You are on page 1of 19

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS GADJAH MADA FAKULTAS TEKNIK

TUGAS KULIAH KEWARGANEGARAAN IDENTITAS BUDAYA KABUPATEN KEDIRI

DISUSUN OLEH AHMAD FAIZAL AMIN 13/348538/TK/40963

YOGYAKARTA MARET 2014

I. PENDAHULUAN

A. Kondisi Geografis Kabupaten Kediri Kabupaten Kediri, adalah kabupaten di Provinsi Jawa dibatalkan[2]. Timur, Indonesia. Pusat

pemerintahan berada di Kediri meskipun pemindahan pusat pemerintahan ke Pare telah lama direncanakan dan bahkan sekarang Kabupaten Malang di ini berbatasan

dengan Kabupaten Blitar dan Kabupaten

Jombangdi

utara, Kabupaten

timur, Kabupaten

Tulungagung di

selatan, Kabupaten

Madiun dan Kabupaten

Ponorogodi barat, serta Kabupaten Nganjuk di barat dan utara. Kabupaten Kediri memiliki luas wilayah 963,21 km[3] dengan 26 kecamatan.

B. Sejarah Kediri Nama Kediri ada yang berpendapat berasal dari kata "KEDI" yang artinya "MANDUL" atau "Wanita yang tidak berdatang bulan".

Menurut kamus Jawa Kuno Wojo Wasito, 'KEDI" berarti Orang Kebiri Bidan atau Dukun. Di dalam lakon Wayang, Sang Arjuno pernah menyamar Guru Tari di Negara Wirata, bernama "KEDI WRAKANTOLO". Bila kita hubungkan dengan nama tokoh Dewi Kilisuci yang bertapa di Gua Selomangleng, "KEDI" berarti Suci atau Wadad. Di samping itu kata Kediri berasal dari kata "DIRI" yang berarti Adeg, Angdhiri,menghadiri atau menjadi Raja (bahasa Jawa Jumenengan).

Untuk itu dapat kita baca pada prasasti "WANUA" tahun 830 saka, yang diantaranya berbunyi :

"Ing Saka 706 cetra nasa danami sakla pa ka sa wara, angdhiri rake panaraban",artinya : pada tahun saka 706 atau 734 Masehi, bertahta Raja Pake Panaraban. Nama Kediri banyak terdapat pada kesusatraan Kuno yang berbahasa Jawa Kuno seperti : Kitab Samaradana, Pararaton, Negara Kertagama dan Kitab Calon Arang. Demikian pula pada beberapa prasasti yang menyebutkan nama Kediri seperti : Prasasti Ceker, berangka tahun 1109 saka yang terletak di Desa Ceker, sekarang Desa Sukoanyar Kecamatan Mojo. Dalam prasasti ini menyebutkan, karena penduduk Ceker berjasa kepada Raja, maka mereka memperoleh hadiah, "Tanah Perdikan". Dalam prasasti itu tertulis "Sri Maharaja Masuk Ri Siminaninaring Bhuwi Kadiri" artinya raja telah kembali kesimanya, atau harapannya di Bhumi Kadiri. Prasasti Kamulan di Desa Kamulan Kabupaten Trenggalek yang berangkat tahun 1116 saka, tepatnya menurut Damais tanggal 31 Agustus 1194.Pada prasasti itu juga menyebutkan nama, Kediri, yang diserang oleh raja dari kerajaan sebelah timur. "Aka ni satru wadwa kala sangke purnowo", sehingga raja meninggalkan istananya di Katangkatang ("tatkala nin kentar sangke kadetwan ring katang-katang deni nkir malr yatik kaprabon sri maharaja siniwi ring bhumi kadiri").

Menurut bapak MM. Sukarto Kartoatmojo menyebutkan bahwa "hari jadi Kediri" muncul pertama kalinya bersumber dari tiga buah prasasti Harinjing A-B-C, namun pendapat beliau, nama Kadiri yang paling tepat dimunculkan pada ketiga prasasti. AlasannyaPrasasti Harinjing A tanggal 25 Maret 804 masehi, dinilai usianya lebih tua dari pada kedua prasasti B dan C, yakni tanggal 19 September 921 dan tanggal 7 Juni 1015 Masehi. Dilihat dari ketiga tanggal tersebut menyebutkan nama Kediri ditetapkan tanggal 25 Maret 804 M. Tatkala Bagawanta Bhari memperoleh anugerah tanah perdikan dari Raja Rake Layang Dyah Tulodong yang tertulis di ketiga prasasti Harinjing.

