Вы находитесь на странице: 1из 14

I.

Nama sediaan : obat tetes mata deksametason


II. Kekuatan sediaan : deksametason sodium fosfat 1mg/ml tetes mata
(ISO Vol.41 hal 446)
III. Preformulasi zat aktif
Dexamethasone sodium phosphate (USP)
Dexamethasone natrii phosphas (FI ed.IV hal 289)

Warna : putih atau agak kuning
Bentuk : serbuk hablur
Bau : tidak berbau atau agak berbau etanol
Rasa : -
Kelarutan : mudah larut dalam air; sukar larut dalam etanol;
sangat sukar larut dalam dioksan; tidak larut dalam
kloroform dan dalam eter.
Titik leleh : -
pH : 7.5-10.5
Stabilitas : sangat higroskopis, disterilkan dengan cara filtrasi
Inkompatibilitas : barbiturat, karbamazepin, primidon, rifampisin,
aspirin
IV. Pengembangan formula
4.1 Formula umum
1) Zat aktif
zat aktif yang digunakan adalah dexametason, namun
dexamethason tidak dapat larut dalam air (FI ed.IV hal 287),
sehingga dexamethason diganti oleh dexametasone sodium
phosphas yaitu ester anorganik dari dexamethason yang larut air
(USP) dengan kekuatan sediaan 1mg/ml tetes mata (ISO vol.41 hal
446) yang akan dibuat sediaan tetes mata @10 ml sebanyak 3
botol.
2) Zat pembawa
Dexamethason sodium phosphate mudah larut dalam air, OTM
lebih sering menggunakan pembawa berupa air, sehingga zat
pembawa yang digunakan adalah air untuk injeksi (FI ed.IV hal
519).
3) Zat pengatur pH (dapar)
Tetes mata dexamethason sodium phospat harus mempunyai pH
6.6-7.8 (USP), sehingga dibutuhkan zat pengatur pH, namun pada
mata, pH penerimaan sekitar 5 saja, sehingga dikhawatirkan akan
merubah pH jika digunakan dapar, maka akan digunakan peng-
adjust pH saja agar sediaan mudah terencerkan oleh cairan mata
sehingga pH kembali di sekitar 5, pH stabilitas dexamethason
sodium phospat adalah minimum pada pH 7.5, sediaan akan dibuat
pada pH stabilitas tersebut agar penguraian zat aktif minimal
sehingga efek farmakologi tercapai optimal, sehingga akan di
adjust sampai pH 7.5 dengan menambahkan NaOH.
4) Zat pengisotonis
Pada OTM, sediaan sebaiknya bersifat isotonis dengan mata
dengan tonisitas berkisar antara 0.9-1.4% NaCl.
5) Zat pengental
Zat pengental dibutuhkan pada OTM agar kontak zat aktif dengan
mata lebih lama. USP mengizinkan penggunaan bahan pengkhelat
viskositas (pengental) untuk memperpanjang lama kontak dalam
mata dan untuk absorpsi obat dan aktivitasnya. Bahan-bahan
seperti metilselulosa, polivinil alkohol dan hidroksi metil selulosa
ditambahkan secara berkala untuk meningkatkan viskositas.
Larutan obat mata yang dikentalkan harus bebas dari partikel yang
dapat terlihat. Bahan pengental metil selulosa akan digunakan
0.25% pada obat tetes mata ini (FI ed. IV hal 14).
6) Zat pengkhelat
Zat pengkhelat dibutuhkan karena ketika ion-ion dan logam berat
dapat menyebabkan peruraian obat dalam larutan digunakan bahan
pengkhelat yang mengikat ion dalam kompleks organik, akan
memberikan perlindungan. Na
2
EDTA, satu yang paling dikenal
sebagai pengkhelat, sehingga akan digunakan dalam sediaan obat
tetes mata ini.
7) Pengawet
Obat tetes mata dexamethason yang dibuat pada praktikum ini
akan dibuat sebagai sediaan multiple dose, sehingga akan
digunakan pengawet benzalkonium klorida 0.1% (USP).
4.2 Formula pustaka
1) Dexamethasone Sodium Phosphate Larutan untuk mata (USP)
setara dengan dexamethasone phosphate 0.1%
STERILE
Deksametason natrium fosfat larutan untuk mata adalah, larutan
yang jelas berwarna kuning pucat, steroid topikal untuk oftalmik
