You are on page 1of 64

1 [Type a quote from the document or the summary of an interesting point.

You can position the text box anywhere in the document. Use the Text Box Tools tab to change the formatting of the pull quote text box.]

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Republik Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum dan tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka, sehingga dapat diartikan bahwa Indonesia merupakan negara demokratis yang menjunjung tinggi hukum berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Negara Indonesia saat ini sedang melaksanakan pembangunan nasional yang dilaksanakan secara

berkesinambungan yang meliputi seluruh bidang kehidupan, maka masyarakat Indonesia senantiasa mengalami perkembangan yang seiring dengan

perkembangan dan kemajuan jaman.

Sebagaimana kita ketahui masyarakat itu bersifat dinamis, yang senantiasa berkembang dari waktu ke waktu, perkembangan ini membawa dampak atau pengaruh yang luar biasa yang dapat dirasakan oleh seluruh anggota masyarakat, pada dasarnya perkembangan masyarakat merupakan suatu gejala sosial yang bersifat umum, perkembangan merupakan proses penyesuaian masyarakat terhadap kemajuan jaman.

Pembangunan nasional merupakan proses modernisasi yang membawa dampak positif dan dampak negatif, dampak positif yang timbul adalah semakin maju dan

makmur kondisi ekonomi, sosial maupun politik, sedangkan dampak negatif yang timbul antara lain adanya kesenjangan dalam masyarakat, terutama kesenjangan sosial yang dalam hal ini dapat menimbulkan rasa iri atau dengki yang mengakibatkan adanya keinginan untuk memperkecil kesenjangan apabila dalam usahanya ia tidak mampu untuk bersaing dalam menghadapi kesenjangan tersebut maka orang akan cenderung melakukan perbuatan-perbuatan yang sekiranya dapat menguntungkan orang tersebut meskipun disadari bahwa perbuatan yang dilakukan adalah perbuatan yang dilarang oleh undang-undang.

Menurut ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) perbuatan pidana terbagi menjadi dua macam yaitu kejahatan dan pelanggaran, kejahatan diatur dalam buku ke dua KUHP sedangkan pelanggaran diatur dalam buku ke tiga KUHP. Pada dasarnya kedua macam tindak pidana tersebut masing-masing mempunyai konsekwensi tersendiri yang tidak sama, akan tetapi pada kenyataannya masih ditemukan adanya suatu perbuatan pelanggaran yang disertai dengan pelanggaran lain atau perbuatan kejahatan yang disertai kejahatan lain atau bahkan perbuatan kejahatan yang bersamaan dengan pelanggaran dan sebaliknya, kejadian tersebut biasa disebut dengan perbarengan tindak pidana.

Perbarengan tindak pidana merupakan terjemahan dari concursus atau samenloop van strafbaarfeit, yang selanjutnya dalam penulisan skripsi ini disebut dengan perbarengan tindak pidana. Perbarengan tindak pidana yang menjadi sorotan adalah perbarengan dua atau lebih tindak pidana yang dipertanggungjawabkan kepada satu orang atau beberapa orang dalam rangka penyertaan, kejadiannya sendiri dapat merupakan hanya satu tindakan saja, dua atau lebih tindakan atau

beberapa tindakan secara berlanjut, dalam hal dua atau lebih tindakan tersebut masing-masing merupakan delik tersendiri dan dipersyaratkan bahwa salah satu diantaranya belum pernah diadili.

Sebagai contoh kasus perbarengan tindak pidana dalam rangka penyertaan adalah sebagai berikut :

Berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Tanjung Karang No.562 / PID.B / 2010 / PN.TK pada tanggal 12 Agustus 2010, majelis hakim telah memutus mengenai perkara pembunuhan yang disertai dengan perbuatan pidana.

Kronologis kejadian tindak pidana tersebut bermula ketika korban memanggil terdakwa datang kerumah korban untuk diminta pertolongan menyelidiki pacar suami korban dengan memberikan imbalan sejumlah uang kepada terdakwa sekaligus meminta terdakwa untuk menyakiti bahkan membunuh pacar suami korban, karena pada saat itu suami korban disangka telah berselingkuh oleh korban.

Setelah mendapat perintah dari korban, terdakwa memberi tahu kepada suami korban mengenai hal tersebut yang kemudian suami korban marah dan berbalik memerintah terdakwa untuk membunuh korban dengan imbalan uang yang jumlahnya lebih besar dibandingkan uang pemberian korban dengan memberi petunjuk bahwa uang yang dapat diambil terdakwa terletak didalam lemari kamar korban, maka terdakwa tergiur untuk lebih menuruti perintah suami korban.

Sebelum terdakwa melakukakan pembunuhan terhadap korban, terdakwa terlebih dahulu melakukan penganiayaan yang pada akhirnya mengakibatkan kematian,

setelah diketahui korban tidak bernyawa maka terdakwa mengambil sejumlah uang yang terletak di dalam lemari kamar korban.

Akibat perbuatan terdakwa, korban meninggal dunia sebagaimana tersebut dalam Visum Et Repertum Nomor 353/1602/5.2/III/2010 tanggal 12 Maret 2010 yang dikeluarkan oleh RSUD Abdul Moeloek Bandar Lampung, atas perbuatan tersebut, majelis hakim Pengadilan Negeri Tanjung Karang dengan nomor perkara 562/PID.B/2010/PN.TK, mengadili dan memutus terdakwa melanggar Pasal 339 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, dan diputus oleh majelis hakim dengan pidana penjara selama 16 tahun.

Kronologis tersebut di atas diketahui bahwa telah terjadi suatu tindak pidana yang dibarengi dengan tindak pidana lain atau yang disebut dengan perbarengan tindak pidana, yakni pelaku tindak pidana telah melakukan beberapa perbuatan yang masing-masing perbuatan tersebut berdiri sendiri sehingga merupakan beberapa tindak pidana, disamping itu masing-masing tindak pidana tersebut belum ada yang dijatuhi hukuman oleh pengadilan dan akan diadili sekaligus oleh pengadilan. Berdasarkan uraian kronologis diatas, perbuatan tindak pidana tersebut termasuk dalam bentuk perbarengan perbuatan (concursus realis),

disamping itu dapat diketahui bahwa terdakwa dalam melaksanakan tindak pidana tersebut bukanlah atas inisiatif sendiri, melainkan atas inisiatif orang lain yang mempergunakan terdakwa untuk melaksanakan tindak pidana tersebut, maka disinilah timbul yang disebut dengan penyertaan tindak pidana.

Penerapan sanksi pidana terhadap pelaku tindak pidana pembunuhan pada kasus diatas di jerat dengan Pasal 339 KUHP jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dengan

ancaman pidana penjara seumur hidup, atau selama waktu tertentu paling lama 20 tahun penjara, dalam persidangan hakim menjatuhkan vonis 16 tahun penjara terhadap terdakwa.

Berdasarkan kasus yang telah dipaparkan diatas, hakim telah menjatuhkan vonis yang lebih ringan dari tuntutan jaksa kepada pelaku tindak pidana tersebut, oleh karena itu perlu diadakan suatu analisis terhadap putusan hakim tersebut untuk mengetahui dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan, apakah telah sesuai dengan rasa keadilan bagi keluarga korban dan terdakwa, dan apakah dapat menimbulkan efek jera pada masyarakat untuk tidak meniru perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa, sebagaimana diketahui bahwa perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa adalah perbuatan yang sangat keji karena behubungan dengan nyawa seseorang.

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas maka penulis tertarik untuk menganalisis dan menuangkan dalam bentuk tulisan yang berbentuk skripsi dengan judul Analisis yuridis penerapan pidana terhadap pelaku

perbarangan tindak pidana pembunuhan dalam rangka penyertaan (Studi Kasus Putusan Pengadilan Negeri Tanjung Karang Nomor

562/PID.B/2010/PN.TK)

B. Permasalahan dan Ruang Lingkup

1. Permasalahan

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan diatas maka yang menjadi permasalahan dalam penulisan skripsi ini adalah : a. Apakah yang menjadi dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana terhadap pelaku perbarengan tindak pidana pembunuhan dalam rangka penyertaan (perkara nomor 562/PID.B/2010/PN.TK) ? b. Bagaimanakah sistem pemidanaan terhadap pelaku perbarengan tindak pidana pembunuhan dalam rangka penyertaan ?

2. Ruang Lingkup

Untuk membahas permasalahan ini agar tidak terlalu meluas dan salah penafsiran maka penulis membatasi ruang lingkup penelitian terhadap perbarengan tindak pidana pembunuhan dalam rangka penyertaan (Studi Kasus Putusan Pengadilan Negeri Tanjung Karang Nomor 562/PID.B/2010/PN.TK).

C. Tujuan dan Kegunaan Penulisan

1. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui secara jelas mengenai perbarengan tindak pidana pembunuhan dalam rangka penyertaan (Studi Kasus Putusan Pengadilan Negeri Tanjung Karang Nomor 562/PID.B/2010/PN.TK).

2. Kegunaan Penulisan

a. Kegunaan Teoritis Secara teoritis kegunaan penulisan skripsi ini adalah untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan khususnya penulis dan masyarakat pada umumnya atas hasil analisis mengenai perbarengan tindak pidana pembunuhan dalam rangka penyertaan (Studi Kasus Putusan Pengadilan Negeri Tanjung Karang Nomor 562/PID.B/2010/PN.TK).

b. Kegunaan Praktis 1. Berguna sebagai bahan refensi untuk penelitian-penelitian berikutnya. 2. Skripsi ini diharapkan berguna untuk mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya hukum pidana mengenai perbarengan tindak pidana pembunuhan dalam rangka penyertaan.

D. Kerangka Teori dan Konseptual

1. Kerangka Teoritis

Kerangka teoritis adalah konsep-konsep yang merupakan abstraksi dari hasil pemikiran atau kerangka acuan yang pada dasarnya bertujuan untuk mengadakan identifikasi dimensi-dimensi sosial yang dianggap relevan oleh peneliti (Soerjono Soekanto,1984 : 124).

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa perbarengan tindak pidana dibagi menjadi tiga bentuk yaitu, perbarengan peraturan (concursus idealis), perbuatan berlanjut (Voortgezette Handeling), dan perbarengan perbuatan

(concursus realis), dari ketiga bentuk tersebut tentunya terdapat perbedaan dalam sistem penjatuhan pidana, hal ini disebabkan karena ketiga bentuk perbarengan tindak pidana tersebut masing-masing memiliki kriteria tertentu terhadap suatu tindak pidana yang dimaksudkan agar termasuk kedalam salah satu bentuk perbarengan tindak pidana tersebut.

Menurut Andi Hamzah : Gabungan delik disebut juga perbarengan delik atau concursus, semenloop van strafbare feiten, satu orang melakukan beberapa perbuatan (feiten) yang melanggar beberapa aturan delik atau satu perbuatan, tetapi melanggar beberapa aturan delik yang diadili sekaligus atau beberapa kali, tetapi yang dijatuhkan diperhitungkan (Andi Hamzah, 2008 : 63).

Pokok persoalan mengenai perbarengan tindak pidana terletak pada ukuran pidana yang dikaitkan dengan sistem pemidanaannya dalam hal terjadi dua atau lebih tindak pidana yang sekaligus disidangkan, baik karena satu tindakan maupun karena dua atau lebih tindakan. Pasal 65 ayat (1) menyatakan bahwa, perbarengan beberapa perbuatan yang harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendirisendiri, sehingga merupakan beberapa kejahatan yang diancam dengan pidana pokok yang sejenis, maka hanya dijatuhkan satu pidana, sedangkan pada ayat (2) maksimum pidana yang dijatuhkan ialah jumlah maksimum pidana yang diancamkan terhadap perbuatan itu, tetapi tidak boleh lebih dari maksimum pidana yang terberat ditambah sepertiga.

