You are on page 1of 4

SHUTDOWN PEMERINTAHAN AS DAN EKONOMI INDONESIA

Berhentinya (shutdown) operasional Pemerintahan Amerika Serikat terkait dengan layanan publik sungguh mencengangkan. Masyarakat dunia mungkin tidak percaya bagaimana mungkin negara adidaya dengan ekonomi terkuat dunia tersebut sampai tekor anggarannya.

Penghentian sebagian aktivitas pemerintah federal AS boleh jadi baru sekadar pemanasan. Kegagalan Kongres AS untuk menyepakati anggaran federal dalam beberapa pekan ke depan akan diikuti dengan kebuntuan yang jauh lebih berbahaya terkait otoritas pemerintah AS untuk berutang.

Apa yang sedang mendera AS saat ini membuat dunia khawatir dan berspekulasi jangan-jangan efek negative shutdown Pemerintahan AS akan menjalar ke aspek perekonomian. Namun, banyak yang memahami bahwa kasus ini hanya menyentuh ranah pemerintahan AS saja, tidak terkait dengan aspek perekonomiannya. Namun benarkah demikian? Rasanya tidak sesederhana itu dalam menganalisis efek berhentinya layanan publik Pemerintahan AS.

Begitu krusialnya masalah tersebut, sampai-sampai Presiden Barack Obama membatalkan kunjungan resminya ke pertemuan negara-negara Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di Bali, 6-8 Oktober 2013 ini. Bagi Obama, masalah anggaran pemerintahan ini jauh lebih penting karena erat kaitannya dengan tekanan politik dari Partai Republik sebagai partai oposisi. Sebuah pilihan rasional telah diambil oleh Obama.

Tudingan Warren Buffet Ada skenario bahwa terhentinya Pemerintahan AS kemungkinan akan membuat bank sentral AS, The Fed, terus menunda pengurangan paket stimulus (tapering). Dampak terhentinya pemerintahan AS terhadap perekonomian negara adidaya tersebut tergantung seberapa lama periode shutdown itu berlangsung. Bila terjadi selama berbulan-bulan, dampaknya akan negatif. Tapi kalau shutdownnya hanya 1-2 minggu dan solusinya bersamaan dengan kenaikan plafon pinjaman pemerintah AS, maka dampak negatifnya akan minim.

Dengan keadaan AS yang seperti itu, maka kemungkinan penundaan tapering oleh The Fed akan semakin besar. Diperkirakan penundaan tapering akan terjadi hingga tahun 2014 mendatang. Kemungkinan pada akhir kuartal pertama 2014.

Namun demikian, jika ekonomi AS terpukul karena shutdown, tidak menutup kemungkinan tapering akan terus ditunda lebih lama dari bulan Maret 2014 tersebut. Indonesia sebagai salah satu mitra utama AS berharap shutdown pemerintahan AS tidak berlangsung lama.

Menteri Keuangan M Chatib Basri sangat optimistis jika AS bakal segera menemukan solusi atas terjadinya penghentian operasional sebagian kantor pemerintahan yang telah berlangsung selama hari keempat ini. Dengan demikian, sangat diyakini, jika berita di dalam negeri bagus, maka pasar akan bisa stabil. Ini memberikan insentif bagi kurs rupiah. Berdasarkan data Bank Indonesia per 3 Oktober 2013 lalu, kurs jual dolar AS sebesar Rp 11.593 dan kurs beli sebesar Rp 11.477.

Sebelumnya, terkonfirmasi bahwa hingga kini kejadian shutdown AS belum terlalu berdampak pada perdagangan Indonesia. Namun, pemerintah harus terus memonitor secara intensif perkembangan ke depannya. Dari perspektif politik, Dubes Indonesia untuk AS Dino Patti Djalal mengemukakan, terjadinya shutdown ini mencerminkan politik AS yang memang tengah terpolarisasi di mana masyarakatnya juga terlihat sudah jenuh melihat perdebatan di Kongres.

