You are on page 1of 8

Aku Menanti

Oleh: Intan Hardian

Mereka selalu bersama, seolah tidak dapat terhilangkan satu sama lain..Hubungan yang erat dan damai bagaikan deruan angin kecil. Sudah 5 tahun mereka bersama, peraaan cinta mereka seolah tidak pernah tergoyahkan oleh ruang waktu Ulqi: Lukisan yang indah (menghampiri dari belakang dan sedikit berbisik) Yora: huaa.. Ulqi! Sejak kapan kau disitu? Ulqi: aku selalu memperhatikan disampingmu kok Yora: dasar stalker (tertawa dan melanjutkan kegiatannya) Ulqi: (duduk disamping Yora) tempat ini selalu menjadi tempat favoritmu ya Yora: (tersenyum kecil) aku suka disini keadaanya tenang untuk bersembunyi dari keramaian kota kecil ini Ulqi: iyaa.. bisa aku pahami, disini memang tenang dan sejuk. Aku bisa melihat pemandangan kota dari atas. Jarang sekali ada orang lewat sini Yora: haha mungkin tempat ini hanya kau dan aku yang tahu Ulqi: itupun karena kau terpeleset jatuh dan menerobos kesini Yora: tapi ada bagusnya juga kan.. walaupun saat itu tanganku harus digips karena keseleo Ulqi: apa masih sakit? Yora: mana mungkin, kan sudah setahun yang lalu haha Kesunyian menghampiri, meski begitu tetap tidak memberikan kecanggungan diantara mereka berdua. Mereka terdiam sambil menunggu terbenamnya matahari

Semi: dari mana saja kau Yor? Yora: kenapa? Kau kangen padaku? Semi: untuk apa.. orang tiap hari bertemu Yora: ohiya tadi aku beli nasi goreng. Nih untuk mu Semi: naah sebagai teman kos yang baik harus saling memahami dong (ucapnya ceria sambil menghampiri Yora) Yora: dasar, ini dihitung hutang mu padaku yaa (candanya sambil menyerahkan bungkus nasi)

Semi: ah kau ini perhitungan sekali (meraih bungkus nasi itu dan kembali duduk di sofa) Yora: hidup ini sulit tahu. Mau ngga mau harus penuh perhitungan Semi: ya jangan dibawa serius dong kalau gamau sulit Yora: huuh kau ini kadang benar kadang ngawur, banyakan ngawurnya sih (duduk disamping Semi dan mengambil novelnya) Semi: kau tidak makan? Ini mumpung masih hangat. Masa aku doang yang makan Yora: iya ini mau makan.. kan bisa sambil baca novel Semi: ah selalu kau baca buku fiksi tebal begitu Yora: buat referensi Semi: memangnya sedang buat apa kamu. Pake referensi-referensi segala Yora: suka-suka aku dong (lebih fokus kepada novelnya daripada makan) Semi: kau sama saja seperti pacarmu itu, sedikit-sedikit menyolot Yora: tampangmu bikin ribut sih.. Ulqi gapernah nyolotin aku kok Semi: yaiyalah kamu kan pacarnya. Jangan salahin tampang orang dong udah darisananya tau Yora: haha iyaiya maaf, kan aku cuman berusaha jujur Semi: jujurmu itu selalu meledek. Salah apa aku sama kamu Yora: ngga tau pikir aja sendiri. Lagian menguslimu tuh bisa menghilangkan stress yang menumpuk lho Semi: seenaknya saja... Yora: Hhaha sudah ah, kamu gangguin terus aku mau baca jadi ga fokus nih Dering Handphone Yora berbunyi. Dilihatnya dan nama sang kekasih yang terlihat di handphonenya Yora: Ulqi..? ada apa? Ulqi: aku.. sekarang berada di depan tempat kosmu, kau bisa menemui aku.. Yora? Yora: ah baiklah. Aku segera turun Ulqi: ya aku menunggu disini Semi: mau kemana lagi? Pasti ada hubungannya sama Ulqi

Yora: iyanih maaf ya Semi. Tapi suara dia serius banget. Sudah nanti aku segera kembali.. jangan rindu padaku yaa Semi: cih pacaran terus sudah sana jangan merusak suasana kuu. Masih lajang nih Yora: aku selalu mendoakanmu kok (keluar menutup pintu)

