You are on page 1of 14

Merajut Toleransi di Tengah Pluralisme Beragama di Indonesia

Pembimbing: Dra. Charunie Baroroh, M.Si. Tujuan


Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas dan guna mengembangkan kemampuan dibidang akademis mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan

Disusun Oleh FKIP Pendidikan Fisika 2013 Kelas A:

Azhar Umam
K2313012

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret


Surakarta 2014
1

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Merajut Toleransi di Tengah Pluralisme Berbangsa dan Bernegara tepat pada waktunya. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dra. Charunie Baroroh, M.Si. sebagai dosen pengajar mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan atas arahan dan bimbingannya. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang turut membantu baik secara moril maupun meteril dalam proses penyelesaian makalah ini. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat kekurangan. Sehubungan dengan hal tersebut, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna mewujudkan makalah yang lebih baik di masa mendatang. Akhir kata, penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan konstribusi positif kepada para pembaca.

Surakarta, April 2014

Penulis

DAFTAR ISI
COVER..1 KATA PENGANTAR....2 DAFTAR ISI..3 I. PENDAHULUAN a. Latar Belakang...4 b. Rumusan Masalah......5 c. Tujuan Penulisan...5 d. Manfaat Penulisan 5 e. Metode Penulisan..6 II. PEMBAHASAN a. Pengertian Toleransi .7 b. Pengertian Pluralisme Beragama ..8 c. Keterkaitan Antara Sikap Toleransi Dengan Pluralisme Beragama .9 d. Contoh Peristiwa Penyimpangan Dari Sikap Toleransi Yang Terdapat Dalam Masyarakat 9 e. Faktor Internal Dan Eksternal Yang Mempengaruhi Sikap Toleransi Dalam Individu ...10 f. Contoh Aplikasi Sikap Toleransi Terhadap Pluralisme Beragama Di Lingkungan .11 g. Cara Menumbuhkan Sikap Toleransi Dalam Diri ..11 h. Peran Pemerintah Dalam Membangun Sikap Toleransi Antar Umat Beragama .12 III. PENUTUP a. Kesimpulan......13 b. Rekomendasi...13 DAFTAR PUSTAKA.. 14

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman agama, karena itu diperlukan adanya sikap menghargai. Toleransi merupakan sikap dapat saling menghargai antara individu yang satu dengan yang lain tanpa memperhatikan latar belakang agama setiap individu. Indonesia yang memiliki beragam ajaran agama yang bebas untuk dianut setiap masyarakatnya , membuat sikap toleransi ini sangat diperlukan dalam menjalani kehidupan dalam masyarakat. Asas Bhineka Tunggal Ika merupakan asas yang mengandung makna berbeda-beda tetapi tetap satu jua dimana asas ini menyatakan bahwa meskipun manusia itu berbeda latar belakangnya, namun tetap satu jiwa dalam Indonesia. Adanya sikap toleransi dalam diri setiap manusia harus mulai ditumbuhkan sejak individu tersebut mulai mengenal lingkungan sekitarnya. Peran keluarga menjadi sangat penting dalam pengembangan sikap toleransi tersebut dalam diri anak. Di antara pluralitas masyarakat yang cukup krusial adalah kemajemukan agama. Berbagai ragam agama dan keyakinan tumbuh di Indonesia, sejak awal perkembangannya hingga saat ini. Masing-masing agama tentu mempromosikan diri pada pemeluknya sebagai ajaran yang paling benar. Meskipun demikian, tidak satupun agama yang mengajarkan permusuhan dan kekerasan terhadap penganut agama lain. Dalam perspektif ini, semestinya terbangun kohesi sosial antar pemeluk agama dan hidup berdampingan secara damai (peaceful coexistence). Namun, dalam tataran empirik, perilaku keagamaan para pemeluknya yang merasa superior atas penganut agama lain, sering menjadi pelatuk konflik sosial yang cukup serius. Konflik berdarah antara komunitas Islam dan Kristen di Maluku, Poso dan beberapa tempat lainnya beberapa waktu lalu, menegaskan pada kita betapa kesadaran pemahaman tentang pluralitas keagamaan masih perlu ditingkatkan dan terus dipromosikan. Konflik antar pemeluk agama karena pendirian tempat ibadah atau perbedaan pemahaman tentang doktrin keagamaan, juga sering mengemuka dalam realitas sosial masyarakat.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang telah diungkapkan diatas, penulis dapat merumuskan masalah sebagai berikut. 1. Apa itu pengertian dari toleransi beragama? 2. Apa itu pengertian dari pluralisme? 3. Bagaimana keterkaitan antara sikap toleransi dengan pluralisme? 4. Apa contoh dari peristiwa penyimpangan sikap toleransi? 5. Apa saja faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi kesadaran dalam toleransi? 6. Bagaimana aplikasi sikap toleransi dalam lingkungan? 7. Bagaimana cara menumbuhkan sikap toleransi dalam diri? 8. Bagaimana peran pemerintah dalam menumbuhkan sikap toleransi?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas dan hasil penelitian, penulis mempunyai beberapa tujuan yang ingin dicapai. Adapun tujuannya sebagai berikut. 1. Mengetahui arti dari toleransi beragama 2. Memahami pengertian dari pluralisme 3. Mengetahui keterkaitan hubungan antara sikap toleransi dengan pluralisme 4. Dapat menyebutkan contoh dari peristiwa penyimpangan sikap toleransi 5. Mengetahui apa saja faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi kesadaran dalam toleransi 6. Mengetahui pengaplikasian sikap toleransi dalam lingkungan 7. Mengetahui bagaimana cara menumbuhkan sikap toleransi dalam diri 8. Mengetahui bagaimana peran pemerintah dalam menumbuhkan sikap toleransi?

