You are on page 1of 6

Kritik sastra CERPEN TANGIS TANPA AIR MATA karya Let Lativa Saya merupakan penggemar karya-karya sastra

seperti novel, puisi serta cerpen. Setiap kali saya membaca sebuah karya, saya selalu menentukan sendiri ending dari karya tersebut dan berharap akhirnya bisa berakhir dengan dramatis. Dan seringkali saya kecewa apabila yang saya temukan hanya sebuah cerita yang berakhir datar tanpa kesan berarti. Hal inilah yang membuat saya agak sedikit selektif memilih bacaan yang saya kira cukup berkualitas untuk standar saya. Dan pilihan saya jatuh pada salah satu cerpen karya Let Lativa yang berjudul Tangis Tanpa Airmata. Cerpen ini bercerita tentang konflik antar saudara yang terjadi sudah begitu lama, tentang semua kebencian yang terpendam selama bertahun-tahun. Dan hingga akhirnya semua memuncak dan pecah saat salah satu dari mereka meminjam tanpa izin sebuah gaun pesta yang berujung pada sebuah tragedi. Dalam cerpen ini Let Lativa menggambarkan karakter-karakter tokoh dengan sangat mencolok. Antara Arien si gadis pendiam seringkali memendam rasa amarah serta perasaan dan Lola si gadis seronok yang semena-mena dan cuek. Kisah ini dimulai dengan pertemuan Arien dan Lola di teras rumah yang terjadi saat Arien pulang sekolah.

Arien menatap tajam kearah gadis tak dikenal yang duduk di teras rumahnya. Terselip rasa tidak suka yang teramat sangat pada gadis berpenampilan seronok itu. Celana yang dikenakannya sangat pendek dan tshirt ketat yang menyisakan perut serta pinggulnya. Batin arien terus mengumpat, siap dia? Berani-beraninya berpakaian seperti itu di rumah orang? Apa dia sedang menjual diri? Dasar tidak tahu sopan santun. Tapi arien masih bisa menjaga etika. Arien memaksakan senyum sekilas.

Dalam penggambaran bathin seperti ini penulis sengaja sedikit membelokan watak seorang arien yang judes dan berfikiran kasar diburamkan dengan kata-kata masih bisa menjaga etika, yang menggambarkan bahwa arien merupakan anak yang mengerti cara bertata karma. Tentu saja, pengalihan suasana dan karakter membutuhkan kelihaian bercerita (Jamal D. Rahman, 2008)

Berbeda dengan watak Lola yang digambarkan secara gamblang melalui pikiran tokoh lain yang terdapat dalam cerita. Watak lola yang cenderung kasar dan serampangan digambarkan dengan detail yang membuat kita bisa membayangkan bagaimana Lola.

Arien terus-menerus merutuk perbuatan Lola yang sangat menjengkelkan hatinya. Ditemukannya kamar tidur yang selama ini menjadi tempat paling pribadinya, diacak-acak Lola. Kaset DVD berantakan, buku-buku tergeletak diatas lantai serta boneka-boneka yang dilempar sekenanya. Tidak tahu sopan santun ! dia pikir kamar ini kamarnya apa?

Dari segi bahasa, cerpen ini banyak menggunakan majas Ironi. Yang seringkali menggunakan bahasa yang menyinggung perasaan serta sedikit kasar.

Beli baju baru? Biar kembaran sama dia? Ikh najis !

Majas Ironi yang terdapat dalam cerita ini menjadi bumbu penyedap yang sangat membantu penguatan dari karakter. Dan dengan bahasa sindiran kasar ini sebuah cerita akan terasa lebih memiliki taste. Yang membuat cerpen ini serasa menelanjangi perilaku kita yang cenderung bersikap seperti itu saat kita membenci seseorang.

Dalam cerpen ini banyak menggunakan istilah bahasa gaul khas cepen anak ABG yang sedang marak akhir-akhir ini. Tanpa mengindahkan bahasa baku.

Lola berdiri disitu dengan make up berlebihan dan baju yang sangat bagus. Lagi-lagi batin Arien berkecamuk, Ngapain nih anak bangunin orang kayak mau nagih utang.

