You are on page 1of 5

AKU MAU BELAJAR

Oleh : Mariska Nolinia Harefa

Suatu hari, si Budi melihat abangnya, Tono, sedang asyik memanjat pohon sambil memetik beberapa buah mangga. Dalam hati, Budi berpikir bagaimana caranya agar ia juga bisa memanjat pohon mangga dan memetik beberapa buah mangga. Akhirnya Budi memutuskan untuk bertanya kepada Tono. Tono pun dengan senang hati memperlihatkan bagaimana caranya memanjat pohon. Setelah memperhatikan Tono, Budi pun mencoba. Awalnya, Budi merasa kesulitan, namun, karena keinginan yang besar untuk bisa memanjat pohon, Budi mencoba terus sampai akhirnya Budi pun bisa memanjat pohon dan memetik beberapa buah mangga bersama Tono. Dari ilustrasi di atas adakah satu kata yang tersirat? Belajar? Ya. Ketika Budi menanyakan bagaimana cara memanjat pohon, itu artinya Budi mulai belajar. Ketika Budi memperhatikan Tono dan mulai menirunya, Budi belajar lebih jauh. Sampai akhirnya, dengan belajar tersebut, Budi mampu menjawab pertanyaannya tadi, yakni, akhirnya Budi bisa memanjat pohon dan memetik beberapa buah mangga. Sadar ataupun tidak sadar, setiap makhluk hidup pasti mengalami fase-fase belajar. Entah itu manusia, hewan maupun tumbuhan. Tumbuhan dapat beradaptasi dengan lingkungannya melalui belajar, contohnya belajar mencari-cari di manakah arah sinar matahari agar dapat melakukan fotosintesis. Seekor anak burung bida terbang karena telah belajar, yakni meniru cara induknya terbang. Hewan dan tumbuhan bisa belajar, terlebih lagi manusia, seperti Budi, yang memiliki akal budi, sehingga seharusnya manusia dapat belajar jauh lebih baik dibandingkan dengan hewan dan tumbuhan. Lalu, pertanyaan yang timbul, sebenarnya apa yang dimaksud dengan belajar itu? Dari ilustrasi si Budi, belajar adalah suatu proses dimana Budi berusaha menjawab pertanyaan yang muncul dari dalam dirinya. Melihat contoh tumbuhan tadi, belajar adalah suatu proses atau cara untuk memenuhi kebutuhan hidup. Lain lagi, jika dilihat dari contoh belajar hewan di atas, belajar adalah suatu proses meniru. Jadi, dapat disimpulkan, bahwa secara umum, belajar adalah suatu proses atau cara, entah itu proses mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari diri kita, proses atau cara untuk memenuhi kebutuhan hidup, atau proses meniru. Namun, apakah pengertian belajar hanya sampai di sana saja? Tentu saja tidak. Definisi belajar itu sangat luas dan sangat banyak. Banyak ahli yang telah mendefinisikan belajar dengan kata-kata yang berbeda. Di antaranya, belajar adalah proses adaptasi perilaku. Ada pula yang mengatakan, belajar adalah perubahan perilaku. Lainnya lagi mengatakan bahwa belajar adalah kegiatan mengevaluasi sesuatu dan menjadikannya lebih baik. Tetapi, tidak berhenti sampai di sini saja,banyak sekali pengertian belajar lainnya. Walaupun demikian, secara umum masih dapat disimpulkan bahwa, belajar adalah suatu proses. Seperti telah diketahui, proses tidak akan berlangsung dengan instan, perlu tahap-tahap yang harus dilalui. Oleh karena itu, belajar pun demikian halnya, belajar tidak dapat berlangsung dalam waktu sekejap, tetapi pasti memerlukan waktu untuk melalui beberapa tahap. Seperti telah disinggung sebelumnya, manusia memiliki akal budi sehingga memudahkannya untuk dapat belajar dengan lebih baik. Secara umum, manusia yang belajar adalah manusia yang mampu menjalani hidupnya dengan baik. Walaupun demikian, tidak ada manusia yang tidak belajar. Setiap manusia pasti belajar. Namun, ada yang mampu belajar dengan optimal dan ada yang tidak. Ada yang belajar tentang hal-hal baik dan ada yang belajar tentang hal-hal buruk.