Nama Kediri semula kecil lalu berkembang menjadi nama Kerajaan Panjalu yang besar dan sejarahnya terkenal hingga sekarang.Selanjutnya ditetapkan surat Keputusan Bupati Kepada Derah Tingkat II Kediri tanggal 22 Januari 1985 nomor 82 tahun 1985 tentang hari jadi Kediri, yang pasal 1 berbunyi "Tanggal 25 Maret 804 Masehi ditetapkan menjadi Hari Jadi Kabupaten Kediri.

MENGUKIR KEDIRI LEWAT TANGAN BHAGAWANTA BARI.

Mungkin saja Kediri tidak akan tampil dalam panggung sejarah, andai kata Bagawanta Bhari, seorang tokoh spiritual dari belahan Desa Culanggi, tidak mendapatkan penghargaan dari Sri Maharaja Rake Layang Dyah Tuladong. Boleh dikata, pada waktu itu Bagawanta Bhari, seperti memperoleh penghargaan Parasamya Purnakarya Nugraha, kalau hal itu terjadi sekarang ini. Atau mungkin seperti memperoleh penghargaan Kalpataru sebagai Penyelamat Liangkungan. Memang Kiprah Bagawanta Bhari kala itu, bagaimana upaya tokoh spiritual ini meyelamatkan lingkungan dari amukan banjir tahunan yang mengancam daerahnya. Ketekunannya yang tanpa pamrih inilah akhirnya menghantarkan dirinya sebagai panutan, sekaligus idola masyarakat kala itu. Ketika itu tidak ada istilah Parasamya atau Kalpataru, namun bagi masyarakat yang berhasil dalam ikut serta memakmurkan negara akan mendapat "Ganjaran" seperti Bagawanta Bhari, dirinya juga memperoleh ganjaran itu berupa gelar kehormatan "Wanuta Rama" (ayah yang terhormat atau Kepala Desa) dan tidak dikenakan berbagai macam pajak (Mangilaladrbyahaji) di daerah yang dikuasai Bagawanta Bhari, seperti Culanggi dan Kawasan Kabikuannya.

Sementara itu daerah seperti wilayah Waruk Sambung dan Wilang, hanya dikenakan "I mas Suwarna" kepada Sri Maharaja setiap bulan "Kesanga" (Centra).Pembebasan atas pajak itu antara lain berupa "Kring Padammaduy" (Iuran Pemadam Kebakaran),"Tapahaji

erhaji" (Iuran yang berkaitan dengan air), "Tuhan Tuha dagang" (Kepala perdagangan), "Tuha hujamman" (Ketua Kelompok masyarakat), "Manghuri" (Pujangga Kraton), "Pakayungan

Pakalangkang" (Iuran lumbung padi), "Pamanikan" (Iuran manik-manik, permata) dan masih banyak pajak lainnya.

Kala itu juga belum ada piagam penghargaan untuknya. maka sebagai peringatan atas jasanya itu lalu dibuat prasasti sebagai "Pengeleng-eleng" (Peringatan). Prasasti itu diberi nama "HARINJING B" yang bertahun Masehi 19 September 921 Masehi. Dan disebitlah "Selamat tahun saka telah lampau 843, bulan Asuji, tanggal lima belas paro terang, paringkelan Haryang, Umanis (legi). Budhawara (Hari Rabo), Naksatra (bintang) Uttara Bhadrawada, dewata ahnibudhana, yoga wrsa.Menurut penelitian dari para ahli lembaga Javanologi, Drs. M.M. Soekarton Kartoadmodjo, Kediri lahir pada Maret 804 Masehi. Sekitar tahun itulah, Kediri mulai disebut-sebut sebagai nama tempat maupun negara. Belum ada sumber resmi seperti prasasti maupun dokumen tertulis lainnya yang dapat menyebutkan, kapan sebenarnya Kediri ini benar-benar menjadi pusat dari sebuah Pemerintahan maupun sebagai mana

tempat.Dari prasasti yang diketemukan kala itu, masih belum ada pemisah wilayah administratif seperti sekarang ini.

