yang memiliki pengetahuan kurang sebanyak 17 orang (60.71%). Sikap Responden
Tabel 5 Distribusi Responden Narapidana Penderita dan Bukan Penderita Penyakit Kulit Berdasarkan Sikap terhadap Hygiene Perorangan dan Penyakit Kulit di Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Kupang Penderita Bukan Penderita Total Jumlah Persent Jumlah Persentase ase (%) (%) Positif 27 96.42 28 100 Negatif 1 3.58 0 0 Total 28 100 28 100 56 Sikap

BAHASAN Pengetahuan Hygiene Perorangan dan Penyakit Kulit Pengetahuan hygiene perorangan dan penyakit kulit adalah kemampuan narapidana untuk mengetahui, mengingat, dan memahami hygiene perorangan dan penyakit kulit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, narapidana penderita penyakit kulit yang mempunyai tingkat pengetahuan baik sebanyak 9 orang (32.14%) dan narapidana bukan penderita penyakit kulit yang mempunyai tingkat pengetahuan baik sebanyak 11 orang (39.29%). Narapidana penderita dan bukan penderita penyakit kulit sama-sama memiliki pengetahuan yang baik mengenai definisi hygiene perorangan, definisi kebersihan kulit, mandi, penyebab dan gejala kutu air, penyebab dan gejala urtikaria, serta penyebab skabies. Perbedaannya, narapidana bukan penderita penyakit kulit mempunyai pengetahuan yang baik mengenai berpakaian, penyebab dan gejala dermatitis, dan penyebab kusta. Sembilan orang narapidana penderita penyakit kulit yang berpengetahuan baik, tiga orang berpendidikan SMA, empat orang berpendidikan SMP dan dua orang berpendidikan SD, sedangkan narapidana bukan penderita penyakit kulit memiliki pengetahuan yang baik mengenai definisi hygiene perorangan, definisi kebersihan kulit, mandi, berpakaian, penyebab dan gejala dermatitis, penyebab dan gejala kutu air, penyebab dan gejala urtikaria, penyebab skabies, serta penyebab kusta. Narapidana

Berdasarkan tabel 5 dapat diketahui bahwa narapidana penderita penyakit kulit yang memiliki sikap positif sebanyak 27 orang (96.42%), sedangkan narapidana bukan penderita penyakit kulit seluruhnya memiliki sikap positif yakni sebanyak 28 orang (100%). Praktek Responden Pada tabel 6 dapat diketahui bahwa narapidana penderita penyakit kulit yang memiliki praktek hygiene perorangan yang baik sebanyak 16 orang (57.14%), sedangkan narapidana bukan penderita penyakit kulit memiliki praktek hygiene perorangan yang baik sebanyak 21 orang (75%).
36

Perilaku Hygiene Perorangan pada Narapidana Penderita Penyakit Kulit dan Bukan Penderita Penyakit Kulit di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Kupang

bukan penderita penyakit kulit yang berpengetahuan baik, berpendidikan SMA sebanyak tujuh orang dan SMP sebanyak empat orang. Pengetahuan responden yang baik tentunya dipengaruhi oleh tingkat pendidikannya. Hal ini sejalan dengan teori Sadulloh dikutip Setiadi (2008) yang menyatakan bahwa, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan adalah pengalaman, keyakinan, sosial budaya, dan tingkat pendidikan. Semakin tinggi tingkat pendidikannya, semakin tinggi pula pengetahuan yang dimilikinya. Hasil penilitian ini menunjukkan bahwa, tingkat pengetahuan yang terbanyak adalah cukup yaitu pada narapidana penderita penyakit kulit sebanyak 11 orang (39.28%) dan narapidana bukan penderita penyakit kulit sebanyak 17 orang (60.71%). Narapidana penderita dan bukan penderita penyakit kulit sama-sama memiliki pengetahuan yang baik mengenai definisi hygiene perorangan, guna mandi, dan guna pakaian. Perbedaannya, narapidana bukan penderita penyakit kulit mempunyai pengetahuan yang baik mengenai definisi kebersihan kulit, tata cara mandi, kebiasaan pinjam-meminjam handuk dan pakaian, gejala dermatitis serta kutu air. Berdasarkan data diketahui bahwa, 11 responden yang berpengetahuan cukup berpendidikan SMA sebanyak satu orang, SMP sebanyak dua orang, SD sebanyak enam orang, dan tidak sekolah sebanyak dua orang. Sedangkan narapidana bukan penderita penyakit kulit memiliki pengetahuan yang baik mengenai definisi hygiene perorangan, definisi kebersihan kulit, guna dan tata cara mandi, kebiasaan pinjammeminjam pakaian dan handuk, serta gejala dermatitis dan kutu air. Berdasarkan data diketahui bahwa, 17 responden yang berpengetahuan cukup berpendidikan SMA sebanyak tujuh orang, SMP sebanyak lima orang, dan SD sebanyak lima orang. Hasil penilitian ini juga menunjukkan bahwa, tingkat pengetahuan kurang pada narapidana penderita penyakit kulit sebanyak 8 orang (28.58%), sedangkan pada narapidana bukan penderita penyakit kulit

