You are on page 1of 17

PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT

Oleh: M. Mukhtasar Syamsuddin


Pancasila merupakan filsafat bangsa Indonesia mengandung pengertian
sebagai hasil perenungan mendalam dari para tokoh pendiri negara (the founding
fathers) ketika berusaha menggali nilai-nilai dasar dan merumuskan dasar negara
untuk di atasnya didirikan negara Republik Indonesia. Hasil perenungan itu secara
resmi disahkan bersamaan dengan Undang-Undang Dasar egara Republik
Indonesia (UUD RI) !ahun "#$% oleh Panitia Persiapan &emerdekaan Indonesia
(PP&I) pada "' (gustus "#$% sebagai Dasar )ilsafat egara Republik Indonesia.
&elima dasar atau prinsip yang terdapat dalam sila-sila Pancasila tersebut
merupakan satu kesatuan bagian-bagian sehingga saling berhubungan dan saling
beker*asama untuk satu tu*uan tertentu sehingga dapat disebut sebagai sistem.
Pengertian suatu sistem+ sebagaimana dikutip oleh &aelan (,---. //) dari 0hrode
dan Don 1oich memiliki ciri-ciri sebagai berikut2 ") suatu kesatuan bagian-bagian2
,) bagian-bagian tersebut mempunyai fungsi sendiri-sendiri2 3) saling
berhubungan+ saling ketergantungan2 $) kesemuanya dimaksudkan untuk
mencapai suatu tu*uan bersama (tu*uan sistem)2 dan %) ter*adi dalam suatu
lingkungan yang kompleks.
4erdasarkan pengertian tersebut+ Pancasila yang berisi lima sila+ yaitu 0ila
&etuhanan yang 5aha 6sa+ 0ila &emanusiaan yang (dil dan 4eradab+ 0ila
Persatuan Indonesia+ 0ila &erakyatan yang dipimpin oleh Hikmat &ebi*aksanaan
dalam Permusya7aratan8Per7akilan dan 0ila &eadilan 0osial bagi seluruh Rakyat
Indonesia+ saling berhubungan membentuk satu kesatuan sistem+ yang dalam
proses beker*anya saling melengkapi dalam mencapai tu*uan. 5eskipun+ setiap
sila pada hakikatnya merupakan suatu asas sendiri+ memiliki fungsi sendiri-
sendiri+ namun memiliki tu*uan tertentu yang sama+ yaitu me7u*udkan
masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.
Pancasila sebagai sistem filsafat+ mengandung pemikiran tentang manusia
yang berhubungan dengan!uhan+ dengan diri sendiri+ dengan sesama+ dengan
masyarakat bangsa yang semua itu dimiliki oleh bangsa Indonesia. 9leh sebab itu+
sebagai sistem filsafat+ Pancasila memiliki ciri khas yang berbeda dengan sistem-
"
sistem filsafat lain yang ada di dunia+ seperti materialisme+ idealisme+
rasionalisme+ liberalisme+ komunisme dan lain sebagainya.
&ekhasan nilai filsafat yang terkandung dalam Pancasila berkembang dalam
budaya dan peradaban Indonesia+ terutama sebagai *i7a dan asas kerohanian
bangsa dalam per*uangan kemerdekaan bangsa Indonesia. 0elan*utnya nilai
filsafat Pancasila+ baik sebagai pandangan hidup atau filsafat hidup
(Weltanschauung) bangsa+ maupun sebagai *i7a bangsa atau *atidiri (Volksgeist)
nasional itu memberikan identitas dan integritas serta martabat bangsa dalam
menghadapi budaya dan peradaban dunia.
5enurut Darmodihard*o ("#:#. '/)+ Pancasila adalah ideologi yang
memiliki kekhasan+ yaitu2
"; kekhasan pertama+ !uhan <ang 5aha 6sa sebab &etuhanan <ang 5aha
6sa mengandung arti bah7a manusia Indonesia percaya adanya !uhan2
,; &ekhasan kedua+ penghargaan kepada sesama umat manusia apapun suku
bangsa dan bahasanya2
3; kekhasan ketiga+ bangsa Indonesia men*un*ung tinggi persatuan bangsa2
$; kekhasan keempat+ kehidupan manusia Indonesia bermasyarakat dan
bernegara berdasarkan atas sistem demokrasi2 dan
%; kekhasan kelima+ keadilan sosial bagi hidup bersama.
&elahiran ideologi bersumber dari pandangan hidup yang dianut oleh suatu
masyarakat. Pandangan hidup kemudian berbentuk sebagai keyakinan terhadap
nilai tertentu yang diaktualisasikan dalam kehidupan masyarakat. 0elain itu+
ideologi berfungsi sebagai alat membangun solidaritas masyarakat dengan
mengangkat berbagai perbedaan ke dalam tata nilai baru.
0ebagai ideologi+ Pancasila berfungsi membentuk identitas bangsa dan
negara Indonesia sehingga bangsa dan negara Indonesia memiliki ciri khas
berbeda dari bangsa dan negara lain. Pembedaan ini dimungkinkan karena
ideologi memiliki ciri selain sebagai pembeda *uga sebagai pembatas dan pemisah
dari ideologi lain.
