You are on page 1of 36

BAB I

PENDAHULUAN
Kejang bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan gejala dari gangguan sara pusat,
l!kal atau sistemik" Kejang pada bayi baru lahir ialah kejang yang timbul dalam masa
ne!natus atau dalam #$ hari sesudah lahir" Kejang ini merupakan tanda penting akan adanya
penyakit lain sebagai penyebab kejang tersebut, yang dapat mengakibatkan gejala sisa yang
menetap dikemudian hari" Bila penyebab tersebut diketahui harus segera di!bati" Hal penting
dari kejang pada bayi baru lahir ialah mengenai kejangnya, mendiagn!sis penyakit
penyebabnya dan memberi peng!batan terarah, bukan hanya men%!ba menanggulangi kejang
tersebut dengan !bat antik!n&ulsan" Kejang demam pada anak merupakan kelainan
neur!l!gik yang paling sering dijumpai dan merupakan penyebab tersering se!rang anak
diba'a ke Unit (a'at Darurat" Kejang demam terjadi pada #)*+ p!pulasi anak usia , bulan)
* tahun dengan insidens tertinggi pada usia -.)-$ bulan" Biasanya setelah anak berumur di
atas * tahun bila panas tidak lagi menderita kejang, ke%uali penyebab panas tersebut langsung
mengenai !tak" /erangan kejang demam pada anak yang satu dengan yang lain tidak sama,
tergantung dari nilai ambang kejang masing)masing" Kejang demam jarang terjadi pada
epilepsy, dan kejang demam ini se%ara sp!ntan dapat sembuh tanpa terapi tertentu" Kejang
selalu merupakan peristi'a yang la0im pada masa anak, dengan pr!gn!sa yang baik se%ara
seragam"
-,#
Namun, kejang demam menandakan adanya penyakit ineksi akut yang serius yang
mendasari sehingga setiap anak harus diperiksa se%ara %ermat dan se%ara tepat diamati
mengenai penyebab demam yang menyertai" misalnya pneum!nia,!titis media,gastr!enteritis
akut, ineksi saluran kemih" Pada pasien ini diduga pneum!nia dimana pneum!nia
merupakan penyakit peradangan paru yang disebabkan !leh berma%am eti!l!gi seperti
bakteri, &irus, mik!plasma, jamur atau bahan kimia 1 benda asing yang teraspirasi dengan
akibat timbulnya ketidakseimbangan &entilasi dengan perusi"
#
Kejang demam pada umumnya dianggap tidak berbahaya dan sering tidak
menimbulkan gejala sisa akan tetapi bila kejang berlangsung lama sehingga menimbulkan
hip!ksia pada jaringan /usunan /ara Pusat 2//P3, dapat menyebabkan adanya gejala sisa di
kemudian hari "
#
1
BAB II
4IN5AUAN PU/4AKA
#"- Kejang Demam
2.1.1 definisi
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi karena kenaikan suhu tubuh
2 suhu rektal di atas 6$
!
73 yang disebabkan !leh suatu pr!ses ekstrakranium" Kejang
demam merupakan kelainan neur!l!gis yang paling sering dijumpai pada anak,
terutama g!l!ngan umur , bulan sampai . tahun" Hampir 6+ daripada anak yang
berumur diba'ah * tahun pernah menderitanya 28illi%hap, -9,$3" :egman 2-9693
dan 8illi%hap 2-9*93 dari per%!baan binatang berkesimpulan bah'a suhu yang tinggi
dapat menyebabkan terjadinya bangkitan kejang"
6
4erjadinya bangkitan kejang demam bergantung pada umur, tinggi serta %epatnya
suhu meningkat 2:egman, -969; Pri%hard dan 8%(real, -9*$3" <akt!r hereditas juga
mempunyai peranan" Lenn!=)Bu%hthal 2-9>-3 berpendapat bah'a kepekaan terhadap
bangkitan kejang demam diturunkan !elh sebua gen d!minan dengan penetrasi yang
tidak sempurna" Lenn!= 2-9.93 berpendapat bah'a .-,#+ angg!ta keluarga penderita
mempunyai ri'ayat kejang sedangkan pada anak n!rmal hanya 6+"
6
2.1.2 Epidemiologi
8enurut IDAI, kejadian kejang demam pada anak usia , bulan sampai *
tahun hampir # ) *+" Diperkirakan 6+ anak)anak diba'ah usia , tahun pernah
menderita kejang demam" Anak laki)laki lebih sering pada anak perempuan dengan
perbandingan -,. ? -,@" 8enurut ras maka kulit putih lebih banyak daripada kulit
ber'arna" 4erjadinya bangkitan kejang demam bergantung kepada umur, tinggi serta
%epatnya suhu meningkat" <akt!r hereditas juga memegang peranan " Lenn!=
Bu%hthal 2-9>-3 dalam Nels!n 2#@@>3 berpendapat bah'a kepekaan terhadap
bangkitan kejang demam diturunkan !leh sebuah gen d!minan dengan penetrasi yang
2
sempurna" Dan .-,#+ angg!ta keluarga penderita mempunyai ri'ayat kejang
sedangkan pada anak n!rmal hanya 6+"
.
4erdapat pengaruh akt!r genetik yang kuat dalam kejang demam, karena
rekuensinya meningkat diantara angg!ta keluarga" Insidensi pada !rang tua berkisar
$ + dan ## + dan pada saudara kandung antara 9 + dan -> +" Pada !rang tua dari
anak dengan kejang demam ditemukan peningkatan insidensi epilepsi" <rekuensi
epilepsi berbagai angg!ta keluarga adalah . A -@ + 2Bud!lph et all", #@@>3" Bisik!
terjadinya kejang pada epis!de demam yang lain tergantung dari usia anak anda" Anak
yang berumur kurang dari - tahun pada saat kejang pertama memiliki risik! *@+
untuk mengalami kejang demam lagi" Anak yang berusia lebih dari - tahun pada saat
kejang pertama hanya memiliki risik! 6@+ untuk mengalami kejang demam lagi"
.
2.1.3 Klasifikasi dan Manifestasi klinis
Kejang Demam /ederhana 2Simple Febriele Seizure3, dengan %iri)%iri gejala
klinis berikut ?
*
Kejang berlangsung singkat, C -* menit
Kejang umum t!nik dan k!nik
Umumnya berhenti sendiri
4anpa gerakan !kal atau berulang dalam #. jam
Kejang Demam K!mplikata 2Complex Febriele Seizure3, dengan %iri)%iri
gejala klinis sebagai berikut ?
*
Kejang lamanya D -* menit
Kejang !kal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang
parsial
Berulang atau lebih dari -=#. jam
4erjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan
dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan %epat yang disebabkan !leh
ineksi susunan sara pusat, misal t!nsilitis, !titis media akut, br!nkitis dan
3
lain)lain" /erangan kejang biasanya terjadi dalam #. jam pertama se'aktu
demam, berlamgsung singkat dengan siat bangkitan dapat berbentuk t!nik)
kl!nik, t!nik, kl!nik, !kal atau akinetik" Umumnya kejang berhenti sendiri"
Begitu kejang berhenti anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi
setelah beberapa detik atau menit anak akan terbangun dan sadar kembali
tanpa adaya kelainan sara"
2.1.4 Patofisiologi
Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel atau !rgan !tak dperlukan
suatu energi yang didapat dari metab!lisme" Bahan baku untuk metab!lisme !tak
yang terpenting adalah gluk!sa" 5adi sumber energi !tak adalah gluk!sa yang
melalui pr!ses !ksidasi dipe%ah menjadi 7E# dan air" /el dikelilingi !leh suatu
membran yang terdiri dari permukaan dalam adalah lip!id dan permukaan luar
adalah i!nik" Dalam keadaan n!rmal membran sel neur!n dpat dilalui dengan
mudah !leh i!n Kalium 2KF3 dan sangat sulit dilalui !leh i!n Natrium 2NaF3 dan
elektr!lit lainnya, ke%uali i!n Kl!rida 27l)3" Akibatnya k!nsentrasi KF dalam sel
neur!n tinggi dan k!nsentrasi NaF rendah, sedangkan diluar sel neur!n terdapat
keadaan sebaliknya" Karena perbedaan jenis dan k!nsentrasi i!n didalam dan diluar
sel, maka terdapat perbedaan p!tensial yang disebut p!tensial membran dari sel
neur!n" Untuk menjaga keseimbangan p!tensial membran ini diperlukan energi
dan bantuan en0im Na)K)A4Pase yang terdapat pada permukaan sel"
6
Keseimbangan p!tensial membran ini dapat dirubah !leh adanya?
