You are on page 1of 27

Severe Kyphosis Deformity

Anggita Citra Resmi, Ayu Sesa Nurfiani, Michael Christian

Introduksi
Kifosis lengkungan tulang belakang (torakal) Lengkung kifotik C , < 40-45 derajat Etiologi:
kongenital postural post trauma post infeksi Scheuermann disease dan iatrogenik

Cepat lelah pada punggung dan kaki Nyeri pinggang kronik Defisit neurologis

Deformitas yang progresif

KELUHAN = MASALAH

Gangguan fungsi kardiopulmonal

Presentasi Kasus
Seorang perempuan, 20 tahun datang ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dengan keluhan utama punggung semakin membungkuk sejak 3 tahun sebelum masuk rumah sakit.

Presentasi Kasus
9 tahun SMRS
Riwayat trauma tertabrak motor, mengenai pinggang.

3 tahun SMRS
Mulai bungkuk keringat malam (-), penurunan berat badan (-), demam (-), dan batuk (-).

1 tahun SMRS
Bungkuk semakin parah Pasien mulai tidak bisa berjalan Kesemutan (+) dan sedikit baal(+) Pengobatan alternatif

Presentasi Kasus
2 bulan SMRS
Keluhan tidak kunjung sembuh RS di Kalimantan RSCM

1 bulan SMRS
Terapi konservatif selama 1 bulan: body cast + brace

Pemeriksaan Fisik:
Deformitas kifoskoliosis 150o, Hipostesia bilateral dari level Th10 ke bawah, dan Paraplegia.

Rontgen vertebrae :
Deformitas kifoskoliosis Destruksi kolaps pada corpus vertebrae mulai dari level T4 s/d L1 dengan angulasi ke anterior Massa berkalsifikasi di paravertebrae L1 s/d L3 kiri.

B
lateral (B). Hasil foto rontgen vertebrae thorakal sebelum operasi proyeksi AP (C).

Gambar 1. Hasil foto rontgen vertebrae lumbal sebelum operasi proyeksi AP (A) dan

Dx : Severe kyphosis deformity paraplegi UMN setinggi Th10.

Tata Laksana
Pasien ini telah dilakukan tata laksana berupa tindakan operasi pada tanggal 22 Oktober 2013. Tindakan operasi yang dilakukan yaitu
Koreksi deformitas, Dekompresi, Laminektomi dan Stabilisasi posterior dengan rod and pedicle screw.

Gambar 2. Hasil foto rontgen vertebrae pasca operasi proyeksi AP.

Tata Laksana
Pasca operasi, pasien masuk ICU (6 minggu). Pada minggu ke-7 pasien dipindahkan ke bangsal rawat inap hingga saat ini. Terapi yang diberikan pasca operasi:
Medikamentosa :
antibiotik spektrum luas intravena, vitamin B 12 (metilcobalamin), obat antinyeri,

Rehabilitasi pasca operasi


Pasien disuruh melakukan gerakan pasif dan miring ke kanan dan kiri.

Outcome dan Follow-Up


Sejak operasi hingga minggu ke-8 pasca operasi gerakan pasien masih terbatas karena nyeri dan tungkai bawah pasien belum dapat digerakan.

Gambar 3. Penampakan klinis pasien pasca stabilisasi posterior minggu ke-8.

Diskusi

Kifosis
Normal: Cobb angle 20- 40o Diukur dari Th2- Th12 > 40o abnormal

Etiologi kifosis
Pasien perempuan 20 tahun kontur punggung yang semakin membungkuk sejak 3 tahun sebelum perawatan acquired Kelainan yang paling sering: Scheuermann disease
gangguan pertumbuhan plat epifisial anterior verterbrae torakik

Etiologi kifosis
Riwayat kecelakaan motor yang menyebabkan benturan pada punggung 9 tahun SMRS trauma? Tanpa penanganan adekuat, kifosis dapat terjadi bahkan setelah proses healing, angulasi dapat semakin parah Pasien dengan fraktur pada vertebrae torakik seringkali mengalami kifosis yang progresif

Pemeriksaan fisik
kifoskoliosis 150o yang menunjukkan kifosis berat pada scheuermann disease biasanya ringan sedang
Tetapi beberapa kasus bermanifestasi sebagai kifosis berat tidak konklusif

Progresifitas berhenti saat usia tumbuh berhenti Next step: Foto thorax

Foto thorax
Lateral & anteroposterior Diharapkan:
wedging lebih dari 5o pada setidaknya tiga vertebrae berurutan pada apeks kifosis adanya iregularitas vertebral endplate dengan kifosis torakik lebih dari 50o defek radiolusen pada tulang subkondral

Foto thorax
Pada pasien:
Gambaran deformitas kifoskoliosis destruksi kolaps pada corpus vertebrae mulai dari level T4 s/d L1 dengan angulasi ke anterior massa berkalsifikasi di paravertebrae L1 s/d L3 kiri

Tidak khas scheuermann disease. Etiologi yang paling mungkin: trauma?

Defisit neurologis
keluhan tidak dapat berjalan sejak 1 tahun sebelum dirawat dan sering mengalami kesemutan serta kebas dari pusar hingga telapak kaki penyakit progresif, keterlibatan neurologis PF: hipoestesia bilateral dari Th10 hingga ke bawah dan paraplegia X- ray tidak ada herniasi diskus, penyebab defisit: kompresi

Defisit neurologis
Langkah selanjutnya: lakukan pemeriksaan MRI Diagnosis
Severe kyphosis deformity dengan paraplegia UMN setinggi Th10.

Komplikasi lain
Gangguan paru restriktif
Angulasi > 100o

Keluhan gastrointestinal akibat penekanan

Penatalaksanaan
Tujuan
Koreksi deformitas Stabilisasi area Kurangi nyeri Perbaiki defisit neurologis

Pada pasien terdapat indikasi operasi


deformitas lebih dari 20o dan toleransi fungsional yang buruk

Operasi
Koreksi deformitas Laminektomi Dekompresi Stabilisasi posterior dengan rod and pedicle screw

Daftar pustaka
Cassidy RC. Kyphosis. 2013. Diakses: Desember 2013. http://emedicine.medscape.com/article/1264959overview#a0112 Solomon L. Apleys System of Orthopaedics and fracture. 9th Ed. Liverpool: Hodder Arnold. 2010; p. 467- 469 Rawlins BA. Post- Traumatic Kyphosis: An Overview. 2011. Diakses: Desember 2013. http://www.hss.edu/conditions_post-traumatic-kyphosisoverview.asp Munting E. Surgical Treatment of post traumatic kyphosis in the thoracolumbal spine. 2009. Diakses: Desember 2013. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2899714/