Вы находитесь на странице: 1из 9

Hubungan Kualitas Tidur dengan Kejadian Obesitas Pada Remaja di SMP Harapan 1 Medan Association Between quality of Sleep

for adolescent at SMP Harapan 1 Medan


1 1 2

Disti Hardiyanti, 2 Rita Evalina

Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2009, Medan, Indonesia.

Staf Pengajar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan, Indonesia.
1

email : distihardiyanti@yahoo.com, 2 email : ritaerusli@yahoo.co.id

Running title : kualitas tidur dan obesitas pada remaja

Abstrak Kualitas tidur yang buruk berpengaruh terhadap kejadian obesitas pada remaja. Hal itu dikarenakan kurang tidur menyebabkan ketidakseimbangan hormon leptin yaitu hormon peredam nafsu makan dan ghrelin yang merupakan hormon perangsang nafsu makan. Penelitian ini untuk melihat hubungan kualitas tidur, yang dinilai dengan PSQI (Pittsburg Quality Indeks), terhadap obesitas yang dinilai dengan IMT (indeks massa tubuh) pada remaja. Disain penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan potong lintang, dilakukan di SMP Harapan 1 Medan pada bulan September-Oktober 2012. Pengambilan sampel dengan metode simple random sampling. Data diolah dengan uji chi-square. Pada penelitian ini didapatkan responden yang berusia 13 tahun (51.9%), yang berjenis kelamin perempuan 63%, yang tidak obese sebanyak 61.7% dan yang memiliki kualitas tidur yang buruk sebanyak 58%. Nilai p<0.001 pada hubungan kualitas tidur dengan obesitas, nilai p=0.002 pada hubungan jenis kelamin dengan obesitas, dan nilai p=0.094 pada hubungan jenis kelamin dengan kualitas tidur. Hal ini berarti terdapat hubungan antara kualitas tidur dengan indeks massa tubuh pada remaja dan antara jenis kelamin dengan obesitas, dan tidak terdapat hubungan jenis kelamin dengan kualitas tidur. Kata kunci: Obesitas, IMT, Kualitas Tidur, PSQI.

ABSTRACT The bad quality of sleep affects the occurrence of obesity in the adolescent. Lack of sleep causes the imbalance of leptin and ghrelin hormones. The study has the aim to determine the association between quality of sleep that is measured with Pittsburg Quality Index and the obesity that is measured with BMI in the adolescent.

This is a descriptive-analytic study with cross sectional design. The study is done at SMP Harapan 1 Medan on September-October 2012. The samples are obtained with simple random sampling of 81 observations. The data is analyzed with chi square test. The Result is The samples is 13 years old (51.9%). Women is 63%. The BMI group is non-obese (61/7%). The main quality of sleep is bad quality (58%). p<0.001 is obtained for the association between quality of sleep with obesity. p=0.002 is obtained for the association of gender with obesity and p=0.095 is obtained for the association of gender with quality of sleep.its mean an association of quality of sleep with body mass index in adolescent. There is also an association of obesity and gender and no association between gender and quality of sleep.

Keyword: Obesity, BMI, Quality of sleep, PSQI

Pendahuluan Angka obesitas pada remaja usia 12-19 tahun di dunia semakin lama semakin meningkat secara signifikan selama 45 tahun belakangan ini dimulai dari tahun 1963 sebanyak 4,6 % dan pada tahun 2008 sebanyak 18,1 % (Bariatric Surgery, 2011). Di Indonesia prevalensi obesitas remaja pada kelompok usia di atas 15 tahun pada tahun 2010 mencapai 19,1 %, dan pada usia 614 tahun pada laki-laki 9,5% dan pada perempuan 6,4% (Soendoro, 2010). Beberapa penyebab obesitas adalah genetik, aktivitas fisik yang minimal dan jenis makanan berkalori tinggi (Wahyu, 2009). Tidur juga memiliki pengaruh terhadap kejadian obesitas pada remaja (Cauter, Knutson, 2008). Hal itu dapat terjadi dikarenakan remaja yang kurang tidur akan menyebabkan ketidakseimbangan antara hormon leptin dan ghrelin yang merupakan hormon peredam dan perangsang nafsu makan dan menyebabkan gangguan keseimbangan di dalam tubuhnya, terlebih lagi orang- orang yang kurang tidur akan mengalami kelelahan dan keengganan untuk melakukan aktivitas fisik pada pagi harinya sehingga untuk mengatasi hal tersebut mereka cenderung lebih banyak mengkonsumsi makanan karena berpikir kelelahan dan keengganan untuk beraktivitas fisik tersebut disebabkan karena kurangnya asupan makanan (Cauter, Knutson, 2008). Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kualitas tidur dengan obesitas pada remaja sehingga pencegahan dapat dilakukan dengan lebih baik lagi.

