Вы находитесь на странице: 1из 8

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah kesehatan jiwa di Indonesia cenderung terus meningkat, sehingga memerlukan tindakan dan penanggulangan yang komprehensif dan

berkesinambungan. Pelayanan dan keperawatan kesehatan jiwa mempunyai falsafah, ciri dan misi yang mengacu pada paradigma keperawatan tentang fenomena sentral yaitu manusia, lingkungan, kesehatan dan keperawatan untuk dapat memberikan keperawatan kesehatan jiwa yang holistik, komprehensif dan berkesinambungan. Untuk itu sangat diperlukan perawat dengan pengetahuan dan ketrampilan khusus tentang keperawatan kesehatan jiwa sehingga memungkinkan mereka untuk dapat bekeja pada tiap tatanan pelayanan kesehatan (Kelliat, 2004). Keperawatan Indonesia di masa yang akan datang mendapatkan prioritas utama dalam pengembangan keperawatan. Hal ini berkaitan dengan tuntutan profesi dan tuntutan globalisasi, bahwa setiap perkembangan dan perubahan memerlukan pengelolaan secara profesional dengan memperhatikan perubahan yang terjadi di Indonesia. Keperawatan di Indonesia sampai saat ini masih berada dalam proses mewujudkan keperawatan sebagai profesi, yaitu suatu proses berjangka panjang yang ditujukan untuk memenuhi tuntutan dan kebutuhan masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu inovasi dalam pendidikan keperawatan, praktek keperawatan, ilmu keperawatan Indonesia dalam proses profesionalisasi.

Keadaan ini dapat dicapai apabila para perawat Indonesia menguasai pengelolaan keperawatan secara profesional saat ini dan yang akan datang. (Nursalam, 2006) Bekerja di bidang kesehatan khususnya sebagai perawat di suatu rumah sakit adalah sebuah fenomena yang kompleks. Perawat berorientasi kepada pelayanan dalam bentuk jasa yang diberikan kepada klien yang mencakup individu, keluarga dan masyarakat, sehingga diperlukan suatu keterampilan manajemen emosi agar pelayanan yang diberikan meliputi biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Keterampilan tersebut dikenal dengan istilah kecerdasan emosional (Nursalam, 2006). Keterampilan yang berhubungan dengan emosi (dikenal dengan istilah soft-skills) hampir terlupakan dalam sistem dunia pendidikan kita dibandingkan dengan penguasaan ilmu-ilmu pengetahuan dan teknologi (hard-skills). Keberhasilan seseorang sangat ditentukan oleh

kemampuannya menguasai berbagai keterampilan yang berhubungan dengan kecerdasan emosi (Goleman, 2007). Selain itu menurut Goleman (2007) kecerdasan emosional bukanlah mode atau kecenderungan. Bukan juga sesuatu yang baru seperti yang sering digembor-gemborkan masyarakat melalui berbagai investasinya melalui

pelatihan. Kecerdasan emosional berkembang bersamaan dengan proses tumbuh kembang manusia dalam beradaptasi dan bergaul dengan manusia lain. Ada lima dasar kecerdasan emosional yaitu kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati, keterampilan sosial. Perawat sebagai profesi yang berorientasi kepada

pelayanan jasa memerlukan suatu keterampilan dalam mengelola emosinya. Keterampilan penguasaan emosi sangat berpengaruh terhadap kinerja. Oleh karena itu Kecerdasan emosional memberikan kontribusi yang bermakna dalam membantu meningkatkan hasil kerja. Hari-hari kerja yang dilalui tanpa menerapkan Kecerdasan emosional dapat menimbulkan kebosanan, kurangnya motivasi dan berbagai emosi lain yang berdampak buruk bagi kinerja dalam hal ini asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien Yosep (2005) mengatakan bahwa emosi biasanya memicu seseorang untuk berprestasi. Kecerdasan emosional menjadi lebih penting dibandingkan dengan kecerdasan intelektual atau prestasi akademik. Kecerdasan emosional merupakan kemampuan seseorang untuk mengenali emosi diri sendiri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, dan membina hubungan sosial. Pekerjaan seperti perawat yang harus selalu berinteraksi langsung dengan pasien, diperlukan kemampuan mengenali emosi, kemampuan mengelola emosi, kemampuan memotivasi diri sendiri, kemampuan mengenali emosi orang lain dan kemampuan membina hubungan dengan orang lain, sehingga akan terjalin hubungan saling percaya dan saling membantu antara perawat dengan pasien, perawat dengan keluarga, perawat dengan dokter, perawat dengan tim kesehatan yang lainnya. Masalah yang dihadapi seseorang, termasuk yang dihadapi seorang perawat, biasanya disertai oleh emosi-emosi negatif. Perawat yang secara cerdas

emosional akan cepat mendapatkan insight mengenai emosi yang dialaminya dan dengan segera dapat mengelola emosi yang muncul. Keberhasilan mengelola emosi ini akan membuat perawat yang bersangkutan menjadi lebih fokus dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya (Nurita, 2012). Perawat dalam pekerjaan sehari-hari hampir selalu melibatkan perasaan dan emosi, sehingga setiap memberikan perawatan kepada pasien dituntut untuk memiliki kecerdasan emosi yang tinggi. Seorang perawat yang tidak mempunyai kecerdasan emosi yang tinggi dapat ditandai dengan sikap emosi yang tinggi, cepat bertindak berdasarkan emosinya, dan tidak sensitif dengan perasaan dan kondisi orang lain. Pelayanan keperawatan sangat memerlukan sosok perawat yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasien yang mencakup kebutuhan biologis, psikologis, sosiologis dan spiritual (Nurita, 2012). Dengan kegiatan perawat yang setiap saat berinteraksi dengan manusia, bukan hanya IQ yang bagus yang diperlukan tetapi perawat juga memerlukan kecerdasan emosional yang tidak biasa. Penelitian tentang kecerdasan emosional telah memperlihatkan bahwa EQ adalah peniliaian yang bisa mencegah munculnya perilaku yang buruk. Banyak anggapan yang beredar di masyarakat bahwa perawat itu jutek ataupun pemarah, semua pandangan negatif tersebut dapat diubah jika perawat memiliki kecerdasan emosional yang baik sehingga mampu menghadapi pasien dengan ramah. Jadi, untuk menjadi perawat

yang baik harus memiliki kecerdasan emotional yang baik juga. Perawat harus mampu berkomunikasi dengan pasien dengan cara yang tepat sehingga pasien akan merasa senang dan pandangan bahwa perawat itu jutek dan pemarah berubah menjadi perawat yang ramah dan cantik (Goleman, 2007). Kebanyakan pasien yang dirawat oleh perawat yang ramah akan merasa senang dan sepertinya penyakit mereka akan cepat sembuh. Sebaliknya, saat pasien dirawat oleh perawat yang judes, pasien akan merasa tertekan berada di rumah sakit. Tidak dipungkiri fenomena tersebut juga berhubungan dengan kecerdasan emosional perawat (Nurita, 2012). Pelayanan keperawatan merupakan bantuan yang diberikan perawat kepada pasien karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan serta kurangnya kemauan menuju pelaksanaan kegiatan hidup sehari-hari secara mandiri. Sayangnya banyak perawat yang melaksanakan pekerjaannya tidak sesuai harapan, kurang empati, kurang sabar dan masa bodoh. Sebagai contoh banyak perawat yang bersikap masa bodoh terhadap kebersihan personal pasien. Pasien tampak kotor, kuku kaki tangan panjang tidak dipotong (Keliat, 2004). Penelitian yang dilakukan oleh Widayanti (2007) terhadap 55 responden menunjukkan 36.4 dengan kecerdasan emosi kurang, 30.9% dengan kecerdasan emosi cukup, dan 32.7% dengan kecerdasan emosi baik, artinya secara umum tingkat kecerdasan emosinya kurang baik. Kecerdasan emosi yang cenderung