atau administrasi otic.
Glukokortikoid adalah steroid adrenokortikal, baik yang terjadi
secara alami dan sintetis. Deksametason adalah analog sintetik
glukokortikoid alami (hidrokortison dan kortison). Deksametason
natrium fosfat adalah larut dalam air, ester anorganik
deksametason. Ini adalah sekitar tiga ribu kali lebih mudah larut
dalam air pada 25 C dibandingkan hidrokortison.
Setiap ml mengandung:
Zat aktif : deksametason sodium fosfat setara dengan 1 mg
(0,1%) deksametason phosphate.
Pengawet : benzalkonium klorida 0,01%.
pengisotonis : natrium fosfat monobasa, natrium klorida, natrium
fosfat dibasic, fosfat monobasa natrium dan / atau
natrium fosfat dibasic untuk menyesuaikan pH
(6,6-7,8)
pengkhelat : edetate dinatrium
pembawa : air untuk injeksi
2) CENDOMETASON (Cendo)
Deksametason 1mg/ml tetes mata
(ISO vol.41 hal 446)
V. Formula akhir
Obat tetes mata deksametason
Setiap 10 ml mengandung :
Deksametason natrii phosphas 0.1%
Benzalkonium klorida 0.01%
CMC 0.25%
Na
2
EDTA 0.1%
NaCl qs.
NaOH qs.
Aqua pro injeksi ad 10 ml
VI. Preformulasi zat tambahan
a. Benzalkonium klorida (HOPE ed.6 hal 56)
Fungsi : pengawet antimikroba, antiseptik,
desinfektan, bahan pensolubilisasi, bahan
pembasah.
Sinonim : Alkylbenzyldimethylammonium chloride;
alkyl dimethyl benzyl ammonium
chloride; BKC; Hyamine 3500;
Pentonium; Zephiran.
Rumus Molekul : [C
6
H
5
CH
2
N(CH
3
)2R]Cl
BM : 360.
Deskripsi : Serbuk amorf putih kekuningan atau putih,
setebal gel atau kepingan gelatin, bersifat
higroskopik, seperti sabun bila disentuh,
dan sedikit berbau aromatis dan berasa
sangat pahit.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam eter, sangat larut
dalam aseton, etanol (95%), metanol,
propanol, dan air, larutan cair dari
benzalkonium klorida akan berbusa ketika
di kocok, memiliki tegangan permukaan
rendah.
Titik Lebur : 40 C.
pH : 58 10% untuk larutan cair b/v.
Berat Jenis : 0.98 g/cm
3
pada 20C.
Inkompatibitas : aluminum, surfaktan anionik, sitrat, cotton,
fluorescein, hidrogen peroksida,
hypromellose, iodides, kaolin, lanolin,
nitrates, Surfaktan anionik pada konsentrasi
tinggi, permanganates, protein, salicylates,
garam perak, sabun, sulfonamid, tartrat,
zinc oksida, zinc sulfat, beberapa campuran
karet, dan beberapa campuran plastik.
Penyimpanan : Dalam wadah kedap udara, terlindungi dari
cahaya dan kontak dengan logam, di
tempat yang sejuk, dan kering
b. Karboksilmetilselulosa natrium / NaCMC (HOPE ed.6 hal 118)
Fungsi : Coating agent; stabilizing agent;
suspending agent; tablet dan capsule
disintegrant; tablet binder; viscosity-
increasing agent;water-absorbing agent.
Sinonim : Akucell; Aqualon CMC; Aquasorb;
Blanose; Carbose D; carmellosum
natricum; Cel-O-Brandt; cellulose gum;
Cethylose; CMC sodium; E466; Finnfix;
Glykocellan; Nymcel ZSB; SCMC;
sodium carboxymethylcellulose; sodium
cellulose glycolate; Sunrose; Tylose CB;
Tylose MGA; Walocel C; Xylo-Mucine
Deskripsi : putih untuk hampir putih, tidak berbau,
hampir bubuk, butiran. higroskopis setelah
dikeringan
kelarutan : Praktis tidak larut dalam aseton, etanol
(95%), eter, dan toluena. Mudah tersebar
dalam air di semua temperatur, membentuk
jelas, solusi koloid. Kelarutan air bervariasi
dengan derajat substitusi
titik lebur : 227-252
o
C
pH : 2-10
stabilitas : stabil meskipun higroskopis. Di bawah
kondisi kelembaban tinggi,
karboksimetilselulosa natrium dapat
