You are on page 1of 14

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM KURSI IRIT SERBAGUNA UNTUK KORBAN BENCANA

BIDANG KEGIATAN Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Tertulis (PKM-GT)

Diusulkan oleh : Suci Sansita Susanto Ikhyan Dwi Kurniawan M. Ikhsan Irfansyah Teknik Mesin 2009 Teknik Mesin 2009 Teknik Mesin 2009 13109063 13109081 13109093

Institut Teknologi Bandung Bandung 2011

HALAMAN PENGESAHAN 1. Judul Kegiatan : Kursi Irit Serbaguna Untuk Korban Bencana di Indonesia 2. Bidang Kegiatan : PKM-GT 3. Ketua Pelaksana Kegiatan a. Nama Lengkap : Suci Sansita Susanto b. NIM : 13109063 c. Jurusan : Teknik Mesin d. Universitas/Institut/Politeknik : Institut Teknologi Bandung e. Alamat Rumah dan No Tel./HP : Jl. PalasariV/14 Ujung Berung Bandung/ 085624782265 f. Alamat email : april_shoxxnight@yahoo.co.id 4. Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis : 3 Orang 5. Dosen Pendamping a. Nama Lengkap dan Gelar : Dr. Eng. Sandro Mihradi b. NIP : 132327351 c. Alamat Rumah dan No Tel./HP : Jl. Mars Dirgahayu no 8 RT 01 RW 10 Awiligar, Bandung 40191 / 085880547386 Bandung, 24 Februari 2011

Menyetujui Ketua Program Studi Teknik Mesin ITB

Ketua Pelaksana Kegiatan

(Dr. Sigit Yuwono,MME) NIP. 130808001 Ketua Lembaga Kemahasiswaan

( Suci Sansita Susanto ) NIM. 13109063 DosenPendamping

(Brian Yuliarto,Ph D) NIP. 197507272006041005

(Dr. Sandro Mihradi) NIP. 132327351

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat dan rahmat-Nya penyusunan karya tulis untuk Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Tertulis (PKM-GT) yang berjudul Kursi Irit Serbaguna Untuk Korban Bencana di Indonesia dapat terselesaikan. PKM-GT ini merupakan wahana bagi para mahasiswa untuk menyalurkan ide-ide kreatif yang dimiliki untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada di masyarakat. Dalam penyusunan karya tulis ini, penulis masih memiliki banyak keterbatasan kemampuan dan pengetahuan tentang berbagai hal, namun demikian penulis juga banyak mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada : 1. 2. 3. 4. Bapak Sandro Mihradi selaku dosen pembimbing penulis dalam penyusunan karya tulis ini. Ibu Anniar Samanhudi selaku dosen Tata Tulis Karya Ilmiah yang telah memberikan bantuan dan saran dalam penyusunan karya tulis ini. Teman-teman Himpunan Mahasiswa Mesin ITB atas bantuan saran dan referensinya. Seluruh pihak yang terlibat scara langsung maupun tidak langsung.

Penulis menyadari bahwa karya tulis ini masih jauh dari kriteria sempurna. Oleh karena itu, penulis meminta maaf bila ada yang salah dalam penyusunan karya tulis ini. Penulis berharap semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri maupun bagi para pembaca. Bandung, 24 Februari 2011

Penulis

iii

DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................................... ii KATA PENGANTAR ................................................................................................ iii DAFTAR ISI .............................................................................................................. iv DAFTAR GAMBAR .................................................................................................. iv DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................................... iv RINGKASAN ............................................................................................................. 1 PENDAHULUAN ...................................................................................................... 2 GAGASAN ................................................................................................................ 3 KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................................... 6 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 7 RIWAYAT HIDUP PENULIS.................................................................................... 8

DAFTAR GAMBAR Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Gambar 6 ................................................................................................................. 3 ................................................................................................................. 3 ................................................................................................................. 4 ................................................................................................................. 4 ................................................................................................................. 5 ................................................................................................................. 6