Masyarakat AS tentu berharap agar kondisi tersebut tidak berlangsung lama dan Pemerintahan Obama segera menemukan solusi. Kalau tidak, kondisinya akan menjadi lebih buruk bagi perekonomian AS. Buktinya, salah satu orang terkaya di dunia, Warren Buffet, menyebut bank sentral AS, The Fed, merupakan hedge fund (perusahaan investasi) terbesar dalam sejarah. Hal ini karena The Fed mampu mencetak keuntungan hingga 3 triliun dolar AS dari program pembelian obligasi pemerintah AS (quantitative easing).

Jadi, disimpulkan bahwa The Fed adalah lembaga hedge fund terbesar dalam sejarah. Itulah pernyataan Buffet dalam kuliah umum di Georgetown University Washington pekan lalu. Bank sentral AS itu hingga saat ini masih melanjutkan program pembelian obligasi pemerintah AS

sebesar US$ 85 miliar per bulan untuk membantu pemulihan kondisi perekonomian di negara tersebut, setelah perekonomian AS anjlok di level terburuh setelah Great Depression.

Belum lama ini, Gubernur The Fed, Ben S Bernanke dan para pejabat tinggi bank sentral mengambil keputusan yang tak diperkirakan sebelumnya, yaitu menunda pemangkasan stimulus dan mempertahankan pembelian obligasi pemerintah AS sebesar US$ 85 miliar. Tahun lalu, The Fed telah menyetorkan US$ 88,4 milia kepada Depkeu AS. Jumlah yang dibayarkan itu makin membengkak lantaran The Fed terus aktif membeli obligasi pemerintah AS. The Fed tidak dalam tekanan untuk melakukan itu semua. Namun, bagaimanapun, utang tetap harus dikurangi.

Sebenarnya semua itu bisa diatasi jika ada orang bijak di The Fed, dan diyakini Bernanke adalah orang yang bijak. Akan tetapi, semua itu tidak sepenuhnya terselesaikan dalam level ini.

AS Investor Terbesar Berdasarkan kajian terbaru beberapa lembaga, AS sangat berpotensi menjadi investor terbesar di Indonesia selama jangka waktu tertentu. Disebutkan, selama periode 2004-2012, investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) AS di Indonesia mencapai total US$ 65 miliar. Sedangkan dalam jangka waktu 3-5 tahun ke depan, AS siap berkomitmen untuk melakukan investasi baru hingga mencapai US$ 61 miliar.

Menurut penelitian yang dilakukan Ernest & Young Indonesia, perusahaan-perusahaan AS mempekerjakan secara langsung sekitar 183 ribu orang warga negara Indonesia dengan upah yang bersaing serta mendukung penciptaan lebih dari 1,7 juta lapangan kerja untuk Indonesia. Komitmen investasi AS tersebut tentu menjadi kabar baik bagi Indonesia di tengah upaya menggaet investasi asing.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sendiri cukup optimistis mampu mencapai target investasi hingga Rp 390 triliun di Indonesia. Namun, terkait target tahun depan, BKPM mengaku masih harus evaluasi terlebih dulu mengingat kondisi ekonomi global saat ini kurang mendukung. Menurut BKPM, sejauh ini sebanyak 70-80% perusahaan AS yang berinvestasi di Indonesia merupakan perusahaan besar dengan sektor utamanya adalah manufaktur, pertambangan, serta minyak dan gas (migas).

Terkait terjadinya shutdown di AS serta dampaknya bagi investasi di Indonesia, BKPM mengaku akan lebih fokus pada pembenahan persoalan dalam negeri dulu, seperti kepastian hukum dan bisnis, infrastruktur, serta koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah.

Ekspor nasional ke AS pun diperkirakan tidak terlalu terpengaruh oleh shutdown-nya pemerintah AS lantaran sektor riilnya masih beroperasi didukung membaiknya daya beli masyarakat AS setelah signal perbaikan ekonomi sudah dirasakan. Apalagi purchasing manager index (PMI) di AS sudah di atas 50, tepatnya sekitar 51,3 yang mengindikasikan kegiatan ekonomi telah membaik dibanding satu-dua tahun lalu.