You are on page 1of 8

ABSTRAK

Diabetes mellitus merupakan salah satu ancaman bagi kesehatan umat manusia pada abad 21 dengan prevalensi kejadian terus meningkat seiring perkembangan zaman. Diabetes melitus ternyata sudah dikenal sejak zaman Rasulullah. Bekam sebagai salah satu pengobatan yang disunahkan Rasulullah terbukti dapat dijadikan sebagai medika mentosa diabetes mellitus dengan berbagai mekanisme kerjanya. Dalam setiap pengobatan, hanya Allah-lah yang mengizinkan suatu pengobatan dapat berhasil atau gagal, sesuai dengan firman Allah dalam QS. Yunus : 107. Kata Kunci : Bekam, Diebetes mellitus, Medika mentosa

1. Pendahuluan

Diantara penyakit metabolik, diabetes mellitus merupakan salah satu ancaman utama bagi kesehatan umat manusia pada abad 21. WHO membuat perkiraan bahwa pada tahun 2000 jumlah pengidap diabetes diatas umur 20 tahun berjumlah 150 juta orang dan dalam kurun waktu 25 tahun kemudian pada tahun 2025, jumlah itu akan membengkak menjadi 300 juta orang. Setelah itu, data terakhir WHO menunjukkan justru peningkatan tertinggi jumlah pasien diabetes malah di Negara Asia Tenggara termasuk Indonesia.1 Diabetes mellitus, kata yang saat ini sudah tidak asing lagi didunia kesehatan merupakan suatu sindrom dengan terganggunya metabolism karbohidrat, lemak, dan protein yang disebabkan oleh berkurangnya sekresi insulin (tipe I) atau penurunan sensitivitas jaringan terhadap insulin (tipe II) yang secara perlahan dapat menimbulkan hipertensi, penyakit jantung koroner, kelainan pembuluh darah, atau morbiditas akibat infeksi paru dan infeksi lain. Berdasarkan epidemiologi, Diabetes tipe II lebih sering dijumpai dari tipe I, dan kira-kira ditemukan sebanyak 90 persen dari seluruh kasus diabetes mellitus.2 Secara umum, dalam dunia kedokteran modern telah banyak ditemukan pengobatan untuk diabetes mellitus seperti terapi farmakologis (obat) dan terapi non farmakologis (terapi gizi medis dan latihan jasmani). Namun, Sejalan dengan

berkembangnya kedokteran islam atau kedokteran nabi, telah dibuktikan bahwa penyakit diabetes mellitus sudah ada sejak zaman Rasulullaah dan bekam sebagai salah satu sunnah Rasulullaah ternyata dapat menjadi salah satu terapi pendamping bersamaan dengan terapi obat-obatan (medika mentosa) banyak penyakit yang salah satunya adalah diabetes mellitus.1 Terkait dengan fenomena diatas, banyak kalangan mempertanyakan bagaimana mekanisme bekam dapat mengobati diabetes mellitus ditinjau dari ilmu kedokteran. Oleh karena itu, penelitian, misalnya dari segi kajian pustaka perlu dilakukan sehingga seluruh masyarakat dunia, terutama umat muslim, dapat menghayati dan dapat mengaplikasikan bekam sebagai salah satu pengobatan yang disunahkan Rasulullaah dan mengambil hikmah dari sunah Nabi tersebut.

2. Pembahasan

2.1 Diabetes Melitus

Secara umum, Diabetes melitus adalah suatu sindrom dengan terganggunya metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang disebabkan oleh berkurangnya sekresi insulin atau penurunan sensitivitas jaringan terhadap insulin. Berdasarkan penyebab, Diabetes melitus dibagi atau dua yaitu Diabetes Tipe I, yang disebut diabetes melitus tergantung insulin, yang disebabkan oleh berkurangnya sekresi insulin dan Diabetes tipe II, yang juga disebut diabetes melitus tidak tergantung insulin, disebabkan oleh penurunan sensitivitas jaringan target terhadap efek metabolik insulin (resistensi insulin).2 Berdasarkan data epidemiologi, Diabetes melitus merupakan salah satu penyakit yang prevalensinya cenderung meningkat pada abad 21 ini. WHO membuat perkiraan bahwa pada tahun 2000 jumlah pengidap diabetes mellitus diatas umur 20 tahun berjumlah 150 juta orang dan dalam kurun waktu 25 tahun kemudian pada tahun 2025, jumlah itu akan membengkak menjadi 300 juta orang. Setelah itu, data terakahir WHO menunjukkan justru peningkatan tertinggi jumlah pasien diabetes malah di Negara Asia Tenggara termasuk Indonesia.1 Berdasarkan epidemiologi, Diabetes tipe II lebih sering dijumpai dari tipe I, dan kira-kira ditemukan sebanyak 90 persen dari seluruh kasus diabetes mellitus.2