tidak ada yang berpengetahuan kurang. Narapidana penderita penyakit kulit memiliki pengetahuan yang baik mengenai definisi hygiene perorangan dan guna mandi. Berdasarkan data diketahui bahwa, delapan responden yang berpengetahuan kurang tidak sekolah sebanyak empat orang, SD sebanyak dua orang, SMP sebanyak dua orang. Informasi yang minim dan pendidikan yang rendah mengakibatkan wawasan berpikir narapidana penderita penyakit kulit menjadi sempit dan terbatas. Hal ini akan berdampak pada pola atau perilaku hidup mereka. Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Rogers dikutip Notoatmodjo (2003) yang menyatakan bahwa pengetahuan merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya perilaku. Perilaku yang didasari pengetahuan akan bertahan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari pengetahuan. Sejalan pula dengan teori yang dikemukakan oleh Karr dikutip Notoatmodjo (2003), menjelaskan bahwa salah satu faktor yang diperlukan untuk membentuk perilaku adalah informasi yang terjangkau yaitu adanya informasi yang terkait dengan tindakan yang akan diambil. Sikap terhadap Hygiene Perorangan dan Penyakit Kulit Sikap terhadap hygiene perorangan dan penyakit kulit adalah reaksi atau respon narapidana berdasarkan unsur-unsur kognitif, afektif dan psikomotorik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, sikap narapidana penderita penyakit kulit terhadap hygiene perorangan adalah positif yakni sebanyak 27 orang (96.42%) dan sikap narapidana bukan penderita penyakit kulit terhadap hygiene perorangan adalah positif yakni sebanyak 28 orang (100%). Sikap negatif narapidana penderita penyakit kulit ditunjukkan pada setiap komponen pembentuk sikap yakni, afektif dan psikomotorik. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan seorang narapidana penderita penyakit kulit, diketahui bahwa narapidana yang sering meminjamkan pakaian kepada
37

MKM Vol. 05 No. 01 Des 2010

teman sekamar di latar belakangi oleh rasa setia kawan, alasan mereka adalah tidak enak menolak permintaan teman sekamar. Hal ini tidak sesuai dengan pernyataan Depkes (1988) yaitu kebiasaan memakai pakaian dan handuk yang berganti-gantian merupakan kebiasaan yang mengakibatkan penularan penyakit kulit. Berdasarkan data diketahui bahwa, terdapat perbedaan sikap positif pada komponen pembentuk sikap, yakni narapidana bukan penderita penyakit kulit lebih bersikap positif terhadap komponen kognitif pada item kebersihan kulit, dan tata cara mandi. Komponen afektif pada berpakaian dan komponen psikomotorik pada item mandi. Hal ini dikarenakan dalam diri setiap narapidana mempunyai pandangan dan perasaan yang berbeda-beda, serta adanya perbedaan kepercayaan atau keyakinan, kehidupan emosional, dan kecenderungan untuk bertindak. Disebutkan oleh Azwar (2009) bahwa pandangan dan perasaan dipengaruhi oleh ingatan masa lalu, oleh apa yang diketahui, dan kesan terhadap apa yang sedang terjadi. Hal tersebut dapat membentuk sikap yang berbeda-beda antara narapidana yang satu dengan yang lain. Sejalan pula dengan yang dikemukakan oleh Notoatmodjo (2003) bahwa perilaku seseorang akan dipengaruhi oleh kepercayaan, keyakinan, kehidupan emosional dan kecenderungan untuk berperilaku yang semua itu merupakan komponen sikap yang dapat membentuk sikap secara utuh. Praktek Hygiene Perorangan Praktek hyigiene perorangan narapidana penderita penyakit kulit adalah baik yakni sebanyak 16 orang (57.14%) dan praktek hyigiene perorangan narapidana bukan penderita penyakit kulit adalah baik yakni sebanyak 21 orang (75%). Praktek hygiene perorangan narapidana penderita penyakit kulit yang buruk ditunjukkan pada item frekuensi mandi, frekuensi mengganti pakaian, dan meminjam atau meminjamkan pakaian dan handuk
38