Menurut penelitian dari para ahli lembaga Javanologi, Drs. M.M. Soekarton Kartoadmodjo, Kediri lahir pada Maret 804 Masehi. Sekitar tahun itulah, Kediri mulai disebutsebut sebagai nama tempat maupun negara. Belum ada sumber resmi seperti prasasti maupun dokumen tertulis lainnya yang dapat menyebutkan, kapan sebenarnya Kediri ini benar-benar menjadi pusat dari sebuah Pemerintahan maupun sebagai mana tempat.Dari prasasti yang diketemukan kala itu, masih belum ada pemisah wilayah administratif seperti sekarang ini.

Adanya Kabupaten dan Kodya Kediri, sehingga peringatan Hari Jadi Kediri yang sekarang ini masih merupakan milik dua wilayah dengan dua kepala wilayah pula. Menurut para ahli, baik Kadiri maupun Kediri sama-sama berasal dari bahasa Sansekerta, dalam etimologi "Kadiri" disebut sebagai "Kedi" yang artinya "Mandul", tidak berdatang bulan (aprodit). Dalam bahasa Jawa Kuno, "Kedi" juga mempunyai arti "Dikebiri" atau dukun.

Menurut Drs. M.M. Soekarton Kartoadmodjo, nama Kediri tidak ada kaitannya dengan "Kedi" maupun tokoh "Rara Kilisuci". Namun berasal dari kata "diri" yang berarti "adeg" (berdiri) yang mendapat awalan "Ka" yang dalam bahasa Jawa Kuno berarti "Menjadi Raja". Kediri juga dapat berarti mandiri atau berdiri tegak, berkepribadian atau

berswasembada. Jadi pendapat yang mengkaitkan Kediri dengan perempuan, apalagi dengan Kedi kurang beralasan. Menurut Drs. Soepomo Poejo Soedarmo, dalam kamus Melayu, kata "Kediri" dan "Kendiri" sering menggantikan kata sendiri. Perubahan pengucapan "Kadiri" menjadi "Kediri" menurut Drs. Soepomo paling tidak ada dua gejala. Yang pertama, gejala usia tua dan gejala informalisasi. Hal ini berdasarkan pada kebiasaan dalam rumpun bahasa Austronesia sebelah barat, di mana perubahan seperti tadi sering terjadi 27 Juli 879 M (Kota Kediri)

Sebagian anggota tim penelusuran hari jadi Kota Kediri, yang terdiri dari para sejarawan dan arkeolog, berpendapat bahwa hari jadi Kediri jatuh pada 27 Juli, sesuai dengan prasasti Kwak yang ditemukan di Desa Ngabean, Magelang, Jawa Tengah. Prasasti bertanggal 27 Juli 879 Masehi ini menyebut kata "Kwak", yang kebetulan adalah nama sebuah desa di Kediri. Daerah ini sampai sekarang masih ada. Sebagian lagi menganggap ulang tahun Kediri seperti tertulis di prasasti Hanjiring A (25 Maret 804 Masehi). Tapi ada pula yang memakai