Dalam cerpen ini banyak kata-kata yang seharusnya menggunakan imbuhan Me- digantikan dengan menambahkan akhiran In untuk menerangkan secara mudah. Serta pemakaian bahasa asing yang terdapat pada kata make-up yang sehendaknya digantikan dengan kata bahasa Indonesia seperti dandanan atau tata rias. Bahasa asing terlanjur menjadi budaya yang sebenarnya ada tata cara penggunaan tersendiri. Bahasa asing [bukan serapan] yang digunakan bersama bahasa Indonesia sebenarnya telah mengacak-acak struktur dan pola kalimat baku. Anak-anak remaja sekarang cenderung menggunakan bahasa asing agar terlihat lebih gaul. Sebenarnya Salah satu syarat bahasa yang baik dan benar adalah pemakaian bahasa yang yang mengikuti kaidah yang dibakukan atau dianggap baku atau pemanfaatan ragam yang tepat dan serasi menurut golongan penutur dan jenis pemakaian bahasa (Moeliono ed., 1991: 19; Badudu, 1989)

Dalam cerpen ini terdapat juga tindakan penghapusan beberapa huruf agar terlihat simple. Ini terlihat dari kata nagih utang yang seharusnya menagih hutang. Bentuk kata seperti itu dirasa mengurangi nilai lebih dalam cerpen tersebut.

Ending dalam novel ini cukup membuat klimaks yang baik untuk sebuah cerita, disini arien terlihat menangis menyesali perbuatannya

Arien hanya bisa ternganga. Hatinya sakit melihat tubuh Lola yang telah kaku dan tertutup selimut. Arien hanya menangis tanpa air mata

Amanat dalam cerpen ini adalah jangan pernah menyumpahi atau berbicara kasar serta mendoakan agar sesuatu yang buruk menimpa seseorang. karena jika doa dan permintaan kita dikabulkan maka kita akan menyesal. Dan walaupun sebenci apapun kita terhadap seseorang hendaknya kita tetap menghormati orang tersebut Terserah dia mau ngapain juga? Kenapa sih masih ada manusia kayak Lola di dunia ini. Kenapa gak mati saja sit uh anak. Bisanya Cuma bikin kesel orang Begitu banyak Nilai moral yang terkandung dalam cerpen ini, Let Lativa dengan cerdas mengkombinasikan alur cerita dan memadatkan dengan beribu makna dan kesan yang bisa kita ambil dari cerpen tersebut.

TANGIS TANPA AIR MATA


Karya Let Lativa

Senja sudah mulai meremang saat Arien tiba dirumah. Arien menatap tajam kearah gadis tak dikenal yang duduk di teras rumahnya. Terselip rasa tidak suka yang teramat sangat pada gadis berpenampilan seronok itu. Celana yang dikenakannya sangat pendek dan tshirt ketat yang

menyisakan perut serta pinggulnya. Batin arien terus mengumpat, siap dia? Berani-beraninya berpakaian seperti itu di rumah orang? Apa dia sedang menjual diri. Sejenak Arien tertegun, kemudian menaiki tangga teras dan terhenti saat gadis itu menoleh kemudian mendekati dan menyapanya hay, kamu Arien ia Arien hanya mengiyakan dengan enggan tanpa keinginan untuk balas bertanya. aku Lola. Lupa ya sama aku? Arien mengernyitkan dahinya, seolah ingin mengingat-ingat. tante Ine yang di Bandung ingat gak? Aku anaknya Arien segera teringat pada tante Ine, adik papanya. Perempuan bermake-up tebal dengan gaya yang terlalu dibuat-buat, dia sangat tidak menyukai tantenya. aku ke dalam dulu Arien bergegas masuk rumah. Perasaanya terganggu. Ia tahu, ia tidak akan pernah bisa menyukai Lola dan sama sekali tak ingin jadi temannya meski gadis itu sepupunya. Arien masuk ke kamarnya dan segera terperangah. Kamarnya tampak kacau balau seperti kapal pecah. Arien terus-menerus merutuk perbuatan Lola yang sangat menjengkelkan hatinya. Ditemukannya kamar tidur yang selama ini menjadi tempat paling pribadinya, diacak-acak Lola. Kaset DVD berantakan, buku-buku tergeletak diatas lantai serta boneka-boneka yang dilempar sekenanya. Tidak tahu sopan santun ! dia pikir kamar ini kamarnya apa? *** Arien terbangun oleh ketukan kencang dipintu dan suara seseorang yg memanggilnya. Sesaat ia merasa gamang oleh suasana asing di sekitarnya. Wajahnya berpaling kea rah jendela, bulan Nampak bersinar menerangi. Ia ingat kalo dia memang sedang tidak tidur dikamarnya. Dengan enggan dia berjalan gontai melangkah ke pintu dan memutar kunci pintu dengan wajah agak terganggu. Lola berdiri disitu dengan make up berlebihan dan baju yang sangat bagus. Lagi-lagi batin Arien berkecamuk, Ngapain nih anak bangunin orang kayak mau nagih utang. sorry aku bangunin, soalnya kamu lama banget bangunnya padahal aku udah mau pergi. Sebentar lagi aku dijemput