Metode Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Penelitian dilakukan pada September-Oktober 2012 di SMP Harapan 1 dimana populasi penelitian adalah semua siswa-siswi SMP Harapan 1 Medan. Metode penarikan sampel adalah dengan Simple Random Sampling yang dilakukan dengan undian dimana terdapat angka 1-488 dalam kertas undian, yang nantinya seluruh siswa-siswi tersebut akan mengambil kertas undi dan yang mendapat kertas undi dengan nomor 1-81 akan menjadi sampel penelitian. Mengembalikan lembar inform consent menjadi salah satu kriteria inklusi. Perhitungan sampel diambil dari wahyuni (2007) dan diadapatkan sampel 81 orang.

N .Z 21 / 2. p.(1 P) n ( N 1)d 2 Z 21 / 2. p.(1 p)


Seluruh sampel akan ditimbang berat badan dan pengukuran tinggi badan, selanjutnya dihitung nilai IMT dengan berat badan dibagi kuadrat tinggi badan dalam meter lalu diplot di grafik CDC, dan diwawancarai atas pertanyaan pada kuesioner PSQI yang terdiri dari 18 pertanyaan. Pengolahan data dengan menggunakan program SPSS 19 dan Analisa dengan uji Chi-square, dan sebelum dilakukan penelitian meminta persetujuan lebih dahulu ke komisi etik.

Hasil Dari 81 orang responden didapatkan mayoritas responden berusia 13 tahun yaitu sebanyak 42 orang (51.9%) dan yang paling sedikit pada umur 15 tahun yaitu sebanyak 2 orang (2.5%). Berdasarkan jenis kelamin didapatkan perempuan dengan jumlah 51 orang (63%) dan laki- laki dengan jumlah 30 orang (37%). Untuk indeks massa tubuh, responden yang masuk dalam kategori nonobese yaitu sebanyak 50 orang (61.7%), sedangkan yang masuk kedalam komponen obese hanya sebanyak 31 orang (38. Kualitas Tidur ditemukan 47 orang (58.0%) responden yang memiliki kualitas tidur yang buruk dan kualitas tidur yang baik. (tabel 1*). Dengan menggunakan analisis chi-square didapatkan bahwa orang dengan kriteria IMT obese lebih banyak yang mengalami kualitas tidur yang buruk (32.1%) daripada kualitas tidur yang baik (6.2%), sementara orang dengan kriteria IMT yang nonobese lebih banyak yang 34 orang (42.0%) yang memiliki

mengalami kualitas tidur yang baik (35.8%) daripada kualitas tidur yang buruk (25.9%). Dengan nilai p value <0.001. (grafik 1**). Persentase laki-laki yang mengalami obesitas 22.2% sedangkan perempuan yang mengalami obesitas 16 % dengan nilai p value adalah 0.002 (grafik 2***). Responden yang mengalami kualitas tidur yang buruk sebanyak 26% laki-laki dan 32% perempuan dengan nilai p value 0.094 (grafik 3****).

