You are on page 1of 45

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013

BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH


2.1 Geografis, Administratif, dan Kondisi Fisik Wilayah Kabupaten Lamandau memiliki luas 6.414 Km2, atau 4,8% dari luas wilayah Provinsi Kalimantan Tengah, menduduki urutan ke-11 11 terluas dari 14 Kabupaten/kota di wilayah Provinsi Kalimantan Tengah. Jarak dari ibukota Lamandau, yaitu Nanga Bulik ke Ibukota Provinsi Kalimantan Tengah (Palangka Raya) sekitar 559 Km. Wilayah ilayah administrasi, Kabupaten Lamandau memiliki memi batas-batas batas administratif sebagai berikut : 1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Ketapang Provinsi Kalimantan Barat, Kecamatan Seruyan Hulu Kabupaten Seruyan, dan Kecamatan Arut Utara Kabupaten Kotawaringin Barat. 2. Sebelah Selatan berbatasan dengan dengan Kecamatan Arut Selatan Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kecamatan Balai Riam Kabupaten Sukamara. 3. Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat. 4. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat dan sebagian dengan Kabupaten Sukamara. Secara astronomis, posisi Kabupaten Lamandau berada pada posisi 19 s sampai dengan 336 Lintang Selatan dan 11025 sampai s dengan 11250 Bujur Timur. Keadaan topografi Kabupaten Lamandau terdiri dari rawa dataran rendah, dataran tinggi, dan perbukitan, juga dialiri oleh sungaisungai sungai sungai besar maupun kecil yang menjadi urat n nadi perekonomian di daerah ini. Kondisi fisik permukaan wilayah sebagian besar adalah berupa berupa dataran yang relatif bergelombang dengan transisi antara 0 25 %. Kondisi ini merupakan bentukan dari perbukitan lemah yang banyak dijumpai pada wilayah sebelah barat. Sedangkan cekungan dapat ditemukan pada daerah yang masih berupa rawa.

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013

Geologi permukaan kaan tanah di kawasan Kabupaten Lamandau terdiri dari lapisan humus, jenis tanah latosol dan podsolik merah kuning yang tahan erosi namun memiliki tingkat resapan yang sangat kecil. Di bawah permukaan tanah antara kedalaman 10 1015 m terdapat kandungan air tanah anah yang sementara ini digunakan sebagai salah satu sumber air penduduk di samping air permukaan yang ada yaitu sungai. Sedangkan untuk air tanah dalam (>30 m) belum diketahui secara pasti. pasti Salah satu sungai ungai terbesar yang melalui wilayah Kabupaten Lamanda Lamandau adalah Sungai Lamandau dengan beberapa cabang yang membentuk anak sungai yang berada di sekitar kota antara lain Sungai Bulik, Sungai Belantikan, Sungai Matu, Sungai Batang Kawa, Sungai gai Delang, Sungai Kungkung dan lain-lain. Sungai Lamandau beserta anak anakanak sungainya di samping berfungsi untuk menunjang kehidupan sehari sehari-hari dari penduduk di sekitarnya juga berfungsi sebagai jalur transportasi. Kabupaten Lamandau termasuk daerah yang beriklim tropis tipe A berdasarkan zona iklim, yaitu jumlah bulan basah lebih banyak dibandingkan dengan bulan kering. Pada Tahun 2011 merupakan tahun kemarau karena curah hujan berkisar antara 160 4.870 mm/tahun. Curah hujan tertinggi hanya terjadi di akhir tahun antara November dan Desember, dengan suhu maksimum berkisar antara 31,4C C sampai dengan 33,5C suhu minimum antara 21,5C C sampai dengan 23,2C. Kelembaban udara berkisar antara 87%-92%, 92%, yang berarti tergolong daerah yang memiliki udara yang cukup lembab. Kecepatan angin antara 0,4 0,7 knot. Pada Tahun 2011, musim kemarau terjadi hampir sepanjang tahun. Sedangkan musim penghujan baru terjadi di Bulan November dan Desember dimana curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember yaitu sebesar 4.870 mm.

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013

Tabel 2.1: Daerah Aliran Sungai (DAS) di Wilayah Kabupaten Lamandau

Nama Daerah Aliran Sungai (DAS) Bulik Lamandau Belantikan Palikodan Batang Kawa Delang Bayat Sumber: Kabupaten Lamandau dalam Angka Tahun 2012. 20

Luas (Ha) 9000 13000 10400 4200 13000 11400 4000

Tabel 2.2: Nama, luas wilayah per-Kecamatan per dan jumlah kelurahan kabupaten Lamandau Luas Wilayah Administrasi (%) thd (Ha) total 66.555 10.38 107.472 8.685 62.088 133.300 126.300 68.500 68.500 16.76 1.35 9.68 20.78 19.69 10.68 10.68 Terbangun (Ha) (%) thd total 380 17% 280 378 305 179 232 133 287 13% 17% 14% 8% 11% 6% 13%

Nama Kecamatan

Jumlah Kelurahan /Desa 11/1 12/0 7/0 11/0 9/1 12/0 9/0 9/1

Kecamatan Bulik Kecamatan Bulik Timur Kecamatan Sematu Jaya Kecamatan Menthobi Raya Kecamatan Lamandau Kecamatan Belantikan Raya Kecamatan Batang Kawa Kecamatan Delang

Sumber : Kabupaten Lamandau dalam Angka Tahun 2012, 20 , luas terbangun masih dalam proses penghitungan.

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 Peta 2.1: Peta Daerah Aliran Sungai di Wilayah Kabupaten Lamandau

Sumber: Draft RTRW Kab. Lamandau 2013

Halaman 17

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013

2.2 Demografi Penduduk Kabupaten Lamandau pada Tahun 2008 berjumlah 59.531 jiwa. Angka ini terus meningkat dan pada Tahun 2011 telah mencapai 66.061 jiwa. Tingkat pertumbuhan penduduk mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Selama periode 2008 2011 tingkat pertumbuhan penduduk tercatat mengalami peningkatan laju pertumbuhan yaitu dari 4,6% di Tahun 2008 hingga mencapai 3,8% pada Tahun 2011 dibandingkan tahun sebelumnya. lumnya. Hal ini terutama diperkirakan akibat migrasi penduduk dari luar ke dalam kabupaten.

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 Peta 2.2: Peta Administrasi Kabupaten Lamandau dan Cakupan Wilayah Kajian

Sumber : Data Digital Adiministrasi Provinsi Kalimantan Tengah (Bappeda Prov. Kalteng)

Halaman 19

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 A. Kepadatan dan Distribusi Penduduk Sampai Tahun 2011 k kecamatan terpadat penduduknya di Kabupaten Lamandau adalah kecamatan Sematu Jaya yaitu 104,89 jiwa per km2 dengan j jumlah penduduk sebanyak 9.110 jiwa dengan luas wilayahnya sebesar 86,85 km2. Kemudian kecamatan terpadat kedua adalah Kecamatan Bulik, dengan tingkat kepadatan sebesar 34,54 per km2 dengan luas wilayah 665,55 km2 dengan jumlah penduduk sebanyak 22.985 jiwa. B. Komposisi Penduduk Secara umum um jumlah penduduk laki laki-laki laki lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk perempuan. Hal ini dapat ditunjukkan oleh sex ratio yang nilainya lebih besar dari 100, dimana pada Tahun 2011 untuk setiap 100 penduduk perempuan terdapat 114 penduduk laki laki-laki. Pada Tahun 2011 terjadi fenomena tersendiri dilihat dari angka migrasi neto, diperkirakan karena cukup tingginya minat masyarakat di dalam Kabupaten untuk melakukan migrasi ke Kecamatan Bulik dengan tujuan untuk meningkatkan taraf hidup yang lebih baik dengan m mencari encari peluang usaha atau pekerjaan terutama di ibukota kabupaten dan sekitaranya. Kondisi ini juga didukung oleh peningkatan infrastruktur uktur jalan antar kecamatan yang juga semakin membaik. Komposisi penduduk lamandau Tahun 2011 didominasi oleh penduduk muda/dewasa yaitu tu kelompok usia 25 29 tahun. Piramida penduduk terlihat kelompok penduduk usia 0 4 tahun jumlahnya lebih kecil dibandingkan kelompok usia 5 9 tahun. Data ini menunjukkan pemerintah berhasil mempertahankan tingkat pertumbuhan alamiah yang yang rendah atau lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Berdasarkan struktur usia penduduk Kabupaten Lamandau dapat diketahui seberapa besar penduduk dalam usia produktif, kelompok non produktif, dan besarnya beban tanggungan per 100 orang penduduk. Pada Tahun 2011 2011, diketahui penduduk dalam usia produktif (usia 15-64 15 tahun) mencapai 44.078 jiwa, sedang usia non produktif (usia 0 0-14 tahun dan 65 tahun keatas) sebanyak 21.983 jiwa, sehingga rasio ketergantungan penduduk Kabupaten Lamandau adalah sebesar 50

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 yang berarti bahwa per 100 orang penduduk menanggung 50 orang usia tidak produktif.

