You are on page 1of 40

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Malnutrisi energi protein (MEP) merupakan salah satu dari empat masalah gizi utama di Indonesia. Prevalensi yang tinggi terdapat pada anak di bawah umur lima tahun (balita) serta pada ibu hamil dan menyusui. Berdasarkan Riskesdas 2007, 13% balita menderita gizi kurang dan 5,4% balita menderita gizi buruk. Pada Risdesdas 2010, 13% balita menderita gizi kurang sedangkan angka gizi buruk turun menjadi 4,9% 1,2.

Berdasarkan lama dan beratnya

kekurangan energi

protein,

MEP

diklasifikasikan menjadi MEP derajat ringan-sedang (gizi kurang) dan MEP derajat berat (gizi buruk). Gizi kurang belum menunjukkan gejala klinis yang khas, hanya dijumpai gangguan pertumbuhan dan anak tampak kurus. Pada gizi buruk, di samping gejala klinis didapatkan kelainan biokimia sesuai dengan bentuk klinis. Pada gizi buruk didapatkan 3 bentuk klinis yaitu kwashiorkor, marasmus, dan marasmik kwashiorkor, walaupun demikian penatalaksanaannya sama 1.

Kwashiorkor adalah sindrom klinis yang diakibatkan dari defisiensi protein berat dan asupan kalori yang tidak adekuat. Penyebab terjadinya kwashiorkor adalah inadekuatnya intake protein yang berlangsung kronis. Anak penderita kwashiorkor secara umum mempunyai ciri-ciri pucat, kurus, atrofi pada ekstremitas, adanya edema pedis dan pretibial serta asites 3,4.

Pentingnya memperhatikan asupan makanan bagi anak harus disadari oleh semua orang tua agar tidak terjadi defisit kronis yang menyebabkan kwashiorkor. Di sisi lain orang tua tidak semua paham akan nutrisi yang diperlukan bagi

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

pertumbuhan anak. Orang tua juga perlu mengetahui ciri-ciri bila anak menderita kwashorkor dan memerlukan tindakan kuratif 3,4.

1.2 TUJUAN

Tujuan penulisan referat ini adalah untuk menguraikan hal-hal yang berkenaan dengan cara mendiagnosa gizi buruk dan cara penanggulangannya serta dalam rangka menyelesaikan tugas kepaniteraan klinik. Dokter muda diharapkan dapat memahami dan mengetahui penatalaksanaan gizi buruk, serta penanggulangan dan pencegahannya sehingga diharapkan dapat melakukan usaha-usaha promosi, preventif, kuratif, maupun rehabilitatif terutama di bidang kedokteran.

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI

Kwashiorkor adalah sindrom klinis yang diakibatkan dari defisiensi protein berat dan asupan kalori yang tidak adekuat. Dari kekurangan masukan atau dari kehilangan yang berlebihan atau kenaikan angka metabolik yang disebabkan oleh infeksi kronik, akibat defisiensi vitamin dan mineral dapat turut menimbulkan tandatanda dan gejala-gejala tersebut. Kwashiorkor berarti anak tersingkirkan, yaitu anak yang tidak lagi menghisap, dapat menjadi jelas sejak masa bayi awal sampai sekitar usia 5 tahun, biasanya sudah menyapih dari ASI.

Walaupun pertambahan tinggi dan berat dipercepat dengan pengobatan, ukuran ini tidak pernah sama dengan tinggi dan berat badan anak yang secara tetap bergizi baik 3,4.

Klasifikasi MEP berdasarkan WHO-NCHS Menurut pengukuran berat badan: a. MEP Ringan (BB/U) 70-80% atau (BB/TB) 80-90% b. MEP Sedang (BB/U) 60-70% atau (BB/TB) 70-80% c. MEP Berat (BB/U) <60% atau (BB/TB) <70%

Menurut bentuk klinis: a. Marasmus b. Kwashiorkor c. Marasmus-Kwashiorkor

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

Tanpa melihat berat badan bila disertai edema yang bukan karena penyakit lain adalah MEP berat/ gizi buruk tipe Kwashiorkor.

Klasifikasi menurut McLarren Gejala klinis/laboratoris Edema Dermatosis Edema di sertai dermatosis Perubahan pada rambut Hepatomegali Angka 3 2 6 1 1

Albumin serum atau < 1.00 1-1,49 1.50-1.99 2.00-2.49 2.50-2.99 3,00-3,49 3,50-3,99 <400

protein total serum 3,25 3,25-3,99 4.00-4.75 4,75-5,49 5,50-6,24 6,25-6,99 7,00-7,74 >7,75

Angka 7 6 5 4 3 2 1 0

Keterangan: 0-3 poin 4-8 poin 9-15 = marasmus = marasmik kwashiorkor = kwashiorkor

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

2.2 ETIOLOGI

Etiologi dari kwashiorkor adalah 1. Kekurangan intake protein 2. Gangguan penyerapan protein pada diare kronik 3. Kehilangan protein secara berlebihan seperti pada proteinuria dan infeksi kronik 4. Gangguan sintesis protein seperti pada penyakit hati kronis.

Penyebab terjadinya kwashiorkor adalah inadekuatnya intake protein yang berlangsung kronis. Faktor yang dapat menyebabkan hal tersebut antara lain 7 : 1. Pola makan Protein (asam amino) adalah zat yang sangat dibutuhkan anak untuk tumbuh dan berkembang. Meskipun intake makanan mengandung kalori yang cukup, tidak semua makanan mengandung protein / asam amino yang memadai. Bayi yang masih menyusui umumnya mendapatkan protein dari ASI yang diberikan ibunya, namun bagi yang tidak memperoleh ASI protein dari sumber-sumber lain (susu, telur, keju, tahu dll) sangatlah dibutuhkan. Kurangnya pengetahuan ibu mengenai keseimbangan nutrisi anak berperan penting terhadap terjadi kwashiorkhor, terutama pada masa peralihan ASI ke makanan pengganti ASI. 2. Faktor sosial Hidup di negara dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, keadaan sosial dan politik tidak stabil, ataupun adanya pantangan untuk menggunakan makanan tertentu dan sudah berlangsung turun temurun dapat menjadi hal yang menyebabkan terjadinya kwashiorkor 4. 3. Faktor ekonomi Kemiskinan keluarga / penghasilan yang rendah yang tidak dapat memenuhi kebutuhan berakibat pada keseimbangan nutrisi anak tidak terpenuhi, saat dimana ibunya pun tidak dapat mencukupi kebutuhan proteinnya.