Belajar itu sendiri dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar, yaitu belajar formal dan belajar non-formal. Sebagai manusia, pasti sudah tidak asing dengan kata sekolah. Di sekolah inilah, manusia belajar secara formal. Belajar tentang berbagai macam ilmu pengetahuan. Lalu bagaimana dengan belajar non-formal? Belajar non-formal sering dikaitkan dengan belajar tentang nilai-nilai kehidupan. Jadi, belajar non-formal juga dapat terbentuk sembari belajar formal di sekolah, karena nilai-nilai kehidupan juga pasti ada di sekolah. Bagaimana kedudukan belajar itu di mata masyarakat? Banyak orang yang mengatakan belajar itu asyik. Apakah benar? Seperti halnya film, musik, dsb, yang ada pro dan kontra, ungkapan ini pun ada pro dan kontranya. Ada yang mengatakan memang benar belajar itu asyik. Lain pihak mengatakan, belajar itu tidak asyik sama sekali. Semua pendapat masyarakat tersebut tidak dapat disalahkan, karena masing-masing orang pasti memiliki pengalaman belajar yang berbeda-beda pula, tidak ada yang sama persis. Jika seseorang merasa pada saat ia belajar tidak menemukan rintangan yang berarti dan akhirnya mampu mencapai hasil yang memuaskan, tentu ia akan mengatakan bahwa memang benar belajar itu asyik. Tapi sebaliknya, jika seseorang menemukan banyak rintangan yang menyulitkan dalam belajar, sehingga akhirnya tidak memperoleh hasil yang baik, atau mungkin mlah gagal sama sekali, tentu ia akan mengatakan bahwa belajar itu tidak asyik. Namun, ditinjau dari segi formal dan non-formal, ada juga yang mengatakan belajar non-formal lebih asyik daripada belajar formal. Mengapa hal ini bisa muncul? Karena umumnya, belajar non-formal dapat dilakukan hanya dengan kegiatan meniru. Contoh, anak bayi belajar berbicara dengan cara menirukan gerak bibir orang lain. Contoh lain, seorang anak yang sering melihat ayahnya memukul ibunya, bisa belajar memukul orang lain juga dengan meniru seperti yang ayahnya lakukan. Proses meniru ini tentu lebih gampang dibandingkan dengan harus menghafal rumus-rumus matematika, fisika, atau kimia, menghafal kronologis suatu kejadian sejarah beserta tanggal dan tempat kejadiannya, atau menghafal struktur dan grammar bahasa inggris, seperti yang dilakukan di sekolah. Karena banyaknya kegiatan menghafal ini dan itu, belajar di sekolah jadi sering diidentikkan dengan menghafal. Beruntung bagi siswa yang memiliki daya ingat yang tinggi, hal ini tentu tidak akan menjadi masalah, karena ia akan mampu mendapatkan nilai yang tinggi di sekolah. Namun, bagi siswa yang memiliki daya ingat rendah, hal ini tentu akan mempersulit mereka untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Berkaitan dengan nilai-nilai ini, sekolah juga sering dikait-kaitkan dengan nilai. Banyak orangtua yang beranggapan nilai tinggi artinya anak pintar. Sebaliknya nilai rendah artinya anak bodoh, tidak ada gunanya sekolah. Jadi, masih banyak masyarakat beranggapan bahwa sekolah adalah hanya untuk mencari nilai yang tinggi. Padahal, sebenarnya, dengan bersekolah, siswa bukanlah diharapkan untuk mendapatkan nilai yang tinggi, namun, justru agar mereka mampu memperoleh informasi-informasi baru yang dapat mereka gunakan untuk kelangsungan hidup mereka dan orang-orang di sekitar mereka. Proses inilah yang kita kenal dengan kata belajar. Sekolah bukanlah mengutamakan hasil tetapi proses. Karena itu, kalaupun sebagian besar orangtua memang menginginkan anaknya mendapatkan nilai yang baik atau memuaskan, sebelum mencapai hasil tersebut, anak mereka haruslah belajar dengan baik pula. Dengan demikian, maka akan didapatkan proses dan hasil yang sepadan. Namun, pada kenyataannya, ada pula siswa yang mendapatkan nilai tinggi tanpa belajar dengan baik. Nilai tersebut mereka dapatkan dengan berbagai macam cara, ada yang mencontek hasil kerja temannya, ada yang melihat contekan yang dibuat sendiri, dsb. Sebenarnya, hal-hal seperti ini juga termasuk belajar. Tetapi, bukan belajar yang baik. Belajar yang baik berarti memperoleh informasi-infomasi yang baik dengan cara yang baik. Siswa yang belajar dengan tidak baik ini akan menimbulkan ketidakadilan bagi siswa yang telah belajar dengan tekun dan sungguh-sungguh untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Karena, bisa saja siswa yang curang

