You are on page 1of 10

Bab 5 - A r t i k e l

BAB

5
ARTIKEL

A. Ancaman Perlambatan dan Inflasi Amerika Serikat


Oleh : Wahyu Pratomo

internasional cenderung lebih positif semenjak


Ekonomi China memanas Import price dari China naik Lonjakan harga minyak Tekanan inflasi AS moderat Fedfund 50 bps cut Spill-over ke sektor lain US subprime crisis Lonjakan borrowing cost Ekspektasi inflasi AS naik Depresiasi USD Respon Fedres kedepan? Apresiasi mata uang dunia, Rp D E C Perlambatan ekonomi dunia B Ekonomi Indonesia Konsumsi & investasi turun Perlambatan/ ancaman resesi AS Trade channel A

Dampak Krisis Subprime

itu daripada periode-periode sebelumnya. Namun, gejolak keuangan akhir-akhir ini telah melahirkan ketidak-pastian dan risiko yang mungkin berpengaruh negatif terhadap prospek ekonomi AS dan dunia. Sebagai salah satu sektor yang selama ini menopang pertumbuhan konsumsi di AS, ancaman resesi sektor perumahan sebagai akibat krisis KPR subprime dikuatirkan akan merembet ke sektor-sektor ekonomi lain. Sebagai akibatnya, aktivitas konsumsi dan investasi domestik AS terancam melambat. Di tambah lagi, krisis di sektor subprime itu sendiri masih belum berakhir. Proses penilaian kembali risiko (repricing of risk) asetaset keuangan masih akan berlangsung, yang pada gilirannya mendorong kenaikan biaya pinjaman (borrowing cost).

Gejolak pasar keuangan internasional sebagai buntut dari krisis KPR subprime di Amerika agak mereda setelah Federal Reserve memangkas suku bunga kebijakan fedfund sebesar 50 bps pada 18 September menjadi 4,75% untuk menambah likuiditas ekonomi yang terancam mengering. Pelaku pasar keuangan menyambut antusias langkah pre-

emptive dari Fedres ini. Pasar keuangan AS dan

83

Perkembangan Ekonomi Keuangan dan Kerja Sama Internasional - Triwulan III 2007

Perkembangan di atas melahirkan ancaman perlambatan dan bahkan mungkin resesi ekonomi di Amerika Serikat. Kelesuan ekonomi ASpenyumbang 25% PDB dunia diperkirakan akan berpengaruh negatif terhadap ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Selain melalui jalur perdagangan, perlambatan ekonomi dunia juga disumbang oleh kenaikan biaya pinjaman, khususnya di Eropa. Sejumlah bank dan lembaga keuangan di kawasan tersebut memiliki exposure yang cukup besar terhadap KPR subprime di AS. Akibatnya, kondisi keuangan mereka memburuk seiring dengan semakin parahnya krisis di sektor tersebut. Selain banyak dikritik bahwa langkah penurunan suku bunga kebijakan Fedres menyuburkan moral hazard, langkah yang sama juga dikuatirkan mendorong kenaikan ekspektasi inflasi di Amerika Serikat. Terlebih harga minyak kembali melonjak akhir-akhir ini. Harga komoditas pertanian juga masih tinggi di pasar internasional. Ekonomi China yang sedang memanas juga dikuatirkan
(% yoy) 25 20 15 10 5 0 -5 -10 1987

akan menambah tekanan inflasi melalui kenaikan harga impor produk China di pasar AS. Kenaikan ekspektasi inflasi and ancaman perlambatan ekonomi di AS pada gilirannya berdampak pada tekanan depresiasi dollar AS. Mata uang ini kini diperdagangkan pada level terendah terhadap mata uang utama dunia, khususnya Euro, dalam beberapa tahun terakhir. Apresiasi Euro dan mata uang dunia lainnya terhadap USD dapat mengancam kinerja ekspor dan ekonomi negara mitra dagang AS. Dalam laporan World Economic Outlook (WEO) edisi September 2007, IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS di tahun 2007 menjadi 1,9%, terkoreksi 0,1% dari proyeksi pada bulan Juli 2007 lalu. Pada tahun 2008, perlambatan semakin dirasakan dengan ekonomi AS kini diproyeksikan hanya tumbuh 1,9% dari 2,8% proyeksi sebelumnya. Menjadi pertanyaan bagi kita di Indonesia, apa kira-kira dampak krisis subprime di AS ini pada ekonomi dunia umumnya dan Indonesia khususnya? Melalui jalur-jalur apa saja dampak krisis subprime dan juga perlambatan ekonomi AS akan dirasakan oleh ekonomi Indonesia?