-" Perubahan k!nsentrasi i!n diruang ekstraseluler
#" Bangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimia'i atau
aliran listrik
dari sekitarnya
6" Perubahan pat!isi!l!gi dari membran sendiri karena penyakit atau
keturunan"
Pada keadaan demam kenaikan suhu - 7 akan mengakibatkan kenaikan
metab!lisme basal -@+ A -*+ dan kebutuhan !ksigen akan meningkat #@+"
Pada se!rang anak berumur 6 tahun sirkulasi !tak men%apai ,*+ dari seluruh
4
tubuh, dibandingkan dengan !rang de'asa yang hanya -*+" 5adi pada
kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi perubahan keseimbangan dari
membran sel neur!n dan dalam 'aktu yang singkat terjadi diusi dari i!n
Kalium maupun i!n Natrium melalui membran tadi, dengan akibat terjadinya
lepas muatan listrik" Lepas mutan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat
meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel tetangganya dengan bantuan
bahan yang disebut dengan neur!transmiter dan terjadilah kejang"
6
4iap anak mempunyai ambang kejang yang berbeda dan tergantung dari tinggi
rendahnya ambang kejang sese!rang anak menderita kejang pada kenaikan
suhu tertentu" Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang telah
terjadi pada suhu 6$ 7 sedangkan pada anak dengan ambang kejang yang
tinggi, kejang baru terjadi pada suhu .@ 7 atau lebih" Dari kenyataan ini
dapatlah disimpulkan bah'a terulangnya kejang demam lebih sering terjadi
pada ambang kejang yang rendah sehingga dalam penanggulangannya perlu
diperhatikan pada tingkat suhu berapa penderita kejang"
6
2.1.5 Etiologi
Penyebab tersering kejang pada anak
Kejang demam
Ineksi? meningitis, ensealitis
(angguan metab!lik? hip!glikemia, hip!natremia, hip!ksemia,
hip!kalsemia, gangguan elektr!lit, deisiensi pirid!ksin, gagal ginjal,
gagal hati, gangguan metab!lik ba'aan
4rauma kepala
Kera%unan? alk!h!l, te!ilin
Penghentian !bat anti epilepsi
Lain)lain? ensel!pati hipertensi, tum!r !tak, perdarahan intrakranial,
Idi!patik"
,
2.1.6 Faktor Resiko
5
/edangkan akt!r yang mempengaruhi kejang demam adalah ?
-" Umur
a" 6+ anak berumur di ba'ah * tahun pernah mengalami kejang demam"
b" Insiden tertinggi terjadi pada usia # tahun dan menurun setelah . tahun,
jarang terjadi pada anak di ba'ah usia , bulan atau lebih dari * tahun"
%" /erangan pertama biasanya terjadi dalam # tahun pertama dan kemudian
menurun dengan bertambahnya umur"
#" 5enis kelamin
Kejang demam lebih sering terjadi pada anak laki)laki daripada perempuan
dengan perbandingan # ? -" Hal ini mungkin disebabkan !leh maturasi serebral
yang lebih %epat pada perempuan dibandingkan pada laki)laki"
6" /uhu badan
Kenaikan suhu tubuh adalah syarat mutlak terjadinya kejang demam" 4inggi
suhu tubuh pada saat timbul serangan merupakan nilai ambang kejang"
Ambang kejang berbeda)beda untuk setiap anak, berkisar antara 6$,6G7 A
.-,.G7" Adanya perbedaan ambang kejang ini menerangkan mengapa pada
se!rang anak baru timbul kejang setelah suhu tubuhnya meningkat sangat
tinggi sedangkan pada anak yang lain kejang sudah timbul 'alaupun suhu
meningkat tidak terlalu tinggi" Dari kenyataan ini dapatlah disimpulkan bah'a
berulangnya kejang demam akan lebih sering pada anak dengan nilai ambang
kejang yang rendah"
." <akt!r keturunan
<akt!r keturunan memegang peranan penting untuk terjadinya kejang demam"
Beberapa penulis mendapatkan bah'a #* A *@+ anak yang mengalami kejang
6
demam memiliki angg!ta keluarga 2 !rang tua, saudara kandung 3 yang pernah
mengalami kejang demam sekurang)kurangnya sekali"
<akt!r resik! kejang demam pertama yang penting adalah demam", Kejang
demam %enderung timbul dalam #. jam pertama pada 'aktu sakit dengan
demam atau pada 'aktu demam tinggi"
<akt!r Aakt!r lain diantaranya?
H ri'ayat kejang demam pada !rang tua atau saudara kandung,
H perkembangan terlambat,
H pr!blem pada masa ne!natus,
H anak dalam pera'atan khusus, dan
H kadar natrium rendah"
/etelah kejang demam pertama, kira)kira 66+ anak akan mengalami satu kali
rekurensi atau lebih, dan kira)kira 9+ anak mengalami 6 kali rekurensi atau
lebih" Bisik! rekurensi meningkat dengan usia dini, %epatnya anak mendapat
kejang setelah demam timbul, temperatur yang rendah saat kejang, ri'ayat
keluarga kejang demam, dan ri'ayat keluarga epilepsi"
/ekitar -16 anak dengan kejang demam pertamanya dapat mengalami kejang
rekuren"
! <akt!r resik! untuk kejang demam rekuren meliputi berikut ini?