prasasti Hanjiring B bertanggal 19 September 921 Masehi sebagai patokan. Kontroversi kian hangat di acara Pertemuan Ilmiah Arkeologi Nasional dan Kongres Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, yang digelar pada 23-28 Juli 2002 di Kediri. Para peserta mempertanyakan validitas penetapan hari jadi Kediri berdasarkan prasasti Kwak. Versi mana yang benar? Bagaimana pula sebetulnya cara menentukan hari jadi dan usia sebuah kota? Secara arkeologis, kata Edi Sedyawati, guru besar arkeologi Universitas Indonesia, sulit mencari parameter baku untuk menentukan hari jadi sebuah kota. Dan mengingat kota pada umumnya tumbuh secara berangsur-angsur, tidak mudah memastikan pada tahap mana sebuah kelompok hunian bisa disebut kota. Karena itu, banyak kota di Indonesia, termasuk Kediri, menentukan hari jadinya semata-mata berdasarkan prasasti atau situs peninggalan kuno yang dapat ditemukan. Menurut Edi, yang juga bekas direktur jenderal kebudayaan, penentuan hari jadi sebuah kota sering kontroversial karena ada dua aliran pemikiran. Aliran pertama menganggap hari jadi sebuah kota ditentukan dari sejak kapan suatu hunian (kota) diketahui pertama kali ada berdasarkan peninggalan benda-benda, seperti keramik, misalnya. Aliran kedua memandang hari jadi sebuah kota ditentukan oleh sejak kapan ia diberi nama seperti itu dalam prasasti tertua yang ditemukan. Kedua aliran bertumpu pada temuan benda kuno. Itu sebabnya arkeologi menjadi disiplin ilmu yang paling berperan menentukan usia sebuah kota. Namun, tidak selalu mudah menemukan artefak semacam itu. Tidak mudah pula menentukan umur sekeping keramik yang tertimbun tanah ratusan tahun. Karenanya, banyak disiplin ilmu lain, seperti sejarah politik dan sosial, untuk mendukung atau menguji sebuah temuan arkeologis. "Arkeologi sangat penting untuk meneguhkan sesuatu yang sudah disimpulkan oleh sejarah," kata Moehamad Habib Mustopo, guru besar arkeologi Universitas Negeri Malang. "Sejarah berdasarkan dokumen, arkeologi berdasarkan material culture," dia menambahkan. Habib mengatakan, kajian arkeologi dimulai dengan pelacakan ada-tidaknya material culture suatu tempat. Material culture itu bisa berupa artefak (benda-benda yang sengaja dibuat manusia, misalnya prasasti, arca, patung) atau situs (lokasi artefak berada). Pelacakannya bisa berdasarkan sumber tertulis melalui epigrafi (penelitian tulisan prasasti) ataupun filologi (penelitian tulisan yang cenderung ke fiksi atau kesusastraan). Setelah itu, arkeologi akan menguji validitas artefak yang ditemukan dan mencocokkannya dengan artefak pendukung lainnya. Tahap berikutnya adalah melakukan penafsiran terhadap semua temuan budaya, melibatkan para ahli dari pelbagai disiplin ilmu. Ahli fisika, misalnya, diperlukan untuk melakukan analisis karbon untuk menguji usia suatu benda. Baru setelah itu dilakukan penjelasan akhir tentang kesimpulan yang didapat setelah dilakukan uji metodologis. Pada kasus Kediri, tahap-tahap itu sebetulnya juga telah dilakukan. Ketua Tim Kajian Sejarah dan Budaya IKIP PGRI Kediri, Heru Marwanto, menyatakan pihaknya telah

melakukan riset panjang soal penentuan hari jadi tersebut dengan meneliti semua prasasti yang ada. Dan di antara beberapa catatan sejarah, prasasti Kwak atau prasasti Ngabean-lah yang paling bisa dipertanggungjawabkan validitasnya. Terdiri atas lima artefak, prasasti itu sekarang disimpan di Museum Nasional, Jakarta. Prasasti berbentuk lempengan tembaga berukuran 35,7 x 32,8 sentimeter dengan huruf Jawa kuno itu menyebut-nyebut soal adanya penganugerahan tanah tegalan (tgal) di Kwak seluas 4 tampah (meter persegi) untuk dijadikan areal sawah dengan status semacam tanah perdikan (sima). Kwak adalah nama sebuah kampung dan tempat pemandian yang sangat dikenal oleh masyarakat Kediri. "Selain itu, seluruh prasasti Kwak juga menyebut soal adanya pajak dan tata pemerintahan di sebuah kawasan yang dikenal sebagai Kediri," kata Heru Marwanto, yang juga Rektor Universitas Kediri. Jadilah prasasti Kwak dipakai sebagai "dasar hukum" untuk menentukan hari jadi dan umur Kediri. Masalahnya, para arkeolog masih berbeda penafsiran. Menurut Habib, kata "Kwak" yang dimaksud prasasti belum tentu nama tempat di Kediri. "Sejauh mana 'Kwak' yang disebut dalam prasasti itu mengacu pada Kediri?" tanya Habib, "Bukankah nama tersebut bisa berarti sebuah lokasi di tempat lain?" "Selain itu, ada sejumlah prasasti yang sebenarnya juga bisa dipakai sebagai pijakan dalam menentukan hari jadi dan usia Kota Kediri," kata Habib. Ada prasasti Pamotan bertanggal 20 November 1042 Masehi (periode Airlangga), misalnya, juga prasasti Hantang bertanggal 7 September 1135 (periode Jayabaya), dan prasasti Mula-Malurung yang bertahun 1255 Masehi (periode Singasari). Dari ketiga prasasti tersebut, menurut Habib, Hantang-lah yang punya argumen paling kuat karena jelas-jelas menyebut kata "Panjalu", yang identik dengan Kediri. Silang-sengketa itu belum berakhir. Itu sebabnya beberapa ilmuwan sering lebih menyandarkan diri pada dokumen sejarah yang lebih mutakhir. Dalam kasus Kediri, misalnya, hari jadi kota bisa ditentukan berdasarkan surat keputusan pembentukan administrasi kota itu pada era Republik Indonesia yang merdeka. "Cara ini yang paling valid," kata Edi. Adapun tentang umur sebenarnya Kota Kediri, orang tetap boleh memperdebatkannya. II. IDENTITAS BUDAYA KABUPATEN KEDIRI

