You are on page 1of 12

1

Disusun Oleh : ARI PUTRA


Npm : 09310107
Pembimbing I : dr. Marisa Anggraini, M.Pd.Ked
Pembimbing II: dr. Rakhmi Rafie

ABSTRAK
Latar Belakang: Antioksidan adalah
senyawa yang dapat memperlambat
oxidative stress, yang dapat memicu
kerusakan sel pankreas dan menyebabkan
hipergikemi, mekanisme antioksidan dari
luar tubuh dapat membantu menurunkan
hiperglikemi.
Tujuan Penelitian: untuk mengetahui
pengaruh pemberian ekstrak kelopak bunga
Rosela (Hisbiscur Sabdariffa L) sebagai anti
oksidan pada mencit (Mus Musculus) yang
diinduksi aloksan
Metode Penelitian: Jenis penelitian ini
adalah eksperimental pre and posttest
controlled group design menggunakan 24
mencit dan berat badan 200g, dibagi 4
kelompok, yaitu kontrol, ekstrak kelopak
bunga dosis 1 (65 mg/200gBB/2ml), dosis
2 (130mg/200g BB/2ml), dan dosis 3
(195mg/200g BB/2ml). Data hasil
penelitian dianalisis dengan uji ANOVA
dan uji Post Hoc.
Hasil: hasil penelitian menunjukkan bahwa
perbandingan antar kelompok perlakuan
awal dengan pretest dan posttest dosis 1,
dosis 2 dan dosis 3 ekstrak kelopak bunga
Rosela adalah signifikan (p<0,05) berarti
ada penurunan kadar gula darah yang
bermakna antar kelompok yang
diperbandingkan
Kesimpulan: 1). Ekstrak kelopak bunga
Rosela (Hibiscus Sabdariffa L.) dosis uji 65
mg/ 200 g BB, dosis uji 130 mg/ 200 g BB
dan dosis uji 195 mg/ 200 g BB mempunyai
pengaruh dalam menurunkan kadar gula
darah. 2). Dosis pemberian ekstrak kelopak
bunga Rosela (Hibiscus Sabdariffa L.) 130
mg/ 200 g BB merupakan dosis yang
memberikan efek penurunan kadar glukosa
paling banyak pada mencit (mus musculus)
yang diinduksi aloksan dibandingkan
dengan dosis lainnya (F=113.1; sig. 0,000)
Kata kunci : ekstak kelopak bunga
Rosela, Aloksan
Kepustakaan : 1998- 2012
ABSTRAK
Backgrounds:Antioxidants are compounds
that can slow down the process of oxidative
stress, which can lead to damage of
pancreatic cells and causes
hyperglycemia. Antioxidant mechanism of
outside the body may help to reduce
hyperglycemia.

Purpose: This study aimed at investigating
the influence of Roselle (Hibiscus Sabdariffa
L) calyx extract as antioxidant in alloxan
induced mice (Mus Musculus)
Method: The type of study is experimental
research was arranged as a pre and post-
test controlled group design. Twenty four
mice, with 200g in weight were grouped
equally into three, namely control group,
first dose of Roselle calyx extract (65mg/
200g body weight of mice), second dose of
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK KELOPAK BUNGA
ROSELA (HI BI SCUS SABDARI FFA L) SEBAGAI ANTI OKSIDAN
PADA MENCIT (MUS MUSCULUS) YANG DIINDUKSI
DENGAN ALOKSAN
2

Roselle calyx extract (130mg/ 200g body
weight of mice) and third dose of Roselle
calyx extract (195mg/ 200g body weight of
mice). The result was analysed using
ANOVA and Post hoc test.
Results: The comparison between treatment
groups with pretest and posttest initial dose
1, dose 2 and dose 3 of Roselle calyx extract
was significant (p<0.05) means; there is a
significantly decrease of glucose levels
between groups were compared.
Conclusion: 1). The Roselle calyx extract
(Hibiscus Sabdariffa L.) test dose of 65 mg/
200 g BW in group 1, a test dose of 130 mg/
200 g BW in groups 2 and a test dose of 195
mg/ 200 g BW in group 3 have effect in
lowering glucose. 2). The dose of Roselle
calyx extract (Hibiscus Sabdariffa L.) 130
mg / 200 g BB is the dose that gives the
highest effect of a glucose levels decrease of
mice (Mus Musculus) alloxan induced
compared with other doses (F=113,1; sig.
0,000)
Keywords : The Roselle calyx extract,
Alloxan
Kepustakaan : 1998- 2012
PENGANTAR
Antioksidan adalah senyawa yang dapat
memperlambat proses oksidasi. Dimana
proses oksidasi itu terjadi karena peran
superoksidan dan perioksida yang dapat
meingkatkan stress oksidatif. Kondisi
hiperglikemi menunjukkan adanya
perioksidase di hati dan menurunkan kadar
glutation (senyawa glutation tereduksi)
sebagai antioksidan endogen.
1,2