(; Penertian Filsa!at
,
Istilah =filsafat> berasal dari bahasa <unani2 (philosophia) terususun dari
kata philos yang berarti cinta atau philia yang berarti persahabatan+ tertarik
kepada dan kata sophos yang berarti kebi*aksanaan+ pengetahuan+ ketrampilan+
pengalaman praktis+ inteligensi (4agus+ "##/. ,$,). Dengan demikian philosophia
secara harfiah berarti mencintai kebi*aksanaan. &ata kebi*aksanaan *uga dikenal
dalam bahasa Inggris2 wisdom. 4erdasarkan makna kata tersebut maka
mempela*ari filsafat berarti merupakan upaya manusia untuk mencari
kebi*aksanaan hidup yang nantinya bisa men*adi konsep yang bermanfaat bagi
peradaban manusia.
0uatu pengetahuan bi*aksana akan mengantarkan seseorang mencapai
kebenaran. 9rang yang mencintai pengetahuan bi*aksana adalah orang yang
mencintai kebenaran. ?inta kebenaran adalah karakteristik dari setiap filsuf dari
dahulu sampai sekarang. )ilsuf dalam mencari kebi*aksanaan+ mempergunakan
cara dengan berpikir sedalam-dalamnya. )ilsafat sebagai hasil berpikir sedalam-
dalamnya diharapkan merupakan pengetahuan yang paling bi*aksana atau setidak-
tidaknya mendekati kesempurnaan.
(dapun istilah =philosophos> pertama kali digunakan oleh Pythagoras (%:,
-$#: 05) untuk menun*ukkan dirinya sebagai pecinta kebi*aksanaan (lover of
wisdom)+ bukan kebi*aksanaan itu sendiri. 0elain Phytagoras+ filsuf-filsuf lain *uga
memberikan pengertian filsafat yang berbeda-beda. 9leh karena itu+ filsafat
mempunyai banyak arti+ tergantung pada bagaimana filsuf-filsuf
menggunakannya. 4erikut disampaikan beberapa pengertian filsafat menurut
beberapa filsuf+ yaitu antara lain2
"; Plato ($,:05 - 3$:05)2 filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang
ada atau ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli2
,; (ristoteles (3'$ 05 - 3,,05)2 filsafat adalah ilmu pengetahuan yang
meliputi kebenaran+ yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika+
logika+ retorika+ etika+ ekonomi+ politik+ dan estetika atau filsafat menyelidiki
sebab dan asas segala benda2
3; 5arcus !ullius ?icero ("-/ 05 - $305)2 filsafat adalah pengetahuan
tentang sesuatu yang mahaagung dan usaha-usaha untuk mencapainya2
3
$; Immanuel &ant (":,$ - "'-$)2 filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala
pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan+ yaitu2 @apakah
yang dapat kita ketahuiA (di*a7ab oleh metafisika)+ apakah yang dapat kita
ker*akanA (di*a7ab oleh etika)+ sampai di manakah pengharapan kitaA (di*a7ab
oleh antropologi)B.
0ecara umum+ filsafat merupakan ilmu yang berusaha menyelidiki hakikat
segala sesuatu untuk memperoleh kebenaran. 4erdasarkan pengertian umum ini+
ciri-ciri filsafat dapat disebut sebagai usaha berpikir radikal+ menyeluruh+ dan
integral+ atau dapat dikatakan sebagai suatu cara berpikir yang mengupas sesuatu
sedalam-dalamnya.
0e*ak kemunculannya di <unani+ dan menyusul perkembangan pesat ilmu
pengetahuan+ kedudukan filsafat kemudian dikenal sebagai The Mother of Science
(induk ilmu pengetahuan). 0ebagai induk ilmu pengetahuan+ filsafat merupakan
muara bagi ilmu pengetahuan+ termasuk ilmu pengetahuan yang bersifat
positiCistik+ seperti ilmu komunikasi dan teknologi informasi yang baru sa*a
muncul dalam era kema*uan ilmu pengetahuan dan teknologi (IP!6&) saat ini.
Demikian pulan+ dibandingkan dengan ilmu pengetahuan lain+ filsafat merupakan
kegiatan intelektual yang metodis dan sistematis+ namun lebih menekankan aspek
reflektif dalam menangkap makna yang hakiki dari segala sesuatu.
Dalam &amus )ilsafat+ 4agus ("##/. ,$,) mengartikan filsafat sebagai
sebuah pencarian. 4eran*ak dari arti harfiah filsafat sebagai cinta akan
kebi*aksanaan+ menurut 4agus ("##/. ,$,-,$3)+ arti itu menun*ukkan bah7a
manusia tidak pernah secara sempurna memiliki pengertian menyeluruh tentang
segala sesuatu yang dimaksudkan kebi*aksanaan+ namun terus menerus harus
menge*arnya. 4erkaitan dengan apa yang dilakukannya+ filsafat adalah
pengetahuan yang dimiliki rasio manusia yang menembusi dasar-dasar terakhir
dari segala sesuatu. )ilsafat menggumuli seluruh realitas+ tetapi teristime7a
eksistensi dan tu*uan manusia.