Berdasarkan literatur sejarah, ternyata diabetes mellitus sudah ada pada zaman nabi Muhammad SAW. Pada tahun 1552 sebelum masehi, di Mesir dikenal penyakit yang ditandai dengan sering kencing dengan jumlah yang banyak (yang disebut poliuria) dan penurunan berat badan yang cepat tanpa disertai rasa nyeri. Kemudian pada tahun 400 sebelum masehi, penulis India, Susrhata menamakan penyakit tersebut dengan penyakit kencing madu. Dari fakta sejarah tersebut maka bisa disimpulkan bahwa diabetes sudah ada pada zaman nabi Muhammad SAW, berdasarkan dimulainya kalender hijriah sekitar 500 tahunan setelah tahun masehi dimulai. Wallahu alam bishawab.3 Secara garis besar, diabetes mellitus disebabkan oleh 2 hal, yaitu berkurangnya produksi insulin (tipe I) dan penurunan sensitivitas jaringan target terhadap efek metabolik insulin/ resistensi insulin (tipe II). Penurunan produksi insulin disebabkan oleh kerusakan sel pankreas yang berfungsi menghasilkan hormon insulin dan kerusakan sel pankreas ini bisa disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya infeksi virus, kelainan autoimun, faktor herediter, overload besi, dan munculnya radikal bebas. Sementara itu, resistensi insulin bisa disebabkan oleh adanya pengendapan besi dalam jaringan yang akan menurunkan penyerapan glukosa karena terjadi kerusakan pada jaringan tersebut. 2, 4 Beberapa etiologi diatas dapat memicu peningkatan konsentrasi glukosa darah, penggunaan glukosa oleh sel menjadi sangat berkurang, dan penggunaan lemak dan protein meningkat. Kemudian secara perlahan, hal-hal diatas akan diikuti dengan dampak-dampak patologis pada tubuh seperti ditemukan glukosa dalam urin, dehidrasi, kerusakan jaringan, kehilangan protein tubuh, kerentanan terhadap infeksi, penyakit ginjal, dan penyakit kardiovaskuler.2 Dalam dunia kedokteran modern, pengobatan diabetes mellitus dilakukan berdasarkan jenis dan etiologinya. Secara teoritis, Pengobatan diabetes mellitus tipe I adalah dengan memberikan insulin secukupnya sehingga metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein pada penderita dapat senormal mungkin. Sementara itu, pengobatan diabetes mellitus tipe II dilakukan dengan diet dan olahraga untuk mengatur kadar glukosa darah dan pemberian obat-obatan untuk meningkatkan sensitivitas insulin atau untuk meransang produksi insulin dari pankreas.2

2.2 Bekam 5

Bekam (hijamah) adalah proses pembentukan wilayah dengan tekanan udara rendah pada tubuh, tepatnya pada kulit dengan menggunakan efek vacum pada kulit, dengan menggunakan alat kup. Sebelum pemasangan alat kup, penusukan pada kulit (menciptakan lubang-lubang kecil) merupakan praktik yang sangat umum dilakukan di negara-negara berpenduduk muslim berjumlah besar, seperti di Indonesia. Penusukan/ penyayatan ini akan mengeluarkan darah kotor dari tubuh. Dalam praktik kedokteran islam/ kedokteran nabi, bekam merupakan salah satu pengobatan yang disunahkan Rasulullaah. Nabi Muhammad SAW bersabda, Di dalam Bekan (hujama) ada penyembuhan. Beliau juga telah bersabda, Siapa yang melakukan bekam (hijama) pada hari 17, 19, atau 21 (penanggalan Islam) maka ada pengobatan bagi setiap penyakit. Diriwayatkan oleh Jabir bin Abdullah, Saya mendengar Rasulullah bersabda, Jika ada penyembuhan dalam obat-obatan Anda, maka itu ada dalam bekam, seteguk madu atau dibakar dengan api (kauterisari) yang sesuai penyakitnya, tapi saya tidak suka (terbakar) dibakar dengan api. Berdasarkan bukti-bukti yang telah ada, bekam mempunyai