C. Rumus untuk menghitung proyeksi penduduk 5 tahun:

Pt = Po (1 + r )t

Keterangan: Pt = jumlah penduduk pada tahun t (2017). Po = jumlah penduduk pada tahun awal (2012) r = angka pertumbuhan penduduk t = waktu (5)

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 Tabel 2.3: Jumlah penduduk dan kepadatannya 3 - 5 tahun terakhir
Kecamata n Bulik Bulik Timur Menthobi Raya Sematu Jaya Lamandau Belantikan Raya Batang Kawa Delang 2008
4.83 3 6.59 2 8.47 3 9.18 3 6.17 4 5.46 3 3.24 1 5.57 2

Jumlah Penduduk 2009


16.2 01 6.80 9 9.72 5 8.88 1 6.40 5 5.72 6 3.39 1 5.94 1

Jumlah KK 2012
24352 7104

Tingkat Pertumbuhan 2012


6629 2021

Kepadatan Penduduk (km2)


2012
12,9 9 1,64

2010
21.98 9 6.467

2011
22.9 85 6.76 0 9.38 9 9.11 0 5.70 0 4.51 6 2.51 4 5.08 7

2008
3882 1836

2009
4662 2017

2010
6344 1808

2011
6352 1922

2008
5,23 -0,93

2009
4,55 2,59

2010
35,7 -5,0

2011
12,9 9 1,64

2008
22,2 9 6,13

2009
24,3 4 6,34

2010
33,0 6,0

2011
34,54 6,29

2012
37 7

8.982

9867

2620

2731

2924

2666

2803

0,97

3,35

-7,6

1,75

1,75

14,7 9 97,5 6 4,63 4,33

15,6 6 102, 26 4,8 4,53

14,0

15,12

16

8.715

9576

2355

2475

2584

2424

2548

-0,21

3,14

-1,9

103,4

104,89

110

5.454 4.321

5991 5212

1652 1450

1843 1908

1947 1519

1572 1314

1652 1526

3,46 3,49

2,68 3,69

-14,8 -24,5

-1,06 -3,67

-1,06 -3,67

4,1 3,4

4,28 3,58

4 4

2.405

2642

833

861

779

721

758

2,4

3,03

-29,1

-1,2

-5,19

4,73

4,95

3,5

3,67

4.866

5346

1404

3007

1680

1382

1453

5,78

3,54

-18,1

-5,19

-1,2

8,13

8,67

7,1

7,43

Sumber: Kabupaten Lamandau dalam Angka Tahun 2009 200 - 2012

Halaman 22

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013

Tabel 2.4: Jumlah penduduk saat ini dan proyeksinya untuk 5 tahun

Jumlah Penduduk Kecamatan 2013 Bulik Bulik Timur Menthobi Raya Sematu Jaya Lamandau Belantikan Raya Delang Batang Kawa 27.515 7.221 10.040 9.863* 5.927 5.021 5.282 2.505 2014 31.090 7.339 10.215 10.159 5.865 4.836 5.218 2.375 2015 35.128 7.459 10.394 10.464 5.802 4.659 5.156 2.252 2016 39 39.691 7 7.582 10 10.576 10 10.778 5 5.741 4 4.488 5 5.094 2 2.135 2017 44.847 7.706 10.761 11.101 5.680 4.323 5.033 2.024 2013 7.490 2.054 2.852 2.624 1.634 1.470 1.436 719 2014 8.463 2.088 2.902 2.703 1.617 1.416 1.418 681

Jumlah KK 2015 9.562 2.122 2.953 2.784 1.600 1.364 1.401 646 2016 10.805 2.157 3.004 2.868 1.583 1.314 1.385 612 2017 12.208 2.192 3.057 2.954 1.566 1.266 1.368 581

Kepadatan Penduduk
2013 41 7 16 114 4 4 8 4 2014 2015 2016 47 7 16 117 4 4 8 3 53 7 17 120 4 4 8 3 60 7 17 124 4 4 7 3 2017 67 7 17 128 4 3 7 3

Sumber: Kabupaten Lamandau dalam Angka Tahun 2009 200 2012, diolah *Jumlah penduduk Kecamatan Sematu Jaya pada Tahun 2013 adalah 12.000 jiwa (sumber : Camat Sematu Jaya, Konsultasi Publik BPS, 2013)

Halaman 23

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013

2.3 Keuangan euangan dan Perekonomian Daerah Dalam alam pembangunan ekonomi, salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi perekonomian secara makro adalah data produk domestik regional bruto (PDRB). Terdapat 2 (dua) jenis penilaian produk domestik regional bruto (PDRB) yang dibedakan dalam dua jenis penilaian yaitu atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan. Penyajian ian PDRB atas dasar harga konstan mengalami perubahan mendasar sebagai konsekuensi logis berubahnya tahun dasar yang digunakan. Selain menjadi bahan dalam penyusunan perencanaan, angka PDRB juga bermanfaat untuk bahan evaluasi hasil hasil-hasil hasil pembangunan yang telah dilaksanakan. Adapun beberapa kegunaan angka PDRB ini antara lain :

1. Untuk mengetahui tingkat pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan setiap sektor


ekonomi, mencakup sektor pertanian; pertambangan dan penggalian; industri pengolahan; listrik, gas, dan air bersih; konstruksi; perdagangan, restoran dan hotel; pengangkutan dan komunikasi; lembaga keuangan; dan jasa jasa-jasa jasa lainnya;

2. Untuk mengetahui struktur truktur perekonomian;


3. Untuk mengetahui besarnya PDRB perkapita penduduk sebagai salah satu indikator tingkat kemakmuran/kesejahteraan; 4. Untuk mengetahui tingkat inflasi/deflasi, berdasarkan pertumbuhan/perubahan harga produsen.

Kondisi Perekonomian Kabupat Kabupaten Lamandau terlihat dari gambaran PDRB atas dasar harga konstan (ADHK) Tahun 200 2007 - 2011. Rata-rata rata pertumbuhan PDRB yang terjadi pada kurun waktu tersebut sebesar 6,06%. Tahun 2011 pertumbuhan PDRB sebesar 6,52% atau berada pada urutan ke empat setelah Kotim 7,07%, Palangka Raya 6,99% dan Kobar 6,89% serta berada di atas pertumbuhan rata-rata tingkat Provinsi Kalimantan Tengah pada tahun yang sama, sama yaitu sebesar 6,33%. Adanya pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi tersebut memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan pendapatan regional perkapita selama kurun waktu yang sama, yaitu dari Rp.8.762.335,52,- pada Tahun 2007 200 menjadi Rp.9.656.418,58,- pada Tahun 20 2011.

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 Tabel 2.5: Rekapitulasi Realisasi APBD Kabupaten Lamandau Tahun 2008 08 2012.
Tahun No Realisasi Anggaran n-4
373.259.638.38 5,94 11.606.719.590, 94 877.275.434,00 1.556.039.250,0 0 1.152.664.727,6 2 8.020.740.179,3 2 326.535.628.81 8,00 41.299.972.818, 00 251.739.656.00 0,00 33.496.000.000, 00 35.117.289.977, 00 0

n-3
378.090.410.070, 09 11.390.127.317,0 9 953.900.842,00 944.250.405,00 2.035.144.070,61 7.456.831.999,48 352.015.270.226, 00 53.026.236.226,0 0 255.341.034.000, 00 43.648.000.000,0 0 14.685.012.527,0 0 2.500.000.000,00

n-2
388.164.601.9 50,92 8.285.838.859 ,28 1.842.345.916 ,00 1.101.755.795 ,00 1.580.874.129 ,51 3.760.863.018 ,77 351.181.349.2 10,00 61.568.811.21 0,00 257.428.838.0 00,00 32.183.700.00 0,00 28.697.413.88 1,64 0

n-1
461.563.687.9 26,37 12.680.995.36 0,37 1.433.551.575 ,00 1.106.091.416 ,25 1.946.772.559 ,00 8.194.579.810 ,12 393.603.986.9 58,00 63.785.747.95 8,00 285.962.839.0 00,00 43.855.400.00 0,00 55.278.705.60 8,00 0

N
420.783.971.922, 32 11.064.719.822,1 8 1.396.869.647,00 2.297.084.391,00 2.143.244.375,99 5.227.521.408,19 390.881.620.740, 00 54.212.003.740,0 0 311.033.679.000, 00 25.635.938.000,0 0 18.837.631.360,1 4 0

Rata 2 pert umb uhan


3,51 2,79 19,28 21,36 21,87 6,27 4,74 8,27 5,52 -0,31 15,99

A a.1 a.1.1 a.1.2 a.1.3 a.1.4 a.2 a.2.1 a.2.2 a.2.3 a.3 a.3.1 a.3.2 a.3.3 a.3.4 a.3.5

Pendapatan (a.1 + a.2 + a.3) Pendapatan Asli Daerah (PAD) Pajak daerah Retribusi daerah Hasil pengolahan kekayaan daerah yang dipisahkan Lain-lain pendapatan daerah yang sah Dana Perimbangan (Transfer) Dana bagi hasil Dana alokasi umum Dana alokasi khusus Lain-lain Pendapatan yang Sah Hibah Dana darurat Dana bagi hasil pajak dari provinsi kepada kab./kota Dana penyesuaian dan dana otonomi khusus Bantuan keuangan dari provinsi/pemerintah daerah lainnya
Sumbangan Pihak Ke tiga Tunjangan/Tambahan Penghasilan Guru PNSD Pendapatan lainnya-pendapatan pendapatan yang masih perlu konfirmasi

5.360.871.656,0 0 27.576.272.200, 00 0

6.561.334.227,00 0 0

7.807.980.661 ,00 12.530.500.00 0,00 0

9.394.406.409 ,00 42.291.786.30 0,00 0

6.114.303.175,14 9.163.328.750,00 0

6,70

0 0 2.180.146.121,0 0

0 0 5.623.678.300,00

1.521.246.229 ,50 6.832.770.000 ,00 4.916.991,14

3.440.718.899 ,00 0 151.794.000,0 0

3.439.949.610,00 0 120.049.825,00

756,0 6 -3,14 3,10 7,84

B b.1 b.1.1 b.1.2 b.1.3 b.1.4 b.1.5

Belanja (b1 + b.2) Belanja Tidak Langsung Belanja pegawai Bunga Subsidi Hibah Bantuan sosial Belanja Bantuan Keuangan kepada Provinsi /Kabupaten/ Kota Pemerintahan Desa dan Partai Politik Belanja bagi hasil Bantuan keuangan Belanja tidak terduga Belanja Langsung

359.272.044. 906,00 128.585.482. 308,00 86.546.829.0 78,00 3.625.522.39 2,00 7.166.845.91 2,00 10.173.914.2 32,00 20.556.138.8 17,00

420.022.140.55 2,05 135.424.379.81 8,48 95.015.266.517 ,48 3.591.560.000, 00 0 16.317.707.961 ,10 20.499.845.339 ,90

373.418.988 .926,20 152.419.363 .374,60 113.066.992 .784,00 1.008.784.0 00,00 4.984.443.0 50,00 12.043.419. 218,00 21.315.724. 322,60

440.841.741 .797,21 166.164.528 .519,66 130.395.248 .715,00 0 5.585.161.5 72,00 13.181.176. 892,00 15.689.917. 955,66

280.233.021.0 37,89 142.122.588.8 63,89 113.793.969.8 19,00 0 12.656.099.00 0,00 3.343.260.700, 00 12.265.103.34 4,89

-7,75 11,13

b.1.6 b.1.7 b.1.8 b.2

516.231.877, 00 230.686.562. 598,00 19.277.975.8

0 284.597.760.73 3,57 15.950.055.171

0 220.999.625 .551,60 14.504.736.