kepada orang lain. Narapidana penderita penyakit kulit yang mempunyai praktek hygiene perorangan buruk sebanyak empat orang. Tiga orang hanya mandi satu kali dalam sehari. Berdasarkan hasil wawancara terhadap ketiga orang narapidana penderita penyakit kulit itu, diketahui bahwa seorang narapidana mandi satu kali sehari, banyak atau sedikit air yang ada tidak mempengaruhinya dalam berperilaku mandi. Narapidana tersebut beranggapan bahwa jika mandi dua atau tiga kali dalam sehari, maka badannya akan menjadi lemah dan tidak kuat dalam bekerja. Dua orang narapidana lainnya mengatakan bahwa mereka mandi satu kali dalam sehari karena air bersih yang terbatas dan harus mengantri untuk mengambil air. Perilaku tersebut tidak sesuai dengan pernyataan Depkes (1988) yang menyatakan bahwa mandi sekurangkurangnya dua kali dalam sehari agar terhindar dari bakteri dan kuman, selain itu dapat membersihkan debu dan meningkatkan kesegaran tubuh. Sejalan pula dengan hasil penelitian Notobroto (2005) yaitu frekuensi mandi berhubungan dengan terjadinya penyakit kulit. Semakin jarang narapidana mandi, semakin berpeluang besar terkena penyakit kulit. Hasil wawancara peneliti dengan salah satu pegawai diketahui bahwa, ketersediaan air bersih selalu kurang, tidak dapat memenuhi kebutuhan seluruh narapidana. Sumber air bersih yang ada, di dapat dari PDAM dan pengisian dari tangki air. Air dari PDAM mengalir hanya dua minggu sekali, bahkan akhir-akhir ini tidak lagi mengalir, sedangkan dari tangki air, diisi empat atau lima kali sehari dengan kapasitas 5000 ltr per tangki. Masalah inilah yang menyebabkan sebagian narapidana hanya mandi sekali dalam sehari, ini pula yang dapat menimbulkan penyakit kulit. Hal ini sejalan dengan penelitian Notobroto (2005) yang mengungkapkan bahwa penyediaan air bersih merupakan kunci utama yang berperan terhadap penularan penyakit skabies pada para santri di Pondok Pesantren.

Perilaku Hygiene Perorangan pada Narapidana Penderita Penyakit Kulit dan Bukan Penderita Penyakit Kulit di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Kupang

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari empat orang yang berpraktek hygiene perorangan yang buruk diketahui bahwa dua orang hanya mengganti pakaian satu kali sehari. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan seorang narapidana penderita penyakit kulit, diketahui bahwa narapidana tersebut, setiap hari hanya sekali mengganti pakaian. Alasannya karena sudah menjadi kebiasaan sebelum masuk Lembaga Pemasyarakatan pun sudah seperti itu. Hal ini tidak sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Depkes (1988), yakni pakaian sebaiknya diganti setelah beraktivitas atau bekerja. Saat bekerja atau beraktivitas badan akan mengeluarkan keringat sehingga harus dibersihkan dan menggantinya dengan yang bersih. Karena keringat yang berlebihan menyebabkan badan berkelembaban tinggi dan menimbulkan bau yang tidak enak, sehingga kuman-kuman penyakit lebih mudah untuk berkembang biak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa empat orang yang berpraktek hygiene perorangan yang buruk diketahui sering meminjam atau meminjamkan pakaian dan handuk kepada orang lain. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan dua orang narapidana penderita penyakit kulit, diketahui bahwa sudah menjadi hal yang wajar bila sesama teman sekamar pinjam-meminjam pakaian dan handuk. Alasannya karena, persediaan baju yang minim, sehingga lebih mudah meminjam baju teman sekamar. Narapidana penderita penyakit kulit juga mangatakan bahwa di dalam kamar mereka hanya terdapat satu buah handuk saja. Handuk tersebut lah, yang mereka gunakan beramairamai setiap harinya. Hal ini sejalan dengan penelitian Barus (2007) yaitu penyakit yang dapat menular di Lembaga Pemasyarakatan adalah penyakit kulit. Penularan penyakit kulit terjadi karena pemakaian pakaian dan handuk secara beramai-ramai. Sejalan pula dengan pernyataan Dharmojono (2001) yang mengungkapkan bahwa cara penularan penyakit jamur pada manusia adalah melalui kontak langsung dengan penderita atau kontak langsung dengan peralatan, baju, dan sisir.