A. Kesenian khas Kabupaten Kediri 1. Seni Reog

Seperti halnya di Ponorogo, kesenian Reog juga berkembang di wilayah Kabupaten Kediri. Kesenian ini ditarikan oleh 2 orang penari reog, 4 orang penari jaranan, 2 orang penari topeng penthul, 2 orang penari warok, yang menari diiringi gamelan. Salah satu kesenian reog yang ada di Kabupaten Kediri adalah Grup Reog Ki Ageng Suko Sewu, dari Desa Gringging, Kecamatan Grogol.

2. Seni Tayub

Tayub atau Langen Tayub adalah salah satu bentuk tari pergaulan dan sangat memasyarakat di Kabupaten Kediri. Dalam seni tayub penari putra disebut

sebagaiPengibing sedangkan penari putri disebut waranggono yang sekaligus sebagai vokalisnya. Selain penari ada seorang lagi yang bertugas sebagai pembagi giliran dalam menari dengan mengalungkan sampur pada calon penari berikutnya, tugas ini dilaksanakan olehPramugari Salah satu Seni Tayub yang berkembang di Kabupaten Kediri adalah Seni Tayub Mekarsari yang beralamat di Desa Banyuanyar, Kecamatan Gurah.

3. Campursari

Seni Campursari merupakan jenis seni musik yang mengkolaborasikan musik tradisional dan musik modem terutama pada alat musiknya yang memadukan antara gamelan dan alat musik modem seperti gitar, organ dan drum. Lagu-lagu yang dibawakannya pun merupakan lagu Jawa yang populer dimasyarakat. Dalam penampilannya seni Campursari menampilkan penyanyi-penyanyi yang sudah cukup temama dan tidak jarang pula dalam penyajiannya menampilkan pelawak sebagai hiburan.

4. Seni Qosidah

Qosidah adalah jenis kesenian Islami yang berkembang di wilayah Kabupaten Kediri, kesenian ini diyakini sebagai kesenian warisan dari Wali Songo yang menyebarkan Islam di wilayah Jawa Timur. Salah satu grup qosidah yang berkembang di Kabupaten Kediri ini adalah Qosidah Muhabbatain dari Kecamatan Kunjang

5. Seni Ludruk

Kesenian Ludruk ini merupakan kesenian yang menampilkan bentuk seni peran. Cerita yang ditampilkan dalam kesenian inipun beragam mulai cerita masa kerajaan sampai dengan masa perjuangan. Ludruk merupakan kesenian khas Jawa Timur dan berkembang di seluruh wilayah Jawa Timur, di Kabupaten Kediri Kesenian Ludruk juga berkembang dengan baik. Salah satu organisasi kesenian Ludruk a i Kabupaten Kediri adalah Ludruk Kusuma Baru, Alamat: Desa Payaman, Kecamatan Plemahan. Seni Wayang Orang (Wayang Uwong)

Kesenian Wayang Orang, Seperti halnya kesenian di Jawa pada umumnya, Kesenian wayang orang terdapat juga di wilayah Kabupaten Kediri, kesenian ini menampilkan cerita adegan demi adegan dengan mengisahkan lakon Mahabarata maupun Ramayana. Salah satu organisasi kesenian di Kabupaten Kediriadalah Wayang Orang Sari Budoyo , Alamat: Jalan Pamenang, Katang, Kecamatan Gampengrejo.