Dalam pengertiannya sebagai pengetahuan yang menembusi dasar-dasar
terakhir dari segala sesuatu+ filsafat memiliki empat cabang keilmuan yang utama+
yaitu sebagai berikut2
$
"; 5etafisika2 cabang filsafat yang mempela*ari asal mula segala sesuatu
yang-ada dan yang mungkin-ada. 5etafisika terdiri atas metafisika umum yang
selan*utnya disebut sebagai ontologi+ yaitu ilmu yang membahas segala sesuatu
yang-ada+ dan metafisika khusus yang terbagi dalam teodesi yang membahas
adanya !uhan+ kosmologi yang membahas adanya alam semesta+ dan
antropologi metafisik yang membahas adanya manusia.
,; 6pistemologi2 cabang filsafat mempela*ari seluk beluk pengetahuan.
Dalam epistemologi+ terkandung pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang
pengetahuan+ seperti kriteria apa yang dapat memuaskan kita untuk
mengungkapkan kebenaran+ apakah sesuatu yang kita percaya dapat diketahui+
dan apa yang dimaksudkan oleh suatu pernyataan yang dianggap benar.
3; (ksiologi2 cabang filsafat yang menelusuri hakikat nilai. Dalam aksiologi
terdapat etika yang membahas hakikat nilai baik-buruk+ dan estetika yang
membahas nilai-nilai keindahan. Dalam etika+ dipela*ari dasar-dasar benar-
salah dan baik-buruk dengan pertimbangan-pertimbangan moral secara
fundamental dan praktis. 0edangkan dalam estetika+ dipela*ari kriteria-kriteria
yang mengantarkan sesuatu dapat disebut indah.
$; Dogika2 cabang filsafat yang memuat aturan-aturan berpikir rasional.
Dogika menga*arkan manusia untuk menelusuri struktur-struktur argumen yang
mengandung kebenaran atau menggali secara optimal pengetahuan manusia
berdasarkan bukti-buktinya. 4agi para filsuf+ logika merupakan alat utama
yang digunakan dalam meluruskan pertimbangan-pertimbangan rasional
mereka untuk menemukan kebenaran dari problem-problem kefilsafatan.
4; Filsa!at Pan"asila
)ilsafat Pancasila dapat didefinisikan sebagai refleksi kritis dan rasional
tentang Pancasila sebagai dasar negara dan kenyataan budaya bangsa+ dengan
tu*uan untuk mendapatkan pokok-pokok pengertiannya yang mendasar dan
menyeluruh. Pancasila dikatakan sebagai filsafat+ karena Pancasila merupakan
hasil permenungan *i7a yang mendalam yang dilakukan oleh the founding fathers
Indonesia+ yang dituangkan dalam suatu sistem ((bdul Eani+ "##').
%
Pengertian filsafat Pancasila secara umum adalah hasil berpikir atau
pemikiran yang sedalam-dalamnya dari bangsa Indonesia yang dianggap+
dipercaya dan diyakini sebagai kenyataan+ norma-norma dan nilai-nilai yang
benar+ adil+ bi*aksana+ dan paling sesuai dengan kehidupan dan kepribadian
bangsa Indonesia.
)ilsafat Pancasila kemudian dikembangkan oleh 0oekarno se*ak "#%%
sampai kekuasaannya berakhir pada "#/%. Pada saat itu 0oekarno selalu
menyatakan bah7a Pancasila merupakan filsafat asli Indonesia yang diambil dari
budaya dan tradisi Indonesia+ serta merupakan akulturasi budaya India (Hindu-
4uddha)+ 4arat (&risten)+ dan (rab (Islam). )ilsafat Pancasila menurut 0oeharto
telah mengalami Indonesianisasi. 0emua sila dalam Pancasila adalah asli diangkat
dari budaya Indonesia dan selan*utnya di*abarkan men*adi lebih rinci ke dalam
butir-butir Pancasila.
)ilsafat Pancasila dapat digolongkan sebagai filsafat praktis sehingga
filsafat Pancasila tidak hanya mengandung pemikiran yang sedalam-dalamnya
atau tidak hanya bertu*uan mencari+ tetapi hasil pemikiran yang ber7u*ud filsafat
Pancasila tersebut dipergunakan sebagai pedoman hidup sehari-hari (way of life
atau weltanschauung) agar hidup bangsa Indonesia dapat mencapai kebahagiaan
lahir dan bathin+ baik di dunia maupun di akhirat (0alam+ "#''. ,3-,$).
0ebagai filsafat+ Pancasila memiliki dasar ontologis+ epistemologis+ dan
aksiologis+ seperti diuraikan di ba7ah ini.
#. $asar %nt%l%is Pan"asila
Dasar-dasar ontologis Pancasila menun*ukkan secara *elas bah7a Pancasila
itu benar-benar ada dalam realitas dengan identitas dan entitas yang *elas. 5elalui
tin*auan filsafat+ dasar ontologis Pancasila mengungkap status istilah yang
digunakan+ isi dan susunan sila-sila+ tata hubungan+ serta kedudukannya. Dengan
kata lain+ pengungkapan secara ontologis itu dapat memper*elas identitas dan
entitas Pancasila secara filosofis.
&aelan (,--,. /#) men*elaskan dasar ontologis Pancasila pada hakikatnya
adalah manusia yang memiliki hakikat mutlak mono-pluralis. 5anusia Indonesia
men*adi dasar adanya Pancasila. 5anusia Indonesia sebagai pendukung pokok
/
sila-sila Pancasila secara ontologis memiliki hal-hal yang mutlak yaitu terdiri atas
susunan kodrat+ raga dan *i7a *asmani dan rohani+ sifat kodrat manusia sebagai
makhluk indiCidu dan sosial+ serta kedudukan kodrat manusia sebagai makhluk
pribadi berdiri sendiri dan sebagai makhluk !uhan <ang 5aha 6sa (&aelan+
,--,.:,).
?iri-ciri dasar dalam setiap sila Pancasila mencerminkan sifat-sifat dasar
manusia yang bersifat dwi-tunggal. (da hubungan yang bersifat dependen antara
Pancasila dengan manusia Indonesia. (rtinya+ eksistensi+ sifat dan kualitas
Pancasila amat bergantung pada manusia Indonesia. 0elain ditemukan adanya
manusia Indonesia sebagai pendukung pokok Pancasila+ secara ontologis+ realitas
yang men*adikan sifat-sifat melekat dan dimiliki Pancasila dapat diungkap
sehingga identitas dan entitas Pancasila itu men*kadi sangat *elas.
0oekarno menggunakan istilah Pancasila untuk memberi lima dasar negara
yang dia*ukan. Dua orang sebelumnya 0oepomo dan 5uhammad <amin
meskipun menyampaikan konsep dasar negara masing-masing tetapi tidak sampai
memberikan nama. Panitia Persiapan &emerdekaan Indonesia (PP&I) atau &omite
asional Indonesia Pusat (&IP) yang didalamnya duduk 0oekarno sebagai
anggota+ menggunakan istilah Pancasila yang diperkanankan 0oekarno men*adi
nama resmi Dasar egara Indonesia yang isinya terdiri dari lima sila+ tidak seperti
yang diusulkan 0oekarno melainkan seperti rumusan PP&I yang tercermin dalam
Pembukaan UUD "#$% alinea keempat.
4erhubung dengan pengertian Pancasila merupakan kesatuan+ menurut
otonagoro ("#'3. 3,)+ maka lebih seyogyanya dan tepat untuk menulis istilah
Pancasila tidak sebagai dua kata @Panca 0ilaB+ akan tetapi sebagai satu kata
@PancasilaB. Penulisan Pancasila bukan dua kata melainkan satu kata *uga
mencerminkan bah7a Pancasila adalah sebuah sistem bukan dua buah sistem.
ama Pancasila yang men*adi identitas lima dasar negara Indonesia adalah
bukan istilah yang diperkenalkan 0oekarno tanggal " Funi "#$% di depan sidang
4PUP&I+ bukan Pancasila yang ada dalam kitab 0utasoma+ bukan yang ada dalam
Piagam Fakarta+ melainkan yang ada dalam alinea keempat Pembukaan UUD
"#$%.
:
Fika ditin*au menurut se*arah asal-usul pembentukkannya+ Pancasila
memenuhi syarat sebagai dasar filsafat negara. (da empat macam sebab (causa)
yang menurut otonagoro dapat digunakan untuk menetapkan Pancasila sebagai
Dasar )ilsafat egara yaitu sebab berupa materi (causa material) sebab berupa
bentuk (causa formalis) sebab berupa tu*uan (causa finalis) dan sebab berupa
asal mula karya (causa eficient) (otonagoro+"#'3. ,%). Debih *auh otonagoro
men*elaskan keempat causa itu seperti berikut2 pertama+ bangsa Indonesia sebagai
asal mula bahan (causa materialis) terdapat dalam adaat kebiasaan+ kebudayaan
dan dalam agama-agamanya+ kedua+ seorang anggota 4adan Penyelidik Usaha-
usaha Persiapan &emerdekaan Indonesia (4PUP&I)+ yaitu 4ung &arno yang
kemudian bersama-sama 4ung Hatta men*adi Pembentuk egara+ sebagai asal
mula bentuk atau bangun (causa formalis) dan asal mula tu*uan (causa finalis)
dari Pancasila sebagai calon dasar filsafat negara+ ketiga+ se*umlah sembilan
orang+ di antaranya kedua beliau tersebut ditambah dengan semua anggota
4PUP&I yang terdiri atas golongan-golongan kebangsaan dan agama+ dengan
menyususn rencana Pembukaan Undang-Undang Dasar "#$% tempat terdapatnya
Pancasila+ dan *uga 4adan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan &emerdekaan
Indonesia yang menerima rencana tersebut dengan perubahan sebagai asal mula
sambungan+ baik dalam arti asal mula bentuk maupun dalam arti asal mula tu*uan
dari Pancasila sebagai ?alon Dasar )ilsafat egara. &eempat+ Panitia Persiapan
&emerdekaan Indonesia (PP&I) sebagai asal mula karya (causa eficient) yaitu
yang men*adikan Pancasila sebagai Dasar )ilsafat egara yang sebelumnya
ditetapkan sebagai calon Dasar )ilsafat egara (otonagoro+ "#'3. ,%-,/).
&. $asar e'istem%l%is Pan"asila
6pistemologi Pancasila terkait dengan sumber dasar pengetahuan Pancasila.
6ksistensi Pancasila dibangun sebagai abstraksi dan penyerderhanaan terhadap
realitas yang ada dalam masyarakat bangsa Indonesia dengan lingkungan yang
heterogen+ multi kultur+ dan multi etnik dengan cara menggali nilai-nilai yang
memiliki kemiripan dan kesamaan untuk memecahkan masalah yang dihadapi
masyarakat bangsa Indonesia (0alam+ "##'. ,#).
'
5asalah-masalah yang dihadapi yaitu menyangkut keinginan untuk
mendapatkan pendidikan+ kese*ahteraan+ perdamaian+ dan ketentraman. Pancasila
itu lahir sebagai respon atau *a7aban atas keadaan yang ter*adi dan dialami
masyarakat bangsa Indonesia dan sekaligus merupakan harapan. Diharapkan
Pancasila men*adi cara yang efektif dalam memecahkan kesulitan hidup yang
dihadapi oleh masyarakat bangsa Indonesia.
Pancasila memiliki kebenaran korespondensi dari aspek epistemologis
se*auh sila-sila itu secara praktis didukung oleh realita yang dialami dan
dipraktekkan oleh manusia Indonesia. Pengetahuan Pancasila bersumber pada
manusia Indonesia dan lingkungannya. Pancasila dibangun dan berakar pada
manusia Indonesia beserta seluruh suasana kebatinan yang dimiliki.
&aelan (,--,. #/) mengemukakan bah7a Pancasila merupakan pedoman
atau dasar bagi bangsa Indonesia dalam memandang realitas alam semesta+
manusia+ masyarakat+ bangsa dan negara tentang makna hidup serta sebagai dasar
bagi manusia dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam hidup dan
kehidupan.
Dasar epistemologis Pancasila *uga berkait erat dengan dasar ontologis
Pancasila karena pengetahuan Pancasila berpi*ak pada hakikat manusia yang
men*adi pendukung pokok Pancasila (&aelan+ ,--,. #:). 0ecara lebih khusus+
pengetahuan tentang Pancasila yang sila-sila di dalamnya merupakan abstraksi
atas kesamaan nilai-nilai yang ada dan dimiliki oleh masyarakat yang pluralistik
dan heterogen adalah epistemologi sosial.
6pistemologi sosial Pancasila *uga dicirikan dengan adanya upaya
masyarakat bangsa Indonesia yang berkeinginan untuk membebaskan diri men*adi
bangsa merdeka+ bersatu+ berdaulat dan berketuhanan <ang 5aha 6sa+
berkemanusiaan yang adil dan beradab+ berpersatuan Indonesia+ berkerakyatan
yang dipimpin oleh hikmat kebi*aksanaan dalam permusya7aratan8per7akilan+
serta ingin me7u*udkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
0umber pengetahuan Pancasila dapat ditelusuri melalui se*arah terbentuknya
Pancasila. Dalam penelusuran se*arah mengenai kebudayaan yang berkait dengan
lahirnya Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia telah diuraikan
#
didepan yang secara garis besar dapat dikemukakan sebagai berikut. (kar sila-sila
Pancasila ada dan berpi*ak pada nilai serta budaya masyarakat bangsa Indonesia.
ilai serta budaya masyarakat bangsa Indonesia yang dapat diungkap mulai
a7al se*arah pada abad I1 5asehi di samping diambil dari nilai asli Indonesia
*uga diperkaya dengan dimasukkannya nilai dan budaya dari luar Indonesia. ilai-
nilai dimaksud berasal dari agama Hindu+ 4udha+ Islam+ serta nilai-nilai
demokrasi yang diba7a dari 4arat. 4erdasartkan realitas yang demikian maka
dapat dikatakan bah7a secara epistemologis pengetahuan Pancasila bersumber
pada nilai dan budaya tradisional dan modern+ budaya asli dan campuran.
0elain itu+ sumber historis itu+ menurut tin*auan epistemologis+ Pancasila
mengakui kebenaran pengetahuan yang bersumber dari 7ahyu atau agama serta
kebenaran yang bersumber pada akal pikiran manusia serta kebenaran yang
bersifat empiris berdasarkan pada pengalaman. Dengan sifatnya yang demikian
maka pengetahuan Pancasila mencerminkan adanya pemikiran masyarakat
tradisional dan modern.
3; $asar aksi%l%is Pan"asila
(ksiologi terkait erat dengan penelaahan atas nilai. Dari aspek aksiologi+
Pancasila tidak bisa dilepaskan dari manusia Indonesia sebagai latar belakang+
karena Pancasila bukan nilai yang ada dengaan sendirinya !given value)
melainkan nilai yang diciptakan (created value) oleh manusia Indonesia. ilai-
nilai dalam Pancasila hanya bisa dimengerti dengan mengenal manusia Indonesia
dan latar belakangnya.
ilai berhubungan dengana ka*ian mengenai apa yang secara intrinsik+ yaitu
bernilai dalam dirinya sendiri dan ekstrinsik atau disebut instrumental+ yaitu
bernilai se*auh dikaitkan dengan cara mencapai tu*uan. Pada aliran hedonisme
yang men*adi nilai intrinsik adalah kesenangan+ pada utilitarianisme adalah nilai
manfaat bagi kebanyakan orang (0mart+ F.F.?.+ and 4ernard Gilliams+ "#:3. :").
Pancasila mengandung nilai+ baik intrinsik maupun ekstrinsik atau
instrumental. ilai intrinsik Pancasila adalah hasil perpaduan antara nilai asli
milik bangsa Indonesia dan nilai yang diambil dari budaya luar Indonesia+ baik
yang diserap pada saat Indonesia memasuki masa se*arah abad I1 5asehi+ masa
"-
imperialis+ maupun yang diambil oleh para kaum cendekia7an 0oekarno+
5uhammad Hatta+ &i Ha*ar De7antara+ dan ka7an-ka7an pe*uang kemerdekaan
Indonesia lain yang mengambil nilai-nilai modern saat bela*ar ke negara 4elanda.
&ekhasan nilai yang melekat dalam Pancasila sebagai nilai intrinsik terletak
pada diakuinya nilai-nilai ketuhanan+ kemanusiaan+ persatuan+ kerakyatan+ dan
keadilan sosial sebagai satu kesatuan. &ekhasan ini yang membedakan Indonesia
dari negara lain. ilai-nilai ketuhanan+ kemanusiaan+ persatuan+ kerakyatan+ dan
keadilan memiliki sifat umum uniCersal. &arena sifatnya yang uniCersal+ maka
nilai-nilai itu tidak hanya milik manusia Indonesia+ melainkan manusia seluruh
dunia.
Pancasila sebagai nilai instrumental mengandung imperatif dan men*adi
arah bah7a dalam proses me7u*udkan cita-cita negara bangsa+ seharusnya
menyesuaikan dengan sifat-sifat yang ada dalam nilai ketuhanan+ kemanusiaan+
persatuan+ kerakyatan+ dan keadilan sosial. 0ebagai nilai instrumental+ Pancasila
tidak hanya mencerminkan identitas manusia Indonesia+ melainkan *uga berfungsi
sebagai cara (mean) dalam mencapai tu*uan+ bah7a dalam me7u*udkan cita-cita
negara bangsa+ Indonesia menggunakan cara-cara yang berketuhanan+
berketuhanan yang adil dan beradab+ berpersatuan+ berkerakyatan yang
menghargai musya7arah dalam mencapai mufakat+ dan berkeadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia.
Pancasila *uga mencerminkan nilai realitas dan idealitas. Pancasila
mencerminkan nilai realitas+ karena di dalam sila-sila Pancasila berisi nilai yang
sudah dipraktekkan dalam hidup sehari-hari oleh bangsa Indonesia. Di samping
mengandung nilai realitas+ sila-sila Pancasila berisi nilai-nilai idealitas yaitu nilai
yang diingini untuk dicapai.
5enurut &aelan (,--,. ",')+ nilai-nilai yang terkandung dalam sila I
sampai dengan sila 1 Pancasila merupakan cita-cita+ harapan+ dambaan bangsa
Indonesia yang akan di7u*udkan dalam kehidupannya. amun+ Pancasila yang
pada tahun "#$% secara formal men*adi das Sollen bangsa Indonesia+ sebenarnya
diangkap dari kenyataan real yang berupa prinsip-prinsip dasar yang terkandung
dalam adat-istiadat+ kebudayaan dan kehidupan keagamaan atau kepercayaan
""
bangsa Indonesia. 9leh karena itu+ sebagaimana dikutip oleh &aelan (,--,. ",#)
Driyarkara menyatakan bah7a bagi bangsa Indonesia+ Pancasila merupakan Sein
im Sollen. Pancasila merupakan harapan+ cita-cita+ tapi sekaligus adalah kenyataan
bagi bangsa Indonesia.
ilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila mempunyai tingkatan dan
bobot yang berbeda. 5eskipun demikian+ nilai-nilai itu tidak saling bertentangan+
bahkan saling melengkapi. Hal ini disebabkan sebagai suatu substansi+ Pancasila
merupakan satu kesatuan yang bulat dan utuh+ atau kesatuan organik (organic
whole). Dengan demikian berarti nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila
merupakan satu kesatuan yang bulat dan utuh pula. ilai-nilai itu saling
berhubungan secara erat dan nilai-nilai yang satu tidak dapat dipisahkan dari nilai
yang lain. (tau nilai-nilai yang dimiliki bangsa Indonesia itu akan memberikan
pola (patroon) bagi sikap+ tingkah laku dan perbuatan bangsa Indonesia (&aelan+
,--,. ",#).
otonagoro ("#'3. 3#) menyatakan bah7a isi arti dari Pancasila yang
abstrak itu hanya terdapat atau lebih tepat dimaksudkan hanya terdapat dalam
pikiran atau angan-angan+ *ustru karena Pancasila itu merupakan cita-cita bangsa+
yang men*adi dasar falsafah atau dasar kerokhanian negara. !idak berarti hanya
tinggal di dalam pikiran atau angan-angan sa*a+ tetapi ada hubungannya dengan
hal-hal yang sungguh-sungguh ada. (danya !uhan+ manusia+ satu+ rakyat+ dan adil
adalah tidak bisa dibantah.
C. (akikat sila)sila Pan"asila
&ata =hakikat> dapat diartikan sebagai suatu inti yang terdalam dari segala
sesuatu yang terdiri dari se*umlah unsur tertentu dan yang me7u*udkan sesuatu
itu+ sehingga terpisah dengan sesuatu lain dan bersifat mutlak. Ditun*ukkan oleh
otonagoro ("#:%. %')+ hakikat segala sesuatu mengandung kesatuan mutlak dari
unsur-unsur yang menyusun atau membentuknya. 5isalnya hakikat air terdiri atas
dua unsur mutlak yaitu hidrogen dan oksigen. &ebersatuan kedua unsur tersebut
bersifat mutlak untuk me7u*udkan air. Dengan kata lain+ kedua unsur tersebut
secara bersama-sama menyusun air sehingga terpisah dari benda yang lainnya
misalnya dengan batu+ kayu+ air raksa dan lain sebagainya.
",
!erkait dengan hakikat sila-sila Pancasila+ pengertian kata =hakikat> dapat
dipahami dalam tiga kategori+ yaitu2
") Hakikat abstrak yang disebut *uga sebagai hakikat *enis atau hakikat umum
yang mengandung unsur-unsur yang sama+ tetap dan tidak berubah. Hakikat
abstrak sila-sila Pancasila menun*uk pada kata2 ketuhanan+ kemanusiaan+
persatuan+ kerakyatan+ dan keadilan. 5enurut bentuknya Pancasila terdiri atas
kata-kata dasar !uhan+ manusia+ satu+ rakyat+ dan adil yang dibubuhi a7alan dan
akhiran+ berupa ke dan an (sila I+ II+ I1+ dan 1)+ sedangkan yang satu berupa per
dan an (sila III). &edua macam a7alan dan akhiran itu mempunyai kesamaan
dalam maksudnya yang pokok+ ialah membikin abstrak atau mu*arad+ tidak
mau*ud atau lebih tidak mau*ud arti daripada kata dasarnya (otonagoro+ "#/:.
3#).
,) Hakikat pribadi sebagai hakikat yang memiliki sifat khusus+ artinya terikat
kepada barang sesuatu. Hakikat pribadi Pancasila menun*uk pada ciri-ciri khusus
sila-sila Pancasila yang ada pada bangsa Indonesia+ yaitu adat istiadat+ nilai-nilai
agama+ nilai-nilai kebudayaan+ sifat dan karakter yang melekat pada bangsa
Indonesia sehingga membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa yang lain di
dunia. 0ifat-sifat dan ciri-ciri ini tetap melekat dan ada pada bangsa Indonesia.
Hakikat pribadi inilah yang realisasinya sering disebut sebagai kepribadian+ dan
totalitas kongkritnya disebut kepribadian Pancasila.
3) Hakikat kongkrit yang bersifat nyata sebagaimana dalam kenyataannya.
Hakikat kongkrit Pancasila terletak pada fungsi Pancasila sebagai dasar filsafat
negara. Dalam realisasinya+ Pancasila adalah pedoman praktis+ yaitu dalam 7u*ud
pelaksanaan praktis dalam kehidupan negara+ bangsa dan negara Indonesia yang
sesuai dengan kenyataan sehari-hari+ tempat+ keadaan dan 7aktu. Dengan realisasi
hakikat kongkrit itu+ pelaksanaan Pancasila dalam kehidupan negara setiap hari
bersifat dinamis+ antisipatif+ dan sesuai dengan perkembangan 7aktu+ keadaan+
serta perubahan Haman (otonagoro+ "#:%. %'-/").
Pancasila yang berisi lima sila+ menurut otonagoro ("#/:. 3,) merupakan
satu kesatuan utuh. &esatuan sila-sila Pancasila tersebut+ diuraikan sebagai
berikut2
"3
"; &esatuan sila-sila Pancasila dalam struktur yang bersifat hierarkhis dan
berbentuk piramidal
0usunan secara hirarkhis mengandung pengertian bah7a sila-sila Pancasila
memiliki tingkatan ber*en*ang+ yaitu sila yang ada di atas men*adi landasan sila
yang ada di ba7ahnya. 0ila pertama melandasi sila kedua+ sila kedua melandasi
sila ketiga+ sila ketiga melandasi sila keempat+ dan sila keempat melandasi sila
kelima. Pengertian matematika piramidal digunakan untuk menggambarkan
hubungan hierarkhis sila-sila Pancasila menurut urut-urutan luas (k7antitas) dan
*uga dalam hal sifat-sifatnya (k7alitas). Dengan demikian+ diperoleh pengertian
bah7a menurut urut-urutannya+ setiap sila merupakan pengkhususan dari sila-sila
yang ada dimukanya.
Dalam susunan heararkhis dan piramidal+ sila &etuhanan yang 5aha 6sa
men*adi basis kemanusiaan+ persatuan Indonesia+ kerakyatan dan keadilan sosial.