(i) Spill-over ke Sektor Lain


1989 1991 1993 1995 1997 1999 2001 2002 2005

Perlambatan ekonomi AS sebenarnya sudah terjadi sejak awal 2007. Krisis subprime akhir-akhir ini diperkirakan semakin menekan

Sumber: Standard & Poor's

Grafik 1 S&P/Case-Shiller Home-price Index

84

Bab 5 - A r t i k e l

kinerja ekonomi AS dalam triwulan-triwulan mendatang. Sektor perumahan AS yang demikian marak dan harganya meroket hingga akhir 2006 kini telah terseret dalam kelesuan terparah dalam tiga puluh tahun terakhir. Untuk pertama kali sejak depresi di tahun 1930-an, harga rumah tumbuh negatif secara tahunan. Indeks harga rumah S&P/Case-Shiller untuk 20 kota terbesar turun 4,5% (yoy) pada bulan Juli (Grafik 1). Penjualan rumah-jadi anjlog 4,3% di bulan Agustus. Harga rumah diperkirakan akan terus jatuh, setidaknya hingga dua tahun ke depan. Sejumlah faktor menjadi penyebab tingginya persediaan (inventory) rumah baru dan rumahjadi yang belum terjual, termasuk (a) pasokan rumah berlebih di tengah-tengah jatuhnya permintaan rumah baru, (b) semakin ketatnya persyaratan kredit sektor perumahan menekan permintaan rumah baru, serta (c) sekitar USD 1 triliun kredit dengan suku bunga adjustable dikenal dengan hybrid mortgage akan
Index 160 140

berubah menjadi kredit dengan suku bunga jauh meningkat dalam 12 bulan kedepan. Resesi di sektor perumahan saja sebenarnya tidak mampu mendorong ekonomi AS ke dalam resesi karena sektor ini hanya menyumbang 5% PDB. Namun, kelesuan sektor perumahan berpotensi merembet ke sektor-sektor lain. Sektor kendaraan bermotor, misalnya, kini dilanda kelesuan. Penjualan mobil dan truk jenis ringan di tahun 2007 diperkirakan turun menjadi 16,0 juta unit, dari 16,9 juta dan 16,5 juta masingmasing di tahun 2005 dan 20061 . Konsumsi yang menyumbang 70% dari agregat permintaan sekarang ini dikuatirkan tertekan. Nilai rumah yang jatuh menimbulkan efek kesejahteraan negatif. Pengetatan persyaratan kredit di pasar perumahan dan pasar utang konsumen mendorong kenaikan biaya pinjaman (borrowing cost). Sementara itu, harga BBM juga kian meningkat.
1 Angka Concensus Forecast, September 2007.

130 120 110 current situation 97,6

120 100

confidence 95,6

100 90 80

80 60

expectation

80,1

70 60 50 future situation (expectation) 70,1

40 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007

40 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007

Sumber: Bloomberg

Sumber: Bloomberg

Grafik 2 US Confidence Index (Conference Board)

Grafik 3 US Confidence Index (University of Michigan)

85

Perkembangan Ekonomi Keuangan dan Kerja Sama Internasional - Triwulan III 2007

Hingga kini, kesempatan kerja dan pendapatan konsumen yang kuat baik yang berasal dari upah maupun pendapatan dari pasar modal masih mampu menopang pengeluaran konsumsi dan mengkompensasi penurunan pendapatan dari sektor perumahan. Kondisi lapangan kerja sekarang ini memberikan tanda-tanda yang masih mixed. Laporan tenaga kerja di bulan September menunjukkan kenaikan sekitar 110.000 pekerjaan (Grafik 4). Penciptaan lapangan kerja di sektor jasa kembali mampu mengkompensasi penurunan lapangan kerja di sektor manufaktur. Namun, angka pengangguran pada bulan yang sama meningkat hingga 4,7%, tertinggi dalam setahun terakhir (Grafik 7). Angka terkini masih memberi