DAFTAR TABEL Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4 ................................................................................................................. 5 ................................................................................................................. 6 ................................................................................................................. 6 ................................................................................................................. 7

iv

RINGKASAN Salah satu masalah yang selama ini sering dialami oleh para pengungsi korban bencana di tempat pengungsian adalah kurang atau bahkan tidak tersedianya fasilitas seperti kasur, meja, dan kursi. Hal tersebut mengakibatkan para pengungsi harus tidur di lantai dengan hanya beralaskan terpal. Hal ini selain menimbulkan ketidaknyaman juga membuat para pengungsi lebih mudah terjangkit penyakit. Selain itu, para pengungsi yang masih duduk di bangku sekolah tidak dapat melanjutkan kegiatan belajar-mengajar karena tidak adanya kursi, meja, dan lain-lain. Jika tempat kegiatan belajar mengajar tersebut , di tanah yang kotor, dapat memicu para pengungsi untuk terserang penyakit. Keterbatasan fasilitas di tempat pengungsian ini sebenarnya dapat diatasi dengan mewujudkan suatu gagasan, yaitu dengan menggunakan kursi irit serbaguna yang dapat digunakan untuk duduk, makan, belajar, dan beristirahat dengan nyaman. Hal pertama yang kami lakukan dalam membuat gagasan ini adalah dengan merumuskan masalah yang sering terjadi di tempat-tempat pengungsian korban bencana. Selanjutnya, dilakukan pengumpulan data melalui studi pustaka pada buku-buku mengenai materi terkait dan melakukan pencarian data di internet. Permasalahan tersebut dirumuskan dan didiskusikan juga dengan dosen pembimbing sehingga tergagas sebuah ide yaitu kursi irit serbaguna yang dalam proses perancangannya melalui proses iterasi. Akhirnya, terpilih satu desain yang diharapkan dapat mengatasi masalah terkait. Teori dasar yang dikembangkan untuk merancang kursi irit serbaguna ini adalah ilmu-ilmu teori perancangan, pembuat menghitung beban-beban apa saja yang dialami kursi tersebut, selanjutnya dibuat kostruksi, ukuran, dan pemilihan material yang didasari oleh faktor keselamatannya. Penentuan desain dan ukuran dilakukan dengan mengaplikasikan teori kesetimbangan dengan = sedangkan pemilihan material dilihat dari tabel kekuatan material standard internasional seperti ASTM (American Standard for Testing of Materials) dan JIS (Japan Industrial Standard) [1]. Bila ditelaah lebih lanjut kursi ini dapat mengatasi masalah keterbatasan fasilitas secara cepat dan tepat. Kemampuan kursi ini selain bisa diubah dan digunakan sebagai kasur, dapat dikembalikan menjadi kursi dengan mudah dan cepat. Dengan demikian, pengungsi tidak perlu tidur atau belajar di lantai lagi. Konstruksi kursi yang sederhana, ringkas, dan tidak terlalu berat juga membuat kursi ini mudah dipindahtempatkan sehingga pemakaiannya bisa berulang-ulang. Kursi ini juga hemat tempat dan biaya, selain itu alat ini tidak menggunakan sistem elektrik yang berarti hemat energi.