Tubuh memiliki sistem perlawanan
terhadap oxidative stress dengan
menghasilkan enzim-enzim antioksidan.
Glutation merupakan salah satu antioksidan
tubuh yang mengandung gugus sulfihidril (-
SH), glutation ini merupakan tripeptida yang
mengandung sisteina dan menjadi sumber
sulfihidril dimana sulfihidril berperan dalam
detoksifikasi, transport, proses metabolisme
dan sebagai antioksidan sel yang bekerja
sinergis dengan antioksidan lemak dan
memecahkan peroksidasi lemak.
3

Di dalam keberadaan reaksi
hiperoksidasi yang kompleks dalam media
biologis, keseimbangan metabolik yang
tepat membutuhkan mekanisme dari
antioksidan dari luar tubuh, beberapa
sumber antioksidan antara lain vitamin
(vitamin A, C, E), mineral (mangan, seng
dan tembaga), beta-carotene, teh hijau, serta
berbagai jenis buah dan sayuran.
3

Salah satu zat yang terkandung dalam
tanaman adalah flavanoid yang merupakan
senyawa metabolit sekunder yang terdapat
pada tanaman hijau yang saat ini semakin
berperan penting dalam pengobatan. Salah
satu jenis tumbuhan yang sering digunakan
sebagai obat penurunan kadar gula darah
adalah ekstrak kelopak bunga Rosela
(Hisbicus Sabdarica L) yang memiliki
aktivitas diuretik, hipotensif dan
hipoglikemik.
4
Flavanoid yang merupakan senyawa
metabolit sekunder dapat menghambat
proses terjadinya stress oksidatif yang dapat
meningkatkan kadar glutation sehingga
antioksidan endogen dalam bentuk
glutation tereduksi (GSH) yang akan
menghambat kerusakan sel pankreas.
Sehingga ekstrak kelopak bunga Rosela
dapat menghasilkan antioksidan yang
memberikan perlawanan terhadap oxidative
stress. Kelopak kering bunga Rosela kaya
akan flavonoid gossypetin, hiscetin dan
abdaretin. Peran zat flavonoid yang
merupakan turunan flavone seperti
gossypetin (hexahidroxyflavo)-3-glucosida
yang bersifat antioksidan dan dapat
3

menghambat kerusakan sel pada
langerhans pankreas yang menghasilkan
insulin dan merangsang pelepasan insulin
pada sel pankreas untuk disekresikan ke
dalam darah, selain itu flavonoid juga dapat
mengembalikan sensitivitas reseptor insulin
pada sel sehingga menurunkan kadar gula
darah.
4

Jenis Penelitian
Penelitian ini bersifat eksperimental
laboratorik dengan Pretest and Post-test
with Control Group Design
Rancangan Penelitian
Penelitian ini bersifat eksperimen dengan
rancangan Pre-test dan Post-test with
Control Group Design dengan
menggunakan mencit (Mus Musculus)
hiperglikemik sebagai objek penelitian
Populasi dan Sampel
Mencit (Mus Musculus) diperoleh dari Balai
Penyidikan dan Pengujian Veteriner dan
diteliti di UPTD Balai Laboratorium
Kesehatan Provinsi Lampung berupa Mus
Musculus, sehat dan mempunyai aktivitas
normal, berumur sekitar 3 bulan dengan
berat badan 200 gram
Definisi Operasional Variabel

Tabel 3.1 Definisi Operasional

Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur Skala
Ukur
Ekstrak kelopak
bunga Rosela
Ekstrak etanol dari kelopak
bunga Rosela. dan hasilnya
berupa ekstraksi bahan
aktif yang tinggi
Timbangan Dikeringkan dan
diekstraksi, dengan
metode perkolasi.
65 mg/ 200 g
BB
130 mg/ 200
g BB
195 mg/ 200
g BB