tersebut mendapatkan nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang sudah jujur. Kalau dilihat dari belajar non-formalnya, siswa yang curang ini belum belajar tentang kejujuran dan tanggung jawabnya sebagai siswa. Mengapa hal ini bisa terjadi? Faktor utamanya adalah anggapan siswa bahwa belajar itu membosankan dan menyeramkan. Tetapi tentu saja hal ini hanya berlaku bagi siswa yang curang tadi. Walaupun demikian, kebosanan juga bisa terjadi pada siswa yang jujur, hanya saja mereka mempunyai kiat-kiat sehingga belajar bisa menjadi asyik dan menarik. Sebenarnya, belajar itu membosankan, menyeramkan, asyik, menarik, atau menyenangkan, itu semua kembali kepada si pelajarnya. Kembali ke ungkapan belajar itu asyik. Ya, sebenarnya belajar itu memang asyik. Kalau belajar itu tidak asyik, tidak mungkin dunia ini memiliki banyak ilmuawan dan pemikir yang telah berhasil menghasilkan beribu karya ilmu pengetahuan. Bayangkan kalau Albert Einstein, Sir Isaac Newton, Thomas Alfa Edison, Leonardo da Vinci atau Leonardo Fibonacci dkk mengalami kebosanan permanen dalam belajar, sehingga memutuskan untuk berhenti belajar. Apa jadinya dunia ini? Mungkin tidak ada lukisan-lukisan indah yang bernilai seni tinggi. Tidak ada alat penerangan saat gelap tiba. Tidak ada yang tahu kalau bumi ternyata punya gaya gravitasi. Oleh karena itu, sebenarnya belajar itu asyik. Pertanyaannya, dimanakah letak keasyikannya? Kembali ke pembicaraan awal tentang belajar. Belajar adalah suatu proses pencarian informasi sampai akhirnya mampu menguasai informasi yang telah didapat itu. Di situlah letak keasyikannya, ketika berhasil menemukan informasi baru yang belum pernah didapatkan sebelumnya, ada suatu kepuasaan tersendiri yang sulit untuk diungkapkan. Sebagai contoh sederhana, kembali ke ilustrasi si Budi. Budi merasa kesulitan awalnya. Namun, karena tekad yang kuat, Budi mencoba terus hingga akhirnya berhasil. Ketika berhasil memanjat pohon, Budi merasa upaya memanjat pohonnya (belajar) merupakan sesuatu yang asyik. Ya, bukan cuma berhasil memanjat pohonnya yang asyik, tapi keseluruhan belajar, mulai dari Budi bertanya sampai berhasil menjawab pertanyaannya itulah yang asyik. Contoh ini barulah contoh belajar non-formal yang katanya pasti lebih gampang dibandingkan dengan belajar formal di sekolah. Namun, yang namanya belajar, tetaplah belajar, hanya objek yang dipelajarinya saja yang berbeda, prosesnya tetaplah sama. Dengan kata lain, karena belajar non-formal itu asyik, belajar formal juga bisa asyik. Kebanyakan siswa memiliki masalah yang sama ketika mempelajari beberapa bidang ilmu pengetahuan, objek yang diajarkan oleh guru di sekolah, yakni bosan. Siswa yang seperti ini belum mengetahui bahwa belajar itu bisa dibuat menjadi sesuatu yang asyik, menyenangkan, dan menarik. Ada trik-trik dan kiat-kiat untuk dilakukan. Tapi, sebelum itu, siswa harus sadar dulu apa penyebabnya sehingga belajar itu bisa menjadi sesuatu yang membosankan. Bisa saja, bosan karena pelajarannya tidak diminati, atau bosan karena tidak suka dengan gurunya, atau bosan karena gaya mengajar gurunya begitu-begitu saja, atau karena merasa belajar itu terpaksa diatur oleh aturan-aturan sekolah dsb. Masalah paling berat adalah ketika seorang siswa tidak menyukai gurunya, karena kebanyakan siswa yang tidak meyukai guru mata pelajaran tertentu, cenderung tidak meyukai pelajarannya juga. Boleh saja tidak suka kepada guru tertentu, tapi jangan sampai pelajarannya juga tidak disukai. Rasanya rugi, kalau siswa lain bisa belajar dengan asyik, tapi siswa yang satu ini tidak bisa memperoleh suatu kesenangan saat belajar, hanya karena tidak menyukai gurunya. Apalagi, kalau sebenarnya, bisa jadi mata pelajaran itu adalah mata pelajaran favorit si siswa dulunya. Sayang sekali rasanya. Untuk masalah kebosanan atau ketakutan siswa terhadap belajar yang lain, dapat dijawab dengan satu pertanyaan; Bagaimana cara belajar yang asyik? Ada banyak cara membuat belajar itu menjadi sesuatu yang asyik. Yang pertama, mencari sisi menarik dari pelajaran tersebut. Sama seperti remaja, awalnya mungkin tidak tertarik dengan lawan