PENDAHULUAN Latar Belakang Beberapa tahun terakhir ini, Indonesia sering ditimpa berbagai macam bencana alam, seperti banjir, gunung meletus, gempa bumi, tanah longsor, tsunami, dan bencana alam lainnya. Seluruh kejadian tersebut mengakibatkan banyak penduduk yang berada di sekitar lokasi bencana terpaksa mengungsi. Mereka mengungsi karena tempat tinggal mereka terkena bencana atau tempat tinggal mereka berada di lokasi yang berbahaya sehingga mereka terpaksa mengungsi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Korban-korban bencana tersebut jumlahnya tidak sedikit sehingga biasanya mereka diungsikan oleh pemerintah setempat ke tempat-tempat yang luas yang memadai untuk menampung banyak orang. Tempat-tempat yang biasanya umum digunakan sebagai lokasi pengungsian adalah tempat indoor bangunan sekolah, aula desa, atau lapangan bulutangkis. Selain itu, terdapat pula tempat outdoor seperti lapangan sepakbola yang dijadikan sebagai lokasi pengungsian dengan mendirikan tenda-tenda berbagai ukuran untuk dijadikan tempat istirahat dan kegiatan lainnya. Tempat-tempat pengungsian tentunya sangat tidak nyaman bagi para pengungsi karena mereka beristirahat hanya beralaskan tikar atau kasur yang seadanya. Kondisi ini juga membuat para pelajar yang terpaksa ikut mengungsi tidak dapat belajar dengan baik karena mereka tidak memiliki meja dan kursi untuk belajar. Keadaan pengungsi yang serba tidak berkecukupan dan kesulitan membuat mereka tidak mampu membeli kursi dan meja yang layak untuk memenuhi kebutuhan para pelajar yang menjadi korban bencana. Pemerintah setempat juga biasanya tidak memfokuskan pada hal tersebut sehingga kegiatan belajar para pelajar tidak terfasilitasi dengan baik. Untuk itu, sebuah alat yang sederhana mungkin bisa menjadi solusi untuk masalah tersebut. Tindakan yang cepat dapat membantu mengurangi jumlah korban bencana alam yang terkena penyakit atau proses belajar tertunda. Sampai saat ini,gagasan untuk penanggulangan ini masih minim sehingga penulis tertarik untuk memberikan gagasan kursi irit serbaguna untuk penanggulangan bencana alam.Hal ini sangat menarik karena penulis merasa masih sedikit yang memberikan bantuan untuk penanganan pengungsi. Gagasan ini bisa dikembangkan lebih lanjut sehingga dapat menemukan yang lebih efisien dan efektif. Tujuan penulisan a. Memberikan solusi cepat dalam penanganan korban bencana terutama siswa yang masih dalam KBM. b. Mencegah pengungsi terjangkit penyakit yang ditimbulkan akibat tidur di lantai. c. Memberikan solusi barang serbaguna irit kepada pihak yang berwenang dalam penanganan korban bencana.

GAGASAN Kebutuhan pengungsi yang terkadang sering terlewatkan adalah kebutuhan fasilitas, misalnya kebutuhan akan kasur. Hasil survei yang dilakukan terhadap korban , mereka harus tidur di lantai yang dingin atau hanya beralaskan terpal biasa sehingga semakin mengancam kesehatan para pengungsi. Kursi dan meja juga menjadi fasilitas yang dibutuhkan oleh pengungsi, khususnya bagi para pengungsi yang masih duduk di bangku sekolah. Apabila kebutuhan mereka akan kursi dan meja dapat terpenuhi, tentu kegiatan belajar mengajar mereka dapat terpenuhi tanpa harus duduk di lantai yang dapat membuat mereka lelah karena harus menunduk dalam waktu yang relatif lama. Sebagai contoh kondisi pengungsian korban bencana Gunung Merapi. Sebagian besar pengungsi di seluruh tempat pengungsian tidur hanya beralaskan tikar dan terpal saja dan banyak yang terjangkit penyakit seperti demam, diare, muntaber [2]. Para pelajar yang terpaksa ikut mengungsi tidak dapat belajar di pengungsian karena terbatasnya tempat dan tidak ada fasilitas yang menunjang kegiatan belajar. Contoh lain adalah kondisi pengungsian korban bencana banjir di Wasior. Pascabencana, kondisi pengungsi korban banjir di Lapangan Kodim Manokwari, Papua Barat, mulai memprihatinkan [3]. Dengan beralaskan terpal dan tikar, mereka tidur di tenda-tenda pengungsian yang diisi puluhan pengungsi lainnya.Ribuan pengungsi yang ada di Manokwari, Papua mengisi penuh tendatenda yang telah disediakan pemerintah setempat. Sebuah tenda dihuni sekitar 30 orang dan mereka hanya tidur beralaskan tikar atau terpal. Para remaja dan anakanak yang bersekolah tidak dapat mengikuti kegiatan di sekolah karena harus membantu keluarga mareka di pengungsian. Selain itu, mereka juga tidak dapat belajar mandiri karena memang tidak disediakan fasilitas yang menunjang kegiatan belajar, seperti meja dan kursi serta lampu penerangan.

