You are on page 1of 4

Ca Epidermoid

Epidemiologi
Karsinoma sel skuamosa merupakan jenis sel karsinoma yang paling banyak
ditemukan pada manusia, seperti pada payudara, leher rahim, saluran pernafasan, dan saluran
pencernaan, termasuk rongga mulut (Close, 1998)
Karsinoma sel skuamosa lidah banyak dijumpai pada laki-laki dan mencapai puncaknya pada
dekade ke enam dan ke tujuh.
3
Menurut literatur lain, mayoritas penderita keganasan rongga
mulut adalah pria, walaupun insidensi keganasan lidah pada wanita meningkat secara
progresif di USA hingga mencapai 47% pada tahun sembilan puluhan (Syah, 2003).
Menurut distribusi lokasi di rongga mulut, lidah merupakan lokasi squamous cell
carninoma yang paling banyak terjadi, sekitar 35%, diikuti dasar rongga mulut 30%, gingival
mandibula 15%, mukosa bukal 10%, gingiva maksila 5%, palatum durum 3%, dan
retromolar 2%.
2,5
Pada literatur lain insidensi karsinoma sel skuamosa lidah adalah antara 25-
40% dari karsinoma rongga mulut
5
. Dari literatur yang berbeda dikatakan lidah dan dasar
rongga mulut merupakan lokasi tersering terjadinya squamous cell carninoma di Negara
Barat. Namun, di Negara yang masyarakatnya banyak mengunyah tembakau dan buah
pinang, trigonum retromolar pad dan mukosa bukal merupakan lokasi tersering terjadinya
karsinoma ini (Syah, 2003).

Tanda dan Gejala
Karsinoma epidermoid yang belum menginvasi menembus membran basal taut
dermoepidermis (karsinoma in situ) tampak sebagai plak merah, berskuama, dan berbatas
tegas. Lesi tahap lanjut yang invasif tampak nodular, dan memperlihatkan produksi keratin
dalam jumlah bervariasi yang secara klinis tampak sebagai hiperkeratosis dan mungkin
mengalami userasi (Murphy, 2007).
Umur yang paling sering ialah 40-50 tahun (dekade V-VI) dengan lokalisasi yang
tersering di tungkai bawah dan secara umum ditemukan lebih banyak pada laki-laki daripada
wanita (Murphy, 2007).
Tumor ini dapat tumbuh lambat, merusak jaringan setempat dengan kecil kemungkinan
bermetastasis. Sebaliknya tumor ini dapat pula tumbuh cepat, merusak jaringan disekitarnya
dan bermetastasis jauh, umumnya melalui saluran getah bening (Murphy, 2007).

Secara histopatologik ditemukan :

1. Bentuk intraepidermal
Bentuk intraepidermal ditemukan pada : keratosis solaris, kornu kutanea, keratosis
arsenikal, penyakit bowen, entroplasia (Queyrat), epitelioma Jadassohn. Penyakit ini
dapat menetap dalam jangka waktu lama ataupun menembus lapisan basal sampai ke
dermis dan selanjutya bermetastasis melalui saluran getah bening.

2. Bentuk invasif
Bentuk ini terdiri dari:
a. Bentuk intraepidermal
b. Bentuk prakanker
c. De novo (kulit normal)

Mula-mula tumor ini berupa nodus yang keras dengan batas-batas yang tidak tegas,
permukaannya mula-mula licin seperti kulit normal yang akhirnya berkembang menjadi
verukosa atau menjadi papiloma. Pada keadaan ini biasanya tampak skuamasi yang
menonjol.

Pada perkembangan lebih lanjut tumor ini biasanya menjadi keras, bertambah besar ke
samping maupun ke arah jaringan yang lebih dalam. Invasi ke arah jaringan lunak maupun
otot serta tulang akan memberikan perabaan yang sulit digerakkan dari jaringan di sekitarnya.

Ulserasi dapat terjadi umumnya ulai di tengah dan dapat timbul pada waktu berukuran 1-
2 cm. Ulserasi tersebut diikuti pembentukan krusta dengan pinggir yang keras dan mudah
berdarah. Bentuk papiloma eksofitik jarang ditemukan.

Urutan kecepatan invasif dan metastasi tumor sebagai berikut
1. Tumor yang tumbuh di atas kulit normal (de novo): 30%
2. Tumor didahului oleh prakanker (radio dermatitis, sikarik, ulkus, sinud fistula): 25%
3. Penyakit Bowen, eriyoplasia Queyrat: 20%
4. Keratosis solaris: 2%

Tumor yang terletak di daerah bibir, anus, vulva, penis lebih cepat mengadakan invasi
dan bermetastasis dibandingkan dengan daerah lainnya. Metastasis umumnya melalui saluran
getah bening, engan perkiraan sekitar 0.1-50% semua kasus. Perbedaan metastasis
bergantung pada diagnosis dini, cara pengobatan dan pengawasan setelah terapi (Rata, 2008).

Patofisiologi
Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/ sub bronkus menyebabkan cilia
hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan karsinogen. Dengan adanya
pengendapan karsinogen maka menyebabkan metaplasia,hyperplasia dan displasia. Bila lesi
perifer yang disebabkan oleh metaplasia, hyperplasia dan displasia menembus ruang pleura,
biasa timbul efusi pleura, dan bisa diikuti invasi langsung pada kosta dan korpus verterbrai.
Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu cabang bronkus yang terbesar. Lesi ini
menyebabkan obstuksi dan ulserasi bronkus dengan diikuti dengan supurasi di bagian distal
(Murphy, 2007).
Komplikasi
Pada stadium lanjut, penurunan berat badan biasanya menunjukkan adanya metastase,
khususnya pada hati. Kanker paru dapat bermetastase ke struktur struktur terdekat seperti
kelenjar limfe, dinding esofagus, pericardium, otak, tulang rangka (Rata, 2008).
Prognosis
Prognosis karsinoma epidermoid sangat bergantung pada:
1. Diagnosis dini
2. Cara pegobatan dan keterampilan dokter
3. Kerjasama antara pasien dengan dokter

Prognosis yang paling buruk bila tumor tumbuh di atas kulit normal (de novo), sedangkan
tumor yang ditemukan di kepala dan leher, prognosisnya lebih baik daripada tempat lainnya.
Demikian juga prognosis yang ditemukan di ekstremitas bawah, lebih buruk daripada
ekstremitas atas (Rata, 2008).


DAFTAR PUSTAKA
1. Close, Lanny Garth. Essential of Head and Neck Oncology. New York : Thieme,
1998.
2. Shah, Jatin .P. Head and Neck Surgery and Oncology. 3
rd
ed. USA: Mosby. 2003
3. Rata IGAK. Tumor Kulit. In: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editors, Ilmu Penyakit
Kulit dan Kelamin, 5
th
ed. Jakarta: Balai penerbit FKYI; 2008.p.229-44
4. Murphy DF, Kulit. In: Hartanti H, Darmaniah N, Wulandari N, editors. Buku Ajar
Patologi Robbins. 7
th
ed, Jakarta: EGC; 2007.p. 894-5