Ordinal
Kadar Glukosa
darah puasa 8
jam
Pengukuran kadar glukosa
pada Kelompok kontrol.
Kelompok eksperimen
dengan 3 dosis perlakukan
yaitu:
1. 65 mg/ 200 g BB
2. 130 mg/ 200 g BB
3. 195 mg/ 200 g BB

GOD-PAP Pengukuran kadar gula
darahnya pada
laboratorium klinik
dengan metode glucose
oxidase, yaitu 1 ml
darah Mus Musculus
dipusingkan dengan
kecepatan 3000 rpm
selama 10 menit
kemudian diambil
serumnya. Kurang lebih
0,5 serum dimasukkan
ke dalam sample cup,
kemudian dimasukkan
ke dalam alat pemeriksa
(stardust) dan
didapatkan kadar gula
darah Mus Musculus
dengan satuan mg/dl.
Penurunan
kadar glukosa
darah dalam
mg/dl
Rasio

4

Teknik Analisis Data
Seluruh data yang diperoleh dari
kegiatan penelitian dicatat secara rinci dan
sistematis, kemudian seluruh data kuantitatif
yang didapat dianalisis dengan program
SPSS secara statistik dengan menggunakan
one way analysis of variarance (ANOVA)
dan post hoc least significant difference
(LSD).

Hasil Penelitian
1. Deskripsi Data
Percobaan mengenai pengaruh
pemberian ekstrak kelopak bunga Rosela
(Hibiscus Sabdariffa L) sebagai antioksidan
pada mencit (Mus Musculus) yang diinduksi
dengan aloksan didapatkan hasil sebagai
berikut:
Tabel 4.1. Rerata Kadar Gula Darah Mencit (mg/dl).

No Kelompok
Perlakuan
Rerata Kadar Gula Darah Mencit (mg/dl)
Awal (pretest) (Posttest)
1 Kontrol 140,50 182,83 -
2 K1 134.67 185.67 143.83
3 K2 139.00 189.00 145.83
4 K3 136.33 180.67 144.67

Berdasarkan tabel 4.1 kemudian dibuat grafik yang menggambarkan kadar gula darah mencit
pada masing-masing kelompok:




Gambar 4.1
Grafik Rerata Hasil pengukuran Kadar Gula Darah Mencit


-
20,00
40,00
60,00
80,00
100,00
120,00
140,00
160,00
180,00
200,00
Awal (Pretest) (Posttest)
134,67
185,67
143,83
139,00
189,00
145,83
136,33
180,67
144,67
140,50
182,83
0,00
K1 K2 K3 kontrol
Mg/dl
Perlakuan
5

Kadar gula darah pada kelompok
perlakuan dapat dilihat dari grafik di atas
dimana terlihat penurunan kadar gula darah
mencit setelah pemberian perlakuan pada
kelompok dengan dosis 1, kelompok dengan
dosis 2 dan kelompok dengan dosis 3
ekstrak kelopak bunga Rosela. Untuk
mengetahui ada tidaknya penurunan kadar
gula darah, dilakukan perhitungan kadar
gula darah yang dihitung dari kadar gula
darah setelah induksi aloksan (pretest)
dikurangi dengan kadar gula darah setelah
pemberian perlakuan (posttest). Penurunan
kadar gula darah tersebut kemudian dibuat
reratanya dan digolongkan berdasarkan
kelompok perlakuan. Penurunan rerata yang
didapat dari kelima kelompok perlakuan
adalah sebagai berikut:
Tabel 4.2. Rerata Penurunan Kadar Gula Darah Mencit dari Ketiga Kelompok Perlakuan

Kelompok
Awal
(mg/dl)
Selisih
Pretest
(mg/dl)
Selisih
Posttest
(mg/dl)
Kontrol 140,50 42,33 182,83 - -
K1 134,67 51,00 185,67 41,84 143,83
K2 139,00 50,00 189,00 43,17 145,83
K3 136,33 44,34 180,67 36,00 144,67