Gambar 1. Kondisi pengungsian Merapi [4]

Gambar 2. Kondisi pengungsian Wasior [5]

Solusi yang pernah ditawarkan oleh pemerintah atau pihak pengelola pengungsian adalah dengan menyediakan matras dan alas duduk terpal, yang bisa kita lihat pada tempat pengungsian pada umumnya. Namun, solusi tersebut dianggap masih belum menyelesaikan masalah karena jumlahnya yang sangat terbatas. Alas tidur berupa matras juga dianggap belum bisa mnyelesaikan kebutuhan pengungsi akan tempat tidur yang layak. Lantai yang lembab dan dingin tidak dapat teratasi dengan hanya sebuah matras atau alas duduk terpal biasa. Gagasan yang kami tawarkan untuk menangani kebutuhan akan fasilitas untuk korban bencana adalah kursi lipat irit serbaguna. Keunggulan kursi lipat ini

adalah kursi ini dapat diubah menjadi kasur kemudian kembali menjadi kursi bermeja dengan sangat mudah dan praktis. Konstruksi kursi yang sederhana, ringkas, dan tidak terlalu berat juga membuat kursi ini mudah dipindahtempatkan, sehingga pemakaiannya bisa berulang-ulang. Kursi ini juga hemat tempat karena tidak menghabiskan lebih dari luas area sebesar 2 m2. Selain itu kursi ini tidak menggunakan sistem elektrik yang berarti hemat energi. Kursi ini dirancang dengan meperhatikan Design, Requirements, and Objectives, yaitu: a. Alat dapat digunakan untuk duduk dengan faktor keamanan > 1,5. b. Alat dapat digunakan untuk tidur dengan faktor keamanan > 1,5. c. Alat dilengkapi dengan meja belajar yang mampu menahan berat sebesar 30 kg dengan faktor keamanan > 1,3. d. Alat mampu menahan beban untuk satu orang dengan berat maksimal 150 kg. e. Alat memiliki penyangga tangan.

Alas Kepala

Kaki-kaki lipat

Batang penahan kaki

Gambar 3. Posisi tidur


Alas Punggung Meja Alas duduk Penyangga tangan Kaki utama

Alas kaki

Gambar 4. Posisi duduk

Gambar 5. Mekanisme batang penahan Pada rancangan yang dipilih, ketika posisi duduk alas punggung ditahan oleh batang penahan di kanan dan kiri yang dikaitkan pada pengait yang terhubung dengan alas duduk. Mekanisme batang penahan ini pun digunakan pada sambungan antara alas kaki dan alas duduk ketika posisi tidur. Pada kaki-kaki yang digunakan sebagai penopang yang digunakan pada posisi tidur pun digunakan sistem batang penahan untuk menahan gaya pada arah tarnsversal kakikaki sehingga kaki-kaki akan kokoh pada posisinya. Pemasangan dan penglepasan kaki-kaki ini dilakukan secara manual oleh pengguna tanpa bantuan mekanisme otomatis namun tetap praktis untuk dilakukan. Kursi lipat serbaguna ini dapat diaplikasikan untuk para pengungsi di pengungsian yang membutuhkan meja sakaligus kasur dengan mudah, praktis, dan irit. Mudah karena konstruksi kursi yang sederhana sehingga user friendly jadi para pengungsi dapat menggunakan kursi ini sebagai tempat tidur atau kebalikannya tanpa mengalami kesulitan. Praktis karena dapat dilipat sehingga mudah dipindahtempatkan dan diberikan kepada pengungsi tanpa membutuhkan waktu yang lama selain itu tidak memerlukan tempat yang luas untuk penyimpanannya . Irit karena dengan adanya kursi lipat sederhana ini, pengungsi tidak lagi memerlukan kursi atau kasur terpisah yang justru akan lebih memakan tempat dan biaya. Bahkan berdasarkan survey, biaya produksi kursi lipat serbaguna ini lebih kecil dibandingkan biaya kursi dan kasur dengan ukuran yang hampir sama dengan rincia sebagai berikut. Tabel 1. Harga prediksi kursi Bahan Material Baja karbon AISI 1025 Material pelat AK STEEL 210 Material pipa Beech wood Material meja Panjang 3 cm Sekrup Busa 100 x 200 cm Busa