Yora: Ulqi ada apa? Tumben langsung menghampiri ku kesini. Bukannya pada jam segini kau biasa mengerjakan tugas mu? Ulqi: Yora.. Yora: apa terjadi sesuatu? Ulqi: kau tahu kan aku sangat mencintaimu, bahkan aku ingin setiap detik kita selalu bersama. Yora: (tersipu) i..iya aku juga. Ada apa Ulqi: aku tidak ingin jauh darimu (menggenggam tangan Yora) Yora: aku mencintaimu.. Kau kenapa, tidak biasanya seperti ini aku jadi bingung sendiri (katanya pelan tidak berani melihat kearah Ulqi) Ulqi: Misalkan suatu saat aku harus pergi dalam waktu yang sangat lama dan tidak tahu kapan akan kembali, maukah kau menungguku? Yora: eh apa maksudmu? Jangan begini, kau bisa ceritakan pelan-pelan Ulqi..(sedikit terkejut) Ulqi: Besok Pagi aku harus pergi menuju keluargaku di London. Dan aku punya suatu urusan yang harus diselesaikan pula disana. Yora: (terbelalak) kau bercanda (sambil menutupi mulutnya) Ulqi: aku tidak pernah seserius ini Yora: tapi kenapa? Besok pagi? Kenapa harus secepat itu? Ulqi: maaf, aku tau ini sangat mendadak. Aku minta maaf Yora: tidak, kau tidak perlu minta maaf. Aku bisa mengerti kau punya urusan yang sangat penting. Lagipula tidak akan ada yang bisa memisahkan kita (katanya berusaha tegar) Ulqi: aku harap bisa kembali secepatnya. Aku akan sangat merindukanmu Yora: begitupun aku. Ulqi: (tersenyum kecil) terimakasih aku beruntung memilikimu

Yora: kirimi aku surat ya hehe (menhan air matanya) Ulqi: aku tidak akan melupakanmu Mereka saling memandang. Mengabaikan setiap orang yang lewat. Kesunyian mnyelimuti mereka. Ulqi: lain kali aku aka mengajakmu dan mempertemukanmu dengan keluargaku diLondon Yora: aku selalu menantikannya (tersipu dan tertawa pelan) Ulqi: maaf tapi aku harus pergi sekarang. Walaupun .. Yora: sudah. Aku mengerti kok. Dan aku akan selalu menunggumu jadi.. hati-hati dan jaga kesehatanmu Ulqi: kau juga jangan terlalu banyak bekerja. Maaf untuk beberapa waktu aku tidak bisa menemanimu duduk menatap kota dari tempat favoritmu Yora: aku bisa membayangkanmua seharian disana Ulqi: aku akan segera kembali. Pada saat itu.. (terdiam sejenak) kuharap kau masih milik-ku Yora: selamanya aku milikmu (menunduk malu) Ulqi: sayonara Semi: ada apa Yor. Lesu amat kamu Yora: Ulqi mau ke London besok, dia ada urusan mendadak dan harus nemuin keluarganya disana. Semi: hah? Serius besok? Kok mendadak sekali.. yora kamu ga apa? (tanyanya khawatir) Yora: iya.. aku bakal nunggu dia kok selama apapun itu. Aku ga akan berkhianat (berusaha tersenyum pahit, memandang Semi) Semi: jadi ga tentu dia kapan kembalinya? Aku kasian sama kamu, masa kamu harus nungu begini Yora: tenang aku harap semoga semuanya baik-baik saja. Dan semoga urusannya cepat selesai. Aku ga akan ganggu dia dan membertkan dia. Karena aku percaya dia pasti kembali. Walaupun dalam hati Yora ia tidak merelakan keberangkatan Kekasihnya, tetapi ia berusaha menepis perasaan itu.

Pagi itupun tiba, Ulqi sudah bersiap-siap dengan segala perlengkapannya hendak menuju bandara

Ulqi: haruskah aku menemui Yora lagi? Aku takut melukai hatinya karena ini (termenung) Yora: ULQII TUNGGU.. Ulqi:; Yo..yora? Semi: Ulqi, kau serius berangkat sekarang? Ulqi: ya Semi.. maaf aku tahu ini sangat mendadak dan egois karena memintanya untuk menungguku (menatap Yora) Yora: aku tidak mempermasalahkan itu.. kau jagalah kesehatanmu. Dan ini aku buat gantungan kucing kecil, agar kau selalu ingat padaku ya hehe Semi: ia membuatnya semalaman suntuk. Kau jangan lupakan keluargamu disini juga ya Ulqi: terimakasih Semi, Yora (tersenyum) Yora: ya Ulqi: sayonara..

Sudah 2 tahun berlalu, namun sampai saat ini Ulqi belum menghubungi Yora. Yora: sedang apa kau disana? Apa kau selalu mengingatku seperti aku yang selalu tersiksa ketika berusaha melupakan bahwa kau sedang tak disisiku? (gumamnya pada diri sendiri)(memandangi kota seperti yang biasa dilakukannya) Yora: sudahlah, dia juga selama ini pasti sedang berusaha keras, aku juga harus berjuang menamatkan kuliahku dan tidak boleh bersantai-santi disini (semangatnya berusaha menghilangkan kerinduannya) Semi: Yora! Aduh seharusnya aku tidak perlu mencarimu kemana-mana, pasti kamu selalu duduk disini. Yora: haha duduklah. Semi: ..(duduk disamping Yora, diam sejenak) biar kutebak apa yang sedang kau pikirkan Yora: aku rasa kau tidak perlu menebak Semi: ngomong-ngomong kenapa belum ada kabar darinya ya? Apa saja yag dia lakukan Yora: entahlah.. Semi: (meliriki Yora) Yora: apa?