6. Seni Wayang Kulit

Wayang Kulit merupakan kesenian Jawa yang bernuansa Islami yang mengadaptasi budaya pra-Islam dengan proses akulturasi budaya yang sangat kental, kesenian wayang berkembang pesat di Jawa. Pada mulanya seni pewayangan dikembangkan oleh Wali Songo sebagai penyebar Agama Islam. Di Kabupaten Kediri ada beberapa bentuk wayang kulit yaitu:

1. Wayang kulit gaya Jawa Timuran 2. Wayang kulit gaya Surakarta 3. Wayang kulit gaya Yogyakarta

Kesenian wayang yang terdapat di Kabupaten Kediri ini tergabung dalam sebuah wadah organisasi PEPADI Alamat Sekretariat: Desa Kawedusan Kecamatan Plosoklaten.

Seni Atraksi Akrobatik

Seni Atraksi Akrobatik ini terdapat di Kecamatan Kras, atraksi ini menampilkan kepiawaian dan ketrampilan sang pawang dalam bergulat dengan binatang buas yang sangat

berbahaya, tak jarang dalam melaksanakan aksinya sang pawang melakukan ritual keselamatan terlebih dahulu. Salah satu bentuk atraksi yang ditampilkan dalam kesenian ini antara lain adalah duel dengan King Kobra dan duel dengan buaya, Grup seni atraksi ini dipimpin oleh Mbah Slamet, alamat di Kecamatan Kras. 7. Seni Bantengan

Seperti halnya kesenian jaranan, kesenian bantengan merupakan kesenian rakyat yang tumbuh subur di Kabupaten Kediri khususnya di Daerah timur Kabupaten Kediri, yaitu di Kecamatan Kepung, atraksi yang ditampilkan dari kesenian ini adalah atraksi banteng yang ditarik oleh beberapa orang, tak jarang pemainnya mengalami trance (Ndadi, Jw.). Dan menampilkan atraksi memakan ayam hidup-hidup salah satu Kesenian bantengan ada di Desa Karang Dinoyo, Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri.

B. Makanan Khas Kabupaten Kediri

1. Ayam Bakar Bangi - Purwoasri Terletak di Jalan Raya Desa Bangi Purwoasri. Sekitar 30 km dari kota Kediri, atau hanya 10 km dari pertigaan Brakan Kertosono yang merupakan jalur antar provinsi yang akan memudahkan Anda mencapainya. Ayam kampung berusia 3-4 bulan yang ditusuk, dibumbui, dan dibakar secara tradisional dengan arang kayu dan kipas manual menciptakan ayam bakar dengan bumbu meresap secara perlahan dan sempurna. Bumbu bumbu organik yang dicampurkan juga memberikan sensasi pedas yang

menjadi ciri khas kuliner ini.

Sebagai pelengkap makanan, disajikan pula urap sayuran terdiri dari tauge, kangkung, dan kacang panjang rebus beserta urapan parutan kepala pedas dengan campuran cabai rawit, bawang putih, dan kencur. Kuliner ayam bakar ini buka seiap hari jam 10 pagi hingga jam 9 malam. Cukup dengan tak lebih dari Rp. 50.000,- Anda sudah dapatkan sajian seekor ayam bakar pedas dan urap-urap sayuran.2. Sate Bekicot Salah satu kuliner khas yang terkenal di Kabupaten Kediri adalah produk makanan dari bekicot. Di sekitar Desa Plosoklaten, tepatnya 10 kilometer dari kawasan Monumen Simpang Lima Gumul, berjajar kioas-koas yang menawarkan produk olahan bekicot seperti kresengsengan gebecot, sate bekicot, ataupun keripik bekicot. Sentra terbesat disini adalah di Depot Mbak Sri yang terletak di depan kantor Kecamatan Plosoklaten, di Jalan Raya Pare - Wates yang merupakanjalur utama dari arah Surabaya menuju Wisata Gunung Kelud. Selain itu, banyak berjajar pula jios bekicot atau masyarakat menyebutnya sate 02 (nol dua).

3. Sate Emprit

Berbeda dengan sate ayam yang ketika dibakar masih berwarna putih, untuk sate emprit warnanya menjadi kecokelatan. Teksturnya liat, tidak lengket, aroma rasanya kuat, tanpa lemak, dan gurih.

