You are on page 1of 8

Artikel

MENGHIDUPKAN 8 FUNGSI KELUARGA MENUJU


KELUARGA SEJAHTERA


Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa keluarga sejahtera didefinisikan sebagai
keluarga yang dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan
hidup spirituil dan materiil yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki
hubungan yang serasi, selaras dan seimbang antar anggota dan antara keluarga dengan
masyarakat dan lingkungan. Secara operasional keluarga sejahtera adalah keluarga yang
dapat melaksanakan 8 fungsi keluarga, sehingga dalam rangka mewujudkan keluarga
sejahtera perlu upaya untuk menghidupkan dan menumbuhkembangkan 8 fungsi keluarga
tersebut.
Sebelumnya perlu dipahami bahwa bersamaan dengan terbentuknya keluarga yang kita
bangun, maka telah dimulai pula hak dan kewajiban suami isteri. Salah satu hak bersama
suami isteri tersebut adalah hak untuk dapat menikmati hidup tentram, rukun, penuh
perdamaian, bahagia dan sejahtera. Apabila kelak mereka telah memiliki anak, hak tersebut
harus pula dapat dinikmati oleh darah daging atau keturunan mereka itu. oleh karenanya
menjadi kewajiban bersama pula (suami isteri) untuk dapat menciptakan kondisi itu, melalui
upaya-upaya untuk menghidupkan 8 fungsi keluarga yang terdiri dari fungsi keagamaan,
fungsi sosial budaya, fungsi cinta kasih, fungsi melindungi, fungsi reproduksi, sosialisasi dan
pendidikan, fungsi ekonomi dan fugsi pembinaan lingkungan.
Untuk dapat menghidupkan 8 fungsi keluarga sebagai prasyarat tercapainya keluarga
yang sejahtera, suami isteri masing-masing harus dapat melaksanakan beberapa
kewajibannya terlebih dahulu. Adapun kewajibannya masing-masing adalah sebagai berikut:
Pertama, Kewajiban Isteri. Kewajiban tersebut meliputi lima hal: (1) Hormat dan
patuh kepada suami dalam batas-batas yang telah ditentukan oleh norma agama dan susila,
(2) Mengatur dan mengurus rumah tangga, menjaga keselamatan dan mewujudkan
kesejahteraan keluarga, (3) Memelihara dan menjaga kehormatan serta melindungi harta
benda keluarga, (4) Memelihara dan mendidik anak sebagai amanat Allah/Tuhan Yang Maha
Sunartiningsih, SE
Esa, (5) Menerima dan menghormati pemberian suami serta mencukupkan nafkah yang
diberikannya dengan baik, hemat, cerat dan bijaksana.
Kedua, Kewajiban Suami. Kewajiban tersebut juga meliputi lima hal: (1) Memelihara,
memimpin dan membimbing keluarga lahir dan batin, serta menjaga dan bertanggung jawab
atas keselamatan dan kesejahteraan, (2) Memberi nafkah sesuai dengan terutama sandang,
pangan dan papan, (3) Membantu tugas-tugas isteri terutama dalam memelihara dan
mendidik anak dengan penuh rasa tanggung jawab, (4) Memberi kebebasan berfikir dan
bertindak kepada isteri sesuai dengan ajaran agama, tidak mempersulit apalagi membuat
isteri menderita lahir batin yang dapat mendorong isteri berbuat salah, (5) Dapat mengatasi
keadaan, mencari penyelesaian secara bijaksana dan tidak berbuat sewenang-wenang.
Ketiga, Kewajiban Bersama Suami Isteri. Kewajiban ini mencakup enam hal: (1)
Saling menghormati orang tua dan keluarga kedua belah pihak, (2) Memupuk rasa cinta dan
kasih sayang. Masing-masing harus dapat menyesuaikan diri, se ia se kata, percaya
mempercayai serta selalu bermusyawarah untuk kepentingan bersama, (3) Hormat
menghormati, sopan santun, penuh pengertian serta bergaul dengan baik, (4) Matang dalam
berbuat dan berpikir serta tidak bersikap emosional dalam memecahkan persoalan yang
dihadapi, (5) Memelihara kepercayaan dan tidak saling membuka rahasia pribadi, (6) Sabar
dan rela atas kekurangan-kekurangan dan kelemahan masing-masing
Dengan telah dilaksanakan berbagai kewajiban itu, maka upaya menghidupakn 8
fungsi keluarga yang akan ditempuh dapat berjalan lebih baik dan optimal. Dengan
optimalnya pelaksanaan fungsi-fungsi keluarga itu, maka upaya untuk mewujudkan keluarga
sejahtera menjadi semakin lapang pula. Yang berarti, jalan menuju ke arah harapan dan cita-
cita, yakni menjadikan keluarga sebagai tempat bernaung dan penggantungan hidup anggota-
anggotanya yang aman, nyaman dan tentram dapat terwujud. Begitu juga, upaya menjadikan
keluarga sebagai wahana pembentukan insan-insan pembangunan yang berkualitas.
