You are on page 1of 16

Trauma Pada Telinga

Dr. ASAD. Sp.,THT-KL

Ada dua bentuk : energi akustik dan energi mekanik Trauma mekanik pada tulang temporal dapat terjadi fraktur Fraktur tulang temporal ada dua bentuk : fraktur longitudinal(80%) dan fraktur transversal(20%)

Tanda-tanda fraktur longitudinal Perforasi membran timpani Perdarahan Tuli konduktif Tanda fraktur transversal Cedera labirin Cedera saraf fasialis Ada gangguan keseimbangan dan pendengaran

Tulang temporal terbentuk oleh bagian tulang yang paling padat dari tubuh manusia Tulang temporal terlindung oleh letaknya yang di tengah Bila tulang temporal patah biasanya disertai gangguan kesadaran, hematom subdural atau epidural atau kontusio Bila ada kelumpuhan saraf fasialis kadangkadan perlu tindakan decompresi

Truma akustik merupakan penyebab ketulian sensorineural yang utama Makin keras dan makin lamanya paparan bising makin beresiko terjadi SNHL Bising 80 db untuk 8 jam relatif masih aman Bising 110 db untuk waktu relatif singkat tidak aman Awalnya bising menimbulkan pergeseran ambang sementara,gangguan pulih kurang dari dua minggu Trauma berulang berakibat pergeseran ambang menetap Trauma ledakan dapat menimbulkan gelombang kontusio, lebih banyak kerusakan di telinga tengah disamping SNHL nada tinggi

WAKTU

Batas Aman Paparan


(perhari)

Intensitas Kebisingan

24 JAM 8 4 2 1 30 15 7,5 3,75 1,88 0,94 28,12 14,06 7,03 3,52 1,76

80

(dBA)

MENIT

DETIK

85 88 91 94 97 100 103 106 109 112 115 118 121 124 127

Gangguan saraf fasialis


Anatomi umum saraf fasialis Saraf kranialis ke tujuh berasal dari batang otak, berjalan dalam tulang temporal dan berakhir pada otot-otot wajah N. Fasialis tdd tiga komponen, motoris, sensoris dan parasimpatis Komponen motoris mempersarafi otot wajah, m. Stapedius dan venter posterior m. Digastrik

Komponen sensoris mempersarafi duapertiga anterior lidah untuk mengecap, melalui n. Korda timpani Komponen parasimpatis mempersarafi glandula lakrimalis, glandula submandibula dan glandula lingualis Dalam tulang temporar n. Fasialis berjalam dalam saluran tulang (kanal fallopi), dibagi 3 segmen, yaitu segmen labirin, segmen timpani dan segmen mastoid

Didalam tulang temporan n. Fasialis memberikan 3 cabang penting, n. petrosus superior mayor, n. Stapedius dan korda timpani N. Petrosus superior mayor keluar dari ganglion ginikulatum, memberikan rangsang sekresi kelenjar lakrimalis N. Stapedius mempersarafi m. Stapedius, berfungsi sebagai peredam suara Korda timpani memberikan serabut perasa pada duapertiga lidah bagian depan

Pemeriksaan fungsi saraf fasialis Untuk menentukan letak lesi dan derajat kelumpuhannya 1. Uji fungsi saraf 2. Gustometer :menentukan ambang kecap 3. Schimer tes : menentukan jumlah sekresi kelenjar lakrimalis 4. Refleks stapedius 5. Pemeriksaan audio-vestibuler 6. Pemeriksaan radiologi

Etiologi keumpuhan saraf fasialis 1. Kelainan kongenital 2. Infeksi 3. Tumor 4. Trauma 5. Ganguan pembuluh darah 6. Idiopatik, Bellspalsy

Di indonesia urutan penyebab terbanyak kelumpuhan saraf fasialis: idiopatik, radang dan trauma Penatalaksanaan 1. Pada ganguan hantaran ringan dan fungsi motor masih baik pengobatan ditunjukan untuk menghilangkan edema saraf dengan memakai obat-obat : anti edem,vasodilatasi dan neurotronika 2. Gangguan hantaran berat atau terjadi denervasi total harus segera dilakukan tindakan operasi dengan teknik dekompresi n.VII transmastoid