You are on page 1of 7

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Masa klimakterium yaitu masa peralihan dalam kehidupan normal seorang wanita sebelum senium (masa lanjut usia), yang mulai dan aktif masa reproduktif dan kehidupan sampai masa non-reproduktif. Masa klimakterium meliputi pramenopause, menopause, dan

pascamenopause. Pada wanita terjadi antara umur 40-65 tahun. Dampak klimakterium yaitu Hot flush yaitu rasa panas didada yang menjalar kewajah yang sering timbul pada malam hari Gangguan psikologis depresi, mudah tersinggung, mudah marah, kurang percaya diri, gangguan gairah sexsual, perubahan prilaku. Gangguan mata mata terasa kering dan gatal akibat berkurang produksi air mata. Gangguan saluran kemih dan alat kelamin mudah infeksi, nyeri sanggama, perdarahan pasca sanggama akibat atropi pada alat kelamin.

1.2 Tujuan 1.2.1 Tujuan umum 1. Mengetahui lenih dalam tentang klimakterium 2. Mengetahui tanda utama klimakterium 3. Mengeahui prevalensi kejadian klimakterium di dunia 1.2.2 Tujuan khusus 1. Hubungan beratnya gejala ansietas dengan masa klimakterium wanita.

BAB II TINJAUAN TEORI 2.1 Pengertian Klimakterium adalah masa transisi yang berawal dari akhir tahap reproduksi dan berakhir pada awal senium, terjadi pada wanita usia 35 65 tahun. Masa ini ditandai dengan berbagai macam keluhan endokrinologis dan vegetatif. Keluhan tersebut terutama disebabkan oleh menurunnya fungsi ovarium. Gejala menurunnya fungsi ovarium adalah berhentinya menstruasi pada seorang wanita yang dikenal sebagai menopause. Menopause merupakan suatu peristiwa fisiologis yang disebabkan oleh menuanya ovarium yang mengarah pada penurunan produksi hormon estrogen dan progesteron yang dihasilkan dari ovarium. Kekurangan hormon ini menimbulkan berbagai gejala somatik, vasomotor, urogenital, dan psikologis yang mengganggu kualitas hidup wanita secara keseluruhan. (Jacoeb T.Z., 1997; Hosking D dkk., 1998; Nisar N, 2010; Chuni N dkk., 2011). 2.2 Penyebab Usia merupakan pemicu utama menopause dan klimakterium. Kondisi ini merupakan sisi lain dari pubertas, akhir dari usia subur, yang disebabkan oleh melambatnya fungsi ovarium. Selain itu, menopause juga disebabkan operasi tertentu dan pengobatan medis. Penanganan medis ini termasuk pengangkatan ovarium, kemoterapi, dan terapi radiasi panggul. Pengangkatan rahim tanpa mengangkat ovarium kemungkinan tidak akan memicu menopause. Perempuan yang merokok cenderung mengalami menopause beberapa tahun lebih awal dibandingkan mereka yang tidak merokok. Belum ada cara pasti memperhitungkan usia menopause. Hanya perempuan yang tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut, tanpa penyebab yang jelas, yang bisa dikatakan sudah menopause. Sebelum menopause (perimenopause). Menopause alami terjadi secara bertahap. Ovarium tidak berhenti dengan tiba-tiba, tetapi melambat secara perlahan. Masa perubahan ke menopause dikenal dengan perimenopause. Selama masa perimenopause, Anda masih memiliki kemungkinan hamil. Meskipun menstruasi tidak bisa diprediksi, ovarium masih berfungsi dan Anda masih bisa ovulasi.

