You are on page 1of 6

Vol.

4 (2) Desember 2012 Asosiasi Guru Fisika Indonesia Sumatera Utara


20
ANALISIS PEMBELAJARAN GUIDED DISCOVERY DENGAN
MENGGUNAKAN MACROMEDIA FLASH DIKAITKAN
DENGAN KECERDASAN LOGIK MATEMATIK
TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA
SMAN 1 KOTA SUBULUSSALAM
Khoirul Amri Hasibuan dan Nurdin Bukit
Jurusan Pendidikan Fisika Pascasarjana Universitas Negeri Medan
Guru Fisika SMA N 1 Simpang Kiri Kota Subulussalam.
email: amry.hasibuan@gmail.com
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar Fisika
siswa yang menggunakan model pembelajaran guided discovery dan model
pembelajaran ekspositori, perbedaan hasil belajar siswa yang memiliki
kecerdasan logik matematik tinggi dan kecerdasan logik matematik rendah,
dan interaksi antara model pembelajaran dan kecerdasan logik matematik
dalam mempengaruhi hasil belajar siswa. Penelitian ini dilakukan pada siswa
kelas XII IPA SMA Kota Subulussalam yang berjumlah 7 kelas. Sampel
penelitian ini ditetapkan siswa kelas XII IPA-3 dilakukan model
pembelajaran guided discovery dan siswa kelas XII IPA-2 dilakukan model
pembelajaran ekspositori. Teknik penarikan sampel dilakukan cluster random
sampling. Metode penelitian menggunakan metode quasi eksperimen dengan
desain penelitian faktorial 2x2. Teknik analaisis data menggunakan ANAVA
dua jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan hasil belajar
Fisika siswa yang menggunakan model pembelajaran guided discovery dan
model pembelajaran ekspositori. Siswa yang menggunakan model
pembelajaran guided discovery memperoleh hasil belajar yang lebih tinggi.
Ada perbedaan hasil belajar Fisika siswa yang memiliki kecerdasan logik
matematik tinggi dan kecerdasan logik matematik rendah. Siswa yang
memiliki kecerdasan logik matematik tinggi memperoleh hasil belajar yang
lebih tinggi. Terdapat interaksi antara model pembelajaran dan kecerdasan
logik matematik dalam mempengaruhi hasil belajar Fisika siswa.
Kata kunci: guided discovery learning, intelligence logic mathematic, physics
teaching and learning
PENDAHULUAN
Rendahnya nilai ujian harian merupakan
masalah pendidikan yang tidak dapat lepas dari
masalah pembelajaran, karena pembelajaran
merupakan inti dari proses peningkatan kualitas
pendidikan. Peningkatan kualitas pendidikan
mengacu pada upaya peningkatan kualitas
proses dan hasil belajar. Suatu sistem pendidi-
kan dikatakan bermutu dari segi proses, jika
pembelajaran berlangsung secara efektif dan
siswa mengalami pembelajaran yang bermakna
serta didukung oleh sumber daya yang memadai.
Peran guru dalam pembelajaran adalah
sebagai fasilitator, mediator, dan pembimbing.
Jadi guru hanya dapat membantu proses
perubahan pengetahuan di kepala siswa melalui
perannya menyiapkan scaffolding dan guiding,
sehingga siswa dapat mencapai tingkatan
pemahaman yang lebih sempurna dibandingkan
dengan pengetahuan sebelumnya. Guru
Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran Fisika
ISSN 2085-5281
Vol. 4 (2) Desember 2012 Asosiasi Guru Fisika Indonesia Sumatera Utara
21
menyiapkan tanggga yang efektif, tetapi siswa
sendiri yang memanjat melalui tangga tersebut
untuk mencapai pemahaman yang lebih dalam.
Berdasakan hasil observasi yang dilakukan
pada tanggal 5 maret 2012 di SMA Negeri 1
Subulussalam, ditemukan bahwa guru masih
mengajar secara konvensional yang dominan
menerapkan strategi ekspositori, sehingga siswa
cenderung pasif, individual, dan kurang berparti-
sipasi secara aktif dalam proses pembelajaran.