1.313.023.3 85,00 274.677.213 .277,55 19.632.436.

64.156.000,00 138.110.432.1 74,00 11.681.619.97 -6,10 -7,87

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013


07,00 75.319.704.5 51,00 136.088.882. 240,00 359.272.044. 906,00 359.272.044. 906,00 13.987.593.4 79,94 ,00 103.767.486.19 2,00 164.880.219.37 0,57 420.022.140.55 2,05 420.022.140.55 2,05 41.931.730.481 ,96 959,00 73.288.293. 419,00 133.206.595 .173,60 373.418.988 .926,20 373.418.988 .926,20 14.745.613. 024,72 439,00 70.681.179. 480,55 184.363.597 .358,00 440.841.741 .797,21 440.841.741 .797,21 20.721.946. 129,16 8,00 43.753.587.13 5,00 82.675.225.06 1,00 280.233.021.0 37,89 280.233.021.0 37,89 140.550.950.8 84,43 -8,31 -3,70 -3,14

b.2.1 b.2.2 b.2.3 C

Belanja pegawai Belanja barang dan jasa Belanja modal Pembiayaan

-3,14

20,96

Surplus/Defisit Anggaran

Sumber : Realisasi APBD tahun 2008 - 2012, diolah Keterangan : n = tahun penyusunan buku putih sanitasi

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013

Tabel 2.6: Rekapitulasi Realisasi Belanja Sanitasi SKPD Kabupaten Lamandau Tahun 2008 2012
N o
1 1.a 1.b 2 2.a 2.b 3 3.a 3.b 4 4.a 4.b 5 5.a 5.b 8 PU Investasi dalam jutaan operasional/pemeliharaan (OM) dalam jutaan BLH Investasi dalam jutaan
205.0 00,00
350.00 0,00

SKPD

Tahun n-4
12.73 6.310, 00
845.00 0

n-3
13.37 3.125, 50
887.25 0

n-2
14.04 1.781, 78
931.61 3

n-1
14.74 3.870, 86
978.19 3

N
15.48 1.064, 41
1.027.1 03

Rata2 pertumbuha n

5,00 5,00

452.5 00,00
399.75 0,00

415.1 25,00
429.73 7,50

478.4 00,00
460.05 0,00

31,93 69,69

operasional/pemeliharaan (OM) dalam jutaan Dinkes Investasi dalam jutaan operasional/pemeliharaan (OM) dalam jutaan Bappeda Investasi dalam jutaan operasional/pemeliharaan (OM) dalam jutaan BPMD Investasi dalam jutaan operasional/pemeliharaan (OM) dalam jutaan Belanja Sanitasi (1+2+3+n) dalam jutaan

100.00 0,00

111.50 0

122.65 0

134.91 5

148.40 7

163.24 7

10,00

13.79 2.810, 00

14.93 8.025, 50

15.96 0.559, 28

16.71 5.332, 99

17.60 9.864, 34

6,31

Pendanaan investasi sanitasi Total (1a+2a+3a+na) dalam jutaan

12.73 6.310, 00

13.57 8.125, 50

14.49 4.281, 78

15.15 8.995, 86

15.95 9.464, 41

5,81

10 11 12 13

Pendanaan OM (1b+2b+3b+nb) dalam jutaan Belanja Langsung dalam jutaan Proporsi Belanja Sanitasi Belanja Langsung(8/11) dalam jutaan Proporsi Investasi Sanitasi Total Belanja Sanitasi (9/8) dalam jutaan

1.056. 500,0 0
19.277.9 75,81

1.359. 900,0 0
15.950.0 55,17

1.466. 277,5 0
14.504.7 36,96

1.556. 337,1 3
19.632.4 36,44

1.650. 399,9 3
11.681.6 19,98

12,18

-7,87

0,7154 69826

0,9365 50083

1,1003 6875

0,8514 14089

1,5074 84781

25,71

0,6606 66355

0,8512 9019

0,9992 79189

0,7721 40325

1,3662 03013

25,11

14

Proporsi OM Sanitasi Total Belanja Sanitasi 0,0548 0,0852 0,1010 0,0792 0,1412 (10/8) dalam jutaan 32,69 03472 59893 89562 73764 81769 Sumber : Realisasi APBD tahun 2008- 2012, diolah Keterangan : investasi termasuk di dalamnya pembangunan sarana prasarana, pengadaan lahan, pelatihan, koordinasi, advokasi, kampanye dan studi-studi studi yang terkait dengan sanitasi

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 Tabel 2.7 Belanja Sanitasi Perkapita Kabupaten Lamandau Tahun 2008 - 2012 20
No Deskripsi Tahun n-4
13.79 2.810 ,00 630 79 218,6 6

n-3
14.93 8.025 ,50 64957

n-2
15.96 0.559 ,28 66061

n-1
16.71 5.332 ,99 70090

n
17.60 9.864 ,34

Rata-rata
15803318,42

Total Belanja Sanitasi Kabupaten/Kota

Jumlah Penduduk

66046,75

Belanja Sanitasi Perkapita (1 / 2) dalam jutaan Sumber : APBD dan BPS, diolah

229,9 7

241,6 0

238,4 8

232,1775

Tabel 2.8 Tabel Peta eta Perekonomian Kabupaten Lamandau Tahun 2008 - 2012 20
No 1 Deskripsi PDRB harga konstan (struktur perekonomian) (dalam dalam jutaan rupiah) rupiah Pendapatan Perkapita Kabupaten/Kota (Rp.) Pertumbuhan Ekonomi (%) Sumber : LKPJ Bupati tahun 2012 Tahun n-4
868.467,54

n-3
940.570,57

n-2
1.082.925,31

n-1
1.232.139,02

2 3

8.964.455,49

9.054.163,98

9.345.428,31

9.656.481,58

6,04

5,74

6,15

6,52

2.4 Tata Ruang Wilayah Kebijakan ebijakan Umum Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Lamandau Perumusan Tujuan Pengembangan Tata Ruang Wilayah Kabupaten Lamandau merupakan salah satu dasar bagi penentuan arah pengembangan ruang serta fungsi dan peran yang akan diemban oleh Kabupaten Lamandau sesuai dengan potensi dan kemampuan serta daya dukung lingkungannya, baik dari aspek fisik dasar, kependudukan, perekonomian dan sarana sarana/prasarana wilayah pendukungnya. Tujuan dari pengembangan Tata Ruang Kabupaten adalah untuk mewujudkan tata ruang wilayah kabupaten guna memenuhi kebutuhan pembangunan daerah baik itu jangka menengah maupun jangka panjang dengan memperhatikan aspek kelesta kelestarian lingkungan, efisiensi alokasi investasi dan bersinergi dengan kegiatan pembangunan

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 lainnya, sehingga dapat dijadikan acuan dalam program pembangunan untuk tercapainya kesejahteraan masyarakat. Sedangkan sasaran yang diharapkan dari penataan ruang wila wilayah yah Kabupaten Lamandau adalah : a) Terkendalinya berbagai kegiatan pembangunan di wilayah Kabupaten Lamandau, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun oleh masyarakat b) Terciptanya keserasian antara pelestarian Kawasan lindung dan pemanfaatan Kawasan Budidaya. c) Tersusunnya rencana dan keterpaduan program program-program program pembangunan di wilayah Kabupaten Lamandau. d) Terdorongnya minat investasi masyarakat dan dunia usaha untuk menanamkan investasinya di wilayah Kabupaten Lamandau dalam berbagai sektor pemba pembangunan. e) Terkoordinasinya pembangunan antar wilayah dan antar sektor pembangunan A. Tujuan Eksternal Tujuan Eksternal merupakan tujuan-tujuan tujuan tujuan pengembangan wilayah yang dirumuskan berkaitan dengan peran Kabupaten dalam konstelasi wilayah yang lebih luas a antara Wilayah Kabupaten Lamandau dengan wilayah-wilayah wilayah wilayah kabupaten lainnya atau dengan wilayah yang lebih makro, yaitu baik dalam Sistem RTRWN, Rencana Tata Ruang Pulau Kalimantan dan Rencana Tata Ruang Provinsi Kalimantan Tengah. 1. Dalam konteks sistem pengembangan tata ruang wilayah secara Nasional, Kabupaten Lamandau terdapat pada klasifikasi tingkat permukiman Kawasan Bagian Tengah / Transisi. Kawasan Bagian Tengah / Transisi adalah merupakan kawasan yang mempunyai koneksi dengan kawasan hilir atau da dapat pat dikatakan sebagai simpul perantara untuk kawasan bagian belakang atau hulu. Simpul Simpul-simpul simpul tersebut adalah Sambas, Mempawah, Sanggau, Bengkayang, Ngabang, Sintang, Putusibau (Kalimantan Barat), Marabahan, Rantau, Kandangan, Barabai, Tanjung (Kalimantan Selatan) Buntok, Muara Teweh, Kasongan, Nanga Bulik, Lamandau (Provinsi Kalimantan Tengah), Sendawar, Tenggarong, Malinau (Provinsi Kalimantan Timur). Sedangkan dalam kontek Regional dan nasional berdasarkan PP No. 26 Tahun 2008 tentang RTRWN, Kabupaten Lamandau termasuk ke dalam Hinterland