2.3 Tanda Gejala Klimakterium Masa ini ditandai dengan berbagai macam keluhan : 1. Gangguan neurovegetatif yang disebut juga gangguan vasimotorik dapat muncul sebaga gejolak panas ( hot flushes ), mengeluarkan banyak keringat, merasa kedinginan, sakit kepala, bising telinga, jantung berdebar-debar, gangguan pernapasan, jari-jari atrofidan gangguan usus. 2. Gangguan psikis ditandai dengan perubahan mood dan perasaan sensitif, mudah tersinggung, depresi, kelelahan, semangat berkurang dan insomnia. 3. Gangguan somatic, selain gangguan haid atau amenorrhea, mencakup pula kolpitis

atrofikans, ektropium uretra, inkontinesia urin, disuria, desensus, prolaps, penyakit kulit klimakterik, osteoporosis, arthritis, oterosklerosis, skerosis koroner dan adipositas.

BAB III ISI JURNAL

HUBUNGAN BERATNYA GEJALA ANSIETAS DENGAN MASA KLIMAKTERIUM WANITA DI RUMAH SAKIT PENDIDIKAN MAKASSAR 3.1 Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah ada hubungan beratnya gejala psikologis menopause, khususnya gejala ansietas dengan berbagai masa klimakterium wanita yang berada di wilayah Makassar.

3.2 Metode Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan menggunakan desain penelitian crosssectional.

3.3 Populasi dan Sampel Sampel diambil dengan cara purposive sampling. Untuk itu pasien dengan keluhan gangguan menstruasi atau keluhan-keluhan seperti yang tercantum dalam skala HRS-A (Hamilton Rating Scale for Anxiety) serta pengantarnya yang berkunjung di poliklinik Obstetri dan Ginekologi, Psikiatri, dan Penyakit Dalam, diwawancara. Bila memenuhi kriteria inklusi dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah sampel yang diperlukan terpenuhi.

3.4 Hasil Penelitian 1. Telah dilakukan penelitian mulai Juli 2012 sampai September 2012 pada wanita berusia 35 65 tahun di Makassar. Selama kurun waktu tersebut, diperoleh sampel penelitian sebanyak 156 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Sampel dibagi menjadi tiga kelompok yang terdiri dari 52 wanita yang berusia 35 45 tahun, 52 wanita yang berusia 46 55 tahun, dan 52 wanita yang berusia 56 65 tahun. Tabel 1 memperlihatkan hubungan tingkat pendidikan dengan ansietas. Uji statistik Chi- Square menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara derajat gejala ansietas dengan tingkat pendidikan (p<0,01), dimana persentase yang menderita gejala ansietas berat dan sedang lebih

banyak terjadi pada mereka yang berpendidikan rendah (SD dan SMP) dibandingkan yang berpendidikan lebih tinggi (SMA keatas). Tabel 1 memperlihatkan hubungan status pekerjaan dengan ansietas. Uji statistik Chi- Square menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara derajat gejala ansietas dengan status bekerja (p<0,01), dimana persentase yang menderita gejala ansietas berat dan sedang lebih banyak terjadi pada mereka yang berstatus tidak bekerja dibandingkan dengan yang bekerja. Tabel 1 memperlihatkan hubungan status perkawinan dengan ansietas. Uji statistik Chi- Square menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara derajat gejala ansietas dengan status perkawinan (p>0,05). Tabel 1 memperlihatkan hubungan status ekonomi dengan ansietas. Uji statistik Chi- Square menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara derajat gejala ansietas dengan tingkat penghasilan (p<0,01), dimana persentase yang menderita gejala ansietas berat dan sedang lebih banyak terjadi pada mereka yang berpenghasilan rendah (dibawah satu juta rupiah) dibandingkan yang berpenghasilan tinggi (diatas satu juta rupiah). Tabel 2 memperlihatkan hubungan ansietas dengan ketiga kelompok usia. Uji statistic Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara derajat gejala ansietas dengan kelompok usia klimakterium wanita (p<0,01), dimana persentase yang menderita gejala ansietas berat paling banyak terjadi pada usia perimenopause (7,7%) dan paling sedikit pada usia klimakterium akhir (1,9%).

