You are on page 1of 10

METODE BARU SINTESIS 3,4-METILENADIOKSIBENZIL BUTIL ETER NEW APPROACH FOR THE PREPARATION OF 3,4-METHYLENEDIOXYBENZYL BUTYL ETHER

Isi dari jurnal adalah ; Penelitian yang telah dilakukan sebelumnya berhasil memanfaatkan 2-metoksi-4-(2propenil)fenol yang terdapat dalam limbah daun cengkeh untuk pembuatan perisa 4-hidroksi-3metoksi-benzaldehida yang selanjutnya ditransformasi menjadi pewangi atau perisa komersial Isobutavan dan analognya serta turunan baru. metoksibenzaldehida pada penelitian sebelumnya juga diperoleh dari pengolahan limbah industri kertas, dan telah ditransformasi lebih lanjut menjadi anti jamur patogen tumbuhan dan anti kanker. Penelitian yang telah dilakukan sebelumnya juga berhasil memisahkan dan memurnikan 3,4-metilenadioksifenil-2- propena dalam minyak lawang

yang kemudian ditransformasi lebih lanjut menjadi 3,4-metilenadioksibenzaldehida dan 3,4-metilenadioksibenzil ester Transformasi gugus aldehida dari 3-etoksi-4-hidroksibenzaldehida menjadi pewangi komersial 2-etoksi-4-(metoksi-metil)fenol diketahui memberi kontribusi

munculnya aroma tambahan bunga carnation Analog eter berupa 3,4-metilenadioksibenzil butyl eter telah disintesis dengan metode Williamson yang dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah reaksi 3,4-metilenadioksibenzil alkohol dengan natrium hidrida dalam

tetrahidrofuran dibawah kondisi nitrogen selama satu jam,dan dilanjutkan reaksi dengan butil bromida pada tahap kedua selama dua belas jam sehingga diperoleh 3,4-metilenadioksibenzil butil eter dengan rendemen 38,5%. Senyawa juga berperan sebagai inhibitor melanogenesis yang stabil dan aman Senyawa 7 sebagaimana eter pada umumnya, juga dimungkinkan untuk disintesis dari reaksi metilenadioksibenzil 3,4-21 Metode Baru Sintesis 3,4-Metilenadioksibenzil Butil Eter alkohol dengan n-butanol pada kondisi asam. Artikel ini melaporkan

metode baru sintesis 3,4 metilenadioksibenzil butil eter dari 3,4-metilenadioksibenzil alkohol yang berlangsung dalam satu tahap. Pembahasan : 1. Definisi Eter adalah nama segolongan senyawa organik yang mengandung unsur-unsur C, H, dan O dengan rumus umum R-O-R'. Bila rumus umum ini dikaitkan dengan rumus air (HOH), maka eter dapat dianggap sebagai turunan dialkil dari senyawa air. Eter dapat digilongkan menjadi dua jenis, yaitu eter simetris dan eter asimetris. Kalau dalam rumus umum eter R = R', maka eter tersebut dinamakan eter sederhana atau eter simetrik. Tetapi bila R R', dinamakan eter campuran atau eter asimetrik. Di samping yang mempunyai gugus alkil (R) terdapat pula eter yang mengandung gugus aril (Ar) yang rumus umumnya dinyatakan dengan Ar-O-Ar' atau Ar-O-'R. Di antara eter dan alkohol terdapat isomeri gugus fungsi dalam arti keduanya mempunyai rumus molekul yang sama tetapi gugus fungsinya berbeda. Contoh untuk isomeri fungsi di antara eter dan alkohol ini adalah CH3-O-CH3 dan CH3CH2OH. Perbedaan gugus fungsi tersebut mengakibatkan adanya perbedaan sifat-sifat fisika dan kimia pada eter dan alkohol. 2. Struktur Ester. Eter mempunyai rantai C-O-C yang mempunyai sudut ikatan sebesar 104,5 dan jarak antara atom C dengan O adalah sekitar 140 pm. Halangan rotasi untuk ikatan C-O sangat kecil. Ikatan oksigen dalam eter, alkohol dan air sangatlah mirip. Pada teori ikatan valensi, hibridisasi oksigen adalah sp3.