menyerap jumlah besar (> 50%) dari air.
Larutan berair stabil pada pH 2-10, curah
hujan dapat terjadi pH di bawah 2, dan
viskositas solusi cepat menurun diatas pH
10.Umumnya, larutan menunjukkan
viskositas maksimum dan stabilitas pada
pH 7-9. Natrium karboksimetilselulosa
dapat disterilkan dalam keadaan kering
dengan mempertahankan itu pada suhu
160
o
C selama 1 jam. Larutan berair sama
dapat disterilkan dengan pemanasan,
meskipun hal ini juga menghasilkan
beberapa pengurangan viskositas. Setelah
autoklaf, viskositas berkurang sekitar 25%.
Inkompatibilitas : kompatibel dengan larutan asam kuat dan
dengan garam larut besi dan beberapa
lainnya logam, seperti aluminium, merkuri,
dan seng. Hal ini juga kompatibel dengan
xanthan. Pengendapan mungkin terjadi
pada pH <2, dan juga bila dicampur dengan
etanol (95%). Natrium
karboksimetilselulosa membentuk
kompleks coacervates dengan gelatin dan
pektin. Hal ini juga membentuk kompleks
dengan kolagen dan mampu mempercepat
protein bermuatan positif tertentu.
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat di tempat
Kering
c. Dinatrium Edetate (HOPE ed.6 hal 247)
Fungsi : Bahan pembentuk kelat.
Sinonim : Disodium EDTA; disodium
ethylenediaminetetraacetate; edathamil
disodium; ristal disodium; edetic acid,
disodium salt.
Rumus Molekul : C
10
H
14
N
2
Na
2
O
8
.
BM : 336,2.
Deskripsi : Serbuk ristal berwarna putih, tidak berbau
dengan rasa sedikit asam.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam kloroform dan
eter, sedikit larut dalam etanol 95%, larut
dalam 11 bagian air.
pH : 4,3 4,7.
BJ : -
Titik Lebur : 252 C.
Inkompatibilitas : Dinatrium edetat bersifat asam lemah,
menggusur karbon dioksida dari karbonat
dan bereaksi dengan logam membentuk
hydrogen, agen pengoksidasi, basa kuat,
ion logam, dan logam campuran.
Penyimpanan : Simpan dalam wadah tertutup baik di
tempat yang kering dan sejuk.
d. Natrium klorida (HOPE ed.6 hal 637)
Fungsi : Pengisotonis.
Sinonim : Alberger; chlorure de sodium; common
salt; hopper salt; natural halite; rock salt;
saline; salt; sea salt; table salt.
Rumus Molekul : NaCl.
BM : 58,44.
Deskripsi : Serbuk kristal putih atau kristal tak
berwarna, berasa saline, natrium klorida
padat tidak mengandung air dari kristalisasi
meskipun dibawah 0 C, garam mungkin
terkristalisasi sebagai dihidrat.
Kelarutan : Larut dalam air, mudah larut dalam air
mendidih, larut dalam gliserin, sukar larut
dalam etanol.
pH : 6,7 7,3.
BJ : 2.17 g/cm3.
Titik Lebur : 804 C.
Inkompatibilitas : besi, perak, garam merkuri, agen
pengoksidasi kuat.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
e. Aqua Pro Injeksi (HOPE 4
th
ed, hal 675)
Air steril untuk injeksi adalah air untuk injeksi yang disterilkan dan
dikemas dengan cara yang sesuai. Tidak mengandung bahan
antimikroba atau bahan tambahan lainnya.
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna dan tidak
berbau
Bobot molekul : 18.02
Kelarutan : dapat melarutkan semua zat yang bersifat
polar
Stabilitas : stabil dalam semua keadaan fisik (es, cair
dan uap)
Inkompatibilitas : dapat bereaksi dengan obat dan bahan
tambahan lainnya yang mudah terhidrolisis
pada temperature tinggi.
Wadah & penyimpanan : Dalam wadah dosis tunggal dari kaca
atau plastic hablur lebih besar dari dua
liter wadah kaca.
VII. Perhitungan dan penimbangan
1. Penimbangan
Nama zat Formula 10 ml Formula 30 ml
Deksametason natrii
phosphas