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 Kawasan Andalan Sampit-Pangkalan Sampit Pangkalan Bun dengan arahan perkembangan sebagai pusat perkembangan unggulan pertanian, kehutanan, perkebunan, perikanan, industri dan pariwisata. 2. Kabupaten Lamandau terdapat pada Pusat Kegia Kegiatan tan Lokal, dengan Pusat Kegiatan Wilayahnya adalah Pangkalan Bun, Arahan pengembangan Pusat Kegiatan Lokal (PKL) yang meliputi : Meningkatkan pelayanan prasarana dan sarana kota yang mendukung fungsi kota sebagai pusat pelayanan kawasan perdesaan di seki sekitarnya. Mendorong terciptanya keterkaitan sosial ekonomi antara kawasan perkotaan dengan kawasan perdesaan yang saling menguntungkan Sesuai dengan kebijakan kebijakan-kebijakan kebijakan tersebut diatas maka tujuan tujuan-tujuan

Pengembangan Wilayah Eksternal Kabupaten Lamandau ad adalah: 1. Merupakan Wilayah yang harus diprioritaskan pernbangunannya karena berada dalam Kawasan Bagian Tengah / Transisi yang merupakan kawasan yang mempunyai koneksi dengan kawasan hilir atau dapat dikatakan sebagai simpul perantara untuk kawasan bagian belakang atau hulu. 2. Sebagai kawasan yang termasuk dalam Hinterland Kawasan Andalan Sambun (Sampit Pangkalan Bun) dengan arahan perkembangan sebagai pusat perkembangan unggulan Pertanian, Kehutanan, Perkebunan, Perikanan, industri dan pariwisata. Dengan n hal tersebut maka Kabupaten Lamandau guna mendukung Kawasan Andalan Sambung Raya diharapkan dapat meningkatkan perekonomian melalui potensi unggulan yaitu pertanian dengan meningkatkan infrastruktur pertanian. 3. Sebagai Pusat Kegiatan Lokal di tingkat provinsi, Kabupaten Lamandau dapat diharapkan untuk meningkatkan pelayanan prasarana dan sarana yang mendukung kegiatan sebagai pusat pelayanan kawasan perdesaan di sekitarnya. B. Tujuan Internal Mengacu kepada Undang-undang Undang undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Penat Ruang, tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan penataan tata ruang wilayah Kabupaten Lamandau adalah :"Mewujudkan tata ruang wilayah Kabupaten Lamandau dalam

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 rangka memenuhi kebutuhan pembangunan daerah dalam jangka panjang dengan senantiasa memperhatikan kan aspek kelestarian lingkungan, efisiensi alokasi investasi, dan bersinergi dengan kegiatan pembangunan lainnya sehingga dapat dijadikan sebagai acuan dalam penyusunan program pembangunan untuk tercapainya kesejahteraan masyarakat". Dengan mengacu kepada Undang-Undang Undang No, 26 Tahun 2007 dan Visi dan Misi pengembangan wilayah serta arahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) tingkap diatasnya (RTRWN, RTRWP), Rencana Strategis Pembangunan Kabupaten Lamandau serta kondisi obyektif wilayah Kabupaten Lamandau yang menggambarkan potensi dan permasalahan, maka dapat dirumuskan tujuan pengembangan dan fungsi wilayah yang khas untuk Kabupaten Lamandau. Adapun tujuan pengembangan wilayah Kabupaten Lamandau adalah sebagai berikut : 1. Memantapkan fungsi lindung yang ter terletak letak dalam wilayah Kabupaten Lamandau, terutama berkenaan dengan kawasan hutan lindung, kawasan lindung setempat (Sempada Sungai, Mata Air dan Danau) maupun kawasan pengembangan sumber daya air (recharge area). 2. Mengoptimalkan pemanfaatan ruang wilayah, wilayah, sesuai dengan potensi atau daya dukung, sehingga bentuk bentuk kegiatan yang memanfaatkan ruang akan seimbang/sesuai dengan daya dukung ruang tersebut. 3. Mengembangkan bagian-bagian bagian wilayah baru dengan pola pemanfaatan ruang yang optimal melalui pengembangan pengembangan kawasan budidaya dan kawasan lindung inti, cadangan dan kawasan penyangga (buffer zone) yang terpadu dan berkelanjutan, sesuai dengan daya dukung ruang. 4. Mengembangkan prasarana wilayah, terutama prasarana transportasi sungai guna merangsang pengembangan mbangan kawasan kawasan-kawasan baru. 5. Mengembangkan serta meningkatkan peranan dan fungsi pusat pusat-pusat pusat kegiatan yang ada, guna dapat memberikan pelayanan yang seoptimal mungkin terhadap wilayah pelayanannya. Untuk mendukung hal tersebut dikembangkan fasilitas fasilitas-fasilitas pelayanan (sosial, ekonomi, nomi, pemerintahan) dan prasarana permukiman yang

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 dibutuhkan (air minum, drainase, pembuangan air limbah, persampahan, listrik, telekomunikasi dan lain-lainnya). lainnya). 6. Mengembangkan kawasan yang mulai berkembang, yang memerlukan penanganan segera yang dimulai dengan penataan ruang secara lebih rinci, terutama untuk kawasan-kawasan kawasan yang tumbuh cepat (Kecamatan Bulik ) dan kawasan kegiatan perekonomian/produksi (Kecamatan Sematu Jaya, Lamandau dan Kecamatan tertinggal

Menthobi Raya), kawasan penunjang sektor ekonomi, kaw kawasan asan

(Kecamatan Batang Kawa, Kecamatan Belantikan Raya, Kecamatan Bulik Timur) Fungsi dan Peranan Kabupaten Lamandau Fungsi dan peranan Kabupaten Lamandau untuk 20 tahun mendatang disesuaikan dengan kebutuhan dan arah perkembangan Kabupaten Lam Lamandau. andau. Didalam pengembangan fungsi kabupaten tersebut mencakup pula sektor sektor-sektor sektor yang strategis dan berkaitan dengan kawasan yang strategis. Hal ini digunakan untuk menentukan penataan ruang wilayah Kabupaten Lamandau. Adapun strategi untuk pemantapan str struktur uktur kota dalam jangka panjang, ditentukan oleh proporsi jumlah penduduk di masa yang akan datang, dimana hirarki ukuran jumlah penduduk mempunyai bobot lebih tinggi dari hirarki fungsional kota tersebut. Dengan demikian kota yang hirarki jumlah pendudukn penduduknya ya lebih tinggi dari hirarki fungsional akan mempunyai urutan lebih tinggi, karena semakin besar, jumlah penduduk akan diimbangi oleh kelengkapan fasilitas kota. Struktur Tata Ruang Kabupaten Lamandau Penentuan struktur tata ruang/hirarki kota di Kabupaten Lamandau didasarkan pada jalur upaya pemantapan-pemantapan pemantapan pemantapan fungsi kota dalam kerangka strategi dan kebijaksanaan pengembangan peta struktur tata ruang wilayah Kabupaten Lamandau. Dengan demikian struktur kota-kota kota kota ini diarahkan pada tujuan keseimbangan pembangunan mbangunan antar wilayah. Artinya, adanya keseimbangan pembangunan antara perkembangan wilayah pusat, wilayah transisi, dan wilayah belakang sehingga wilayah sekitar dapat ikut berkembang akibat multiptiplier effect dari sistem kegiatan ekonomi pada pusat-pusat usat pengembangan. Untuk menciptakan kondisi ini, maka struktur ekonomi

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 yang mantap dan seimbang diperlukan diantara sektor primer, sekunder, dan sektor tersier. Disamping berdasarkan aspek administrasi, faktor yang juga harus

dipertimbangkan dalam penataan penataan struktur tata ruang Kabupaten Lamandau ini adalah hirarki jumlah penduduk dan hirarki fungsional yang berdasarkan pada kelengkapan serta besaran daerah pelayanan dari fasilitas dan utilitas yang ada di masing masing-masing wilayah. Sistem Pusat-pusat pusat Pertumbuhan Pertumbuh Pusat-pusat pusat pengembangan suatu wilayah merupakan satu kesatuan mekanisme pengembangan pusat-pusat pusat adalah orientasi pengembangan bagi pusat pusat-pusat pusat yang lebih kecil, agar memudahkan dalam indikasi cakupan pengaruh pelayanan maka digunakan batasan administrasi asi wilayah. Sistem pusat-pusat pusat yang ada di Kabupaten Lamandau berdasarkan hasil analisis struktur tata ruang terbentuk oleh adanya beberapa pertimbangan, meliputi pertimbangan kesatuan ekologi, perkembangan fisik/ruang yang terjadi, identifikasi kota kota-kota dan kebijaksanaan pengembangan kota. Berdasarkan faktor faktor-faktor faktor pertimbangan seperti tersebut diatas, maka struktur terhadap pusat pusat-pusat pusat teridentifikasi adanya pusat pusat-pusat pertumbuhan yang diidentifikasi berdasarkan fungsinya, meliputi : a. Pusat-pusat yang g berfungsi sebagai pusat pelayanan wilayah belakang (hinterland service). b. Pusat-pusat pusat yang berfungsi sebagai pusat perhubungan antar wilayah. c. Pusat-pusat pusat yang berfungsi sebagai pusat pengolahan atau industri. d. Pusat-pusat pusat yang berfungsi sebagai seba tempat permukiman. Disamping itu juga tak lepas dari pertimbangan pertimbangan-pertimbangan pertimbangan tersebut, maka struktur terhadap pusat-pusat pusat pertumbuhan teridentifikasi adanya : 1. Pusat-pusat pusat yang dikelompokkan berdasarkan wilayah pembangunan, yang masing masingmasing memiliki pusat-pusat pusat pusat pertumbuhan dalam rangka mengembangkan wilayahnya. Dalam hal ini terbagi atas : a. Wilayah Pembangunan Timur.

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 b. Wilayah Pembangunan Tengah c. Wilayah Pembangunan Barat 2. Pusat-pusat pusat kegiatan yang difungsikan atas kebijaksanaan dan arahan pengembangan wilayah. Berdasarkan arahan pengembangan pusat pusat-pusat pusat yang ada di Kabupaten Lamandau maka pusat-pusat pusat di wilayah ini terbagi atas kelompok : a. Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) untuk tingkat Kabupaten Lamandau; di Kota Nanga Bulik b. Pusat sat Kegiatan Lokal (PKL) yang berfungsi melayani wilayah disekitarnya serta wilayahnya sendiri; Sematu Jaya, Tapin Bini dan Kudangan, Menhtobi Raya, Belantikan Raya, dan Kecamatan batang Kawa. c. Pusat Kegiatan Desa (DPP) yang berfungsi melayani wilayahnya sendiri, tersebar di setiap wilayah desa Kabupaten Lamandau.