jenisnya karena memang kelihatannya tidak ada yang menarik, tapi semakin diperhatikan dengan rinci, rasanya ada satu hal yang menarik, mungkin saja tahi lalat kecil di dahinya. Awalnya memang tidak terlihat, tapi setelah dilihat-lihat lagi, akhirnya menjadi sesuatu yang menarik. Sama dengan belajar. Awalnya mungkin banyak siswa langsung berkata pelajaran ini tidak menarik sama sekali. Hal itu salah, coba sedikit saja menaruh perhatian lebih pada pelajaran itu, pasti ada sisi menariknya. Kalau sudah menemukan sii menariknya, pelajarilah, dengan mempelajari hal yang menarik terlebih dahulu, belajar menjadi semangat dan topiktopik yang kurang menarik pun akhirnya bisa jadi menarik. Karena dalam mencari sisi yang menarik memerlukan sedikit perhatian lebih, maka cara yang kedua adalah menaruh perhatian pada apa yang sedang dipelajari. Ibarat orang sedang melakukan penjajakan, bila diperhatikan dengan tulus, pasti target penjajakan lama kelamaan akan luluh hatinya, paling tidak dijadikan teman dekat. Begitu pula dengan belajar, jika siswa mau memberikan perhatian yang tulus tanpa merasa dipaksa menghadapi suatu pelajaran, pelajaran yang awalnya dirasa sulit itu, lama kelamaan pasti bisa ditaklukkan, paling tidak bisa dijadikan teman. Lagipula, segala sesuatu yang dipaksa pasti tidak akan menghasilkan sesuatu yang lebih baik dibandingkan dengan yang dilakukan dengan tulus. Cara lain, melakukan atau mendemonstrasikan informasi yang telah diperoleh. Segala sesuatu yang telah kita peroleh, namun tidak bisa digunakan dalam hidup kita rasanya sia-sia belaka. Untuk itu informasi yang siswa dapat dari sekolah sebaiknya diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Misalnya, setelah belajar hitung-hitungan, siswa SD bisa diajak memainkan permainan yang ada unsur hitung-hitungannya. Jadi, siswa pun merasa ternyata apa yang telah ia pelajari berguna bagi hidupnya dan pelajaran selanjutnya juga pasti berguna. Dengan demikian, siswa akan mampu belajar dengan baik. Karena di atas telah disinggung bahwa sebaiknya siswa mengetahui bahwa ia dapat mempergunakan pelajaran tersebut dalam hidupnya, maka cara treakhir adalah dengan mengetahui tujuan pembelajarannya topik mata pelajaran tersebut. Namun, terkadng, siswa tidak dapat menemukan apa sebenarnya tujuan ia mempelajari topik tertentu, oleh karena itu, sumber-sumber lain seperti internet, buku, dan guru khususnya sangat diharapkan untuk dapat memberitahu siswa apakah yang menjadi tujuan pembelajaran topik tersebut. Sehingga, siswa dapat belajar dengan menyenangkan karena telah mengetahui untuk apa ia mempelajari topik tersebut. Untuk membantu siswa agar dapat memahami bahwa belajar adalah sesuatu yang asyik, sangat dibutuhkan kerjasama antara semua pihak, baik guru, orangtua maupun siswa sendiri. Guru hendaknya memfasilitasi siswa dengan metode-metode belajar yang bervariasi dan mendorong siswa untuk dapat aktif dan kreatif. Karena, suasana yang akti dan kreatif juga dapat membuat siswa belajar dengan asyik. Jadi, dengan belajar yang seperti ini, belajar bisa menjadi sesuatu yang asyik, menarik, dan menyenangkan. Ada ungkapan yang mengatakan bahwa hidup sudah sulit jangan dipersulit, maka kalau belajar bisa kita jadikan sesuatu yang asyik, kenapa harus dijadikan membosankan dan meyeramkan? Belajar itu asyik, karena bisa menambah wawasan. Belajar itu asyik, karena membuat kita jadi orang yang pintar. Siapa yang tidak mau jadi orang yang pintar? Belajar itu asyik, karena menyehatkan otak kita. Belajar itu asyik, karena mungkin saja di antara orang rumah hanya kita yang tahu tentang suatu hal baru, kita jadi sumber informasi. Belajar itu asyik, karena memperoleh pengalaman baru. Belajar itu asyik, karena belajar bisa jadi teman setia sepanjang hidup kita. Belajar itu asyik, karena membuat kita jadi orang yang bijaksana. Terakhir, belajar itu asyik, karena belajar tidak akan pernah marah, tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar.