You are on page 1of 2

Merajut Kembali Keindonesiaan (2012, di..

)
Kalau para aktivis nasionalisme bertemu pada hari ini, terus nanti 2014 masih ada pemilu, berarti
khayalan saja pertemuan ini. Kalau dalam 1 sampai 2 tahun belum ada penjebolan konstitusi dan
undang-undang yang antirakyat dan antinasionalisme, dan kemudian kembali pada posisi 17 Agustus
1945, maka apa pun caranya pertemuan ini adalah pertemuan takhayul.
(uraian basa-basi tentang padatnya acara emha ainun nadjib)
Saya datang ke sini membawa teks yang bahasanya bukan bahasa aktivis, tapi bahasa orang biasa.
Pertama, negara itu gunanya supaya tiga hal pada rakyatnya ini aman. Jadi, pemerintah itu
dibayar untuk mengamankan tiga hal milik rakyatnya: (1) nyawanya; (2) martabatnya; (3) harta
bendanya. Di luar ketiga hal itu, nggak ada apa-apa!
Nah, kalau sekarang mau revolusi, maka kita akan mengambil sebab yang mana? Karena banyak
nyawa hilang, karena martabat hancur lebur, atau karena harta benda terlalu banyak dicuri? Masing-
masing pilihan itu akan memberikan output yang berbeda pada skala prioritas dan kalkulasi strategisnya.
Kalau pertimbangannya harta beda, maka ya seperti reformasibilang sama Suharto, Ente jangan
mencuri sendirian, saya juga pingin mencuri! Maka sekarang, mereka menjadi Soeharto semua.
Jadi, mau pakai alasan yang mana? Kalau soal martabatnya, ayo! Karena kita sudah tidak punya
martabat. Kita sudah mengalami pemerintahan-pemerintahan yang sangat menghina martabat manusia,
sangat menghina akal sehat. (Coba kita lihat satu kasus). Gunanya orang bersekolah itu kan supaya
nanti dia jelas pekerjaannya. Kalau dia sekolah ekonomi, dia akan mengurusi ekonomi. Kalau dia sekolah
peternakan, dia akan mengurusi kambing dan ternak-ternak. Kalau orang sekolahnya IT ya jangan
mengurusi olah raga dong! Kalau begitu, terus gunanya universitas itu apa?
Dulu Gus Dur memang yang merintis hal ini. A.S. Hikam, ahli fikih, mengurusi teknologi. Kalau
Gus Dur yang melakukan itu nggak apa-apa, karena dia kan wali kesepuluh. Tetapi, kalau SBY kan
bukan wali! SBY Cuma ingin melindungi supaya kasus Hambalang tidak melebar-lebar maka ditaruhlah
rai gedhek itu di . (hadirin tertawa riuh).
***
Enam Jalan Revolusi
Pertama, saya ingin ngomong buku ini. Judul: Merajut Kembali Nusantara. Saya tanya, ini
Nusantara dalam skala waktu yang mana? Nusantara sejak 1928? Nusantara sejak Demak? Sejak
Majapahit? Sejak Mataram Lama? Sejak Ratu Sima? Atau yang mana? Atau Nusantara Koes Plus?
Nusantara volume berapa? Jadi, kalau bicara Merajut Kembali Nusantara, harus diperjelas dulu melalui
diskusi para expert, melalui penelitian yang objektif maupun diskusi publik untuk memastikan identitas
Bangsa Indonesia ini.
(1) Apakah Bangsa Indonesia itu bangsa garuda atau bangsa emprit?
(2) Apakah bangsa kita ini bangsa besar atau bangsa kerdil? Sebab kebangkitan orang besar itu
berbeda dengan kebangkitan orang kecil. Kebangkitan ayam berbeda dari kebangkitan burung!
Kalau kamu tidak tahu apakah kamu itu ayam atau burung, bagaimana caramu bangkit? Sudah jelas
kamu ayam kok mau terbang-terbang? Kan begitu? Kamu cacing kok mau menerkam-nerkam?
Jadi, orang Indonesia telah kehilangan jati dirinya dan tidak pernah mau mencari tahu siapa dirinya?
Kalau mau merajut Nusantara kembali, maka harus ada satu penelitian panjang dan diskusi di
semua lapisan.
(3) Kita ini bangsa merdeka atau bangsa jajahan? Amerika itu penjajah atau tangan panjang penjajah?
Ada tiga tipu daya dunia sejak lahirnya Isa. Tahap pertama, nggak terima kenapa Nabi Musa kok
disaingi Anak Ajaib! Ini bayi nggak punya bapak kok bisa ngomong! Kalau Nabi Musa kan cuma
membelah laut. Itu pun kalau disuruh kembali membelah, nggak terbelah lautnya karena yang sakti
itu Tuhan bukan tongkatnya. Jadi, dia kalah dari Nabi Isa. Akhirnya, cemburulah anak buah Nabi
Musa. Akhirnya, mereka bikin rekayasa, memfitnah dan segala macam, hingga berpuncak pada
penyaliban Yesus Kristus. Tiga puluh tujuh tahun kemudian dibikinlah rapat setelah kenaikan Isa.
Soalnya, Lho, setelah disalib kok malah lebih popular! Maka kalahlah itu Musa. Kan memang
begitu hukum alam. Setelah terkena kasus video porno malah jadi hit. Maka kalau ingin jadi kiai
yang dicium tangannya, zina dulu banyak-banyak, terus insyaf, jadilah kiai, baru populer. Gunanya
Islam di muka bumi ini adalah untuk para koruptor?! Begitu tertangkap, (mereka) terus pakai peci
dan jilbab. Begitu diadili, (mereka) terus pegang tasbih?! Bunyinya, Asu, asu, asu! Oke, ini
guyon saja! Nah, sekarang yang nomer empat!
(4) Kita ini bangsa yang setua apa? Kita ini lebih muda dari orang Yahudi atau malah kakeknya orang
Yahudi?! Kalau Yahudi suka menipu, apakah tidak benar bahwa kita ini lebih pandai menipu?
Sepandai-pandai Yahudi menipu, masih lebih pandai kita! Karena, mereka adalah cucu kita. Karena,
kita lebih tua daripada Nabi Ibrahim. Kita adalah anaknya Nabi Nuh. Ketika istrinya dirasuki iblis,
lalu hamil dan jadilah kita! Maka kelakuan kita adalah campuran antara malaikat dengan iblis. Kalau
kamu nggak percaya, silakan selidiki. Kamu nggak akan benar, karena hanya aku yang benar!
Jadi, kalau omong Nusantara, Nusantara yang mana Bung?!