Ada banyak cara yang dapat kita tempuh untuk dapat menghidupkan 8 fungsi keluarga.
Cara-cara tersebut dapat berjalan efektif bila suami isteri beserta anggota keluarga lainnya
saling dukung mendukung untuk melaksanakannya.
Pertama, Fungsi Keagamaan. Upaya menghidupkan fungsi ini pada dasarnya bertujuan
untuk mengembangkan keluarga dan anggota-anggotanya agar tetap dan makin bertambah
iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pembinaan keimanan dan ketaqwaan ini
penting, mengingat di era globalisasi seperti sekarang ini, permasalahan keluarga semakin
ruwet dan kompleks. Persoalan hidup telah merambah ke hampir semua aspek kehidupan
keluarga. Bila permasalahan dan persoalan hidup itu tidak dapat diatasi, tentu akan
menumbuhkan rasa kecewa dan putus asa. Bila rasa putus asa tidak diimbangi dengan rasa
iman dan taqwa, jelas akan menimbulkan efek yang kurang baik bagi kehidupan keluarga
maupun anggota-anggotanya. Beberapa upaya efektif yang dapat dijalankan keluarga guna
menghidupkan dan mengoptimalkan pelaksanaan fungsi ini adalah: (1) Membina
norma/ajaran agama sebagai dasar dan tujuan hidup seluruh anggota keluarga. Dalam hal ini,
meskipun tidak harus, hendaknya norma/ajaran agama yang dianut oleh seluruh anggota
keluarga adalah sama, dengan maksud agar pembinaan keimanan dan ketaqwaan tidak
menemui hambatan secara teknis. Karena bagaimanapun juga bila dalam satu keluarga
agamanya berbeda-beda, hambatan psikologis akan selalu mengiringi upaya-upaya
peningkatan keimanan dan ketaqwaan ini sepanjang tidak ada toleransi beragam,a yang
cukup tinggi, (2) Menerjemahkan ajaran/norma agama ke dalam tingkah laku hidup sehari-
hari seluruh anggota keluarga. Dalam hal ini ajaran/norma agama diterjemahkan dari isi kitab
suci masing-masing agama. Penerjemahan dilakukan dengan tuntunan dan pedoman dari
tokoh-tokoh agama maupun melalui buku-buku petunjuk yang ada, (3) Memberi contoh
konkret dalam kehidupan sehari-hari dalam pengamalan ajaran agama yang dianut.
Pemberian contoh ini hendaknya dilakukan oleh orang tua sebagai pasangan suami isteri
terhadap anak-anaknya. Secara sederhana, sikap dan perilaku yang dapat ditunjukkan adalah
sikap ramah, suka menolong orang lain dan tidak sombong. Disamping itu sikap hormat
menghormati dalam pelaksanaan ibadah, apabila dalam satu keluarga terhadap beberapa
agama yang dianut dengan suatu kesadaran bahwa masalah agama dan kepercayaan kepada
Tuhan Yang Maha Esa merupakan masalah yang sangat pribadi dan hakiki, (4) Melengkapi
dan menambah proses kegiatan belajar anak, khususnya tentang keagamaan yang tidak atau
diperolehnya di sekolah dan di masyarakat. Misalnya dengan mengikutikan anak pada
pengajian anak-anak, kegiatan BKB Iqro, dan kegiatan-kegiatan lain yang sejenis, (5)
Membina rasa, sikap dan praktek kehidupan keluarga beragama sebagai fondasi menuju
Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera. Dalam fungsi keagamaan terdapat 12 nilai dasar yang
mesti dipahami dan ditanamkan dalam keluarga, yaitu: (1) Iman, (2) Taqwa, (3) J ujur, (4)
Tenggangrasa, (5) Rajin, (6) Shaleh, (7) Taat, (8) Suka membantu, (9) Disiplin, (10) Sopan
santun, (11) Sabar dan ikhlas, (12) Kasih sayang.