Aturan mengenai perbarengan mengenal empat sistem dalam penjatuhan pidana :

1. Sistem absorsi, adalah sistem yang menentukan bahwa hanya ketentuan pidana yang terberat yang diperuntukkan;

2. Sistem absorsi yang dipertajam, maksudnya adalah ketentuan pidana yang terberat yang diterapkan dengan ditambah sepertiga dari pidana maksimum; 3. Sistem kumulasi murni, bahwa tiap-tiap tindak pidana dijatuhkan pidana sendiri-sendiri tetapi pidana itu hanya diterapkan atas tindak pidana pelanggaran dan lama pidananya tidak boleh lebih dari 1 tahun 4 bulan; 4. Sistem kumulasi terbatas, pidana dapat dijatuhkan untuk tiap-tiap kejahatan tetapi jumlah pidana tidak boleh melebihi maksimum pidana yang terberat ditambah sepertiganya (Suharto RM, 1996 : 81).

Kebebasan hakim dalam memeriksa dan mengadili suatu perkara merupakan mahkota bagi hakim dan harus tetap dikawal dan dihormati oleh semua pihak tanpa kecuali, sehingga tidak ada satu pun pihak yang dapat mengintervensi hakim dalam menjalankan tugasnya tersebut. Hakim dalam menjatuhkan putusan, harus mempertimbangkan banyak hal, baik itu yang berkaitan dengan perkara yang sedang diperiksa, tingkat perbuatan dan kesalahan yang dilakukan pelaku, sampai kepentingan pihak korban maupun keluarganya serta mempertimbangkan pula rasa keadilan masyarakat.

Terdapat teori atau pendekatan yang dapat digunakan oleh hakim dalam menjatuhkan putusannya, yaitu sebagai berikut :

a. Teori Keseimbangan Yang dimaksud keseimbangan disini adalah keseimbangan antara syarat-syarat yang ditentukan oleh undang-undang dan kepentingan pihak-pihak yang tersangkut atau berkaitan dengan perkara, yaitu antara lain seperti adanya keseimbangan yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat, kepentingan

10

terdakwa, dan kepentingan korban, atau kepentingan pihak penggugat dan tergugat; b. Teori Pendekatan Seni dan Intuisi Hakim akan menyesuaikan dengan keadaan dan hukum yang wajar bagi setiap pelaku tindak pidana, pendekatan seni dipergunakan oleh hakim dalam penjatuhan suatu putusan, lebih ditentukan oleh intuisi daripada pengetahuan hakim; c. Teori Pendekatan Keilmuan Pendekatan keilmuan ini merupakan semacam peringatan bahwa dalam memutus suatu perkara, hakim tidak boleh semata-mata atas dasar intuisi semata, tetapi harus dilengkapi dengan ilmu pengetahuan hukum dan juga wawasan keilmuan hakim dalam menghadapi suatu perkara yang harus diputusnya; d. Teori Pendekatan Pengalaman Pengalaman seorang hakim merupakan hal yang dapat membantunya dalam menghadapi perkara-perkara yang dihadapinya, karena dengan pengalaman tersebut, seorang hakim dapat mengetahui bagaimana dampak dari putusan yang dijatuhkan dalam suatu perkara, yang berkaitan dengan pelaku, korban maupun masyarakat; e. Teori Ratio Decidendi Teori ini didasarkan pada landasan filsafat yang mendasar, yang

mempertimbangkan segala aspek yang berkaitan dengan pokok perkara yang relevan, kemudian mencari peraturan perundang-undangan yang relevan dengan pokok perkara yang disengketakan sebagai dasar hukum dalam

11

penjatuhan putusan, serta pertimbangn hakim harus didasarkan pada motivasi yang jelas untuk menegakkan hukum dan memberikan keadilan bagi para pihak yang berperkara. f. Teori Kebijaksanaan Teori ini mempunyai beberapa tujuan, yaitu sebagai upaya perlindungan terhadap masyarakat dari suatu kejahatan yang dilakukanoleh pelakunya, sebagai upaya repersif agar penjatuhan pidana membuat jera, sebagai upaya preventif agar masyarakat tidak melakukan tindak pidana sebagaimana yang dilakukan oleh pelakunya, mempersiap mental masyarakat dalam menyikapi suatu kejahatan dan pelaku kejahatan tersebut (Ahmad Rifai, 2010 : 105-112).

2. Konseptual

Kerangka konseptual adalah merupakan kerangka yang menggambarkan hubungan antara konsep-konsep khusus yang merupakan kumpulan dari arti-arti yang berkaitan dengan istilah yang akan diteliti atau di inginkan (Soerjono Soekanto, 1986 : 132).

Kerangka konseptual yang diketengahkan akan dibatasi pada konsepsi pemakaian judul dalam tulisan ini yaitu analis yuridis terhadap concursus dalam rangka penyertaan tindak pidana. Adapun pengertian dari istilah tersebut adalah : a. Analisis adalah penyelidikan dan penguraian terhadap suatu masalah untuk mengetahui keadaan yang sebenar-benarnya (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1997 : 34). b. Yuridis adalah menurut ilmu hukum dan perundang-undangan yang berlaku (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1997 : 509).

12

c. Perbarengan adalah terjadinya dua atau lebih tindak pidana oleh satu orang dimana tindak pidana yang dilakukan pertama kali belum dijatuhi hukuman pidana, atau antara tindak pidana yang awal dengan tindak pidana yang berikutnya belum dibatasi oleh keputusan hakim (Adami Chazawi, 2007 : 109). d. Penyertaan adalah terjadinya tindak pidana yang didalamnya terlibat beberapa orang atau lebih dari seorang (Teguh Prasetyo, 2010 : 133). e. Tindak pidana adalah perbuatan atau tindakan yang dapat dikenakan hukuman karena merupakan pelanggaran terhadap undang-undang (Teguh Prasetyo, 2010 : 45). f. Pembunuhan adalah mematikan dengan sengaja, menghilangkan nyawa (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1997 : 82)

E. Sistematika Penulisan

Guna mempermudah pemahaman terhadap skripsi ini secara keseluruhan, maka disajikan penulisan sebagai berikut : I. PENDAHULUAN Merupakan bab pendahuluan yang berisi latar belakang penulisan skripsi, permasalahan dan ruang lingkup penulisan skripsi, tujuan dan kegunaan penulisan, kerangka teoritis dan konseptual serta sistematika penulisan. II. TINJAUAN PUSTAKA Merupakan bab tinjauan pustaka sebagai pengantar dalam memeahami pengertian-pengertian umum tentang pokok-pokok bahasan yang merupakan tinjauan yang besifat teoritis yang nantinya akan dipergunakan sebagai bahan studi perbandingan antara teori dan praktek

13

III. METODE PENELITIAN Merupakan bab yang memberikan penjelasan tentang langkah-langkah yang digunakan dalam pendekatan masalah serta uraian tentang sumber-sumber data, pengolahan data dan analisis data. IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Merupakan jawaban atas pembahasan dari pokok masalah yang akan dibahas yaitu Analisis yuridis penerapan pidana terhadap pelaku perbarengan tindak pidana dalam rangka penyertaan (Studi Kasus Putusan Pengadilan Negeri Tanjung Karang Nomor 562/PID.B/2010/PN.TK). V. PENUTUP Bab ini merupakan hasil dari pokok permasalahan yang diteliti yaitu merupakan kesimpulan dan saran-saran dari penulis yang berhubungan dengan permasalahan yang ada.

[Type a quote from the document or the summary of an interesting point. You can position the text box anywhere in the document. Use the Text Box Tools tab to change the formatting of the pull quote text box.]

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Tindak Pidana dan Unsur-unsur Tindak Pidana

[Type a quote from the 14 document or the summary of an interesting point. You can position the text box anywhere in the document. Use the [Type a quote from the Text Box Tools tab to document or the change the formatting of summary of an the pull quote text box.] interesting point. You can position the text box anywhere in the document. Use the Text Box Tools tab to change the formatting of the pull quote text box.]

1. Pengertian Tindak Pidana

Istilah tindak pidana berasal dari istilah yang dikenal dalam hukum pidana Belanda yaitu strafbaar feit yang terdiri dari tiga kata, yakni straf yang

diterjemahkan dengan pidana dan hukum, baar yang diterjemahkan dengan dapat atau boleh, dan feit yang diterjemahkan dengan tindak, peristiwa, pelanggaran, dan perbuatan. Kitab Undang-undang Hukum Pidana tidak memberikan penjelasan mengenai apa yang dimaksud dengan strafbaar feit itu sendiri, biasanya tindak pidana disinonimkan dengan delik, yang berasal dari bahasa latin yakni kata delictum. Istilah stafbaar feit atau kadang disebut sebagai delict (delik) diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia dengan berbagai istilah. Delik adalah perbuatan yang dapat dikenakan hukuman karena merupakan pelanggaran terhadap undang-undang tindak pidana (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1997 : 116).

15

Berdasarkan rumusan yang ada maka delik (strafbaar feit) memuat beberapa unsur yakni :

a. Suatu perbuatan manusia; b. Perbuatan itu dilarang dan diancam dengan hukuman undang-undang; c. Perbuatan itu dilakukan oleh seseorang yang dapat dipertanggung jawabkan.

Istilah tindak pidana menunjukkan pengertian gerak-gerik tingkah laku dan gerakgerik jasmani seseorang, hal-hal tersebut terdapat juga seseorang untuk tidak berbuat, akan tetapi dengan tidak berbuatnya seseorang tersebut, ia telah melakukan tindak pidana.

Tindak pidana adalah perbuatan yang oleh aturan hukum dilarang dan diancam dengan pidana, di mana pengertian perbuatan di sini selain perbuatan yang bersifat aktif yaitu melakukan sesuatu yang sebenarnya dilarang oleh undangundang, dan perbuatan yang bersifat pasif yaitu tidak berbuat sesuatu yang sebenarnya diharuskan oleh hukum (Teguh Prasetyo, 2010 : 48).

Beberapa sarjana mengemukakan pendapat yang berbeda dalam mengartikan intilah strafbaar feit, sebagai berikut :

1. Simons : Tindak pidana adalah perbuatan (handeling) yang diancam dengan pidana yang bersifat melawan hukum yang berhubungan dengan kesalahan dan yang dilakukan oleh orang yang mampu bertanggungjawab.

16

2. Moeljatno : Tindak pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum, larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu bagi siapa yang melanggar larangan tersebut. 3. Pompe : Menjelaskan pengertian tindak pidana menjadi dua definisi, yaitu : Definisi menurut teori adalah suatu pelanggaran terhadap norma yang dilakukan karena kesalahan si pelanggar dan diancam dengan pidana untuk

mempertahankan tata hukum dan menyelamatkan kesejahteraan umum. Definisi menurut hukum positif adalah suatu kejadian yang oleh peraturan undang-undang dirumuskan sebagai perbuatan yang dapat dihukum. 4. Vos : Tindak pidana adalah suatu perbuatan manusia yang diancam oleh peraturan undang-undang, jadi suatu perbuatan yang pada umumnya dilarang dengan ancaman pidana. 5. Van Hamel : Tindak pidana adalah perbuatan orang yang dirumuskan dalam wet yang bersifat melawan hukum yang patut dipidana dan dilakukan dengan kesalahan.

2. Unsur-unsur Tindak Pidana

Setiap Tindak Pidana yang terdapat di dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana pada umumnya dapat dijabarkan ke dalam unsur-unsur yang pada dasarnya dibagi menjadi 2 macam unsur, yakni unsur-unsur subyektif dan unsur-unsur obyektif.

17

Unsur-unsur subyektif adalah unsur-unsur yang melekat pada diri si pelaku atau yang berhubungan dengan diri si pelaku, dan termasuk ke dalamnya yaitu segala sesuatu yang terkandung di dalam hatinya.

Unsur-unsur subyektif dari sesuatu tindak pidana itu adalah :

1) Kesengajaan atau ketidaksengajaan (dolus atau culpa). 2) Maksud atau voornemen pada suatu percobaan atau poging seperti yang dimaksud di dalam Pasal 53 ayat 1 KUHP. 3) Merencanakan terlebih dahulu atau voorbedache raad , misalnya terdapat di dalam kejahatan pembunuhan menurut Pasal 340 KUHP. 4) Perasaan takut atau vress, antara lain terdapat dalam rumusan tindak pidana Pasal 308 KUHP.

Unsur-unsur obyektif adalah unsur-unsur yang ada hubungannya dengan keadaankeadaan, yaitu di dalam keadaan-keadaan mana tindakan-tindakan dari si pelaku itu harus dilakukan.

Unsur-unsur obyektif dari sesuatu tindak pidana itu adalah :

1) Sifat melanggar hukum atau wederrechtelijkheid. 2) Kualitas dari si pelaku. 3) Kausalitas, yakni hubungan antara sesuatu tindakan sebagai penyebab dengan sesuatu sebagai kenyataan (Lamintang, 1997 : 194).

18

C. Perbarengan Tindak Pidana (Concursus)

1. Pengertian Perbarengan Tindak Pidana

Pada dasarnya yang dimaksud dengan perbarengan ialah terjadinya dua atau lebih tindak pidana oleh satu orang di mana tindak pidana yang dilakukan pertama kali belum dijatuhi hukuman pidana, atau antara tindak pidana yang awal dengan tindak pidana yang berikutnya belum dibatasi oleh putusan hakim (Adami Chazawi, 2007 : 109).

KUHP mengatur perbarengan tindak pidana dalam bab VI Pasal 63 sampai dengan Pasal 71, ketentuan mengenai perbarengan tindak pidana pada dasarnya ialah suatu ketentuan mengenai bagaimana cara menyelesaikan perkara dan menjatuhkan pidana (sistem penjatuhan pidana) dalam hal apabila satu orang telah melakukan lebih dari satu tindak pidana dimana semua tindak pidana yang dilakukan tersebut belum diperiksa dan diputus di pengadilan, konkritnya ketentuan perbarengan ini mengatur dan menentukan mengenai, cara atau sistem penjatuhan pidana terhadap satu orang pembuat yang telah melakukan tindak pidana lebih dari satu yang semuanya belum diperiksa dan diputus di pengadilan.

Mengenai cara penyelesaian perkara demikian, undang-undang menghendaki adalah dengan memberkas beberapa tindak pidana tersebut kedalam satu berkas perkara dan menyidangkannya dalam satu perkara oleh satu majelis hakim, dan tidak dipecah-pecah menjadi beberapa perkara dengan menyidangkan sendirisendiri oleh beberapa majelis hakim.

19

Hal ini memang berbeda dengan terjadinya satu tindak pidana dimana pelakunya lebih dari satu orang, yang dalam tindak pidana tersebut terdapat penyertaan yang dengan alasan misalnya untuk kepentingan pemeriksaan maka boleh dilakukan dengan memecah atau memisah-misah berdasarkan orang-orang yang terlibat dalam tindak pidana tersebut, yang hal ini diperkenankan oleh Pasal 132 KUHAP (Adami Chazawi, 2007 : 113).

Menurut Roeslan Saleh : Ada dua alasan pembentuk undang-undang dalam hal menghendaki agar beberapa tindak pidana atau perbarengan tindak pidana (concursus) diadili secara serentak dan diputus dalam satu putusan pidana dan tidak dijatuhkan sendiri-sendiri dengan memperhitungkan sepenuhnya ancaman pidana pada masing-masng tindak pidana yang dilakukan tersebut, artinya agar tindak pidana yang terjadi dalam perbarengan terebut tidak dipidana sepenuhnya sesuai ancaman masing-masing pidana tersebut, ialah adanya pertimbangan psikologis dan pertimbangan dari segi kesalahan (Roeslan Saheh, 1981 : 106).

2. Bentuk-bentuk Perbarengan Tindak Pidana

Selain keharusan untuk menyidangkan atau menyelesaikan perkara perbarengan tindak pidana dalam satu majelis dengan menjatuhkan satu pidana, hal yang penting dalam perbarengan ini adalah mengenai hal sistem penjatuhan pidananya yang berkaitan langsung dengan macam-macam atau bentuk-bentuk dari perbarengan itu sendiri, perbarengan tindak pidana yang dapat dihukum mempunyai tiga bentuk, hal ini diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana adalah sebgai berikut :

20

a. Perbarengan Peraturan (Concursus Idealis)

Terwujudnya apa yang disebut dengan perbarengan peraturan pada dasarnya apabila satu wujud perbuatan melanggar lebih dari satu aturan pidana. Pengertian dasar ini sesuai apa yang dirumuskan dalam Pasal 63 ayat (1) KUHP, yang menyataan bahwa jika suatu perbuatan masuk kedalam lebih dari satu aturan pidana, maka yang dikenakan hanya salah satu di antara aturan-aturan itu, dan jika berbeda-beda, yang dikenakan yang memuat ancaman pidana pokok yang paling berat . Kalimat suatu perbuatan masuk dalam lebih dari satu aturan pidana yang menggambarkan arti dasar perbarengan peraturan. Dalam hal perbarengan peraturan dengan rumusan di atas, yang menjadikan persoalan besar ialah bukan sistem penjatuhan pidananya sebagaimana pada kalimat selebihnya dari rumusan ayat (1) dan rumusan ayat (2) dari Pasal 63 itu, tetapi ialah persoalan mengenai suatu perbuatan, hal ini juga terdapat dan sejalan dengan arti perbuatan pada Pasal 76 ayat (1) mengenai asas ne bis in idem dalam hukum pidana.

Penjatuhan pidana pada bentuk perbarengan peraturan menggunakan sistem hisapan (absorbs stelsel), artinya hanya dipidana tehadap salah satu dari aturan pidana tersebut, dan jika diantara aturan-aturan pidana itu berbeda-beda ancaman pidananya, maka yang dikenakan adalah terhadap aturan pidana yang terberat ancaman pidana pokoknya, dan apabila satu perbuatan itu masuk dalam aturan pidana umum yang sekaligus masuk ke dalam aturan pidana khusus, maka yang dikenakan adalah terhadap aturan pidana khusus saja, misalnya terjadi pemerkosaan di jalan umum, maka pelaku di ancam dengan pidana penjara 12

21

tahun menurut Pasal 285 KUHP (memperkosa), dan pidana penjara 2 tahun 8 bulan menurut Pasal 281 KUHP (melanggar kesusilaan dimuka umum), dengan sistem absorbsi maka diambil yang terberat, yaitu 12 tahun. Selanjutnya dalam Pasal 63 ayat (2) jika suatu perbuatan masuk ke dalam suatu aturan pidana umum, diatur pula dalam aturan pidan khusus, maka hanya yang khusus itulah yang diterapkan, maka dalam pasal ini terkandung adagium lex specialis derogate legi generali (aturan undang-undang yang khusus meniadakan aturan yang umum), jadi misalkan ada seorang ibu melakukan aborsi/pengguguran kandungan, maka ia dapat diancam dengan Pasal 338 tentang pembunuhan pidana penjara 15 tahun, namun karena Pasal 341 telah mengatur secara khusus tentang tindak pidana ibu yang membunuh anaknya, maka dalam hal ini tidak berlaku sistem absorbsi, ibu tersebut hanya diancam dengan Pasal 341 KUHP.

Berdasarkan ketentuan ketentuan Pasal 63 KUHP mengenai sistem hisapan pada perbarengan peraturan ini, dapat dikenakan tiga kemungkinan, ialah :

1. Pada perbarengan peraturan dri beberapa tindak pidana dengan ancaman pidana pokok yang sama berat ; 2. Pada perbarengan peraturan dari beberapa tindak pidana dengan ancama pidana pokoknya tidak sama berat ; 3. Pada perbarengan peraturan dimana satu perbuatan itu masuk atau diatur dalam suatu aturan pidana umum yang sekaligus masuk dalam aturan pidana khusus.

22

Menurut Adami Chazawi : Walaupun dalam hal perbarengan peraturan ini hakim hanya menerapkan aturan pidana yang terberat ancaman pidana pokoknya atau aturan pidana khususnya, tidak berarti majelis hakim tidak perlu mempertimbangkan kesalahan yang telah diperbuat terhadap aturan pidana yang lebih ringan atau aturan yang umum, pertimbangan yang demikian sangat diperlukan walaupun tidak perlu diterapkan perlunya pertimbangan ini disebabkan karena berhubungan dengan ketentuan pemberatan pada pengulangan, bila majelis hakim tidak mempertimbangkan tentang kesalahan terdakwa dan pelanggaran aturan yang lebih ringan demikian maka apa yang telah dilakukan oleh majelis hakim itu lalai atau sengaja telah mempersempit berlakunya hukum (Adami Chazawi, 2007 : 128).

b. Perbuatan Berlanjut (voortgezette Handeling)

Mengenai perbuatan berlanjut diatur dalam Pasal 64 KUHP, rumusan dari isi Pasal 64 KUHP tersebut adalah sebagai berikut :

(1) Jika beberapa perbuatan, meskipun masing-masing merupakan kejahatan atau pelanggaran, ada hubungannya sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut, maka hanya diterapkan yang memuat ancaman pidana pokok yang paling berat. (2) Demikian pula hanya dikenakan satu aturan pidana, jika orang yang dinyatakan bersalah melakukan pemalsuan atau perusakan mata uang, dan menggunakan barang yang dipalsu atau yang dirusak. (3) Akan tetapi, jika orang yang melakukan kejahatan-kejahatan tersebut dalam Pasal 364, 373, 379, dan 407 ayat (1), sebagai perbuatan berlanjut dan nilai kerugian yang ditimbulkan jumlahnya melebihi dari tiga ratus tujuh puluh lima rupiah, maka ia dikenakan aturan pidana tersebut dalam Pasal 362, 372, 378, dan 406.

23

Banyak ahli hukum yang menterjemahkan voortgezette handeling dengan perbuatan berlanjut. Utrecht menyebutnya dengan perbuatan terus-menerus, Schravendjik sama dengan Wirjono Prodjodikoro menyebutnya dengan

perbuatan yang dilanjutkan dan Soesilo menyebutnya dengan perbuatan yang diteruskan.

Apa pun istilah yang digunakan, mengenai apa yang dimaksud dengan perbuatan yang berlanjut pada rumusan ayat pertama, pada dasarnya adalah beberapa perbuatan baik berupa pelanggaran maupun kejahatan, yang satu dengan yang lain terdapat hubungan yang sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan yang berlanjut. Perbuatan berlanjut terjadi apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan baik kejahatan maupun pelanggaran dan perbuatan-perbuatan tersebut ada hubungannya sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai suatu perbuatan berlanjut.

Perbuatan disini adalah berupa perbuatan yang melahirkan tindak pidana, bukan semata-mata perbuatan jasmani atau juga bukan perbuatan yang menjadi unsur tindak pidana, antara perbuatan yang satu dengan perbuatan lainnya harus ada hubungan yang sedemikian rupa, namun demikian ada sedikit keterangan di dalam Memorie van Toelichting (MvT) Belanda mengenai pembuatan Pasal ini, yaitu bahwa berbagai perilaku harus merupakan pelaksanaan satu keputusan yang terlarang, dan bahwa suatu kejahatan yang berlanjut itu hanya dapat terjadi dari sekumpulan tindak pidana yang sejenis (Adami Chazawi, 2007 : 130).

24

Adapun ciri pokok dari perbuatan berlanjut ialah :

1. Adanya satu keputusan kehendak si pembuat; 2. Masing-masing perbuatan harus sejenis; 3. Tenggang waktu antara perbuatan-perbuatan itu tidak terlalu lama.

Sistem pemberian pidana bagi perbuatan-perbuatan berlanjut menggunakan sistem absosrbsi, yaitu hanya dikenakan satu aturan pidana terberat, dan bilamana berbeda-beda maka dikenakan pidana pokok yang terberat, Pasal 64 ayat (2) KUHP merupakan ketentuan khusus dalam hal pemalsuan dan perusakan mata uang, sedangkan Pasal 64 ayat (3) KUHP merupakan ketentuan khusus dalam hal kejahatan-kejahatan ringan yang terdapat dalam Pasal 364 KUHP (pencurian ringan), 373 KUHP (penggelapan ringan), Pasal 407 KUHP (perusakan barang ringan), yang dilakukan sebagai perbuatan berlanjut (Teguh Prasetyo, 2010 : 111).

c. Perbarengan Perbuatan (Concursus Realis)

Pasal 65 KUHP menyebutkan : 1) Dalam hal gabungan beberapa perbuatan yang harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri, sehingga merupakan beberapa kejahatan, yang diancam dengan pidana pokok yang sejenis, maka hanya dijatuhkan satu pidana. 2) Maksimum pidana yang dijatuhkan ialah jumlah maksimum pidana yang diancamkan terhadap perbuatan itu, tetapi tidak boleh dari maksimum pidana yang terberat ditambah sepertiga.

25

Letak manfaat dari pasal perbarengan perbuatan yang diatur dalam Pasal 63 dan Pasal 65 KUHP disebutkan dalam surat dakwaan, apabila dalam surat dakwaan diuraikan perbuatan materiil dari tiap unsur delik yang dilanggar pelaku baik dalam surat dakwaan tunggal maupun kumulatif maka tuntutan pidana hanya dituntut satu pidana apabila tiap-tiap delik diancam dengan pidana pokok yang sama, bukan dituntut atas dasar tiap tindak pidana yang dilakukan.

Perbarengan perbuatan tersebut dari semua delik yang diajukan di muka sidang pengadilan tetapi tuntutan pidana tersebut tidak boleh lebih dari ancaman pidana yang terberat ditambah sepertiganya dari delik tersebut, sesuai dengan apa yang diatur dalam Pasal 65 ayat (2) KUHP. Perbarengan perbuatan kiranya dapat disimpulkan dari rumusan Pasal 65 ayat (1) KUHP dan Pasal 66 (1) KUHP, yakni beberapa perbuatan yang masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan, jadi berdasarkan rumusan ayat (1) Pasal 65 dan 66 KUHP maka dapat disimpulkan bahwa masing-masing tindak pidana-tindak pidana dalam perbarengan perbuatan itu satu sama lain adalah terpisah dan berdiri sendiri.

Sistem penjatuhan pidana pada perbarengan perbuatan dibedakan menurut macamnya perbarengan perbuatan, mengenai perbarengan perbuatan undangundang membedakan menjadi empat macam, yaitu :

1. Perbarengan perbuatan yang terdiri dari beberapa kejahatan yan masing-masing diancam dengan pidana pokok yang sama jenisnya (Pasal 65 KUHP), penjatuhan pidananya dengan menggunakan sistem hisapan yang diperberat,

26

yaitu dijatuhi satu pidana saja dan maksimum pidana yang dijatuhkan itu ialah jumlah maksimum pidana yang diancamkan terhadap tindak pidana itu, tetapi boleh lebih dari maksimum pidana yang terberat di tambah sepertiga; 2. Perbarengan perbuatan yang terdiri dari beberapa kejahatan yang dancam dengan pidana pokok yang tidak sama jenisnya (Pasal 66 KUHP), penjatuhan pidananya dengan menggunakan sistem kumulasi terbatas, artinya masingmasing kejahatan itu diterapkan yakni pada si pembuatnya dijatuhi pidana sendiri-sendiri sesuai dengan kejahatan-kejahatan yang dibuatnya, tetapi jumlahnya tidak boleh lebih berat dari maksimum pidana yang terberat ditambah sepertiganya, apabila kejahatan yang satu diancam dengan pidana denda sedangkan kejahatan yang lain dengan pidana hilang kemerdekaan (penjara atau kurungan), maka untuk pidana denda dihitung dari lamanya kurungan pengganti denda; 3. Perbarengan perbuatan yang terdiri dari kejahatan dengan pelanggaran, penjatuhan pidananya menggunakan sistem kumulasi murni; 4. Perbarengan perbuatan yang terdiri dari pelanggaran dengan pelanggaran, menggunakan sistem kumulasi murni, artinya semua kejahatan maupun pelanggaran itu diterapkan sendiri-sendiri dengan menjatuhkan pidana pada si pembuat sesuai dengan ancaman pidana pada kejahatan maupun pelanggaran itu tanpa adanya pengurangan ataupun penambahan batas tertentu (Adami Chazawi, 2007 : 142).

27

C. Pengertian Penyertaan Tindak Pidana Pada saat ini hampir setiap tindak pidana yang terjadi dilakukan lebih dari seorang, jadi pada setiap tindak pidana itu selalu terlihat lebih daripada seorang yang berarti terdapat orang lain yang turut serta dalam pelaksanaan tindak pidana diluar diri pelaku, tiap-tiap peserta mengambil atau memberi sumbangannya dalam bentuk perbuatan kepada peserta lain sehingga tindak pidana tersebut terlaksana, dalam hal ini secara logis pertanggungjawabannya pun harus dibagi diantara peserta, dengan perkataan lain tiap-tiap peserta juga harus

mempertanggungjawabka peruatannya.

Dapat dikatakan bahwa Penyertaan dalam suatu tindak pidana terjadi apabila dalam suatu tindak pidana terlibat beberapa orang atau lebih dari seorang, hubungan antar peserta dalam menyelesaikan tindak pidana tersebut dapat bermacam-macam, yaitu :

1. Bersama-sama melakukan suatu tindak pidana. 2. Seorang mempunyai kehendak dan merencanakan sesuatu kejahatan sedangkan ia mempergunakan orang lain untuk melaksanakan tindak pidana tersebut. 3. Seorang saja yang melaksanakan tindak pidana, sedangkan orang lain membantu melaksanakan tindak pidana tersebut.

Ajaran penyertaan tindak pidana berpokok pada menentukan pertanggungjawaban peserta terhadap tindak pidana yang telah dilakukan, disamping itu juga mempersoalkan peranan atau hubungan tiap-tiap peserta dalam suatu pelaksanaan tindak pidana mengenai sumbangan atau peran apa yang telah diberikan tiap-tiap

28

peserta agar tindak pidana tersebut dapat diselesaikan (Teguh Prasetyo, 2010:134). Penyertaan dapat dibagi menurut sifatnya, yakni:

1. Bentuk penyertaan berdiri sendiri. Yang termasuk jenis ini adalah mereka yang melakukan dan yang turut serta melakukan tindak pidana, pertanggungjawaban masing-masing peserta dinilai atau dihargai sendiri-sendiri atas segala perbuatan atau tindakan yang dilakukan. 2. Bentuk penyertaan yang tidak berdiri sendiri. Yang termasuk dalam jenis ini adalah pembujuk, pembantu dan yang menyuruh untuk melakukan suatu tindak pidana, pertanggung jawaban dari peserta yang satu digantungkan pada perbuatan peserta lain (Teguh Prasetyo, 2010:134). Penyertaan diatur dalam Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP, berdasarkan pasal-pasal tersebut panyertaan dibagi menjadi dua pembagian besar, yaitu :

1. Pembuat / Dader (Pasal 55 KUHP) yang terdiri dari : a. Pelaku (pleger), adalah orang yang melakukan sendiri perbuatan yang memenuhi perumusan delik dan dipandang paling bertanggung jawab atas kejahatan b. Yang menyuruh melakukan (doenpleger), adalah orang yang melakukan perbuatan dengan perantara orang lain, sedang perantara itu hanya digunakan sebagai alat.

29

c. Yang turut serta (medepleger), adalah orang yang sengaja turut berbuat atau turut mengerjakan sesuatu, oleh karena itu kwalitas masing-masing peserta tindak pidana tidak sama. d. Penganjur (uitlokker), adalah orang yang menggerakkan orang lain untuk melakuka suatu tindak pidana dengan menggunakan sarana-sarana yang ditentukan oleh undang-undang secara limitatif, yaitu memberi atau menjajikan sesuatu, menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, kekerasan, ancaman, atau penyesatan, dengan member kesempatan, sarana, atau keterangan (Pasal 55 ayat (1) angka 2 KUHP). 2. Pembantu / Medeplichtige (Pasal 56 KUHP) yang terdiri dari pembantu pada saat kejahatan dilakukan dan pembantu sebelum kejahatan dilakukan.

D. Putusan Hakim Putusan hakim adalah hasil musyawarah yang bertitik tolak dari surat dakwaan dengan segala sesuatu yang terbukti dalam pemeriksaan di sidang pengadilan (M.Yahya Harahap, 2000:236). Dalam Pasal 1 butir 11 KUHAP disebutkan bahwa putusan pengadilan adalah pernyataan hakim yang diucapkan dalam sidang pengadilan terbuka, yang dapat berupa pemidanaan atau bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam Undangundang ini.

Putusan hakim merupakan mahkota dan puncak dari suatu perkara yang sedang diperiksa dan diadili oleh hakim tersebut, proses penjatuhan putusan yang dilakukan oleh seorang hakim merupakan suatu proses yang komplek dan sulit, sehingga memerlukan pelatihan, pengalaman, dan kebijaksanaan.

30

Dalam proses penjatuhan putusan tersebut, seorang hakim harus meyakini apakah seorang terdakwa melakukan tindak pidana atau tidak, atau dalam perkara perdata apakah ada sengketa hukum yang terjadi di antara pihak penggugat dan tergugat, dengan tetap berpedoman pada pembuktian untuk menentukan kesalahan dari perbuatan yang dilakukan oleh seorang pelaku tindak pidana, atau untuk menentukan adanya pelanggaran hukum yang dilakukan oleh salah satu pihak yang berperkara, yaitu apakah pihak penggugat atau tergugat yang melakukannya. Setelah menerima dan memeriksa suatu perkara, selanjutnya hakim akan menjatuhkan keputusan yang dinamakan dengan putusan hakim, yang diucapkan dalam sidang pengadilan yang terbukan untuk umum yang bertujuan untuk mengakhiri atau menyelesaikan suatu perkara.

Proses penjatuhan putusan oleh hakim, dalam perkara pidana menurut Moelyatno dilakukan dalam beberapa tahapan yaitu :

a. Tahap menganalisis perbuatan pidana ; b. Tahap menganalisis tanggung jawab pidana ; c. Tahap penentuan pemidanaan ( Ahmad RifaI, 2010:96 ).

Isi putusan pengadilan diatur dalam Pasal 50 Undang-undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang menyatakan bahwa:

(1) Putusan pengadilan selain harus memuat alasan dan dasar putusan, juga memuat pasal tertentu dari peraturan perundang-undangan yang bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk mengadili.

31

(2) Tiap putusan pengadilan harus ditandatangani oleh ketua serta hakim yang memutus dan panitera yang ikut serta bersidang.

Sesudah putusan pemidanan diucapkan, hakim ketua sidang wajib memberitahu kepada terdakwa tentang apa yang menjadi haknya, yaitu :

1) Hak segera menerima atau segera menolak putusan (Pasal 196 ayat (3) huruf a Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana). 2) Hak mempelajari putusan sebelum menyatakan menerima atau menolak putusan, dalam tenggang waktu yang telah ditentukan yaitu tujuh hari sesudah putusan dijatuhkan atau setelah putusan diberitahukan kepada terdakwa yang tidak hadir (Pasal 196 ayat (3) huruf b jo. Pasal 233 ayat (2) Kitab UndangUndang Hukum Acara Pidana). 3) Hak minta penangguhan pelaksanaan putusan dalam tenggang waktu yang ditentukan oleh undang-undang untuk dapat mangajukan grasi, dalam hal ia menerima putusan (Pasal 196 ayat (3) huruf c Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana). 4) Hak minta banding dalam tenggang waktu tujuh hari setelah putusan dijatuhkan atau setelah putusan diberitahukan kepada terdakwa yang tidak hadir sebagaimana dimaksud dalam Pasal 196 ayat (2) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana ,Pasal 196 ayat (3) jo. Pasal 233 ayat (2) Kitab UndangUndang Hukum Acara Pidana. 5) Hak segera mencabut pernyataan sebagaimana dimaksud pada butir a (menolak putusan) dalam waktu seperti ditentukan dalam Pasal 235 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang menyatakan bahwa selama

32

perkara banding belum diputus oleh pengadilan tinggi, permintaan banding dapat dicabut sewaktu-waktu dan dalam hal sudah dicabut, permintaan banding dalam perkara itu tidak boleh diajukan lagi (Pasal 196 ayat (3) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana).