Semi: kau ini hebat sekali ya. Begitu percaya pada hubungan kalian. Kau juga sangat tegar menunggunya. Yora: yaa itu mungkin karena aku percaya.. Semi: aku kalau jadi kamu ah sudahlah.. ohiya kau sudah kumpulkan tugas mu ke pak Hardi? Yora: hah! Ohiya! Aduh belum selesai lagi Semi: ayo lanjutkan pekerjaan mu. Aku bantu sebisa ku Yora: terimakasih semi! Kamu memang sahabatku yang baik Semi: hee tumben tidak ada nada mengejek. Kau jadi lebih baik selama 2 tahun ini haha Yora: itu hanya perasaanmu saja. Ayo! Semi: (tersenyum diam-diam, mengikuti dari belakang)

Mereka menuju tempat kos mereka untuk mengambil barang-barang Semi: Yora, kau duluan saja. Aku masih harus megurus tugasku ternyata Yora: kupikir kamu sudah selesai Semi: maaf ternyata masih ada yang harus diperbaiki. Nanti aku menyusul Yora: hhh.. okay. Aku duluan ya Dalam perjalanannya menuju kampus,Handphone Yora berbunyi. Ulqi akhirnya menghubunginya. Yora: Ulqi! (sahut Yora tak percaya, hampir menjatuhkan buku-buku yang dibawanya) Ulqi: Yora.. bagaimana kabarmu? Maaf aku baru bisa menghubungimu (suaranya sangat lemah) Yora: ulqi.. (suaranya bergetar ingin menangis, ia sungguh bahagia. Tak percaya Ulqi akan menghubunginya) Ulqi: maaf aku tahu ini pasti berat untuk mu.. bagaimana keadaan disana? Yora: ah, banyak sekali yang ingin kuceritakan padamu.. aku tak pernah merasa sebaik ini sampai kau menghubungi ku. Kau sendiri bagaimana? Aku merindukanmu Ulqi: begitu banyak hal yang terjadi. Aku berharap dapat melihatmu saat ini dan bersamamu Yora: aku juga sangat ingin bertemu dengan mu.. mendengar suaramu saja aku sanagt bahagia. Ulqi? Kau tidak apa-apa? Suaramu.... pelan sekali. Kapan kau akan kembali kesini? (akhirnya air matanya jatuh)

Ulqi: Yora.. maafkan segala keegoisanku Yora: sudahlah tidak ada yang perlu dimaafkan Ulqi: tidak.. tolong dengarkan aku.. maaf ini sangat buruk Yora: (mulai cemas) ya ulqi? Ada apa? Ulqi: aku, selama ini menderita kanker. Ada tumor di otak ku. Yora: (terbelalak tak percaya) Ulqi: maaf aku sudah membuatmu menunggu lama dan berada dalam keegoisanku. Aku pergi untuk menyelesaikan ini. Tapi aku tak menemukan jalannya Yora: aku ingin bersamamu. Aku ingin pergi ketempatmu berada (melemas, dan berjongkok menyembunyikan wajahnya. Mulai menangis) Ulqi: maaf maafkan aku.. Mungkin kau takan melihat sosok ku lagi Yora: aku tidak peduli! Aku akan kesana! (teriaknya, sudah tak tahan) kumohon beri tahu aku kau sedang dimana. Dan kenapa kau tak pernah beritahu aku (suaranya melemah) Ulqi: aku tak ingin menyusahkanmu dan membuatmu khawatir. Maaf karena sudah membuat mu menunggu. Ini keegoisanku Yora: kau yahu aku akan selalu ada disampingmu dan mendukungmu apapun yang terjadi. Kenapa kau ragukan itu. Sampai saat ini pun aku masih menunggumu. Aku.. aku mencintai mu Ulqi: terimakasih atas perasaan mu, dan segala kenangan dari mu. Berkat mu aku mengerti arti cinta. Terimakasih kau tidak pernah meninggalkan aku. (hening) Ulqi: maaf aku tak dapat menepati janjiku Yora: Ulqi.. aku mencintaimu Ulqi: Aku mencintaimu Yor.. Ulqipun ambruk, sebelum ia menyelesaikan kata terakhirnya. Kini ia benar-benar tidak bisa bertemu lagi dengan Ulqi. Bahkan mengunjungi pemakamannya. Tak ada lagi kabar yang menyebut-nyebutkan nama Ulqi Yora berjalan-jalan menyusuri taman kota, berusaha melupakan apa yang telah terjadi, namun ia selalu menangis tak dapat menghentikan air matanya. Sampai ia bertemu seseorang. Kisah inipun berlanjut Dante: hai.. perkenalkan aku Dante. Aku baru pindah ke daerah sini. Jadi mohon bantuannya (senyumnya lebar) Yora: (terdiam lalu tersenyum menyapa balik) mohon bantuannya juga

Ulqi, walaupun kau telah tiada. Namun tetapi tidak ada yang bisa menggantikan mu dalam diriku