Harga satuan (Rp) 15.000/kg 60.000/m 20.000/m 150/buah 6000/m Total

Harga (Rp) 345.000 120.000 20.000 3.000 36.000 518.000

Batang penahan utama

Pelat datar

pipa

Gambar 6. Rangka kursi Tabel 2. Harga barang yang dapat diganti per satuan Jenis Barang Material Hargasatuan (Rp) Busa 70 x 190 cm 350.000 Kasur Single Kayu 60.000 Kursi belajar Kayu 125.000 Meja sekolah AK STEEL 200.000 Rangka kasur Total Sumber : Survey di Pasar Baru dan Pasar Balubur Kota Bandung Tabel 3. Harga Barang Sejenis Jenis Barang Merk Jani Folding Bed Series Ohio Relax Sofa Sumber : Survey di toko meubel sekitar Kota Bandung

Harga (Rp) 350.000 60.000 125.000 200.000 735.000

Harga (Rp) 1.299.000 1.299.000

Tabel 4. Spesifikasi alat Bahasan Maksimal massa manusia yang bisa ditopang Maksimal massa benda yang bisa ditopang meja Dimensi maksimal (posisi tidur) Material pelat Material pipa Material meja Faktor keamanan kursi (sampai berdeformasi plastis) Faktor keamanan meja (sampai patah)

Spesifikasi 150 kg 20 kg 0,9 m x 2,15 m Baja karbon AISI 1025 AK STEEL 210 Beech wood 1,83 (terkecil: pelat alas duduk) 1,32 (bagian tumpuan)

Pemerintah, dalam hal ini pemerintah setempat daerah bencana, departemen sosial, menteri koordinator kesejahteraan rakyat, serta lembaga sosial masyarakat dapat turut serta dalam pemroduksian dan pendsitribusian kursi ini agar dapat langsung diberikan ke pengungsian-pengungsian. Departeman sosial dan menteri koordinator kesejahteraan rakyat dapat menyediakan dana kepada suatu perusahaan meubel untuk memproduksi kursi lipat serbaguna ini. Selain itu, pemerintah daerah dan lembaga sosial masyarakat dapat juga membantu dana dan menditribusikan kursi ini ke pengungsian yang membutuhkan. Selain itu, pemerintah juga dapat menyimpan kursi ini setelah dipinjami ke suatu tempat pengungsian agar kemudian dapat digunakan kembali untuk daerah pengungsian yang lain dengan cepat dan tanggap. Langkah-langkah yang bisa dilakukan agar pemroduksian gagasan dapat terwujud adalah membuat gambar teknik agar kursi dapat diproduksi sehingga terbentuk prototype .Penulis menawarkan prototype tersebut ke pihak yang berwenang untuk pengadaan kursi ini. Pengadaan kursi ini diharapkan dapat menangani masalah bencana alam dengan tanggap.Setelah adanya kerjasama dengan pihak yang berwenang, gambar teknik yang sudah jadi diproduksi dengan mendatangi produsen yang mau bekerjasama. Adanya penelitian lebih lanjut untuk evaluasi akan membuat proses produksi kursi ini bisa lebih baik dan berkelanjutan.

