You are on page 1of 3

Akuisisi XL-Axis Skandal Korporasi Berujung Kerugian Negara?

Kamis, 20 Februari 2014 , 15:02:00 WIB - Korporat

Ilustrasi pengguna telpon XL (xl.co.id)


JAKARTA, GRESNEWS.COM - Langkah PT XL Axiata Tbk (XL) untuk mengakuisisi PT Axis Telekom Indonesia (Axis) bisa menjadi skandal korporasi yang berujung pada kerugian negara. Ada beberapa hal yang melanggar aturan terutama dalam proses pengalihan frekuensi yang digelar tanpa tender terbuka. Koordinator Investigasi dan Advokasi Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Ucok Sky Khadafi menilai rencana akuisisi ini hanya akal-akalan untuk menguntungkan operator milik negeri jiran yaitu Malaysia. Komposisi kepemilikan XL terdiri dari Axiata Investments (Indonesia) Sdn. Bhd (66,648%), dari Malaysia; dan Publik (33,451%) dari Indonesia. Ucok berpendapat sikap Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring telah melewati batas kewenangannya. Karena ia tidak berdiskusi lebih dulu dengan DPR mengenai pengalihan frekuensi. "Frekuensi itu kan aset negara dan merupakan sumber daya terbatas, jangan main alihkan saja," katanya, Kamis (20/2). Dia menyarankan agar frekuensi yang dimiliki Axis diserahkan lewat mekanisme tender. Dengan pola tender ia yakin negara lebih diuntungkan. Hal ini berbeda bila frekuensi Axis di 1800 Mhz dialihkan langsung ke XL maka negara disinyalir akan merugi karena tidak memperoleh pendapatan maksimal. Ucok berhitung jika negara memilih frekuensi Axis diserahkan kepada mekanisme tender maka sampai 10 tahun ke depan mencapai Rp15,9 triliun. Hal itu berasal dari biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi pita 2,1 Ghz sebesar Rp6,9 triliun dan BHP frekuensi pita 1800 Mhz sebesar Rp8,9 triliun. Namun bila spektrum Axis ditarik dan dilakukan lelang pada 2014 diperkirakan penerimaan BHP frekuensi sampai dengan 2023 untuk BHP frekuensi pita 2,1 Ghz sebesar Rp8,35 triliun dan BHP