D. Manfaat
Penulisan makalah ini memiliki manfaat sebagai berikut.

1. Manfaat Umum Makalah hasil pengkajian penulis ini dapat menunjang materi pembelajaran dan dapat dijadikan bahan baku referensi pembelajaran. 2. Manfaat Khusus Penulis dapat menambah wawasan dan pengetahuan penulis serta dapat melatih penulis untuk memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan lebih telaten dalam mencari dan mengumpulkan sumber dan informasi selama melakukan pengkajian. 3. Manfaat untuk penulis yang akan datang Makalah hasil pengkajian sebelumnya dapat dijadikan bahan referensi sumber untuk pembuatan makalah selanjutnya dan dapat memberi gambaran dalam pengkajian yang akan dilakukannya.

E. Metode Penulisan
1. Subjek Penulisan Subjek Penulisan adalah kajian tentang konsep toleransi dalam masyarakat plural, yang pengambilan datanya diambil dari berbagai buku yang berisi tentang usaha merajut toleransi di tengah pluralisme beragama di Indonesia dan dari berbagai sumber lainnya. 2. Prosedur Penulisan Prosedur penulisan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: a) Menentukan sumber-sumber yang akan dijadikan referensi pembuatan makalah. b) Mengidentifikasi aspek dan konsep apa saja yang yang diperlukan sebagai upaya untuk merajut toleransi di tengah pluralisme beragama di Indonesia. c) Menyusun semua informasi yang telah diperoleh untuk menjawab rumusan masalah yang telah dibuat.

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Toleransi
Toleransi awalnya berasal dari bahasa Latin, tolerare yang berarti menahan diri,

bersikap sabar, membiarkan orang berpendapat lain, dan memiliki hati yang lapang bagi orang lain yang memiliki pendapat berbeda. Kata toleransi sendiri juga dalam bahasa Inggris dikenal sebagai tolerance (Wibowo, 2009). Toleransi memiliki definisi yaitu sikap mental sebagai perwujudan dari kesiapan untuk menerima perbedaan dari orang lain, bahkan dipadukan dengan kesiapan untuk memahami diri mereka dalam keberbedaan mereka. Adanya sikap toleransi dapat memberikan kesadaran bagi seseorang untuk memberikan kebebasan kepada seseorang atau sekelompok orang untuk bisa mengatur kehidupan mereka sendiri (termasuk beribadah) asalkan tidak bertentangan dengan stabilitas di masyarakat (Schumann, 2006). Merujuk pada pengertian toleransi tersebut, ada dua model toleransi, yaitu: Pertama, toleransi pasif, yakni sikap menerima perbedaan sebagai sesuatu yang bersifat faktual. Kedua, toleransi aktif, melibatkan diri dengan pihak lain di tengah perbedaan dan keberagaman. Toleransi aktif merupakan ajaran semua agama. Hakikat toleransi adalah kesediaan untuk hidup berdampingan secara damai dan saling menghargai di antara komunitas yang beragam. Untuk bisa mewujudkan toleransi secara pasif maupun aktif, toleransi kepada sesama manusi haruslah memenuhi beberapa unsur berikut: 1. Mengakui Hak Orang Lain Yakni sikap mental yang mengakui bahwa setiap orang memiliki hak-hak dasar yang asasi dalam hal: agama. kepercayaan, pendapat, sikap yang mungkin