I Usia muda saat kejang demam pertama
I /uhu yang rendah saat kejang pertama
7
I Bi'ayat kejang demam dalam keluarga
I Durasi yang %epat antara !nset demam dan timbulnya kejang
! Pasien dengan . akt!r resik! ini memiliki lebih dari >@+ kemungkinan
rekuren" Pasien tanpa akt!r resik! tersebut memiliki kurang dari #@+
kemungkinan rekuren"
2.1. Diagnosis
Kriteria Diagn!sis
Kejang demam terjadi pada #).+ anak berusia , bulan ) * tahun" Kejang
disertai demam pada bayi CD * tahun mengalami kejang didahului demam,
pikirkan kemungkinan lain seperti ineksi //P, atau epilepsi yang kebetulan
terjadi bersama demam" Anak yang pernah mengalami kejang tanpa demam,
kemudian kejang saat demam, tidak termasuk dalam kejang demam"
Kejang didahului !leh demam
Pas%a kejang anak sadar ke%uali kejang lebih dari -* menit
Pemeriksaan punksi lumbal n!rmal
Pengamatan kejang tergantung pada banyak akt!r, termasuk umur
penderita, tipe dan rekuensi kejang, dan ada atau tidak adanya temuan
neur!l!gis dan gejala yang bersiat dasar" Pemeriksaan minimum untuk kejang
tanpa demam pertama pada anak yang lainnya sehat meliputi gluk!sa puasa,
kalsium, magnesium, elektr!lit serum dan EE(" Peragaan dis%harge 2rabas3
par!ksismal pada EE( selama kejang klinis adalah diagn!stik epilepsi, tetapi
kejang jarang terjadi dalam lab!rat!rium EE(" EE( n!rmal tidak
mengesampingkan diagn!sis epilepsi, karena perekaman antar)kejang n!rmal
pada sekitar .@+ penderita" Pr!sedur akti&asi yang meliputi hiper&entilasi,
penutupan mata, stimulasi %ahaya, dan bila terindikasi, penghentian tidur dan
perempatan elektr!de khusus 2misal hantaran 0ig!matik3, sangat meningkatkan
8
hasil p!siti, dis%harge 2rabas3 kejang lebih mungkin direkam pada bayi dan
anak daripada remaja atau de'asa"
8em!nit!r EE( lama dengan rekaman &ide! aliran pendek di%adangkan
pada penderita yang terk!mplikasi dengan kejang lama dan tidak resp!nsi"
8!nit!r EE( ini memberikan met!de yang tidak terhingga nilainya untuk
perekaman kejadian kejang yang jarang diper!leh selama pemeriksaan EE(
rutin" 4ehnik ini sangat membantu dalam klasiikasi kejang karena ia dapat
se%ara tepat menentukan l!kasi dan rekuensi dis%harge 2rabas3 kejang saat
perubahan perekaman pada tingkat yang sadar dan adanya tanda klinis"
Penderita dengan kejang palsu dapat dengan mudah dibedakan dari kejang
epilepsi sejati, dan tipe kejang 2misal, k!mpleks parsial &s menyeluruh3 dapat
lebih dikenali dengan tepat, yang adalah penting pada pengamatan anak yang
mungkin merupakan %al!n untuk pembedaan epilepsi"
Peran skenning 74 atau 8BI pada pengamatan kejang adalah
k!ntr!&ersial" Hasilnya pada penggunaan rutin tindakan ini pada penderita
dengan kejang tanpa demam pertama dan pemeriksaan neur!l!gis n!rmal
adalah dapat diabaikan" Pada pemeriksaan anak dengan gangguan kejang
kr!nis, hasilnya adalah serupa" 8eskipun sekitar 6@+ anak ini menunjukkan
kelainan struktural 2misal atr!i k!rteks setempat atau &entrikel dilatasi3,
hanya sedikit sekali manaat dari inter&ensi akti sebagai akibat dari skenning
74 dengan demikian, skenning 74 atau 8BI harus di%adangkan untuk
penderita yang pemeriksaannya neur!l!gis abn!rmal" Kejang sebagian yang
lama, tidak mempan dengan terapi antik!n&ulsan, deisit neur!l!gis setempat,
dan bukti adanya kenaikan tekanan intrakranial merupakan indikasi untuk
pemeriksaan pen%itraan sara"
Pemeriksaan 7// terindikasi jika kejang berkemungkinan terkait dengan
pr!ses ineksi, perdarahan subarakn!id, atau gangguan demielinasi" Uji
metab!lik spesiik digambarkan pada seksi mengenai kejang ne!natus dan
status epileptikus"
Pemeriksaan Penunjang
9
A" Pemeriksaan lab!rat!rium
Pemeriksaan lab!rat!rium tidak dikerjakan se%ara rutin pada kejang
demam, tetapi dapat dikerjakan untuk menge&aluasi sumber ineksi penyebab
demam, atau keadaan lain, misalnya gastr!enteritis dehidrasi disertai demam"
Pemeriksaan lab!rat!rium yang dapat dikerjakan misalnya ? darah
perier, elektr!lit dan gula darah"
Lumbal pungsi ? Pemeriksaan %airan serebr!spinal dilakukan untuk
menegakkan atau menyingkirkan kemungkinan meningitis" Besik! terjadinya
meningitis bakterialis adalah @,,+),,>+" 8eningitis dapat menyertai kejang,
'alupun kejang biasanya bukan satu)satunya tanda meningitis"
<akt!r resik! meningitis pada pasien yang datang dengan kejang dan demam
meliputi berikut ini?
Kunjungan ke d!kter dalam .$ jam
Akti&itas kejang saat tiba di rumah sakit
Kejang !kal, penemuan isik yang men%urigakan 2seperti merah)
merah pada kulit, petekie3 sian!sis, hip!tensi
Pemeriksaan sara yang abn!rmal
Pada bayi ke%il seringkali sulit untuk menegakkan atau menyingkirkan
diagn!sis meningitis karena maniestasi klinisnya tidak jelas" Eleh karena itu
pungsi lumbal dianjurkan pada ?
) Bayi kurang dari -# bulan sangat dianjurkan dilakukan
) Bayi antara -#)-$ bulan dianjurkan
) Bayi D -$ bulan tidak rutin
Bila yakin bukan meningitis se%ara klinis tidak perlu dilakukan pungsi
lumbal"
>
B" Pen%itraan
>
10
H <!t! J)Bay kepala dan pen%itraan seperti %!mputed t!m!graphy s%an 274)
/%an3 atau magneti% res!nan%e imaging 28BI3 jarang sekali dikerjakan, tidak
rutin dan hanya atas indikasi seperti ?
) Kelainan neur!l!gik !kal yang menetap 2hemiparesis3
) Paresis Ner&us KI
) Papiledema
7" 4es lain 2EE(3
>
H Pemeriksaan elektr!enseal!grai 2EE(3 tidak dapat memprediksi
berulangnya kejang, atau memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsi pada
pasien kejang demam" Eleh karenanya tidak direk!mendasikan"
H Pemeriksaan EE( dapat dilakukan pada kejang demam tak khas; misalnya
pada anak usia D , tahun atau kejang demam !kal"
H EE( tidak diperlukan pas%akejang demam sederhana karena rekamannya
akan membuktikan bentuk N!n)epileptik atau n!rmal dan temuan tersebut
tidak akan mengubah manajemen" EE( terindikasi untuk kejang demam atipik
atau pada anak yang berisik! untuk berkembang epilepsi" Kejang demam
atipik meliputi kejang yang menetap selama lebih dari -* menit, berulang
selama beberapa jam atau hari, dan kejang setempat" /ekitar *@+ anak
menderita kejang demam berulang dan sebagian ke%il menderita kejang
berulang berkali)kali" <akt!r resik! untuk perkembangan epilepsi sebagai
k!mplikasi kejang demam adalah ri'ayat epilepsi keluarga p!siti, kejang
demam a'al sebelum umur 9 bulan, kejang demam lama atau atipik, tanda
perkembangan yang terlambat, dan pemeriksaan neur!l!gis abn!rmal"
Indidens epilepsi adalah sekitar 9+ bila beberapa akt!r risik! ada dibanding
dengan insiden -+ pada anak yang menderita kejang demam dan tidak ada
akt!r resik!"
2.1.! Penatalaksanan
Penatalaksanaan saat kejang ?