Berdasarkan tabel 4.2 diketahui bahwa
setelah 16 jam dipuasakan diketahui hasil
pengukuran rata-rata kadar gula darah pada
kelompok 1 adalah 134,67 mg/dl, pada
kelompok 2 adalah 139,00 mg/dl, kelompok
3 adalah 136,33 mg/dl dan kelompok kontrol
adalah 140,50 mg/dl.
Pada hari yang sama seluruh mencit
diinduksi aloksan kemudian dilakukan
pengukuran kadar gula darah mencit, pada
kelompok 1 diperoleh rata-rata kadar gula
darah sebesar 185,67 mg/dl berarti ada
peningkatan sebesar 51,00 mg/dl. Rata kadar
gula darah pada kelompok 2 setelah
diinduksi aloksan adalah 189,00 mg/dl yang
berarti ada peningkatan kadar gula darah
sebesar 50,00 mg/dl, pada kelompok 3
diperoleh kadar gula darah setelah diinduksi
aloksan sebesar 180,67 mg/dl yang berarti
terjadi peningkatan kadar gula darah sebesar
44,34 mg/dl. Sedangkan pada kelompok
kontrol selisih antara awal pengukuran kadar
gula darah mencit adalah 140,50 mg/dl
kemudian hasil pengukuran kadar gula darah
setelah diinduksi aloksan adalah sebesar
182,83 mg/dl berarti ada peningkatan kadar
gula darah sebanyak 42,33 mg/dl.
Pada hari ke delapan sampai dengan
hari ke-16 masing-masing kelompok
diberikan perlakuan ekstrak kelopak bunga
Rosela yang dikelompokkan berdasarkan 3
dosis pemberian. Kelompok dengan dosis 1
mengalami penurunan kadar gula darah
sebesar 41,84 mg/dl, kelompok dengan dosis
2 mengalami penurunan kadar gula darah
sebanyak 43,17 mg/dl dan pada kelompok
dosis 3 mengalami penurunan kadar gula
darah sebanyak 36,00 mg/dl. Sedangkan
pada kelompok kontrol tidak diberikan
ekstrak kelopak bunga Rosela. Selisih kadar
gula darah dari awal pengukuran, induksi
aloksan (pretest) dan pemberian ekstrak
kelopak bunga Rosela (posttest) terdeskripsi
pada grafik di bawah ini:


6


Gambar 4.2.
Rerata Selisih Penurunan Kadar Gula Darah Mencit dari
Ketiga Kelompok Perlakuan


2. Hasil Analisis Data
Sebelum proses pengujian dilakukan
uji normalitas dan homogenitas data sebagai
syarat analisis data. Setelah diketahui
normalitas dan homogenitas datanya
kemudian dilakukan uji statistik ANOVA
yang kemudian dilanjutkan dengan Uji Post
Hoc. Data pengukuran kadar gula darah
yang digunakan adalah rata-rata selisih
penurunan kadar gula darah. Rata-rata
selisih penurunan kadar gula darah
didapatkan dari kadar gula darah mencit
setelah induksi aloksan (pretest) dikurangi
kadar gula darah mencit setelah perlakuan
(posttest). Hasil analisis data dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Hasil uji normalitas menunjukkan
keseluruhan data memiliki nilai
sig>0,05, sehingga dapat disimpulkan
bahwa populasi data berdistribusi
normal.
b. Hasil uji homogenitas menunjukkan
bahwa tidak ada perbedaan varian antara
kelompok data yang dibandingkan,
dengan kata lain varian data berstatus
homogen.
c. Uji ANOVA
Uji ANOVA digunakan untuk
mengetahui ada tidaknya perbedaan
rerata lebih dari dua kelompok sampel
yang tidak berhubungan.
36
Data yang
dipakai dalam uji ANOVA ini yaitu data
hasil transformasi yang memiliki varian
homogen agar hasil uji ANOVA valid.
Adapun hasil uji yang diperoleh adalah
sebagai berikut:

Tabel 4.3. Hasil Uji ANOVA
No Kelompok F Sig.
1 Kontrol 46.542 0.000
2 K1 48.862 0.000
3 K2 113.111 0.000
4 K3 60.783 0.000
0,00
10,00
20,00
30,00
40,00
50,00
60,00
Selisih (awal-Pretest) Selisih (Pre-Posttest)
51,00
41,84
50,00
43,17
44,34
36,00
42,33
0,00
K1 K2 K3 kontrol
7


Tabel di atas menunjukkan
bahwa F hitung pada kelompok 1 adalah
sebesar 48.862 dengan sig 0.000 dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa Ho
ditolak, atau terdapat perbedaan yang
signifikan kadar gula darah kelompok
diberikan ekstrak kelopak bunga Rosela
dosis 1, dosis 2 dan dosis 3.

Nilai F hitung pada kelompok 2
adalah sebesar 113.111 dengan sig 0.000
dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
Ho ditolak, atau terdapat perbedaan yang
signifikan kadar gula darah pada kelompok
yang diberikan ekstrak kelopak bunga
Rosela dosis 1, dosis 2 dan dosis 3. Nilai F
hitung pada kelompok 3 adalah sebesar
60.78 dengan sig 0.000 dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak, atau
terdapat perbedaan yang signifikan kadar
gula darah pada kelompok yang diberikan
ekstrak kelopak bunga Rosela dosis 1, dosis
2 dan dosis 3.

Nilai F hitung pada kelompok
kontrol adalah 46.542 dengan sig 0.000
dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
Ho ditolak, atau terdapat perbedaan yang
signifikan kadar gula darah sebelum dan
setelah diberikan aloksan.

Perhitungan tersebut menunjukkan
bahwa terdapat perbedaan penurunan kadar
gula darah yang bermakna di antara ketiga
kelompok perlakuan beserta kelompok
kontrolnya. Setelah uji ANOVA di atas
kemudian dilanjutkan dengan uji Post Hoc.
Uji ini dilakukan untuk mengetahui pada
kelompok manakah terdapat perbedaan yang
bermakna tersebut.
d. Uji Post Hoc
Tabel 4.4 Hasil Uji Post Hoc
Kelompok
(I)
intervensi
(J)
intervensi
Mean
Difference (I-
J)
Sig.
95% CI
Lower Upper
K1 Awal Pretest -51.00 0.000 -62.72 -39.28
Pretest Posttest 41.83 0.000 30.11 53.56
K2 Awal Pretest -50.00 0.000 -57.68 -42.32
Pretest Posttest 43.16 0.000 35.48 50.85
K3 Awal Pretest -44.33 0.000 -53.44 -35.22
Pretest Posttest 36.00 0.000 26.89 45.11

Perhitungan statistik uji post hoc
sumber variasi kelompok perlakuan dengan
taraf signifikansi 5% menunjukkan bahwa
perbandingan antar kelompok perlakuan
awal dengan pretest dan posttest dosis 1 dan
dosis 2 dan dosis 3 ekstrak kelopak bunga
Rosela adalah signifikan (p<0,05) dan Ho
ditolak. Ini berarti ada penurunan kadar gula
darah yang bermakna antar kelompok yang
diperbandingkan. Hasil tersebut juga
menunjukkan bahwa Dosis pemberian
ekstrak kelopak bunga Rosela (Hibiscus
Sabdariffa L.) dosis uji 130 mg/ 200 g BB
pada kelompok 2 merupakan dosis yang
memberikan efek penurunan kadar glukosa
paling banyak pada mencit (mus musculus)
yang diinduksi aloksan dibandingkan
dengan dosis lainnya.




Pembahasan
Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa hasil uji normalitas menunjukkan
8

keseluruhan data berdistribusi normal.
Adapun hasil uji homogenitas menunjukkan
bahwa varian data berstatus homogen. Hasil
uji ANOVA menunjukkan bahwa ada
perbedaan yang signifikan kadar gula darah
kelompok diberikan ekstrak kelopak bunga
Rosela dosis 1, dosis 2 dan dosis 3 baik pada
kelompok 1, kelompok 2, kelompok 3 dan
kelompok kontrol. Hasil uji Post-hoc juga
menunjukkan bahwa ada penurunan kadar
gula darah yang bermakna antar kelompok
yang diperbandingkan.
Salah satu zat yang terdapat pada
kelopak bunga rosela adalah pigmen
antosianin yang membentuk flavonoid yang
berperan sebagai antioksidan.
26
Peran
antosianin sebagai antioksidan tersebut
dapat merangsang sekresi insulin di kelenjar
pankreas, meningkatkan kecepatan sintesis
insulin oleh pankreas, berikatan dengan
PPAR (peroxisome proliferator activated
receptor-gamma) di otot, jaringan lemak,
dan hati untuk menurunkan resistensi insulin
dan membantu kerja enzim-enzim
pencernaan yang mencerna karbohidrat,
sehingga memperlambat absorpsi glukosa ke
dalam darah.
20
Kondisi ini terjadi karena
antioksidan mampu mengurangi dampak
buruk senyawa oksigen reaktif, senyawa
nitrogen reaktif atau keduanya dalam
kondisi fungsi fisiologis normal pada
manusia.
Teori lain tentang mekanisme
antioksidan yang berperan menurunkan
kadar glukosa adalah adanya reaksi glukosa
dari flavonoid sebagai antioksidan dengan
metode enzimatis yang menggunakan enzim
GOD menghasilkan energi, asam glukonat
dan hidrogen peroksida. Reaksi selanjutnya
adalah reagen 4-amino-antipirin yang
ditambahkan dengan enzim PAP
menghasilkan senyawa yang berwarna
merah (kuinonimin). Antioksidan dalam
flavonoid dapat menghambat kerusakan sel
pada pulau langerhans pankreas yang
menghasilkan insulin dan merangsang
pelepasan insulin pada sel pankreas untuk
disekresikan ke dalam darah dan dapat
mengembalikan sensitivitas reseptor insulin
pada sel sebagai akibat dari proses
kerusakan oksidatif.
Penurunan kadar gula darah yang
disebabkan karena induksi aloksan pada
dosis 140 mg/ kg BB sudah dapat merusak
sel pankreas meskipun belum secara
ireversibel. Pada suntikan dosis tunggal
aloksan akan timbul keadaan diabetes yang
reversibel. Keadaan ireversibel dapat terjadi
dengan pemberian berulang. Selain itu
respon tubuh masing-masing mencit yang
tidak sama terhadap penyuntikan aloksan.
Penurunan kadar gula darah pada kondisi
tersebut di atas yang bervariasi antara
mencit satu dengan lainnya disebabkan oleh
faktor endogen masing-masing mencit yang
bersifat individual dan banyak dipengaruhi
oleh beberapa faktor non fisik dan
lingkungan. Pemberian ekstrak kelopak
bunga Rosela dipengaruhi oleh faktor
patologik yang bisa menyebabkan obat
menurun atau meningkat. Penurunan efek
obat mungkin merupakan konsekuensi dari
penyerapan yang jelek pada saluran cerna,
pembuluh darah atau peningkatan ekskresi
melalui ginjal.
Beberapa penelitian sebelumnya
menunjukkan bahwa tanaman obat yang
berkhasiat sebagai agent hipoglikemi seperti
penelitian mengenai daun Lenglengan
(Leucas lavandulaevolia) yang juga
mengandung zat flavonoid sebagai
antioksidan.
18
Penelitian lain yang
menjelaskan kandungan dari bunga Rosela
yang menemukan senyawa gossipetin,
antosianin, dan glukosida hibiscin dalam
bunga Rosela. Ketiganya berkhasiat sebagai
antioksidan yang kuat. Antioksidan bunga
Rosela meredam aksi radikal bebas yang
menyerang molekul tubuh. Jika guanin
dalam DNA terserang radikal bebas,
kesalahan replikasi DNA mudah terjadi.
Kerusakan DNA memicu oksidasi low
9

density liporotein, kolesterol dan lipid
penyebab penyakit Diabetes Mellitus.
19
Hasil penelitian dan hasil uji Post Hoc
yang menunjukkan bahwa perbandingan
antar kelompok perlakuan awal dengan
pretest dan posttest dosis 1 dan dosis 2 dan
dosis 3 ekstrak kelopak bunga Rosela adalah
signifikan (p<0,05) dan Ho ditolak. Ini
berarti ada penurunan kadar gula darah yang
bermakna antar kelompok yang
diperbandingkan. Kelompok dosis 1 dosis 2
dan dosis 3 sudah dianggap mempunyai
pengaruh dalam menurunkan kadar gula
darah. Artinya ekstrak kelopak bunga Rosela
mengandung zat yang mempengaruhi
penurunan kadar gula darah berupa
flavonoid dan zat antioksidan (gossipetin,
antosianin, glukosida hibiscin, vitamin C)
sebagai zat yang berpengaruh dalam
menurunkan kadar gula darah, tetapi juga
mengandung zat-zat lain (alkaloid, beta
karoten dan sebagainya) yang mungkin bisa
mengganggu interaksi flavonoid dan zat
antioksidan dengan reseptornya. Faktor lain
yang mungkin berpengaruh adalah
kandungan flavonoid dan zat antioksidan
yang tersari pada ekstrak kelopak bunga
Rosela yang digunakan dapat menimbulkan
pengaruh untuk menurunkan kadar gula
darah yang optimal. Pada penelitian ini telah
dilaksanakan melalui tiga perlakuan dengan
pemberian dosis yang berbeda baik dosis
aloksan maupun dosis ekstrak kelopak
Bunga Rosela dimana hasil dari ketiga
perlakuan tersebut menunjukkan penurunan
kadar glukosa yang tidak jauh berbeda, hal
ini menjadi kelemahan penelitian. Oleh
sebab itu, pada penelitian selanjutnya perlu
ditetapkan selisih antar perlakuan dengan
memperbesar interval pemberian dosis
antara objek satu dengan lainnya.
Kesimpulan
Simpulan yang dapat ditarik dari hasil
penelitian yang telah dilakukan uji statistik
(uji ANOVA dan uji Post Hoc) dan dengan
memperhatikan pembahasan adalah sebagai
berikut:
1. Ekstrak kelopak bunga Rosela (Hibiscus
Sabdariffa L) dosis uji 65 mg/ 200 g BB
pada kelompok 1, dosis uji 130 mg/ 200
g BB pada kelompok 2 dan dosis uji 195
mg/ 200 g BB pada kelompok 3
mempunyai pengaruh dalam
menurunkan kadar gula darah.
2. Dosis pemberian ekstrak kelopak bunga
Rosela (Hibiscus Sabdariffa L) dosis uji
130 mg/ 200 g BB pada kelompok 2
merupakan dosis yang memberikan efek
penurunan kadar glukosa paling banyak
pada mencit (mus musculus) yang
diinduksi aloksan dibandingkan dengan
dosis lainnya( F=113.1; sig. 0,000)

DAFTAR PUSTAKA
1. Bustan. Epidemiologi Penyakit
Tidak Menular. Rineka
Cipta. Jakarta. 2007.
Hal.125
2. Maryono D. Atoresklerosis pada
Diabetes. Majalah
Kesehatan Masyarakat
Indonesia Tahun XXVI.
1998. No 5:285-289.
3. Widowati, L. dkk. Aktivitas Antiksi
dan Ekstrak Biji Klabet
(Trigonella feoum-graecum
L) Pengukuran Kadar
Glutation Tikus Diabetes.
Media Litbang Kesehatan.
Vol XIV Nomor 4 Tahun
2004. Hal. 7
4. Price, Sylvia dan Lorraine Wilson,
Patofisiologi Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit.
EGC Jakarta. 2006.
Hal.1260
5. Fahri, Chasbi dkk, Kadar Glukosa
dan KolesterolTotal Darah
Tikus Putih (Rattus
norvegicus L.)
10

Hiperglikemik setelah
Pemberian Ekstrak Rosela.
Jurnal. Biofarmasi 3 (1): 1-
6, Februari 2005, ISSN:
1693-2242 Jurusan Biologi
FMIPA UNS Surakarta.
2005. Hal.14
6. Syahbuddin. Diabetes Melitus dan
Pengelolaannya. Cetakan 2,
Pusat Diabetes & Lipid
RSUP Nasional Dr. Cipto
Mangunkusumo-FKUI,
Jakarta.2002. Hal. 122
7. Almatsier, Prinsip Dasar Ilmu Gizi.
Cetakan IV. Jakarta: PT.
Gramedia. Pustaka
Utama.2010. Hal.129
8. Sudoyo, W Aru, dkk. Buku Ajar
Penyakit Dalam Jilid III
Edisi V. Interna Publishing
Jakarta, 2009. Hal.1887
9. Sugiyanto, Edi, Patogenesis
Diabetes Mellitus tipe 2.
Medika No.2 Tahun
XXX.Jakarta : PT.Grafiti
Medika Pers.2004. Hal.87
10. Jafar. Kajian Diabetes Mellitus.
Jurnal. Program Studi Ilmu
Gizi Fakultas Kesehatan
Masyarakat Universitas
Hasanuddin.2009. Hal.17
11. Soegondo, Penatalaksanaan
Diabetes Mellitus
Terpadu.Penerbit FKUI.
Jakarta.2002 Hal.69
12. Jacken T,1001 Tentang Diabetes-
Seluk Beluk Diabetes dan
Penanggulangannya,Exx
Media Inc. Bandung. 2005.
Hal.121
13. Purwaningsih,Tugasworo.
Patogenesis Aterosklerosis.
Balai Penerbit Universitas
Diponegoro, Semarang.
2004. Hal.41-2

14. Yunir,M dan Soeharko Soebardi,
Terapi Non Farmakologis
pada Diabetes Mellitus.
Buku AjarIlmu Penyakit
Dalam jilid III, edisi IV.
Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit
Dalam FKUI, Jakarta.2009.
Hal.1891
15. Szkudelski, The Mechanism of
Alloxan and Streptozocoin
Action of Rat Pancreas.
Physiol. 2008. Hal.441
16. Ansel,Pengantar Bentuk Sediaan
Farmasi. Edisi X. Jakarta:
UI Press.2001. Hal.311
17. Voigt,Buku Pelajaran Teknologi
Farmasi, Diterjemahkan
oleh. Soendani N. S., UGM
Press. Jogjakarta. 2004.
Hal.103
18. Waji, AS. Makalah Kimia Organik
Bahan AlamFlavonoid
(Quercetin). Program S2
KimiaFakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan
Alam. Universitas
Hasanuddin. H.7-10
19. Halliwell, B., Gutteridge, J.M.C.
2007. Free Radicals in
Biology and Medicine.
Fourth edition. New York.
Oxford University Press.
H.189
20. Pangkahila, W. 2007.
Memperlambat Penuaan
Meningkatkan Kualitas
Hidup. AntiAging
Medicine. Cetakan ke-1.
Jakarta. Penerbit Buku
Kompas. hal: 8-11.
21. Murray, R.K., Granner, D.K.,
Mayes, P.A., Rodwell
V.W. 2000. Biokimia
Harper.Edisi 25. Jakarta.
EGC. hal: 609-612
11


22. Rush, J.W.E., Denniss, S.G.,
Graham, D.A. 2005.
Vascular Nitric Oxide and
Oxidative Stress:
Determinants of
Endothelial Adaptations to
Cardiovascular Disease
and to Physical Activity.
Can J Appl Physiol 30(4)
H.442-474.
23. Szocs, K. 2004. Endothelial
Dysfunction and Reactive
Oxygen Species
Production in
Ischemia/Reperfusion and
Nitrate Tolerance. Gen
Physiol. Biophys 23, H.
265-295
24. Suryohudoyo, P. Kapita Selekta
Ilmu Kedokteran
Molekuler. Perpustakaan
Nasional RI. 2000. Penerbit
CV Sagung Seto. Jakarta
hal: 31-47.

25. Departemen Kesehatan RI, 2001
26. Larasati, Yenidan Ahmad Ismail.
Pengaruh Pemberian
Seduhan Kelopak Bunga
Rosela (Hibiscus Sabdariffa
L)Dosis Bertingkat Selama
30 Hari Terhadap Gambaran
Histologik GasterTikus
Wistar. Karya Tulis Ilmiah,
Program Pendidikan Sarjana
KedokteranFakultas
KedokteranUniversitas
Diponegoro. 2010

27. Yanuarius LB. Hubungan Antara
Pengendalian Metabolik dan
Komplikasi Kronik Diabetes
Tipe 2 pada Penyakit
Kardiovaskular. Badan
Penerbit Universitas
Diponegoro. Semarang.
2009. Hal.77
28. Wiyarsi, Antuni. Khasiat Bunga
Rosela, Artikel Ilmiah
Media Medika
Indonesiana.2012. Hal.6
29. Notoatmodjo. Metode Penelitian
Kesehatan, Rineka Cipta
Jakarta. 2005. Hal.59
30. Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktek, Rineka
Cipta Jakarta. 2002. Hal.86
31. Maryanto dan Fatimah. Pengaruh
Pemberian Bunga Rosela
(Hibiscus Sabdariffa L)
pada Lipid Serum Tikus
(Sprague Dawley)
Hiperglikmeia. Media
Medika Indonesiana. 2004.
Hal.27
32. Ngatidjan,Metode Laboratorium
Dalam
Toksikologi.Yogyakarta.
PenerbitBagian
Farmakologi dan
Toksikologi Fakultas
Kedokteran Universitas
GajahMada. 2006. h.17
33. Imono dan Nurlaila, Evaluasi
Penatalaksanaan terapi
keracunan pestisida pasien
rawat inap di rumah sakit A
Yogyakarta periode Januari
2001 sampai dengan
Desember 2002. Majalah
Farmasi Indonesia, Edisi 16.
2005. Hal 41
34. Mardiah dkk, Budi Daya
Pengolahan Rosela Si
Merah Segudang Manfaat.
PT Agro Media Pustaka,
Jakarta. 2009. Hal. 112

35. Budiarto, Eko, Biostatistika untuk
Kedokteran dan Kesehatan
12

Masyarakat. PT EGC,
Jakarta. 2002. Hal.195
36. Priyanto, Dwi. Mandiri Belajar
SPSS (Statistic Product
and Service Solution)
untuk Analisis Data dan
Uji Statistik Bagi
Mahasiswa dan Umum,
Media Kom. Cet. 3.
Yogyakarta, 2009. Hal 67