Oksigen lebih elektronegatif daripada karbon, dengan demikian hidrogen alfa eter bersifat lebih asam daripada hidrokarbon sederhana, tetapi jauh kurang asam dibandingkan dengan hidrogen alfa golongan karbonil (seperti aldehida dan keton). 3. Pembuatan atau Identifikasi a. Sintesis Ester Williamson. Eter dapat dibuat dengan mereaksikan suatu alkil halida (haloalkana) dengan suatu alkoksida. Alkoksida dapat dibuat dengan mereaksikan suatu alkohol primer dengan suatu basa seperti NaOH. Contoh: C2H5Br + Na-OC2H5 NaBr + C2H5-O-C2H5

b. Mereaksikan Alkil Halida dengan Iodida. Alkil halida jika direaksikan dengan perak iodida akan menghasilkan eter dan garam perak halida. Contoh: 2 C2H5I + Ag2O C2H5-O-C2H5 + 2 AgI

c. Dehidrasi Alkohol. Bila uap etanol dan alkohol-alkohol primer suhu rendah yang lain dilewatkan di atas suatu alumina pada suhu 250-260 C maka akan terjadi dehidrasi pada alkohol tersebut dan menghasilkan eter. 2 C2H5OH C2H5-O-C2H5 + H2O Di laboratorium dan industri, yang lazim digunakan sebagai penarik air adalah H2SO4. Dalam cara ini, rangkaian reaksinya adalah sebagai berikut: (1) C2H5OH + H2SO4 C2H5OSO3H + H2O (2) C2H5OSO3H + C2H5OH C2H5-O-C2H5 + H2SO4 Asam sulfat yang diperoleh dalam langkah (2) dapat bereaksi kembali dengan etanol seperti yang dituliskan dalam langkah (1). Oleh karena itu cara pembuatan eter seperti ini dinamakan "proses eterifikasi kontinyu". Secara teoritik, dapat diduga bahwa dengan sekali penambahan asam sulfat dapat digunakan untuk membuat eter dengan jumlah alkohol yang tidak terbatas. Dalam kenyataannya, setelah jangka waktu tertentu, asam sulfatnya harus diperbarui karena ada sebagian yang tereduksi menjadi asamsulfit

Dalam pembuatan eter dengan cara ini diperlukan suhu yang relatif rendah karena dalam keadaan panas etil hidrogensulfat (C2H5OSO3H) dapat terdekomposisi menjadi etilena dan asam sulfat. Suhu yang diperlukan adalah 120-140 C, dengan katalis Al2(SO4)3. Bila reaksi berlangsung pada suhu 145 C, memberikan hasil etilena. Perlu diketahui bahwa pembuatan eter dengan menggunakan asam sulfat ini hanya memberikan hasil sebaik-baiknya untuk eter suku rendah dengan rantai linier. Bila diterapkan untuk membuat eter suku tinggi dan bercabang, ternyata lebih banyak menghasilkan etena. 4. Sifat Senyawa Ester a. Sifat fisika : Eter adalah cairan tidak berwarna yang mudah menguap dengan bau yang khas. Eter tidak larut air, akan tetapi larut dalam pelarut nonpolar. Eter mudah terbakar dengan nyala bening yang jernih karena uap eter membentuk campuran yang eksplosif dengan udara. Eter dapat melarutkan lemak, minyak, resin, alkaloid, brom, dan iod. Oksidasi Oksidasi suatu eter dengan campuran kalium bikromat dan asam sulfat akan menghasilkan aldehida.

b. Sifat Kimia :

Contoh Reaksi dengan asam sulfat. Eter dapat bereaksi dengan asam sulfat menghasilkan suatu alcohol dan asam alkana sulfonat. Reaksi dengan asam iodide. Eter dapat bereaksi dengan asam iodida menghasilkan campuran alkohol dengan alkil halida. Hidrolisis. Eter dapat mengalami reaksi substitusi oleh halogen. Substitusi terjadi pada atom H.

5. Tata Nama a. IUPEC Nama sistematik eter adalah alkoksi alkana. Alkil terkecil dianggap sebagai alkoksi, dan yang terbesar dianggap alkana. Contoh:

Tentukan nomor terikatnya gugus alkoksi. Contoh:

Gugus alkoksi merupakan salah satu substituen , sehingga penulisan namanya harus Contoh: berdasarkan urutan abjad huruf pertama nomor substituen.

Awalan di-, tri-, sek-, ters-, tidak perlu diperhatikan dalam penentuan urutan abjad sedangkan awalan yang tidak dipisahkan dengan tanda hubung (antara lain : iso-, dan neo-) diperhatikan dalam penentuan urutan abjad. Contoh :

b. Trivial Tentukan gugus-gugus alkil (substituen) yang mengikat gugus eter (-O-). Contoh :

Tambahkan Contoh:

akhiran

eter

setelah

nama-nama

subtituen.

Penulisan substituen alkil tidak harus menurut urutan abjad.