Menurut Sanjaya (2008) strategi pembelajaran
ekspositori lebih menekankan kepada proses
pencapaian materi secara verbal dari seorang
guru kepada kelompok siswa dengan maksud
agar siswa dapat menguasai materi pelajaran
secara optimal. Penggunaan media juga masih
kurang dilakukan oleh guru dalam pembelajaran
sehingga siswa cenderung mempelajari hal-hal
yang bersifat abstrak dan menghapal konsep-
konsep yang ada dalam Fisika tanpa menge-
tahui terciptanya konsep serta unsur yang
terkandung dalam suatu konsep. Selain itu
ditemukan hasil belajar relatif rendah pada
mata pelajaran Fisika. Hal ini terlihat dari nilai
perolehan siswa pada mata pelajaran Fisika,
yaitu pada memperoleh hasil belajar 65 ke atas
pada mata pelajaran Fisika tidak mencapai 85%
seperti yang diharapkan kurikulum.
Salah satu cara merancang pembelajaran
IPA agar pembelajaran efektif yang member-
dayakan potensi siswa adalah pembelajaran
yang berpusat pada siswa (student centered)
(Depdiknas, 2003). Untuk itu dibutuhkan SDM
guru yang mampu merancang pembelajaran
yang dapat mengaitkan materi yang diajarkan
dengan situasi nyata siswa dan mendorong
siswa membuat hubungan antara pengetahuan
yang dimilikinya dan penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari.
Banyak penelitian yang telah dilakukan
untuk hal ini, seperti hasil penelitian Balim
(2009), Yunginger (2010) keduanya menyatakan
bahwa terdapat peningkatan hasil belajar yang
signifikan antara kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol dalam hal prestasi setelah
diimplikasikan pembelajaran discovery. Pene-
litian serupa dilakukan oleh Amalia (2009)
menyimpulkan bahwa respon siswa pada
umumnya positif terhadap penerapan pembela-
jaran dengan bervariasinya metode pembelajaran,
yaitu simulasi komputer dan discovery
learning.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
perbedaan hasil belajar Fisika siswa yang
menggunakan model pembelajaran guided
discovery dengan model pembelajaran eksposi-
tori, perbedaan hasil belajar Fisika siswa yang
memiliki kecerdasan logik matematik tinggi
dan kecerdasan logik matematik rendah, dan
interaksi antara model dan kecerdasan logik
matematik dalam mempengaruhi hasil belajar
siswa.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di kelas XII IPA
SMA Kota Subulussalam yang berjumlah 7
sekolah pada bulan Juli sampai September
2012. Sampel penelitian ini ditetapkan siswa
kelas XII IPA-3 dilakukan model pembelajaran
guided discovery dan siswa kelas XII IPA-2
dilakukan model pembelajaran ekspositori.
Teknik penarikan sampel dilakukan cluster
random sampling. Instrumen untuk mengukur
hasil belajar Fisika siswa digunakan tes
berbentuk essai dengan jumlah sebanyak 8
butir. Kecerdasan logik matematik siswa
dilakukan dengan angket. Metode penelitian
menggunakan metode quasi eksperimen dengan
desain penelitian faktorial 2x2. Teknik analaisis
data menggunakan ANAVA dua jalur dengan
bantuan SPSS 17. Instrumen yang digunakan
untuk mengumpulkan data adalah tes kognitif
hasil belajar siswa dan angket kecerdasan logik
matematik, dan kedua instrumen sudah
divalidkan sebelum digunakan. Instrumen
penelitian ini disusun oleh peneliti berdasarkan
indikator dan divalidasi oleh ahli.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Untuk menguji kemampuan awal kedua
kelompok digunakam uji Levenes Test dengan
melihat hasil pretes kedua kelompok. Dari hasil
pengujian diperoleh sign = 0,85 artinya sign >
, dengan demikian dinyatakan bahwa kedua
Hasibuan, K.A. dan Bukit, N.: Analisis Pembelajaran
Guided Discovery Dengan Menggunakan
Macromedia Flash Dikaitkan Dengan Kecerdasan
Logik Matematik Terhadap Hasil Belajar Fisika
Siswa SMAN 1 Kota Subulussalam.
Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran Fisika
ISSN 2085-5281
Vol. 4 (2) Desember 2012 Asosiasi Guru Fisika Indonesia Sumatera Utara
22
kelompok memiliki kemampuan awal yang
sama. Selanjutnya pengujian perbedan rata-rata
hasil belajar Fisika siswa dengan menggunakan
ANAVA faktorial 2x2. Hasil perhitungan uji
perbedaan rata-rata dapat dijelaskan sebagai
berikut.