Namun, tingkat kepercayaan konsumen pada bulan September kembali menurun. Baik survei kepercayaan konsumen yang dilakukan oleh Conference Board dan University of Michigan mengkonfirmasi hal tersebut (Grafik 2 dan Grafik 3). Bila konsumsi benar-benar melemah ke depan, perusahaan-perusahaan AS yang selama ini banyak bergantung pada pengeluaran konsumsi masyarakat sebagai sumber keuntungan terancam harus mengurangi produksi, tenaga kerja, dan pembelian barang modal. Selain ancaman konsumsi yang melemah, aktivitas investasi yang sudah lemah dalam beberapa triwulan terakhir dikuatirkan semakin lesu sebagai dampak (a) kenaikan biaya pinjaman, (b) ketidakpastian akibat gejolak keuangan akhir-akhir ini, serta (c) lonjakan harga minyak. Melemahnya kegiatan investasi ditunjukkan oleh indeks produksi manufaktur yang terus menurun (Grafik 5). Survei manufaktur ISM menunjukkan angka pesanan
(% yoy) 8 6 4

gambaran daya tahan konsumsi swasta yang cukup kuat. Konsumsi personal tumbuh 0,4% (mtm) di bulan Agustus. Angka pertumbuhan di triwulan III-2007 nya diperkirakan mencapai 2,8% (yoy). Penjualan ritel tumbuh kuat 5% (yoy) pada bulan September.
thousand (mom) 500 400 300 services 200 100 127

1.9 2 0 -2

0 -100 goods -200 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 -31

-4 -6 -8 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007

Sumber: Bloomberg

Sumber: Bloomberg

Grafik 4 US Non-farm Job Payroll

Grafik 5 Industrial Production

86

Bab 5 - A r t i k e l

baru di bulan September yang kembali lebih rendah dari bulan-bulan sebelumnya. Pesanan barang modalproxi bagi pengeluaran perusahaanjuga turun. Ini menunjukkan naiknya ketidak-pastian seputar prospek investasi.
1 6 S 5.0 4.5 4.0 13 August 2007 20 27 3 10 September 17

A crack in the ice?


3-month LIBOR* rates, %
7.0 6.5 6.0 5.5

(ii) Lonjakan Biaya Pinjaman Dampak gejolak keuangan

Source: Thomson Datastream *London inter-bank offered rate

kemungkinan masih akan dirasakan sektor riil AS untuk sementara waktu. Proses penilaian kembali risiko (repricing of risk) di pasar-pasar kredit masih akan berlangsung. Krisis yang bermula dari KPR subprime kini merembet ke berbagai pasar kredit, termasuk pasar uang antar bank, pasar

Grafik 6

menjadi 5,24% pada tanggal 19 September 2007. Suku bunga LIBOR Euro dan poundsterling dengan jangka waktu yang sama juga menurun. Meski suku bunga cenderung turun, masalah ketatnya likuiditas pasar belum berakhir sepenuhnya. Level suku bunga LIBOR USD jangka waktu overnight meningkat dari 4,88% pada tanggal 25 September menjadi 5,09% pada 26 September dan 5,30% pada 27 September 2007. Kurang lebih selama September, saldo pinjaman melalui fasilitas discount window Fedres selalu positif dengan puncaknya sebesar USD 2,2 miliar pada minggu III-September. Ketatnya likuiditas pasar diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan. Survei yang dilakukan oleh perusahaan Norton Rose terhadap responden bank, perusahaan, dan perusahaan sekuritas menunjukkan bahwa pasar keuangan LBO belum akan pulih hingga musim semi mendatang.

leveraged-buy-out (LBO), pasar collaterilizeddebt-obligations (CDO), dan structuredinvestment-vehicles (SIV) yang dimiliki bankbank. Akibatnya, biaya pinjaman (borrowing

cost) di berbagai pasar kredit melonjak.


Proses penilaian kembali risiko di pasar uang antar bank (PUAB), misalnya, mendorong bank-bank tidak mau saling memberi pinjaman. Suku bunga LIBOR USD dan mata uang lainnya melonjak tajam pada 9 Agustus lalu dan semenjak itu cenderung merangkak naik hingga 18 September 2007 (Grafik 6). Hanya setelah Federal Reserve dan ECB melakukan operasi pasardalam bentuk lelang dengan jangka waktu tiga bulan untuk menenangkan pasar uang antar bank, suku bunga London Interbank-Offered Rate (LIBOR) jangka waktu tiga bulan turun 35 bps