11
/ering kali kejang berhenti sendiri" Pada 'aktu kejang, yang perlu
diperhatikan adalah AB7 2Air'ay, Breathing,7ir%ulati!n3" Perhatikan juga
keadaan &ital seperti kesadaran, tekanan darah, suhu, pernapasan dan ungsi
jantung" /uhu tubuh yang tinggi diturunkan dengan k!mpres air hangat dan
pemberian antipiretik"
>
Ebat yang paling %epat menghentikan kejang adalah dia0epam yang diberikan
Intra&ena 2IK3" D!sis dia0epam IK @,6)@,* mg1kgbb1kali dengan ke%epatan -)#
mg1menit dalam 'aktu 6)* menit dengan d!sis maks #@ mg"
>
Ebat yang praktis dan dapat diberikan !leh !rang tua atu dirumah
adalah dia0epam rektal 2le&el II)#, le&el II)6, rek!mendasi B3" D!sis dia0epam
rektal adalah @,*)@,>* mg1kg atau dia0epam rektal * mg untuk anak dengan
berat badan kurang dari -@ kg dan -@ mg dengan berat diatas -@ kg" d!sis *
mg untuk anak diba'ah usia 6 tahun dan d!sis >,* mg diatas 6 tahun"
>
Bila setelah pemberian dia0epam rektal kejang belum terhenti, dapat
diulang lagi dengan %ara dan d!sis yang sama dengan inter&al * menit" Bila
setelah # kali pemberian dia0epam rektal masih tetap kejang, dianjurkan ke
rumah sakit" Dirumah sakit dapat diberikan dia0epam IK dengan d!sis @,6 )@,*
mg1kg" Bila kejang tetap belum berhenti berikan enit!in dengan d!sis a'al
-@)#@ mg1kgbb IK perlahan)lahan - mg1kgbb1menit atau kurang dari *@
mg1menit" Bila kejang berhenti d!sis selanjutnya adalah .)$ mg1kg1hari,
dimulai -# jam setelah d!sis a'al"
>
Bila dengan enit!in kejang tidak berhenti juga maka pasien harus
dira'at diruang intensi" /etelah pemberian enit!in, harus dilakukan
pembilasan dengan Na7l isi!l!gis karena enit!in bersiat basa dan dapat
menyebabkan iritasi &ena" Bila kejang telah berhenti, pemberian !bat
selanjutnya tergantung dari jenis kejang demam apakah kejang demam
sederhana atau k!mpleks dan akt!r resik!nya"
>
Pemberian Antipiretik ?
12
Pemberian antipiretik tidak ditemukan bukti bah'a penggunaan !bat ini
mengurangi resik! terjadinya kejang demam 2le&el I, rek!mendasi D3, namun
para ahli di Ind!nesia sepakat bah'a antipiretik tetap dapat diberikan 2le&el
III, rek!mendasi B3" D!sis parasetam!l yang digunakan adalah -@)-*
mg1kg1kali diberikan dalam . kali pemberian per hari dan tidak lebih dari *
kali" D!sis ibupr!en adalah *)-@ mg1kg1kali, 6). kali sehari" Asam
asetilsalisilat tidak dianjurkan karena kadang dapat menyebabkan sindr!m
Beye pada anak kurang dari -$ bulan"
>
Pemberian Antik!n&ulsan ?
Pemakaian dia0epam !ral d!sis @,6 mg1kg setiap $ jam pada saat demam
menurunkan risik! berulang kejang pada 6@+),@+ kasus, begitu pula dengan
dia0epam rektal d!sis @,* mg1 kg setiap $ jam pada suhu D 6$,*
!
7 2le&el I,
rek!mendasi A3
<en!barbital, karbama0epin, dan enit!in pada saat demam tidak berguna
untuk men%egah kejang demam 2le&el II, rek!mendasi E3"
>
Pemberian !bat rumat ?
>
Pemberian !bat rumat hanya diberikan dengan indikasi berikut?
H Kejang lama D-* menit
H Adanya kelainan neur!l!gis yang nyata sebelum atau sesudah kejang,
misalnya hemiparesis, paresis 4!dd, %erebral palsy, retatdasi mental,
hidr!sealus"
H Kejang !kal
H Peng!batan rumatan dipertimbangkan bila?
Kejang berulang # J atau lebih dalam #. jam
Kejang demam terjadi pada bayi L -# bulan
13
Kejang demam M .= pertahun
o
/ebagian besar peneliti setuju bah'a kejang demam D -* menit merupakan
indikasi peng!batan rumat" Kelaian neur!l!gis tidak nyata misalkan
keterlambatan perkembangan ringan bukan indikasi peng!batan rumat" Kejang
!kal atau !kal menjadi umum menunjukkan bah'a anak mempunyai !kus
!rganik"
>
5enis antik!n&ulsan untuk peng!batan rumat ?
Pemberian !bat en!barbital atau asam &alpr!at setiap hari eekti dalam
menurunkan risik! berulang kejang 2le&el I3" berdasarkan bukti ilmiah bah'a
kejang demam tidak berbahaya dan penggunaan !bat dapat menyebabkan eek
samping, maka peng!batan rumat hanya diberikan terhadap kasus selekti dan
dalam jangka pendek 2rek!mendasi D3"
>
Pemakaian en!barbital setiap hari dapat menimbulkan gangguan perilaku dan
kesulitan belajar pada .@)*@+ kasus" D!sis asam &alpr!at pada anak anak
adalah -*).@ mg1kg1hari dalam #)6 d!sis, dan d!sis en!barbital 6).mg1kg per
hari dalam -)# d!sis"
>
Lama Peng!batan Bumat ?
Peng!batan diberikan selama - tahun bebas kejang, kemudian diberhentikan
se%ara bertahap selama -)# tahun"
>
Peng!batan pr!ilaksis
Ada # %ara pr!ilaksis, yaitu ?
2-3 pr!ilaksis intermiten saat demam dan
2#3 pr!ilaksis terus)menerus dengan antik!n&ulsan setiap hari
14
Untuk pr!ilaksis intermiten diberikan dia0epam se%ara !ral dengan d!sis @,6)
@,*mg1kgbb1hari dibagi dalam 6 d!sis saat pasien demam" Dia0epam dapat
pula diberikan se%ara intrarektal tiap $ jam sebanyak * mg 2BBC-@kg3D-@kg3
setiap pasien menunjukan suhu D6$,*!%" Eek samping dia0epam adalah
ataksia, mengantuk dan hip!t!nia"
6
Pr!ilaksis terus)menerus berguna untuk men%egah berulangnya kejang
demam berat yang dapat menyebabkan kerusakan !tak tapi dapat men%egah
terjadinya epilepsi di kemudian hari" Digunakan en!barbital .)* mg1kgbb1hari
dibagi dalam # d!sis atau !bat lain seperti asam &alpr!at dengan d!sis -*).@
mg1kgbb1hari" Antik!n&ulsan pr!ilaksis terus)menerus diberikan selama -)#
tahun setalah kejang terakhir dan dihentikan bertahap selama -)# bulan"
6
Pr!ilaksis terus)menerus dapat dipertimbangkan bila ada # kriteria 2termasuk
p!in - atau #3 yaitu ?
-" /ebelum kejang demam yang pertama sudah ada kelainan neur!l!gis atau
perkembangan 2misalnya serebral palsi atau mikr!seal3
#" Kejang demam lebih dari -* menit, !kal, atau diikuti kelainan neur!l!gis
sementara atau menetap
6" Ada ri'ayat kejang tanpa demam pada !rang tua atau saudara kandung"
." Bila kejang demam terjadi pada bayi berumur C-# bulan atau terjadi kejang
multipel dalam satu epis!de demam"
Bila hanya memenuhi - kriteria saja dan ingin memberikan peng!batan jangka
panjang, maka berikan pr!ilaksis intermiten yaitu pada 'aktu anak demam
dengan dia0epam !ral atau rektal tiap $ jam disamping antipiretik"
6
2.1." Prognosis
5
Apabila tidak diterapi dengan baik, kejang demam dapat berkembang menjadi
Kejang demam berulang
Epilepsi
Kelainan m!t!rik
15
(angguan mental dan belajar
2.2 Pne#monia
2.2.1 Definisi
Pneumonia adalah inflamasi yang mengenai parenkim paru walaupun banyak pihak yang
sependapat bahwa pneumonia adalah suatu keadaan inflamasi, namun sangat sulit untuk
merumuskan satu definisi tunggal yang universal. Pneumonia adalah sindrom klinis,
sehingga didefinisikan berdasarkan gejala dan tanda klinis, dan perjalanan penyakitnya.