KESIMPULAN DAN SARAN Kekurangan fasilitas seperti kasur, kursi dan meja di lokasi pengungsian yang sempit menjadi salah satu masalah yang harus diatasi secepat mungkin karena apabila hal ini tidak diselesaikan dengan cepat, dikhawatirkan akan menimbulkan efek domino. Contohnya, saat di lokasi pengungsian tidak tersedia kasur, para pengungsi harus tidur di lantai hanya beralaskan terpal. Jika hal tersebut berkepanjangan akan memacu para pengungsi terjangkit penyakit. Hal ini juga akan terjadi pada pengungsi yang masih bersekolah karena mereka duduk di lantai yang kotor atau bahkan becek. Akibatnya, proses belajar-mengajar menjadi terganggu. Kursi irit serbaguna yang kami gagaskan mampu mengatasi permasalahan fasilitas di pengungsian. Kursi irit serbaguna ini selain berfungsi menjadi kursi juga bisa menjadi tempat tidur dan meja belajar dengan praktis. Dengan faktor keselamatan > 1.5, kursi ini dapat menjamin keamanan penggunanya. Kursi ini juga hemat tempat karena tidak menghabiskan lebih dari luas area sebesar 2 m2. Selain itu, kursi ini tidak menggunakan sistem elektrik yang berarti hemat energi. Berdasarkan tabel harga, kursi irit serbaguna ini terbukti lebih hemat biaya dibandingkan harus membeli meja, kursi dan tempat tidur secara terpisah. Jika dibandingkan dengan harga barang sejenis, yakni folding bed atau relax sofa, kursi lipat ini juga jauh lebih hemat harganya. Perbedaan harga ini dapat menghemat biaya pemerintah dalam penanganan korban bencana alam di Indonesia. Penulis dapat mengirimkan rancangan ini kepada pihak-pihak yang berwenang, yakni pemerintah atau lembaga sosial masyarakat yang nantinya pihak-pihak tersebut dapat bekerja sama dengan perusahaan atau toko meubel dalam memproduksi kursi irit serbaguna. Nantinya, kursi ini dapat didistribusikan langsung kepada korban bencana alam sehingga kesulitan para korban bencana alam tersebut dapat diatasi dengan cepat.

DAFTAR PUSTAKA [1] Hibbeler, R. C. 2008. Mechanics of Material 7th Edition.. Singapore: Pearson Education South Asia Pte Ltd. [1] Norton, Robert L. 2006. Machine Design 3rd Edition. New Jersey: Pearson Education Internatonal. [2] http://www.berita.liputan6.com/daerah/201010/302866/Kondisi.Pengungs i.Merapi.Memprihatinkan ( diakses tanggal 22 Februari 2011) [3] http://www.berita.liputan6.com/liputanpilihan/201010/300555/Kondisi_K orban_Wasior_Memprihatinkan ( diakses tanggal 23Februari 2011) [3] http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2010/10/23/115575/Ratusan -Pengungsi-Wasior-Terserang-ISPA-dan-Malaria ( diakses tanggal 23 Februari 2011) [4] http://www.republika.co.id/berita/breakingnews/nusantara/10/10/31/143593-pengungsi-merapi-mulai-jenuh [5] http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa_lainnya/2010/12/17/brk,2010121 7-299658,id.html ( diakses tanggal 22 Februari 2011)

10

RIWAYAT HIDUP PENULIS

1. Nama Tempat dan Tanggal Lahir Riwayat Pendidikan

Karya Ilmiah Penghargaan Ilmiah

: Suci Sansita Susanto : Bandung, 27 Januari 1991 : SD PN Sabang Bandung SMP Negeri 5 Bandung SMA Negeri 3 Bandung Teknik Mesin ITB 2009 : Dampak Internet Terhadap Pelajar SMA di Kota Bandung :-

2. Nama Tempat dan Tanggal Lahir Riwayat Pendidikan

Karya Ilmiah Penghargaan Ilmiah

: Ikhyan Dwi Kurniawan : Purbalingga, 15 Juni 1991 : SDN 4 Selakambang, Purbalingga SMP Negeri 2 Pengadegan SMA Negeri 1 Purbalingga Teknik Mesin ITB 2009 : Pengolahan Umbi Suweg Untuk Bahan Pangan :-

3. Nama Tempat dan Tanggal Lahir Riwayat Pendidikan

Karya Ilmiah Penghargaan Ilmiah

: Muhammad Ikhsan Irfansyah : Bandung, 11 Desember 1991 : SDN Pengadilan 5 Bogor SMP Negeri 5 Bogor SMA Negeri 1 Bogor Teknik Mesin ITB 2009 : Pengaruh IQ dan EQ Dalam Kehidupan Mahasiswa :-