kemampuan menyembuhkan banyak penyakit. Umat islam terdahulu menggunakan bekam basah untuk menyembuhkan berbagai rasa sakit, mulai dari sakit kepala, masalah perut, keracunan, sihir, memar-memar, luka kulit, sakit otot, dan penyakit-penyakit lainnya. Saat ini, penyakit yang telah terbukti mampu diobati dengan bekam adalah diantaranya alergi, asma, kolesterol tinggi, penyakit peredaran darah, diabetes, diare, dan lain-lain. Berdasarkan hadits-hadits dan bukti-bukiti diatas, muslim menganggap hijamah sebagai pengobatan yang efektif dan penting untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Namun, hanya Allah-lah yang mengizinkan suatu pengobatan dapat berhasil atau gagal. Allah SWT berfirman : Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan Jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Yunus : 107)

2.3 Mekanisme Bekam Mengobati Diabetes Melitus

Akhir- akhir ini, terdapat banyak penelitian yang dilakukan untuk menjelaskan mekanisme bekam mengobati diabetes mellitus, diantaranya : a. Menormalkan glukosa darah berlebih 3 Berikut ini beberapa hasil laboratorium yang dikutip dari buku karya ilmuwan Arab yang terkemuka, Muhammad Amin Syaikhu, yang berjudul Ad-Dawau Al-Ajib (Obat Ajaib) yang dibuat oleh dokter-dokter spesialis terkenal dalam berbagai bidang kedokteran, yang kemudian dihimpun dan diteliti kembali secara medis oleh penulis dan seorang intelektual, Abdul Qodir Yahya, yang terkenal dengan julukan Ad-Dironi : Kadar gula darah pada 83,75% kasus turun, sedangkan sisanya tetap pada batas wajar. Kadar gula darah turun pada para pengidap kencing manis dalam 92,5% kasus. b. Meningkatkan sekresi dan sensitivitas insulin 4 Hasil penelitian yang dilaksanakan institusi di Eropa oleh para peneliti dari San Filippo Neri Hospital (Italia), Bambino Gesu Hospital dan Research Institute (Italia) yang berlangsung selama dua tahun menunjukkan adanya perbaikan beberapa parameter metabolism dengan terapi bekam. Kadar feritin dan besi turun. Parameter lain seperti kadar kolesterol, trigliserida (Lemak), glukosa puasa, kadar enzim-enzim tertentu seperti lactate Dehydrogenase (LDH), aspartate

aminotransferase (AST) atau yang lebih dikenal dengan glutamicoxaloacetate transaminase (SGOT),alanine aminotransferase (ALT) atau yang lebih dikenal dengan glutamic-pyruvate transaminase (SGPT), dan gamma-glutamyltransferase (-GT) dimana enzim-enzim ini

merupakan penanda terjadinya kerusakan pada hati, juga mengalami perbaikan dengan peningkatan sekresi insulin, peningkatan

pengambilan glukosa oleh sel-sel tubuh, dan peningkatan sensitifitas terhadap insulin.