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

4. Faktor infeksi dan penyakit lain Telah lama diketahui bahwa adanya interaksi sinergis antara MEP dan infeksi. Infeksi derajat apapun dapat memperburuk keadaan gizi. Dan sebaliknya MEP, walaupun dalam derajat ringan akan menurunkan imunitas tubuh terhadap infeksi. Seperti gejala malnutrisi protein disebabkan oleh gangguan penyerapan protein, misalnya yang dijumpai pada keadaan diare kronis, kehilangan protein secara tidak normal pada proteinuria (nefrosis), infeksi saluran pencernaan, serta kegagalan mensintesis protein akibat penyakit hati yang kronis.

2.3 PATOFISIOLOGI

MEP adalah manifestasi dari kurangnya asupan protein dan energi, dalam makanan sehari-hari yang tidak memenuhi angka kecukupan gizi (AKG), dan biasanya juga diserta adanya kekurangan dari beberapa nutrisi lainnya 7.

Disebut malnutrisi primer bila kejadian MEP akibat kekurangan asupan nutrisi, yang pada umumnya didasari oleh masalah sosial ekonomi, pendidikan serta rendahnya pengetahuan di bidang gizi. Malnutrisi sekunder bila kondisi masalah nutrisi seperti di atas disebabkan karena adanya penyakit utama, seperti kelainan bawaan, infeksi kronis ataupun kelainan pencernaan dan metabolik, yang mengakibatkan kebutuhan nutrisi meningkat, penyerapan nutrisi yang turun dan/meningkatnya kehilangan nutrisi 8.

Makanan yang tidak adekuat, akan menyebabkan mobilisasi berbagai cadangan makanan untuk menghasilkan kalori demi penyelamatan hidup, dimulai dengan pembakaran cadangan karbonhidrat kemudian cadangan lemak serta protein dengan melalui proses katabolik. Kalau terjadi stress katabolik (infeksi) maka kebutuhan protein akan meningkat, sehingga dapat menyebabkan defisiensi protein yang relatif, kalau kondisi ini terjadi pada saat status gizi masih di atas -3 SD (-2SD6

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

-3SD),

maka

terjadilah

kwashiorkor

(malnutrisi

akut

/decompensated

malnutrition). Pada kondisi ini penting peranan radikal bebas dan anti oksidan. Bila stres katabolik ini terjadi pada saat status gizi di bawah -3 SD, maka akan terjadilah marasmik-kwashiorkor. Kalau kondisi kekurangan ini terus dapat teradaptasi sampai di bawah -3 SD maka akan terjadilah marasmik (malnutrisi kronik / compensated malnutrition) 8.

Dengan demikian pada MEP dapat terjadi: gangguan pertumbuhan, atrofi otot, penurunan kadar albumin serum, penurunan hemoglobin, penurunan sistem kekebalan tubuh, penurunan berbagai sintesis enzim 6,8.

2.4 PATOLOGI

Pada defisiensi protein murni tidak terjadi katabolisme jaringan yang sangat berlebihan karena persediaan energi dapat dipenuhi oleh jumlah kalori dalam dietnya. Kelainan yang mencolok adalah gangguan metabolik dan perubahan sel yang disebabkan edema dan perlemakan hati. Karena kekurangan protein dalam diet akan terjadi kekurangan berbagai asam amino dalam serum yang jumlahnya yang sudah kurang tersebut akan disalurkan ke jaringan otot, makin kurangnya asam amino dalam serum ini akan menyebabkan kurangnya produksi albumin oleh hepar yang kemudian berakibat timbulnya odema. Perlemakan hati terjadi karena gangguan pembentukan beta lipoprotein, sehingga transport lemak dari hati terganggu dengan akibat terjadinya penimbunan lemak dalam hati 6,8.

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

Gambar 1 Mekanisme edema pada kwashiorkor

2.5 MANIFESTASI KLINIS

Tanda atau gejala yang dapat dilihat pada anak dengan malnutrisi energi protein kwashiorkor, antara lain 5,6: 1. Wujud Umum Secara umumnya penderita kwashiorkor tampak pucat, kurus, atrofi pada ekstremitas, adanya edema pedis dan pretibial serta asites. Muka penderita ada tanda moon face dari akibat terjadinya edema. Penampilan anak kwashiorkor seperti anak gemuk (sugar baby). 2. Retardasi Pertumbuhan Gejala penting ialah pertumbuhan yang terganggu. Selain berat badan, tinggi badan juga kurang dibandingkan dengan anak sehat.

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

3. Perubahan Mental Biasanya penderita cengeng, hilang nafsu makan dan rewel. Pada stadium lanjut bisa menjadi apatis. Kesadarannya juga bisa menurun, dan anak menjadi pasif. Perubahan mental bisa menjadi tanda anak mengalami dehidrasi. Gizi buruk dapat mempengaruhi perkembangan mental anak. Terdapat dua hipotesis yang menjelaskan hal tersebut: karakteristik perilaku anak yang gizinya kurang menyebabkan penurunan interaksi dengan lingkungannya dan keadaan ini selanjutnya akan menimbulkan outcome perkembangan yang buruk, hipotesis lain mengatakan bahwa keadaan gizi buruk mengakibatkan perubahan struktural dan fungsional pada otak. 4. Edema Pada sebagian besar penderita ditemukan edema baik ringan maupun berat. Edemanya bersifat pitting. Edema terjadi bisa disebabkan hipoalbuminemia, gangguan dinding kapiler, dan hormonal akibat dari gangguan eliminasi ADH. 5. Kelainan Rambut Perubahan rambut sering dijumpai, baik mengenai bangunnya (texture), maupun warnanya. Sangat khas untuk penderita kwashiorkor ialah rambut kepala yang mudah tercabut tanpa rasa sakit. Pada penderita kwashiorkor lanjut, rambut akan tampak kusam, halus, kering, jarang dan berubah warna menjadi putih. Sering bulu mata menjadi panjang. Rambut yang mudah dicabut di daerah temporal (Signo de la bandera) terjadi karena kurangnya protein menyebabkan degenerasi pada rambut dan kutikula rambut yang rusak. Rambut terdiri dari keratin (senyawa protein) sehingga kurangnya protein akan menyebabkan kelainan pada rambut. Warna rambut yang merah (seperti jagung) dapat diakibatkan karena kekurangan vitamin A, C, E.