Hipotesis Pertama
Berdasarkan perhitungan anava faktorial
2x2 diperoleh F
hitung
= 15,19 sedangkan nilai
F
tabel
= 7,04 untuk dk (1;64) dan taraf nyata
= 0,05 ternyata nilai F
hitung
> F
tabel
sehingga
pengujian hipotesis menolak Ho. Dengan
demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa siswa
yang mengikuti pembelajaran Fisika dengan
strategi pembelajaran guided discovery akan
memperoleh hasil belajar yang lebih tinggi
dibandingkan dengan siswa yang mengikuti
pembelajaran dengan strategi pembelajaran
ekspositori.
Perbandingan model pembelajaran (guided
discovery dan ekspositori) menjawab soal
Fisika pada ranah kognitif Bloom C2, C3, C4,
C5, C6 ditunjukkan pada Gambar 1.
Gambar 1. Perbandingan model pembelajaran
(guided discovery dan ekspositori)
menjawab soal Fisika pada ranah kognitif
Bloom C2, C3, C4, C5, C6
Hipotesis Kedua
Perhitungan anava faktorial 2x2 juga
diperoleh F
hitung
= 10,25 sedangkan nilai F
tabel
=
7,04 untuk dk (1;64) dan taraf nyata = 0,05
ternyata nilai F
hitung
> F
tabel
sehingga pengujian
hipotesis menolak Ho. Dengan demikian dapat
ditarik kesimpulan bahwa siswa yang memiliki
kecerdasan logik matematik tinggi akan
memperoleh hasil belajar yang lebih tinggi
dibandingkan dengan siswa yang memiliki
kecerdasan logik matematik rendah. Perban-
dingan hasil belajar Fisika siswa yang memiliki
kecerdasan logik matematik (tinggi dan rendah)
dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2. Perbandingan Kecerdasan logik
Matematik (Tinggi dan Rendah) Terhadap
Hasil Belajar Fisika Siswa SMA Negeri 1
Kota Subulussalam.
Hipotesis Ketiga
Hipotesis ketiga adalah terdapat interaksi
antara model pembelajaran dan kecerdasan
logik matematik dalam mempengaruhi hasil
belajar Fisika siswa. Dengan menggunakan
bantuan SPSS 17.0 maka diperoleh hasil F
hitung
= 11,29 sedangkan nilai F
tabel
= 7,04 untuk dk
(1;64) dan taraf nyata = 0,05 ternyata nilai
F
hitung
> F
tabel
sehingga pengujian hipotesis
menolak Ho.
Perbandingan hasil belajar Fisika siswa
dengan menggunakan pembelajaran (guided
discovery dan ekspositori) dapat dilihat pada
Gambar 3.
Gambar 3. Pengaruh Model Pembelajaran dan
Kecerdasan logik Matematik (Tinggi dan
Rendah) Terhadap Hasil Belajar Fisika
Siswa SMA Negeri 1 Kota Subulussalam.
Untuk mengetahui rata-rata perbedaan
hasil belajar setiap kelompok maka dilakukan
uji lanjut dengan menggunakan bantuan
Hasibuan, K.A. dan Bukit, N.: Analisis Pembelajaran
Guided Discovery Dengan Menggunakan
Macromedia Flash Dikaitkan Dengan Kecerdasan
Logik Matematik Terhadap Hasil Belajar Fisika
Siswa SMAN 1 Kota Subulussalam.
Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran Fisika
ISSN 2085-5281
Vol. 4 (2) Desember 2012 Asosiasi Guru Fisika Indonesia Sumatera Utara
23
program SPSS 17.0. Hasil uji lanjut tersebut
menggunakan uji schefffe dan uji tukey menje-
laskan bahwa.
1. Ada perbedaan hasil belajar Fisika siswa
yang signifikan antara penerapan model
pembelajaran discovery pada siswa yang
memiliki kecerdasan logik matematik tinggi
dengan penerapan pembelajaran discovery
pada siswa yang memiliki kecerdasan logik
matematik rendah (MD = 10,73; p < 0,05).
2. Tidak ada perbedaan hasil belajar Fisika
siswa yang signifikan antara penerapan
model pembelajaran discovery pada siswa
yang memiliki kecerdasan logik matematik
rendah dengan penerapan pembelajaran
ekspositori pada siswa yang memiliki
kecerdasan logik matematik tinggi (MD =
1,18; p > 0,05).