DAFTAR PUSTAKA Adam, Sjamsunir. 1992. Hygiene Perseorangan. Jakarta : Bhratara. Azwar, Saifuddin. 2009. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Bahar, Ardiansyah. 2009. Sekilas Tentang Penyakit (online). Lihat di http://arbaafivone.blogspot.com/2009/02/sekilastentang-penyakit.html. akses 09 Januari 2010. Baratawidjaja, Karnen. 2001. Mengenal Alergi. Jakarta : Djambatan. Barus, Deni Muliya, Mukhlison Widodo, dan Taufik Alwie. 2007. Lembaga Pemasyarakatan atau Lembaga Pembinasaan. Majalah Gatra, 19 April 2007.lihat di http://www.infoanda.com/ wap/m/link.php?lh=UVALXQUGVlUM. akses 27 Januari 2010. Besford, John. 1996. Mengenal Gigi Anda : Petunjuk Bagi Orangtua. Jakarta : Arcan. Boedihardjo. 1985. Pemeliharaan Kesehatan Gigi Keluarga. Surabaya : Airlangga University Press. Dharmojono, H. 2001. Penyakit Menular dari Binatang ke Manusia. Jakarta : Milenia Populer. Depkes RI Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan. 2003. Pedoman Pelaksanaan Kewaspadaan Universal di Pelayanan Kesehatan. Jakarta : Departeman Kesehatan. Depkes RI Direktorat Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat. 1988. Peranan Wanita dalam Kebersihan. Jakarta : Departeman Kesehatan. Depkumham RI Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. 2006. Undang Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakaan. Jakarta : Departemen Hukum dan HAM. Dinas Kesehatan Provinsi NTT. 2007. Profil Kesehatan Provinsi NTT Tahun 2007. Dinas Kesehatan Kota Kupang . 2008. 10 Penyakit Terbesar pada Puskesmas se Kota Kupang Tahun 2008. Dwikarya, Maria. 2003. Merawat Kulit dan Wajah. Jakarta : Kawan Pustaka. Fernawan, Niky Surya. 2008. Perbedaan Angka Kejadian Skabies di Kamar Padat dan Kamar Tidak Padat di Pondok
39

MKM Vol. 05 No. 01 Des 2010

Pesantren Modern Islam Ppmi Assalaam Surakarta. Solo : Universitas Muhammdiah Surakarta. Lihat di http://etd.eprints.ums.ac.id/4352/1/J50004 0010.pdf. akses 31 Januari 2010. Green, Lawrence, Sigrid Deeds, Marshall Kreautfr, dan Kay Padridge. 1980. Health Education Planning (a diagnostic approach). Amerika : Mayfield Publishing Company. Harahap, Marwali. 2000. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta : Hipokrates. Khomsan, Ali. 2004. Pengantar Pangan dan Gizi. Jakarta : Swadaya. Kusyati, Ns Eni. 2006. Keterampiilan dan Prosedur Laboratorium (Keperawatan Dasar). Jakarta : EGC. Marat. 1982. Sikap Manusia, Perubahan serta Pengukuran. Bandung: Ghalia Indonesia. Murti, Bhisma. 2006. Desain dan Ukuran Sampel untuk Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif di Bidang Kesehatan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. . 2005. Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. . 2005. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta. Notobroto, Hari Basuki, Soedjajadi Keman, dan Isa Marufi. 2005. Faktor Sanitasi Lingkungan Yang Berperan Terhadap Prevalensi Penyakit Scabies (Studi Pada Santri di Pondok Pesantren Kabupaten Lamongan). Jurnal Kesehatan Lingkungan, Volume 2, Nomor 1, Juli 2005. Lihat di http://journal.unair.ac.id/filerPDF/KESLIN G-2-1-02.pdf. akses 03 Januari 2010. Potter, Perry. 2000. Fundamental Keperawatan (Konsep, Proses, dan Praktek). Edisi 4. Jakarta : EGC. Purba, Michael. 2009. Kamus Hukum Internasional dan Indonesia. Jakarta : Widyatamma.

Riwidikdo, Handoko. 2008. Statistik Kesehatan. Yogyakarta : Mitra Cendekia Press. Sari, Sheizi. 2007. Hubungan Faktor Predisposisi Dengan Perilaku Personal Higiene Anak Jalanan Bimbingan Rumah Singgah YMS Bandung. Bandung : Universitas Padjajaran. Lihat di http://resources.unpad.ac.id/unpadcontent/uploads/publikasi_dosen/PDF. akses 28 November 2009. Setiadi. 2008. Konsep dan Proses Keperawatan Keluarga. Yogyakarta : Graha ilmu. Siregar. 2005. Penyakit Jamur Kulit. Jakarta : EGC. Suryabrata, Sumadi. 2000. Pengembangan Alat Ukur Psikologis. Yogyakarta : Andi Offset. Suryani, Eko dan Ircham Machfoedz. 2005. Pendidikan Kesehatan Bagian dari Promosi Kesehatan. Yogyakarta : Fitramaya. Tanjung, Adrianus. 2004. Proses Belajar Aktif Kesehatan Reproduksi Remaja. Jakarta : Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1997 .Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Zulfah, Amalia. 2008. Perencanaan Perbekalan Obat di Poliklinik Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A Narkotika Jakarta Tahun 2007. Jakarta : Universitas Indonesia. Lihat di http://www.digilib. ui.ac.id/file?file=digital/122515S%205355-Gambaran%20perencanaanPendahuluan.pdf. akses 28 November 2009.

40