berbeda dengan dirinya. Hak dasar orang lain itu harus kita akui sebagaimana orang lain juga harus mengakui hak asasi kita. 2. Menghormati dan Menghargai Keyakinan Orang Lain Setiap orang tentu memiliki keyakinan atau kepercayaan terhadap sesuatu hal, misalnya dalam hal beragama yang telah diwarisi sejak ia lahir atau saat ia dewasa. Keyakinan beragama dan tatacara mengekspresikannya dalam

peribadatan itu harus kita hormati dan kita hargai, sebagaimana orang lain harus menghormati keyakinan agama dan tatacara ibadah yang kita lakukan. 3. Setuju dalam Perbedaan Unsur lain dari toleransi yang cukup penting adalah sikap agree in disagreement (setuju dalam ketidaksetujuan), yakni sikap yang menyetujui berbagai perbedaan yang berbeda dengan sikap kita. Perbedaan atau kita harus

keanekaragaman adalah fitrah kehidupan manusia. Oleh karena itu

menerima perbedaan itu sebagai realitas sosial yang akan menjadi pilar pembentukan masyarakat yang majemuk. 4. Saling Mengerti Ini merupakan salah satu unsur toleransi yang paling penting dalam mewujudkan relasi sosial kemasyarakatan yang harmonis, damai, tenteram dan penuh tenggang rasa. Tanpa sikap saling pengertian, tidak akan terwujud toleransi di tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian, dari kajian bahasa di atas, dapat disimpulkan bahwa esensi toleransi mengarah kepada sikap memahami, menerima dan menghargai adanya berbagai macam perbedaan, baik dari sisi suku bangsa, warna kulit, bahasa, adatistiadat, budaya, bahasa, serta agama.

B. Pengertian Pluralisme Beragama


Pluralisme awalnya berasal dari bahasa Latin yaitu plures yang memiliki arti beberapa dengan implikasi perbedaan. Dalam bahasa Inggris dikenal pluralism . Dengan demikian pluralisme beragama dapat didefinisikan sebagai suatu sistem yang memandang keberagaman secara positif dan dapat menerimanya sebagai kenyataan dan berusaha untuk berbuat sebaik mungkin terhadap kenyataan itu. Dari asal usul kata ini diketahui bahwa pluralism beragama tidak menghendaki keseragaman bentuk agama. Sebab jika keragaman sudah

terjadi , maka tidak akan ada lagi pluralitas agama . Agama agama jelas berbeda antara satu dengan yang lain. Setiap agama memiliki konsep partikularitasnya sendiri sehingga sangat tidak mungkin jika semua agama menjadi sama persis. Yang dikehendaki dari gagasan pluralisme adalah pengakuan secara aktif terhadap agama lain (Moqsith, 2009). Pluralisme merupakan suatu kondisi dimana suatu wilayah yang masyarakatnya memiliki keanekaragaman latar belakang. Perbedaan latar belakang tersebut dapat berupa perbedaan suku, agama, ras. Sedangkan pluralisme beragama sendiri adalah suatu kondisi dimana suatu negara memiliki lebih dari satu ajaran agama dan masing masing masyarakat berhak untuk memeluk salah satu ajaran agama tersebut dengan merdeka.

C. Keterkaitan Beragama

Antara

Sikap

Toleransi

Dengan

Pluralisme

Indonesia merupakan negara yang menganut pluralisme beragama , dimana di dalamnya masyarakat dapat secara bebas / tanpa paksaan untuk menganut salah satu ajaran beragama tersebut. Setiap ajaran agama tersebut pasti memiliki tata cara tersendiri dalam menjalankan aspek keagamaannya. Meskipun terdapat banyak ajaran agama di Indonesia, namun sejatinya setiap ajaran agama tersebut mengajarkan bahwa Tuhan itu satu dan karena Tuhan itu satu maka setiap individu diperintahkan untuk tetap berbuat kebaikan terhadap sesamanya. Adanya sikap toleransi sangat diperlukan dalam menyikapi perbedaan tersebut dimana manusia akan dapat saling menghormati segala ajaran yang ada, tanpa harus menyamakan sudut pandang menurut ajaran agamanya masing masing dalam menyelesaikan setiap masalah yang ada. Setiap agama mempunyai sudut pandang tersendiri dalam menghadapi suatu masalah. Adanya berbagai sudut pandang tersebut seharusnya dapat dikomunikasikan antara satu dengan yang lainnya supaya tidak menimbulkan perselisihan dalam lingkungan masyarakat. Pada akhirnya jika setiap individu mau untuk bertoleransi antar sesamanya maka akan terbentuk kerukunan di dalam masyarakatnya.

