You are on page 1of 9

Demam Berdarah dan faktor-faktor Penunjangnya

Edwin / C2 102012096 Mahasiswa Kedokteran Semester III Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jalan Arjuna Utara no 6 Jakarta Barat 11470 Email : edwin@civitas.ukrida.ac.id

Pendahuluan
Penyakit merupakan salah satu faktor yang banyak dialami manusia. Penyakit tersebut dapat merupakan penyakit yang berat maupun penyakit yang ringan. Salah satu penyakit yang sering terjangkit pada manusia adalah demam. Demam ini juga banyak jenis-jenisnya, seperti demam malaria, demam tifoid, demam berdarah dengue (DBD) dan masih banyak jenis yang lainnya lagi. Pada pembahasan kasus ini saya akan membahas tentang penyakit demam berdarah (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF). DBD ini disebabkan oleh suatu virus yang disebut Dengue Famili Flaviviridae. Dalam makalah ini saya akan membahas anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, diagnosis, etiologi, epidemologi, patofisiologis, gejala klinis, medica mentosa dan medica non mentosa, prognosis, pencegahan dan komplikasi yang dapat terjadi.

Anamnesa
Dalam proses anamnesa dilakukan komunikasi dengan pasien yang berkaitan dengan kondisi kesehatannya. Misalnya sesuai dengan skenario kita, maka kita menanyakan kepada pasien apa keluhannya, sejak kapan, bagaimana pola demamnya, apakah ada penyakit penyerta, dan asal penderita serta riwayat bepergian apakah ada pergi ke daerah endemik. 1 Pada skenario dikatakan demam sejak 3 hari yang lalu. Demam timbul tiba tiba, dirasa cukup tinggi namun tidak diukir. Demam turun sebentar setelah pasien minum obat penurun panas lalu naik lagi. Pasien juga merasa pegal-pegal otot, pusing dan mual.

Pemeriksaan Fisik
Dari skenario didapatkan suhunya 39oC, pernapasan 18x/ menit, nadi 98x/ menit, tekanan darah 120/80 mmHg, tourniquet test didapatkan 12 petechiae, nyeri tekan epigastrium (+). Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah perabaan yang ditemukan pembesaran hati yang ringan, adanya cairan dalam rongga paru (pleural effusion), ada cairan dalam rongga perut (ascites).2

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan ini akan dilakukan pada hari ketiga, kelima dan se;anjutnya untuk mengetahui penderita secara lebih pasti. Pemeriksaan darah yang mungkin dilakukan pada penderita DBD adalah : Pemeriksaan darah tepi untuk mengetahui jumlah leukosit ( sel darah putih yang berfungsi untuk mengatasi infeksi). Pemeriksaan ini digunakan untuk mengantisipasi terjadinya leukopenia, yaitu jumlah leukosit kurang dari 5000 sel/mm3.3 Pemeriksaan limfosit atipikal ( sel darah putih yang muncul pada infeksi virus) Jika terjadi peningkatan, mengindikasikan dalam waktu kurang lebih 24 jam penderita akan bebas demam dan memasuki fase kritis. 3 Pemeriksaan trombositopenia dan trombosit ( berfungsi dalam proses pembekuan darah). Jika terjadi penurunan jumlah keduanya , mengindikasikan penderita DBD memasuki fase kritis dan memerlukan perawwatan ketat dirumah sakit. 3 Pemeriksaan hematokrit. Peningkatan nilai hematokrit/Ht ( perbandingan antara komponen butir sel darah merah dengan cairan darah/plasma) 10-20% mengindikasikan penderita memasuki fase kritis dan memerlukan pengobatan caira intravena. Jika penderita tidak bisa minum atau makan melalui mulut, cairan dapat diberikan melalui infus dipembuluh darah vena.Namun, penurunan Ht pada fase kritis menunjukkan tandatanda pendarahan dan penderita harus dirawat untuk mendapatkan tambahan cairan atau darah tergantung kebutuhan. 3 Saat ini,uji serologi dengue IgM dan IgG ( protein yang diproduksi tubuh dan berperan s ebagai antibodi) sering dilakukan. Uji ini merupakan pemeriksaan penunjang untuk 2