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

Gambar 2 kelainan rambut pada kwashiorkor

6. Kelainan Kulit Kulit penderita biasanya kering dengan menunjukkan garis-garis kulit yang lebih mendalam dan lebar. Sering ditemukan hiperpigmentasi dan persisikan kulit karena habisnya cadangan energi maupun protein. Pada sebagian besar penderita dtemukan perubahan kulit yang khas untuk penyakit kwashiorkor, yaitu crazy pavement dermatosis yang merupakan bercak-bercak putih atau merah muda dengan tepi hitam ditemukan pada bagian tubuh yang sering mendapat tekanan. Terutama bila tekanan itu terus-menerus dan disertai kelembapan oleh keringat atau ekskreta, seperti pada bokong, fosa poplitea, lutut, buku kaki, paha, lipat paha, dan sebagainya. Perubahan kulit demikian dimulai dengan bercak-bercak kecil merah yang dalam waktu singkat bertambah dan berpadu untuk menjadi hitam. Pada suatu saat mengelupas dan memperlihatkan bagian-bagian yang tidak mengandung pigmen, dibatasi oleh tepi yang masih hitam oleh hiperpigmentasi. Kurangnya nicotinamide dan tryptophan menyebabkan gampang terjadi radang pada kulit.

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

10

Gambar 3 crazy pavement dermatosis

7. Kelainan Gigi dan Tulang Pada tulang penderita kwashiorkor didapatkan dekalsifikasi, osteoporosis, dan hambatan pertumbuhan. Sering juga ditemukan caries pada gigi penderita. 8. Kelainan Hati Pada biopsi hati ditemukan perlemakan, bisa juga ditemukan biopsi hati yang hampir semua sela hati mengandung vakuol lemak besar. Sering juga ditemukan tanda fibrosis, nekrosis, dan infiltrasi sel mononukleus. Perlemakan hati terjadi akibat defisiensi faktor lipotropik. 9. Kelainan Darah dan Sumsum Tulang Anemia ringan selalu ditemukan pada penderita kwashiorkor. Bila disertai penyakit lain, terutama infestasi parasit (ankilostomiasis, amoebiasis) maka dapat dijumpai anemia berat. Anemia juga terjadi disebabkan kurangnya nutrien yang penting untuk pembentukan darah seperti Ferum, vitamin B kompleks (B12, folat, B6). Kelainan dari pembentukan darah dari hipoplasia atau aplasia sumsum tulang disebabkan defisiensi protein dan infeksi menahun. Defisiensi protein juga menyebabkan gangguan pembentukan sistem kekebalan tubuh. Akibatnya terjadi defek umunitas seluler, dan gangguan sistem komplimen.

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

11

10. Kelainan Pankreas dan Kelenjar Lain Di pankreas dan kebanyakan kelenjar lain seperti parotis, lakrimal, saliva dan usus halus terjadi perlemakan. Pada pankreas terjadi atrofi sel asinus sehingga menurunkan produksi enzim pankreas terutama lipase. 11. Kelainan Jantung Bisa terjadi miodegenerasi jantung dan gangguan fungsi jantung disebabkan hipokalemi dan hipomagnesemia. 12. Kelainan Gastrointestinal Gejala gastrointestinal merupakan gejala yang penting. Anoreksia kadang-kadang demikian hebatnya, sehingga segala pemberian makanan ditolak dan makanan hanya dapat diberikan dengan sonde lambung. Diare terdapat pada sebagian besar penderita. Hal ini terjadi karena 3 masalah utama yaitu berupa infeksi atau infestasi usus, intoleransi laktosa, dan malabsorbsi lemak. Intoleransi laktosa disebabkan defisiensi laktase. Malabsorbsi lemak terjadi akibat defisiensi garam empedu, konjugasi hati, defisiensi lipase pankreas, dan atrofi villi mukosa usus halus. Pada anak dengan gizi buruk dapat terjadi defisiensi enzim disakaridase. 13. Atrofi Otot Massa otot berkurang karena kurangnya protein. Protein juga dibakar untuk dijadikan kalori demi penyelamatan hidup. 14. Kelainan Ginjal Malnutrisi energi protein dapat mengakibatkan terjadi atrofi glomerulus sehingga GFR menurun.

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

12

Gambar 4 gejala klinis kwashiorkor

2.6 DIAGNOSIS

Anamnesis Keluhan yang sering ditemukan adalah pertumbuhan yang kurang, anak kurus, atau berat badannya kurang. Selain itu ada keluhan anak kurang/tidak mau makan, sering menderita sakit yang berulang atau timbulnya bengkak pada kedua kaki, kadang sampai seluruh tubuh 6,7. Pemeriksaan Fisik 1. Perubahan mental sampai apatis 2. Anemia

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

13

3. Perubahan warna dan tekstur rambut, mudah dicabut / rontok 4. Gangguan sistem gastrointestinal 5. Pembesaran hati 6. Perubahan kulit (dermatosis) 7. Atrofi otot 8. Edema simetris pada kedua punggung kaki, dapat sampai seluruh tubuh

Marasmus : Marasmik-kwashiorkor : terdapat tanda dan gejala klinis marasmus dan kwashiorkor secara bersamaan. Gejala klinis marasmus antara lain: Penampilan wajah seperti orang tua, terlihat sangat kurus. Perubahan mental, cengeng. Kulit kering, dingin dan mengendor, keriput. Lemak subkutan menghilang hingga turgor kulit berkurang. Otot atrofi sehingga kontur tulang terlihat jelas. Kadang-kadang terdapat bradikardi. Tekanan darah lebih rendah dibandingkan anak sehat yang sebaya.