D. Contoh Peristiwa Penyimpangan Dari Sikap Toleransi Yang Terdapat Dalam Masyarakat

Secara kenyataannya, terlampau sering kita menyaksikan di televisi atau media elektronik lainnya, masih terjadi peristiwa perselisihan yang diakibatkan dari kurangnya rasa toleransi dalam kehidupan beragama di Indonesia. Salah satu contoh kurangnya rasa toleransi antara umat beragama adalah peristiwa perusakan Gereja HKBP Pondok Indah, Jakarta yang dirusak FPI ( Front Pembela Islam ) pada tanggal 8 Agustus 2010 pukul 09.00 WIB. Kejadian perusakan ini diawali saat kegiatan ibadah baru akan dimulai, tiba-tiba massa FPI datang menerobos ke ruang ibadah. Karena ketakutan, seluruh jemaat gereja pun berusaha melarikan diri. Perusakan gereja ini disinyalir karena banyak warga sekitar yang protes (merasa terganggu) atas kegiatan ibadah umat kristiani tersebut sehingga tanpa piker panjang lagi, akhirnya FPI melakukan kerusuhan di gereja tersebut, dimana banyak warga yang terluka akibat insiden kerusuhan ini. Sebagai umat yang beragama, seharusnya peristiwa seperti ini dapat dihindarkan karena agama apapun tidak ada yang mengajarkan untuk menyelesaikan masalah dengan main hakim sendiri. Kurangnya sikap toleransi sangat terlihat dalam kasus ini. Seharusnya masalah ini dapat diselesaikan dengan cara kekeluargaan, dibicarakan baik baik bersama supaya jelas apa yang menjadi pokok permasalahannya dan pada akhirnya akan menemui titik terang untuk menyelesaikan masalah tersebut. Jika sudah terjadi perusakan seperti ini, ajaran agama yang telah mereka jadikan pedoman hidup akan menjadi sia sia.

E. Faktor Internal Dan Eksternal Yang Mempengaruhi Sikap Toleransi Dalam Individu
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kesadaran dalam menumbuhkan sikap toleransi. Faktor tersebut secara garis besar dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu faktor internal ( yang terdapat dalam diri seseorang ) dan faktor eksternal ( faktor yang berasal dari lingkungan sekitar / dari luar diri kita ). Faktor internalnya adalah : 1. Adanya sikap tidak peduli pada perbedaan yang ada, dan hanya ingin cara pandang pandangnya sendiri yang diterima oleh masyarakat luas.

10

2. Kurangnya pemahaman yang mendalam mengenai maksud Tuhan menciptakan berbagai macam ajaran agama adalah untuk saling melengkapi antara satu dengan yang lain dalam suatu pemikiran , bukan untuk saling menghakimi. 3. Adanya sikap fanatik dalam seseorang. Fanatik merupakan sifat yang tidak dapat menerima sama sekali terhadap perbedaan ajaran agama yang ada. Orang yang memiliki karakteristik seperti ini tidak segan segan menghakimi setiap orang yang memiliki sudut pandang yang berlainan dengan sudut pandanag yang ia miliki berdasarkan ajaran agama yang dipeluknya. Faktor eksternalya adalah : Lingkungan yang terdekat misalnya keluarga atau teman kurang dapat menanamkan rasa toleransi antara sesama. Pada akhirnya , seseorang tersebut akan terpengaruh dari sikap itu dan menjadi radikal terhadap perbedaan yang ada.