membantu dalam mendiagnosis akhir penyakit DBD . Pada infeksi primer biasanya terlihat pada anak yang menderita demam dengue, IgM akan muncul pada hari kelima, kemudian menurun dan menghilang setelah 60-90 hari. setelah itu pada minggu kedua , IgG baru muncul dan terus ada dalam darah. 3 Pada Infeksi sekunder,IgM pada masa akut terdeeksi pada 0% kasus. Sebagian besar IgG dapat terdeteksi lebih dini, yaitu pada hari kedua. Jika diemukan hasil IgM dan IgG negatif,tetapi gejlan menunjukkan kecurigaan DBD maka dianjurkan untuk mengambil sampel kedua dengan jarak 3-4 hari bagi infeksi primer dan 2-3 hari bagi infeksi sekunder.

Diagnosis Kerja (Working Diagnose)


Gejala klinis yang mungkin timbul pasca-infeksi virus dengue amat beragam, mulai dari demam tidak spesifik (sindrom infeksi virus), demam dengue, demam berdarah fengue (DBD), hingga yang terberat yaitu sindrom syok dengue. Pada penderita penyakit DBD dapat ditemukan gejala-gejala klinis dan kelainan laboratoris 1. Demam tinggi yang berlangsung dalam waktu singkat diantara 2-7 hari, yang dapat mencapai 40oC. Lalu disertai tidak napsu makan (anoreksia), lemah badan (malaise), nyeri sendi dan tulang, serta sakit didaerah belakang bola mata (retro orbita) dan wajah yang kemerah-merahan (flushing).4 2. Tanda-tanda pendarahan seperti mimisan (epistaksis), perdarahan gusi.4 3. Adanya pembesaran organ hati (hepatomegali).4 4. Kegagalan sirkulasi darah yang ditandai dengan denyut nadi yang teraba lemah dan cepat dan dapat disertai penurunan kesadaran dan renjatan (syok) yang dapat menyebabkan kematian.4 Tingkat keparahan DBD terbagi menjadi 4 kelompok. Kelompok 3 dan 4 tergolong DBD dengan shock, Derajat 1 : Demam tanpa gejala lain yang spesifik, adanya perdarahan hanya terlihat melalui test tourniquet atau kulit mudah memar.2 Derajat 2: Gejala seperti pada derajat 1, ditambah adanya perdarahan spontan pada kulit atau perdarahan yang lain.2 Derajat 3 : Adanya kegagalan sirkulasi yang terlihat dari nadi yang melemah, tekanan darah rendah (hipotensi) dengan ujung tangan dan kaki yang dingin, tubuh tampak lemah.2 Derajat 4 : Shock dengan nadi dan tekanan darah tidak terdeteksi.2 3

Diagnosis Pembanding (Difference Diagnose)


1. Demam Chikungunya (Flu tulang atau demam tulang) Masa inkubasi demam chikungunya ini 2-4 hari. Gejala-gejala klinis yang timbul adalah tibatiba tubuh terasa demam diikuti dengan linu di persendian dan otot. Timbul juga rasa sakit pada tulang dan demam tinggi mendadak selama 5 hari. Demam chikungunya ini sama seperti DBD yang disebabkan oleh virus dari nyamuk Aedes aegypti tetapi bedanya adalah pada chikungunya tidak ada perdarahan hebat dan renjatan (shock) maupun kematian.5

Dengan istirahat cukup, obat demam, kompres, serta antisipasi terhadap kejang demam, penyakit ini biasanya sembuh sendiri dalam tujuh hari.5 2. Demam Tifoid Masa tunas demem tifoid berlangsung antara 10-14 hari. Gejala-gejala klinis timbul sangat bervariasi, dari ringan sampai dengan berat, dari asimtomatik hingga gambaran penyakit yang khas disertai komplikasi hingga kematian. Pada minggu pertama, gejala klinis penyakit ini ditemukan keluhan dan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada umumnya yaitu demem, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, ostipasi atau diare, perasaan tidak enak di perut, batuk, dan epistakis. Pada pemeriksaan fisik hanya didapatkan suhu badan meningkat. Sifat demam adalah meningkat perlahan-lahan dan terutama pada sore hingga malam hari. 3. Leptospirosis Masa inkubasi 2-26 hari, biasanya 7-13 hari, rata-rata 10 hari. Gambaran klinisnya terbagi menjadi 2, yaitu yang sering dan yang jarang. Yang sering terjadi, seperti demam, menggigil, sakit kepala, meningimus, anoreksia, mialgia, conjuctival suffusion, mual, muntah, nyeri abdomen, ikterus, hepatomegali, ruam kulit, dan fotopobi. Sedangkan yang jarang adalah pneumonitis, hemaptoe, delirium, perdarahan, diare, edema, splenomegali, artralgia, gagal ginjal, proferal neuritis, pankretitis, parotitis, epididimitis, hematemesis, asites, dan mikarditis.6