Kedua, Fungsi Sosial Budaya. Upaya menghidupkan fungsi ini bertujuan untuk
menjadikan keluarga mampu menggali, mengembangkan dan melestarikan kekayaan sosial
budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Sebagaimana diketahui bahwa bangsa kita
memiliki kekayaan budaya yang demikian beragam, begitu pula dengan dilestarikan,
dikembangkan dan dimantapkan keberadaannya, agar tetap eksis dan menjadi ciri khas
budaya bangsa kita. Terkait dengan itu, upaya yang dapat ditempuh di antaranya: (1)
Memberi contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari dalam pengamalan ajaran agama yang
dianut.Utamanya norm-norma dan budaya bangsa yang baik dan dapat mengangkat
masyarakat, keluarga dan bangsa ke posisi yang lebih terhormat dihadapan bangsa-bangsa
lain di dunia, (2) Membina tugas-tugas keluarga sebagai lembaga untuk menyaring norma
dan budaya asing yang tidak sesuai. Upaya ini mendasarkan pada kenyataan bahwa tidak
setiap budaya dan perilaku asing itu cocok untuk diterapkan di masyarakat dan keluarga kita,
sehingga keluarga perlu lebih teliti memilah-memilah budaya mana yang boleh masuk ke
keluarga dan mana yang tidak, (3) Membina tugas-tugas keluarga sebagai lembaga di mana
anggota-anggotanya mencari pemecahan masalah dari berbagai pengaruh negatif globalisasi
dunia, (4) Membina tugas-tugas keluarga sebagai lembaga di mana anggotanya mengadakan
kompromi / adaptasi dari praktek kehidupan globalisasi dunia, (5) Membina budaya keluarga
yang sesuai, selaras dan seimbang dengan budaya masyarakat/bangsa yang menunjang
terwujudnya Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera. Dalam fungsi social budaya
terdapat 5 nilai dasar yang mesti dipahami dan ditanamkan dalam keluarga (1) Gotong
royong, (2) Sopan santun, (3) Kerukunan, (4) Kepedulian, (5) Kebersamaan.
Ketika, Fungsi Cinta Kasih. Fungsi ini perlu dihidupkan karena pada dasarnya rasa
cinta kasih sayang antara setiap anggota keluarga, antar kekerabatan serta antar generasi
merupakan dasar terciptanya keluarga yang harmonis. Dalam hal ini keluarga, khususnya
orang tua (suami isteri), diupayakan agar mampu memeluhara hubungan yang akrab antar
sesamanya dan antara orang tua dengan anak-anaknya. Disamping itu mampu menghadapi
perselisihan antar anggota keluarga secara bijaksana. Beberapa upaya yang dapat ditempuh
untuk dapat menghidupkan fungsi ini adalah: (1) Menumbuh-kembangkan potensi kasih
sayang yang telah ada antara anggota (suami isteri - anak) ke dalam simbol-simbol nyata
(ucapan, tingkah laku) secara optimal dan terus menerus, (2) Membina tingkah laku saling
menyayangi baik antar anggota keluarga maupun antar keluarga yang satu dengan lainnya
secara kuantitatif dan kualitatif, (3) Membina praktek kecintaan terhadap kehidupan duniawi
dan ukhrowi dalam keluarga secara serasi, selaras dan seimbang., (4) Membina rasa, sikap
dan praktek hidup keluarga yang mampu memberikan dan menerima kasih sayang sebagai
pola hidup ideal menuju keluarga kecil bahagia dan sejahtera. Dalam fungsi cinta kasih
terdapat 8 nilai dasar yang mesti dipahami dan ditanamkan dalam keluarga yakni: (1)
Empati, (2) Akrab, (3) Adil, (4) Pemaaf, (5) Setia, (6) Suka menolong, (7) Pengorbanan, (8)
Tanggungjawab
Keempat, Fungsi Melindungi. Upaya menghidupkan fungsi ini dimaksudkan untuk
memberikan rasa aman kepada seluruh anggota keluarga sehingga mereka dapat merasa
tentram lahir batin dan hidup bahagia tanpa ada rasa tekanan dari pihak manapun. Secara
umum upaya ini dapat dilakukan dengan jalan memelihara keutuhan rumah tangga serta
memelihara ketahanan keluarga terhadap benturan yang datang dari luar baik yang bersifat
sosial budaya maupun ideologi. Secara lebih terinci, upaya menghidupkan fungsi melindungi
ini dapat dilakukan dengan jalan: (1) Memenuhi kebutuhan rasa aman anggota keluarga baik
dari rasa tidak aman yang timbul dari dalam maupun dari luar keluarga, (2) Membina
keamanan keluarga baik fisik maupun psikis dari berbagai bentuk ancaman dan tantangan
yang datang dari luar, (3) Membina dan menjadikan stabilitas dan keamanan keluarga
sebagai modal menuju keluarga kecil bahagia sejahtera. Dalam fungsi melindungi terdapat 5
nilai dasar yang mesti dipahami dan ditanamkan dalam keluarga yakni: (1) Aman, (2)
Pemaaf, (3) Tanggap, (4) Tabah, (5) Peduli.