Pembahasan Berdasarkan derajat IMT didapatkan responden yang mengalami obesitas adalah 38.3% dan yang tidak mengalami obesitas adalah 61.6% (tabel 1). Hal ini sejalan dengan penelitian deskriptif dengan judul Faktor Resiko Obesitas pada Anak Umur 5-15 Tahun di Indonesia yang dilakukan oleh Sartika (2011) ditemukan 8.3 % yang mengalami obesitas dan 91.7% yang tidak obesitas. Pada penelitian ini menunjukkan lebih banyak responden penelitian mengalami kualitas tidur yang buruk daripada kualitas tidur yang baik (tabel 1) , hal ini berbeda dengan penelitian oleh Marliani dkk (2012) dengan judul Gambaran Kualitas Tidur Pegawai Delami Brans Manufacturing Bandung didapatkan kesimpulan yang berbeda dimana lebih banyak yang mengalami kualitas tidur yang baik (53%) daripada yang buruk (47%), meskipun menggunakan kuesioner yang sama yakni PSQI. Perbedaan ini karena responden pada penelitian ini adalah remaja sementara pada penelitian tersebut adalah orang dewasa yang sudah bekerja. Pada masa remaja terdapat perubahan drastis pola tidur dan bangun meliputi durasi tidur yang kurang, waktu tidur tertunda dan kualitas tidur yang cenderung berkurang (Mindell, 2003 dalam adelina, 2009). Pada penelitian memiliki nilai p = <0.001 yang berarti terdapat hubungan kualitas tidur yang buruk dengan obesitas pada remaja, hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Gupta dkk (2002) dengan judul Is Obesity Associated With Poor Sleep Quality in Adolescents? Menunjukkan bahwa remaja yang obesitas lebih memiliki kualitas tidur yang kurang dibandingkan dengan remaja yang tidak obese (p<0.01), didukung pada penelitian oleh Bawazeer dkk (2009) dengan judul Sleep Duration and Quality Associated with Obesity Among Arab Children menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan obesitas dengan nilai p value =0.024.

Terdapat hubungan antara obesitas dengan jenis kelamin dari hasil penelitian ini (p= 0.002) dimana laki-laki cenderung obesitas pada remaja. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sartika (2011) dengan judul Faktor Resiko Pada Anak Umur 5-15 Tahun yang menunjukan 16.4% laki-laki yang mengalami obesitas dan hanya 12.3% perempuan yang mengalami obesitas dengan p <0.001. Hal ini dikarenakan remaja perempuan lebih menjaga badannya dengan alasan penampilan. (Sartika, 2011). Pada penelitian Adiningrum (2008) tentang karakteristik kegemukan pada anak sekolah dan remaja di Medan dan Jakarta selatan menunjukkan laki-laki cenderung lebih mengalami obesitas dibandingkan perempuan (p=0.023). Berdasarkan penelitian ini didapatkan prevalensi kualitas tidur yang buruk sebesar 58% dimana laki-laki 26% dan perempuan 32% (p=0.094). Menurut penelitian Adelina (2009) dkk dengan judul Prevalensi Gangguan Tidur pada Remaja Umur 12-15 Tahun di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama menunjukkan bahwa tidak ditemukan hubungan antara jenis kelamin dengan kualitas tidur. Sementara pada penelitian lain menunjukkan perempuan memiliki kualitas tidur yang lebih buruk (Khasanah, 2012). Perbedaan ini dapat disebabkan karena terdapat perbedaan umur antara penelitian yang dilakukan oleh peneliti meskipun menggunakan kuesioner yang sama. Pada penelitian oleh Khasannah (2012) responden penelitian adalah lansia sehingga perempuan memiliki kualitas tidur yang buruk dikarenakan penurunan estrogen dan progesterone yang memperngaruhi irama sirkadian secara langsung yang terjadi pada wanita lanjut usia (Timura, 2005 dalam Khasannah, 2012).