Hasil pemeriksaan pada anak dengan MEP: 1. Kondisi I Jika ditemukan: a. Renjatan (Shock) b. Letargis c. Muntah dan atau diare atau dehidrasi

2. Kondisi II Jika ditemukan: a. Letargis b. Muntah dan atau diare atau dehidrasi

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

14

3. Kondisi III Jika ditemukan: muntah dan atau diare atau dehidrasi

4. Kondisi IV Jika ditemukan letargis

5. Kondisi V Jika tidak ditemukan: a. Renjatan (Shock) b. Letargis c. Muntah/diare/dehidrasi

Penyakit penyerta yang sering ditemui pada MEP: 1. Gangguan mata 2. Gangguan kulit 3. Diare persisten 4. Anemia berat 5. Parasit/cacing 6. Tuberkulosis 7. Malaria 8. HIV

2.7 DIAGNOSIS BANDING Adanya edema serta ascites pada bentuk kwashiorkor perlu dibedakan dengan 4: 1. Trauma 2. Sindroma nefrotik 3. Payah jantung kongestif 4. Pellagra infantil 15

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

2.8 PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan penunjang yang diperlukan: 1. Pemeriksaan laboratorium: kadar gula darah, darah tepi lengkap, feses lengkap, elektrolit serum, protein serum (albumin, globulin), feritin. Pada pemeriksaan laboratorium, anemia selalu ditemukan terutama jenis normositik normokrom karena adanya gangguan sistem eritropoesis akibat hipoplasia kronis sumsum tulang di samping karena asupan zat besi yang kurang dalam makanan, kerusakan hati dan gangguan absorbsi. Selain itu dapat ditemukan kadar albumin serum yang menurun 4. 2. Pemeriksaan radiologi (dada, AP dan lateral) juga perlu dilakukan untuk menemukan adanya kelainan pada paru. 3. Tes mantoux 4. EKG

2.9 KOMPLIKASI

Anak dengan kwashiorkor akan lebih mudah untuk terkena infeksi dikarenakan lemahnya sistem imun. Tinggi maksimal dan kempuan potensial untuk tumbuh tidak akan pernah dapat dicapai oleh anak dengan riwayat kwashiorkor. Bukti secara statistik mengemukakan bahwa kwashiorkor yang terjadi pada awal kehidupan (bayi dan anak-anak) dapat menurunkan IQ secara permanen. Komplikasi lain yang dapat ditimbulkan dari kwashiorkor adalah 4,6: 1. Defisiensi zat besi 2. Hiperpigmentasi kulit 3. Edema anasarka 4. Imunitas menurun sehingga mudah infeksi 5. Diare karena terjadi atrofi epitel usus 6. Hipoglikemia, hipomagnesemia 16

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

Refeeding syndrome adalah salah satu komplikasi metabolik dari dukungan nutrisi pada pasien malnutrisi berat yang ditandai oleh hipofosfatemia, hipokalemia, dan hipomagnesemia. Hal ini terjadi sebagai akibat perubahan sumber energi utama metabolisme tubuh, dari lemak pada saat kelaparan menjadi karbonhidrat yang diberikan sebagai bagian dari dukungan nutrisi, sehingga terjadi peningkatan kadar insulin serta perpindahan elektrolit yang diperlukan untuk metabolism intraseluler. Secara klinis pasien dapat mengalami disritmia, gagal jantung, gagal napas akut, koma paralisis, nefropati, dan disfungsi hati. Oleh sebab itu dalam pemberian dukungan nutrisi pada pasien malnutrisi berat perlu diberikan secara bertahap 4.

2.10

TATA LAKSANA

MEP berat ditata laksana melalui 3 fase (stabilisasi, transisi dan rehabilitasi) dengan 10 langkah tindakan seperti tabel di bawah ini 7,8 :

Tabel 1. Sepuluh langkah tata laksana MEP berat No Fase Stabilisasi Transisi Rehabilitasi Minggu ke 3-7

Hari ke 1-2 Hari ke 2- Minggu ke-2 7 1 2 3 4 5 6 Hipoglikemia Hipotermia Dehidrasi Elektrolit Infeksi Mulai pemberian

makanan F-75 7 Pemberian makanan

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

17

untuk tumbuh kejar F-100 8 9 10 Mikronutrien Stimulasi Tindak Lanjut Tanpa Fe Dengan Fe

Tabel 2. Komposisi F-75, F-100, dan F-135 beserta nilai gizi masing-masing formula Bahan makanan Formula WHO Susu skim bubuk Gula pasir Minyak sayur Larutan elektrolit Air sampai Nilai gizi g g g ml ml 25 100 30 20 1000 85 50 60 20 1000 90 65 75 27 1000 Per 1000 ml F-75 F-100 F-135

Energi Protein Laktosa Kalium Natrium Magnesium Seng Tembaga (Cu) % Energi protein % Energi lemak Osmolaritas

Kkal g g mmol mmol mmol mg mg mosm/l

750 9 13 36 6 4,3 20 2,5 5 36 413

1000 29 42 59 19 7,3 23 2,5 12 53 419

1350 33 48 63 22 8 30 3,4 10 57 508

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

18

Cara membuat formula WHO Formula WHO 75 Campurkan gula dan minyak sayur, aduk sampai rata dan tambahkan larutan mineral mix, kemudian masukkan susu skim sedikit demi sedikit, aduk sampai kalis dan berbentuk gel. Encerkan dengan air hangat sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai homogen dan volume menjadi 1000 ml. Larutan ini bisa langsung diminum. Masak selama 4 menit, bagi anak yang disentri atau diare persisten.

Formula WHO 100 Campurkan gula dan minyak sayur, aduk sampai rata dan tambahkan larutan mineral mix, kemudian masukkan susu skim sedikit demi sedikit, aduk sampai kalis dan berbentuk gel. Encerkan dengan air hangat sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai homogen dan volume menjadi 1000 ml. Larutan ini bisa langsung diminum atau dimasak dulu selama 4 menit.