Kelima, Fungsi Reproduksi. Sebagaimana dimaklumi bersama bahwa setiap pasangan
suami isteri yang diikat oleh perkawinan yang sah, pasti mengharapkan dapat memberikan
keturunan yang berkualitas, sehingga dapat memberikan keturunan yang berkualitas,
sehingga dapat menjadi insan pembangunan yang handal di masa yang akan datang.
Sehingga upaya menghidupkan fungsi ini dapat ditempuh dengan jalan perencanaan keluarga
yang ideal disamping mengusahakan agar kesehatan reproduksi keluarga dapat terjaga
dengan baik. Termasuk di antaranya terhindar dari berbagai penyakit kelamin maupun
Penyakit Menular Seksual lainnya atau HIV dan AIDS. Adapun upayanya secara terinci
adalah sebagai berikut: (1) Membina kehidupan keluarga sebagai wahana pendidikan
reproduksi sehat baik bagi keluarga maupun anggota keluarga sekitar, (2) Memberikan
contoh pengamalan kaidah-kaidah pembentukan keluarga dalam hal usia, pendewasaan fisik
maupun menta, (3) Mengamalkan kaidah-kaidah reproduksi sehat baik yang berkaitan
dengan waktu melahirkan, jarak antara dua anak dan jumlah anak yang diinginkan dalam
keluarga, (4) Mengembangkan kehidupan reproduksi sehat sebagai modal yang kondusif,
menuju keluarga kecil bahagian dan sejahtera. Dalam fungsi reproduksi terdapat 3 nilai dasar
yang mesti dipahami dan ditanamkan dalam keluarga, yakni: (1) Tanggungjawab, (2) Sehat,
(3) Teguh.
Keenam, Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan. Sebagai wahana pendidikan yang pertama
dan utama bagi anak, keluarga diharapkan mampu menumbuhkembangkan kekuatan fisik,
mental, sosial dan spiritual secara serasi dan selaras serta seimbang. Sehingga upaya untuk
menghidupkan dan mengoptimalkan pelaksanaan fungsi ini, orang tua sebagai penanggung
jawab rumah tangga harus mampu berperan sebagai contoh, pemberi inisiatif dan mendorong
bagi anak dalam menerapkan nilai-nilai kebaikan, kebenaran dan kemanusiaan. Dalam
konteks yang khusus, fungsi sosialisasi dan pendidikan dapat lebih dihidupkan melalui: (1)
Menyadari, merencanakan dan menciptakan lingkungan keluarga sebagai wahana pendidikan
dan sosialisasi anak yang pertama dan utama, (2) Menyadari, merencanakan dan
menciptakan lingkungan keluarga sebagai pusat di mana anak dapat mencari pemecahan dari
berbagai konflik dan permasalahan yang dijumpai, baik di lingkungan sekolah maupun
masyarakat, (3) Membina proses pendidikan dan sosialisasi anak tentang hal-hal yang
diperlukannya untuk meningkatkan kematangan dan kedewasaan fisik/mental yang tidak atau
kurang di berikan oleh lingkungan sekolah maupun masyarakat, (4) Membina proses
pendidikan dan sosialisasi yang terjadi dalam keluarga sehingga tidak saja dapat bermanfaat
positif bagi anak, tetapi juga bagi orang tua dalam rangka perkembangan dan kematangan
hidup bersama menuju keluarga kecil bahagia dan sejahtera. Dalam fungsi social budaya
terdapat tujuh nilai dasar yang mesti dipahami dan ditanamkan dalam keluarga, yakni: (1)
Percaya diri, (2) Luwes, (3) Bangga, (4) Rajin, (5) Kreatif, (6) Tanggungjawab, (7)
Kerjasama.
Ketujuh, Fungsi Ekonomi. Upaya menghidupkan fungsi ini tidak terlepas dari upaya
meningkatkan keterampilan dalam usaha ekonomis produktif sehingga dapat tercapai
peningkatan pendapatan keluarga guna memenuhi kebutuhan keluarga. Dengan demikian
untuk merealisasikannya perlu dilakukan dengan cara menanamkan etos kerja yang tinggi
bagi setiap anggota keluarga yang dibarengi kreatifitas yang tinggi pula. Upaya-upaya yang
dapat ditempuh di antaranya adalah: (1) Melakukan kegiatan ekonomi baik di luar maupun di
dalam lingkungan keluarga dalam rangka menopang kelangsungan dan perkembangan
kehidupan keluarga, (2) Mengelola ekonomi keluarga sehingga menjadi keserasian,
keselarasan dan keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran, (3) Mengatur waktu
sehingga kegitan orang tua di luar rumah dan perhatiannya terhadap anggota keluarga
berjalan secara serasi, selaras dan seimbang, (4) Membina kegiatan dan hasil ekonomi
keluarga sebagai modal untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera. Dalam
fungsi ekonomi terdapat tiga nilai dasar yang mesti dipahami dan ditanamkan dalam
keluarga, yakni: (1) Kerja keras, (2) Kreatif, (3) Hemat
Kedelapan, Fungsi Pembinaan Lingkungan. Yang dimaksud dengan fungsi ini adalah
kemampuan keluarga untuk menempatkan diri dalam lingkungan sosial budaya dan
lingkungan alam yang dinamis secara serasi, selaras dan seimbang. Guna mengaktualisasikan
dan menumbuhkembangkan pelaksanaan fungsi ini, orang tua harus memelopori dalam
kehidupan nyata sehingga setiap anggota keluarga tergugah kepeduliannya terhadap
lingkungan sosial budaya maupun lingkungan alam. Upaya-upaya strategis yang dapat
ditempuh di antaranya: (1) Membina kesadaran, sikap dan praktek pelestarian lingkungan
intern keluarga, (2) Membina kesadaran, sikap dan praktek pelestarian lingkungan ekstern
hidup berkeluarga, (3) Membina kesadaran sikap dan praktek pelestarian lingkungan hidup
yang serasi, selaras dan seimbang antara lingkungan keluarga dengan lingkungan hidup
masyarakat di sekitarnya, (4) Membina kesadaran, sikap dan praktek pelestarian lingkungan
hidup sebagai pola hidup keluarga menuju keluarga kecil bahagia dan sejahtera. Dalam
fungsi pembinaan lingkungan terdapat empat nilai dasar yang mesti dipahami dan
ditanamkan dalam keluarga, yakni (1) Sehat, (2) Bersih, (3) Produktif, (4) Disiplin
Demikian beberapa upaya yang dapat ditempuh untuk menghidupkan dan
menumbuhkembangkan 8 fungsi keluarga. Guna mencapai hasil yang optimal, kuncinya
adalah pada kedua orang tua (ayah-ibu) yang dalam hal ini berkedudukan sebagai pengendali
keluarga. Bila kedua orang tua memiliki kesabaran, ketelatenan, dan ketekunan yang tinggi
disertai adanya rasa kebersamaan yang tinggi pula, niscaya upaya untuk menempuh
kehidupan keluarga dengan pelaksanaan 8 fungsi keluarga yang optimal bukanlah hal yang
sulit. Apalagi bila kondisi awalnya sudah cukup kondusif untuk melakukan hal-hal tersebut.
Dalam banyak kasus, kegagalan keluarga untuk dapat menghidupkan 8 fungsi keluarga
biasanya terletak pada tiadanya rasa kebersamaan, senasib depenanggungan, saling
pengertian dan rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap kesejahteraan keluarga. Suami
maupun isteri dalam hal ini biasanya sama-sama egois dan mau menangnya sendiri. Mereka
masing-masing tidak mau diganggu oleh urusan-urusan keluarga yang dapat memperuwet
persoalan pribadinya, walaupun sebenarnya hal tersebut sangat dibutuhkan oleh anak
maupun anggota keluarga lainnya. Bagi keluarga kaya, mereka gagal menjalankan fungsi-
fungsi keluarga karena hampir semua masalah keluarga dinilai dengan uang. Dan persoalan-
persoalan yang menyentuh aspek psikologis dan spirituil hampir tak tersentuh. Karena
pikiran kedua orang tua hanya terfokus pada dunianya sendiri-sendiri. Sedangkan bagi
keluarga miskin, kegagalan dalam menghidupkan 8 fungsi keluarga biasanya terletak pada
kegagalan keluarga tersebut dalam membangun ekonomi yang kuat yang dapat dijadikan
sebagai fondasi yang kokoh untuk melaksanakan fungsi-fungsi keluarga lainnya. Secara
prinsip umumnya mereka cukup peduli terhadap kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga,
namun secara faktual mereka gagal melaksanakan karena permasalahan ekonomi. J adi
sebenarnya bagi keluarga miskin, upaya mengentaskan mereka dari ketidakberdayaan
ekonomi, secara langsung maupun tidak langsung akan mengangkat kesejahteraan dan
kebahagiaan keluarga secara keseluruhan.

Sunartiningsih, SE, Penyuluh KB
Kecamatan Panjatan Kulon Progo