87

Perkembangan Ekonomi Keuangan dan Kerja Sama Internasional - Triwulan III 2007

Prediksi ini sejalan prediksi IMF dalam

Namun, ekonomi AS juga memiliki sejumlah risiko ke depan. Kekuatiran investor akan memburuknya KPR bermasalah masih tinggi dan kemungkinan meningkat. Bila hal ini terus berlangsung, pasar kredit akan semakin ketat dan biaya pinjaman tetap tinggi. Lonjakan harga minyak dunia, selain menambah tekanan ke atas bagi inflasi, juga dikuatirkan dapat menahan laju ekonomi lebih lanjut.
(%) 7

Global Financial Stability Report (GFSR) mereka


yang terakhir. Mereka menyatakan bahwa proses penyesuaian di pasar keuangan sebagai dampak krisis di KPR subprime masih berlangsung di depan. Normalisasi pasar kredit memerlukan waktu cukup lama. Semakin lama suku bunga PUAB berada di level yang tinggi, semakin besar kemungkinan gejolak pasar keuangan berdampak buruk pada sektor ekonomi riil.

(iii) Ekonomi AS Akan Melambat Ekonomi AS diperkirakan melambat hingga awal tahun depan sebagai akibat krisis perumahan yang masih berlanjut, pasar kredit yang mengetat, dan harga minyak yang melonjak. Namun, dua kali penurunan suku bunga fedfund diyakini banyak kalangan, termasuk Fedres, cukup untuk mencegah ekonomi AS jatuh ke jurang resesi. Data ekonomi terakhir menunjukkan masih cukup kuatnya daya tahan ekonomi AS. Selain itu, kontribusi positif dari ekspor dan jasa diyakini membantu mengkompensasi melesunya konsumsi swasta. Dengan nilai tukar USD yang cenderung lemah, kinerja ekspor yang terus membaik diperkirakan mendorong penurunan defisit transaksi berjalan menjadi USD 783 miliar pada tahun 2007, dari USD 811 miliar tahun

2 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007

Sumber: Bloomberg

Grafik 7 US Unemployment Rate

Seperti telah disebutkan sebelumnya, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi AS di tahun 2007 sebesar 0,1% menjadi 1,9% (yoy). Proyeksi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2008 bahkan dipangkas menjadi 1,9% (yoy) dari 2,8% proyeksi sebelumnya.

(iv) Ekonomi Dunia Terpengaruh Dampak perlambatan ekonomi AS terhadap ekonomi dunia terjadi melalui dua jalur, yakni (a) perdagangan dan (b) keuangan

sebelumnya2 .

2 Angka Consensus Forecast September 2007

88

Bab 5 - A r t i k e l

khususnya dalam bentuk kenaikan biaya pinjaman. Jika ekonomi AS melambat, negara tersebut akan mengurangi impor dari negaranegara lain. Meski fenomena decoupling tengah berlangsung, perlambatan ekonomi AS penyumbang 25% PDB duniadiperkirakan masih akan berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi belahan dunia lain . Perlambatan ekonomi dikuatirkan juga banyak dipengaruhi oleh kenaikan biaya pinjaman. Di tengah globalisasi pasar keuangan yang semakin intens, ketatnya pasar kredit dan kenaikan biaya pinjaman juga dirasakan di belahan dunia lain, terutama Eropa. Krisis seputar Northern Rock menunjukkan bahwa sejumlah bank di Eropa mempunyai exposure yang cukup besar terhadap kredit subprime AS. Sejalan dengan perkembangan di pasar uang AS, suku bunga LIBOR Euro dan poundsterling jangka waktu tiga bulan terlihat melonjak di pertengahan bulan Agustus 2007 sebagai dampak ketatnya likuiditas di pasar tersebut (Grafik 6). Semenjak itu, kedua suku bunga LIBOR tersebut merangkak naik. Hanya setelah Fedres memangkas suku bunga fedfund sebesar 50 bps dan bank-bank sentral terkemuka di dunia melakukan operasi pasar, suku bunga LIBOR Euro dan poundsterling berangsur turun sejak 19 September 2007.
3