0ebaliknya &etuhanan <ang 5aha 6sa adalah &etuhanan yang berkemanusiaan+
yang membangun+ memelihara dan mengembangkan persatuan Indonesia+ yang
berkerakyatan dan berkeadilan sosial. Demikian selan*utnya+ sehingga tiap-tiap
sila di dalamnya mengandung sila-sila lainnya.
0ecara ontologis+ kesatuan sila-sila Pancasila sebagai suatu sistem yang
bersifat hierarkhis dan berbentuk piramidal tersebut dapat di*elaskan sebagai
berikut+ sebagaimana diungkapkan oleh otonagoro ("#'$. /" dan "#:%. %,+ %:)+
bah7a hakikat adanya !uhan adalah ada karena dirinya sendiri+ !uhan sebagai
causa prima. 9leh karena itu segala sesuatu yang ada termasuk manusia ada
karena diciptakan !uhan atau manussia ada sebagai akibat adanya !uhan (sila
pertama). (dapun manusia adalah sebagai sub*ek pendukung pokok negara+
karena negara adalah lembaga kemanusiaan+ negara adalah sebagai persekutuan
hidup bersama yang anggotanya adalah manusia (sila kedua). Dengan demikian+
negara adalah sebagai akibat adanya manusia yang bersatu (sila ketiga).
0elan*utnya terbentuklah persekutuan hidup bersama yang disebut rakyat. Rakyat
pada hakikatnya merupakan unsur negara di samping 7ilayah dan pemerintah.
Rakyat adalah totalitas indiCidu-indiCidu dalam negara yang bersatu (sila
keempat). (dapun keadilan yang pada hakikatnya merupakan tu*uan bersama atau
"$
keadilan sosial (sila kelima) pada hakikatnya sebagai tu*uan dari lembaga hidup
bersama yang disebut negara.
,; Hubungan kesatuan sila-sila Pancasila yang saling mengisi dan saling
mengkualifikasi
0ila-sila Pancasila sebagai kesatuan dapat dirumuskan pula dalam
hubungannya saling mengisi atau mengkualifikasi dalam kerangka hubungan
hierarkhis piramidal seperti di atas. Dalam rumusan ini+ tiap-tiap sila mengandung
empat sila lainnya atau dikualifikasi oleh empat sila lainnya. Untuk kelengkapan
hubungan kesatuan keseluruhan sila-sila Pancasila yang dipersatukan dengan
rumusan hierarkhis piramidal tersebut+ berikut disampaikan kesatuan sila-sila
Pancasila yang saling mengisi dan saling mengkualifikasi.
a; 0ila pertama2 &etuhanan <ang 5aha 6sa adalah &etuhanan yang
berkemanusiaan yang adil dan beradab+ yang berpersatuan Indonesia+
yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebi*aksanaan dalam
permusya7aratan8per7akilan+ yang berkeadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia2
b; 0ila kedua2 kemanusiaan yang adil dan beradab adalah
kemanusiaan yang ber-&etuhanan <ang 5aha 6sa+ yang berpersatuan
Indonesia+ yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebi*aksanaan
dalam permusya7aratan8per7akilan+ yang berkeadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia2
c; 0ila ketiga2 persatuan Indonesia adalah persatuan yang ber-
&etuhanan <56+ berkemanusiaan yang adil dan beradab+ yang
berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebi*aksanaan dalam
permusya7aratan8per7akilan+ yang berkeadila sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia2
d; 0ila keempat2 kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebi*aksanaan dalam permusya7aratan8per7akilan+ adalah kerakyatan
yang ber-&etuhanan <ang 5aha 6sa+ berkemanusiaan yang adil dan
beradab+ yang berpersatuan Indonesia+ yang berkeadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia2
"%
e; 0ila kelima2 keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah
keadilan yang ber-&etuhanan <ang 5aha 6sa+ berkemanusiaan yang adil
dan beradab+ yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebi*aksanaan dalam permusya7aratan8per7akilan (otonagoro+ "#:%.
$3-$$).
$AFTA* P+STA,A
(bdul Eani+ Ruslan+ "##'+ "ancasila dan reformasi 5akalah 0eminar asional
&(E(5(+ ' Fuli "##' di <ogyakarta
4agus+ Dorens+ "##/+ #amus $ilsafat Fakarta. P!. Eramedia
"/
&aelan+ ,---+ "endidikan "ancasila <ogyakarta. Paradigma 9ffset
-----------------+ ,--,+ $ilsafat "ancasila "andangan %idup &angsa Indonesia
<ogyakarta. Paradigma 9ffset
otonagoro+ "#/:+ &e'erapa hal mengenai $alsafah "ancasila( "engertian Inti-
Isi Mutlak daripada "ancasila )asar $alsafah *egara "okok
"angkal "elaksanaan Secara Murni dan #onsekuen ?etakan &edua+
Fakarta. Pancuran !ud*uh
----------------+ "#'3+ "ancasila Secara Ilmiah "opuler ?etakan &elima+ Fakarta.
4ina (ksara
0alam+ H. 4urhanuddin+ "##'+ $ilsafat "ancasilaisme+ Fakarta. Rineka ?ipta
0mart+ F.F.?.+ and 4ernard Gilliams+ "#:3+ +tilitarianism( $or and ,gainst
United &ingdom+ ?ambridge UniCersity Press
":