Dipadu dengan bumbu garam, penyedap rasa, kacang, dan kecap, rasa sate emprit semakin nendang. Sebab saat daging berpadu dengan bumbu kacang, memunculkan sensasi unik, seperti daging ayam tetapi rasanya lebih gurih.

4. Soto Branggahan Sebagaimana soto-soto lain yang memiliki ke khasan sesuai daerah dimana soto tersebut dijual, soto Branggahan juga memiliki kekhasan, kekhasan itu terletak pada piranti makan dan racikan bahan yang digunakan. Dari sisi piranti makan, soto Branggahan (yang asli) disajikan menggunakan mangkuk kecil (seperti mangkuk bubur cina kuno) dan sendok bebebk berbahan baja tahan karat (Steinless Steel). Sementara untuk racikan bahan, berbeda dengan beberapa jenis soto, soto Branggahan berkuah santa yang telah dicampur dengan kemiri.ini digunakan agar kuah tidak bening dan dapat rasa gurih. Ini berbeda dengan soto kudus yang menggunakan taburan kacang goreng sebagai penambah gurih.

2. Piranti makan yang unik dan rasa guri namun tidak eneg ketika mengkonsumsi soto Branggahan mayoritas konsumen tanduk (tambah) ketika menikmatinya. Soto branggahan beberapa pembelinya sampai tambah enam hingga 8 mangkok. 3. Soto Kediri

Soto Kediri adalah sebuah masakan khas dari Kota Kediri. Sekilas soto ini seperti soto ayam biasa, tapi soto ini memiliki cita rasa yang gurih dan nikmat serta sedap yang tidak bisa ditemui pada soto ayam lain. Perbedaan terbesar Soto Kediri dengan soto ayam biasa, terletak pada kuah sotonya. Kuah pada Soto Kediri dikasih santan sehingga rasa gurihpun tercipta. Soto Kediri bisa ditemui di warung - warung yang ada di kota Kediri, Terutama di kawasan Terminal Tamanan, kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Jadi jika anda bepergian naik bus, tidak ada salahnya anda turun di Terminal Tamanan yang berada di kota Kediri. Terminal ini juga dekat dengan tempat wisata, yaitu Gua Maria Lourdes, Puh Sarang Kediri; Kompleks Pertapaan Goa Selomangleng.

C. Pariwisata di Kabupaten Kediri 1. Gunung Kelud

Gunung

Kelud (sering

disalahtuliskan

menjadi Kelut yang

berarti

"sapu"

dalam bahasa Jawa; dalam bahasa Belanda disebut Klut, Cloot,Kloet, atau Kloete) adalah sebuah gunung berapi di Provinsi Jawa Timur, Indonesia, yang tergolong aktif. Gunung ini berada di perbatasan antara Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang , kira-kira 27 km sebelah timur pusat Kota Kediri. Gunung api ini termasuk dalam tipe stratovulkan dengan karakteristik letusan eksplosif. Seperti banyak gunung api lainnya di Pulau Jawa, Gunung Kelud terbentuk akibat proses subduksi lempeng benua Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia. Sejak tahun 1300 Masehi, gunung ini tercatat aktif meletus dengan rentang jarak waktu yang relatif pendek (9-25 tahun), menjadikannya sebagai gunung api yang berbahaya bagi manusia. Kekhasan gunung api ini adalah adanya danau kawah, yang dalam kondisi letusan dapat menghasilkan aliran lahar letusan dalam jumlah besar, dan membahayakan penduduk sekitarnya. Letusan freatik tahun 2007 memunculkan sumbat lava ke permukaan danau, sehingga danau kawah nyaris sirna, menyisakan genangan kecil seperti kubangan air. Sumbat lava ini hancur pada letusan besar di awal tahun 2014. Puncak-puncak yang ada sekarang merupakan sisa dari letusan besar masa lalu yang meruntuhkan bagian puncak purba. Dinding di sisi barat daya runtuh terbuka sehingga kompleks kawah membuka ke arah itu. Puncak Kelud adalah yang tertinggi, berposisi agak di timur laut kawah. Puncak-puncak lainnya adalah Puncak

Gajahmungkur di sisi barat dan Puncak Sumbing di sisi selatan.