Meski suku bunga LIBOR telah menurun, permintaan likuiditas di pasar masih sangat tinggi. Per 26 September 2007, suku bunga LIBOR poundsterling memang tercatat menurun hingga level 6,34%. Namun, level ini sebenarnya masih sekitar 50 bps di atas suku bunga dasar. Ketatnya likuiditas pasar juga tercermin dari besarnya fasilitas refinancing ECB yang dimanfaatkan oleh bank-bank. Pada tanggal 27 September yang lalu, ECB mencatat pemanfaatan fasilitas refinancing sebesar Euro 3,9 miliar, terbesar sejak Oktober 2004, dengan suku bunga penalti sebesar 5,0%. Selain itu, survei yang dilakukan Bank of England menunjukkan bahwa bank-bank Inggris akan mengurangi pasokan kredit kepada perusahaan-perusahaan secara signifikan di triwulan IV-2007 sehubungan dengan pengetatan persyaratan kredit dan kenaikan biaya pinjaman. Terutama sebagai dampak krisis

subprime yang meluas, pertumbuhan ekonomi


negara maju untuk tahun 2007 dan 2008 dikoreksi IMF. Proyeksi pertumbuhan kawasan Eropa dikurangi masing-masing 0,1% dan 0,4% menjadi 2,5% di tahun 2007 dan 2,1% tahun 2008 sebagai dampak dari apresiasi nilai tukar Euro terhadap kinerja ekspor serta tingginya biaya pinjaman. Sementara, ekonomi Jepang diperkirakan turun menjadi 2,0% pada 2007 dan 1,7% pada 2008 sebagai akibat turunnya investasi dan konsumsi domestik serta penguatan yen. Melemahnya

3 Baik Eropa dan Asia kini relatif kurang bergantung pada AS daripada dulu. Pasar AS kini menyumbang 22% dari total ekspor China. Sumbangan pasar Eropa bagi ekspor China sekarang ini telah setara dengan pasar AS.

89

Perkembangan Ekonomi Keuangan dan Kerja Sama Internasional - Triwulan III 2007

pertumbuhan negara maju berdampak pada penurunan volume perdagangan dunia akibat turunnya permintaan. Pertumbuhan ekonomi negara

Penurunan suku bunga bertujuan untuk mencegah dampak buruk gejolak di pasar keuangan terhadap perekonomian. Kebijakan ini diambil karena besarnya potensi koreksi pada sektor perumahan dalam memperlambat pertumbuhan ekonomi AS.
Index 125 120 122.3

berkembang diproyeksi IMF tetap tinggi di tahun 2007 dan hanya terkoreksi tipis di tahun 2008. Ekonomi China diprediksi tumbuh 11,5% pada tahun 2007, lebih tinggi dari prediksi semula 11,2%, dengan aktivitas ekonomi domestik sebagai motor pertumbuhan. Proyeksi pertumbuhan China pada tahun 2008 hanya turun tipis dari 10.5% pada tahun sebelumnya menjadi 10,0%. Proyeksi pertumbuhan ekonomi India tetap di atas 8% pada 2007 dan 2008.

115 All commodity 110 105 100 Excluding Oil 95 90 85 2000 106.9

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2007

Sumber: Bloomberg

Grafik 9 Import Price of Chinese Products in US

(v) Ancaman Inflasi & Respon Fedres Fed menurunkan suku bunga fedfund untuk pertama kalinya sejak tahun 2003 pada 18 September 2007. Suku bunga fedfund sebesar 50 bps menjadi 4,75% (Grafik 8). Penurunan tersebut di luar ekspektasi pasar yang cenderung memprediksi hanya 25 bps.

Selain itu, inflasi relatif terkendali. Inflasi inti pada bulan Agustus tercatat 2,1% (yoy), turun dari 2,2% di Juli 2007. PCE core turun dari 1,9% pada bulan Juni dan Juli 2007 menjadi 1,8% pada bulan Agustus (Grafik 8). Level PCE core kini berada dalam batas target yang diperhatikan oleh Fed, yakni di kisaran 1,0%-2,0%, setelah lebih dari 3 tahun berada di atas 2%. Namun, keputusan Fedres untuk

8 7 6 Fedfund rate 5 4,50 4 3 2 1 0 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 PCE Core 1,8

memangkas fedfund rate menimbulkan kekuatiran terhadap kemungkinan peningkatan laju inflasi kedepan. Penurunan suku bunga diperkirakan akan mendorong kenaikan aktivitas ekonomi dan akhirnya tekanan inflasi. Tekanan inflasi juga berasal dari peningkatan harga komoditi dunia, khususnya harga minyak (Grafik 9). WTI sudah mencapai

Sumber: Bloomberg

Grafik 8 Fedfund Rate dan PCE Core

90

Bab 5 - A r t i k e l

5,2 5.034 5 4,77 4,8 4,6 4,4 Tenor 10 tahun 4,2 4 3,8 9 Ags 16 Ags 13 Ags 30 Ags 6 Sep 13 Sep 20 Sep 27 Sep 4 Okt 11 Okt 18 Okt 25 1 Okt Nov 8 Nov 4.332 4.672 Tenor 30 tahun

setidaknya sebesar 25bps. Ini diperlukan untuk memastikan bahwa ekonomi AS tidak akan terseret kedalam jurang resesi di tengah masih berlangsungnya krisis di sektor perumahan dan pasar kredit. Sebagian yang lain sebaliknya berpandangan bahwa Fedres akan stay put mengingat tekanan inflasi ke depan semakin besar.