Arien masih terpaku, tidak mengerti kenapa Lola harus membangunkannya dengan cara seperti itu. Mau pergi ia udah pergi aja kenapa mesti ngebangunin. Pikiran tersebut melintas dibenaknya dan menimbulkan rasa jengkel dihatinya. terus.. kenapa? aku mau bilang, aku pinjembaju kamu yang ini. Kayaknya pas dan cocok sama aku deh jelas Lola sambil bergaya berputar-putar. Semyumnya lebar tanpa ada sungkan sedikit pun pada Arien. Arien mengamati dengan seksama baju itu dan seketika seluruh kesadarannya tergugah. Matanya terbelalak .. baju itu.. bajuku suaranya lenyap mengawang diudara dan tetap menatap baju itu dengan tatapan memelas ngak apa-apakan, aku lihat baju kamu banyak yang bagus-bagus tapi baju itu.. kenapa gak bilang dulu kan aku bilang sekarang. Tadi kamu tidur ucap Lola santai tanpa rasa bersalah sedikitpun . Rasa marah menggelegak dihati Arien, membuat nafasnya memburu. Setengah mati dia menahan emosi yang berkecamuk, tapi kamu tahu gak itu baju apa?tanyanya dengan suara bergetar menahan amarah. Lola mengerutkan keningnya dengan gaya dibuat-buat yang sangat menjengkelkan. memang baju apa? Baju pesta kan? tau gak pesta apa? nada suara Arien mulai meninggi. Bibirnya bergetar dan matanya mulai basah karena air mata yang merebak mana aku tau, aku kan Cuma itu baju buat pesta ulang tahun aku tahu teriak Arien sekuat tenaga, dia sudah tak dapat lagi menahan semua rasa kesal dan amarah yang menumpuk hingga akhirnya meledak ya aku kan gak tau Rien makanya Tanya dulu! jangan sembarangan pake dong Arien membanting daun pintu sekuat tenaga, rasanya pintu itu hampir lepas dari engselnya. Arien menangis dibalik bantal, dia berteriak dan menumpahkan semua kemarahannya. Dia menyumpahi perbuatan perbuatan yang telah dilakukan Lola Terserah dia mau ngapain juga? Kenapa sih masih ada manusia kayak Lola di dunia ini. Kenapa gak mati saja si tuh anak. Bisanya cuma bikin kesel orang. Umpat Arien dalam hatinya dia menyumpahi sesuatu yang buruk terjadi pada Lola, kekesalan yang teramat sangat telah membutakan mata hatinya. ***

Hampir jam 10 malam, waktu papa pulang dan langsung menanyakan Lola. Dan Arien menjawab dengan singkat gak tau Lalu merapikan buku-bukunya. Bersiap untuk segera tidur. Ia tidak merasa aneh Lola belum pulang. Ia sudah mengira, anak itu pasti ngelayap sampai tengah malam. Sudah kelihatan dari lagaknya ! rutuknya dalam hati. Arien tengah berjalan ke kamar mandi, bermaksud untuk sikat gigi, waktu telpon berdering. Papa segera mengangkatnya. Dan ekspresi papa segera berubah menjadi cemas dan menakutkan ayo kita ke rumah sakit papa menuju garasi dan mengeluarkan mobil mengajak mama dan arien tanpa kejelasan. Arien hanya bisa terdiam dalam Tanya, ada apa ini? Setelah sampai dirumah sakit dia akhirnya mendapat sebuah jawaban, jawaban yang sangat membuatnya tercekik saking kagetnya. Arien hanya bisa ternganga. Hatinya sakit melihat tubuh Lola yang telah kaku dan tertutup selimut. Arien hanya menangis tanpa air mata.