Salah satu definisi klinis klasik menyatakan pneumonia adalah penyakit respiratorik yang
ditandai dengan batuk, sesak napas, demam, ronki basah, dengan gambaran infiltrat pada
foto rontgen toraks. Dikenal istilah lain yang mirip yaitu pneumonitis yang maksudnya lebih
kurang sama. Banyak yang menganut pengertian bahwa pneumonia adalah inflamasi paru
karena proses infeksi sedangkan pneumonitis adalah inflamasi paru non-infeksi. Namun hal
inipun tidak sepenuhnya ditaati oleh para ahli.

2.2.2 Patofisiologi
Paru terlindung dari ineksi melalui beberapa mekanisme ? iltrasi partikel di
hidung, pen%egahan aspirasi dengan relek epigl!tis, ekspulsi benda asing melalui
releks batuk, pembersihan ke arah kranial !leh muk!siller, ag!sit!sis kuman !leh
makr!ag al&e!lar, netralisasi kuman !leh substansi imun l!kal dan drainase melalui
sistem limaatik" <akt!r predisp!sisi pneum!nia ? aspirasi, gangguan imun,
septikemia, malnutrisi, %ampak, pertusis, penyakit jantung ba'aan, gangguan
neur!muskular, k!ntaminasi perinatal dan gangguan klirens mukus1sekresi seperti
pada ibr!sis kistik, benda asing atau disungsi silier"
9
8ikr!!rganisme men%apai paru melalui jalan naas, aliran darah, aspirasi
benda asing, transplasental atau selama persalinan pada ne!natus" Umumnya
pneum!nia terjadi akibat inhalasi atau aspirasi mikr!!rganisme, sebagian ke%il
terjadi melalui aliran darah 2hemat!gen3" /e%ara klinis sulit membedakan pneum!nia
bakteri dan &irus" Br!n%h!pneum!nia merupakan pneum!nia tersering pada bayi dan
anak ke%il" Pneum!nia l!baris lebih sering ditemukan dengan pertambahan umur"
16
Pada pneum!nia berat bisa terjadi hip!ksemia, hiperkapnea, asid!sis respirat!rik,
asid!sis metab!lik dan gagal naas"
9
2.2.3 Etiologi dan Manifestasi Klinis
Sebagian besar pneumonia disebabkan oleh mikroorganisme !virus"bakteri# dan
sebagian ke$il disebabkan oleh hal lain !aspirasi, radiasi, dan lain-lain#. Pada
pneumonia pertanyaan penting adalah apa penyebabnya, virus atau bakteri%
Penyebab tersering adalah bakteri, namun seringkali diawali oleh infeksi virus
yang kemudian mengalami komplikasi infeksi bakteri. Pola kuman penyebab
pneumonia biasanya berbeda sesuai dengan distribusi umur pasien.& Se$ara umum
bakteri yang paling berperan penting dalam pneumonia adalah Streptococcus
pneumoniae, haemophilus influenzae, Staphylococcus aureus,
streptokokus grup B, serta kuman atipik klamidia dan mikoplasma.

8aniestasi Klinis
(ejala dan tanda klinis pneum!nia ber&ariasi tergantung dari kuman
penyebab, usia pasien, status imun!l!gis pasien, dan beratnya penyakit"
8aniestasi klinis biasanya berat yaitu sesak, sian!sis, tetapi dapat juga
gejalanya tidak terlihat jelas seperti pada ne!natus"(ejala dan tanda
pneum!nia dapat dibedakan menjadi gejala umum ineksi 2n!nspesiik3, gejala
pulm!nal, pleural, atau ekstrapulm!nal" (ejala n!nspesiik meliputi demam,
menggigil, sealgia, resah dan gelisah" Beberapa pasien mungkin mengalami
gangguan gastr!intestinal seperti muntah, kembung, diare, atau sakit perut"
(ejala pada paru timbul setelah beberapa saat pr!ses ineksi berlangsung"
/etelah gejala a'al seperti demam dan batuk pilek, gejala napas %uping
hidung, takipnu, dispnu, dan timbul apnu" Et!t bantu napas interk!stal dan
abd!minal mungkin digunakan"Batuk umumnya dijumpai pada anak besar,
tapi pada ne!natus bisa tanpa batuk" <rekuensi napas merupakan indeks paling
sensiti untuk mengetahui beratnya penyakit" Hal ini digunakan untuk
mendukung diagn!sis dan memantau tata laksana pneum!nia" Pengukuran
rekuensi napas dilakukan dalam keadaan anak tenang atau tidur" 4im :HE
telah merek!mendasikan untuk menghitung rekuensi napas pada setiap anak
17
dengan batuk" Dengan adanya batuk, rekuensi napas yang lebih dari n!rmal
serta adanya tarikan dinding dada bagian ba'ah ke dalam 2chest indrawing3,
:HE menetapkan sebagai pneum!nia 2di lapangan3, dan harus memerlukan
pera'atan dengan pemberian antibi!tik" Perkusi t!raks pada anak tidak
mempunyai nilai diagn!stik karena umumnya kelainan pat!l!ginya menyebar;
suara redup pada perkusi biasanya karena adanya eusi pleura" /uara napas
yang melemah seringkali ditemukan pada auskultasi" B!nkhi basah halus yang
khas untuk pasien yang lebih besar, mungkin tidak terdengar pada bayi" Pada
bayi dan balita ke%il karena ke%ilnya &!lume t!raks biasanya suara napas
saling berbaur, dan sulit untuk diidentiikasi"
$
2.2.4 Diagnosis
Anamnesis
(ejala yang timbul biasanya mendadak tetapi dapat didahului dengan ineksi
saluran naas akut bagian atas" (ejalanya antara lain batuk, demam tinggi terus
menerus, sesak, kebiruan di sekitar mulut, menggigil 2pada anak3, kejang 2pada
bayi3, dan nyeri dada"
9
Biasanya anak lebih suka berbaring pada sisi yang sakit" Pada bayi muda
sering menunjukkan gejala n!n spesiik seperti hip!termi, penurunan kesadaran,
kejang atau kembung sehingga sulit dibedakan dengan meningitis, sepsis, atau
illeus"
9
Pemeriksaan isik
4anda yang mungkin ada adalah suhu M 69
!
7, dispnea ? inspiratory effort
ditandai dengan takipnea, retraksi ( chest indrawing3, naas %uping hidung dan
sian!sis" (erakan dinding th!ra= dapat berkurang pada daerah yang terkena, perkusi
n!rmal atau redup" Pada pemeriksaan auskultasi paru dapat terdengar suara naas
utama melemah atau mengeras, suara naas tambahan berupa r!nki basah halus di
lapangan paru yang terkena"
9
18
Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan darah tepi dapat terjadi leuk!sit!sis dengan hitung jenis
bergeser ke kiri" Bila asilitas memungkinkan pemeriksaan analisis gas darah
menunjukkan keadaan hip!ksemia 2 karena &entilati!n perussi!n mismat%h3" Kadar
Pa7E
#
dapat rendah, n!rmal atau meningkat tergantung kelainannya" Dapat terjadi
asid!sis respirat!rik, asid!sis metab!lik, dan gagal naas"
9
Pemeriksaan kultur darah jarang memberikan hasil yang p!siti tetapi dapat
membantu pada kasus yang tidak menunjukkan resp!ns terhadap penanganan a'al"
Pada !t! dada terlihat iniltrat al&e!lar yang dapat ditemukan diseluruh lapangan
paru" Luas kelainan pad agambaran radi!l!gis sebanding dengan derajat klinis
penyakit, ke%uali pada ineksi mik!plasma yang gambaran radi!l!gis lebih berat
daripada keadaan klinis" (ambaran lain yang dapat dijumpai ?