Kesimpulan dan Saran Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kualitas tidur yang buruk terhadap kejadian obesitas pada remaja dan antara jenis kelamin dengan obesitas pada remaja dimana jenis kelamin laki-laki cenderung mengalami obesitas pada masa remaja, namun tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan kualitas tidur pada remaja. Saran : Dari seluruh proses penelitian yang telah dijalani, penulis mengungkapkan beberapa saran yang mungkin dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berperan dalam penelitian ini. Yaitu : Untuk peneliti jika ingin melanjutkan penelian ini diharapkan melakukan tehnik pengambilan sampel secara total sampling sehingga jumlah sampel lebih banyak dan dengan multivariable sehingga dapat mengurangi bias obesitas karena faktor lain, Bagi dinas kesehatan untuk dapat menyebarluaskan

informasi mengenai hubungan kualitas tidur dengan obesitas pada remaja dikarenakan masih banyak yang tidak mengetahui hal tersebut. Dan untuk para pembaca agar memperhatikan dan menjaga kualitas tidurnya sehingga menurunkan risiko terkena obesitas

Tabel 1. Karakteristik umum responden Karakteristik Umum Umur 12 13 14 15 Jenis Kelamin Laki- Laki Perempuan IMT Obese Nonobese Kualitas Tidur Baik Buruk 34 47 42 58 31 50 38.3 61.7 31 51 37 63 19 42 18 2 23.5 51.9 22.2 2.5 Frekuensi (n) Persentase (%)

Diletakkan dibawah paragraf yang tertulis tabel 1 (*)

Grafik 1. Kualitas tidur & IMT


obese
35.80% 32.10% 25.90%

nonobese

6.20%

kualitas tidur baik

kualitas tidur buruk

diletakkan sesudah paragraf yang terdapat bacaan grafik 1 (**)

Figure.1. grafik hubungan kualitas tidur dengan indeks massa tubuh

Grafik 2
Jenis kelamin & IMT
obese nonobese

47% 22.20 % 14.80 %

16%

diletakkan setelah paragraf yang tertulis grafik 2(***). Figuere 2. Grafik hubungan jenis kelamin dengan indeks massa tubuh

Grafik 3
Jenis Kelamin & Kualitas Tidur
BAIK BURUK

30.90 % 32%

26%
11.10 %

LK

PR

diletakkan setelah paragraf yang tertulis grafik 3(****). Figure 3. grafik hubungan jenis kelamin dengan kualitas tidur

Daftar Pustaka Adelina, dkk., 2009. Prevalensi Gangguan Tidur Remaja 12-15 Tahun di SMP. Jakarta: Sari Pediatri.

Adiningrum, R.D., 2008. Karakteristik Kegemukan Pad a Anak Sekolah dan Remaja di Medan dan Jakarta Selatan. Bogor : IPB

Bariatric Surgery, 2011. Child Obesity Statistics & Teenage Obesity Statistics. Available from : http://www.bariatric-surgery-source.com/child-obesitas-

statistics.html. [Accessed 15 April 2012].

Bawazer, N., 2009. Sleep Durastion and Quality Associated With Obesity Among Arab Childreen. Saudi Arabia: Obesity a Research Journal

Cauter, E, and Knutson, K.L., 2008. Sleep and The Epidemic of Obesity in Children and Adults. Chicago: European Journal of Endocrinology.

Gupta,N.K., dkk.,2002. Is Obesity Associated With Poor Sleep Quality in Adolescent. Texax: Pubmed. Available from :

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/12400037.[ 1 Desember 2012]

Khasannah., K., Hidayati, W., 2012. Kualitas Tidur Lansia Balai Rehabilitasi Sosial MANDIRI Semarang. Semarang. Jurnal Nursing Studies.

Marliani, Dina.,2012. Gambaran Kualitas Tidur Pegawai Delami Brans Manufacturing Bandung. Bandung: Student e-Jurnal.

Sartika,R.A.D. 2011. Faktor Risiko Obesitas Pada Anak 5-15 TahunDi Indonesia. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Soendoro, T., 2010. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar 2010. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departement Kesehatan Republik Indonesia.

Wahyu, G. G., 2009. Obesitas pada Anak. Yogyakarta: Bentang Pustaka Mizan, 17.

Wahyuni,A.S., 2007. Statistika Kedokteran. Jakarta: Bambodoe Communication, 116.