Etiologi
Penularan DBD ini dapat terjadi karena : 1. Faktor pejamu (Target penyakit, inang), dalam hal ini adalah manusia yang rentan tertular penyakit DBD. Apabila daya tahan tubuh pasien tersebut kuat, penyakit yang dideritanya mungkin hanya ringan atau mungkin juga tidak terjangkit sama sekali. Namun jika daya tahannya rendah maka penyakit tersebut dapat terjangkit dan bisa jadi parah.4,7 2. Faktor penyebar (Vektor) dan penyebab penyakit (Agen), dalam hal ini adalah virus DEN tipe 1-4 sebagai agen penyebab penyakit, sedangkan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus berperan sebagai vektor penyebar penyakit DBD. Perbedaan keganasan virus juga berpengaruh, jika virus dengue yang lebih ganas maka penyakitnya akan semakin parah dibanding tipe virus yang kurang ganas. 4,7 3. Faktor lingkungan, yakni lingkungan yang memudahkan terjadinya kontak penularan penyakit DBD. Perbaikan kualitas kebersihan (sanitasi) lingkungan, menekan jumlah populasi nyamuk Aedes aegypti selaku vektor penyakit DBD. 4,7

Epidemologi
Virus dengue ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti , nyamuk penggigit siang hari adalah vektor utama.Pada kebanyakan daerah tropis Aedes aegypti adalah sangat urbanisasi, berkembang biak pada penyimpanan air minum atau air mandi atau pada air hujan yang terkumpul pada berbagai wadah.Virus dengue telah juga ditemukan pada Aedes albopictus ,dan wabah didaerah pasifik lain telah dianggap berasal dari beberapa spesies Aedes lainnya. Spesies ini berkembang biak di air yang terperangap pada vegetasi. Di asia tenggara dan afrika barat, dengue mungkin dipertahankan dalam siklus yang melibtkan kera hutan pemakan kanopi dan spesies Aedes, yang makan pada kera maupun manusia.8 Wabah dengue pada daerah perkotaan yang terinfestasi dengan Aedes aegypti dapat meledak sampai 70-80% populasi bisa terkena. Karena Aedes aegypti mempunyai kisaran terbatas, penyebaran epidemi terjadi terutama melalui viremia dan mengikuti jalan-jalan transportasi utama.8

Patofisiologi
Nyamuk Aedes Aegypti hidup ditempat yang dingin dan terlindung matahari. Nyamuk betina akan bertelur kira2 sebanyak 100 butir telur didalam air yang tergenang didalam dan disekitar rumah. Lalu setelah 2 hari telur akan menetas menjadi larva. Larva akan mengelupas kulitnya sebanyak 4x dan menjadi pupa dan akan menjadi nyamuk dewasa selama 8-10 hari.
Gambar 1. Daur Hidup Nyamuk Aedes Aegypti

Pengobatan
Dalam perjalanan penyakit DBD terdapat 3 fase yaitu : 1. Fase demam Pada fase ini diperlukan pengobatan simtomatik atau pengobatan yang dilakukan untuk menghilangkan gejala saja, seperti menurunkan demam / meningkatkan perbaikan kondisi penderita DBD. Biasanya pada penderita DBD setelah 24 jam akan memasuki fase shock. Tetapi tidak semua penderita DBD mengalami fase shock, maka harus dilakukan tindakan-tindakan untuk mencegah terjadinya keadaan lebih parah. Penderita harus diawasi dengan ketak. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah suhu tubuh, adanya rasa mual dan ingin muntah, kejang, mimisan, atau terjadinya pendarahan lainnya. Lalu penderita tidak boleh kekurangan cairan. Jika panas tidak turun setelah diberi obat maka harus segera kontrol ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.