Dasar Pertimbangan Berdasarkan pertimbangan terhadap isu permasalahan serta potensi dan prospek pengembangan di wilayah Kabupaten Lamandau baik dari aspek fisik, sumber daya alam (SDA) ekonomi dan sistem prasarana wilayah. Dan pertimbangan terhadap tujuan tujuantujuan eksternal(kebijakan makro) serta tujuan internal Pengembangan Wilayah Kabupaten Lamandau, maka pada dasarnya pengembangan kegiatan di Kabupaten Lamandau yang menjadi dasar perumusan struktur struktur ruang harus mempertimbangkan diarahkan : Kegiatan ekonomi yang tidak memerlukan dukungan lahan relatif luas, Pengembangan Lahan di wilayah timur hendaknya dapat menjadi pendukung wilayah tengah dan barat Pengembangan Wilayah tengah, harus diperhatik diperhatikan an karena akan menyebabkan

interaksi antara wilayah timur dan barat menjadi lancar. Demikian juga sebagian wilayahnya sebagai daerah perlindungan dibawahnya. Pengembangan lahan di wilayah barat hendaknya dikendalikan secara ketat karena terkait dengan fungsi ngsi sebagai kawasan perlindungan bagi wilayah bawahnya. Kegiatan ekonomi diarahkan pada pemberdayaan ekonomi lokal dengan sektor Pertanian sebagai sektor penggerak.

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 Pelayanan fasilitas dan prasarana hendaknya dilakukan dengan sistem banyak pusat, meskipun dengan skala yang lebih rendah Alternatif Skenario Kondisi yang diharapkan di masa datang : Perlu diupayakan pembangunan yang sistematis, berkelanjutan dengan kualitas potensial SDA, SDM dan SDB untuk mencapai peningkatan taraf hidup masyarakat. Perlu pemantapan antapan pemerintahan yang baik melalui eksekutif, legislatif maupun yudikatif, mampu memenuhi dan melayani kepentingan masyarakatnya. Perlu memanfaatkan potensi potensi-potensi potensi yang terkandung di Kabupaten Lamandau.

A. SKENARIO I (Sesuai Kecenderungan Perkembangan Perkembangan Wilayah/Skenario Konstan) Skenario ini berorientasi pada pembangunan wilayah mengikuti kecenderungan dan pembagian sistem pusat pelayanan. Skenario struktur Perwilayahan dengan asumsi sbb : 1. Pembagian Wilayah pembangunan lebih berorientasi pada pembag pembagian ian Wilayah Administrasi; 2. Setiap wilayah Pembangunan dibatasi oleh wilayah administrasi Kecamatan, yaitu : SWP Timur terdiri dari Kecamatan Buli, Kecamatan Sematu Jaya, Bulik Timur dan Kecamatan Menthobi Raya ; SWP Tengah yaitu Kecamatan Lamandaudan Belantikan Raya; SWP Barat terdiri dari Kecamatan Delang dan Kecamatan Batang Kawa ;

3. Penentuan pusat dilakukan pada Kecamatan Bulik yang terletak di Kawasan Strategis dengan akses yang lancar, selain juga mempertimbangkan kelengkapan fasilitas, sarana dan prasarana pendukung aksesibilitas. Perkembangan leading sektor (dalam hal ini sektor Pertanian) yang diharapkan mampu menjadi sektor penggerak sektor sektor-sektor lainnya. Besarnya perkembangan melalui proses peningkatan sarana prasarana dasar secara bertahap terseleksi sesuai dengan daya tenaga serta dana yang tersedia.

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 Diperlukan prioritas kawasan andalan dengan sektor / subsektor yang diunggulkan untuk memperoleh hubungan pengaruh perkembangan kumulatif/ multiplier efek yang tinggi. Harapan perkembangan ngan tercapai melalui akselerasi pembangunan bertahap, berjalan dalam jangka menengah atau jangka panjang karena sektor yang satu menunggu hasil pembangunan sektor lain terlebih dahulu, sehingga

perkembangan ekonomi wilayah berjalan relatif lambat dan lama lama. Tahap pertama : Tahap kedua : pembangunan sarana prasarana transport/komunikasi. peningkatan kualitas potensi unggulan dan peningkatan Kualitas & kuantitas produk pertanian pendukungnya Tahap ketiga : pembinaan sumber daya manusia kearah agroiwisata k kegiatan pertanian dalam arti luas untuk mendukung pariwisata Tahap keempat : pengembangan akses ke pemasaran produksi potensi lokal orientasi global B. SKENARIO II ( Moderat ) Terjadi Percepatan Pengembangan Wilayah Dengan penyusunan program pengembang pengembangan ekonomi, melalui : Pemecahan masalah pengembangan sarana prasarana transport ke seluruh wilayah untuk pengembangan SDA sebagai prioritas program pengembangan sektoral. Peningkatan kualitas, kemampuan SDM petani, pengolah, pengangkut pedagang dan pengusaha, dengan bekerja sama para tenaga ahli. Penerapan teknologi peningkatan produk pada sektor unggulan yaitu pemilihan sektor yang berkontribusi besar menyerap tenaga kerja, menghasilkan kualitas dan kuantitas produk yang dibutuhkan pasar global. Metode ode pengembangan dengan pemasukan permodalan dalam jumlah relatif besar baik modal asing maupun domestik, disertakan pembinaan penyuluhan untuk peningkatan produk yang berkualitas. Metode pengembangan melalui pembangunan sistem transportasi terpadu darat, laut/sungai, udara sebagai suatu konsekuensi perluasan pemasaran produk pertanian. Harapan perkembangan tercapai melalui akselerasi pembangunan serentak beberapa

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 faktor, berjalan dari kawasan terpilih jangka pendek, karena keterpaduan penunjang pembangunan terhadap SDM, teknologi, biaya, prasarana sarana dasar, berpangkal pada sektor unggulan sampai ke pasar global. Kawasan prioritas dimaksudkan sebagai kawasan cepat berkembang dan mulai berkembang diharapkan menjadi kawasan pembangunan ekonomi terpadu Kabupaten Lamandau. Susunan program pengembangan wilayah untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonomi, dalam proses pembangunan pelaksanaan program, perlu disertai dengan pemantapan pemerintahan yang baik, terpadunya tugas legislatif, eksekutif dan yudikatif bagi i kepentingan masyarakat umumnya. Dukungan kondisi sosial ekonomi saat ini yang menjadi dasar perkembangan ekonomi wilayah kabupaten dimasa datang adalah : Potensi wilayah Komposisi penduduk Angka harapan hidup, yang menunjukkan bahwa derajat kesehatan pen penduduk Kabupaten Lamandau yang relatif cukup baik Seks ratio Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Lamandau yang mempunyai kecenderungan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun selama periode tahun 2004 2004-2009 2009 dengan laju pertumbuhan rata-rata rata mencapai 13%. Hal i ini ni menunjukkan adanya trend perkembangan ekonomi yang semakin baik. Terjadi peningkatan perubahan struktur pertanian dari sektor primer ke sektor sekunder dan tersier, dan masih tetap sektor pertanian tetap memiliki kontribusi terbesar terhadap PDRB Kabupaten Kabupa Lamandau Transportasi jalan sudah di usahakan dapat menjangkau seluruh wilayah di Kabupaten Lamandau, sekalipun sebagian besar tidak dalam kondisi baik. C. Skenario III : (Optimis) Pertumbuhan Wilayah dengan banyak pusat dan dengan Orde Kota yang tidak terlalu tinggi diharapkan akan mempercepat pertumbuhan Wilayah. Skenario 3 ini merupakan pengembangan dari Skenario 2. Hal ini disebabkan karena wilayah tersebut memiliki sarana dan prasarana yang memadai untuk dikembangkan sebagai pusat baru dan orientasi i pergerakan ke arah wilayah belakangnya lebih baik.

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 Konsep Pengembangan Ruang Wilayah Wilaya Memperhatikan pola pemanfaatan ruang yang ada, kebijakan pembangunan yang telah ditetapkan, daya-dukung dukung lahan serta kecenderungan perkembangan wilayah secara keseluruhan, maka konsep yang dinilai tepat untuk dijadikan sebagai dasar dalam penyusunan rencana pola pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten Lamandau ke depan adalah Konsep Agropolitan. Masing Masing-masing masing pusat pengembangan wilayah yang direncanakan diasumsikan n sebagai sebuah Agropolitan yang terdiri dari pusat kegiatan yang dikelilingi oleh kawasan pertanian. Walaupun pada dasarnya hampir semua kabupaten di Indonesia merupakan agropolitan, namun secara konseptual tidak diiringi dengan langkah langkah-langkah langkah : Penentuan an dan pengembangan perwilayahan ekonomi yang mengacu kepada potensi sumberdaya dominan dan unggulan. Pemerataan dalam memanfaatkan sumberdaya dan kesamaan dalam memperoleh akses ke kelompok-kelompok kelompok sosial-ekonomi-politik sosial yang dominan. Mengacu kepada konsep konsep awal yang selama ini dijadikan sebagai referensi dalam pengembangan 'agropolitan', untuk mengoptimalkan perkembangan daerah baru perlu dikembangkan suatu strategi yang memperhatikan kebutuhan dasar daerah tersebut. Strategi kebutuhan dasar (basic needs strategi) yang dikemukakan oleh John Friedmann dan M. Douglass (1975) merupakan pengembangan dari konsep kutub pertumbuhan dan pusat pertumbuhan (growth poles and growth centers concept) yang dinilai kurang mengikuti pertumbuhan global yang terjadi, teruta terutama ma pertumbuhan penduduk di negara yang sedang berkembang. Implementasi dari strategi kebutuhan dasar tersebut dituangkan dalam bentuk Pendekatan Kota Pertanian (The Agropolitan Approachl. Terdapat 4 (empat) elemen utama dalam Pendekatan Pengembangan Agropolitan, yaitu : a) Kondisi Dasar Yang Ingin Diwujudkan (the basic conditions for its realization, dalam bentuk: Perwilayahan yang jelas. Kebersamaan dalam memanfaatkan kekayaan sumberdaya yang dimiliki. Kesamaan akses ke kekuatan sosial yang ada.