0.1% x 10 ml = 10 mg

10 mg x 3 = 30 mg
Benzalkonium klorida 0.01% x10 ml = 1 mg 1 mg x 3 = 3 mg
NaCMC 0.25% x 10 ml = 25 mg 25 mg x 3 = 75 mg
Na
2
EDTA 0.1% x 10 ml = 10 mg 10 mg x 3 = 30 mg
NaCl



225.81 mg
NaOH secukupnya secukupnya
Aqua pro injeksi ad 10 ml ad 30 ml

2. Perhitungan tonisitas
Kekuatan sediaan : 1mg/ml tetes mata
Nama zat E W W x E
Deksametason Na.
fosfat
0.17

%
0.17 x 0.3 = 0.051%
Benzalkonium klorida
0.16


0.16 x 0.03 = 0.0048%
NaCMC 0.03


0.03 x 0.75 = 0.0225%
Na
2
EDTA 0.23


0.23 x 0.3 = 0.069%
Jumlah 0.1473% (hipotonis)
NaCl yang harus ditambahkan : 0.9% - 0.1473% = 0.7527%
0.7527% x 30ml = 0.22581 gram
= 225.81 mg
VIII. PROSEDUR PEMBUATAN
Pembuatan dikerjakan secara aseptis

Semua bahan ditimbang dengan kaca arloji sesuai dengan formula dan
segera dilarutkan dengan aquabides, NaCMC dikembangkan dengan air
panas 2-3ml (20x nya) selama 30 menit

Semua bahan dimasukan ke dalam gelas piala yang dilengkapi batang
pengaduk

Setelah bahan semua larut, larutan dituang ke dalam gelas ukur hingga
volume yang diinginkan

Isikan larutan ke dalam botol tetes yang telah dikaliberasi secara aseptis

Tutup botol yang telah disiapkan dipasang

Sediaan dikemas dalam dus dan diberi etiket luar
IX. Evaluasi :
9.1 Evaluasi Fisika
9.1.1 Organoleptik (bau, rasa, warna)
Dilakukan dengan cara melihat warna, mencium bau, dan rasa dari
sediaan tetes mata.
9.1.2 Kejernihan larutan
Masukkan sediaan ke tabung reaksi

Sinari dari atas/samping dengan latar belakang sehelai papan yang
separuhnya dicat hitam dan separuh dicat putih

Latar belakang hitam dipakai untuk menyelidiki kotoran berwarna
muda, sedangkan latar belakang putih untuk kotoran berwarna
gelap
9.1.3 Volume terpindahkan
Tuang isi perlahan-lahan dari tiap wadah ke dalam gelas ukur kering
terpisah (kapasitas gelas ukur tidak lebih dari dua setengah kali volume
yang diukur dan telah dikalibrasi) secara hati-hati agar tidak
membentuk gelembung udara