Medikamentosa 1. Pengobatan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit Rehidrasi secara oral dengan Resomal, secara parenteral hanya pada dehidrasi berat atau syok

2. Atasi/cegah hipoglikemi GDA < 50 mg/dl 50 ml D10% bolus IV evaluasi tiap 2 jam beri makanan tiap 2 jam

3. Atasi gangguan elektrolit Beri cairan rendah Na (resomal) Makanan rendah garam

4. Atasi/cegah dehidrasi Penilaian dehidrasi denyut nadi, pernafasan, frekuensi kencing, air mata. 19

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

Cairan resomal peroral 5 ml/kgbb

5. Atasi/cegah hipotermi Suhu < 36C hangatkan, berikan makanan tiap 2 jam

6. Antibiotika sebagai pengobatan pencegahan infeksi: a. Bila tidak jelas ada infeksi, berikan kotrimoksasol selama 5 hari b. Bila infeksi nyata: Ampisilin IV selama 2 hari, dilanjutkan dengan oral sampai 7 hari, ditambah dengan gentamisin IM selama 7 hari

7. Mulai pemberian makanan Fase awal faali hemostasis kurang jadi harus hati-hati Pemberian porsi kecil, sering, rendah laktosa oral nasogastrik Kalori 80-100 kal/Kgbb/ hari, cairan 130 ml/hari

8. Atasi penyakit penyerta yang ada sesuai pedoman a. Bila ada ulkus di mata diberikan: i. Tetes mata chloramphenicol atau salep mata tetracycline, setiap 2-3 jam selama 7-10 hari ii. Teteskan tetes mata atropin, 1 tetes 3 kali sehari selama 3-5 hari iii. Tutup mata dengan kasa yang dibasahi larutan garam faali b. Dermatosis Dermatosis ditandai adanya hipo/hiperpigmentasi, deskuamasi (kulit mengelupas), lesi ulcerasi eksudatif, menyerupai luka bakar, sering disertai infeksi sekunder, antara lain oleh Candida. Tatalaksana: i. Kompres bagian kulit yang terkena dengan larutan KmnO (kaliumpermanganat) 1% selama 10 menit ii. Beri salep atau krim (Zn dengan minyak katsor) iii. Usahakan agar daerah perineum tetap kering 20

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

iv. Umumnya terdapat defisiensi seng (Zn): beri preparat Zn peroral c. Parasit/cacing Beri Mebendazole 100 mg oral, 2 kali sehari selama 3 hari, atau preparat antelmintik. d. Diare melanjut Diobati bila hanya diare berlanjut dan tidak ada perbaikan keadaan umum. Berikan formula bebas/rendah lactosa. Sering kerusakan mukosa usus dan Giardiasis merupakan penyebab lain dari melanjutnya diare. Bila mungkin, lakukan pemeriksaan tinja mikroskopik. Beri: Metronidazole 7,5 mg/kgBB setiap 8 jam selama 7 hari. e. Tuberkulosis Pada setiap kasus gizi buruk, lakukan tes tuberkulin/mantoux (seringkali alergi) dan foto toraks. Bila positif atau sangat mungkin TB, diobati sesuai pedoman pengobatan TB.

9. Vitamin A (dosis sesuai usia, yaitu <6 bulan : 50.000 SI, 6-12 bulan : 100.000 SI, >1 tahun : 200.000 SI) pada awal perawatan dan hari ke-15 atau sebelum pulang

10. Multivitamin-mineral, khusus asam folat hari pertama 5 mg, selanjutnya 1 mg per hari.

11. Tindakan kegawatan a. Syok (renjatan) Syok karena dehidrasi atau sepsis sering menyertai KEP berat dan sulit membedakan keduanya secara klinis saja. Syok karena dehidrasi akan membaik dengan cepat pada pemberian cairan intravena, sedangkan pada sepsis tanpa dehidrasi tidak akan membaik dengan cepat. Hati-hati terhadap terjadinya overhidrasi.

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

21

Pedoman pemberian cairan: Berikan larutan dextrosa 5% : NaCl 0.9% (1:1) atau larutan ringer dengan kadar dextrosa 5% sebanyak 15 ml/KgBB dalam satu jam pertama. Evaluasi setelah 1 jam: i. Bila ada perbaikan klinis (kesadaran, frekuensi nadi dan pernafasan) dan status hidrasi, maka syok disebabkan dehidrasi. Ulangi pemberian cairan seperti di atas untuk 1 jam berikutnya, kemudian lanjutkan dengan pemberian Resomal/penggantil, per oral/nasogastrik, 10 ml/kgBB/jam selama 10 jam, selanjutnya mulai berikan formula khusus (-75/pengganti). ii. Bila tidak ada perbaikan klinis maka anak menderita syok septik. Dalam hal ini, berikan cairan rumat sebanyak 4 ml/kgBB/jam dan berikan transfusi darah sebanyak 10 ml/kgBB secara perlahan-lahan (dalam 3 jam). Kemudian mulailah pemberian formula (F-75/pengganti). b. Anemia berat Tranfusi darah diperlukan bila: i. Hb < 4 g/dl ii. Hb 4-6 g/dl disertai distress pernafasan atau tanda gagal jantung

Tranfusi darah: 1. Berikan darah segar 10 ml/kgBB dalam 3 jam Bila ada tanda gagal jantung, gunakan packed red cells untuk transfusi dengan jumlah yang sama. 2. Beri furosemid 1 mg/kgBB secara i.v pada saat transfusi dimulai. Perhatikan adanya reaksi tranfusi (demam, gatal, Hb-uria, syok). Bila pada anak dengan distres nafas setelah transfusi Hb tetap < 4 g/dl atau antara 4-6 g/dl, jangan ulangi pemberian darah 3.

12. Berikan stimulasi sensorik dan dukungan emosional Kasih sayang, lingkungan yang ceria, bermain

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

22

13. Tindak lanjut di rumah Beri makanan sering energi dan protein padat

Tabel 3. Cara membuat Resomal Terdiri dari: Bubuk WHO-ORS* /Oralit untuk 200 ml Gula pasir Larutan elektrolit/mineral mix** Ditambah air sampai larutan menjadi 1 pak 10 gram 8 ml 400 ml

Setiap 1 liter cairan Resomal ini mengandung 37,5 mEq Na, 40 mEq, dan 1,5 mEq Mg *Bubuk WHO-ORS untuk 1 liter mengandung 2,6 g NaCl, 2,9 g trisodium citrat sesuai formula baru, 1,5 g KCl dan 13,5 gram glukosa.