9
K!ns!lidasi satu l!bus atau lebih pada pneum!nia l!baris
Penebalan pleura pada pleuritis
K!mplikasi pneum!nia seperti atelektasis, eusi pleura,
pneum!mediastinum, pneum!th!rak, abses, pneumat!kel"
2.2.5 Penatalaksanaan
!$"
a3 Indikasi 8B/
ada kesukaran naas, t!ksis
sian!sis
umur kurang dari , bulan
ada penyulit, misalnya ? muntah)muntah, dehidrasi, empiema
diduga ineksi /taphyl!%!%%us
Imun!k!mpr!mis
pera'atan di rumah kurang baik
19
tidak resp!n terhadap pemberian antibi!tik !ral
b3 pemberian !ksigenasi ? dapat diberikan !ksigen nasal atau masker,
m!nit!r pulse !=ymetry" Bila ada tanda gagal naas diberikan &entilasi
mekanik"
%3 Pemberian %airan dan kal!ri yang %ukup 2 bial perlu %airan parenteral3"
5umlah %airan sesuai berat badan, peningkatan suhu dan status hidrasi"
d3 Bila sesak tidak terlalu hebat dapat memulai diet enteral bertahap
melalui selang nas!gastrik"
e3 5ika sekresi lendir berlebihan dapat diberikan inhalasi dengan salin
n!rmal
3 K!reksi kelainan asam basa atau elektr!lit
g3 Pemilihan antibi!tik berdasarkan umur, keadaan umum penderita dan
dugaan penyebab e&aluasi peng!batan dilakukan setiap .$)># jam"
Bila tidak ada perbaikan klinis dilakukan penggantian antibi!tik
smapai anak dinyatakan sembuh" Lama pemeberian antibi!tik
tergantung ? kemajuan klinis penderita, hasil lab!rat!rium, !t! th!ra=,
dan jenis kuman penyebab ?
/taphyl!%!%%us ? perlu , minggu parenteral
Haem!phylus inluen0ae 1 /trept!%!%%us pneum!nia ? %ukup
-@)-. hari
Pada keadaan imun!k!mpr!mis 2gi0i buruk, penyakit jantung ba'aan,
gangguan neur!muskular, keganasan, peng!batan k!rtik!ster!id jangka
panjang, ibr!sis kistik, ineksi HIK3, pemberian antibi!ti harus segera
dimulai saat tanda a'al pneum!nia didapatkan dengan pilihan
antibi!tik ? %hepal!sp!rin generasi 6"
2.2.6 Komplikasi
!
20
Pleuritis$ Eusi pleura 1 empiema$ Pneum!th!rak$ Pi!pneum!th!rak$
Abses paru$ (agal naas
BAB III
LAPEBAN KA/U/
%. %dentitas
Nama ? An" K
Umur ? - bulan -- hari
Alamat ? /umber kare
/uku ? 8adura
4anggal 8asuk ? -6 8ei #@-6
Pukul 8asuk ? -9".*
4anggal Pemeriksaan ? -6 8ei #@-6
%%. &namnesa
Kel#'an #tama ( Panas
Ri)a*at pen*akit sekarang (
o Batuk dan pilek . hari yang lalu, batuknya gr!k)gr!k
o Panas # hari yang lalu, panasnya naik turun dan tadi malam disertai sesak
o Pasien kejang mulai pagi jam 9 sampai diba'a I(D kejangnya sudah ,=, kejang
pertama durasi N - jam , kejang selanjutnya N * menit" Pada saat kejang pasien
tidak mengeluarkan busa, bila kejang mata melirik ke atas dan tangan kaku"
/etelah kejang pasien tidur"
21
o Di ruangan jam -$"-* pasien kejang lagi durasi 6 menit, -$".* pasien kejang lagi
durasi N 6 menit lalu diukur suhunya 6,,*
!
7" 5am #@"#@ pasien kejang lagi dengan
'aktu 6 menit kemudian diberi dia0epam"
o 8ual 2)3, muntah -= kemaren"
o BAB1BAK )1F lan%ar
o 8inum mau
Ri)a*at pen*akit da'#l#
o tidak ada ri'ayat kejang
o tidak ada ri'ayat sesak
Ri)a*at pen*akit kel#arga
o tidak ada yang seperti ini
Ri)a*at im#nisasi
Hepatitis B- saja
Ri)a*at diit
A/I sejak lahir sampai sekarang
Ri)a*at persalinan
o Lahir di bidan n!rmal dengan berat badan #"$@@ gram
o Pasien merupakan anak pertama
%%%. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum ? Lemah
Kesadaran ? s!mn!len
Ant!p!metri ? BB ? . kg
PB ? *6 %m
22
/tatus (i0i ? -@@ + 2Baik3
BBI ? . kg
4anda)tanda Kital ?
o Nadi ? -,@ =1menit
o Pernaasan ? ,@ =1menit
o /uhu ? 6*,,
!
7 2aksiler3
Kepala Leher
o a1i1%1d ? F1)1)1F
o P7H 2F3
o Pembesaran K(B 2)3
4h!ra=
o /imetris kanan dan kiri
o Betraksi inter%!stalis 2F3, /ub%!stalis 2F3
7!r
o /uara jantung /
-
/
#
tunggal
o 8urmur 2)3
Pulm!
o Kesikuler
o Bh!nki F1F
o :hee0ing F1F
Abd!men
23
o /upel
o Bising usus 2F3 n!rmal
o Distensi 2)3
o 4urg!r baik
(enitalia ? DBN
Ekstremitas
o Akral dingin
o Edem 2)3
o 7B4 C # detik
/tatus Neur!l!gi ? kaku kuduk 2)3
%+. Assessment
o Kejang demam k!mpleks
o /uspe%t Pneum!nia
+. Planning
8B/
Lab!rat!rium ?
o 7ek darah lengkap
o (DA
o 7BP
<!t! th!ra= AP
+%. 4erapi
o Inus Kaen -B 6>@ %%1#. jam
24
o 7etria=!ne # = -*@ mg i&
o Dia0epam -,# mg i&
o E
#
o De=amethas!ne 6 = O mg i&
+%%. <!ll!' UP
,elasa $ 14 Mei 2-13
,
Kejang 2F3 5am #-"6@ , pagi 2)3" Ba1pil )1) , mual 2)3 , muntah 2)3,BAB 2)3, BAK
lan%ar"
.
KU lemah, Kes ? s!mn!len, HB ? -.#=1menit , BB ,,=1menit/uhu ? 6,,,
!
7
k1l ? a1i1%1d F1)1)1F , P7H 2F3, pembesaran kgb 2)3
Dada ? /imetris ka1ki , retraksi i%s 2F3, sub%!stalis 2F3
%!r ? /
-
/
#
tunggal , murmur 2)3
Pulm! ? &esikuler, rh F1F , 'h F1F
Abd!men ? s!el , BU 2F3 n!rmal,mete!rismus 2)3, turg!r baik"
Ekstremitas ? akral hangat, !dem 2)3, 7B4 C # detik"
/tatus neur!l!gis ? kaku kuduk 2)3
&
Kejang Demam K!mpleks
/uspe%t Pneum!nia
P
<!t! th!ra= AP
Phenyt!in 6=-@ mg i&
7etria=!ne #=-*@ mg i&
De=amethas!ne 6=@,- %% i&
Nebuli0er1su%ti!n #=1hari
25
Ra/# $ 15 Mei 2-13
,
Kejang 2)3, Ba pil F1) , sesak 2F3 muntah 2)3, BAB 2)3, BAK lan%ar"
.