c. Membuang besi yang merupakan salah satu faktor resiko diabetes mellitus 4 Penelitian hasil kerjasama dua institusi pendidikan kedokteran di Spanyol, yaitu University Hospital of Girona Dr. Josep Trueta dan University Miguel Hernandez mencoba menilai sensitifitas insulin dan sekresi (pengeluaran) insulin setelah dilakukan pembekaman dengan interval empat bulan pada pasien diabetes tipe 2 yang memiliki kadar serum feritin (besi yang tersimpan dalam sel tubuh) berkadar tinggi, yaitu kadarnya > 200 ng/ mL. Penelitian menitikberatkan untuk melihat pengaruh hijamah (bekam) terhadap control metabolic, sekresi insulin, dan kerja insulin pada pasien diabetes dengan kadar feritin yang tinggi. Oleh karena itu, dalam penelitian ini akan dilihat efek pembuangan besi (iron depletion) terhadap parameter-parameter tersebut. Pasien dibagi dalam dua kelompok, pertama (grup 1) yang berjumlah 13 pasien, dilakukan pembekaman dengan jangka waktu 2 minggu, setiap kali pembekaman diambil 500 mL darah. Total pembekaman yang dilakukan terhadap grup 1 sebanyak 3 kali. Kedua (grup 2) yang berjumlah 15 pasien adalah kelompok kontrol yang tidak mendapatkan terapi pembekaman. Seluruh pasien (grup 1 dan grup 2) tetap mendapatkan terapi seperti biasanya dengan insulin, obat-obat anti-diabetes, dan olah raga selama periode penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serum feritin, transferin (protein yang berfungsi untuk mengikat atau membawa besi di dalam darah), saturation index, dan kadar hemoglobin turun pada pasien yang mendapatkan terapi hijamah (grup 1). Selain itu, kadar HBA1C juga turun secara bermakna pada pasien grup 1. Didapatkan pula peningkatan sensitivitas insulin pada grup 1 dibandingkan grup 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hijamah dapat berperan sebagai terapi tambahan pada pasien diabetes tipe 2 dengan peningkatan konsentrasi serum feritin. Penelitian lainnya dari institusi yang sama dengan penelitian sebelumnya, yaitu untuk menguji hipotesis bahwa pembuangan besi yang bersirkulasi dalam darah dengan hijamah akan memperbaiki kerusakan pembuluh darah pada pasien diabetes tipe 2 dan pada pasien dengan peningkatan konsentrasi serum feritin. Pada penelitian ini, pasien diabetes dengan kadar serum feritin > 200 ng/ mL dibagi dalam 2 kelompok seperti pada penelitian sebelumnya. Reaktivitas pembuluh darah dinilai pada awal

penelitian, serta pada 4 dan 12 bulan berikutnya. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pembuangan besi dengan hijamah dapat memperbaiki kerusakan pembuluh darah pada pasien diabetes tipe 2 dengan kadar serum feritin yang tinggi. Perbaikan ini sejalan (paralel) dengan penurunan kadar besi dalam tubuh yang ditandai dengan turunnya kadar serum feritin pada pasien grup 1

3. Penutup

Berdasarkan pembahasan ilmiah dan penelitian ilmiah diatas, bekam dapat dimanfaatkan sebagai medika mentosa diabetes mellitus dengan berbagai mekanisme kerjanya. Hal ini merupakan salah satu pembuktian dan hikmah dari sunnah Rasulullaah untuk menjadikan bekam sebagai salah satu pengobatan. Namun, hanya Allah-lah yang mengizinkan suatu pengobatan dapat berhasil atau gagal, sesuai dengan firman Allah dalam Qs Yunus : 107. Dengan demikian, penulis merasa bahwa kajian diatas masih jauh jadi kesempurnaan dan masih perlu dilakukan kajian pustaka dan penelitian lebih lanjut.

Daftar Pustaka

1. Sudoyo, Aru. Setiyohadi, Bambang. Ilmu Penyakit Dalam Jilid III. Edisi V. Jakarta. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Indonesia; 2006. 2. Guyton, Arthur C. dan John E. Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. EGC: Jakarta. 3. Agus. 2012. Diabetes Mellitus, Dibekam Saja. http://yarobbi.com/onresearch/diabetes-mellitus-dibekam-saja (diakses tanggal 18 Maret 2013). 4. Hakim, M. Saifudin. 2012. Khasiat Bekam bagi Penderita Diabet. http://tabloidbekam.wordpress.com/2011/03/22/khasiat-bekam-bagi-penderitadiabet/ (diakses tanggal 18 Maret 2013). 5. Gray, Jerry D. .2010. Rasulullah Is My Doctor. Sinergi : Jakarta.