Dalam Pasal 197 ayat (1) KUHAP dijelaskan tentang adanya formalitas yang harus dipenuhi dalam pembuatan surat putusan pemidanaan, yang jika tidak terpenuhi maka keputusan tersebut dapat mengakibatkan batal demi hukum. Ketentuan tersebut adalah : a. Kepala putusan berbunyi : DEMI

KEADILAN

BERDASARKAN

KETUHANAN YANG MAHA ESA ; b. Nama lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama, pekerjaan terdakwa ; c. Dakwaan, sebagaimana terdapat dalam surat dakwaan ; d. Pertimbangan yang disususn secara ringkas mengenai fakta dan keadaan beserta alat pembuktiana yang diperoleh dari pemeriksaan di sidang yang menjadi dasar penentuan kesalahan terdakwa ; e. Tuntutan pidana, sebagaimana terdapat dalam surat tuntutan ; f. Pasal peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar hukum dari putusan disertai keadaan yang memberatkan dan meringankan ; g. Hari dan tanggal diadakannya musyawarah majelis hakim kecuali perkara diperiksa oleh hakim tunggal ;

33

h. Pernyataan kesalahan terdakwa, pernyataan telah terpenuhi semua unsur dalam rumusan delik disertai dengan kualifikasinya dan pemidanaan atau tindakan yang dijatuhkan ; i. Ketentuan kepada barang siapa biaya perkara dibebankan dengan menyebutkan jumlahnya yang pasti dan ketentuan mengenai barang bukti ; j. Keterangan bahwa seluruh surat ternyata palsu atau keterangan dimana letaknya kepalsuan itu, jika terdapat surat otentik dianggap palsu ; k. Perintah supaya terdakwa ditahan atau tetap dalam tahanan atau dibebaskan ; l. Hari dan tanggal putusan, nama penuntut umum, nama hakim yang memutus, dan nama panitera.
[Type a quote from the document or the summary of an interesting point. You can position the text box anywhere in the document. Use the Text Box Tools tab to change the formatting of the pull quote text box.]

34 [Type a quote from the document or the summary of an interesting point. [Type a quote from You can position the text the document or the box anywhere in the summary anText document. Useof the interesting You Box Tools tab to point. change can position the formatting of the the text pull box anywhere in the quote text box.] document. Use the Text Box Tools tab to change the formatting of the pull quote text box.]

III. METODE PENELITIAN

A. Pendekatan Masalah

Pendekatan masalah yang digunakan penulis dalam penulisan ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dan pendekatan yuridis empiris. Pendekatan normatif dilakukan dengan mempelajari, melihat, dan menelaah mengenai beberapa hal yang bersifat teoritis yang menyangkut asas-asas hukum yang berkenaan dengan

permasalahan yaitu mengenai analisis yuridis terhadap perbarengan tindak pidana dalam rangka penyertaan tindak pidana (Studi Kasus Putusan Pengadilan Negeri Tanjung Karang Nomor 562/PID.B/2010/PN.TK).

Pendekatan yuridis empiris adalah pendekatan masalah dengan menelaah hukum dalam kenyataan baik berupa penilaian, pendapat, sikap yang dimaksudkan untuk memperoleh pemahaman tentang pokok bahasan yang jelas mengenai gejala dan objek yang sedang diteliti, digunakan metode wawancara dengan hakim, dan jaksa yang menangani perkara tindak pidana Nomor : 562/PID.B/2010/PN.TK, disamping itu juga pendapat Dosen Hukum Pidana Universitas Lampung dan penasihat hukum, semuanya berfungsi sebagai pembantu dalam menganalisis skripsi ini. Jenis dan sifat penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah penelitian yang bersifat analisis.

35

B. Sumber dan Jenis Data

Data yang dipergunakan dalam penelitian guna penulisan skripsi ini, yaitu data primer dan data sekunder.

1. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari pemberi data atau orang yang berhubungan langsung dengan objek penelitian dilapangan dengan mengadakan wawancara langsung kepada hakim dan jaksa yang menangani perkara pidana Nomor : 562/PID.B/2010/PN.TK serta Dosen Hukum Pidana Universitas Lampung dan penasihat hukum. 2. Data sekundar adalah data yang diperoleh dari data kepustakaan yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier. a. Bahan hukum primer, yaitu bahan hukum yang mempunyai kekuatan hukum yang mengikat. Dalam hal ini bahan hukum primer terdiri dari : 1. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). 2. Undang-undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. b. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan-bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer seperti literatur-literatur, makalah-makalah, putusan pengadilan negeri tanjung karang nomor 562/PID.B/2010/PN.TK, dan lain-lain yang mempunyai relevansi dengan permasalahan yang sedang diteliti.

36

c. Bahan hukum tersier, yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk atau penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, yaitu meliputi kamus ensiklopedia, literatur-literatur. C. Populasi dan Sampel

Populasi adalah keseluruhan dari objek pengamatan atau objek penelitian (Burhan Ashshofa, 2001 : 79). Dalam skripsi ini yang dijadikan populasi adalah pihakpihak yang berkaitan langsung dengan penerapan pidana terhadap pelaku perbarengan tindak pidana pembunuhan dalam rangka penyertaan. Untuk menentukan sampel dari populasi yang akan diteliti, digunakan metode purposive sampling yaitu dalam menentukan sampel disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai dan dianggap telah mewakili populasi. Sampel yang dijadikan responden adalah 1 (satu) orang orang hakim, 1 (satu) orang jaksa, 1 (satu) orang dosen, serta 1 orang penasihat hukum.

Responden dalam penulisan ini sebanyak 4 (lima) orang, yaitu : 1. Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Karang 2. Jaksa Kejaksaan Negeri Bandar Lampung 3. Dosen Hukum Pidana Universitas Lampung 4. Penasihat Hukum Pada Kantor Hukum Kadri Husin dan Rekan Jumlah : 1 Orang : 1 Orang : 1 Orang : 1 Orang : 4 Orang

37

D. Metode Pengumpulan dan Pengolahan Data

1. Metode Pengumpulan Data

Dalam upaya mengumpulkan data yang diperlukan dalam penulisan ini, penulis menggunakan prosedur studi lapangan dan studi kepustakaan.

a. Studi kepustakaan Studi kepustakaan dilakukan untuk memperoleh data sekunder. Studi kepustakaan dilakukan dengan cara membaca, mengutip hal-hal yang dianggap penting dan perlu dari beberapa peraturan perundang-undangan, literatur, dan bahan-bahan tertulis lainnya yang berkaitan dengan materi pembahasan. b. Studi Lapangan Studi lapangan dilakukan untuk memperoleh data primer. Studi lapangan dilakukan dengan cara mengadakan wawancara (interview) dengan responden. Wawancara dilakukan secara langsung dengan mengadakan tanya jawab secara terbuka dan mendalam untuk mendapatkan keterangan atau jawaban yang utuh sehingga data yang diperoleh sesuai dengan yang diharapan. Metode wawancara yang digunakan adalah standarisasi interview dimana hal-hal yang akan dipertanyakan telah disiapkan terlebih dahulu (wawancara terbuka). Studi lapangan dilakukan di wilayah hukum Pengadilan Negeri Tanjung Karang.

2. Metode Pengolahan Data

Data yang terkumpul melalui kegiatan pengumpulan data yang kemudian diproses melalui pengolahan dan peninjauan data dengan melakukan :

38

a. Evaluasi, yaitu data yang diperoleh diperiksa untuk mengetahui apakan masih terdapat kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan, serta apakah data tersebut sesuai dengan permasalahan yang akan dibahas. b. Klasifikasi, yaitu pengelompokan data yang telah dievaluasi menurut bahasanya masing-masing setelah dianalisis agar sesuai dengan permasalahan. c. Sistematisasi, yaitu melakukan penyusunan dan penempatan data pada tiap pokok bahasan sistematis sehingga memudahkan pembahasan.

E. Analisis Data

Setelah dilakukan pengumpulan dan pengolahan data, kemudian dilakukan analisis data dengan menggunakan analisis kualitatif dilakukan dengan cara menguraikan data yang diperoleh dari hasil penelitian dalam bentuk kalimatkalimat yang disusun secara sistematis, sehingga dapat diperoleh gambaran yang jelas tentang masalah yang akan diteliti, sehingga ditarik suatu kesimpulan dengan berpedoman pada cara berfikir induktif, yaitu suatu cara berfikir dalam mengambil kesimpulan secara umum yang didasarkan atas fakta-fakta yang bersifat khusus guna menjawab permasalahan yang telah dikemukakan.

39 [Type a quote from the document or the summary of an interesting point. You can position the text box anywhere in the document. Use the Text Box Tools tab to change the formatting of the pull quote text box.]

VI. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Karakteristik Responden

Penulis melakukan penelitian menggunakan studi wawancara terhadap sejumlah responden, untuk mengutahui gambaran objektif dari diri responden maka dikemukakan terlebih dahulu karakteristik responden yaitu 1 (satu) orang hakim pada Pengadilan Negeri Tanjung Karang, 1 (satu) orang Jaksa pada Kejaksaan Negeri Bandar Lampung, 1 (satu) orang Penasihat Hukum pada kantor Hukum Kadri Husin dan Rekan dan 1 (satu) orang Dosen Hukum Universitas Lampung.

1. Nama : Sri Widyastuti, SH Jenis Kelamin : Perempuan NIP : 040053567 Pangkat / Golongan : Hakim/IVb Jabatan : Hakim Instansi : Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjung Karang 2. Nama : Eka Aftriani, S.H. Jenis Kelamin : Perempuan NIP : 197904072002122005 Pangkat / Golongan : Jaksa Pratama / IIIC Jabatan : Jaksa Instansi : Kejaksaan Negeri Bandar Lampung 3. Nama : Rinaldy Amrullah, S.H.,M.H Jenis Kelamin : Laki-laki NIP : 198011182008011008 Pangkat / Golongan : Penata Muda Tk I / IIIb Jabatan : Dosen Hukum Pidana Universitas Lampung Instansi : Universitas Lampung

40

4. Nama Jenis Kelamin Jabatan

: Ngadimin, S.H : Laki-laki : Advokat

B. Gambaran Umum Putusan Pengadilan Negeri Tanjung Karang Nomor 562/PID.B/2010/PN.TK

Penulisan skripsi ini yang penulis jadikan sebagai bahan penelitian yaitu putusan hakim Pengadilan Negeri Tanjung Karang Nomor 562/PID.B/2010/PN.TK adapun gambaran umum dari perkara tersebut yaitu :

1. Identitas Terdakwa.

Nama Tempat lahir Umur / Tanggal lahir Jenis Kelamin Kebangsaan Tempat Tinggal Agama Pekerjaan

: Kasyono alias Masno alias No Bin Komorejo : Kediri, Jawa Timur : 45 tahun / 25 September 1965 : Laki-laki : Indonesia : Jl. Teluk Semangka III Kp. Slirit Cikaung Kec. Panjang Selatan Bandar Lampung : Islam : Buruh

2. Tentang duduk perkara.

Bahwa terdakwa pada hari selasa 22 Februari 2005 telah dengan sengaja melakukan pembunuhan yang didahului oleh suatu perbuatan pidana yang dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah

pelaksanaannya untuk memastikan penguasaan barang yang diperoleh secara melawan hukum. Adapun kronologis sebagai mana yang ada dalam surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum adalah sebagai berikut : Pada awalnya hubungan antara saksi Bihman Sanusi dengan istrinya yang bernama Hartati Saheh (korban) kurang harmonis karena saksi Bihman Sanusi disangka oleh korban telah berselingkuh dengan wanita lain.