Tabel 4. Komposisi larutan mineral mix Kandungan Kalium klorida Trikalium sitrat Magnesium klorida (MgCl2.6H2O) Seng asetat Tembaga sulfat Natrium selenate Kalium iodide Tambahkan air sampai volume mencapai Jumlah 89,5 g 32,4 g 30,5 g 3,3 g 0,56 g 10 mg 5 mg 1000 ml

Suportif / Dietetik 1. Oral (enteral): sesuai kebutuhan energi, protein dan cairan sesuai fase-fase tata laksana gizi buruk 2. Intravena (parenteral): hanya atas indikasi tepat. Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa 23

Tabel 5. Kebutuhan energi, protein dan cairan sesuai fase-fase tata laksana gizi buruk Stabilisasi (F75) Transisi (F75 F100) Rehabilitasi (F100)

Energi Protein Cairan

80-100 kkal/kgbb/hr 1-1,5 g/kgbb/hr 100-130 ml/kgbb/hr

100-150 kkal/kgbb/hr 2-3 g/kgbb/hr Bebas sesuai kebutuhan

15-220/kgbb/hr 4-6 g/kgbb/hr

Bila ada edema berat: energi 100 ml/kgbb/hr

Hal penting yang harus diperhatikan: 1. Jangan beri Fe sebelum minggu ke-2 2. Jangan berikan cairan IV, kecuali syok atau dehidrasi berat 3. Jangan beri protein terlalu tinggi 4. Jangan beri diuretik pada kwashiorkor 5. Jangan beri infus albumin pada kwashiorkor

Memberikan Stimulasi Sensorik dan Dukungan Emosional Pada anak gizi buruk terjadi perkembangan mental dan perilaku karenanya harus diberikan: 1. Kasih sayang 2. Lingkungan yang ceria 3. Terapi bermain terstuktur selama 15 30 menit/hari (permainan ci luk ba, dll) 4. Aktifitas Fisik segera setelah sembuh 5. Keterlibatan ibu (memberi makan, memandikan, bermain dan sebagainya.

Kriteria Pemulangan Balita Gizi Buruk dari Ruang Rawat Inap 1. Balita: a. Selera makan sudah bagus, makanan yang diberikan dapat dihabiskan b. Ada perbaikan kondisi mental

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

24

c. Balita sudah dapat tersenyum, duduk, merangkak, berdiri atau berjalan, sesuai dengan umurnya d. Suhu tubuh berkisar antara 36,5 37,5 C e. Tidak ada muntah atau diare f. Tidak ada edema g. Terdapat kenaikan berat badan > 5 g/kgBB/hr selama 3 hari berturut-turut atau kenaikan sekitar 50 g/kgBB/minggu selama 2 minggu berturut-turut h. Sudah berada di kondisi gizi kurang (sudah tidak gizi buruk) 2. Ibu / Pengasuh: a. Sudah dapat membuat makanan yang diperlukan untuk tumbuh kejar di rumah b. Ibu sudah mampu merawat serta memberikan makan dengan benar kepada balita 3. Institusi Lapangan: Institusi lapangan telah siap untuk menerima rujukan pasca perawatan. Pemantauan 1. Kriteria Sembuh: BB/TB > -2 SD 2. Tumbuh Kembang: a. Memantau status gizi secara rutin dan berkala b. Memantau perkembangan psikomotor 3. Edukasi Memberikan pengetahuan pada orang tua tentang: a. Pengetahuan gizi b. Melatih ketaatan dalam pemberian diet c. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan

Tindak Lanjut di Rumah Bagi Anak Gizi Buruk 1. Bila gejala klinis dan BB/TB-PB -2 SD dapat dikatakan anak sembuh 2. Pola pemberian makan yang baik dan stimulasi harus tetap dilanjukan di rumah setelah penderita dipulangkan

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

25

Beri contoh kepada orang tua: 1. Menu dan cara membuat makanan dengan kandungan energi dan zat gizi yang padat, sesuai dengan umur, berat badan anak. 2. Terapi bermain terstuktur

Sarankan: 1. Memberikan makanan dengan porsi kecil dan sering, sesuai dengan umur anak 2. Membawa anaknya kembali untuk kontrol secara teratur: Bulan I : 1x/minggu Bulan II : 1x/2 minggu Bulan III-IV : 1x/bulan 3. Pemberian suntikan/imunisasi dasar dan ulangan (booster) 4. Pemberian vitamin A dosis tinggi setiap 6 bulan sekali (dosis sesuai umur)

Langkah Promotif/Preventif Malnutrisi energi protein merupakan masalah gizi yang multifaktorial. Tindakan pencegahan bertujuan untuk mengurangi insidens dan menurunkan angka kematian. Oleh karena ada beberapa faktor yang menjadi penyebab timbulnya masalah tersebut, maka untuk mencegahnya dapat dilakukan beberapa langkah, antara lain 4: a. Pola Makan Penyuluhan pada masyarakat mengenai gizi seimbang (perbandingan jumlah karbonhidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral berdasarkan umur dan berat badan) b. Pemantauan tumbuh kembang dan penentuan status gizi secara berkala (sebulan sekali pada tahun pertama) c. Faktor sosial Mencari kemungkinan adanya pantangan untuk menggunakan bahan makanan tertentu yang sudah berlangsung secara turun-temurun dan dapat menyebabkan terjadinya MEP.

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

26

d. Faktor ekonomi Dalam World Food Conference di Roma tahun 1974 telah dikemukakan bahwa meningkatnya jumlah penduduk yang cepat tanpa diimbangi dengan bertambahnya persediaan bahan makanan setempat yang memadai merupakan sebab utama krisis pangan, sedangkan kemiskinan penduduk merupakan akibat lanjutannya. Ditekankan pula perlunya bahan makanan yang bergizi baik di samping kuantitasnya. e. Faktor infeksi Telah lama diketahui adanya interaksi sinergis antara MEP dan infeksi. Infeksi derajat apapun dapat memperburuk keadaan status gizi. MEP, walaupun dalam derajat ringan, menurunkan daya tahan tubuh terhadap infeksi.