3. Tidak ada perbedaan hasil belajar Fisika
siswa yang signifikan antara penerapan
model pembelajaran discovery pada siswa
yang memiliki kecerdasan logik matematik
rendah dengan penerapan pembelajaran
ekspositori pada siswa yang memiliki
kecerdasan logik matematik rendah (MD =
1,27; p > 0,05).
4. Ada perbedaan hasil belajar Fisika siswa
yang signifikan antara penerapan model
pembelajaran discovery pada siswa yang
memiliki kecerdasan logik matematik tinggi
dengan penerapan pembelajaran ekspositori
pada siswa yang memiliki kecerdasan logik
matematik tinggi (MD = 11,91; p < 0,05).
5. Ada perbedaan hasil belajar Fisika siswa
yang signifikan antara penerapan model
pembelajaran discovery pada siswa yang
memiliki kecerdasan logik matematik tinggi
dengan penerapan pembelajaran ekspositori
pada siswa yang memiliki kecerdasan logik
matematik rendah (MD = 12,00; p < 0,05).
6. Tidak ada perbedaan hasil belajar Fisika
siswa yang signifikan antara penerapan
model pembelajaran ekspositori pada siswa
yang memiliki kecerdasan logik matematik
tinggi dengan penerapan pembelajaran
ekspositori pada siswa yang memiliki
kecerdasan logik matematik rendah (MD =
0,09; p > 0,05).
Pembahasan
Perbedaan Hasil Belajar Fisika Siswa yang
Dibelajarkan dengan Pembelajaran Guided
Discovry dan Ekspositori
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh
bahwa terdapat perbedaan hasil belajar Fisika
siswa yang dibelajarkan dengan model pembela-
jaran guided discovery dan ekspositori, siswa
yang mengikuti pembelajaran guded discovery
menunjukkan nilai rata-rata hasil belajar Fisika
yang lebih tinggi dibandingkan dengan
kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran
ekspositori. Kenyataan ini membuktikan bahwa
menggunakan model pembelajaran guided
discovery lebih baik dalam meningkatkan hasil
belajar Fisika siswa daripada menggunakan
model pembelajaran ekspositori.
Hasil penelitian juga menunjukkan
perbandingan kemampuan siswa menjawab
soal ujian pada ranah kognitif Bloom, siswa
yang mengikuti pembelajaran guided discovery
memiliki rata-rata lebih tinggi dibandingkan
dengan siswa yang mengikuti pembelajaran
ekspositori pada ranah kognitif Bloom C4, C5,
dan C6. Sedangkan pada ranah kognitif C2 dan
C3, siswa yang mengikuti pembelajaran ekspo-
sitori memiliki rata-rata lebih tinggi dibanding-
kan dengan siswa yang mengikuti pembelajaran
guided discovery. Hal ini disebabkan karena
pada pembelajaran ekspositori siswa hanya
mendengar dan diajarkan cara menghitung
dengan menggunakan rumus-rumus yang
tersedia, sedangkan pada pembelajaran guided
discovery siswa dibimbing untuk menemukan
konsep-konsep dan siswa terbiasa untuk
menganalisis suatu materi yang diberikan.
Dari penelitian diperoleh rata-rata hasil
belajar Fisika siswa yang dibelajarkan dengan
model pembelajaran guided discovery lebih
tinggi dibandingkan dengan kelompok siswa
yang mengikuti pembelajaran ekspositori.
Temuan ini juga didukung hasil penelitian
sebelumnya yang dilaksanakan oleh Balim
(2009), Yunginger (2010) keduanya menyatakan
Hasibuan, K.A. dan Bukit, N.: Analisis Pembelajaran
Guided Discovery Dengan Menggunakan
Macromedia Flash Dikaitkan Dengan Kecerdasan
Logik Matematik Terhadap Hasil Belajar Fisika
Siswa SMAN 1 Kota Subulussalam.
Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran Fisika
ISSN 2085-5281
Vol. 4 (2) Desember 2012 Asosiasi Guru Fisika Indonesia Sumatera Utara
24
bahwa terdapat peningkatan hasil belajar yang
signifikan antara kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol dalam hal prestasi setelah
diimplikasikan pembelajaran discovery. Pene-
litian serupa dilakukan oleh Amalia (2009)
menyimpulkan bahwa respon siswa pada
umumnya positif terhadap penerapan pembe-
lajaran dengan bervariasinya metode pembela-
jaran, yaitu simulasi komputer dan discovery
learning.