2007 Sumber: Bloomberg

Grafik 10 US T-Bond Yields

(vi) USD Melemah Ekspektasi kenaikan inflasi di Amerika Serikat dan penurunan suku bunga fedfund sebesar 50 bps menekan nilai tukar USD (Grafik 11). USD terus melemah dan di bulan September lalu berada di level terendah terhadap Euro dalam beberapa tahun terakhir. Meski sedikit rebound pada minggu terakhir September, pelemahan USD diperkirakan akan berlangsung sementara waktu seiring dengan prospek ekonomi AS yang relatif memburuk dan tingginya tekanan inflasi AS dalam waktu-waktu mendatang. Apresiasi mata uang dunia lainnya, terutama Euro, mulai mengkuatirkan otoritas
2,00 1,80 Yen/USD 1,60 120 115,43 1,40 1,20 1,00 0,80 0,60 0,40 2000 0,69 Euro/USD 100 80 60 40 20 0 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 160 140

USD 83,3/barrel pada minggu-minggu terakhir September lalu. Selain itu, dengan ekonomi China yang memanas, harga impor produk China di Amerika serikat juga mengalami kenaikan (Grafik 9). Kenaikan harga impor kemungkinan berimbas pada kenaikan harga konsumen dan

wholesale.
Kenaikan ekspektasi inflasi terlihat dari

yields T-bond yang meningkat. Yield US T-Bond


jangka waktu 10 tahun mencapai 4,6% pada minggu terakhir September 2007 naik dari 4,5% pada minggu sebelumnya (Grafik 10).

Yield US T-Bond jangka waktu 30 tahun juga


mengalami kenaikan dari 4,7% menjadi 4,9% pada minggu terakhir September. Di tengah-tengah ekspektasi inflasi yang meningkat, pertanyaan yang banyak muncul sekarang ini adalah apakah keputusan yang akan diambil Fedres dalam pertemuan FOMC mereka pada akhir Oktober mendatang. Sebagian besar memperkirakan bahwa Fedres akan memangkas suku bunga lagi

Sumber: Bloomberg

Grafik 11 Yen/USD dan Euro/USD

91

Perkembangan Ekonomi Keuangan dan Kerja Sama Internasional - Triwulan III 2007

di Uni Eropa. Ekonomi mereka yang selama ini banyak bergantung pada kinerja ekspor yang kuat dikuatirkan akan terpengaruh negatif oleh penguatan mata uang Euro. Banyak desakan ditujukan pada ECB untuk segera mengikuti langkah Fedres memangkas suku bunga kebijakan mereka. Namun banyak pihak memperkirakan bahwa ECB tidak akan gegabah menuruti desakan tersebut mengingat masih besarnya tekanan inflasi di depan. Hanya kenaikan suku bunga kebijakan ECB yang rencananya dilakukan pada akhir 2007 kemungkinan besar akan ditunda untuk sementara waktu.

jalur (Lihat Bagan pada halaman 1). Kelima jalur tersebut adalah: (A) jalur perdagangan langsung antara Indonesia dan Amerika Serikat, (B) jalur perdagangan Indonesia dan Asia/Eropa yang kemungkinan akan terkena dampak perlambatan ekonomi AS, (C) jalur (kenaikan) biaya pinjaman, (D) jalur (apresiasi) nilai tukar Rupiah, dan (E) jalur (suku bunga) kebijakan moneter Fedres kedepan. Apresiasi nilai tukar rupiah yang berlebihan dikuatirkan dapat berpengaruh negatif terhadap kinerja ekspor Indonesia, terutama yang ditujukan ke pasar Amerika Serikat. Sementara itu, ketidak-pastian seputar keputusan Fedres pada pertemuan FOMC akhir bulan Oktober ini akan

(vii) Dampak Ekonomi ke Indonesia Dampak krisis subprime AS terhadap ekonomi Indonesia dapat terjadi melalui lima

berpengaruh terhadap kebijakan dan kondisi moneter khususnya dan ekonomi Indonesia umumnya.

92