41

Selanjutnya beberapa hari sebelum hari selasa 22 Februari 2005 (peristiwa pembunuhan) terdakwa diminta oleh korban Hartati Saheh agar datang kerumah korban di Jl. MH Thamrin No. 54 Kel Gotong Royong Kec. Tanjung Karang Pusat Bandar Lampung dan setelah itu terdakwa datang kerumah korban lalu korban menyuruh terdakwa untuk mencari tahu siapa pacar saksi Bihman Sanusi (suami korban) dan jika ketemu, korban meminta kepada terdakwa agar pacar suami korban disakiti atau dibunuh dengan mengiming-imingi uang sebesar Rp.1.500.000 (satu juta lima ratus ribu rupiah), kemudian perintah korban tersebut oleh terdakwa diberitahukan kepada saksi Bihman Sanusi (suami korban) melalui telepon, dan setelah mendengar pemberitahuan terdakwa tersebut, saksi Bihman Sanusi marah dan berbalik menyuruh terdakwa dengan kata-kata kamu jangan banyak omong,kalau kamu mau uang Rp 10.000.000 (sepuluh juta rupiah) lebih ambil dilaci lemari kamar dan kamu abisin orangnya. Setelah mendapat perintah dan iming-iming uang dari saksi Bihman Sanusi tersebut, maka terdakwa menjadi tergiur dan selanjutnya pada hari selasa 22 Februari 2005 terdakwa mendapat telepon dari korban dan meminta agar terdakwa datang kerumah korban dengan maksud untuk menanyakan mengenai informasi tentang suami korban, dan pada saat itulah terfikir oleh terdakwa bahwa inilah kesempatan yang tepat untuk menghabisi korban sesuai perintah saksi Bihman Sanusi. Kemudian terdakwa pergi kerumah korban dengan naik angkot dan sesampainya dirumah korban, terdakwa diminta korban untuk memijit kakinya dengan posisi korban duduk dikursi sedangkan terdakwa duduk dilantai, kemudian korban mengeluarkan uang dari saku bajunya dan diletakkan diatas meja yang menurut korban jumlahnya Rp.1.500.000 (satu juta lima ratus ribu rupiah) kemudian korban meminta agar terdakwa memijit bahunya dan ketika sambil memijit bahu korban, terdakwa memanfaatkan kesempatan untuk melaksanakan perintah suami korban, yaitu menghabisi nyawa korban. Terlihat oleh terdakwa sebuah palu yang terletak didalam kaleng yang ada didekat korban, kemudian palu tersebut terdakwa ambil dan digunakan terdakwa untuk memukul bagian tengkuk atau leher belakang korban sebanyak dua kali hingga korban tersungkur dilantai dan mengeluarkan darah dari mulutnya, lalu terdakwa menyeret korban kebelakang sampai dekat sumur, lalu terdakwa mengambil tali timba yang tergantung disumur dan melilitkannya ke leher dan badan korban, kemudian terdakwa mendorong korban hingga jatuh kedalam sumur. Selanjutnya terdakwa mengambil uang yang diletakkan diatas meja oleh korban sebanyak Rp 1.500.000 (satu juta lima ratus ribu rupiah) dan kemudian masuk kedalam kamar korban dengan membawa linggis yang diperoleh diruang tengah, untuk mencongkel lemari guna mengambil uang yang diberitahu oleh saksi Bihman Sanusi, setelah berhasil membuka

42

lemari dan mengambil uang sebesar Rp18.000.000 (delapan belas juta rupiah),kemudian terdakwa menghitung uang yang diperolehnya sejumlah Rp.19.500.000 (sembilan belas juta lima ratus ribu rupiah) dan pergi kerumah pacar terdakwa, dan mengajak pacar terdakwa pergi ke jawa. Menurut Eka Aftriani dalam wawancara dengan penulis menyatakan bahwa, dalam perkara register 562/PID.B/2010/PN.TK terdakwa didakwa dengan bentuk dakwaan alternatif , artinya dalam surat dakwaan terdapat beberapa dakwaan yang disusun secara berlapis, lapisan yang satu merupakan alternatif dan bersifat mengecualikan dakwaan pada lapisan lainnya, bentuk dakwaan ini digunakan bila belum didapat kepastian tentang tindak pidana mana yang paling tepat dapat dibuktikan. Meskipun dakwaan terdiri dari beberapa lapisan tetapi hanya satu saja yang akan dibuktikan, pembuktian dakwaan tidak perlu dilakukan secara berusut sesuai lapisan dakwaan, tetapi langsung pada dakwaan yang dipandang terbukti, apabila salah satu dakwaan telah terbukti maka dakwaan pada lapisan lainnya tidak perlu dibuktikan. Pada tanggal 12 Agustus 2010, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tanjung Karang menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Kasyono alias Masno alias No Bin Komorejo dengan pidana penjara selama 16 tahun.

C. Dasar Pertimbangan Hakim Dalam Menjatuhkan Pidana Terhadap Pelaku Perbarengan Tindak Pidana Pembunuhan Dalam Rangka Penyertaan

Hakim adalah salah satu aparat yang berwenang dalam upaya penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana. Pada Pasal 2 Undang-undang Nomor 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman disebutkan bahwa semua peradilan diseluruh wilayah Negara Republik Indonesia adalah peradilan negara yang diatur dengan undang-undang serta menerapkan dan menegakkan hukum serta keadilan

43

berdasarkan Pancasila dan peradilan dilakukan Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa juga diselenggarakan dengan sederhana, cepat, dan biaya ringan.

Pada dasarnya pelaksanaan tugas dan tanggung jawab hakim dilakukan dalam rangka menegakkan kebenaran dan keadilan, dengan berpegang pada hukum, undang-undang, dan nilai-nilai keadilan dalam masyarakat, dalam diri hakim diemban amanah agar peraturan perundang-undangan diterapkan secara benar dan adil, dan apabila penerapan peraturan perundang-undangan akan menimbulkan ketidakadilan, maka hakim wajib berpihak pada keadilan dan mengenyampingkan hukum atau peraturan perundang-undangan. Hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup dalam masyarakat, yang tentunya merupakan pencerminan dari nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.

Dalam mengadili suatu perkara, hakim berusaha menegakkan kembali hukum yang telah dilanggar, disamping itu dalam menegakkan hukum, hakim melaksanakan hukum yang berlaku dengan dukungan rasa keadilan yang ada padanya dan keadilan yang ada dalam masyarakat, sehingga dapat dikatakan bahwa hakim adalah penegak hukum (J Pajar Widodo, 2010:2).

Berdasarkan hasil penelitian di Pengadilan Negeri kelas IA Tanjung Karang, Sri Widyastuti mengatakan bahwa, proses atau tahapan penjatuhan putusan oleh hakim dalam perkara pidana dilakukan beberapa tahapan, yaitu sebagai berikut.

44

1. Tahap menganalisis perbuatan pidana Pada saat hakim menganalisis, apakah terdakwa melakukan perbuatan pidana atau tidak, yang dipandang primer adalah segi masyarakat, yaitu perbuatan sebagaimana tersebut dalam rumusan suatu aturan pidana, jika perbuatan terdakwa memenuhi unsur-unsur dalam suatu pasal hukum pidana maka terdakwa dinyatakan terbukti melakukan perbuatan pidana yang didakwakan kepadanya. 2. Tahap menganalisis tanggung jawab pidana Jika seorang terdakwa dinyatakan terbukti melakukan perbuatan pidana melanggar suatu Pasal tertentu, hakim menganalisis apakah terdakwa dapat dinyatakan bertanggujawab atas perbuatan pidana yang dilakukannya, pada saat menyelidiki apakah terdakwa dapat melakukan pertanggungjawaban terhadap perbuatannya, yang dipandang primer adalah orang itu sendiri. Dapat dipidananya seseorang harus memenuhi dua syarat, yaitu perbuatan yang bersifat melawan hukum sebagai sendi perbuatan pidana, dan perbuatan yang dilakukan tersebut dapat dipertanggungjawabkan sebagai suatu kesalahan. 3. Tahap penentuan pemidanaan Dalam hal ini jika hakim berkeyakinan bahwa pelaku telah melakukan perbuatan melawan hukum, sehingga ia dinyatakan bersalah atas perbuatannya itu dapat dipertanggungjawabkan oleh pelaku, maka hakim akan menjatuhkan pidana terhadap pelaku tersebut dengan melihat Pasal dalam Undang-undang yang dilanggar oleh pelaku tersebut.

45

Sri Widyastuti juga menambahkan bahwa dalam menggali perkara yang dihadapinya maka hakim akan :

1. Dalam kasus yang hukumannya sudah jelas, maka hakim tinggal menerapkan hukumnya saja. 2. Dalam kasus yang hukumnya tidak ada atau belum jelas, maka hakim akan menafsirkan hukum atau undang-undang melalui cara-cara penafsiran yang lazim digunakan dalam ilmu hukum. 3. Dalam kasus dimana terjadi pelanggaran atau penerapan hukum yang bertentangan dengan hukum atau undang-undang yang berlaku, maka hakim akan menggunakan hak mengujinya (judicial review). 4. Dalam kasus yang belum ada undang-undangnya maka hakim harus menemukan hukumnya dengan mengadili dan mengikuti nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat.

Menurut analisa penulis, hakim dalam menjatuhkan putusan lebih cenderung memperhatikan tingkat kesalahan yang dilakukan oleh pelaku tindak pidana, disamping itu hakim juga akan melihat hal yang berkaitan dengan keadaan psikologi pelaku tindak pidana pada saat melakukan tindak pidana, hal ini dilakukan hakim karena pada dasarnya dalam menjatuhkan pidana tidak serta merta berpedoman pada ketentuan perundang-undangan yang dilanggar oleh pelaku tindak pidana, tetapi hakim juga mempunyai suatu keyakinan dalam menjatuhkan pidana terhadap pelaku tindak pidana.

46

Hakim dalam memutus suatu perkara mempunyai dasar pertimbangan melalui proses pemikiran untuk kemudian memberikan keputusan mengenai hal-hal yang bersifat yuridis maupun yang bersifat non yuridis, sebagi berikut :

1. Hal-hal yang bersifat yuridis : a. Dakwaan Jaksa Penuntut Umum; b. Keterangan terdakwa dan saksi; c. Barang bukti yang ditunjukkan dalam persidangan; d. Pasal-pasal yang terdapat didalan hukum pidana.

2. Hal-hal yang bersifat non yuridis : a. Latar belakang perbuatan terdakwa; b. Akibat perbuatan terdakwa; c. Kondisi diri terdakwa; d. Keadaan sosial ekonomi terdakwa; e. Fator agama dari terdakwa ( Rusli Muhammad, 2007 : 212 ).

Dalam hal terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam dakwaan penuntut umum, maka terhadap terdakwa harus dijatuhi pidana yang setimpal dengan tindak pidana yang dilakukan, sebagai mana diatur dalam Pasal 193 ayat (1) KUHAP.

Mahkamah Agung Republik Indonesia sebagai badan tertinggi pelaksana kekuasaan kehakiman yang membawahi empat badan peradilan dibawahnya, yaitu Peradilan Umum, Peradilan Militer, Peradilan Agama, dan Peradilan Tata Usaha Negara, telah menentukan bahwa putusan hakim harus mempertimbangkan segala

47

aspek yang bersifat yuridis, filosofis, dan sosiologis, sehingga keadilan yang ingin dicapai, diwujudkan, dan dipertanggungjawabkan dalam putusan hakim adalah keadilan yang berorientasi pada keadilan hukum, keadilan moral, dan keadilan masyarakat ( Ahmad Rifai, 2010 : 126 ).

Berdasarkan

putusan

pengadilan

dengan

nomor

register

perkara

562/PID.B/2010/PN.TK, diketahui bahwa telah terjadi suatu peristiwa pidana yakni tindak pidana pembunuhan yang didahului dengan suatu perbuatan pidana yang dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pelaksanaannya, untuk memastikan penguasaan barang yang diperolehnya secara melawan hukum. Untuk merumuskan unsur-unsur pidana tersebut sesuai dengan dakwaan Jaksa Penuntut Umum yang disusun dengan bentuk dakwaan alternatif Pertama melanggar Pasal 339 KUHP Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP, yaitu : a. Unsur Barang Siapa ; b. Unsur Telah Sengaja Melakukan Pembunuhan ; c. Unsur yang disertai oleh suatu perbuatan pidana yang dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pelaksanaannya untuk memastikan penguasaan barang yang diperoleh secara melawan hukum.

Dalam perkara tersebut diatas maka majelis hakim Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjung Karang yang memeriksa dan mengadilinya berkesimpulan bahwa seluruh unsur Pasal 339 KUHP Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP yang didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum telah terpenuhi dan oleh karena itu hakim telah memperoleh keyakinan akan kesalahan terdakwa, telah terbukti secara sah dan

48

meyakinkan dan selanjutnya menjatuhkan putusan berupa pidana penjara selama16 (enam belas) tahun.