KU lemah, Kes ? s!mn!len, HB ? -..=1menit , BB >9=1menit, /uhu ? 6>,-
!
7
k1l ? a1i1%1d F1)1)1F , P7H 2F3, pembesaran kgb 2)3
Dada ? /imetris ka1ki , retraksi i%s 2F3, sub%!stalis 2F3
%!r ? /
-
/
#
tunggal , murmur 2)3
Pulm! ? rh F1F , 'h F1F
Abd!men ? s!el , BU 2F3 n!rmal,mete!rismus 2)3, turg!r baik"
Ekstremitas ? akral hangat, !dem 2)3, 7B4 C # detik
Hasil !t! th!ra= 2tgl -.)*)-63
7!r ? tidak ada kelainan
Pulm! ? k!ns!lidasi dengan air br!n%h!gram di ape= suprahilus de=tra"
/inus %!st!phreni%us de=tra sinistra tajam
Kesimpulan ? Pneum!nia l!bus superi!r de=tra
&
Kejang Demam K!mpleks dengan Pneum!nia
26
P
Phenyt!in 6=-@ mg i&
7etria=!ne #=-*@ mg i&
De=amethas!ne 6=@,- %% i&
Nebuli0er1su%ti!n #=1hari
Kamis$ 16 Mei 2-13
,
Kejang 2)3, Ba pil F1) , sesak 2F3 muntah 2)3, BAB 2F3, BAK lan%ar"
.
KU lemah, Kes ? s!mn!len, HB ? -.>=1menit , BB ,,=1menit, /uhu ? 6,
!
7
k1l ? a1i1%1d )1)1)1F , P7H 2F3, pembesaran kgb 2)3
Dada ? /imetris ka1ki , retraksi i%s 2F3, sub%!stalis 2F3
%!r ? /
-
/
#
tunggal , murmur 2)3
Pulm! ? rh F1F , 'h )1)
Abd!men ? s!el , BU 2F3 n!rmal,mete!rismus 2)3, turg!r baik"
Ekstremitas ? akral hangat, !dem 2)3, 7B4 C # detik"
&
Kejang Demam K!mpleks dengan Pneum!nia
P
Phenyt!in 6=-@ mg i&
7etria=!ne #=-*@ mg i&
De=amethas!ne 6=@,- %% i&
Nebuli0er1su%ti!n #=1hari
27
0#mat$ 1 Mei 2-13
,
Kejang 2)3, Ba pil F1) , sesak ber2)3 ,muntah 2)3, BAB 2F3, BAK lan%ar"
.
KU lemah, Kes ? %!mp!s mentis, HB ? -.$=1menit , BB ..=1menit, /uhu ?
6>,-
!
7
k1l ? a1i1%1d )1)1)1F , P7H 2F3, pembesaran kgb 2)3
Dada ? /imetris ka1ki , retraksi i%s 2F3
%!r ? /
-
/
#
tunggal , murmur 2)3
Pulm! ? rh F1F , 'h )1)
Abd!men ? s!el , BU 2F3 n!rmal,mete!rismus 2)3, turg!r baik"
Ekstremitas ? akral hangat, !dem 2)3, 7B4 C # detik
&
Kejang Demam K!mpleks dengan Pneum!nia
P
Phenyt!in 6=-@ mg i&
7etria=!ne #=-*@ mg i&
De=amethas!ne 6=@,- %% i&
Nebuli0er1su%ti!n #=1hari
28
,a/t#$ 1! Mei 2-13
,
Kejang 2)3, Ba pil jarang1) , sesak ber2)3 ,muntah 2)3, BAB 2F3, BAK lan%ar"
.
KU lemah, Kes ? s!mn!len, HB ? -.6=1menit , BB *@=1menit, /uhu ? 6,,*
!
7
k1l ? a1i1%1d )1)1)1F , P7H 2)3, pembesaran kgb 2)3
Dada ? /imetris ka1ki , retraksi i%s 2F3
%!r ? /
-
/
#
tunggal , murmur 2)3
Pulm! ? rh F1F , 'h )1)
Abd!men ? s!el , BU 2F3 n!rmal,mete!rismus 2)3, turg!r baik"
Ekstremitas ? akral hangat, !dem 2)3, 7B4 C # detik"
&
Kejang Demam K!mpleks dengan Pneum!nia
P
7etria=!ne #=-*@ mg i&
De=amethas!ne 6=@,- %% i&
Nebuli0er1su%ti!n #=1hari
29
Mingg#$ 1" Mei 2-13
,
Kejang 2)3, Ba pil F1) , sesak 2F3 muntah 2)3, BAB 2F3, BAK lan%ar"
.
KU lemah, Kes ? s!mn!len, HB ? -.#=1menit , BB *#=1menit, /uhu ? 6,
!
7
k1l ? a1i1%1d )1)1)1F , P7H 2)3, pembesaran kgb 2)3
Dada ? /imetris ka1ki , retraksi i%s 2F3
%!r ? /
-
/
#
tunggal , murmur 2)3
Pulm! ? rh F1F , 'h )1)
Abd!men ? s!el , BU 2F3 n!rmal,mete!rismus 2)3, turg!r baik"
Ekstremitas ? akral hangat, !dem 2)3, 7B4 C # detik"
&
Kejang Demam K!mpleks dengan Pneum!nia
P
1erapi tidak /isa dilanj#tkan karena pasien p#lang paksa . Di/eri ed#kasi
pada orang t#a (
kontrol ke poli anak
Mem/erita'#kan 2ara penanganan kejang
Mem/eri resep #nt#k mener#skan o/at
30
BAB IK
PE8BAHA/AN
Pasien An" H diba'a !leh !rang tuanya ke I(D B/UD dr"m!h"saleh Pr!b!lingg!
dengan keluhan panas " Panas nya sudah # hari yang lalu, panasnya naik turun " Ada kejang
mulai tadi pagi jam 9 sampai diba'a ke I(D kejangnya sudah ,= , kejang pertama durasi N -
jam , kejang selanjutnya N * menit" Pada saat kejang pasien tidak mengeluarkan busa, bila
kejang mata melirik ke atas dan tangan kaku" /etelah kejang pasien tidur" Pasien dikeluhkan
sesak Ada batuk dan pilek sudah . hari yang lalu, muntah mulai kemaren 2minggu, -#)*)-63"
Di ruangan jam -$"-* pasien kejang lagi durasi 6 menit, -$".* pasien kejang lagi durasi N 6
menit lalu diukur suhunya 6,,*
!
7" 5am #@"#@ pasien kejang lagi dengan 'aktu 6 menit
kemudian diberi dia0epam" 8ual 2)3, muntah -= kemaren" 1BAK )1F lan%ar 8inum mau
Bi'ayat penyakit dahulu tidak ada ri'ayat kejang tidak ada ri'ayat sesak" Bi'ayat penyakit
keluarga tidak ada yang seperti ini, Bi'ayat imunisasi 4idak pernah diimunisasi" Bi'ayat diit
A/I sejak lahir sampai sekarang" Bi'ayat persalinan Lahir di bidan n!rmal dengan berat
badan #"$@@ gram "Pasien merupakan anak pertama"
Pada pemeriksaan isik ditemukan keadaan umum lemah, kesadaran pasien s!mn!len"
HB ? -,@=1menit , BB ,@=1menit, suhu 6*,,
!