3.5 Kesimpulan Dan Saran Kami menyimpulkan bahwa beratnya gejala ansietas memiliki hubungan yang bermakna dengan berbagai masa klimakterium wanita, dimana gejala ansietas yang lebih berat banyak ditemukan pada masa perimenopause dibandingkan dengan masa klimakterium awal dan masa klimakterium akhir. Disamping itu beratnya gejala ansietas memiliki hubungan yang bermakna dengan tingkat pendidikan, status pekerjaan, dan status ekonomi wanita klimakterium, dimana gejala ansietas yang lebih berat banyak ditemukan pada wanita yang berpendidikan rendah, tidak bekerja, dan status ekonomi rendah. Secara keseluruhan beratnya gejala ansietas pada masa klimakterium wanita dapat dipengaruhi oleh faktor biologi dan psikososial. Untuk itu diperlukan kerjasama dari Bagian Psikiatri, Obstetri dan Ginekologi, serta Penyakit Dalam pada wanita usia pertengahan yang datang dengan keluhan sindrom klimakterium.

BAB IV PEMBAHASAN Dari jurnal yang telah kami dapatkan dan telah dianalisa, kami menyimpulkan bahwa metode yang digunakan dari jurnal tersebut sudah tepat karena metode cross-sectional merupakan metode yang mempelajari dinamika hubungan hubungan atau korelasi antara faktorfaktor risiko dengan dampak atau efeknya. Faktor risiko dan dampak atau efeknya diobservasi pada saat yang sama, artinya setiap subyek penelitian diobservasi hanya satu kali saja dan faktor risiko serta dampak diukur menurut keadaan atau status pada saat observasi. Sehingga metode tersebut tepat digunakan untuk jurnal ini. Menurut kami dari isi jurnal diatas kurang lengkap karena didalam jurnal tersebut belum bisa menyimpulkan hubungan status perkawinan dengan tingkat kecemasan pada saat masa klimakterium padahal dari data di atas peneliti sudah menyertakan data tentang status perkawinan responden. Kekurangan dari jurnal diatas adalah sistematika penulisannya kurang tepat karena menurut kami tabel seharusnya dimasukkan dalam setiap bab sehingga pembaca dapat lebih mudah memahami setiap bab di dalam jurnal tersebut. Kami sebagai orang awam kurang begitu memahami isi jurnal diatas karena semua tabel dijadikan satu dibagian belakang. Kelebihan dari jurnal diatas adalah jurnalnya singkat sehingga pembaca lebih tertarik untuk membaca jurnal tersebut.

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan Klimakterium adalah masa transisi yang berawal dari akhir tahap reproduksi dan berakhir pada awal senium, terjadi pada wanita usia 35 65 tahun. Masa ini ditandai dengan berbagai macam keluhan endokrinologis dan vegetatif. (Jacoeb T.Z., 1997). Kami menyimpulkan bahwa beratnya gejala ansietas memiliki hubungan yang bermakna dengan berbagai masa klimakterium wanita, dimana gejala ansietas yang lebih berat banyak ditemukan pada masa perimenopause dibandingkan dengan masa klimakterium awal dan masa klimakterium akhir. Disamping itu beratnya gejala ansietas memiliki hubungan yang bermakna dengan tingkat pendidikan, status pekerjaan, dan status ekonomi wanita klimakterium, dimana gejala ansietas yang lebih berat banyak ditemukan pada wanita yang berpendidikan rendah, tidak bekerja, dan status ekonomi rendah. Secara keseluruhan beratnya gejala ansietas pada masa klimakterium wanita dapat dipengaruhi oleh faktor biologi dan psikososial.

5.2 Saran Menurut kami seharusnya dalam penulisan jurnal digunakan sistematika penulisan yang mudah dipahami. Dan lebih dilengkapi lagi di bagian hasil yaitu pada hubungan antara status perkawinan dengan tingkat kecemasan pada masa klimakterium.