Menuju kawasan puncak Gunung Kelud sejak tahun 2004 hubungan jalan darat telah diperbaiki untuk mempermudah para wisatawan serta penduduk. Gunung Kelud telah menjadi obyek wisata Kabupaten Kediri dengan atraksi utama adalah kubah lava. Di puncak Gajahmungkur dibangun gardu pandang dengan tangga terbuat dari semen. Pada malam akhir pekan, kubah lava diberi penerangan lampu berwarna-warni[31]. Selain itu, telah disediakan pula jalur panjat tebing di puncak Sumbing, pemandian air panas, serta flying fox. Tindakan Kabupaten Kediri membangun kawasan wisata ini mendapat protes dari Kabupaten Blitar, yang menganggap wilayah puncak Kelud merupakan wilayahnya[32]. Sengketa wilayah ini terutama meruncing setelah turunnya Surat Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 188/113/KPTS/013/2012 yang menyatakan bahwa kawasan puncak Kelud merupakan wilayah Kabupaten Kediri.

2. Masjid Annur Pare

Masjid An-Nur Pare adalah masjid yang terletak di Jalan Panglima Sudirman, Pare, Kediri. Masjid An-Nur Pare menjadi representasi penting untuk masyarakat setempat. Selain sebagai tempat ibadah, masjid yang dibangun pada tahun 1996 ini, juga merupakan pusat syiar Islam di Pare dan Kediri. Seperti kebanyakan masjid di Indonesia, arsitektur khas Jawa bisa dilihat pada bentuk atap masjid, yaitu atap tajug untuk bangunan induknya dan atap joglo untuk bangunan tempat masuk. Agar terkesan ekspresif, atap tajug dirancang berebentuk piramid di bagian atasnya, dengan kemiringan sudut yang dipertajam sedemikian rupa, sehingga diperoleh kesan atap yang

menjulang ke langit. Bangunan beratap tajug dan joglo itu, konon, telah dikenal sejak masa Kerajaan Kahuripan dan Doho. Dalam arsitektur tradisional Jawa, biasanya atap tajug atau joglo ditunjang 4 soko guru. Pada Masjid An-Nur, setiap soko guru itu digandakan menjadi empat soko guru. Keempat soko guru ini disatukan oleh balok pengikat yang saling bersilangan di tengah dengan arah miring ke atas dan bersatu di titik puncak persilangan. Pada titik inilah balok pendukung space frame yang digunakan untuk konstruksi atap itu bertumpu. Struktur space frame dipilih untuk kerangka atap bertujuan untuk memberi kesan ringan yang diekspresikan oleh rerangka space frame tersebut, yang sengaja tidak ditutup dengan plafond, sehingga kontras dengan kesan kokohnya susunan balok dan soko-soko guru pendukungnya. Rancangan Masjid An-Nur ini diilhami oleh John Portman, arsitek asal Amerika Serikat. Salah satu elemen rumah yang paling menonjol adalah kolom-kolomnya. Kolom yang 'dibengkokkan' (exploded column), yang didalamnya dikosongkan dan difungsikan khususnya untuk sirkulasi antar ruang dan tangga yang menghubungkan lantai bawah dan lantai atas. Kolom yang 'dibengkokkan' inilah yang digunakan perancang untuk kolom-kolom masjid bagian luar, dengan tujuan untuk memberi proporsi yang sesuai dengan jarak kolom yang membentengi tiga traffee bagian luar. Selain itu juga memberikan tampilan yang kontras antara kolom lingkar yang kokoh dengan bidang dinding kaca lebar yang transparan di lantai satu. Bidang dinding kaca ini diperlukan untuk memberi kesan bebas pada para jamaah dari dalam masjid yang ingin melihat ke taman di luarnya. Konsep arsitektur inilah yang mengantar Masjid An-Nur mendapat penghargaan Juara Pertama Sayembara Internasional untuk kategori Perancangan Arsitektural Masjid, termasuk pemanfaatan teknologi modern dalam arsitektur masjid. Penghargaan ini diberikan oleh Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia dalam rangka memperingati 100 tahun berdirinya Kerajaan Saudi, akhir Januari 1999 lalu.

III. DAFTAR PUSTAKA http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Kediri http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Kelud http://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_An-Nur_Pare http://makanankhasmu.blogspot.com/2013/03/makanan-khas-kediri.html