7" Didapat dispnea, pernaasan %uping hidung
2F3, retraksi dada inter%!stalis dan sub%!stalis 2F3" /uara jantung pasien /
-
/
#
tunggal"
Didapatkan juga r!nki pada paru kanan dan kiri serta 'hee0ing" Pada abd!men pasien supel ,
bising usus n!rmal, turg!r baik" Pada ekstremitas akralnya dingin , tidak ada !dem, dan 7B4
C # detik" Kaku kuduk 2)3"
Pada pemeriksaan darah lengkap didapatkan ? Hb ? --,@ g1dl, Leuk!sit ? $".,@ 1%mm,
Di" 7!unt ? )1)161#*1,,1,, H74 ? 66 +, 4r!mb!sit ? *$,"@@@ 1%mm" Pemeriksaan (ula darah
se'aktu ? -*$ mg1dl serta 7BP ? F," Pada pemeriksaan !t! th!ra= yang dilakukan kees!kan
harinya didapatkan hasil 7!r ? tidak ada kelainan, Pulm! ? k!ns!lidasi dengan air
br!n%h!gram di ape= suprahilus de=tra, /inus %!st!phreni%us de=tra sinistra tajam
31
,Kesimpulan ? Pneum!nia l!bus superi!r de=tra" 8aka disimpulkan bah'a pasien tersebut
didiagn!sis kejang demam k!mpleks dengan pneum!nia karena sesuai se%ara te!ri disebut
kejang demam k!mpleks bila kejangnya D -* menit, kejang !kal dan berulang lebih dari -=
dalam #. jam" Dan dikatakan pneum!nia karena se%ara te!ri juga terdapat gejala demam,
batuk, dan sesak" Pada pemeriksaan isik juga didapatkan naas %uping hidung, retraksi, suara
naas tambahan berupa r!nki basah halus di lapangan paru yang terkena serta pada
pemeriksaan radi!l!gi didapatkan k!ns!lidasi pada satu l!bus atau lebih pada pneum!nia
l!baris, adanya penebalan pleura"
32
DI/KU/I
-" /ebutkan Diagn!sa banding dari kasus ini ?
8eningitis
Ensealitis
Abses !tak
#" 7ara menyingkirkan diagn!sa banding
Bila %uriga meningitis pada bayi sering kali susah karena maniestasi
klinisnya tidak jelas" Dari pemeriksaan isik pada meningitis didapatkan kaku
kuduk F,brud0inski sign 2F3"kernig sign 2F3 ,dapat dilakukan pemeriksaan
pungsi lumbal" Eleh karena itu pungsi lumbal dianjurkan pada ?
) Bayi kurang dari -# bulan sangat dianjurkan dilakukan
) Bayi antara -#)-$ bulan dianjurkan
) Bayi D -$ bulan tidak rutin
Bila yakin bukan meningitis se%ara klinis tidak perlu dilakukan pungsi
lumbal"
Pada Ensealitis ? pada pemeriksaan isik untuk ne!natus temperatur tidak
stabil, ubun)ubun besar men!nj!l, ikterus, renjatan, perdarahan, distres naas"
Untuk pemeriksaan radi!l!gi dilakukan 8BI"
Abses !tak ? dilakukan pemeriksaan 74)/%an
6" Pemeriksaan radi!l!gi pada pneum!nia ditemukan apa aja P
33
K!ns!lidasi satu l!bus atau lebih pada pneum!nia l!baris
Penebalan pleura pada pleuritis
K!mplikasi pneum!nia seperti atelektasis, eusi pleura, pneum!mediastinum,
pneum!th!rak, abses, pneumat!kel"
Adanya pat%y iniltrat
." 4erapi antibi!tika bisa pakai apa saja pada Pneum!nia P
7etria=!ne
Ampi%illin
7ei=ime
*" Dasar diagn!sa Pneum!nia pada pasien ini apa P
Pada anamnesa dikatakan pasien batuk, panas, sesak" Dan pada pemeriksaan isik
ditemukan adanya respirat!ry rate meningkat, terdapat r!nki dan 'hee0ing , serta
pada pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan !t! th!ra= didapatkan hasil pada
Pulm! ? k!ns!lidasi dengan air br!n%h!gram di ape= suprahilus de=tra, /inus
%!st!phreni%us de=tra sinistra tajam " Kesimpulan ? Pneum!nia l!bus superi!r de=tra
," Dikatakan adanya dyspnea dari mana P
Adanya Pernaasan %uping hidung
4erdapat retraksi dada
Bespirat!ry rate nya lebih dari n!rmal
>" Diagn!sa kejang demam k!mpleks dari mana P
Kejang D -* menit
Kejang !kal atau satu sisi
34
Berulang lebih dari -= dalam #. jam
$" Penyebab Pneum!nia pada pasien ini P
bakteri
9" Penatalaksanaan kejang demam P
Ebat yang paling %epat menghentikan kejang adalah dia0epam yang diberikan
Intra&ena 2IK3" D!sis dia0epam IK @,6)@,* mg1kgbb1kali dengan ke%epatan -)#
mg1menit dalam 'aktu 6)* menit dengan d!sis maks #@ mg" Ebat yang praktis
dan dapat diberikan !leh !rang tua atu dirumah adalah dia0epam rektal 2le&el
II)#, le&el II)6, rek!mendasi B3" D!sis dia0epam rektal adalah @,*)@,>* mg1kg
atau dia0epam rektal * mg untuk anak dengan berat badan kurang dari -@ kg
dan -@ mg dengan berat diatas -@ kg" d!sis * mg untuk anak diba'ah usia 6
tahun dan d!sis >,* mg diatas 6 tahun" Bila setelah pemberian dia0epam rektal
kejang belum terhenti, dapat diulang lagi dengan %ara dan d!sis yang sama
dengan inter&al * menit" Bila setelah # kali pemberian dia0epam rektal masih
tetap kejang, dianjurkan ke rumah sakit" Dirumah sakit dapat diberikan
dia0epam IK dengan d!sis @,6 )@,* mg1kg" Bila kejang tetap belum berhenti
berikan enit!in dengan d!sis a'al -@)#@ mg1kgbb IK perlahan)lahan -
mg1kgbb1menit atau kurang dari *@ mg1menit" Bila kejang berhenti d!sis
selanjutnya adalah .)$ mg1kg1hari, dimulai -# jam setelah d!sis a'al"
Pemberian saat demam ? parasetam!l yang digunakan adalah -@)-* mg1kg1kali
diberikan dalam . kali pemberian per hari
Pemakaian dia0epam !ral d!sis @,6 mg1kg setiap $ jam pada saat demam atau
dia0epam rektal d!sis @,* mg1 kg setiap $ jam pada suhu D 6$,*
!
7"
-@" Bagaimana ra'at jalan pada pasien pulang paksa P
Edukasi pada !rang tua bah'a kejang demam biasanya pr!gn!sis nya baik,
memberi tahu %ara penanganan kejang , memberi in!rmasi mengenai
kemungkinan kejang berulang
35
K!ntr!l ke p!li anak
8emberi !bat ra'at jalan
--" Apakah pada pasien ini perlu pemberian !bat rumat P
Perlu karena indikasi pemberian rumatan
H Kejang lama D-* menit
H Adanya kelainan neur!l!gis yang nyata sebelum atau sesudah kejang,
misalnya hemiparesis, paresis 4!dd, %erebral palsy, retatdasi mental,
hidr!sealus"
H Kejang !kal
H Peng!batan rumatan dipertimbangkan bila?
Kejang berulang # J atau lebih dalam #. jam
Kejang demam terjadi pada bayi L -# bulan
Kejang demam M .= pertahun
Pada pasien ini kejang nya D -* menit dan kejang !kal"
36