Diamkan selama tidak lebih dari 30 menit

Jika telah bebas dari gelembung udara, ukur volume dari tiap
campuran

Volume rata-rata larutan yang diperoleh dari 10 wadah tidak
kurang dari 100% dan tidak satupun volume wadah yang kurang
dari 95% dari volume yang tertera pada etiket (5).
9.1.4 Penetapan pH
Cek pH larutan dengan menggunakan pH meter atau kertas
indikator universal.
9.1.5 Kebocoran
sediaan dalam kemasan diletakkan terbalik dengan ujung dibawah
ketika disterilisasi akhir. Apabila wadah bocor maka isi dari wadah
akan keluar.
9.2 Pengemasan dan Penyimpanan
Dilakukan pengemasan primer di white area, dan dikemas dalam wadah
vial; pengemasan sekunder di black area. Penyimpanan di tempat yang
sejuk dan kering, dibawah 25 C dan jauh dari cahaya.
X. Kemasan dan brosur































Deksametason natrium fosfat menekan respon inflamasi terhadap berbagai
agen dan mungkin menunda atau memperlambat penyembuhan.
INDIKASI : Steroid inflamasi kondisi responsif dari konjungtiva palpebral dan
bulbar, kornea, dan segmen anterior dari dunia, seperti konjungtivitis alergi,
jerawat rosacea, keratitis menekankan dangkal, herpes zoster keratitis, iritis,
Cyclitis, konjungtivitis infeksi dipilih ketika bahaya yang melekat pada
penggunaan steroid diterima untuk memperoleh penurunan dianjurkan
dalam edema dan peradangan, luka kornea dari kimia atau luka bakar
termal, atau penetrasi benda asing.
DOSIS : satu atau dua tetes larutan ke dalam kantung konjungtiva setiap jam
selama siang hari dan setiap dua jam selama malam hari sebagai terapi
awal. Ketika respon yang menguntungkan diamati, mengurangi dosis untuk
satu tetes setiap empat jam. Kemudian, pengurangan lebih lanjut dalam
dosis untuk satu tetes tiga atau empat kali sehari mungkin cukup untuk
mengontrol gejala.
KONTAINDIKASI :
Herpes simpleks keratitis epitel (keratitis dendritik).
Akut menular tahap vaccinia, varicella, dan banyak penyakit virus lainnya
dari kornea dan konjungtiva.
Mikobakteri infeksi mata.
Jamur penyakit mata atau struktur aurikularis.
Hipersensitif terhadap komponen produk ini.
Perforasi membran drum.

PERHATIAN :
Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan hipertensi okular dan /
atau glaukoma, dengan kerusakan saraf optik, cacat pada ketajaman visual
dan bidang visi, dan pembentukan katarak posterior subcapsular.
Penggunaan jangka panjang dapat menekan respon host dan dengan
demikian meningkatkan bahaya infeksi okular sekunder. Pada penyakit-
penyakit yang menyebabkan penipisan kornea atau sklera, perforasi telah
diketahui terjadi dengan penggunaan kortikosteroid topikal. Dalam kondisi
purulen akut dari mata atau telinga, kortikosteroid dapat menutupi infeksi
atau meningkatkan infeksi yang ada. Jika produk ini digunakan selama 10
hari atau lebih, tekanan intraokular harus dipantau secara rutin meskipun
mungkin sulit pada anak-anak dan pasien tidak kooperatif.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1978, Formularium Nasional, Departemen Kesesehatan RI, Jakarta, 96.
Anonim, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta, 10.
Anief, Moh., 2004, Ilmu Meracik Obat, Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta, 155.
Ansel, C., Howard, 2005, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, UI Press, Jakarta,
541.
Anonim, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, Jakarta, 159.
Anonim, 2007, Martindale:The Complete Drug Reference,The Pharmaceutical
Press, London.
Rowe, Raymond, C., et al., 2006, The Handbook of Pharmaceutical Excipients
(electronic version), Pharmaceutical Press, London.