You are on page 1of 5

Bidang Pemantapan Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat a.

Pemantapan Nilai-nilai Budaya dan Penguatan Lembaga Adat, dalam rangka memperkuat kohesi dan integrasi sosial masyarakat lokal sebagai prasyarat terwujudnya persatuan dan kesatuan nasional, dengan pokokpokok program: 1) Fasilitasi pemberdayaan lembaga adat dan pemantapan nilai-nilai sosial budaya lokal; 2) Penguatan nilai-nilai demokrasi yang berkembang dalam kehidupan masyarakat sesuai kearifan nilai-nilai sosial budaya masyarakat setempat; 3) Penguatan Lembaga Adat dalam Perspektif Pemberdayaan Masyarakat untuk memperkuat Budaya Nusantara; 4) Peningkatan semangat gotong royong masyarakat dalam pembangunan sesuai dengan nilai-nilai budaya masyarakat setempat melalui pelaksanaan Bulan Bhakti Gotong Royong Masyarakat. b. Pemantapan Ketahanan Keluarga dan Peningkatan Kesejahteraan Keluarga, dengan pokok-pokok program: 1) Fasilitasi bagi jajaran Tim Penggerak PKK dalam melaksanakan 10 Program pokok PKK; 2) Penguatan peran Kader PKK, agar mampu membantu masyarakat dalam melaksanakan program dan kegiatan PKK di Desa/Kelurahan, serta pengembangan kemampuan ekonomi para kader PKK melalui kegiatan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga/UP2K; 3) Peningkatan peran aktif pelayanan kesehatan dasar bagi masyarakat di Desa/Kelurahan melalui revitalisasi dan optimalisasi peran Posyandu. 4) Peningkatan peran aktif masyarakat dalam pemberantasan penyakit menular yang menimpa masyarakat terutama masyarakat miskin (seperti penyakit Polio, Malaria, TBC Paru dan Demam Berdarah Dengue/DBD serta masalah kesehatan lainnya); 5) Peningkatan fasilitasi pelaksanaan Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) di masing-masing daerah; 6) Penguatan Peran Pemerintah Desa/Kelurahan dalam memfasilitasi pelaksanaan program PKK;

7) Peningkatan gizi anak-anak Keluarga miskin melalui Program Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMT-AS) untuk mensukseskan program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun. c. Pemberdayaan Perempuan Dalam Pembangunan Daerah, agar terwujud kesetaraan dan keadilan gender dalam kehidupan masyarakat, dengan pokok-pokok program: 1) Penelaahan terhadap berbagai faktor sosial budaya yang menghambat berkembangnya kesetaraan dan keadilan gender dalam kehidupan masyarakat, agar dapat dilakukan intervensi program yang tepat dalam rangka pemberdayaan perempuan; 2) Penetapan kebijakan Pemerintah Daerah dalam memperluas akses perempuan dalam berbagai aktivitas pada sektor publik (pemerintah, politik, pengembangan usaha ekonomi, dll) 3) Peningkatan partisipasi perempuan dalam proses perencanaan pembangunan di Daerah, khususnya dalam forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan di Desa/Kelurahan dan Kecamatan; 4) Meningkatkan langkah-langkah proaktif dalam rangka melindungi kaum perempuan dari aktivitas kekerasan dalam rumah tangga maupun kekerasan di sektor publik; 5) Pengembangan kegiatan pendidikan dan pelatihan dalam rangka pemberantasan buta aksara perempuan. d. Peningkatan Kesejahteraan Sosial Masyarakat, Khususnya bagi kelompok masyarakat yang kurang beruntung, yakni kelompok masyarakat adat terpencil, fakir miskin, pengungsi (akibat bencana alam dan gejolak sosial politik), serta para penyandang masalah kesejahteraan sosial (tuna wisma dan anak jalanan, penyandang cacat fisik dan mental, manusia lanjut usia, penderita HIV/AIDS, dan lainnya), dengan pokok-pokok program: 1) Pengembangan program Pemerintah Daerah dalam penanganan para penyandang masalah kesejahteraan sosial; 2) Pengembangan aksesibilitas bagi para penyandang masalah kesejahteraan sosial dalam memanfaatkan prasarana dan sarana publik; 3) Pengembangan kerjasama dengan lembaga masyarakat dalam penanganan para penyandang masalah kesejahteraan sosial;