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 b) Kerangka ngka Kewilayahan (the territorial framework) Kawasan (district) Agropolitan merupakan bagian wilayah yang terintegrasi dari 3 ruang yang saling berhimpitan, yakni ruang yang bersifat ekonomi (economic space) dan ruang yang bersifat sifat politik (political space dan ruang yang bersifat budaya (cultural space). c) Pengembangan Produksi (the expansion of production), melalui : Diversifikasi perwilayahan ekonomi Pengembangan fisik yang berlebihan harus dibatasi Perluasan pasar wilayah dan antar antar-wilayah Penanaman modal dengan biaya sendiri Mengembangkan pengetahuan masyarakat

d) Peraturan Pemerintah (the role of the state) Dibutuhkan peraturan pemerintah untuk mendukung pengembangan

Agropolitan. Pada dasarnya Konsep/_Pendekatan Agropolitan bertujuan unt untuk mengikut-sertakan sertakan bagian terbesar dari penduduk dalam pem pembangunan, bangunan, yakni penduduk di perdesaan. Pengikut-sertaan Pengikut sertaan ini berlaku baik bagi penduduk sebagai konsumen maupun penduduk sebagai produsen. Dalam pengikutsertaan tersebut diambil kebijaksanaan untu untuk menjadikan "desa" sebagai "kota". Pengertian "kota" dalam konsep ini adalah desa yang tadinya bersifat tertutup, baik dalam komunikasi maupun perdagangan, dibuat lebih terbuka. Produksi desa yang tadinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri yang paling primer (pangan), sekarang harus dapat mencukupi kebutuhan dasar lainnya (sandang dan papan). Dengan demikian, pembangunan tidak berorientasi pada pengembangan sektor industri besar, tetapi lebih ditekankan pada sektor pertanian dan industri kecil di perdesaan yang dapat memenuhi kebutuhan dasar (basic needs) penduduk. Selain itu desa juga dibuat terbuka terhadap hubungan hubungan-hubungan hubungan sosial dengan lain, pengembangan inovasi inovasi-inovasi inovasi baru, pengembangan prasarana, pengembangan sarana sosial dan lain sebagai sebagainya.

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 Dengan arahan pengembangan tersebut diharapkan desa akan tumbuh menjadi agropolis atau kota di kawasan pertanian, sehingga dapat mencegah terjadinya perpindahan penduduk ke kawasan perkotaan.

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 Peta 2.3: Rencana ana pusat layanan Kabupaten Lamandau

Sumber: : Draft RTRW Kabupaten Lamandau 2013

Halaman 41

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 Peta 2.4: Rencana encana pola ruang Kabupaten Lamandau

Sumber: Draft RTRW Kabupaten Lamandau Tahun 2013

Halaman 42

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013

Strategi trategi Pengembangan Kependudukan Pertambahan jumlah penduduk di tahun perencanaan dari tahun 2010 2010-2030 yang mengalami peningkatan yang cukup lumayan besar akan mempengaruhi perkembangan wilayah perencanaan dan juga laju perkembangan penduduk wilayah ini akan menjadi sangat cepat, karena dengan dilaksanakannya dilaksanakannya pemekaran wilayah akan memberikan peluang investasi yang semakin besar dan memberi rangsangan untuk berpindah ke kabupaten ini. Perkembangan penduduk yang relatif cukup tinggi tersebut akan berpengaruh terhadap penyediaan sarana dan prasarana pelayanan wilayah, untuk itu diperlukan suatu strategi yang mampu mengarahkan perkembangan penduduk. Dengan kondisi laju pertumbuhan penduduk yang berbeda pada setiap kecamatannya, maka dapat diprediksikan bahwa jumlah penduduk tertinggi akan terkonsentrasi di Kecam Kecamatan atan Bulik. Sedangkan untuk jumlah penduduk dalam klasifikasi sedang diperkirakan berada di Kecamatan Lamandau, Sematu Jaya, Delang, dan untuk jumlah penduduk terendah akan tersebar di Kecamatan Bulik Timur dan Kecamatan Belantikan Raya. Mengacu pada uraian uraian diatas, maka strategi pengembangan kependudukan di wilayah Kabupaten Lamandau adalah sebagai berikut : 1. Pengendalian laju penduduk dengan batasan jumlah penduduk di setiap wilayah. 2. Meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang trampil dan b berdaya saing. 3. Meningkatkan dan memperluas kesempatan kerja yang diimbangi dengan peningkatan produktivitas tenaga kerja. 4. Pengaturan kepadatan penduduk, untuk mengantisipasi terkonsetrasi jumlah penduduk di suatu wilayah. Strategi Pengembangan Perekonomian Perek Regional Letak strategis wilayah Kabupaten Lamandau, mengakibatkan wilayah Kabupaten Lamandau memiliki nilai strategis dalam konstelasi regional dengan mengembangkan kegiatan sektor unggulan Kabupaten Lamandau yaitu Perkebunan dan sektor-sektor pendukung dukung lainya seperti, Pariwisata, Pertambangan dan industri .

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 Kondisi ini secara langsung akan berpengaruh terhadap perubahan struktur kegiatan ekonomi maupun pola ruang yang ada. Adapun kebijaksanaan pengembangan kegiatan perekonomian di Kabupaten Lama Lamandau, diarahkan untuk : 1. Pengembangan iklim usaha yang menjamin terciptanya persaingan yang sehat antara usaha kecil, menengah dan besar. 2. Pemasyarakatan dan penyederhanaan mekanisme perencanaan, pemantauan dan evaluasi kegiatan antar sektor ekonomi. 3. Pengembangan informasi pasar untuk menjamin pemasaran hasil produksi. 4. Perumusan dan pelaksanaan regulasi yang memungkinkan terciptanya iklim yang kondusif bagi investasi, yang secara langsung berpengaruh pada perkembangan kegiatan Usaha Kecil Menengah Menen (UKM). 5. Penyederhanaan dan peningkatan efisiensi segala bentuk pengaturan untuk penyelenggaraan usaha, sehingga memberi kesempatan yang lebih besar kepada UKM untuk memasuki pasar dan berkembang secara wajar. 6. Peningkatan produksi masyarakat, melalui melalui penciptaan lapangan kerja, penciptaan iklim usaha yang baik dan kondusif. 7. Pemberdayaan ekonomi rakyat dan sikap keberpihakan terhadap ekonomi lemah dan sektor informasi melalui pembinaan teknis, permodalan dan pemasaran. 8. Menciptakan dan meningkatkan meningk peluang pasar dalam pemasaran hasil-hasil hasil produksi Perkebunan/Pertanian dari wilayah sekitarnya sebagai salah satu lokomotif penggerak perekonomian wilayah. Sektor Industri Strategi pengembangan dan pengelolaan terhadap sektor industri adalah : Dalam operasionalnya maka disarankan untuk menggunakan semaksimal mungkin bahan baku lokal dan tenaga kerja lokal. Menghilangkan atau mengurangi terjadinya polusi lingkungan dan melengkapi unit pengolahan limbah yang memadai. Pengembangan kegiatan industri hend hendaknya aknya turut memberikan kontribusi bagi pembangunan kawasan (Kabupaten Lamandau). Mengembangkan kegiatan usaha industri kecil dan menengah yang mampu mengolah hasil-hasil hasil perikanan sebagai potensi utama serta bersifat non polutan. Memanfaatkan potensi kawasan peruntukkan industri untuk meningkatkan nilai

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 tambah pemanfaatan ruang dalam memenuhi kebutuhan ruang bagi pengembangan kegiatan industri, dengan tetap mempertahankan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Perlunya memperhatikan batas ambang pencemaran air dan udara. Perlu mengadakan treatment limbah cair maupun padat sehingga tidak menimbulkan dampak lingkungan. Jaringan jalan memenuhi kebutuhan secara teknis. Tidak banyak memerlukan air baku. Sektor Pariwisata Strategi pengelolaan an dan pengembangan terhadap sektor pariwisata adalah sebagai berikut : Penataan fasilitas dan utilitas pada setiap obyek wisata yang ada agar dapat menarik wisatawan baik lokal, nusantara maupun mancanegara. Peningkatan prasarana dan sarana transportasi untuk mencapai setiap obyek dan penyediaan fasilitas akomodasi di sekitarnya. Operasional kegiatan pariwisata tidak mengganggu kelestarian lingkungan hidup. Arahan pengembangan kawasan pariwisata dapat dilakukan melalui : Pemantapan dan peningkatan pemanfa pemanfaatan atan kawasan pariwisata yang telah berkembang dewasa ini dengan penekanan pada kegiatan yang mempertahankan kelestarian lingkungan. Pelestarian sumber daya alam dan lingkungan serta peninggalan sejarah. Menggali objek-objek objek wisata baru serta memperkenalkan dan memasarkan objek wisata dan kesenian daerah melalui penyediaan lokasi lokasi-lokasi baru. Strategi Pengembangan Lingkungan Perumahan Strategi pengelolaan dan pengembangan sektor permukiman di Kabupaten Lamandau antara lain : Perlu dikendalikan agar permukima permukiman n pedesaan tidak berubah menjadi permukiman perkotaan dengan tujuan agar lahan tanah pertanian produktif tetap dapat dipertahankan serta konservasi tanah dan air dapat terjaga dengan baik. Perkembangannya dibatasi bagi petani atau penduduk setempat.

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 Dapat dikembangkan agro industri keluarga. Diperkenankan intensifikasi pekarangan bagi penghijauan.