frekuensi pita 1800 Mhz Rp9,6 triliun. Sehingga pendapatan mencapai Rp18,028 triliun. "Artinya jika spektrum frekuensi milik Axis tidak dilelang maka pemerintah rugi hingga Rp3,4 triliun," kata Ucok, Ucok pun mengaku heran dengan sikap Tifatul yang tetap meneruskan rencana akuisisi XL dengan Axis yang memiliki komposisi saham: Teleglobal Investments B.V (80,10%), dari Belanda; Althem B.V (14,90%) dari Belanda; dan PT Harmersha Investindo (5%) dari Indonesia. Diduga kebijakan akuisisi tersebut bertabrakan dengan regulasi karena frekuensi milik Axis sejumlah 15 MHz di 1800 MHz diberikan seluruhnya kepada XL tanpa proses tender. Maka dari itu Ucok menilai proses akuisisi XL dengan Axis merupakan skandal korporasi yang harus dicegah karena memiliki potensi kerugian negara dan adanya keterlibatan penyelenggaraan negara. Jika mengacu ketentuan Pasal 33 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi untuk penggunaan spektrum frekuensi wajib mendapatkan izin pemerintah. "Dengan alasan apapun, spektrum tak bisa dipindahtangankan," kata Ucok. Sementara itu, pengamat telekomunikasi Heru Sutadi menyatakan ada ganjalan ketika frekuensi milik Axis dilelang siapa yang mau membeli frekuensi tersebut? Bahkan merujuk pada saat pemerintah melelang proyek 3G yang berminat hanya dua operator karena industri telekomunikasi saat ini sudah sampai dalam posisi merugi. Dia mengungkapkan laporan kinerja beberapa operator telekomunikasi seperti PT Indosat yang merugi sebesar Rp1,7 triliun di tahun 2013. Telkom mengalami kerugian sebesar Rp1,5 triliun, Bakrie Telecom mengalami kerugian sebesar Rp1,5 triliun, Telkom Flexi dan Star One juga sudah mau tutup. Kerugian perusahaan telekomunikasi ini karena semakin banyak jumlah operator tetapi penggunaan tidak bertambah. "FITRA itu bukan berasal dari industri telekomunikasi. Jadi dia tidak mengerti apa yang terjadi industri telekomunikasi. Jadi kan asumsinya adalah frekuensinya ditarik semua kemudian dilelang, jadi memang asumsi itu cara berpikir orang luar seperti itu," kata Heru kepada Gresnews.com, Jakarta, Kamis (20/2). Dia mengatakan jika frekuensi tersebut diambil oleh pemerintah namun ketika tidak bisa dilelang dan tidak ada yang berminat justru negara malah dirugikan. Apalagi harga dari frekuensi terbilang cukup mahal jika dijual. Heru berpendapat kalau frekuensi Axis sudah ada peminatnya yakni XL sudah bagus. Apalagi kondisi Axis saat ini memiliki utang sebesar Rp600 miliar. Dia menilai proses akuisisi XL dan Axis merupakan keniscayaan karena memang industri telekomunikasi tidak ada yang bertahan jika para pemainnya terlalu banyak. Dia mencontohkan seperti pemerintah mencoba 'menjodohkan' operator A dan operator B tapi hal itu tidak bisa berjalan mulus karena hitung-hitungan bisnisnya pun berbeda dan platform perusahaan pun juga tidak sama.

"Ya itu kan sama kayak koalisi partai politik ada yang cocok dan ada yang tidak cocok," kata Heru.

Heru mengatakan jika mengacu keberatan DPR dalam proses akuisisi XL-Axis karena DPR tertuju kepada Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dan itu suara DPR juga masih terpecah. Menurutnya jika dilihat dari persaingan usaha kedua perusahaan ini masih tergolong kecil hanya menguasai pasar sekitar 27-28%. Bahkan yang mendominasi industri telekomunikasi ada anak usaha PT Telkom (Persero) Tbk yaitu Telkomsel sebesar 50% Jika alasan Fitra mengacu kepada kepentingan asing, Heru menilai hampir rata-rata perusahaan telekomunikasi sahamnya ada yang dimiliki asing. Sebut saja Telkomsel, saham asing memiliki sebesar 35 persen saham, 40 persen milik pasar. Hal itu dipengaruhi karena faktor kepemimpinan Megawati yang sudah membuka keran asing sejak lama "Jadi kalau pemerintah ingin menutup asing harus dirubah dulu daftar negatif investasi," kata Heru. Sebagai latar, pada 26 September lalu Presiden Direktur PT XL Axiata Tbk Hasnul Suhaimi dan Chairman of the Board of Saudi Telecom Company Abdulaziz A. Alsugair telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Bersyarat (Conditional Sales Purchase Agreement - CSPA) atas Axis senilai US$865 juta atau sekitar Rp9,9 triliun. Sesuai aturan yang berlaku, XL lantas melayangkan surat ke Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) dan KPPU untuk memperoleh persetujuan akuisisi. Pada 28 November 2013, Kemenkominfo sudah memberikan lampu hijau. Alasannya, akuisisi tersebut bisa mendorong efisiensi industri telekomunikasi. Selain itu, XL juga berjanji mengembalikan 1 blok frekuensi 3G. Blok yang dikembalikan itu rencananya akan dilelang oleh pemerintah dan diperkirakan bisa menghasilkan penerimaan negara hingga Rp500 miliar. Reporter : Heronimus Ronito KS Redaktur : Muhammad Fasabeni

Sumber : http://www.gresnews.com/berita/detail-print.php?seo=1427202-akuisisi-xl-axis-skandalkorporasi-berujung-kerugian-negara