Adapun pertimbangan hukum oleh hakim dalam menjatuhkan putusan terhadap pelaku tindak pidana tersebut adalah sebagai berikut :

a. Menimbang bahwa berdasarkan keterangan saksi-saksi, keterangan terdakwa, visum et repertum nomor 353/1602/5.2/III/2010 tanggal 12 Maret atas nama Hartati Saheh, barang bukti serta fakta-fakta hukum lainnya yang terungkap di persidangan, maka majelis hakim berpendapat bahwa seluruh unsur dakwaan Jaksa Penuntut Umum yakni Pasal 339 KUHP Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP untuk perkara nomor 562/PID.B/2010/PN.TK atas nama Kasyono alias Masno alias No Bin Komorejo telah terbukti sah dan meyakinkan. b. Menimbang bahwa selain fakta-fakta yang terungkap dipersidangan, terdakwa melakukan pembunuhan terhadap korban karena bujukan dan janji dengan imbalan berupa uang dari saksi Bihman Sanusi. c. Menimbang, bahwa terdakwa mengambil uang yang ada didalam laci lemari maupun yang ada disaku daster korban adalah tanpa seijin dari korban Hartati Saheh, selain itu terdakwa mengetahui bila dilemari ada uang adalah atas pemberitahuan saksi Bihman Sanusi. d. Menimbang, bahwa selama proses persidangan terdakwa Kasyono alias Masno alias No Bin Komorejo sehat jasmani dan akalnya serta mampu menjawab seluruh pertanyaan-pertanyaan yang diajukan majelis hakim dan penuntut umum, dan selam persidangan berlangsung tidak ditemukan adanya alasan pemaaf maupun alasan pembenar yang dapat menghapuskan

49

pertanggungjawaban pidana Kasyono alias Masno alias No Bin Komorejo harus dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman pidana yang setimpal dengan perbuatannya. Secara garis besar, uraian pertimbangan hukum oleh hakim diatas adalah :

1. Uraian putusan hakim yang memeriksa dan mengadili perkara tersebut mendasar pada terpenuhinya atau tidak terpenuhinya seluruh unsur yang didakwakan oleh jaksa penuntut umum, setelah itu akan ditentukan apakah perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa tersebut adalah pelanggaran hukum atau bukan merupakan pelanggaran hukum. 2. Setelah diketahui bahwa perbuatan tersebut melanggar hukum, maka selanjutnya hakim akan menentukan kemampuan terdakwa dalam

mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa. 3. Jenis pidana yang dijatuhkan mempertimbangkan : a. Tingkat kesalahan yang telah dilakukan. b. Pengaruh tindak pidana yang telah dilakukan terhadap korban dan masyarakat. c. Ancaman terhadap Pasal yang didakwakan. d. Hal yang meringankan dan hal yang memberatkan. e. Fakta-fakta yang terungkap dipersidangan. 4. Lamanya pidana yang dijatuhkan kepada terdakwa, yaitu pidana penjara selama 16 tahun disesuaikan dengan tingkat kesalahan terdakwa, motivasi terdakwa dalam melakukan tindak pidana tersebut, sikap batin terdakwa, serta fakta hukum lainnya yang terungkap dipersidangan dan juga mempertimbangkan hal-hal yang meringankan atau yang memberatkan bagi terdakwa.

50

Menurut Ngadimin dalam wawancara dengan penulis menyatakan bahwa hakim dalam menjatuhkan putusannya lebih banyak mempertimbangkan dengan menggunakan hati nurani dan menggunakan keyakinan hakim yang berdasarkan pada peristiwa atau keadaan terdakwa.

Dalam kasus ini majelis hakim berpendapat bahwa perbuatan terdakwa terjadi karena faktor ekonomi yang memotivasi terdakwa dalam melakukan tindak pidana pembunuhan tersebut, hal ini dapat diketahui bahwa terdakwa melakukan pembunuhan terhadap korban karena tergiur pada bujukan dan janji suami korban yang akan memberikan sejumlah uang kepada terdakwa, sehingga majelis hakim menjatuhkan pidana :

1. Menyatakan terdakwa Kasyono alias Masno alias No Bin Komorejo telah terbukti sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana Pembunuhan yang didahului dengan suatu perbuatan pidana yang dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pelaksanaannya, untuk memastikan penguasaan barang yang diperolehnya secara melawan hukum ; 2. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Kasyono alias Masno alias No Bin Komorejo dengan pidana penjara selama 16 (enam belas) tahun ; 3. Menetapkan masa penahanan yang telah dijalani terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang telah dijatuhkan ; 4. Memerintahkan agar terdakwa tetap berada dalam tahanan ; 5. Menyatakan barang bukti berupa palu besi bergagang besi, tali timba yang terbuat dari karet ban mobil, foto buffet, difan dan lemari terbuat dari

51

kayu/papan dipergunakan untuk pembuktian dalam perkara lain atas nama terdakwa Bihman Sanusi ; 6. Membebankan kepada terdakwa membayar biaya perkara sebesar Rp 2000 (dua ribu rupiah).

Dalam wawancara yang dilakukan penulis, Eka Aftriani menyatakan bahwa pemidanaan bertujuan untuk :

1. Mencegah agar orang tidak lagi melakukan tindak pidana dengan menegakkan norma hukum. 2. Memasyarakatkan narapidana dengan cara pembinaan sehingga menjadikan narapidana tersebut menjadi orang yang lebih baik. 3. Menyelesaikan konflik yang timbul akibat adanya suatu tindak pidana. 4. membebaskan rasa bersalah pada narapidana karena telah menjalani hukuman.

Rinaldy Amrullah menyatakan bahwa tujuan pemidanaan dimaksudkan bukan dalam arti untuk pembalasan yang menimbulkan penderitaan dan merendahkan martabat manusia, tetapi bertujuan untuk mendidik, memperbaiki pelaku atas perbuatan yang merugikan orang lain, membuat efek jera kepada para pelaku tindak pidana agar tidak mengulangi perbuatannya lagi dan menjadikan mereka pribadi yang lebih baik bagi masyarakat luas. Menurut analisa penulis, tujuan pemidanaan pada dasarnya sebagai alat untuk memberikan pemahaman kepada pelaku tindak pidana, sekaligus kepada masyarakat bahwa apabila seseorang melanggar ketentuan perundang-undangan maka akan dikenakan sanksi pidana.

52

Setelah mencermati dan mempelajari isi dari putusan hakim, juga penelitian yang dilakukan di Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjung Karang, dapat diketahui bahwa hakim dalam menjatuhkan hukuman terhadap terdakwa dalam perkara nomor 562/PID.B/2010/PN.TK secara garis besar mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut :

1. Hal-hal yang bersifat yuridis. a) Dakwaan Jaksa Penuntut Umum Setelah jalannya persidangan, hal-hal yang didakwakan oleh Penuntut Umum telah terbukti, terdakwa terbukti melakukan pembunuhan terhadap korban yakni Hartati Saheh dengan latar belakang pembunuhan tersebut dilakukan atas bujukan dan janji suami korban, yakni Bihman Sanusi yang akan memberikan sejumlah uang kepada terdakwa dan memerintahkan terdakwa megambil uang tersebut di laci lemari kamar dengan syarat membunuh korban terlebih dahulu. b) Keterangan terdakwa dan saksi Setelah mendengar keterangan dari terdakwa dan empat orang saksi, didapat keterangan bahwa para saksi mencurigai terdakwa adalah pelaku

pembunuhan terhadap korban, dikarenakan pada saat pemakaman korban, terdakwa tidak hadir melayat padahal hubungan antara terdakwa dengan keluarga korban sangat dekat, ditambah lagi dengan pengakuan terdakwa yang menyatakan bahwa pembunuhan tersebut dilakukan atas dasar perintah dari saksi Bihman Sanusi yang mengatakan akan memberi uang sebesar Rp 10.000.000 (sepuluh juta rupiah) lebih dengan syarat membunuh korban terlebih dahulu, disamping itu terdakwa juga mengakui semua perbuatannya

53

dan membenarkan apa yang telah dijelaskan oleh para saksi. Berdasarkan keterangan saksi dan terdakwa jika dihubungkan, maka satu sama lainnya akan saling berkaitan dan saling melengkapi. c. Barang bukti yang ditujukan dalam persidangan Setelah jalannya persidangan didapat barang bukti berupa palu besi bergagang besi, tali timba yang terbuat dari karet ban mobil, foto buffet, difan dan lemari terbuat dari kayu/papan. Barang bukti tersebut telah disita secara sah menurut hukum dan setelah diperlihatkan kepada saksi-saksi dan terdakwa mereka membenarkan barang bukti tersebut. Disamping itu didapat keterangan yang sama antara saksi dan terdakwa yang mengakui tentang adanya perbuatan tindak pidana pembunuhan, oleh karena itu hakim dapat menjatuhkan pidana kepada terdakwa kareana telah terpenuhinya adanya minimal dua alat bukti sebagaimana diatur dalam Pasal 183 KUHAP.

2. Hal-hal yang bersifat non yuridis. a) Latar belakang perbuatan terdakwa Menurut penulis, setelah mencermati kronologis tindak pidana ini diketahui bahwa latar belakang terdakwa melakukan tindak pidana pembunuhan adalah karena motif ekonomi hal ini dapat diketahui bahwa terdakwa melakukan pembunuhan terhadap korban atas dasar bujukan dan imbalan uang dengan jumlah Rp 10.000.000 (sepuluh juta rupiah) lebih yang dijanjikan suami korban kepada terdakwa dengan syarat, terdakwa harus membunuh korban terlebih dahulu sebelum mengambil uang yang dijanjikan kepada terdakwa.

54

b) Akibat perbuatan terdakwa Tindak pidana pembunuhan merupakan salah satu kejahatan yang paling keji karena menyangkut hak hidup manusia, disamping itu pembunuhan juga dapat mengakibatkan dampak negatif bagi keluarga korban.

3. Hal-hal yang meringankan dan memberatkan bagi terdakwa. a) Hal-hal yang memberatkan yaitu : perbuatan terdakwa telah mengakibatkan korban meninggal dunia, terdakwa sempat melarikan diri, terdakwa telah menikmati hasil kejahatannya. b) Hal-hal yang meringankan yaitu : terdakwa mengakui terus terang dan menyesali perbuatannya.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, maka dalam perkara nomor 562/PID.B/2010/PN.TK majelis hakim menjatuhkan pidana penjara selama 16 (enam belas) tahun terhadap terdakwa dan dinyatakan melanggar Pasal 339 KUHP Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Menurut hemat penulis, dalam menjatuhkan pidana terhadap terdakwa sebagaimana dimaksud dalam perkara nomor 562/PID.B/2010/PN.TK hakim lebih cenderung berlandaskan pada hati nurani dan rasa keadilan yang terdapat dalam diri hakim, disamping itu hakim juga mempertimbangkan segala aspek yang berkaitan dengan pokok perkara, seperti aspek kemanusiaan, kepastian hukum, penegakan hukum, dan pendidikan bagi terdakwa. Dalam menjatuhkan pidana terhadap terdakwa hakim memiliki dasar peraturan perundang-undangan sebagai alasan pembenar bahwa terdakwa telah melanggar peraturan perundangundangan, disamping itu dalam menjatuhkan pidana terhadap terdakwa, hakim

55

mengemukakan pertimbangan-pertimbangan hukum yang bertujuan untuk menegakkan kepastian hukum dan meberikan keadilan.

Hal tersebut sejalan dengan teori penjatuhan pidana yakni teori ratio decidendi yaitu teori yang didasarkan pada landasan filsafat yang mendasar yang mempertimbangkan segala aspek yang berkaitan dengan pokok perkara yang relevan, kemudian mencari peraturan perundang-undangan yang relevan dengan pokok perkara yang disengketakan sebagai dasar hukum dalam proses penjatuhan putusan, serta pertimbangan hakim harus didasarkan pada motivasi yang jelas untuk menegakkan hukum dan memberikan keadilan bagi para pihak yang berperkara.

D. Sistem Pemidanaan Terhadap Pelaku Perbarengan Tindak Pidana Pembunuhan Dalam Rangka Penyertaan

Pada dasarnya pidana merupakan suatu penderitaan yang sengaja dijatuhkan atau diberikan oleh negara kepada seorang atau beberapa orang sebagai sanksi baginya atas perbuatannya yang telah melanggar larangan hukum pidana. KUHP sebagai sumber utama hukum pidana telah merinci jenis-jenis pidana sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 10 KUHP, pidana dibedakan menjadi dua kelompok yaitu : 1. Pidana pokok, terdiri dari : a) Pidana mati ; b) Pidana penjara ; c) Pidana kurungan ; d) Pidana denda ;

56

e) Pidana tutupan.

2. Pidana tambahan, terdiri dari : a) Pidana pencabutan hak tertentu ; b) Pidana perampasan barang-barang tertentu ; c) Pidana pengumuman keputusan hakim.