Strategi trategi Pengembangan Transportasi Transportasi sebagai salah satu motor penggerak dalam mendukung

perekonomian wilayah, harus terus ditingkatkan kinerjanya, seirama dengan perkembangan tuntunan jaman dan kemajuan teknologi. Dalam sistem prasarana transportasi di Kabupaten Lamandau, strategi pengembangan prasarana transportasi yang ditempuh adalah meliputi hal-hal hal sebagai berikut: Peningkatan prasarana transportasi transpor yang sudah ada. Pengelolaan lalu lintas. Penambahan armada angkutan dan pengaturan rute. Pengawasan dan pengendalian penggunaan kendaraan pribadi pada ruas ruas-ruas jalan kawasan-kawasan kawasan tertentu. Perwujudan sistem terminal terpadu. Pembangunan ruas-ruas jalan penghubung dua atau lebih zona dengan keterkaitan pergerakan tinggi. Strategi pengelolaan sistem prasarana transportasi bertujuan untuk : Terciptanya kelancaran, ketertiban dan keamanan angkutan. Lancarnya penyaluran hasil produksi, pengembangan obyek wisata melalui peningkatan kondisi jalan. Meningkatnya disiplin pengguna jalan.

Program yang dilaksanakan bagi sistem prasarana transportasi adalah sebagai berikut : Pengadaan, perbaikan, dan pemeliharaan rambu rambu-rambu jalan. Membangun terminal bis dan sub-sub terminal. Sehubungan dengan pengembangan kawasan kawasan-kawasan kawasan pusat produksi diatas, maka perlu dukungan sistem prasarana transportasi wilayah yang akan menghubungkan kawasan-kawasan kawasan tersebut dengan pusat pemasaran yang ada, baik didalam wilayah maupun diluar wilayah.

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 Dengan demikian pengembangan sistem transportasi diarahkan untuk dapat mendorong perkembangan pusat pusat-pusat pusat dan kawasan dibagian utara dan selatan wilayah. Selain itu mengingat pesatnya perkembangan kegiatan dibagian timur perlu diidentifikasikan ikasikan dan diteliti untuk kemudian ditingkatkan atau dibangun sistem transportasi yang dapat mendukung pergerakan orang dan barang. Strategi Pengembangan Fasilitas asilitas Sebagai salah satu faktor pendukung dalam kegiatan wilayah, ketersediaan fasilitas sosial merupakan hal yang paling mendasar dalam menyediakan sarana pelayanan bagi masyarakat. Berkaitan dengan hal tersebut, maka strategi pengembangan fasilitas sosial diarahkan untuk : a. Memenuhi kebutuhan hidup orang banyak dengan lebih meningkatkan pelayana pelayanan kepada masyarakat. b. Penyediaan dan pengembangan fasilitas sosial melalui penyebaran pelayanan di setiap pusat-pusat pusat pelayanan, baik pada lingkungan permukiman maupun pusat pusat-pusat kegiatan lainnya. c. Penyebaran setiap jenis fasilitas pelayanan sosial di seluruh wilayah Kabupaten Lamandau sesuai dengan standar kebutuhan penduduk dan tingkat pelayanannya. d. Memfungsikan dan mengoptimalkan penggunaan setiap jenis fasilitas sosial yang sudah ada untuk lebih dapat meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. e. Memprioritaskan penyediaan lahan untuk pengembangan fasilitas sosial bagi daerah daerahdaerah yang jauh dari jangkauan pelayanan fasilitas yang ada. Secara rinci, strategi pengembangan fasilitas sosial, adalah sebagai berikut : A. Fasilitas Pendidikan Menampung murid usia sekolah di lembaga-lembaga lembaga pendidikan. Meningkatkan penyelenggaraan pendidikan informal dan keterampilan di kalangan masyarakat. Meningkatkan kualitas maupun kuantitas fasilitas pendidikan melalui peran serta masyarakat.

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 Meningkatkan mutu utu pendidikan dan optimalisasi pelayanan, melalui program penggabungan sekolah (regrouping). B. Fasilitas Kesehatan Meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat mulai dari tingkat

desa/kelurahan hingga tingkat kabupaten, baik secara kualitas maupun kuanti kuantitas. Meningkatkan pemulihan kesehatan masyarakat, melalui peningkatan terhadap penyediaan tenaga medis. Meningkatkan kualitas pelayanan dan mengembangkan fasilitas kesehatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. C. Fasilitas Peribadatan Meningkatkan penyediaan penyediaan fasilitas peribadatan yang sesuai dengan kebutuhan penduduk, berdasarkan rasio penduduk pemeluk agama. Meningkatkan kualitas dan kuantitas serta pengembangan fasilitas peribadatan dengan melibatkan masyarakat. D. Fasilitas Perdagangan Penempatan dan penyediaan enyediaan fasilitas perdagangan diatur berdasarkan skala kegiatan perdagangan lokal hingga regional dengan melakukan penyebaran pada sentra-sentra sentra ekonomi di setiap wilayah sesuai dengan potensi dan karakteristik daerahnya. Pengaturan tata ruangnya dalam s suatu uatu kelompok kegiatan, sesuai dengan skala pelayanannya. Pemanfaatan pasar-pasar pasar tradisional secara optimal sebagai salah satu sentra ekonomi pada tingkat kecamatan. Strategi Pengembangan Utilitas Strategi pengembangan utilitas pelayanan didasarkan pada a antisipasi ntisipasi pemenuhan kebutuhan masyarakat Kabupaten Lamandau di masa mendatang. Berdasarkan kriteria pelayanan yang ada, maka pengembangan utilitas disesuaikan dengan kebutuhan

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 masyarakat pada umumnya, seperti : air bersih, listrik, telekomunikasi dan siste sistem persampahan. A. Air Bersih Peningkatan jangkauan pelayanan air bersih ke seluruh bagian wilayah di Kabupaten Lamandau yang belum terlayani dengan memanfaatkan secara maksimal sumber-sumber sumber air yang ada (air permukaan dan air bawah tanah). Meningkatkan cadangan volume air tanah melalui pembuatan sumur sumur-sumur resapan. Pengendalian penggunaan sumber sumber-sumber sumber air bawah tanah dengan membatasi kedalaman sumur pompa pada wilayah wilayah-wilayah tertentu. Pengembangan pemanfaatan sumber sumber-sumber sumber mata air bagi wilayah yang s secara teknis sulit terjangkau oleh pelayanan air bersih, melalui pengembangan Tempat Air Hidrant Umum (TAHU). Pengendalian lingkungan sekitar sumber-sumber sumber sumber mata air dari pencemaran dengan menetapkannya sebagai area konservasi. B. Listrik Peningkatan pelayanan nan jaringan listrik ke seluruh bagian wilayah yang belum terpenuhi. Pengembangan sistem pengamanan untuk mengurangi jumlah kehilangan energi listrik akibat kebocoran dan pencurian. Peningkatan jumlah cadangan penyediaan energi listrik acara interkoneksi dengan engan daerah sumber tenaga listrik. Peningkatan jumlah GI (Gardu Induk) khusus jangkauan pelayanan guna peningkatan pelayanan. Peningkatan pengembangan listrik pedesaan dengan menggunakan tenaga diesel. Pemasangan sistem meterisasi bagi penerangan jalan u umum mum per blok penggunaan. Pengaman penggunaan lahan di sekitar jaringan tegangan listrik dengan pemanfaatan bagi jalur hijau dan taman. C. Telepon

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 Peningkatan pengembangan jaringan telepon guna pemerataan pelayanan di setiap wilayah kota. Peningkatan pengembangan mbangan sentra telepon otomat dan telepon guna menunjang kelancaran aktivitas penduduk. Peningkatan pengembangan satuan sambungan telepon maupun telepon umum pada setiap bagian wilayah kabupaten yang belum terlayani. Pengembangan jaringan kabel bawah tanah yang terintegrasi dengan jaringan utilitas wilayah lainnya. D. Persampahan Peningkatan pelayanan pengangkutan sampah di mulai dari unit lingkungan terkecil ke kawasan perdesaan melalui pola pengelolaan sampah terpadu. Peningkatan kesadaran masyarakat dalam upaya menanggulangi sampah untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Pembangunan Tempat Pembuangan Akhir sampah, baik untuk dikelola sendiri atau kerjasama dengan wilayah lainnya dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan sekitarnya. Peningkatan katan penggunaan sarana pengangkutan sampah melalui pola angkutan sampah reguler dengan memperhatikan waktu dan jalur pengangkutan sampah ke TPA. Mengembangkan pola kerjasama dengan swasta baik dalam kegiatan pengumpulan dan pengangkutan ataupun dalam peng pengelolaan elolaan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). 2.5 Sosial dan Budaya Masyarakat Kabupaten Lamandau adalah heterogen, di mana penduduk asli adalah suku Dayak. Penduduk pendatang yang sudah lama berdomisili di Kabupaten Lamandau yaitu orangorang orang yang mengikuti mengikuti program transmigrasi tahun 1980 1980-an, sedangkan penduduk pendatang baru adalah orang orang-orang orang yang datang belakangan. Penduduk pendatang baru ini umumnya mempunyai mata pencarian sebagai pedagang, bekerja di perusahaan perkebunan atau sebagai PNS yang ditem ditempatkan di instansi-instansi instansi pemerintah. Pola hidup masyarakat asli, khususnya yang bermukim di

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 pedesaan (pedalaman) lebih mengandalkan pada sumber alam yang ada di sekitarnya. Mereka memenuhi kebutuhan hidupnya dari kegiatan bidang pertanian, dengan pola ladang berpindah. Sementara para pendatang, khususnya para transmigran, juga berusaha bidang pertanian, namun umumnya mereka bertani dengan ladang tetap, dan mengembangkan lahan yang telah dikelolanya. Wilayah yang paling berkembang saat ini adalah Kecama Kecamatan tan Bulik. Kecamatan ini kondisinya jauh lebih ramai dibandingkan kecamatan lainnya. Nanga Bulik merupakan pusat perekonomian dan pemerintahan. Sebagian besar masyarakat di Nanga Bulik adalah orang Dayak yang menganut agama Islam. Mereka lebih senang diseb disebut Dayak Melayu karena sudah jarang menggunakan bahasa dan adat Dayak. Masyarakat pendatang kebanyakan datang dari Demak, Semarang dan kota kota- kota lain di Jawa, ada pula masyarakat transmigran yang telah berhasil dan berdagang di Nanga Bulik.