Perbedaan Hasil belajar Fisika Siswa yang
Memiliki Kecerdasan Logik Matematik Tinggi
Rendah
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
terdapat perbedaan hasil belajar Fisika siswa
yang memiliki kecerdasan logik matematik
tinggi dengan siswa yang memiliki kecerdasan
logik matematik rendah, dimana siswa yang
memiliki kecerdasan logik matematik tinggi
menunjukkan nilai rata-rata hasil belajar Fisika
yang lebih tinggi dibandingkan dengan
kelompok siswa yang memiliki kecerdasan
logik matematik rendah. Kenyataan ini
membuktikan bahwa hasil belajar Fisika siswa
yang memiliki kecerdasan logik matematik
tinggi lebih baik daripada siswa yg memiliki
kecerdasan logik matematik rendah. Kecerdasan
matematik logis dapat diartikan sebagai
kepekaan dan kemampuan untuk membedakan
pola logika atau numerik dan kemampuan
menangani rangkaian penalaran yang panjang.
Hasil penelitian diperoleh rata-rata hasil
belajar Fisika siswa yang memiliki kecerdasan
logik matematik tinggi lebih tinggi dibanding-
kan dengan kelompok siswa yang memiliki
kecerdasan logik matematik rendah. Temuan
ini juga mendukung penelitian sebelumnya
yang dilaksanakan oleh Handayani (2010) yang
menyimpulkan bahwa ada pengaruh kecerdasan
matematik-logis terhadap prestasi belajar siswa.
Interaksi Model dan Kecerdasan Logik
Matematik dalam Mempengaruhi Hasil Belajar
Fisika Siswa
Hasil penelitian diperoleh bahwa terdapat
interaksi antara model dan kecerdasan logik
matematik dalam mempengaruhi hasil belajar
siswa. Hal ini dapat dilihat dari diagram yang
dihasilkan dari uji anava 2 x 2 (gambar 4). Pada
kelompok siswa yang memiliki kecerdasan logik
matematik rendah yang mengikuti pembelajaran
guided discovery memperoleh hasil yang sama
dengan kelompok siswa yang memiliki kecer-
dasan logik matematik rendah dan mengikuti
pembelajaran ekspositori, sedangkan untuk
kelompok siswa yang memiliki kecerdasan
logik matematik tinggi memperoleh hasil yang
berbeda antara siswa yang mengikuti pembela-
jaran guided discovery dan siswa yang
mengikuti pembelajaran ekspositori, dimana
siswa yang mengikuti pembelajaran guided
discovey memperoleh hasil belajar yang lebih
tinggi dibandingkan dengan kelompok siswa
yang mengikuti pembelajaran ekspositori.
Pada sisi lain, siswa yang memiliki
kecerdasan matematik logis mampu menggu-
nakan angka yang baik dan mampu menangani
penalaran yang benar. Kecerdasan ini meliputi
kepekaan pada pola dan hubungan logis,
pernyataan dan dalil (jika-maka, sebab-akibat)
fungsi logis dan abstraksi-abstraksi lain. Proses
yang digunakan dalam kecerdasan matematik
logis antara lain kategorisasi, klasifikasi, meng-
ambil kesimpulan, generalisasi, perhitungan
dan pengujian hipotesis.
Siswa yang memiliki kecerdasan mate-
matik logis akan mudah mempelajari Fisika
yang dibelajarkan dengan metode pembelajaran
guided discovery, sehingga akan meningkatkan
hasil belajar Fisika siswa dan keduanya saling
berinteraksi. Dengan demikian terdapat interaksi
antara metode pembelajaran discovery dengan
kecerdasan matematik logis dalam mempeng-
aruhi hasil belajar siswa.
Persentase Kemampuan Siswa dalam menjawab
soal pada ranah kognitif C3, C4, C5, dan C6
pada pembelajaran guided discovery
Hasil penelitian diperoleh bahwa siswa
menjawab benar soal untuk ranah kognitif
aplikasi (C3) 53%, analisis (C4) 34%, sintesis
(C5) 50%, dan evaluasi (C6) 25%. Pada
pembelajaran guided discovery siswa lebih
Hasibuan, K.A. dan Bukit, N.: Analisis Pembelajaran
Guided Discovery Dengan Menggunakan
Macromedia Flash Dikaitkan Dengan Kecerdasan
Logik Matematik Terhadap Hasil Belajar Fisika
Siswa SMAN 1 Kota Subulussalam.
Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran Fisika
ISSN 2085-5281
Vol. 4 (2) Desember 2012 Asosiasi Guru Fisika Indonesia Sumatera Utara
25
cenderung mampu menyelesaikan soal pada
ranah kognitif aplikasi (C3) dan sintesis (C5),
tetapi kurang mampu dalam menyelesaikan soal
pada ranah kognitif analisis (C4) dan evaluasi
(C6). Hal ini disebabkan karena siswa belum
terbiasa dengan model pembelajaran guided
discovery dimana bagian dari kegiatan pembe-
lajaran tersebut itu adalah memperkirakan
(menduga-duga) dan menarik kesimpulan.
Siswa yang dibelajarkan dengan model
pembelajaran ekspositori lebih cenderung dapat
menyelsaikan soal-soal pada ranah kognitif C2
dan C3, sedangkan pada siswa yang mengikuti
pembelajaran discovery, siswa lebih cenderung
dapat menyelesaikan soal-soal pada ranah
kognitif C4, C5, dan C6.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pemba-
hasan dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu:
Ada perbedaan hasil belajar Fisika siswa yang
menggunakan model pembelajaran guided
discovery dan model pembelajaran ekspositori,
dalam hal ini siswa yang menggunakan model
pembelajaran guided discovery memperoleh
hasil belajar yang lebih tinggi dibandingkan
dengan model pembelajaran ekspositori. Rata-
rata kemampuan siswa yang mengikuti pembe-
lajaran guided discovery pada ranah kognitif
Bloom C4, C5, dan C6 lebih tinggi dibandingkan
siswa yang mengikuti pembelajaran ekspositori.
Sedangkan pada ranah kognitif C2 dan C3,
siswa yang mengikuti pembelajaran ekspositori
memiliki rata-rata lebih tinggi dibandingkan
dengan siswa yang mengikuti pembelajaran
guided discovery, ada perbedaan hasil belajar
Fisika siswa yang memiliki kecerdasan logik
matematik tinggi dan kecerdasan logik mate-
matik rendah, dimana siswa yang memiliki
kecerdasan logik matematik tinggi memperoleh
hasil belajar yang lebih tinggi dibandingkan
dengan siswa yang memiliki kecerdasan logik
matematik rendah, dan terdapat interaksi antara
model pembelajaran dan kecerdasan logik
matematik dalam mempengaruhi hasil belajar
Fisika siswa. Dalam hal ini siswa yang
mengikuti pembelajaran guided discovey
memperoleh hasil belajar yang lebih tinggi
dibandingkan dengan siswa yang mengikuti
pembelajaran ekspositori pada kelompok siswa
yang memiliki kecerdasan logik matematik
tinggi. Hal ini berarti model pembelajaran dan
kecerdasan logik matematik bersama-sama
dalam mempengaruhi hasil belajar siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Amalia & Viridi, S. 2009. Analisis Penyebab
Rendahnya Nilai Fisika Siswa Pada
Materi Gerak Melingkar di Sma Negeri 6
Bandung. Jurnal Pengajaran Fisika
Sekolah Menengah. Vol. 1, No.3.
Balm, A.G. 2009. The Effects of Discovery
Learning on Students Success and Inquiry
Learning Skills. Egitim Arastirmalari-
Eurasian Journal of Educational Research,
35, 1-20.
Depdiknas. 2003. Tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Jakarta: Depdiknas.
Handayani, S. 2010. Pembelajaran Inkuiri
Terbimbing Melalui Laboratorium dan
Animasi Komputer Ditinjau dari Kecer-
dasan Matematis-Logis dan Gaya Belajar
Terhadap Prestasi Belajar Fisika. Tesis
tidak diterbitkan. Surakarta: Program
Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret.
Sanjaya, W. 2008. Strategi Pembelajaran
Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Jakarta: Prenada Media Group.
Yunginger, R. 2009. Integrasi E-Learning dan
discovery Learning dalam Meningkatkan
Hasil Belajar Mahasiswa pada Mata kuliah
Termodinamika. Gorontalo: UNG.
Hasibuan, K.A. dan Bukit, N.: Analisis Pembelajaran
Guided Discovery Dengan Menggunakan
Macromedia Flash Dikaitkan Dengan Kecerdasan
Logik Matematik Terhadap Hasil Belajar Fisika
Siswa SMAN 1 Kota Subulussalam.
Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran Fisika
ISSN 2085-5281