kurang dampaknya dalam memberikan asuhan keperawatan kurang optimal. Melihat fenomena di atas, sangat penting bagi seorang perawat untuk memiliki kecerdasan emosi, di samping ketrampilan dibidang perawatan kesehatan. Orang dengan kecerdasan emosi yang berkembang baik berarti kemungkinan besar akan bahagia dan berhasil dalam kehidupan, menguasai kebiasaan pikiran yang mendorong produktifitas mereka dan dapat menata emosi dengan baik (Goleman, 2007). Dari hasil pengambilan data awal yang peneliti lakukan di Badan Pelayanan Umum Daerah (BLUD) Rumah Sakit Jiwa Provinsi Aceh didapatkan jumlah perawat pelaksana pada tahun 2013 adalah sebanyak 189 orang. Hasil observasi peneliti pada tanggal 25 Juni 2013 di Badan Pelayanan Umum Daerah (BLUD) Rumah Sakit Jiwa Provinsi Aceh pada 6 orang keluarga pasien yang berkunjung didapatkan keluarga masih mengeluh tentang sikap perawat yang kurang ramah, kurang peduli suka marah-marah, cerewet, serta masih ada kecenderungan perawat bersikap emosional saat memberikan saran tentang kesehatan dan saat mendapat laporan keluhan dari pasiennya. Perawat juga sering bersikap emosional pada pasien jika saran dan anjurannya tidak dilaksanakan oleh pasien. Peneliti juga menemukan perawat jarang bahkan cenderung tidak melakukan komunikasi teapeutik dengan baik terhadap pasiennya, komunikasi hanya dilakukan sekedarnya saja. Perawat yang tidak mampu menguasai emosinya, kemungkinan besar akan berdampak pada

pelayanan atau asuhan keperawatan yang diberikannya. Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang "hubungan antara kecerdasan emosi dengan sikap perawat ketika memberikan asuhan keperawatan di Badan Pelayanan Umum Daerah (BLUD) Rumah Sakit Jiwa Provinsi Aceh Provinsi Aceh tahun 2013.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah hubungan antara kecerdasan emosi dengan pemberian asuhan keperawatan di Badan Pelayanan Umum Daerah (BLUD) Rumah Sakit Jiwa Provinsi Aceh Provinsi Aceh tahun 2013 . C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosi dengan pemberian asuhan keperawatan di Badan Pelayanan Umum Daerah (BLUD) Rumah Sakit Jiwa Provinsi Aceh Provinsi Aceh tahun 2013. 2. Tujuan Khusus a. Untuk dapat mengidentifikasikan kecerdasan emosi perawat dalam pemberian asuhan keperawatan di Badan Pelayanan Umum Daerah (BLUD) Rumah Sakit Jiwa Provinsi Aceh Provinsi Aceh tahun 2013. b. Untuk dapat mengidentifikasi pemberian asuhan keperawatan di Badan

Pelayanan Umum Daerah (BLUD) Rumah Sakit Jiwa Provinsi Aceh Provinsi Aceh tahun 2013. c. Untuk dapat mengidentifikasikan hubungan antara kecerdasan emosi dengan pemberian asuhan keperawatan di Badan Pelayanan Umum Daerah (BLUD) Rumah Sakit Jiwa Provinsi Aceh Provinsi Aceh tahun 2013.

D. Manfaat Penelitian 1. Pengembangan Peneliti Sebagai proses dalam menambah pengetahuan dan wawasan peneliti dengan cara mengaplikasikan ilmu dan teori teori yang diperolehnya dalam masa perkuliahan serta mendapatkan pengalaman nyata dalam menganalisis sebagai penelitian pemula terhadap hubungan antara kecerdasan emosi dengan pemberian asuhan keperawatan pada pasien gangguan jiwa. 2. Bagi Perawat Memberikan masukan kepada perawat tentang pentingnya kecerdasan emosi dengan sikap perawat ketika memberikan asuhan perawat pasien gangguan jiwa.. 3. Bagi Instansi Kesehatan Dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan di Badan Pelayanan Umum Daerah (BLUD) Rumah Sakit Jiwa Provinsi Aceh Provinsi. Sehingga dapat mengusulkan dilakukan pelatihan asertifitas untuk meningkatkan kualitas dari pelayanan