Fasilitas pendidikan Pemerintah Kabupaten Lamandau telah berupaya maksimal dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan di bidang pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari terpenuhinya sarana pendidikan dengan mempertimbangkan unit administrasi pemerintahan, , jumlah penduduk terlayani dan faktor desain keruangan dan kelompok lingkungan. Seperti yang terlihat pada table dibawah ini.

Tabel 2.9: Fasilitas pendidikan yang tersedia di Kabupaten Lamandau


Jumlah Sarana Pendidikan Nama Kecamatan
Bulik Bulik Timur Menthobi Raya Sematu Jaya Lamandau Belantikan Raya Batang Kawa Delang

SD 23 14 12 8 14 14 9 12

Umum SLTP SMA 7 3 6 5 4 5 4 5 5 1 1 1 2 1 1 1

SMK 2 0 0 0 0 0 0 0

MI 1 0 1 1 0 0 0 0

Agama MTs 1 0 0 1 0 0 0 0

MA 1 1 0 0 0 0 0 0

Sumber: Kabupaten Lamandau Dalam Angka Tahun 2013

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Kemiskinan Masyarakat Kemajuan pembangunan manusia secara umum dapat ditunjukkan dengan melihat perkembangan indeks pembangunan manusia (IPM) yang mencerminkan capaian kemajuan di bidang pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Dengan melihat perkembangan angka IPM tiap tahun, tampaknya kemajuan yang dicapai Lamandau dalam pembangunan manusia mengalami peningkatan. Angka IPM Lamandau mengalami peningkatan dari 71,98 pada Tahun 2008 menjad menjadi i 72,74 di Tahun 2011. Persentase penduduk miskin (penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan) di Lamandau mengalami penurunan yang cukup signifikan. Ini terlihat pada Tahun 2007 persentase penduduk miskin sebesar 7,76 persen turun menjadi 6,97 persen di Tahun 2008. Angka kemiskinan kembali turun pada Tahun 2009 menjadi 5,57 persen dan pada Tahun 2010 berhasil mencapai penurunan hingga sebesar 5,35 persen. Pada Tahun 2010 tersebut Lamandau merupakan kabupaten dengan presentase penduduk miskin terendah ketiga se Kalimantan Tengah setelah Kota Palangka Raya.

Tabel 2.10: Jumlah penduduk miskin per kecamatan


Nama Kecamatan
Bulik Bulik Timur Menthobi Raya Sematu Jaya Lamandau Belantikan Raya Batang Kawa Delang

Jumlah keluarga miskin (KK) 795 811 539 177 473 328 358 474

Sumber: Penduduk Miskin Kabupaten 2008

Persentase penduduk Kabupaten Lamandau yang terus meningkat dari tahun ke tahun menghasilkan kepadatan bangunan dan hunian yang semakin tinggi pula.Tingkat

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 kepadatan permukiman tersebut akan menimbulkan kerawanan kesehatan. Adapun tingkat kepadatan perumahan permukiman di Kabupaten Lamandau dapat di lihat dari Error! Reference source not found. di bawah ini.

Tabel 2.11: Jumlah rumah per kecamatan


Nama Kecamatan
Bulik Bulik Timur Menthobi Raya Sematu Jaya Lamandau Belantikan Raya Batang Kawa Delang

Jumlah Rumah 6352* 1931 2502 2424* 1572* 1528 757 1382*

Sumber:Survey Lapangan; ; * jumlah rumah tangga tahun 2011

Wilayah Kumuh Kawasan Perkotaan Secara umum Menurut Sinulingga (2005) ciri-ciri ciri dari wilayah kumuh Kawasan Perkotaan dapat di jelaskan dengan beberapa criteria sebagai berikut : 1. Penduduk sangat padat antara 250 250-400 400 jiwa/ha. Pendapat para ahli perkotaan (MMUDP,90) menyatakan bahwa apabila kepadatan suatu kawasan telah mencapai 80 jiwa/ha maka timbul masalah akibat kepadatan ini, antara perumahan yang dibangun tidak mungkin lagi memiliki persyaratan fisiologis,psikologis dan perlindungan terhadap penyakit. 2. Jalan-jalan jalan sempit tidak dapat dilalui oleh kendaraan roda empat, karena sempitnya, kadang-kadang kadang jalan ini sudah tersembunyi dibalik atap atap-atap rumah yang sudah bersinggungan satu sama lain.

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 3. Fasilitas drainase sangat tidak memadai, dan malahan biasa terdapat jalanjalan tanpa drainase, sehingga apabila hujan kawasan ini dengan mudah akan tergenang oleh air. 4. Fasilitas pembuangan air kotor/tinja sangat mi minim sekali. Ada diantaranya yang langsung membuang tinjanya ke saluran yang dekat dengan rumah, ataupun ada juga yang membuangnya ke sungai yang terdekat. 5. Fasilitas penyediaan air bersih sangat minim, memanfaatkan air sumur dangkal, air hujan atau membeli secara kalengan. 6. Tata bangunan sangat tidak teratur dan bangunan-bangunan bangunan bangunan pada umumnya tidak permanen dan malahan banyak yang darurat. 7. Kondisi a sampai f membuat kawasan ini sangat rawan terhadap penularan penyakit. 8. Pemilikan hak atas lahan sering tidak le legal, gal, artinya status tanahnya masih merupakan tanah negara dan para pemilik tidak memiliki status apa apa-apa. Dalam Undang-Undang Undang No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Pemukiman, yang menyatakan bahwa: ......untuk mendukung terwujudnya lingkungan pemukiman ya yang memenuhi persyaratan keamanan, kesehatan, kenyamanan dan keandalan bangunan, suatu lingkungan pemukiman yang tidak sesuai tata ruang, kepadatan bangunan sangat tinggi, kualitas bangunan sangat rendah, prasarana lingkungan tidak memenuhi syarat dan rawan, , yang dapat membahayakan kehidupan dan penghidupan masyarakat penghuni, dapat ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota yang bersangkutan sebagai lingkungan pemukiman kumuh.. Jadi Wilayah Kumuh Perkotaan di Kabupaten Lamand Lamandau apabila ditinjau dari syarat-syarat syarat di atas, masih terlihat dikawasan tengah kota yg ada kawasan bisnis (Pasar), Daerah bantaran Sungai, di Nanga Bulik sudah mulai terlihat sampah menumpuk di beberapa titik, genangan air hujan dan luapan sungai, serta tingkat kepadatan yg kuran kurang g merata ke semua kawasan menjadikan kawasan bisnis (Pasar) menjadi daerah yg padat dan terlihat kumuh. Beberapa tempat sudah mulai terlihat kumuh karena sudah mulai terlihat tingkat kepadatan penduduk dengan banyaknya pendatang karena melihat peluang usah usaha a di kabupaten lamandau ini sudah semakin meningkat dari per tahunnya, kurang terlayaninya fasilitas sanitasi yang memadai sehingga mulai terlihat sampah yg mulai menumpuk, di beberapa titik saluran-saluran air ada yg sudah mulai rusak dan buntu sehingga banyak anyak terjadi genangan atau luapan air pada saat hujan.

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 2.6 Kelembagaan Pemerintah Daerah Kabupaten Lamandau merupakan salah satu Kabupaten hasil pemekaran dari Kabupaten Kotawaringin Barat di wilayah Propinsi Kalimantan Tengah yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Undang Nomor 5 tahun 2002 dengan Ibukotanya Nanga Bulik yang hari jadinya ditetapkan tanggal 3 Agustus 2002. Seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah, pemerintah Kabupaten Lamandau telah membentuk DPRD serta lembaga Organisai pemerintah lainnya. Sebagai ebagai daerah yang baru dengan tujuan membangun membangun daerah sendiri dalam rangka meningkatkan eningkatkan kesejahteraan masyarakat, maka Kabupaten Lamandau menetapkan Tema dan Konsep Pembangunan dengan mempertimbangkan kondisi lingkungan strategis, baik internal maupun eks eksternal. ternal. Faktor kekuatan, kelemahan, peluang. Operasionalisasi kegiatan Pemerintahan, Pembangunan, dan Pelayanan kepada Masyarakat Kabupaten Lamandau dimulai sesudah adanya Pembentukan Satuan Kerja Perangkat Daerah dengan mengacu kepada Peraturan Pemerinta Pemerintah Nomor 41 Tahun ahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah yang dilanjutkan dengan pelantikan para pejabat yang menduduki Jabatan Struktur pada Satuan Kerja Perangkat Daerah sebagaimana berikut: Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Lamandau Berdasarkan P Peraturan Pemerintah No 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah: Sekretariat Daerah

Sekretaris Daerah Asistem Pemerintahan Asisten Ekonomi dan Pembangunan Asisten Administrasi Umum Staf Ahli Bidang Hukum dan Pemerintah Staf Ahli Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Dewan

Badan

Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda)

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013


Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat Badan Lingkungan Hidup Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana

Inspektorat Daerah Dinas


Dinas Pendidikan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Dinas Kesehatan Dinas Pekerjaan Umum Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah Dinas as Kependudukan dan Pencatatan Sipil Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Dinas Pertambangan dan Energi Dinas Pendapatan, Pengelolaan Penge Keuangan dan Aset Daerah

Kantor

Kantor Ketahanan Pangan Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Rumah Sakit Umum Daerah

Instansi Vertikal dan Perusahaan Negara, BUMN / BUMD


Polres Lamandau Kejaksaan Negeri Kementerian Agama (Kemenag) Badan Pusat Statistik (BPS) PT. Pos dan Giro

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013


PT. PLN Ranting Nanga Bulik Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Nanga Bulik Bank Pembangunan Kalimantan Tengah (BPK) Cabang Pembantu Perusaahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Lamandau Perusahaan Daerah (Perusda) Bajurung Raya Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP)

Kecamatan

Kantor Camat Bulik Kantor Camat Bulik Timur Kantor Camat Sematu Jaya Kantor Camat Menthobi Raya Kantor Camat Lamandau Kantor Camat Belantikan Raya Kantor Camat Batang Kawa Kantor Camat Delang

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN LAMANDAU 2013 Gambar 2.1: Struktur organisasi pemerintah daerah Kabupaten Lamandau

Halaman 59