2. Fase Kritis Pada fase ini, penderita harus dirawat dirumah sakit karena membutuhkan penanganan yang intensif. Fase ini umumnya dimulai pada hari ketiga sampai kelima sejak diketahui adanya panas/demam yang pertama kali. Berlangsung selama 24-28 jam. Fase yang menentukan apabila penderita berhasil melewati fase ini maka akan memasuki proses penyembuhan. Tetapi jika tidak berhasil maka penderita akan mengalami muntah-muntah, tidak napsu makan dan sudah mengalami perdarahan. Maka harus dipantai secara ketat, sperti pemasukan dan pengeluaran cairan. Jika mengalami shock maka penderita akan mendapatkan terapi oksigen dan infus.

Prognosis
Infeksi primer dengan demam dengue dan penyakit seperti dengue biasanya sembuh sendiri.Kehilangan cair elektrolit, hipopireksia dan kejang demam adalam komplikasi yang paling sering terjadi pada bayi dan anak muda ( kecil). prognosis mungkin dipengaruhi secara merugikan oleh antibodi yang didapat pasif atau oleh infeksi sebelumnya dengan virus yang sangat terkait. Infeksi dengue pada umumnya mempunyai prognosis yang baik, DB dan DBD tidak ada yang mati. Kematian dijumpai pada waktu ada pendarahan yang berat, shock yang tidak teratasi, efusi pelura dan asites yang berat dan kejang. Kematian dapat juga disebabkan oleh sepsis karena tindakan dan lingkungan basal rumah sakit yang kurang bersih. Kematian terjadi pada kasus berat yaitu pada waktu muncul komplikasi pada sistem syaraf,kardiovaskuler, pernapasan, darah, dan organ lain. 9 Kematian disebabkan oleh banyak faktor, antara lain : keterlambatan diagnosis keterlambatan diagnosis shock keterlambatan penanganan shock shock yang tidak terastasi kelebihan cairan kebocoran yang hebat pendarahan masif ensefalopati sepsis kegawatan karena tindakan 7

Pencegahan
Pencegahan dbd dapat dilakukan dengan cara : Menguras tempat penampungan air (3M) Mengubur barang barang yang sudah tidak terpakai yang dapat menampung air (3M) Membersihkan lingkungan sekitar. (3M) Melakukan fogging seminggu sekali Meningkatkan kekebalan tubuh anggota keluarga.3

Komplikasi
Komplikasi yang mungkin terjadi pada saat dbd adalah : 1. Perdarahan paru 2. Sepsis.

Kesimpulan
Hipotesis diterima, bahwa laki-laki tersebut terkena penyakit DBD yang dikarenakan demam yang hilang timbul, pegal-pegal otot, pusing dan mual.

Daftar Pustaka
1. Suhendro, Nainggolan L, Pohan HT, Widodo J, Zein U, Harijanto PN. Demam berdarah dengue, demam tifoid, leptospirosis, malaria, malaria berat. Dalam: Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ke-4 (Jilid 3). Jakarta: InternaPublishing; 2009.h. 2775.2798.2809.281325.2826. 2. Suharmati, Handayani L. Tanaman obat & ramuan tradisional untuk mengatasi demam berdarah dengue. Jakarta: Penerbit Gramedia; 2004.h. 7. 3. Satari Hindra I. & Mila Meiliasari.Demam Berdarah. Jakarta:Puspa Swara;2004.h. 27-30. 4. Ginanjar,G.Demam berdarah( A survival guide).Bandung:FkUnpad;-.h.19-27. 5. Anies. Manajemen Berbarsis Lingkungan. Jakarta: Penerbit Gramedia; 2006.h. 73-4. 6. Staf Pengajar Departemen FKUI. Parasit malaria. Dalam: Parasitologi Kedokteran. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2008.h.189-94. 7. Nadesul H. Cara mudah mengalahkan demam berdarah. Jakarta: Kompas Media Nusantara; 2007.h.59-61. 8. Staf pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI, Ilmu Kesehatan Anak (buku 2). Jakarta:FKUI;2005.h.593-8,607-21,655-9. 9. Santoso,Mardi.Kapita selekta Ilmu Penyakit Dalam.Jakarta: yayasan diabetes Indonesia;2004.h.1-17