Secara objektif, hukum pidana berisi tentang berbagai macam perbuatan yang dilarang, yang terhadap perbuatan-perbuatan itu telah ditetapkan ancaman pidana kepada barang siapa yang melakukannya, sanksi pidana yang telah ditetapkan dalam undang-undang tersebut kemudian oleh negara dijatuhkan dan dijalankan kepada pelaku yang melanggar keterntuan undang-undang tersebut.

Terdapat beberapa macam teori pemidanaan, diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Teori absolut Dasar pijakan dari teori ini adalah pembalasan, inilah dasar pembenar dari penjatuhan penderitaan berupa pidana kepada penjahat, negara berhak menjatuhkan pidana karena penjahat tersebut telah melakukan penyerangan dan perkosaan hak dan kepentingan hukum yang telah dilindungi ; 2. Teori relatif Teori ini berpokok pangkal pada dasar bahwa pidana adalah alat untuk menegakkan hukum dlam masyarakat, tujuan pidana dalam teori ini adalah tata tertib masyarakat dan untuk menegakkan tata tertib itu diperlukan pidana ;

57

3. Teori gabungan Teori ini mendasarkan pidana pada asas pembalasan dan asas pertahanan tata tertib masyarakat, dengan kata lain dua alasan tersebut menjadi dasar dari penjatuhan pidana (Adami Chazawi, 2007:157). Berdasarkan wawancara dan analisis yang dilakukan oleh penulis terhadap perkara dengan nomor register 562/PID.B/2010/PN.TK, dalam perkara tersebut terdakwa melanggar Pasal 339 KUHP Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP yang diketahui bahwa terdakwa melakukan tindak pidana pembunuhan yang diikuti dengan delik lain yakni pencurian, disamping itu perbuatan yang dilakukan terdakwa merupakan bujukan orang lain dengan janji akan memberikan uang kepada terdakwa apabila terdakwa melakukan pembunuhan tersebut, yang dalam hal ini terdakwa telah melakukan perbarengan tindak pidana dalam rangka penyertaan.

Menurut Rinaldy Amrullah, apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan, perbuatan-perbuatan tersebut berdiri sendiri dan masing-masing merupakan pelanggaran terhadap ketentuan-ketentuan pidana yang berupa kejahatan dan atau pelanggaran, yang diantaranya belum ada yang dijatuhan hukuman oleh pengadilan dan aka diadili sekaligus oleh pengadilan, maka perbarengan tindak pidana tersebut dikenal dengan istilah perbarengan perbuatan atau concursus realis.

Ketentuan mengenai perbarengan perbuatan atau concursus realis diatur dalam KUHP yang dirumuska dalam Pasal 65, 66, 70, dan 70 bis.

58

Pasal 65 KUHP : (1) Dalam hal gabungan beberapa perbuatan yang harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri, sehingga merupakan beberapa kejahatan yang diancam dengan pidana pokok yang sejenis, maka hanya dijatuhkan satu pidana. (2) Maksimum pidana yang dapat dijatuhkan ialah jumlah maksimum pidana yang diancamkan terhadap perbuatan itu, namun tidak boleh melebihi maksimum pidana terberat ditambah sepertiga.

Pasal 66 KUHP : (1) Dalam hal gabungan beberapa perbuatan yang masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri, sehingga merupakan beberapa kejahatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis, maka dijatuhkan pidana atas tiap-tiap kejahatan tetapi jumlahnya tidak boleh melebihi maksimum pidana yang terberat ditambah sepertiga. (2) Pidana denda dalam hal ini dihitung menurut lamanya maksimum pidana kurungan pengganti yang ditentukan untuk perbuatan tersebut.

Pasal 70 KUHP : (1) Jika ada gabungan seperti yang dimaksud dalam Pasasl 65, dan 66, baik gabungan pelanggaran dengan kejahatan, maupun pelanggaran dengan pelanggaran, maka untuk tiap-tiap pelanggaran dijatuhkan pidan sendirisendiri tanpa dikurangi.

59

(2) Mengenai pelanggaran, jumlah lamanya pidana kurungan dan pidana kurungan pengganti paling banyak satu tahun empat bulan, sedangkan jumlah lamanya pidana kurungan pengganti,paling banyak delapan bulan.

Pasal 70 bis : Ketika menerapkan Pasal-pasal 65, 66, dan 70, kejahatan-kejahatan berdasarkan Pasal-pasal 302 ayat (1), 352, 364, 373, 379, dan 482 dianggap sebagai pelanggaran dengan pengertian, jika dijatuhkan pidan-pidana penjara atas kejahatan-kejahatan itu jumlahnya paling banyak delapan bulan.

Berdasarkan hasil wawancara dan analisis yang dilakukan oleh penulis, bahwa sistem pemidanaan yang dilakukan oleh hakim Pengadilan Negeri Kelas IA Tanjung Karang terhadap perkara dengan nomor register 562/PID.B/2010/PN.TK mengaju pada Pasal 65 KUHP karena dalam hal tindak pidana yang terjadi pada putusan pengadilan dengan nomor register 562/PID.B/2010/PN.TK merupakan tindak pidana yang ancaman pidananya sejenis, artinya kedua tindak pidana yang dilakukan dalam waktu yang tidak terlampau lama tersebut sama-sama merupakan kejahatan.

Menurut Sri Widyastuti, sistem pemberian pidana dalam perbarengan perbuatan apabila berupa kejahatan yang diancam dengan pidana pokok sejenis, maka hanya dikenakan satu pidana dengan ketentuan bahwa jumlah maksimum pidana tidak boleh melebihi dari maksimum terberat, ditambah sepertiga.

Berdasarkan hasil wawancara dan analisis yang dilakukan penulis, dalam hal penjatuhan pidana terhadap terdakwa, hakim mempunyai suatu pertimbangan dan

60

keyakinan, akan tetapi kedua hal tersebut harus diimbangi dan tetap mengacu pada ancaman hukuman yang terdapat dalam Pasal yang didakwakan kepada terdakwa, disamping itu hakim juga harus menganut sistem yang diatur dalam undang-undang mengenai berapa lama pidana yang diterima oleh terdakwa.

Sistem penjatuhan pidana pada perbarengan perbuatan dibedakan menurut macamnya perbarengan perbuatan, mengenai perbarengan perbuatan undangundang membedakan menjadi empat macam, yaitu :

1. Perbarengan perbuatan yang terdiri dari beberapa kejahatan yan masingmasing diancam dengan pidana pokok yang sama jenisnya (Pasal 65 KUHP), penjatuhan pidananya dengan menggunakan sistem absorbsi yang dipertajam yaitu dijatuhi satu pidana saja dan maksimum pidana yang dijatuhkan itu ialah jumlah maksimum pidana yang diancamkan terhadap tindak pidana itu, tetapi boleh lebih dari maksimum pidana yang terberat di tambah sepertiga; 2. Perbarengan perbuatan yang terdiri dari beberapa kejahatan yang dancam dengan pidana pokok yang tidak sama jenisnya (Pasal 66 KUHP), penjatuhan pidananya dengan menggunakan sistem kumulasi terbatas, artinya masingmasing kejahatan itu diterapkan yakni pada si pembuatnya dijatuhi pidana sendiri-sendiri sesuai dengan kejahatan-kejahatan yang dibuatnya, tetapi jumlahnya tidak boleh lebih berat dari maksimum pidana yang terberat ditambah sepertiganya, apabila kejahatan yang satu diancam dengan pidana denda sedangkan kejahatan yang lain dengan pidana hilang kemerdekaan (penjara atau kurungan), maka untuk pidana denda dihitung dari lamanya kurungan pengganti denda;

61

3. Perbarengan perbuatan yang terdiri dari kejahatan dengan pelanggaran, penjatuhan pidananya menggunakan sistem kumulasi murni; 4. Perbarengan perbuatan yang terdiri dari pelanggaran dengan pelanggaran, menggunakan sistem kumulasi murni, artinya semua kejahatan maupun pelanggaran itu diterapkan sendiri-sendiri dengan menjatuhkan pidana pada si pembuat sesuai dengan ancaman pidana pada kejahatan maupun pelanggaran itu tanpa adanya pengurangan ataupun penambahan batas tertentu (Adami Chazawi, 2007 : 142).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh penulis, maka diketahui bahwa penjatuhan pidana dalam perkara nomor 562/PID.B/2010/PN.TK menggunakan sistem absorbsi yang dipertajam yaitu dikenakan satu pidana dengan ketentuan bahwa jumlah maksimum pidana tidak boleh melebihi dari maksimum pidana yang terberat ditambah sepertiga, yang pada akhirnya hakim memutus perkara tersebut dengan pidana penjara selama 16 tahun kepada terdakwa.

[Type a quote from the 62 document or the summary of an interesting point. You can position the text box anywhere in the document. Use the Text Box Tools tab to change the formatting of the pull quote text box.]

V. PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasa yang telah diuraikan, maka dapat dibuat kesimpulan sebagai berikut :

1. Dasar pertimbangan hakim dalam penjatuhan pidana terhadap pelaku perbarengan tindak pidana pembunuhan dalam rangka penyertaan sebagaimana yang dimaksud dalam putusan hakim dengan nomor register perkara 562/PID.B/2010/PN.TK, mempertimbangkan tingkat kesalahan yang telah dilakukan oleh terdakwa, pengaruh tindak pidana yang telah dilakukan terhadap korban dan masyarakat, ancaman terhadap Pasal yang didakwakan, hal yang meringankan dan hal yang memberatkan terdakwa, fakta-fakta yang terungkap dipersidangan.

Berdasarkan dasar pertimbangan tersebut, dalam menjatuhkan pidana hakim menggunakan teori ratio decidendi, yaitu teori yang didasarkan pada landasan filsafat yang mendasar yang mempertimbangkan segala aspek yang berkaitan dengan pokok perkara yang relevan, kemudian mencari peraturan perundangundangan yang relevan dengan pokok perkara yang disengketakan sebagai dasar hukum dalam proses penjatuhan putusan, serta pertimbangan hakim harus

63

didasarkan pada motivasi yang jelas untuk menegakkan hukum dan memberikan keadilan bagi para pihak yang berperkara.

2. Sistem pemidanaan terhadap pelaku perbarengan tindak pidana pembunuhan dalam rangka penyertaan sebagaimana yang dimaksud dalam putusan hakim dengan nomor register perkara 562/PID.B/2010/PN.TK menggunakan sistem absorbsi yang dipertajam yang mengacu pada Pasal 65 KUHP : (1) Dalam hal gabungan beberapa perbuatan yang harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri, sehingga merupakan beberapa kejahatan yang diancam dengan pidana pokok yang sejenis, maka hanya dijatuhkan satu pidana. (2) Maksimum pidana yang dapat dijatuhkan ialah jumlah maksimum pidana yang diancamkan terhadap perbuatan itu, namun tidak boleh melebihi maksimum pidana terberat ditambah sepertiga.

Secara garis besar diartikan bahwa apabila tindak pidana tersebut berupa kejahatan yang diancam dengan pidana pokok sejenis, maka hanya dikenakan satu pidana dengan ketentuan bahwa jumlah maksimum pidana tidak boleh melebihi dari maksimum pidana yang terberat ditambah sepertiga.

B. Saran

Dalam penjatuhan pidana terhadap perkara yang didalamnya terdapat unsur perbarengan dan penyertaan jarang sekali majelis hakim menjatuhkan pidana maksimum sebagaimana yang diancamkan dalam Pasal-pasal yang dilanggar oleh terdakwa, pada dasarnya hakim menjatuhkan pidana menggunakan sistem

64

absorbsi yang dipertajam yaitu dalam perbarengan perbuatan apabila berupa kejahatan yang diancam dengan pidana pokok sejenis, maka hanya dikenakan satu pidana dengan ketentuan bahwa jumlah maksimum pidana tidak boleh melebihi dari maksimum terberat, ditambah sepertiga. Sehingga dapat diartikan bahwa sistem penjatuhan pidana dalam perbarengan tindak pidana tersebut meringankan terdakwa dalam hal menerima hukuman. Maka penulis memberikan saran agar dalam penjatuhan pidana tersebut diberikan pidana maksimum berdasarkan Pasal yang dilanggar oleh terdakwa.