You are on page 1of 2

Kejang, Harus Bagaimana? Kejang, Harus Bagaimana?

Kejang merupakan salah satu kegawatdaruratan yang cukup sering ditemui di lingkungan rumah tangga. Pada anak atau bayi masyarakat awam menyebutnya stip. Karena kejadiannya yang tampak dramatis, kejang sering menimbulkan kepanikan. Selain itu cukup banyak kesalahan penanganan yang dilakukan oleh masyarakat awam, sehingga penting bagi orang awam untuk mengetahui cara menangani kejang yang benar. Bentuk kejang dapat berupa: Kejang seluruh tubuh dengan hilangnya kesadaran. Kehilangan konsentrasi atau kehilngan kesadaran tiba!tiba. Pergerakan atau tingkah laku yang aneh, namun korban masih sadar. Kejang dapat disebabkan antara lain : "emam. #stilah khusus untuk penyebab ini adalah kejang demam, yaitu kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh $%&'()*, terjadi pada anak usia dibawah + tahun. ,umor otak. ,rauma kepala. #n-eksi otak. .pilepsi atau ayan. Keracunan. Kejang terjadi setelah minum atau makan /at yang beracun, seperti keracunan alkohol dan obat. Stroke. .klampsia $komplikasi berat kehamilan*. Kekurangan gula darah, biasanya pada penderita diabetes melitus $kencing manis*. Penanganan Kejang: Secara umum, penanganan kejang dibagi dalam dua tahap0 Saat kejang sedang berlangsung. o 1iringkan korban untuk menghindari masuknya ludah atau muntahan kedalam saluran napas. Baringkan di tempat yang nyaman, dan jauhkan benda apapun disekitar korban yang dapat melukai korban. o 2angan memasukkan apapun kedalam mulut korban. o Kendurkan baju yang terlalu ketat. 2angan coba menahan gerakan korban, hal ini dapat menimbulkan cedera. Saat kejang selesai.

o ,angani cedera atau perdarahan bila ada. o Pada Kejang demam, suhu tubuh korban diturunkan dengan kompres air hangat. o Bila belum sadar, letakkan korban dalam posisi pulih. o ,entramkan korban. o Bawa segera ke rumah sakit. 3pabila setelah kejang korban mengalami henti napas, orang awam yang terlatih dapat memberikan resusitasi jantung paru. Posisi Pulih Posisi pulih merupakan posisi yang tepat untuk menjaga agar jalan napas tetap terbuka tanpa menggunakan bantuan alat. Posisi ini dilakukan pada korban yang tak sadar dengan pernapasan normal dan denyut nadi normal, serta tidak mengalami atau dicurigai mengalami cedera kepala, leher, tulang belakang, serta cedera lain yang tidak memungkinkan korban dimiringkan. "engan menempatkan korban pada posisi pulih, muntahan, darah, maupun lendir akan keluar rongga mulut dengan meman-aatkan gaya gra4itasi. Penting untuk diingat bahwa setiap korban potensial untuk muntah.