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

27

BAB III STATUS PASIEN

3.1 IDENTITAS

Nama Alamat Umur

: Alif Nurahman : Kampung Tengoh : 5 tahun 6 bulan

Jenis Kelamin : Laki-laki Berat Nama Ayah Pekerjaan Nama Ibu : 3900 gram : Andika Saputra : Wiraswasta : Ainun Mardiah

3.2 RIWAYAT PENYAKIT Alloanamnesis dilakukan dengan ibu pasien pada tanggal 18 Desember 2013.

Keluhan Utama : Telaah :

Lemas sejak 2 hari SMRS

Os datang ke RSUD langsa pada tanggal 18/12/2013 jam 10.45 WIB dengan keluhan lemas, lemas di rasakan sejak 2 hari sebelum masuk Rumah Sakit. Awalnya Os tidak mau minum susu seperti biasa, Os juga sering menangis dan rewel (+) sehingga badannya lemas.Ibu Os juga mengatakan BB Os turun 1kg dalam 1 minggu ini. Ibu Os juga mengeluhkan Os batuk (+) sesekali, batuk tidak berdahak (-) dan berdarah (-). disertai Demam,Demam naik turun setelah minum obat penurun panas,

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

28

ibu os juga mengatakan akhir-akhir ini os sering gelisah sehingga susah tidur malam malam (+), riwayat sesak di sangkal. Ibu os juga mengatakan Os sebelumnya mencret tidak di sertai muntah, mencret sebanyak 3 x dalam satu hari ini dengan konsistensi cair ,berwarna kuning dengan sedikit ampas. Riwayat BAK (+) normal dengan warna kuning tua .

RPD

: Os pernah di rawat 1 minggu lalu di RSUD langsa dengan diagnosa GE Akut : obat penurun panas dan yang membuat kencing merah : kakek di duga menderita TB Paru : Pasien tidak pernah diimunisasi

RPO RPK Riwayat imunisasi

3.3 PEMERIKSAAN FISIK

Status Present Kesadaran HR RR Temp : Composmentis : 86x/i : 28x/i : 37,6C

Pemeriksaan Fisik Kepala : Normocephali, caput (-) Rambut : tipis berwarna merah seperti jagung. Wajah Mata : sembab (+), Oedem (+) : anemis (-/-) Ikterik (-/-) Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa 29

cekung (+/+) Hidung : NCH (-) Sekret (-) Bibir : Kering (+) Sianosis (-) Lidah : Hiperemis (+).kotor (+) Beslag (-) Tonsil : T1/T1 , Hiperemis (+) Faring Leher : Hiperemis (+) : I : Simetris (+) P : Trakea midline (+) Pembesaran KGB (-) Thoraks : I : Simetris (+) P : Stem fremitus (+) P : Sonor (+) A : Vesikuler (+/+), whezing (--/--), Ronhki(-/-). Abdomen : I : Simetris (+) P : Nyeri tekan (-) Pembesaran organ (+) P : Tympani (+)

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

30

A : Peristaltik (+)

Ekstremitas

: ---

+ Oedem

Pucat

--

--

Sianosis

Status Gizi : BB Sekarang BB Seharusnya

X 100% = 3900 g x 100% 7200 g = 54 % ( Severe Malnutrisi )

3.4 PEMERIKSAAAN PENUNJANG 1. Laboratorium

a. Pemeriksaan darah rutin tgl 18-12-2013

Haemoglobin
Hematokrit Leucosite Thrombosite

8,1 g/100ml
23,4 % 6600/Uix103 494000 Uix103

Gol, Darah

b. Kimia darah Total protein

4,4 g/100 ml

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

31

Albumin Globulin Total bilirubin Direc bilirubin SGOT SGPT Urium Kreatinin Uric acid Total cholestrol Glukose (S)

2,3 g/100 ml 2,1 g /100 ml 1,0 mg/100 ml 0,5 mg/100ml 21 U/I 11 U/I 11 mg/ 100ml 0,3 mg/ 100ml 2,9 65 mg/100ml 34

c. Test elektrolit darah: Chlorida Natrium Kalium : 113mmol/L : 140mmol/L : 3,2 mmol/L

d. Urine Warna Protein Bilirubin Reduksi : : : : kuning (-) (-) (-)

Sedimen Leucosyte Erythrocyte

: 0-2/lph : (-)mg/lph

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

32

Epithel cell Ca.oxalat Cylinder

: 1- 3 /lph : 3-5 /lph : (-) mg / lph

3.5 RESUME

Keluhan Utama Telaah

: Lemas :

Os datang ke RSUD langsa pada tanggal 18/12/2013 jam 10.45 WIB dengan keluhan lemas, lemas di rasakan sejak 2 hari ini. Awalnya Os tidak mau minum susu seperti biasa, Os juga sering menangis dan rewel (+) sehingga badannya lemas.Ibu Os juga mengatakan BB Os turun 1kg dalam 1 minggu ini. Ibu Os juga mengeluhkan Os batuk (+) sesekali, batuk tidak berdahak (-) dan berdarah (-). disertai Demam naik turun, sehingga malam susah tidur (+), riwayat sesak di sangkal. Ibu os juga mengatakan Os sebelumnya mencret tidak di sertai muntah, mencret sebanyak 3 x dalam satu hari ini dengan konsistensi cair ,berwarna kuning dengan sedikit ampas. Riwayat BAK (+) normal dengan warna kuning tua . RPD GE Akut RPO RPK : Os pernah di rawat 1 minggu lalu di RSUD langsa dengan diagnosa

: Obat penurun panas dan yang membuat kencing merah : kakek di duga menderita TB Paru

Riwayat imunisasi : Pasien tidak pernah diimunisasi

Status Present Kesadaran

: Composmentis, HR: 86x/i, RR: 28x/i ,Temp: 37,6C

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

33

Pemeriksaan Fisik Inspeksi: Kepala : Normocephali, Rambut : tipis berwarna merah seperti jagung. Wajah Mata Hidung Bibir Lidah Tonsil Faring Leher Thoraks Abdomen Ekstremitas : Sembab (+),Oedem (+) : Cekung (+/+) : DBN : Kering (+) : Hiperemis (+).kotor (+) : T1/T1Hiperemis (+) : Hiperemis (+) : Simetris (+) : Simetris (+) : Simetris (+) :