6. Resume Jurnal Pada jurnal yang ditulis memuat pembuatan sintes 3,4-metilandioksibenzaldehid butyl eter. Identifikasi yang dilakukan menggunakan KLT dan pengukuran spectra dengan spektometer JNM-ECA 500, dimana puncak TMS digunakan untuk standar HNMR dan puncak CDCL3 sebagai standar spectrum CNMR. Pemantauan dengan KLT dilakukan dengan adanya penampakan berkas noda pada sinar UV dan uap iodine dengan kromatografi gas spectrometer massa. Proses metode atau identifikasi yang dilakukan : a. Reduksi 3,4-metilanodioksibenzaldehid Merefluksikan campuran 3,4-metilanodioksibenzaldehid dengan natrium borodihidra dalam larutan dihidra, kemudian residu yang dihasilkan akan diekstrak dengan dietil eter, selanjutnya ekstrak akan dikeringkan dengan magnesium sulfat anhidrat dan akan membentuk metilomdioksibenzil alcohol. b. Sintesis 3,4-metilanodioksibenzaldehid butil eter. 3,4-metilanodioksibenzaldehid direaksikan dengan n-butanol,amberyst 15 maka akan terbentuk 3,4-metilanodioksibenzaldehid berupa cairan kuning kemudian dilakukan pengidentifikasian dengan spectrometer gas dan massa. c. Reduksi 3,4-metilanodioksibenzaldehid Reduksi 3,4-metilanodioksibenzaldehid dengan mengadaptasi prosedur reduksi aldehida yaitu dengan cara merefluksi campuran 3,4-metilanodioksibenzaldehid dengan na borohidrat dalam etanol absolute, pemantauan reaksi menunjukan apabila reaksi tuntas selama 30 menit.

Pelepasan radikal hidroksi dari ion molekul dihasilkan fragmen dengan puncak pada m/z 135, kation ini selanjutnya berturut-turut melepaskan formaldehida dan karbon monoksida sehingga terbentuk kation-kation dengan puncak-puncak pada m/z 105 dan 77. Kation dengan m/z 77 kemudian melepaskan asetilena sehingga

terbentuk kation dengan puncak pada m/z 51. Ion molekul juga melepaskan atom hidrogen sehingga terbentuk kation dengan puncak pada m/z 151 yang kemudian berturut-turut melepaskan karbon monoksida, formaldehida dan karbon monoksida sehingga terbentuk kation - kation dengan puncak pada m/z 123, 93 dan 65. Identifikasi dengan spektrometer massa diperkuat dengan data spektrum H NMR, H NMR menunjukkan adanya empat sinyal. Tiga sinyal singlet pada pergeseran kimia 2,36; 4,51; dan 5,91 ppm dengan perbandingan integrasi 1:2:2 masing-masing

berturut-turut merupakan sinyal dari proton-proton gugus hidroksi, metilena, dan metilenadioksi; sedangkan tig aproton aromatik memberikan sinyal multiplet pada pergeseran kimia 6,74-6,82 ppm. d. Sitesis 3,4 metilenadioksibenzil butil eter Sintesis eter dilaksanakan dengan mengadaptasi prosedur sintesis eter yaitu dengan mereaksikan 3,4-metilenadioksibenzil alkohol, n-butanol, dan Amberlyst-15.

Pemantauan reaksi dengan KLT menunjukkan bahwa reaksi telah berjalan tuntas setelah reaksi berlangsung satu jam. Hasil reaksi selanjutnya disaring, dan filtratnya diuapkan pada tekanan rendah sehingga diperoleh cairan kuning jernih. 7. Kesimpulan 3,4-Metilenadioksibenzil butil eter berhasil disintesis dari 3,4-metilenadioksibenzil

alkohol dalam satu tahap reaksi dengan rendemen 92%. Hasil

ini lebih baik dari pada sintesis eter yang dilaporkan Ishida dan Tamai (2009) yang menggunakan metode Williamson dalam dua tahap dengan rendemen 38,5%; dan Victor et al. (2001) dengan rendemen 24,4%. 3,4-Metilenadioksibenzil alcohol diperoleh dengan rendemen 95% dengan mereduksi 3,4-metilenadioksi-benzaldehida menggunakan

natrium borohidrida dalam etanol absolute.

KIMIA ORGANIK MAKALAH SENYAWA ETER


METODE BARU SINTESIS 3,4-METILENADIOKSIBENZIL BUTIL ETER

Di susun Oleh : Kartika Herriyati Amalia Prawitasari NIM 12.0282 NIM 12.0266

AKADEMIK FARMASI THERESIANA SEMARANG

2012 / 2014