4) Pengembangan kemampuan aparatur dalam menangani para penyandang masalah kesejahteraan sosial melalui kegiatan pelatihan (seperti pelatihan penanganan bencana alam dan pengungsi, pelatihan penyuluh HIV/AIDS, pelatihan fasilitator pemberdayaan kelompok masyarakat adat terpencil, dll). e. Pemberdayaan dan perlindungan Anak dan remaja, agar terwujud generasi penerus bangsa yang lebih berkualitas, dengan pokok-pokok program: 1) Peningkatan apresiasi anak dan remaja terhadap nilai-nilai budaya lokal; 2) Pengembangan sanggar budaya serta sanggar kreativitas anak dan remaja; 3) Pengembangan Program Penanggulangan Pekerja Anak di sektor informal, melalui penyediaan beasiswa agar mereka dapat mengikuti pendidikan dasar sembilan tahun; 4) Pengembangan Program Perlindungan anak dari berbagai kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan di sektor publik; 5) Pengembangan program penanggulangan perdagangan gelap anak (human traffcking) dan eksploitasi seksual komersial anak.

PELAKSANAAN A. Strategi Pelaksanaan 1. Mengedepankan fasilitasi untuk meningkatkan partisipasi dan kemandirian masyarakat dalam pengelolaan program-program pemberdayaan masyarakat. 2. Mengembangkan komunikasi, konsultasi, dan diskusi publik bersama masyarakat dalam menjaring aspirasi dan kebutuhan masyarakat dalam pembangunan. 3. Membangun kemitraan dengan seluruh pelaku pembangunan untuk secara sinergis melakukan upaya bersma dalam rangka pemberdayaan masyarakat. 4. Memotivasi tokoh-tokoh masyarakat untuk berperan aktif dalam pelaksanaan program-program pemberdayaan masyarakat. 5. Mengembangkan komunikasi, konsultasi dan kokrdinasi antar instansi/lembaga terkait; 6. Mengutamakan peranserta masyarakat daripada peran pemerintah; 7. Mengembangkan komunikasi, konsultasi dan koordinasi antara Pusat dengan Daerah dalam memantapkan pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat dan desa. B. Organisasi Pelaksanaan 1. Sejalan dengan upaya Pemerintah Daerah dalam mengembangkan kebijakan dan program-program pemberdayaan masyarakat serta pemantapan penyelenggaraan pemerintahan dea/kelurahan, maka untuk meningkatkan keberhasilan Pemerintah Daerah dalam mengelola program-program tersebut, para Gubernur dan Bupati/Walikota bersama-sama dengan DPRD Provinsi/Kabupaten/Kota diharapkan melakukan langkah-langkah penyesuaian dan penataan kelembagaan daerah yang bertanggung jawab dalam bidang pemberdayaan masyarakat dan pemantapan penyelenggaraan pemerintahan desa/kelurahan sebagai satuan organisasi perangkat daerah. 2. Urgensi dari langkah penyesuaian dan penataan kelembagaan daerah yang bertanggung jawab dalam bidang pemberdayaan masyarakat dan pemantapan penyelenggaraan pemerintahan

desa/kelurahan tersebut, didasarkan pada realitas bahwa Pemerintah Daerah merupakan penyelenggara pemerintahan negara dan penyelenggara fungsi pelayanan publik yang langsung dan terdepan kepada masyarakat, mempunyai peran dan tanggung jawab yang sangat besar dalam meningkatkan keberdayaan masyarakat (termasuk keberdayaan masyarakat miskin). Penyesuaian dan penataan kelembagaan daerah dimaksud dapat berpedoman pada keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 50 Tahun 2000 tentang pedoman Susunan Organisasi dan Tata kerja perangkat Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota atau Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 130 Tahun 2003 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Daalam Negeri. 3. Dalam rangka efektivitas pelaksanaan kebijakan dan program pemberdayaan masyarakat dan desa, serta demi kelancaran upaya fasilitasi dari Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah dan dari Pemerintah Provinsi kepada pemerintah Kabupaten/Kota, maka diharapkan agar semua Pemerintah Daerah dapat mempertimbangkan, dan mulai mengambil langkah-langkah ke arah pembentukan organisasi yang relatif sama antar daerah, misalnya dengan nomenklatur Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa. C. pembiayaanan Untuk mewujudkan Visi dan misi pemberdayaan masyarakat dan desa yang diaktualisasikan dengan berbagai kebijakan dan program tersebut di atas, diperlukan dukungan dana yang bersumber dari APBN, APBD, Pinjaman/Hibah Luar Negeri, dan Swadaya Masyarakat.