Oedem

Palpasi: Leher Thoraks Abdomen : Trakea midline (+) : Stem fremitus Kn=Ki : Pembesaran organ (-)

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

34

Perkusi : Thoraks Abdomen : Sonor (+) : Tympani (+)

Auskultasi: Thoraks Abdomen : Vesikuler (+/+), whezing (--/--), Ronhki(-/-). : Peristaltik (+)

Status Gizi : BB Sekarang BB Seharusnya

X 100% = 3900 g x 100% 7200 g

= 54 % ( Severe Malnutrisi )

e. Pemeriksaan darah rutin tgl 18-12-2013

Haemoglobin Hematokrit Leucosite Thrombosite Gol, Darah

8,1 g/100ml 23,4 % 6600/Uix103 494000 Uix103 A

f. Kimia darah Total protein Albumin

4,4 g/100 ml 2,3 g/100 ml

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

35

Globulin Total bilirubin Direc bilirubin SGOT SGPT Urium Kreatinin Uric acid Total cholestrol Glukose (S)

2,1 g /100 ml 1,0 mg/100 ml 0,5 mg/100ml 21 U/I 11 U/I 11 mg/ 100ml 0,3 mg/ 100ml 2,9 65 mg/100ml 34

g. Test elektrolit darah: Chlorida Natrium Kalium h. Urine Warna Protein Bilirubin Reduksi

: 113mmol/L : 140mmol/L : 3,2 mmol/L

: : : :

kuning (-) (-) (-)

Sedimen Leucosyte Erythrocyte Epithel cell Ca.oxalat Cylinder

: : : : :

0-2/lph (-) mg/lph 1- 3 /lph 3-5 /lph (-) mg / lph

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

36

3.6 DIAGNOSA DIFERENSIAL Gizi Buruk Kwashiokor + Suspect Tuberculosis Paru Sindrom nefrotik Glomerulonefritis Akut

DIAGNOSA Gizi Buruk Kwashiokor + Suspect Tuberculosis Paru

3.7 PENATALAKSANAAN IVFD Dextrose 5 % 12gtt (mikro) Injecsi cefotaxim 100 g/12 j Zinkid syr 1 x 1 Cth Erystin drop3x0,5 mg INH 1 x 35 g Rifampicin 1 x 35 g Diet F 75

3.9 FOLLOW UP RUANGAN Tanggal 19 12 2013, pukul 08.00 WIB S : Lemas(+), Tidak mau minum (+), Rewel (+), Demam(-), Batuk (-),BAK (-), BAB (-) O : Status generalis : CM, BB : 3900 gram, P: 86x/i,R 28x/i,T : 37C. Pemeriksaan fisik : Oedem muka dan ekstremitas (+), mata cekung (+), Rambut tipis (+), bibir kering (+),lidah & faring hiperemis (+) Hb : 8,1 g/100ml ,Hematokrit23,4 %, Total protein 4,4, Albumin 2,3.

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

37

A P

: NH1 Gizi Buruk Kwashiokor + Suspec TB. : Th / IVFD Dextrose 5 % 12gtt (mikro) Injecsi cefotaxim 100 g/12 j Zinkid syr 1 x 1 Cth INH 1 x 35 g Rifampicin 1 x 35 g Diet F 75

Tanggal 20 12 2013, pukul 08.00 WIB S : Lemas(+), Tidak mau minum (-), Rewel (+), Demam(-), Batuk (-),BAK (+), BAB (+) dalam batas normal O : Status generalis : CM, BB : 3900 gram, P: 87x/i,R 26x/i,T : 36,8C. Pemeriksaan fisik : Oedem muka dan ekstremitas (-), mata cekung (+), Rambut tipis (+), bibir kering (+),lidah & faring hiperemis (-) Hb : 8,1 g/100ml ,Hematokrit23,4 %, Total protein 4,4, Albumin 2,3. A P : NH2 Gizi Buruk Kwashiokor + Suspec TB. : Th / IVFD Dextrose 5 % 12gtt (mikro) Injecsi cefotaxim 100 g/12 j Zinkid syr 1 x 1 Cth Erystin drop3x0,5 mg INH 1 x 35 g Rifampicin 1 x 35 g Diet F 75

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

38

Tanggal 22 12 2013, pukul 08.00 WIB S : Lemas(-), Tidak mau minum (-), Rewel (-), Demam(-), Batuk (-),BAK (-), BAB (-) susah tidur (+) O : Status generalis : CM, BB : 3900 gram, P: 90x/i,R 28x/i,T : 36,9C. Pemeriksaan fisik : Oedem muka dan ekstremitas (-), mata cekung (-), Rambut tipis (+), bibir kering (-),lidah & faring hiperemis (-) A P : NH4 Gizi Buruk Kwashiokor + Suspec TB. : PBJ Th / Zinkid syr 1 x 1 Cth Erystin drop3x0,5 mg INH 1 x 35 g Rifampicin 1 x 35 g Cefadroxil 2 x Cth.

Edukasi Memberikan pengetahuan pada orang tua tentang: Pengetahuan gizi Melatih ketaatan dalam pemberian diet Menjaga kebersihan diri dan lingkungan

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

39

DAFTAR PUSTAKA
1. Behrman, L. Richard dkk. 1999. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Jakarta: EGC 2. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2010. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional 2010. www.diskes.jabarprov.

go.id/download.php?title=RISKESDAS%202010 3. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2003. Petunjuk Teknis Tata Laksana Anak Gizi Buruk: Buku II. Jakarta: Departemen Kesehatan. 4. Hidajat, Irawan dan Hidajati. Pedoman Diagnosis dan Terapi: Bag/SMF Ilmu Kesehatan Anak. Surabaya: RSU dr. Soetomo. 5. Pudjiadi, Hegar, Handryastuti dkk. 2010. Pedoman Pelayanan Medis. Jakarta: IDAI 6. Rudolph, Abraham M. dkk. 2006. Buku Ajar Pediatrik Rudolph. Jakarta: EGC 7. M. William. 2004. Pedoman Klinis Pediatri. Jakarta: EGC 8. WHO Indonesia. 2009. Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten. Jakarta: WHO Indonesia.

Kwashiorkor | Kepaniteraan Klinik Senior RSUD Langsa

40