F. Contoh

Aplikasi

Sikap

Toleransi

Terhadap

Pluralisme

Beragama Di Lingkungan
Sikap toleransi tidak pernah lepas di setiap keberadaan manusia dan sikap ini dapat diaplikasikan dalam lingkungan sehari hari misalnya : 1. Memberikan kebebasan kepada setiap orang di sekitar kita untuk beribadah sesuai dengan caranya masing masing 2. Ikut bersuka cita dan memberikan ucapan saat hari raya umat beragama lain tanpa sungkan sungkan 3. Tidak memaksakan sudut pandang yang dianut dalam agamanya kepada orang lain

G. Cara Menumbuhkan Sikap Toleransi Dalam Diri


Sikap toleransi dalam diri sebenarnya dapat ditumbuhkan dengan cara lebih memahami perbedaan yang ada tersebut murni adanya berasal dari Sang Pencipta , yang dibuat dimaksudkan agar manusia dapat saling memperkaya suatu pengalaman rohani dimana ternyata setiap ajaran agama terebut memiliki keunikan masing masing dalam cara berpikir, cara beribadah. Selain itu adanya peran keluarga dalam menumbuhkan sikap toleransi ini

11

juga sangat penting. Keluarga menjadi tempat kehidupan awal yang dapat mengajarkan suatu individu untuk bersikap menghargai dimana pun mereka berbeda, karena sampai kapanpun perbedaan itu akan ada di setiap keberaaan manusia. Selain itu juga diperlukan peran dari lembaga pendidikan formal untuk mulai memupuk sikap toleransi dalam diri setiap siswanya agar ke depannya bisa mejadikan semua perbedaan latar belakang agama tersebut sebagai suatu anugrah dalam kehidupan.

H. Peran Pemerintah Dalam Membangun Sikap Toleransi Antar Umat Beragama


Pemerintah merupakan suatu kelompok individu yang memiliki kekuasaan untuk menjadi wadah aspirasi bagi masyarakat dalam menyampaikan keinginannya. Peran pemerintah dalam memacu perkembangan sikap toleransi ini sangat penting. Banyak kegiatan yang dapat diadakan oleh pemerintah untuk memfasilitasi masyarakatnya untuk lebih memahami perbedaan yang ada. Kegiatan tersebut antara lain bisa berupa dialog antar agama. Dialog antar agama tersebut dapat menjadi fasilitator komunikasi umat beragama untuk saling berbagi pengalaman rohani. Dari kegiatan itu , diharapkan rasa saling peka dapat tumbuh perlahan lahan di hati masyarakat.

12

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan
Indonesia memiliki bermacam macam ajaran agama yang memiliki cara tersendiri untuk dapat berkembang dalam kehidupan. Untuk itu asas Bhinneka Tunggal Ika dapat dijadikan pedoman untuk membina persatuan dan kesatuan yang ditimbulkan oleh rasa toleransi. Meskipun setiap ajaran agama memiliki sudut pandang masing masing , namun setiap agama pasti mengajarkan setiap umat pemeluknya untuk memiliki rasa toleransi untuk menuju kerukunan bangsa. Adanya sikap saling terbuka dan saling membantu antar umat agama yang satu dengan yang lainnya juga dapat mengawali pertumbuhan sifat toleransi dalam hati manusia.

B. Saran
Adanya kesadaran untuk dapat memiliki rasa toleransi antara umat beragama dapat mulai ditumbuhkan sejak manusia itu bertumbuh dalam lingkungannya. Keluarga adalah pemula dari pengembangan sikap toleransi dalam diri anak. Seorang anak akan memiliki sifat toleransi apabila ia telah dibiasakan dalam kehidupan di keluarganya untuk dapat saling mengerti dan menghormati cara dari masing masing ajaran agama untuk dapat menjalankan. Jika kesadaran tersebut telah muncul dalam diri individu, maka rasanya tidak sulit lagi untuk menghormai sesamanya. Lembaga pendidikan formal juga seharusnya ikut dalam berpartisipasi dalam pembentukan karakter diri bangsa dalam menyikapi toleransi, misalnya mulai bisa

13

memberikan kebebasan bagi siswa siswinya untuk menjalankan kegiatan keagamaannya, meskipun lembaga tersebut merupakan lembaga yang menganut prinsip salah satu ajaran agama. Selain itu, dibutuhkan campur tangan pemerintah dalam meningkatkan rasa peka terhadap sesamanya. Hal ini dapat diwujudkan antara lain dengan cara mengadakan komunikasi antara umat beragama agar masyarakat dapat mengkomunikasikan dengan baik masalah masalah dalam agama yang memungkinkan terjadinya konflik agama.

Daftar Pustaka

Moqsith, A., 2009, Merayakan Kebebasan Beragama , ICRP, Jakarta, pp. 387-388. Schumann, O., 2006, Menghadapi Tantangan, Memperjuangkan Kerukunan, PT BPK Gunung Mulia, Jakarta, pp.59. Wibowo, S., 2009, Manusia, Teka Teki Yang Mencari Solusi, Kanisius, Yogyakarta, pp.138.

14